GENDONG ANAK

Gendonglah selagi mau.

CIMAHI, akwnulis.com. Setelah shalat shubuh dan mandi pagi, ada ritual harian yang besok lusa akan menjadi kenangan. “Apa sih rutinitas itu?” Sebuah aktifitas sederhana kok, hanya menggendong anak kesayangan untuk berpindah dari kamar sebelah ke kamar kami untuk persiapan mandi pagi.

Cara gendongnyapun khusus seperti menggendong bayi meskipun sekarang sudah hampir berumur 8 tahun tepatnya 7 tahun 8 bulan. Otomatis butuh hati – hati karena sang anak sudah bukan bayi lagi, sudah besar dan berat. Timbangan badannya yang terakhir adalah 42,5 kilogram. Cukup lumayan untuk olahraga angkat beban setiap pagi di hari kerja.

Ih udah besar ade, bangun sendiri atuh”
“Kasian ayahnya berat tuh, ntar pinggangnya sakit”
“Manja banget sih, segede gitu masih gendong bayi – bayi”

Banyak komentar berseliweran, tapi anaknya cuek bebek dan menanggapi dengan senyuman plus kedua mata merem lagi, nikmat pisan.

Pagi inipun kembali menunggu digendong ayah dengan gaya bayinya, padahal sudah bangun sebenernya disaat adzan shubuh tadi berkumandang.

Satu hal yang dirasakan dan dimaknai oleh penulis adalah sebuah ungkapan sederhana. Ungkapannya adalah mumpung anaknya masih mau dan suka digendong ayahnya. Karena waktu akan bergerak dengan ritmenya dan tak terasa akan hadir momen bahwa anak perempuan kesayangan ini tidak mau lagi digendong gaya bayi yang rutin dilakukan setiap pagi.

Urusan berat badannya terus meningkat sih tidak masalah selama raga ini masih kuat mengangkat atau membopongnya untuk berpindah kamar dan bersiap untuk mandi pagi lalu shalat shubuh. Ikhtiar sederhana dari seorang laki-laki yang menjadi ayah kali ini semoga memjadi bagian tak terpisahkan dalam mengantarkan anak perempuan ini menjalani, menikmati dan mensyukuri kehidupan dunia dalam kesalehahannya serta memiliki bekal lengkap dalam menghadapi akheratnya, nanti.

Selamat pagi, eh selamat malam untuk semua pembaca. Jangan lupakan bahwa hal – hal sederhana dalam keseharian kita itu senantiasa berbalut makna. Wassalam (AKW).

KOPI OBAT AWET MUDA???

Catatanku tentang mencoba gaul dengan filter medsos.

BANDUNG, akwnulis.com. Beberapa hari yang lalu disaat membuka akun tiktok dan berselancar menikmati postingan random di tiktok ada salah satu postingan yang ramai dan menggunakan filter video yang mengubah wajah menjadi jauh lebih tua. Mungkin sudah lama filter ini ada, tetapi ide ketertarikan untuk menggunakannya itu baru hadir di kepala.

Keseruannya itu karena mayoritas yang menggunakan dan memposting video singkat plus age filter ini menggunakan konsep teatrikal. Maka ramai sekali penggunaan filter age atau umur menua ini termasuk berbagai momentum sedih bagi seseorang yang tidak bisa bersua dengan mendiang orang tuanya karena telah meninggal semasa mereka kecil.

Nah trend terbaru filter umur ini lebih kepada seru – seruan dengan tema hampir senada yaitu video wajah sedang beraktifitas tapi lupa nyalain filter umurnya, maka terpampanglah wajah keriput tua. Lalu hadir ekspresi kaget panik bin reuwas dan segera pijit layar smartphonenya agar kembali ke wajah sebenarnya yang kinclong menginclong bak habis perawatan wajah.  Maka akhirnya tertawalah atau minimal senyum dikulum melihat tingkah orang – orang dalam video yang tersaji.

Karena sebenarnya yang menggunakan posting ini menampilkan sebagai seseorang yang sudah tua dan asyik video selpi lalu kaget karena age filternya lupa di nyalakan. Nah setelah dinyalakan maka wajahnya berubah mulus dan muda.

Padahal sebenarnya wajah aslinya berada di posisi tengah – tengah. Artinya sang pengguna filter video ini wajahnya sudah dewasa tetapi belum masuk lansia yang penuh keriput dan wajah tua atapun pada saat filter di klik jadi mulus, segar dan muda tapi diantara posisi itu. Maka tujuan utama ikut – ikutan menggunakan filter ini lebih kepada hiburan saja dengan tetap memegang teguh tema pribadi tentang seputar kopi.

Pengambilan videonya juga berulangkali gagal dan kurang pas videonya, tapi karena penasaran ya dicoba terus hingga akhirnya video super aingkat 17 detik ini tercipta. Tidak lupa di share di media sosial pribadi baik tiktok, facebook, instagram dan akun youtube @andriekw. Semuanya digunakan untuk menampilkan hasil karyaku hehehehehe.

Tapi sebelumnya tetap serius meracik dan seduh kopi denvan manual brew V60 dengan biji kopinya Arabica puntang honey. Setelah siap di gelas kaca kecilku, maka cating dimulai…

Take video… action !!

Tidak lupa pada saat share link video di youtube ini ditambah dengan pesan menggoda dan buat penasaran, ‘NGOPI BIKIN AWET MUDA, nggak percaya?.. niih linknya KLIK SAJA.

Tapi tentu harus bersiap – siap menjawab komentar dan juga pertanyaan dari para kolega yang akan beragam memberikan tanggapannya. Satu hal yang pasti adalah kopi tidak membuat kita awet muda, tetapi kopi bisa menjaga suasana hati kita tetap ceria untuk mensyukuri kehidupan yang penuh makna. Wassalam (AKW).

PANTUN HARIAN M3 Okt 2023

Kumpulan Pantun AKW di minggu ke 3 Bulan Oktober 2023.

CIMAHI. akwnulis.com. Sebuah kata dirangkaian beberapa ternyata bisa sedikit mewakili rasa yang sedang dijalani. Genre pantun menjadi pilihan kali ini, pantun sederhana. Namun jika setiap hari dibuat dalam format PANTUN HARIAN ternyata seminggu berlalu, lumayan juga minimal ada 7 buah pantun yang dihadirkan.

SENIN 161023

Menenun kain memakai kawat
Kawat berpegas nampak mengkilat

Hari senin penuh semangat
Awali tugas dengan niat yang kuat

SELASA – 171023

Makan laksa di pasar baru
Ada desahan semanis madu

Hari selasa penuh haru
Karena sebuah perpisahan yang sendu

RABU – 181023

Ibu – ibu mengangkat sapu
Sapu dilempar nyangkut di dagu

Hari rabu semangat menggebu
Tuntaskan tugas secara terpadu

KAMIS – 191023

Masak tumis sambil menangis
Rawit diramu makin meringis

Hari kamis begitu manis
Seperti kamu yang ceriwis dan humoris

JUMAT – 201023

Mang Mamat mengirim surat
Surat dibuka isinya undangan rapat

Bekerja semangat di hari jumat
Tuntaskan tugas secara cermat

SABTU – 211023

Ambil batu pake tangan
Batu dilempar nyangkut di dahan

Hari sabtu bentrok undangan
Akhirnya salah satu jadi pilihan

MINGGU – 221023

Beli Sagu dan sekarung beras
Beras ditanak dibungkus kertas

Hari minggu tetap bertugas
Jalani semua dengan Ikhlas

***

Beli sagu dan sekotak mentega
Campur tepung dan Semangkok gula

Hari minggu bersama keluarga
Nikmati kebersamaan yang nyata

***

Itulah kumpulan pantun harianku di minggu ke 3 Bulan Oktober 2023. Wassalam (AKW).

LOKASI NGOPI & MIE ACEH DI MEDAN

Ini info cafenya ya…

BANDUNG. akwnulis.com. Sebuah hasil karya sederhana tentu memerlukan interaksi dari penikmat produk ini. Jika postingan di media sosial direspon dengan komentar yang berisi dukungan, hujatan ataupun dibagikan lanjutan maka klarifikasi atau respon tentu bisa dengan tulisan ucapan terima kasih ataupun emoticon yang bisa mewakili suasana kebathinan kita.

Begitupun dari tulisan sederhanaku dan juga postingan di youtube, tiktok, instagram dan beberapa minggu ini adalah facebook. Untuk produk diluar tulisan sih cenderungnya adalah komentar saja yang harus direspon, kecuali jika warningnya adalah urusan copyright, tidak ada ampun harus takedown saja daripada menimbulkan permasalahan di kemudian hari.

Sementara untuk tulisan yang dimuat di websiteku ini respon yang ada masih terbatas dan mayoritas adalah jempol atau like dan beberapa komentar dukungan saja. Kecuali tadi pagi, ternyata ada pesan whatsapps yang masuk dan merespon tulisanku kemarin yaitu KULINER ACEH DI MEDAN.

Pesannya adalah ingin kejelasan dari tulisan itu dengan mengacu kepada rumus 5W1H tapi pada pilihan Where- nya saja. Dimana tempat ngopi acehnya, apa nama (what) cafenya dan bagaimana (How) suasananya. Karena ternyata beliau adalah orang medan yang merantau bersekolah serta bertugas di Jawa Barat. Pantas saja penasaran.

Maka demi transparansi dan konsekuensi dari sebuah produk tulisan yang sudah dibuat, tulisan inilah sebagai jawabannya. Sebagai disclaimernya, penulis nggak di-endorse sama Cafe ini, tapi tidak masalah karena mempromosikan cafe yang memiliki menu makanan dan minuman nusantara ini.

Nama cafenya adalah SULTHAN COFFEE yang terletak di Jalan Amaliun No.26 Kota Matsum IV Kecamatan Medan Area Kota Medan Provinsi Sumatera Utara Kodepos 20211. Kami datang ke lokasi malam hari sekitar pukul 19.00 wib dan tidak terlalu lama karena mengejar acara pembukaan Rakornas di tempat yang berbeda.

Terkait dengan suasana cafe Sulthan coffee ini  cukup nyaman dengan hamparan meja kursi dan bisa di setting memanjang untuk kongkow dalam jumlah banyak ataupun per meja saja. Lalu ada juga di lantai atas, tentu harus mrnaiki tangga dulu lalu betsua dengan meja kursi bernuansa warna orange serta dilengkapi beberapa kipas angin yang berputar kencang untuk melawan hawa panas yang cukup menantang.

Diriku memilih posisi duduk dilantai atas karena leluasa menikmati suasana dan pemandangan dari sang barista dan koki yang begitu sigap membuat sajian makanan dan minuman. Menu bervariasi tapi tidak sempat baca rinci karena waktu yang terbatas, yang penting mencoba kopi aceh dan mie aceh.

Lalu bagi perokok semua posisi aman, karena kanan kiri langsung dengan alam terbuka sehingga bisa menyulut dan menikmati rokoknya di berbagai lokasi. Tinggal kepeduliannya saja manakala ada pengunjung lain yang tidak merokok, tentu diharapkan tepo salironya.

Oke itu saja penjelasan singkatnya ya, semoga bermanfaat. Wassalam (AKW).

COKOR SAPI UING

Ulah ngelay nya….

CiHANJUANG, akwnulis.com. Lain hayang ngabibita ieu mah, tapi ngan saukur hayang nyarita. Nu kabita nya wayahna, nu henteu nya teu nanaon, “Aman pan?”

Dua poè katukang kajadiannana mah. Sabot guntreng gempungan di rohangan sabeulah, aya nu nguliwed asup ka rohangan uing, kana mèja paranti gawè, mèja leutik nu camperenik, teuing rèk naon.

Rèngsè gempungan, balik ke rohangan. Gebeg tèh, dina mèja nu pinuh ku kertas jeung map, ayeuna bersih diganti ku mangkok bodas eusi cokor sapi nu ngebul kènèh. Kaciri dina tengah tulangna aya nu elok elokan, sumsumna. “Uluh matak kabita”

Tapi naha ukur cokorna wungkul, euweuh baturna?” Hatè norowèco bari mikir saha kira-kira nu mèrè ieu hakaneun… èh tuangeun.

Mang ulah waka didahar, emih jeung basona tinggaleun” Sora bèntès ti rohangan sabeulah, sora Si Uhe.

Nuhun euy, enyoy kieu sumsumna gè. Loba deui”

Lain ti Uing èta mah, ti Guru Adang, ti tukang” Jang Uhè ngawalon.

Alhamdulillah infona euy” Uing mairan bari tikoro geus teu kuat nungguan emih jeung baso keur ngabaturan ieu cokor rèk di èkskusi.

Sabot nungguan, inget kana jaman ayeuna. Mèdia sosial tèa, kudu èksis ceunah. Teu antaparah deui, hapè dicekel… èh mangkok eusi cokor sapi di usar èsèr, tuluy dikècèng ku kamèra hapè, kudu dijeprèt cing alus jeung alami alias poto natural.

Cetrèk.
Cetrèk.

Belenyèh seuri sorangan, cokor sapi pindah rupa jadi gambar dina hapè. Dokumentasi pribadi nu isuk pagèto bisa kakoncara, sabab di-upload kana mèdsos, susuganan loba nu resepeun.

Tuluy kapikir susuganan bisa asup kana aplikasi poto luar naggrèg èh luar nagari nu salila ieu taliti jeung loba aturan mun urang hayang ngirim photo urang dina aplikasi manehna. Diantarana aya ‘gettyimage‘ jeung ‘shutterstock contributor.’

Geus ah tong loba mikir. Ayeuna waktuna èksekusi sabab emih, baso, kikil jeung togèna geus sayagi ditambahan ku sambelna, cuka, kecap jeung jeruk purut meunang meulah, seungit pisan gan. Pas dihijikeun, èh mangkokna dideukeutkan, disada, “Ieu tèh Mie kocok.”

Uing unggeuk bari rada kerung, panasaran naha ngaranna mie kocok, padahal asa teu dikocok-kocok, ukur dicampurkeun. Geuningan proses awalna dina lebet wadah tina logam nu eusina cipanas kuah gajih tulang sapi, èta tèh kikil, emih, toge dikocok-kocok heula nganggè gagang bolong parantina, kitu saur detikjabar.com tèh. Kahartos ogè ayeuna mah. Nu matak reueus ieu tèh tuangan nungturun sabaraha generasi tur istuning asli kulinèr bandung sanaos seueur nu icalannana di wewengkon jawa barat.

Euleuh ngadongèng waè, hawatos ieu sumsumna ngadagleg. Margi nuang mie kocok mah balap sareng waktos, diantep mah janten kirang raos margi gajihna ngadagleg. Kedah nuju panas supados pas nuangna, “Teu percanten?.. cobian geura.”

Alhamdulillah, teu peryogi waktos lami. Cokor sapi tengahna di kucuran kuah panas, colok nganggemè sumpit. Tonggèngkeun kana mangkok, burusut sumsum ngagulusur gabung sareng emih, togè tur kikil nu ngantosan dina mangkok. Disendokan, suruput, peureum benta lur.

Keur anteng tur rampus nuang mie kocok, karaos punduk asa ranteng, boa – boa cicirèn kolesterol naèk. Duh palaur, langsung wè digancangkeun ngadahar mie kocokna. Teu hilap cokor nu luarna digorogotan sabab nyèsa kènèh kulit jeung gajihna. Ngan kudu ati – ati bisi lain kulitna nu lèsot tapi huntu anu naplok.

Tah kitu geuning dongèngna tèh.

Hatur nuhun Guru Adang.

Sakali deui, ieu mah sanès ngabibita namung hoyong ngabagi carita. Cag. Wassalam (AKW).

MACET PARAH & NULIS FIKMIN – dibejaan.

Macet parah bukan halangan untuk menulis, inilah hasilnya.

CIAWI, akwnulis.com. Sabtu siang akhirnya bisa mendarat dengan nyaman di parkiran depan mesjid keluarga besar Kartadibrata di Ciamis, Alhamdulillahirobil alamin. Sebuah perjalanan santai dalam rangka mengantar ibunda untuk mencari jejak leluhur tepatnya makam ibundanya atau nenekku dari ibu.

Perjalanan keberangkatan relatif lancar sekitar 3 jam 28 menit hingga ke lokasi tetapi perjalanan pulangnya langsung stuck semenjak daerah rajapolah. Buka google map langsung dihadapkan pada rute yang merah membara alias macet parah. Awalnya bergerak perlahan dan akhirnya terdiam menanti mobil depan merayap sesuai urutan.

Ya sudah, sambil menjalani kemacetan ini. Saatnya menulis tentang sesuatu yang bisa dibagi kepada kolega dan kawan – wan di blog pribadi ini. Meskipun tentunya mata tetap waspada mengawasi pergerakan kendaraan di depan sehingga meski terdiam dan tersendat namun tetap bisa bergerak manakala kesempatan itu datang mendekat.

Tulisan kali ini adalah mencurahkan cerita dalam genre fiksimini basa sunda sekaligus mengkampanyekan batasan penulisan fiksimini maksimal 150 kata dalam bentuk cerita fiksimini. Maka langsung saja jemari eh jempol gemukku bergerak lincah diatas virtual keyboard smartphoneku. Memuliskan kata demi kata bahasa sunda untuk menjalin suatu cerita.

Inilah tulisannya….

***

Lain sakali dua kali èta pesen dina WA pinuh kiriman ti manèhna. Sapoè bisa 8 kali ngirim pesen tèh. Shubuh – shubuh aya tausiah, mangsana panon poè meletet aya deui pesen kana tips ngajaga keluarga mèh awèt. Ngadeukeutan tengah poè aya tausiah deui. Ngan lamun geus lohor kakara curhat karungsing kahirupannana.

Nya kusabab baheula boga carita, asa teu wasa mun saukur dibaca. Dibales wè sanajan ukur ku simbol jempol atawa 2 leungeun nutup kawas nu keur sasalaman jaman covid.

Aya ogè nu jadi keuheul tèh, èta tausiah atawa tips kahirupan kulawargi sakinah tèh meunang nyalin ti nu lian jadi lain asli jieunan manèhna. Rumusna RNTB (rajin ngirim tulisan batur). Hiji mangsa mah dibèjaan, “Ceu, saèna mah nu dikintun tèh ulah copas, manawi seratan asli ceuceu atuh

Sapoè eureun teu ngirim pesen dina WA, alhamdulillah mujarab yeuh. Poè kadua, poè katilu gè suwung. Istuning jempling euweuh nu trangting. “Kamana si euceu?” Hatè norowèco.

Saminggu ti harita, aya deui pesen tèh. Tapi lain tausiah, tulisan rèkaan nu maksimal 150 kecap. Basa sundana ngagulur, sakapeung aya lèokan di paragraf pamungkasna. Tapi sapoè ukur ngirim hiji, ceunah mah kudu kitu tidituna.

Bieu nga-WA deui, “Jang, ngaran ceuceu geus diganti, hasil tina putusan pengadilan kamari, janten Fikriani Mintarsih, disingket fikmin.”

****

Tulisan konsep fiksiminiku sudah tuntas, saatnya.memghitung.jumlah kata. “Satu, dua, tiga…. dan seterusnya” eh ternyata 172 kata. Terlalu banyak lebihnya, langsung coba diperpendek lagi yang penting secara esensi ide bisa dipertahankan.

Sambil sesekali kaki menginjak gas atau rem seiring ketersendatan kemacetan yang menyesakkan eh mempegalkan. Baca lagi ulang konsep tulisan tadi dan peras eh pendekkan hingga maksimal 150 kata. Tidak lupa diberi judul yang senada. Inilah jadinya….

FIKMIN # DIBÈJAAN #

Lain sakali dua kali èta pesen dina WA pinuh kiriman ti manèhna. Sapoè bisa 8 kali ngirim pesen tèh. Tausiah, tips kahirupan jeung sajabana.

Nya kusabab karunya, teu wasa mun saukur dibaca. Dibales wè sanajan ukur ku gambar jempol.

Aya ogè nu jadi keuheul tèh, èta tausiah atawa tips kahirupan tèh meunang nyalin ti nu lian jadi lain asli jieunan manèhna. Hiji mangsa mah dibèjaan, “Ceu, saèna mah nu dikintun tèh ulah copas, manawi seratan asli ceuceu atuh”

Sapoè eureun teu ngirim pesen dina WA, alhamdulillah mujarab yeuh. Poè kadua, poè katilu gè suwung. Istuning jempling euweuh nu trangting. “Kamana si euceu?” Hatè norowèco.

Sabulan ti harita, aya deui pesen tèh. Tapi lain tausiah, tulisan rèkaan maksimal 150 kecap. Basana ngagulur, sakapeung aya lèokan di paragraf pamungkasna. Sapoè ukur ngirim hiji.

Bieu nga-WA deui, “Jang, ngaran ceuceu geus diganti, hasil tina putusan pengadilan kamari, janten Fikriani Mintarsih, disingket fikmin.”

***

Itulah sebuah tulisan yang dihasilkan dalam kemacetan ini. Lumayan meskipun mobil beranjak beberapa puluh meter saja, tapi minimal adq tulisan yang bisa dihasilkan dan langsung dibagikan. Happy weekend kawan. Bagi yang terjebak macet dan terdiam dibalik kemudi, anda tidak sendiri. Banyak teman termasuk diriku ini. Wassalam (AKW).

KOPI GUNUNGHALU HONEY ANAEROB

Kembali menikmati Kohitala… Srupuut.

CIMAHI, akwnulis.com. Bodinya begitu lembut menyentuh mulut, sementara acidity mediumnya menemani malam sabtu ini menjadi lebih segar. After tastenya jelas tegas rasa berry mendominasi, ditambah dengan manisnya gula merah alami yang menyentuh hati.

Kopi arabica gununghalu honey anaerob yang hadir pagi ini begitu menyenangkan. Memberi kembali sensasi aneka rasa dari sebuah sajian kohitala. Kopi hitam tanpa gula. Menggunakan metode seduh manual V60 sederhana, dengan takaran kira-kira 15 sd 17 gram dan menggunakan air panas dari dispenser saja karena sudah tak sabar ingin meneguk rasanya. Alhamdulillah sesuai ekspektasi dan harapan.

Makasih pak Kabid PPUP Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat yang memberikan kesempatan untuk menikmati beraneka biji kopi dan sekaligus dibawa pulang untuk diseduh sendiri di kala suasana hati sedang sepi. Nuhun juga Teh Rini Mayasari, silaturahminya ikut tersambung dengan pergerakan biji kopi arabica gununghalu honey anaerob ini. Srupuuut… eh belum, berdoa dulu atuh. Karena rasa syukur itu adalah kewajiban, termasuk rasa syukur spesial diberi sama Allah kesempatan untuk bisa menikmati sajian kopi hitam tanpa gula yang memiliki aneka rasa. Tidak semua orang lho bisa merasakan nikmatnya. Cenderung akan bilang, “Kopinya pahit ih” atau “Kok asem ya kopinya?” dan berbagai komentar lainnya.

Padahal dibalik kepahitan kopi tersimpan rahasian besar rasa jika kopinya memang bibit yang baik, diolah dengan baik hingga akhirnya diroasting dan diseduh dengan baik hingga hadir untuk bersua dengan indera perasa kita dalam tema ngopi suruput bray gaskeuun…

Kembali ke sajian kopi yang sudah hadir di depan mata, maka perlahan tapi pasti di sruput saja, biarkan cairannya bergerak bebas di mukut dan menyentuh lidah termasuk bagian belakangnya. Tahan sedikit baru biarkan meluncur menuju lambung via tenggorokan untuk proses berikutnya.

Happy weekend kawan, Wassalam (AKW).

KOPI GELATIK SARIMUKTI

Dimanapun bisa ngopi..

KBB, akwnulis.com. Segelas plastik cairan hitam telah hadir dihadapan, lengkap dengan kepulan asap putih sebagai hasil pertemuan air panas mendidih dengan bubuk kopi andalan. Rasa panas menyeruak di dalam tenda komando ini, tetapi dengan hadirnya kohitala gelatik ini suasana ‘hareudang‘ menjadi ceria.

Singkatan apalagi KOHITALA GELATIK?”

Oh itu, singkatan dari Kopi Hitam Tanpa Gula dengan Gelas Plastik. Sebuah sajian kopi darurat yang hadir di dalam trnda dapur umum yang menjadi pendukungan terhadap penanganan kondisi bencana yang terjadi di lapangan, yaitu kebakaran di tempat pembuangan sampah Sarimukti Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat.

Para relawan Tagana KBB yang juga merupakan Tagana Jabar berjibaku membantu pendukungan kegiatan ini dengan mendirikan dapur umum dengan tenda dari Dinsos Jabar serta membuat dan menguplai makanan minuman bagi petugas yang bekerja dengan jumalh 1.500 pak setiap kali makan dibawah koordinasi BPBD & Dinsos KBB selama 14 hari sampai dengan tgl 11 September 2023. Selanjutnya peran dapur umum diampu oleh BPBD provinsi seiring penetapan tanggap darurat di level provinsi untuk penanganan selanjutnya.

Kembali ke tema kopi, sudah jelas bahwa uniknya si kohitala ini adalah bukan hanya berbicara tentang rasa saja tapi banyak dimensi yang bisa kita gali dan menjadi bahan literasi. Pertama bisa dilihat dari sisi bahan baku atau bijinya, kedua bagaimana penyajiannya, ketiga siapa yang menyajikannya, keempat dimana kita menikmatinya dan kelima yang juga krusial adalah dengan siapa menikmatinya… ups agak sensitif nich hehehehe.

Maka tulisan singkat kali ini adalah masuk ke dalam poin keempat yaitu dimana kita menikmatinya. Karena dengan Kohitala Gelatik ini untuk poin pertama sudah jelas bahwa bahannya adalah kopi sachet tetapi dipilih yang tanpa gula. Poin keduanya sudah jelas penyajiannya minimalis dengan gelas plastik. Tentu ini patut disyukuri, gimana kalau disajikannya tanpa gelas? Langsung air panas ditumpahkan ke telapak tangan, atuh berabe gan.

Poin ketiga siapa yang menyajikannya, sudah pasti petugas tagana yang begitu mahir membuat aneka masakan menghadirkan makanan dan minuman yang enak lho, ngvak kalah sama rasa dan kelezatan makanan di rumah makan. Maka dilanjutkan poin keempat, ini yang menjadi titik tolak, dimana kopi ini di nikmati. Tentu berada di dalam tenda yang menjadi bagian dari dapur umum dinsos – tagana. Sebuah suasana berbeda dibandingkan ngopi di cafe. Tapi jangan salah kawan, kenikmatan sruputan, kenikmatan rasa kebersamaan dan senda gurau ala orang lapangan memberi nilai tersendiri yang tidak bisa diukur dengan angka.

Bagaimana suasana lelah membuat masakan dan minuman, kericuhan pada saat jam makan, deadline makanan dan minuman tersaji dan terbungkus sempurna untuk segera disebar kepada petugas di lapangan yang berjibaku dengan hadirnya titik api yang baru agar mereka tidak kehausan dan kelaparan adalah cerita kebersamaan yang saling menguatkan ditemani sruputan kohitala gelatik sehingga harus minta tambah dua kali.

Maka kembali dalam tulisan ini, jangan takut untuk memulai menulis. Tulislah, alirkanlah rasa yang tersimpan dan simpanan yang terasa sehingga berbuah kata dan kalimat hingga akhirnya sebagian memori kita tersimpan dalam server berbeda yaitu sebuah tulisan indah yang sarat makna.

Sruput dulu gan, kohitala gelatik kedua.

Lalu jika sudah tuntas menulis, sebarkanlah kepada dunia melalui media sosial kita, atau media sosial dimana kita bekerja. Banyak cara agar tulisan kita hadir di dunia maya. Bisa blog pribadi baik gratisan atau berbayar. Bisa juga mengikuti komunitas dan kolom netizen di beberapa media nasional ternama. Tapi ingat beberapa aturan mungkin berbeda, ya pelajari saja dan ikutu ‘role of the gamenya’.

Baiklah selamat memikmati pagi hari yang agak sendu ini, tapi mungkin nanti berganti ceria karena mentari sudah mulai naik di ufuk timur sana. Wassalam (AKW).

KIAT AGAR TIDAK STUCK MENULIS FIKSI

Inilah jawaban penting dari kebuntuan menulis, cekidot.

CIMAHI, akwnulis.com. Perjalanan pagi ini ke kantor mengingatkan terhadap sebuah pertanyaan ibu guru muda yang menjadi peserta workshop pembuatan fiksimini bertema sosial. “Bagaimana caranya agar tetap menulis, sementara terjadi stuck ide atau kebuntuan ide untuk menulis?”

Sebuah pertanyaan mendasar yang sering menjadi tantangan terbesar para penulis khususnya penulis pemula seperti diriku ini. Wajah – wajah peserta terlihat memperhatikan raut wajahku dan tak sabar untuk mendengarkan jawabannya.

Tentu bagi dirimu penulis eh ngaku – ngaku penulis tapi memang suka menulis apalagi berhubungan dengan pekerjaan dalam dekade 2,5 tahun ini cukup lekat di bidang tulis menulis malah dalam bahasa sunda disebutkan jabatannya ulis alias juru tulis hehehe.. tapi juru tulis level SKPD di provinsi.

Pertama kita bedakan dulu antara menulis fiksi dan nonfiksi. Jika penulisannya adalah non fiksi berupa laporan ilmiah atau minimal laporan program kegiatan tentu memerlukan data dan fakta yang nyata dan dapat dipertanggungjawabkan. Manakala kebuntuannya berada disini, maka perlu kerja keras ekstra untuk mendapatkan data valid tersebut sehingga penulisan non fiksi yang ditugaskan atau yang diharapkan bisa segera dituntaskan.

Nah untuk penulisan fiksi, tidak ada kendala eksternal seperti hal tersebut. Masalah kebuntuan menulis berada di tangan kita sendiri, di mindset kita, di jari jemari dan hati serta pikiran untuk segera digerakkan.

Tapi pak, kebuntuannya juga termasuk tema dan konten yang ingin saya tulis”

Senyum dulu ah, pertanyaan lanjutan ini menjadi semakin bersemangat untuk membantu memberi semangat. Bahwa menulis tulisan fiksi itu sangat mudah. Cara jitu diri ini untuk melawan atau memecah kebuntuan menulis itu adalah dengan ‘tuliskan kebuntuan menulis kita itu kira-kira karena apa? apakah karena kehilangan tema atau memang malas saja?’

Jika kehilangan tema, ya inilah tema jitu untuk menulis, TULISLAH SUASANA KEBUNTUAN MENULIS ITU SENDIRI. Percayalah tak terasa 2 – 3 paragraf akan terwujud dan tulisan sederhana kita akan kembali hadir menghiasi dunia.

Nggak percaya?”

Ini buktinya, dengan tema yang sama ternyata sampai tulisan ini sudah mencapai 8 paragraf lho.

Apakah tulisan ini penting?”

Untuk penulis eh raga ini tentu sangat penting karena menjadi bagian dari legacy yang tertuang dari curahan pikiran yang mengambil tema tentang KEBUNTUAN MENULIS. Asyik khan?

Jadi sekarang yang terpenting adalah tulislah dulu dan hadirkan legacy pribadi tanpa terbebani itu ini. Gerakkan jemari indahmu dalam keyboard virtual smartphonemu, tuangkan apa yang ada dipikiranmu. Jika sudah selesai jangan lupa baca sekali saja untuk mengecek salah pengetikan (typo) saja. Jangan baca ulang terkait konten, nanti malah nggak jadi diposting tulisan tersebut karena merasa tidak sempurna atau ada kekurangan disana sini.

Upload di medsos pribadi atau blog pribadi, share ke teman – teman dan biarkan dunia memberi penilaian. Jikalau setelah diposting di medsos pribadi atau blog ternyata minim dan zero respon, ikhlaskan saja. Nggak usah dipikirkan, yang penting kita sudah menuangkan rasa dalam kata – kata yang dititip di dunia maya dan yakini suatu saat ada seseorang yang membutuhkannya.

Begitulah sebuah tulisan hadir dari kebuntuan menulis, ayo silahkan coba. Selamat pagi semua, Wassalam (AKW).

PANTUN LEPAS SAMBUT KADINSOS JABAR

Sebuah ungkapan rasa yang hadir dalam rangkaian kata..

CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah pertemuan selalu beriringan dengan perpisahan, sebuah kebersamaan ada saatnya harus menyesuaikan dengan keadaaan. Secara harfiah perpisahan ini hadir karena sebuah prosesi pelantikan pejabat tinggi pratama di lingkup pemerintah provinsi jawa barat. Salah satunya yang beralih tugas adalah bos kami, bapak kami, guru sekaligus orangtua kami. Bapak dr. Dodo Suhendar, MM menjadi Staf Ahli Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Jawa Barat dan dilanjutkan oleh Kadinsos baru, Ibu DR. Ida Wahidah Hidayati, SE, SH, M.Si.

Sebagai refleksi campur aduknya rasa, maka jalan terbaik adalah disampaikan dengan rangkaian kata karena jika diucapkan khawatir terbata-bata. Juga ditulis dalam bahasa sunda sebagai sebuah pesan bahwa selain ungkapan rasa juga ada semangat menjaga atau melestarikan bahasa ibunda.

Haturan….

Pantun Lepas Sambut Kadinsos Jabar 070923

Mapay desa nu baranang
Manggih domba disimbutan
Aya mangsana datang
Aya oge mangsana amitan

Tukang gula disangka semah
Nu ditiung mamawa runtah
Baheula datang kusabab amanah
Ngawangun nagri ngarah tumaninah

Ngarendos peuteuy keur parab oray
Isukna tuluy disangrai
Sanaos ayeuna atos paturay
Silaturahmi mah ulah peuray

Catang regas dina bantal
Mulung bendo eusina hurang.
Wilujeng tugas ditempat enggal
Bapak Dodo, guru oge sepuh urang.

Neang gaang ditengah sawah
Kudu dikawal bisi kabawa caah
Ayeuna diteraskeun ku ibu ida wahidah
Dinas sosial nu pinuh berkah

Daun ragragan kana rancatan
Nyandak pajeng nyingkahan begal
Pileuleuyan juragan kadis mantan
Mugi langkung majeng ditempat enggal

***



Demikian ungkapan rasa yang ditumpahkan dalam rangkaian kata. Ingin terus menulis tapi jemari tak kuasa menahan tangis. Akhirnya biarkan waktu yang abadi menjadi saksi silaturahmi kita. Menjadi saksi bahwa bapak membawa perubahan, inovasi, sinergi dan kolaborasi di dinsos raharja ini.

Wassalam, (AKW)