Manajemen_TC

Sebuah pengertian Manajemen yang bertentangan dengan teorinya.

Hai guys…. met senin pagi nech…

Sekarang mulai lagi masuk kelas… hihihi… belajar lagiiiee

Kata temen sekantor, “Berarti kamu masih bodoh, jadi musti di didik”

Terasa menohok dan menyesakkan… tapi gepepe…. bodoh juga anugerah.

***

Pagi ini ngebahas tentang manajemen perubahan….. tapi sebelum masuk lebih mendalam, langsung dibombardir oleh beragam pengertian… yups.. pengertian manajemen.

Photo : Para Siswa RLA menuju ruang kelas Diklat/Dokpri.

Dari mulai Koontz & Cyril O’Donnel, GR Terry, Lawrence AA, James AF Stonner & Peter Drucker, RW Griffin, Henry Fayol, Prof Elji Ogawa, Manullang, SP Siagian dan buanyaak lagi…. penasaran?.. googling aja ya guys.

Pengertian tentang manajemen dari para cendekiawan dalam dan luar negeri bisa bikin pusing, apalagi klo disuruh ngapalin… tapi itulah resiko disekolahin dan didiklatin… yuuk baca lagi dan hafalin lagi…

Kok susah hafal?

Ternyata sudah kena Syndrome ‘Lanang Celup’... yaitu Lambat Nangkap Cepat Lupa..… faktor U tea geuning… faktor umurrr..

***

Balik lagi ke manajemen, yang paling diingat justru sebuah istilah yang bertolak belakang dengan manajemen.

Photo : Profesionalisme Tukang Cukur Langganan/Dokpri.

Khan manajemen itu adalah serangkaian proses yang sistematis dengan melibatkan banyak orang untuk meraih tujuan bersama yang sudah ditentukan…. tapi ada sebuah manajemen yang dikerjakan sendiri, peralatan terbatas dalam waktu yang cepat.. yaitu ‘Manajemen Tukang Cukur’ atau Manajemen_TC.

Inilah manajemen yang ternyata bukan manajemen.

Selamat belajar tentang manajemen. Wassalam (AKW).

***

Catatan : coretan kata ini terinspirasi pas kemarin antri dicukur di tukang cukur langganan.

Kopi Zain – Tretes

Menikmati si hitam harum sambil B-gadang.

Dikala sebagian tetangga sudah terlelap dalam mimpi masing-masing. Penulis masih termangu di ruang makan, sambil memandang ke luar jendela yang sudah dipastikan gelap gulita.

“Ngapain begadang mas bro?..”

Sebait kalimat yang standar, tapi perlu diberi penjelasan agar menghindari mispersepsi yang bisa berakibat diluar kendali.

“Jagain ibu mertua yang lagi sakit sambil ‘anyang-anyangan’… meracik kopi dengan seduhan manual ala V60”

“Ohh… gitu. Yo wis lanjutkeen…” Suara sedikit puas menggema dan beberapa detik kemudian menghilang dibalik neocortec yang terus bekerja.

Bubuk kopi yang terbungkus kertas alumunium voil hitam disajikan, ditimbang dulu…. ada 20gram. Sambil menunggu air panas mencapai tingkat kepanasan 93 derajat celcius yang diinginkan. V60 yang sudah terpasang filter dikucuri air panas dispenser. Baru kopi bubuk dimasukan ke V60 yang dilafisi kertas pilter…. eh kebalik… dilapisi kertas filter.

Air mendidih sudah siaap…. ujung gooseneck secepatbya ambil peran, berputar indah searah jarum jam. Diawali proses blooming lalu prosesi brewingpun berjalan perlahan tapi pasti….. tetesan cairan hitam nikmat menebar aroma keharuman yang mempesona… Yummy.

Srupuut… kumur dikit… tahan dibawah bibir…

Glek

Body yang strong alias kepahitan yang mendalam, dengan aroma mendekati harum cempedak. Acidity medium disertai sedikit fruity… ueenak tenan.

Inilah hasil manual brew kopi Zain Prembon-Tretes.

Alhamdulillah, ibu mertuapun tidak banyak keluhan meskipun tadi minum air rebusan cacing tanah/kalung demi alasan pengobatan diagnosis penyakit Typhusnya. Wassalam (AKW).

Embun & Mentari

Mencari keharuman & kehangatan pagi disini.

Photo : Mentari muncul di pagi hari, lokasi Babakan Jawa – Sukasari – Sumedang / Dokpri.

Tak bosan memandang mentari yang selalu muncul sesuai janji. Meskipun tentu dingin menusuk kulit adalah bagian dari pengorbanan diri.

Kali ini sang mentari muncul di ufuk timur dan langsung memberi kehangatan terhadap hamparan hijau dedaunan di daerah Sukasari Sumedang.

Photo : Mentari menghangati hamparan kebun kangkung di Sukasari / Dokpri.

Lembut dan harum embun pagi semakin menguatkan hari. Membawa mood hepi yang semoga bertahan hingga malam hari.

Photo : Gunung Manglayang dilihat dari daerah Sukasari / Dokpri.

Tak lupa juga tetap mengabadikan Gunung Manglayang dari sisi lain. Menggabungan dengan lahan terbuka bertanah merah, menyambut sinar mentari yang merekah. Wassalam (AKW).

Berenang di Vila Lengkob

Berenang sore-sore di kaki Gunung Manglayang, mau?..

Dalam lembah kesendirian tersaji suasana tenang penuh kedamaian. Berusaha menyatu dengan alam dan (semoga) tidak mengganggu ekosistem alami yang lebih dulu tercipta.

Itu prolognya guys…

Sore sudah menjelang dikala penulis yang baru keluar dari kampus tergelitik oleh sebuah plang petunjuk arah yang berisi tulisan ‘Vila Lengkob & Kolam Renang.’

Nggak pake lama.. arah tujuan dijabanin dengan riang hati. Siapa tau bisa nyebur dulu bikin seger otak juga adem ke hati Kami berjalan menyusuri jalan kampung yang udah di labur eh di pelur... posisinya berdampingan dengan jalan masuk menuju bumi perkemahan kiara payung Jatinangor.

Bicara akses ke Vila Lengkob pasti menyenangkan buat petualang, kenapa tidak… jalan menanjak membelah kampung trus belok kiri dan menyusuri jalanan yang pas buat satu mobil…. jadi coucoknya pake motor atau skuter alias suku muter (baca.. jalan kaki).

Klo jalan kaki… dijamin sebelum sampai tujuan udah banjir keringat karena jalan menanjak. Seolah menggambarkan kehidupan yang penuh liku serta perjuangan untuk meraih keberhasilan yang berupa ketenangan serta kedamaian.

***

Tuntas tanjakan masih ada lagi jalan berliku tanah merah pengerasan. Kendaraan roda empat kudu super hati-hati karena kecil dan di sisi kiri jurang menanti… jadi yang aman mah jalan kaki serta jauhi sisi kiri.

Setelah itu… tralaaa…. dibawah sana.. di lembah hijau tersaji kolam renang dan deretan saung lesehan serta ada 4-5 kamar penginapan.

Sayang…. hasrat berenang kami tertahan dan tertunda. Jam operasionalnya dimulai jam 08.00 wib sd 16.00 wib… euuuh ga jadi.

Tapi gpp… keringat yang keluar adalah bukti olahraga sore disela agenda yang super duper padat. Juga olahraga mata memandang sekitar yang teduh dan larut dalam kehijauan.

***

Akhirnya kami kembali ke camp dengan terengah tapi gembira. Selamat tinggal Vila Lengkob dan kolam renangnya. Wassalam (AKW).

Catatan :
Villa Lengkob fasilitasnya 1 kolam renang dewasa, air dingin bingiit, kolam renang kecil buat anak2, saung lesehan dan 5 kamar. Tapi blm ada makanan.. kudu bekel. Nomer Kontak 082126561200 (Teh Susi).

Sunrise di Kaki Manglayang

Mengejar harapan menuju kehadirannya.

Photo : Mentari mulai terbit di samping Gunung Geulis/Dokpri.

Berjalan menjejak tanah merah, yang tersenyum meskipun tetap menggigil karena dipeluk dinginnya pagi. Perlahan tapi pasti, kehangatan menjalari urat nadi kehidupan selaras dengan semakin menanjak perjalanan pagi ini. Nafas yang tadinya bergerak lancar sekarang mulai tersengal karena kompensasi untuk meraih kehangatan.

Meskipun dinginnya pagi menggempur dari segala arah, berusaha mendinginkan raga yang mulai membara. Pertarungan inilah yang mengukuhkan rasa sehingga bisa mencapai puncak bukit pertama yang menyajikan hamparan pandangan pagi yang mempesona.

Ternyata sang mentari masih sedang berusaha keluar dari mimpinya, sehingga perlu beberapa saat menunggu detik menata menit supaya bisa membidik sunrise pada saat yang tepat.

Ya.. tepat menurut penulis. Karena tepat itu bisa tidak sama, tergantung konteks dan sudut pandang.

***

Photo : Mentari berpadu dengan siluet tumbuhan di kaki gunung Manglayang/Dokpri.

Akhirnya sambil menenangkan sengal nafas yang kencang menuju normal, mentari muncul perlahan menyajikan kemegahan indahnya pagi hari yang penuh inspirasi.

Inilah salah satu momen yang harus senantiasa disyukuri, karena mentari masih terbit sesuai janji. Menyinari bumi membawa berkah Illahi. Wassalam (AKW).

Pilkada & Hajatan

Pilkada langsung adalah libur tambahan, sehingga sebagian orang menggunakan sebagai momen hajatan… ternyata ada kesamaannya lho antara Pilkada dengan hajatan… Cekidot.

Gelaran Pilkada serentak sudah usai dilakukan, para pemenang versi quick count sudah bisa didapatkan. Meskipun tentu harus bersabar karena real count masih menunggu hasil perhitungan KPU sebagai lembaga resmi negara.

Pemilihan kepala daerah yang dilaksanakan di 171 wilayah provinsi dan Kabupaten/Kota seantero nusantara ini adalah agenda luar biasa dan merupakan momen perdana pencoblosan dilakukan serempak.

Hasilnya?….

Ah jangan dibahas disini.. monggo googling aja. Sensitip hehehehe.

Yang paling penting mah… pelaksanaannya lancar dan aman.

***

Akw mah moo nulis sesuatu yang kebetulan berhubungan dengan pelaksanaan pilkada serentak ini lho…

Sebuah pesta yang dilaksanakan bersama dengan pesta demokrasi.

Lho emang ada pesta demokrasi?..

Jangan gitu ah, sebagian pihak menyebutkan hari pencoblosan itu adalah pesta demokrasi lho…

Akw mah ngobrolin pesta beneran alias hajatan yang ternyata selain memberi kebahagian bagi keluarga besarnya dan tetangga sekitar, juga bikin masgul bin dongkol orang lain yang lewat?

Lha kenapa dongkol?… macet yaa?

Exactly.. bener pisan 100 persen jawabannya.

Jadi…..

Pencoblosan bersama di hari rabu tanggal 27 Juni 2018 adalah hari kerja yang diliburkan berdasarkan keputusan presiden… ternyata selain di gunakan untuk pesta demokrasi juga pesta hajatan pribadi.. nikahaan..

Pelaksanaan nikahannya ini dilaksanakan dengan menggunakan jalan kampung yang merupakan altetnatif jalan dikala jalan arteri mengalami kemacetan.

Lakadalah…. kebenerannya adalah :

Pasca mencoblos di TPS sekitar rumah dilanjut sama istri ada urusan… agak buru-buru karena ada satu urusan penting dan jalanan utamanya macet, segera banting stir ngikutin jalur jalan alternatif versi gugelmep…. masuk jalan kampung..

Jreng… dihadapan tersaji panggung besar dengan hiasan bla bla bla…

Cekiit.. seketika mengerem dan terdiam, “Balik lagi udah tanggung, trus ini bisa lewat nggak ya?” Garuk garuk nggak gatal dech.
Coba aja lanjut pelan-pelan kang” Istri nimpalin.

Eh tapi di depan terlihat ada mobil kecil bawa susu murni yang pelan-pelan menembus kerumunan orang-orang hajatan, “Semoga aku juga bisa lewat, Bismillah”

Gas di injek pelan-pelan mendekati kerumunan hajatan.

Orang bejibun pada pake batik, juga kebaya-kebaya seragam yang dipake panitia hajatan berseliweran serta ada icon hajatan yaitu pak Hansip atau Linmas. Mengatur orang serta lalulintas.

Alhamdulillah… perlahan tapi pasti, kami bisa melewati kerumunan orang-orang yang lagi hajatan…

Ternyata, panggung pengantinnya pinggir jalan dan kedua mempelai sedang sungkeman disaat kami lewat….. sebuah pengalaman hidup yang sangat berharga..

……kebayang nggak, pake mobil pas lewat depan pasangan pengantin yang lagi sungkeman… wow amazing…. tinggal buka kaca kiri mobil, salaman, ngucapin selamat dan masukin amplop… trus jalan lagi… delivery bingiit.

Tapi karena nggak dapet undangan nikahannya jadi cuman lewat saja… terdengar suara dari pemandu acara, “Anaking jimat awaking…. geura sujud ka ibu rama… eh halik.. halik aya mobil ngaliwat!!!, Anaking nu… dst”

Saya dan istri tersenyum melihat itu semua, ternyata antara pilkada langsung dan pernikahan itu ada kesamaan yaitu ada proses memilih dan akhirnya proses mencoblos.

Hanya saja proses pencoblosannya beda tempat dan beda waktu. Jikalau pilkada langsung mah jam 07.00 wib sd 13.00 wib, klo dalam pernikahan proses pencoblosannya fleksibel.

Selamat menjadi keluarga SaMaWa yaach.

Wassalam (AKW).

Pilgub – EDM – Tiktok

Nulis kepending Pilgub trus EDM sama Tiktok…

Entahlah…

Malas itu memang misterius, atau sang rajin nulis yang penuh misteri?

Terserrrah deh. Yang pasti postingan blog agak tersendat begitu rupa sehingga biasanya rutin menulis… sekarang agak agak gimana gituuu.

“Mungkin efek pilkada langsung bro?..”

“Maksuttnya?….”

Maksutnya begini.. nich jempol udah gatel pengeeen nulis tentang sesuatu yang berkaitan sama pilgub jabar yang serentak dilaksanain kemarin hari rabu tuh… tanggal 27 Juni 2018. Nggak hanya buat milih gub cagub jabar, tapi total 171 pilkada langsung seantero nusantara.. ajib khan?

Tapi… itu tadi.. agak ngeri nulis urusan politik mah. Jadi nyimak aja di media televisi sama media online wabilkhusus medsos…

Trus mikir lagi… mungkin ada hal lain… yang mengalihkan sang jempol ini sehingga agak tersendat nulis kenulis?… ternyata jreeeng…

Pudding‘ … sebuah channel yutub yang membius anak 2 tahun semata wayang… video unboxing dan aneka mainan anak yang begitu buanyaaak ragam aneka versi… terpaksa ikutan nonton karena khawatir kontennya berbahaya bagi seorang batita…. eh lama2 suka jugaa.

Trus ada lagi……

Sebuah nama yang mencuri perhatian ini dimulai dari pembicaraan kumpul bocah para ponakan… yang ribut urusan jaket hoody bertuliskan ‘Alan Walker’

Sopo yaa?… pokoknya pada ngefans beraat gituuu…

“Siapa Alan Walker (AL) tuh?”

Eh.. para ponakan cengengesan tanpa ngasih penjelasan yang utuh, yoouw maklum dech… masih umur 5 tahun, 7 tahun dan 12 tahun…. ehhh tapi jangan bandingin sama kita di umur yang sama…

Anak sekarang beda… otaknya beda.. gaulnya beda… kemajuaan jamannya udab uedddhan…. jadi siap2 kita yang udah jadi orangtua musti super kreatif dan inovatif mengejar kemajuan jaman dan mengasuh serta mengawal anak di jalan yang benaaar…..

Nah balik ke si AL ini jadi bersentuhan sama EDM… apaaan lagi tuch?… itu tuch Electronic Digital Music, yang dimainin para DJ-DJ terkenal itu tuuch….

Aaah makin jauhhh nich.. tapi si AL ini di usia belia, dianugerahi Allah… karunia kemampuan buat bikin musik via software FL Studio di laptopnya dan nyiptain lagu perdananya ‘Faded’…. yang Bummmm….

Boooming jadi lagu kebangsaan gamers, yutubers, bloggerr sedunia aherat… eh sedunia ding… trus Sony Music menggandengnya… daan makin terkenal…

Moo info lengkap ya gugling aja guys.

Klo mau tau musik EDM… gampang… yang lagi booming EDM-dhutnya ‘Syantiek’nya Sibad… di yutub viewernya udah melesat dan paling unggul saat ini.

Terkait suksesnya Sibad di yutub itu juga andil dari aplikasi medsos berbagi video versi egol-egolan sukahati buatan tiongkok yaitu ‘Tiktok‘ yang nembus 44,3 juta pedownload… melewati yang download aplikasi WA 33 jutaan… daaan mayoritas yang download ‘tiktok’ itu…. saudara kita setanah air… aiiih tiktok yuuuuuu.

***

Itulah cerita singkat yang mengganggu aktifitas menulis blogku beberapa hari ke belakang ini. Sehingga lebih asyik nonton yutub berisi EDMdhut dan kompilasi video tiktok yang akhirnya untuk diriku ini NirFaedah ternyata nyuri kuotanya nggak kira2, padahal udah pake aplikasi ‘Yutube Go’… ampyuuun dech.

So…. kuasai diri.. kendalikan dan pertahanan keajegan diri dan orisinalitas blog akwnulis… simple story with simple language.

Selamat wayah kieu. Gudbaaay (AKW).

Ganti Bos

Pergantian itu alami dan perubahan itu niscaya. Jadi?….

Photo : Halaman buku berganti ditemani secangkir kopi/dokpri.

Berganti pimpinan…… secara otomatis berganti ritme dan suasana kerja. Karena setiap orang yang menjadi pimpinan memiliki karakter unik masing-masing.

Bagaimana sikap sebagai bawahan?

Gampang… segera adaptasi alias menyesuaikan.

Hehehe ngomong yang gampang, pelaksanaannya butuh sikap sungguh-sungguh dan ikhlas lho brow..

Kenapa?.. karena sifat dasar manusia pasti sudah nyaman dengan sebuah rutinitas dan kebiasaan yang telah terlaksana sedemikian lama…

Apalagi pas dapet zona nyaman… pasti ingin mempertahankan kondisi yang sudah tercipta.

Dengan adanya perubahan bos baru, maka galau mendera. Khawatir dapet tugas yang berat dan takut nambah tugas kerjaan.

Padahal… perubahan itu keniscayaan. Tidak ada di dunia fana ini yang tetap, semua berubah seiring gerakan waktu yang tak mau menjeda diri barang semenit, karena itu takdir sang waktu.. terus berjalan.. tik.. tak.. tik.. tak.

Jadi yang terpenting adalah…. atur mindset dan cek rasa ikhlas kita untuk menuju perubahan. Trus jalani pekerjaan sebagai wahana ibadah dan mencari nafKah bagi keluarga.

Tetapi tetap berpegang kepada regulasi agar tata nilai diri tetap berisi. Utamakan kesantunan dan tentu komunikasi yang elegan sehingga proses perubahan ini akan landai tanpa hambatan dan rintangan.

Ksatria baja hitam aja ‘Berubaaah!!!!’ Masa kita nggak?

Yang senyum dan paham ksatria baja hitam berarti udah berumur kepala 4 yaa.. ayo ngaku..

***

Jadi tidak perlu khawatir dengan bos baru. Gaya dan pola kepemimpinannya tentu harus kita ikuti sesuai dengan aturan, yang baiknya di ikuti.

Trus…… klo ada yang kurang baik, monggo pasang kuda-kuda gunakan jurus ‘halimunan‘. Agar bisa sedikit hilang dari pandangan tapi tetep berada di lingkaran.

Ah kok jadi ngoceh terus… udah ah. Kerja yuk… pertama sesuai tupoksi… selanjutnya sesuai tupoksi… tapi yaa kadang-kadang ada juga tugas lain yang mungkin agak sesuai tupoksi…

By the way.. tupoksi tuh singkatan dari tugas pokok dan fungsi yaa…. bukan tukang tepok yang seksi.. 🙂

Selamat malam kawan. Selamat menyesuaikan dan menua bersama heu heu heu. (AKW).

Cerita Ramadhan – Pentakbir Misterius

Acara Takbiran di Mesjid yang berakibat fatal akibat adanya Pentakbir Misterius. (Cerita terakhir edisi Cerita Ramadhanku tahun ini)

Photo : Ilustrasi suasana di dalam mesjid/dokpri.

Selepas ikut jamaahan shalat isya, kami… berlima sudah prepare phisik dan mental untuk melaksanakan tugas sebagai petugas takbir cilik di Mesjid Besar Gununghalu…..

Yup… umur kami masih cilik-cilik.. aku 10 tahun sama dengan Dade dan Hendra sementara Yayan dan Deden lebih tua 1 tahun… kami sama di kelas 4 SDN Gununghalu I dan SDN Gununghalu IV sekaligus sepengajian di pengajian rutin ‘Mang Ikin’ Mesjid Besar Gununghalu.

Tahun lalu kami masih anak bawang dan belum diberi kepercayaan sebagai petugas takbir karena dianggap masih kecil…. padahal kami semua memang masih kecil heu heu heu…

Nah tahun ini amanah tugas ini diberikan kepada kami untuk memback-up para orangtua yang tentu sudah standbye dari tadi..

“Allaaaaaahu Akbar….Allaaaahuakbar… Allaaaahu Akbar… Laaaa ilaaa haillallaaaah huwawlaaa hu akbar, Alaaaaahuakbar Walillaaaa ilham…”

Kalimat takbir saling bersahutan dan memberi getar kerinduan serta kesedihan… betapa ramadhan sudah pergi.. dan semoga bisa berjumpa dengan ramadhan tahun depan…

Eh tapi seneng juga… baju baru, banyak makanan, banyak angpaw… libuuur lagi…. ahhh senang nyaa.

Ba’da isya kami sepakat pulang dulu ke rumah masing2. Persiapan bawa perlengkapan.

***

Pukul 10.15 menit kami semua sudah berkumpul di mesjid. Mengelilingi beraneka makanan yang tersaji diatas nampan. Ada papais, kolontong, ranginang, rangining, opak, saroja,kulub cau, kulub hui, cuhcur, wajit, angleng, dodol, bugis, nagasari, kulub taleus, kurupuk jengkol dan beraneka wafer serta kue warungan lainnya. Dua buah mikropon sudah siap, yang satu sedang dipegang Dade yang begitu antusias menyuarakan takbir. Pa Haji Uye dan Pa Haji Enus juga masih ada serta beberapa bapak-bapak lainnya… tapi udah terlihat terkantuk-kantuk…. saatnya bertugass nich.

Oh iya air minum yang tersedia, 2 teko besar yang berisi air tawar dan teh manis. Trus kopi satu termos besar ditambah berjejer gelas besar berisi air nira (lahang) plus rokok yang disimpan di gelas juga… tapi itu haram buat kami. Rokok mah buat orang2 dewasa dan orangtua.

Klo pas nggak pegang mikropon.. ya makan.. nyemil hidangan… minum air nira dan kopi… ketawa2.. main bedug atau ‘ngadulag‘ ….
‘Dug dulug dug dag…. dug dulug dug dag...’ diiringi shalawat…

Tapi klo udah bosen… jadinya lagu “Aaku punya anjing kecil… ku beri nama (nyebut nama temen yang ada)… ketawaa.. mukul bedug dan kentongan… juga sembungi2 nyalain petasan dan mercon.. atau malah kejar-kejaran dalam mesjid yang begitu luas.. pokonya senanggg dech.

***

Waktu tak terasa beranjak hampir mencapai tengah malam. Kami berlima tetap bertahan bertugas hingga nanti pukul 01.00 dini hari dan berganti dengan akang2 di pengajian yang ternyata sebagian sudah datang… mungkin takut ketiduran.

Orang tua tinggal Mang Osid dan guru ngaji kami, itupun terkantuk-kantuk…. hingga jam 23.12 wib. Beliau berdua pamit pulang dulu..

Inilah saatnya…..

Jreng… kami berlima berkuasa atas 2 mikropon di mesjid besar ini. Rebutan mix dan berlomba mengumandangkan Takbir semerdu mungkin. Suara cempreng kami membahana atas bantuan 4 Toa (Merk speaker jaman harita) yang terpasang di atas menara mesjid… bergema ke pelosok kampung dan menggetarkan yang mendengarkan… ahaay lebay.

Lewat tengah malam. Kami mulai kelelahan dan kekenyangan… tapi teriak di mikropon terus dikumandangkan..

“Allaaahu akbar… Allaaahuakbar… Allaaahh akbar… laaaila haillallah huwallahu Akbar… Allaaaahuakbar walillaa ilham.”.. meskipun dengan suara mulai serak.

***

Disaat kami berlima sedang ngariung di tengah mesjid, sudut mataku melihat gerakan sesuatu di luar samping kanan mesjid.. “Hei ada orang diluar, siapa ya?”... wajah kami berlima agak menegang.

Maklum karena menjelang akhir bulan ramadhan ini agak rawan pencurian.. termasuk kencleng mesjid disikat. Jadi kami langsung curiga pas liat ada seseorang mengendap-endap. Aku dan Yayan beringsut perlahan, berjingkat menuju ke kanan mesjid….

Deg.. deg.. deg… deg.

Ternyata… sosok yang sudah dikenal. Mang Yaya. Sedang mengendap-endap menuju tempat wudu… “Kirain siapa” “Iya euy, udah tegang gini” Kami berdua menarik nafas lega dan kembali beringsut menuju ruang tengah mesjid, mikrofon menunggu.

Berlomba melantunkan takbir di malam kemenangan.

***

Tengah malam baru saja terlewati, kami berlima sudah kelelahan dan hampir kehabisan suara. Orang dewasa dan orangtua sudah tidak ada di mesjid… kami berusaha melanjutkan tugas mengumandangkan takbir dengan sisa-sisa tenaga.

‘Tring!!!….’

Sebuah ide brilian muncul di otak ini.

Aku bergerak keluar lingkaran dan menuju halaman mesjid sebelah kiri. Benar saja Mang Yaya sedang lakukan gerakan sholat…. diluar.. di emper mesjid.

Perlahan didekati. Ditunggu hingga sholat sunatnya usai.

Setelah selesai sholatnya, Aku merapat, “Mang maaf, hayu kita di dalam mengumandangkan takbir”

“Uaah uuh uuh” Mang Yaya menganggu dengan mata berbinar. Segera masuk ke mesjid bersamaku. Teman-teman bingung dan tidak percaya.

“Dri kamu ngapain bawa Mang Yaya ?” Dade nanya dan wajahnya tegang.

“Kalem atuh, kita khan udah cape. Ini ada bala bantuan, yaa kita kasih kesempatan dong” Jawabku tenang, Dade terdiam.

Tap… mikropon dipegang Mang Yaya, ……

“Uaaaaa..uwaaaaaauuuu!!!! Uh oahuuuuuu… oahuuuuuuuii!!!
Auuuuuuh oihuuuuuu!!!”

Kami bersorak berlima dan tertawa terbahak-bahak menyaksikan ‘Pembaca Takbir Dadakan’ yang begitu kocak dan semangaat…. tapi lafalnya nggak jelas. Karena memang Mang Yaya ini nggak lancar ngomong alias tuna wicara atau ‘pireu‘…. gayanya selangit.. mirip rocker internasional.

Berlima terpingkal-pingkal hingga airmatapun berderai…

“Uaaaaa..uwaaaaaauuuu!!!! Uh oahuuuuuu… oahuuuuuuuii!!!
Auuuuuuh oihuuuuuu!!!”

“Hahaha hahaha…..”

“Xixixixi…..”

Sambil mulut penuh opak dan ranginang, mulut terbuka lebar lihat adegan Mang Yaya megang dua mikropon sekaligus… Ajibb dech…

Hampir 15 menit Mang Yaya teriak2 nggak jelas karena memang sulit berbicara. Seantero kampung heboh karena menyangka petugas takbir sedang main-main.

Bapak ketua DKM, guru ngaji kami dan beberapa tokoh masyarakat tiba-tiba sudah ada dihadapan kami, terdengar suara menggelegar, “Berhenti Takbirnya Mang!!!!”
Mang Yaya terdiam, trus bergeser tanpa ekspresi… ngloyor aja keluar mesjid.

Photo : Suasana shalat Ied/dokpri.

Kami berlima serasa menciut, karena tatapan para orang dewasa yang tiba-tiba ada di mesjid tertuju kepada kami, tatapan tajam yang mengancam, mencekam.

“Kalian…. keluar semua sekarang juga.!!! Berbaris di kolam depan!!” Guru ngaji kami bersuara lantang. Kami berdiri dan berjalan menuju kolam depan mesjid.

Ternyata di luar mesjid sudah banyak orang, termasuk ibu-ibu dan anak-anak, padahal ini jam 01.00 wib lho…

“Ada apa ini?” Aku berbisik ke Deden. Eh ternyata terdengar sama guru ngaji kami, “Ini gara-gara kalian, semua warga terbangun karena suara Takbir ngaco dari speaker mesjid!!!!”

Kami berpandang-pandangan, lalu menunduk sambil tersenyum kecut.

***

Dini hari menjelang, dan kami berlima dihukum direndam di air kolam yang dingin menusuk kulit. Tidak lama sih, cuman 20 menitan…. cukup bikin badan menggigil dan otak membeku. Tapi yang berat itu denger ceramah, omelan dan doktrin dari guru ngaji kami serta bapak ketua DKM, katanya perilaku kami berlima itu salah besar.

Aku terdiam sambil bicara dalam hati, “Padahal niat kami baik lho…. memberi kesempatan kepada seseorang untuk ikut bertakbir… sekaligus penasaran klo yang nggak lancar bicara itu takbirannya gimana….”

Setelah kena hukuman, kami disuruh pulang ke rumah masing-masing dan besok pagi sudah siap di mesjid lagi untuk membantu panitia sholat Iedul fitri.

***

Hari lebaran sudah usai, dan di hari ketiga setelah itu, kami berlima kompak nggak ada suara.. alias peuyeuh bin peura.. serta badan panas dingin.. “Mungkin kualat kali yaaa?”

***

Beberapa kali berjumpa dengan Mang Yaya, orang yang baik dan mau bantu-bantu apapun tanpa minta imbalan. Memang tuna wicara tetapi Orangnya jujur dan polos serta sabar.
Beliau pasti langsung acungin jempol tanda ‘mantapppp‘.. plus gerakan tangan seolah sedang takbiran pake mikropon.

Lalu teriak…..

“Uaaaaa..uwaaaaaauuuu!!!! Uh oahuuuuuu… oahuuuuuuuii!!!
Auuuuuuh oihuuuuuu!!!”

“Maafkan Kami ya Mangg….”

Wassalam (AKW).

***

Catatan : Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung saudara kita yang difabel tapi hanya sekedar berbagi kisah kenakalan masa kecil. Hatur nuhun.