MUDIK 2024 – malam takbiran yg menegangkan.

Malam takbiran yg tertahan…

KUNINGAN, akwnulis.com. Perjalanan mudik tahun ini aman lancar jaya, meskipun ada beberapa titik kemacetan penumpukan kendaraan karena ada beberapa insiden di tol Cipali seperti ada Kijang putih yang mengalami kecelakaan tunggal juga terlihat ada bis yang ‘tertidur‘ diluar median jalan sedang di evakuasi. Tapi secara jumlah jam perjalanan termasuk waktu tempuh normal, sekitar 3 jam 25 menit dari cimahi ke Kuningan.

Berbuka shaum dilaksanakan di rumah kuningan ditemani gerimis hujan yang makin malam semakin membesar. “Wadduh shalat ied besok di jalanan dan halaman masjid bisa terancam nich?” Begitu perbincangan sederhana. Tapi kita optimis hari esok kembali cerah dan shalat ied bisa terlaksana dengan segala rahmat kemudahannya.

Hanya saja setelah adzan magrib berkumandang, tidak terdengar suara takbir dari mesjid jami Nurr Alim samping rumah. Suasana sepi dan berbeda dengan malam takbiran tahun – tahun sebelumnya.

Apa yang terjadi, apakah sudah berubah kebiasaannya?”

Ternyata semua menunggu sidang isbat yang cukup bikin degdegan. Karena dilaporkan dari beberapa titik pengamatan hilal belum terlihat karena tertutup awan dan kabut.

Aduh gimana kalau diundur, ini opor dan sambel goreng daging sudah siap untuk menjadi makanan utama khas di haei lebaran esok hari?”

Hehehe, alasannya sederhana. Bukan takut sahur lagi tapi takut opor dan sambel gorengnya tertahan sehari. Udah nggak tahan ingin menyantapnya. Maka sekarang semua degdegan menonton siaran langsung di televisi, prosesi sidang isbat dan nantinya seperti biasa Menteri Agama RI akan mengumumkan hasilnya.

Adzan isya berkumandang dan belum ada kepastian, wajah tegang dan galau tersirat dari kumpukan orang rumah yang langsung hitung-hitungan berbagai kemungkinan jika hari lebaran ditunda lagi satu hari. Begitupun di mesjid sepi tapi orang – orang banyak menunggu kepastian, apakah shalat tarawih lagi atau lanjutkan ke takbiran.

Jreng jreng… detik dan menit terus berlalu. Ternyata menanti kepastian itu menegangkan. Sementara dari pihak muhamadiyah sudah memastikan akan berlebaran di hari esok di sisi lain laporan ketidakterlihatan hilal masih menjadi laporan. Apalagi pengalaman tahun sebelumnya bahwa terjadi selisih 1 hari pihak muhammadiyah melaksanakan shalat idul fitrinya.

Akhirnya, menteri agama RI yang telah dinantikan sedari tadi muncul di layar televisi. Dengan singkat dan padat menyampaikan bahwa pihak pemerintah selaku Ulul Amri memutuskan bahwa pelaksanaan shalat idul fitri dilaksanakan esok hari.

Alhamdulillahirobil alamiin!!”
“Alloooohu akbar, Alloohhuakbar… Allohuakbar… laailahaillalah huwallahu akbar. Allahuakbar walila ilham….”

Opor selamattt….” ada teriakan lain di ujung sana.

Hore Hore”

Semua bergembira, mesjid langsung takbir menggema. Rombongan pemusik genjring dan tataneuhan mulai bergerak dan bersuara, hujanpun perlahan reda seolah paham untuk tidak menghalangi kegembiraan malam ini.

Allloohuakbar
Allooohuakbar
Laaaa ilaa haillallah huallah hu akbar
Allahuakbar
Walilaa ilham…..”

Dag dug dug dag dug dug
Dag dug dug dag dug dug…

Ada atraksi dari warga lokal yang menjadi suasana malam takbiran itu berbeda. Yakni sekelompok pemuda berkeliling dengan membawa peralatan musik rebana, tambur hingga memanggul bedug dan gamelan dan menyanyikan shalawat dengan iringan alat musik yang menjadi daya tarik.

Hujan gerimis masih sesekali turun, tetapi kelebat kilat dan guntur terasa begitu sering. Ada terselip rasa khawatir tetapi raga dan jiwa ini bercampur aduk antara sedih dan gembira. Semoga tahun depan bisa bersua kembali dengan gema takbir yang senantiasa menggema. Wassalam (AKW).

MUDIK 2024

Alhamdulillah bisa mudik tahun ini..

KUNINGAN. akwnulis.com. Perjalanan mudik alias pulang kampung kali ini adalah siklus 2 tahunan karena secara komitmen tidak tertulis mudik setiap tahun bergantian ke orangtua masing – masing yang memang berbeda tempat. Tidak jauh sih, orangtua di daerah kabupaten bandung barat dan mertua mudiknya ke kuningan. Tahun ini jadwal kuningan.

Berangkat ….

Berbagai persiapan tentu harus diantisipasi baik pendekatan administratif, pendekatan konten, pendekatan keuangan juga pendekatan mental dan phisik.

Serius menggunakan aneka pendekatan?”

Ih serius bos, mudik lebaran bukan sekedar gerakan phisik saja berganti tempat ke tempat tujuan tetapi banyak hal yang harus dipertimbangkan.

Yang paling utama adalah pastikan bahwa kita sudah memiliki tempat untuk mudik, karena jika tidak tentu akan membingungkan diri sendiri dan orang lain hehehehe.

Pendekatan administratif tentu berhubungan dengan tugas dan fungsi kedinasan yang harus diantisipasi jangan sampai tidak ada personil yang bertugas disaat libur panjang lebaran tahun ini. Lalu exit permit dari bigboss, apakah boleh melaksanakan shalat idul fitri diluar kota?… karena ada kebiasaan pelaksanaan idul fitri dilakukan terpusat di lapangan Gasibu ataupun Mesjid AlJabar di Gedebage tentu dilengkapi undangan resmi berplat merah.

Alhamdulillahnya adalah pada rapim terakhir, bigboss membuka peluang jika akan shalat ied diluar kota bersama keluarga, kecuali tentu para pejabat dan petugas di ring 1 plus yang merasa ring 1 dan tentu yang tidak mudik kemana-mana karena rumah kedua orangtuanya di kota bandung dan sekitarnya, yeaay.. Alhamdulillah. Berangkattt…

Nah urusan administratif selesai, urusan selanjutnya adalah keuangan. Ini relatif agak tenang karena tidak hanya penulis, istripun berkontribusi besar jadi bersama kita bisa hehehehe.

Maka hari senin tanggal 8 April menjadi hari penting. Diawali dengan pembantu pulang nyubuh, lalu bersiap mengirimkan kucing kesayangan menginap di hotel Casya House di antapani, ambil kue, belanja bekal, bungkus pakaian, makanan serta perlengkapan selama mudik. Menitipkan rumah ke tetangga yang baik hati hingga isi bensin kendaraan full menjadi persiapan akhir. Eh ada lagi et-oll juga wajib diisi full untuk antisipasi agar diperjalanan tidak repot lagi rebutan isi e-toll.

Tepat pukul 14.00 wib semua persiapan rampung dan dengan iringan doa, kendaraan bergerak meninggalkan kediaman menuju ke kuningan dengan rencana menggunakan jalur tol cisumdawu lalu masuk tol cipali dan keluar pintu tol ciperna untuk bergabung ke jalur utama akses ke kuningan.

Cuss…. berangkat.


Eit ada yang lupa, cek dulu angin ban kendaraan hidrogen di SPBU terdekat. Pokoknya rumusnya tekanan depan 32 dan tepakan belakang 35. Rumusnya agak berbeda karena posisi mobil di belakang monoyod penuh dengan barang bawaan. Maka agar ada kepastian kembali, hidrogen lamanya dibersihkan dulu lalu diisi hidrogen baru keempat ban mobil ini dengan rumus tadi, rumus rekomendasi dari sopir di kantor.

Setelah semua persiapan dirasakan tuntas, saatnya bergerak…

Alhamdulillah di tol cisumdawu tidak terlalu padat, tapi sedikit tersendat di Tol cileunyi pada saat mendekati tol gatenya. Jadi meskipun ke tol cisumdawu ambil arah kanan, tetap saja sedikit tertahan karena banyaknya kendaraan. Memasuki tol Cipali mulai terasa kepadatan sisa sisa puncak arus mudik ke arah jawa. Jalur cipali semuanya contraflow ke arah jawa, kendaraan jalur contraflow melesat kencang sementara jalur biasa cukup padat dan perlu berhati-hati. Apalagi pada saat melewati daerah cirebon palimanan terlihat satu mobil avp nopol jakarta bergerak kencang tapi seperti oleng ke kanan dan oleng ke kiri. Awalnya mau disalip, namun ternyata kecepatannya cukup tinggi dan mengikutinyapun terasa berbahaya. Ya sudah mengalah saja, injak rem perlahan dan biarkan kendaraan tersebut menjauh, semoga tidak ada masalah ke depannya.

Akhirnya di jalan tol tuntas sudah dengan keluarnya kendaraan di pintu tol ciperna lalu memasuki jalur jalan biasa kuningan – cirebon. Disinilah tantangan baru menghadang, kondisi badan sih oke. Tetapi mata begitu lemah ingin tertidur dengan kantuk yang begitu kuat, maklum lagi shaum. Mau tambah kecepatan khawatir malah kendaraan tidak terkendali, ya sementara dikuat-kuatkan saja.

Tapi di daerah Beber rasa kantuk begitu luar biasa dan memaksa berhenti di tukang penjual minuman dan air kelapa. Selain belanja air kelapa juga air mineral dingin menjadi pembasuh muka… bukan diminum ya.. batal atuh. Alhamdulilah seger kembali dan kendaraan bergerak hingga tiba di tujuan dengan selamat.

Ahiy mudik… Alhamdulillahirobbil alamin.

Itulah cerita perjalanan mudik kali ini, nanti kita lanjutkan ceritanya. Selamat berlebaran di manapun, baik yang mudik ataupun tidak. Sebuah permohonan maaf bagi semua dalam memasuki akhir bulan shaum 1445 hijriah ini. Wassalam (AKW).

KESERUAN DI PASAR APUNG LOK BAINTAN

Keceriaan bersama emak – emak jago pantun dan jago jualan.

BANJARMASIN, akwnulis.com. Melanjutkan tulisan terdahulu tentang perjalanan dini hari membelah sungai untuk menuju area pasar terapung Lok Baintan yaitu DINI HARI NGOPI & SUNRISE DI SUNGAI BARITO. Maka sekarang jalinan kata yang tertuang adalah cerita kelanjutannya.

Tulisan inipun mengkoreksi terkait penamaan sungainya karena setelah dilakukan studi literasi ternyata nama sungai ini adalah sungai martapura yang merupakan anak sungai barito. Jadi tetep anaknya sungai barito ya, sungai raksasa yang membentang di sepanjang pulau kalimantan. Secara urutan sungai barito ini masuk rangking ketiga terbesar di kalimantan. Rangking keduanya sungai mahakam sepanjang 920 kilometer dan sungai terbesar di kalimantan sekaligus terbesar dan terpanjang di indonesia adalah sungai kapuas dengan panjang sekitar 1.143 kilometer.

Nggak percaya panjangnya segitu?.. ukur aja sendiri”
Singkat cerita setelah perjalanan sekitar 1 jam 30 menit yang mendebarkan dan menjadi pengalaman spesial karena mengusuri sungai dari kota hingga ke desa sungai dan kejutan selanjutnya adalah menikmati hadirnya mentari pagi dari tengah sungai martapura itu amazing banget bro.

Pengalaman berharga ini sudah tertuang pada tulisan terdahulu, inilah lanjutan ceritanya.

Setelah menikmati hadirnya mentari sambil tidak lupa menyeruput kopi panas. Kohitala yang sangat spesial, karena jelas berbeda dari lokasi menyeruputnya. Kalau kopinya sama, kohitala kopi hitam tanpa gula yaitu kopi arabica java preanger.

Perahu bermotor ini terus bergerak sekitar 25 menit lagi dan akhirnya tiba pada titik yang dituju, yaitu pasar terapung Lok Baintan. Dari kejauhan sudah terlihat kumpulan perahu dayung kecil mengelililingi beberapa perahu motor yang sudah datang lebih dulu.

Perlahan tapi pasti, perahu bermotor ini langsung tiba di lokasi dan serbuan perahu kecil dengan mayoritas di nahkodai oleh ibu-ibu begitu sigap mendekat. Langsung menempel ke badan perahu motor dan berteriak dengan mengacungkan dagangannya.

Seru sekali kawan, melihat semangat emak – emak yang ternyata untuk tiba di titik pertemuan ini harus mendayung sampan yang sarat bawaan sekitar 1 jam. Tentu dengan aneka hasil pertanian, buah – buahan, sayuran, olahan pangan hingga bedak dingin berupa sukro – snack bulat berwarna putih plus juga kopi panas serta nasi kuning terbungkus daun. Ada juga buah mangga kasturi dan olahan pangannya adalah kue bingka.

Ada yang menarik disini selain suaranya yang seperti teriak – teriak juga emak – emak jago pantun. Baik pantun dengan bahasa lokal atupun pantun berbahasa indonesia. Sehingga diskusinya cair dan penuh keceriaan.

Seorang emak berteriak,
Disini gunung disana gunung
Di tengah tengah mawar melati

Sekarang ini kita bergabung
Ada bapak yang baik hati”

Langsung penulis jawab dengan tergagap,

Anak ayam jatuh ke jurang”
“Maaati”

Euh pantun apaan tuh. Pantun nggak nyambung tapi semakin menyemarakkan pagi dengan terbahaknya tawa dan saling membercandai.

Selanjutnya penulis berusaha membuat pantun sekaligus menutup sesi belanja ini karena perbekalan sudah menipis. Inilah pantunnya,

Pagi – pagi di bawah meja
Dibawah meja ada kubis”

Maafkan sudah tidak bisa belanja
Karena uangnya habiiis”

Wkwkwkwkwkwkw…..

Ada tawa kemenangan karena sudah jelas emak – emak pedagang tidak akan menawarkan dagangannya lagi. Tapi ternyata….  perkiraan itu salah besar. Ada kejutan yang dihadirkan di tengah sungai martapura ini dikala seorang emak – emak penjual berteriak lantang sambil berpegangan di pinggir perahu,

Kalau bapak makan sosis
Jangan lupa diiris – iris

Kalau bapak duitnya habis
Bisa pake qiuriss (QRIS)”

Sambil emak – emak ini mengeluarkan sesuatu dari gantungan lehernya… ternyata barcode qris salah satu bank. Luar biasa, akses keuangan digital sudah hadir disini, di tengah sungai di kerumunan pasar apung lok baintan.

Kalah sudah penulis sehingga akhirnya mencoba scan barcodenya dan berbagi uang virtual untuk berbagi nasi sekaligus pak bos Ade Hadeansyahpun tak mau kalah, ikut memberikan uang untuk berbagi nasi bagi para pedagang tangguh di pasar apung ini.

Tidak lupa secangkir kohitala kopi hitam tanpa gula yang didapat dari emak – emak menjadi momentum penting kembali yakni menikmati dan menyuruput secangkir kopi ditengah sungai yang begitu riuh penuh keakraban.

Selamat belanja jangan lupa duit habis pake QRIS. Wassalam (AKW).

BALAKUTAK – apa itu?

mari kira nikmati balakutak dan teman-temannya.

CIREBON, akwnulis.com. Panas terasa begitu menyengat kulit disaat keluar dari kendaraan dan menuju tempat yang terlihat sepi. Wajar sepi karena ini berada di bulan ramadhan, tentunya umat muslim sedang berpuasa. Agak ragu juga, tapi teriakan tadi ke tukang parkir diberi jawaban pasti, “Rumah makannya buka pak, dari pintu sebelah sana” tangannya menunjuk ke pintu kaca di samping kiri.

Ya sudah maka bergeraklah perlahan dan berfikir mungkin sengaja masuk dari sini agar tidak terlalu twrlihat dari luar. Gagang pintu dipegang dan didorong kedalam.

Kreeek…. bray…

Wajah terbelalak karena ternyata didalam banyak orang. Tentu sambil menikmati sajian makanan nasi jamblang yang khas. Tempatnya memang sejuk karena ada AC di beberapa titik tetapi para penyantap makanan terlihat bercucuran keringat. Kayaknya gara-gara sambal khasnya disini. Tapi tidak bisa protes karena dari paras mukanya dipastikan berwajah oriental dan berhusnudzon bahwa mereka adalah nonis (non islam) yang sedang makan siang. Meskipun air liur tak bisa boong minimal bisa mengendalikan diri dan cukup membungkusnya untuk dimakan nanti sehabis adzan magrib berkumandang.

Sing kuat jang.

Antriannya memang sedikit sehingga leluasa untuk memilih menu favorit. Tapi primadonanya mrmang ini dia si hitam enak yakni ‘balakutak hideung’. Sebuah menu makanan yang khas cirebon dimana balakutak atau sotong dengan dimasak bersama tinta hitamnya menghadirkan aroma khas tiada duanya. Pokoknya dijamin rnak. Maka segera diambil beberapa balakutak hideung ini untuk dibungkus plastik demi keutuhan nusa dan bangsa… eh kenapa jadi kesinih. Maklum lagi shaum ya.

Penasaran dengan sebutan balakutak maka segera jemari menari di layar smartphone dengan kata kunci ‘balakutak‘ dengan harapan ada pembahasan atau tulisan tentang asal usul sebutan ini. Ternyata tidak ada atau belum ada artikel tentang balalutak ini. Apalagi yang membahas secara etimologi dimana bala kutak berasal dari kata bala dan kata kutak… nggak mungkin ya?..

Ya sudah we dibungkus dan dibawa pulang meninggalkan kota cirebon untuk kembali ke kediaman di kawasan bandung coret dengan kecepatan normal melewati tol cipali – cisumdawu – cipularang.

Yang pasti sebuah keyakinan bahwa balakutak itu adalah kuliner khas wilayah cirebon yang memberikan sensasi spesial karena senada eh sewarna dengan kohitala, kopi hitam tanpa gula. Jika kohitala tetap nikmat karena kepahitannya maka balakutak meskipun hitam karena dimasak dengan tintanya tetapi menghasilkan rasa yang khas dan tak cukup satu centong nasi untuk menemaninya.

Tak percaya, maka perlu dicoba. Jika beredar di wilayah cirebon sempatkanlah mampir di nasi jamblang yang tersebar di seantero cirebon. Pilihlah sajian balakutak. Karena sedang berpuasa, bungkus saja dan bawa pulang. Kecuali beredar di cirebonnya sampai magrib maka berbukalah dengan balakutak dan tahu gejrot…. eh jangan ketang, berbuka dengan kurma dan air putih atau potongan buah dulu yach.

Selamat menjalani shaum menapaki hari ke 15 ramadhan. Wassalam (AKW).

DINI HARI NGOPI & SUNRISE DI SUNGAI MARTAPURA

Mengejar mentari di sungai maetapura sambil tak lupa ngopi kohitala.

BANJARMASIN, akwnulis.com. Dini hari raga ini sudah terjaga di kamar hotel. Mata terbuka menatap langit kamar yang seolah tetsenyum dan memberi informasi bahwa petualangan seru akan segera terlaksana yaitu menikmati suasana pasar terapung yang menjadi ikon pariwisata di kalimantan selatan sekaligus geliat ekonomi masyarakat tradisional yang sarat dengan kearifan lokal. Tangan kanan meraih smartphone yang tergeletak di meja kecil sebelah kanan, pukul 03.25 wita, itu yang tertera.

Tanpa banyak berfikir panjang, segera raga terbangun dari peraduan dan menuju kamar mandi untuk sekedar membasuh wajah dan memberi kesegaran. Lalu smartphone di isi daya dulu serta powerbank sebagai batere cadangan juga dicolokan dayanya ke listrik agar tenang dalam mengikuti perjalanan kali ini yang jelas perlu dokumentasi photo video dengan smartphone yang full batere.

Sambil menonton televisi dan berselancar di laptop tak terasa pukul 04.30 wita sudah tiba. Sesuai dengan petunjuk tadi malam bahwa direncanakan shalat shubuh diperjalanan maka peralatan shalat sudah masuk tas ransel, maka segera keluar kamar dan menuju lobi hotel dimana ternyata susah terdapat beberapa orang yang sedang bersiap – siap untuk berangkat.

Tak dinyata ada perubahan rencana, keberangkatan dilaksanakan setelah shalat shubuh karena tidak dimungkinkan shalat shubuh di perjalanan. Ya sudah segera kembali ke kamar, menanti adzan shubuh menggema dan segera menunaikan shalat. Setelah semua tuntas akhirnya kembali ke lobi hotel dan diatur oleh petugas hotel dan guide lokal bergerak menuju halaman hotel dan ada gerbang khusus dari hotel yang langsung akses ke pinggir sungai. Termasuk perjalanan ke pasar terapung inipun adalah salah satu fasilitas hotel yang menjadi daya tarik utama para penginapnya.

Nama hotelnya adalah Swiss bell Hotel Banjarmasin yang terletak di Jl. Pangeran Antasari No. 86A Kelayan Luar Kecamatan Banjarmasin tengah. Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan.

Ternyata di sungai sudah ramai dengan perahu – perahu bermotor yang akan menjemput para penumpang. “Mana pasar terapungnya?” Sebuah tanya menyeruak di hati karena dalam temaram gelap ini tidak terlibat hilir mudik ibu – ibu di atas sampan dengan aneka dagangannya. Tanpa banyak tanya segera memasuki perahu yang sudah ditentukan dengan kapasitas 20 sampai 25 orang.

Pada saat perahu motor bergerak meninggalkan sungai di depan hotel. Barulah ada penjelasan dari guide bapak Subaemi bahwa perjalanan kita dengan memggunakan perahu bermotor ini sekitar 1 jam 45 menit menuju lokasi pasar terapung tersebut.

Woah lama ternyata” seru seorang peserta. Tapi bapak guide yang baik hati menenangkan dengan memberikan informasi bahwa membelah sungai ini akan disuguhi suasana yang spesial dan luar biasa karena akan melewati berbagai taburan cahaya kota di kanan kiri jalan serta melewati beberapa jembatan dan juga akan menikmati indahnya mentari pagi di perjalanan nanti.

Diri ini tidak banyak bicara tetapi lebih berucap syukur karena kesempatan seperti ini tidak hadir begitu saja. Apalagi diperlukan perjalanan panjang mulai dari naik bus ke bandara soekarnohatta melewati kota jakarta lalu terbang dengan pesawat ke bandara syamsudin noor di banjarbaru. Itu belum selesai, masih dilanjutkan dengan perjalanan mobil sekitar 45 menit menuju tempat hotel menginap. Jadi mari kita nikmati dan syukuri.

Benar saja pergerakan perabu motor ini menyuguhkan suasana berbeda. Dimhlai taburan cahaya lampu hingga melewati alun – alun dengan patung bekantan besar yang terang benderang serta berbagai bangunan yang terasa berbeda jika dilihat dari arah sungai. Setelah itu memasuki daerah rumah penduduk, terlihat jelas aktifitas pagi khususnya di beberapa mesjid yang penuh dengan aneka kegiatan. Sehingga waktu 1 jam tidak terlalu terasa, meskipun mulut jangan terlalu sering dibuka, takutnya masuk angin hehehehehe.

Sebagai antisipasi pribadi tentunya yang pertama adalah sebelum keluar kamar sudah memakan roti dulu bekal tadi malam. Lalu menyeduh kopi manual dengan metode drip bag karena jika dengan corong V60 agak ribet. Alhamdulillah dengan tumbler warna putih merchandise dari PT BPR Karya Utama Jabar, kopi hitam tanpa gula sudah aman di tas gendong, siap kapanpun dinikmati.

Kenikmatan selanjutnya adalah perlahan tapi pasti, perahu bergerak membelah air sungai yang memantulkan warna kuning orange serta biru. Wah mentari mulai hadir menyinari bumi. Begitu indah dipandang dan terasa mendamaikan. Sunrise on the river ceunah kata orang jaksel mah.

Sungguh menakjubkan pemandangannya kawan, cahaya keemasan hadir di permukaan sumgai begitupun disaat menatap batas horison, sinar yang sebenarnya perlahan tapi pasti menghangatkan dengan penuh keberkahan. Merekah indah dan mendamaikan, sungguh suatu momen langka yang kembali harus ditafakuri dan disyukuri.

Lalu melengkapi kebahagiaan ini adalah dengan hati-hati mengeluarkan perbekalan kohitala hangat yang perlahan tapi pasti disiapkan diatas atap perahu. Tentu selanjutnya dinikmati bersama antara penulis, pelihat dan juga bapak suhaemi sang guide yang selanjutnya lebih akrab disebut bapak sashimi. Ah ada ada aja.

Kopi manual yang dibuat dengan drip bagnya tentu kopi jawa barat. Masih panas pada saat dituangkan di gelas kecil dan sewaktu disruput begitu pas di lidah dan melengkapi kenikmatan pagi ini di atas sungai martapura yang merupakan anak sungai barito kalimantan selatan ini. Selanjutnya perjalanan masih diteruskan sekitar 45 menitan lagi menuju Pasar Terapung Lok Baintan. Wassalam (AKW).

VIP dikawal – fbs

Sungguh nikmat jadi VIP..

CILEDUG, akwnulis.com. Pagi ini sudah berada di ujung Kabupaten Cirebon. Sambil menunggu mentari hadir menyinari bumi maka sebuah tulisan singkat berbahasa sunda menjadi teman sejati dalam memaknai kehidupan yang penuh suka duka.

Masih setia dengan genre fiksimini berbahasa sunda dengan batasan maksimal 150 kata. Inilah cerita fiksi singkatnya :

Fikmin # VIP dikawal #

Calik dina jok asa lènglang, ningal kaluar meuni bèngras. Di pengker kaca, kènca katuhu sumawonna, meuni raos ningal patalimarga ogè èndahna alam nu kalangkungan ku mobil ieu.
Tangtosna syukuran pisan dipasihan rejeki nu teu pameng janten karaos nikmat salami diperjalanan.

Katambih deui, ningal ka payun langkung reugreug. Nu nyupiran dipayun tapis pisan mungkal mengkolkeun setir teu matak janten olab, disapalihna ngarèncangan bodyguard.

Bagja tinekenan, Jikan payuneun teu welèh marahmay bari soca mah ningal kaluar, asa èndah hirup tèh.

Nuhun Aa tos ngajakan amengan numpak mobil VIP. Caraang ogè dikawal bodyguard”
“Sami-sami geulis”

Mobil nyemprung nanjak pungkal pèngkol, mapay jalan ka Situ Cileunca. Kènca katuhu tutuwuhan harèjo, pepedut masih anteng nyarengan, asa jaman bobogohan.
Anjog ka sisi situ, mobil nyisi milari parkir, liren. Bodyguard nu duaan rikat ngalungsurkeun cacandakan.

Hatur nuhun parantos dijajap, engkè siang dijemput deui nya”
“Sami-sami” Waler supir angkot sareng baladna.

***

Demikian tulisan singkatku kali ini, selamat berkarya dan selamat beraktifitas, tetap semangat. Wassalam (AKW).

Numpak WHOOSH – fbs

Tos kedahna kitu, kumaha deui nya.

BATUJAJAR, akwnulis.com.  Seiring sore menjelang selaras dengan asa yang kembali ingin berbagi cerita. Tentu disampaikan juga bahwa tulisan singkat ini berbahasa sunda.

(DISCLAIMER) Tulisan ini hanya cerita fiksi atau rekaan saja tetapi ide awalnya memang dari pengalaman di dunia nyata.

Inilah ceritanya : …..

Fikmin # Numpak WHOOSH #

Haté keur bungah sabab diajak dunungan numpak Whoosh ka Jakarta. Asup ka stasiunna caraang harèrang lalega. Komo basa naèk ka lantèy 2, gok tèh hareupeun. Karèta Whoosh kelir bodas hawuk jeung beureum. Alhamdulillah.

Petugas somèah ngabèjaan kudu diuk dina gerbong nu mana. Gèk diuk, nikmat pisan. Ngan hanjakal beuteung ujug-ujug ngusial. Tapi da reugreug, pasti aya wèsè dina karèta.

Teu lila Whoosh maju, beuteung beuki ngusial. Lalaunan nantung bari muru ka panto nu muka otomatis. Wèsèna kosong, langsung asup. Kaambeu sareungit, ngeunaheun, porosot calana, gèk nagog.

Keur anteng ngaluarkeun eusi beuteung, karasa asa eureun karèta tèh. Panasaran muka tulak nempo kaluar. Gebeg tèh. Penumpang keur tarurun, “Euleuh naha?”

Teu loba carita, calana diangsrodkeun. Muru lawang kaluar. Teu sirikna ngajleng. 10 detik tiharita karèta maju deui, da ukur eureun 2 menit di stasiun Padalarang.

Nyaan Whoosh tèh karèta cepat, karèk nagog geus nepi” Uing gogodèg bari nempokeun leungeun nu ramètèk.

***

Itulah cerita singkatnya, seperti biasa jika terjadi ketidakmengertian arti dan pemahaman maka tinggal acungkan tangan ataupun tulis di kolom komentar. Bisa juga dengan DM dan japri via whatsapps. Hatur nuhun, Wassalam (AKW).

Dagdigdug di TVRI Pusat.

Mencoba menikmati ketegangan karena ketidaktahuan.

JAKARTA, akwnulis.com. Berusaha datang lebih awal dari penjadwalan adalah sebuah cara untuk mendisiplinkan diri sekaligus juga menghargai pihak pengundang agar tidak banyak menunggu. Sekarang raga ini sudah duduk dan terdiam sambil menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Pada saat tadi memasuki area TVRI pusat di Jakarta ada rasa berbeda, sebuah deg degan di denyut jantung terasa meningkat apalagi tugas yang diemban kali ini agak berbeda.

Diawali dari kontak pesan dari seorang kolega dilanjutkan dengan sepucuk surat undangan resmi menyebut nama ini untuk hadir mewakili pada sebuah acara taping video yang berkaitan dengan peran fungsi dinas sosial dihubungkan dengan momentum hikmah di bulan ramadhan.

Awalnya sih oke oke saja, tetapi setelah pihak TVRI pusat menghubungi dan ternyata akan taping dengan seorang ustad yang merupakan perwira di angkatan udara republik indonesia serta sudah belasan tahun atau puluhan tahun mengasuh acara ceramah di TVRI nasional, makin dagdigduglah hati ini. Apalagi dalam kontak via telepon, beliau menyampaikan tentang rencana taping video ini berkaitan dengan tema di bulan ramadhan. Walah langsung tertekan nich, mencoba mengingat kembali kapan terakhir menyampaikan kultum.. itu tuh kuliah atau ceramah tujuh menit. Itu sudah lama sekali, beberapa tahun lalu. Disampaikan setelah menjadi imam shalat dhuhur dan kultumnyapun dengn bercucuran keringat.

Tapi…

Ada hal menarik yang menjadi catatan disini, yaitu dari makna tantangan dan kesempatan. Diri ini meyakini bahwa semua hal, segala memontum kehidupan ini tidak tiba-tiba atau tidak disengaja. Tetapi semua sudah ada skenario dan catatan langitnya. Hanya saja manusia diberi batas untuk tidak mengetahuinya. Jadi mari kita jalani kedagdigdugan ini serta kejutan – kejutan selanjutnya.

Sepiring roti dihadapanpun seolah tidak bisa.membangkitkan selera padagal tadi sudah dipersilakan oleh perwakilan pengelola. Baru berani menikmati sebotol kecil air mineral untuk menenangkan gejolak rasa yang tidak menentu.

Sebagai antisipasi tentu bahan bacaan dilengkapi. Salah satunya dari para kepala bidang yang memberikan data dalam bentuk paparan terkait dengan kondisi masalah sosial yang ada.

Tapi ternyata suasananya berbeda, betapa sulitnya menyimpan angka dan data di dalam kepala. Seolah mental alias terlempar… karena denyut jantung tidak teratur dan masih menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Menitan di smartphone sudah menunjukan pukul 14.55 wib jika sesuai jadwal yang sudah direncanakan. Sementara perut mulai keroncongan karena tadi makan siang tanggung, sepiring caesar salad dan segelas latte sudah masuk duluan. Eh ternyata sekarang baru terasa ada terselip rasa lapar. Ya sudah roti di piring, coba dinikmati. “Ditampi pak suguhannya.”

Nggak ada yang menjawab, tapi minimal secara lisan sudah diijabkan dan setelah dibuka plastiknya maka  berpindahlah roti ini ke dalam perutku. Alhamdulillah perut agak tersenyum karena ada yang bisa sedikit mengganjalnya.

Ting tung pukul 15.00 wib.. (bersambung).

SENIN & LIVE SHOPPING

Semangat pagi setelah long weekend..

CIBABAT, akwnulis.com. Senin pagi tadi begitu berat untuk menjalaninya. Tapi bagaimanapun juga komitmen harus dijaga dan kehadiran tepat waktu di tempat kerja adalah salah satunya. Kedisiplinan adalah kata yang harus dijaga, dipedomani dan tentu dilaksanakan sebaik-baiknya. Jadi lawanlah kemalasan sekuat tenaga dan hadirlah tepat waktu dengan senyum ceria.

Ternyata kelamaan liburan berakibat menumpuknya kemalasan dan dilegitimasi oleh kelelahan karena long weekend ini digunakan untuk memforsir raga meskipun tidak pergi kemana-mana. Cukup di rumah saja bersama keluarga tercinta dan jikalau sedikit beredarpun hanya sekitar komplek perumahan saja. Ada keengganan untuk beredar ke pusat kota karena melihat titik – titik kemacetan yang nyata. Jadi diam di rumah atau beredar tipis – tipis saja yang menjadi pilihannya.

Jadi kegiatan rumahan saja yang dilakukan dari mulai nonton televisi, rebahan sambil nonton, makan sambil nonton, eh ada juga yang berkeringatnya yaitu jalan pagi 7.234 langkah namun kalorinya langsung tertutupi oleh sajian indomie rebus telor keju yang begitu menggoda. Oh ya ada juga aktifitas mencuci baju menggunakan mesin cuci portabel mini yang buat anak kost merk MITO, ternyata hanya cukup 6 – 7 potong pakaian saja. Ya sudah sisanya di gusrek manual saja, mengingatkan kembali masa lalu dikala masih sendiri dan segalanya harus dilalukan sendiri. Tak lupa bercanda bersama anak dan istri, sambil jalan kaki atau sekedar berebut remote tivi karena ternyata beda kepala beda selera.

Nah ada satu lagi aktifitas ‘me time’ yang dilakukan sendirian setelah hampir tengah malam. “Sedikit mencurigakan yach?”

Tenang kawan, ini adalah adaptasi terhadap kemajuan jaman. Yaitu iseng – iseng mengikuti live tiktokshop yang mulai heboh dengan diskon adalah menjelang tengah malam. Berbagai barang dijual dengan diskon yang lumayan, mulai dari smartphone, tab, mic karaoke hingga pakaian. Pakaian ini dari mulai jaket, kemeja, kaos, celana, kaos dalam, celana dalam hingga rompi dan aneka aksesoris pendukungnya.

Nah kebetulan celana dalam dan kaos dalam sudah menipis, maka opsi iseng belanjapun membuncah. Akhirnya nongkrongin tuh live tiktokshop yang ternyata penjualnya ada artis, selebgram hingga pedagang biasa yang super super jago bercakap, pintar pidato sehingga menguatkan rada ketertarikan kita. Disini kendali diri menjadi pegangannya. Caranya gampang, isi uang digitalnya seminim mungkin, diriku mah 200ribu aja isi di shopeepay atau di ovo. Titik.

Ternyata efektif kawan, bisa menekan jiwa belanja kita yang meronta-ronta dan akhirnya membuat kita fokus kepada skala prioritasnya untuk memilih barang yang akan kita beli secara online. Percayalah, cara ini mujarab.

Maka hunting keperluan, eh nggak terlalu perlu juga, eh tapi perlu ya. Ya udah dipantengin saja. Ternyata banyak pilihan barang yang dijual online secara live dengan harga di 100ribu saja. Berarti cukup dengan, “Bang pinjem seratus” ... itu sudah dapat barang – barang keperluan. Salah satunya tadi urusan pakaian, jikalau celana panjang chino dapat 1 buah, maka celana pendek ada yang menawarkan 5 buah / 100ribu untuk ukuran biasa dan 3 buah untuk ukuran jumbo… wah seru.

Untuk merk tentu dengan harga seratus ribu agak membuat ragu, tapi kenapa tidak kita coba. Para penjual live ini terus nyrocos bicara dan menjadikan tengah malam ini ramai. Serta yang menarik adalah barang – barang yang dijual variatif, tetapi pengakuan sang penjual rata – rata mengklaim harga jauh lebih murah untuk pakaian ini karena buatan dalam negeri atau UMKM. Ini menarik, berarti jika membeli, membantu juga kembali tumbuh subur usaha garmen lokal asli indonesia.

Maka terlarutlah dalam keramaian pasar virtual live dan mulai memastikan menggamati dan mendengarkan ocehan para penjual yang begitu semangat di tengah malam meskipun matanya terlihat memerah karena menahan kantuk yang tidak terelakkan.

Diri ini relatif stabil karena sambil menonton pasar virtual live ini juga ditemani segelas kohitala, kopi hitam tanpa gula. Jadi sebelum berjibaku dengan live shopping ini mempersiapkan dulu peralatan perangnya. Yakni biji kopi arabica puntang wine lalu digiling dan diseduh manual dengan filter V60 yang akhirnya hadir segelas kopi hitam yang harum dan menenangkan.

Srupuut….

Lanjut yaa…

Akhirnya dengan bermodal 200 ribu saja. Sudah bisa membeli 10 buah celana dalam boxer dan 6 buah kaos polos. Lalu proses pembayaran via dompet digital dan berproses hingga pengiriman serta akhirnya pamet tiba di tempat dengan dibungkus ketat plastik bubble wrap.

Nah ternyata, benar sekali bahwa produk yang dipilih itu adalah produk lokal. Serta terlihat bahwa kecenderungannya adalah urang bandung atau urang sunda yang humoris. Ini buktinya :

Celana dalam boxer dengan bahan yang lumayan kuat dan tebal serta dengan merk terkenal NUKIEU atau dalam bahasa sunda artinya adalah ‘YANG INI‘.

Maka langsung coba dipakai celana boxernya dan pas diperlihatkan kepada istri tercinta bukan hanya tawanya yang terbahak membahana tapi setuju dengan makna tulisannya. Hidup produk UMKM dan hidup NuKIEU.

Itulah cerita hari pertama masuk kantor setelah 4 hari long weekend yang penuh dinamika. Selamat pagi dan selamat beraktifitas. Wassalam (AKW).

Menikmati KOPI ARABIKA MEKARWANGI HONEY

Ngopi lagi sambil hepi…

LEGOK EMOK, akwnulis.com. Pertemuan dengan sebungkus biji kopi tidak hanya bicara kebetulan, tetapi tentu sebuah perjalanan hidup yang sudah tertata dan terukur oleh sang Maha Perencana, Allah Subbanahu Wataala. Jadi sebagai hambanya adalah sebuah sikap yang mendasar adalah seperti yang telah ditulis dalam celotehan – celotehan terdahulu yaitu JASUNI. Jalani – Syukuri dan Nikmati, titik.

Hadirnya biji kopi ini melalui sebuah proses yang tidak sengaja. Awalnya adalah kebiasaan sederhana, dimana perpindahan tugas jabatan seiring juga dengan perpindahan peralatan menyeduh kopi yang memang merupakan properti pribadi. Setelah adaptasi dengan suasana, tempat dan orang – orang baru maka ditatalah sedemikian rupa ‘peralatan perang’ ini sehingga mudah untuk digunakan.

Bapak beli mesin kopi apa?.. harga berapa?”

Pasti ada yang kepo dengan alat perang eh alat pembuat kopi yang dimaksud. Jangan salah sangka kawan. Peralatan seduh kopinya manual saja kok. Hanya menggunakan metode manual brew atau seduh manual dengan menggunakan filter V60 saja. Jadi senjata utamanya hanya mesin grinder sederhana, corong filter V60, timbangan kecil, termometer, bejana server, goose neck geko kaca transparan, kertas filter V60nya, cangkir – cangkir kaca beberapa model, teko pemanas air, itu saja. Lalu yang utama adalah objeknya yaitu biji kopinya.

Maka biji kopi menjadi utama, oh ya biji kopinya hasil toasting ya, siap grinder. Bukan green coffee (alias kopi mentah).  Berarti tinggal dipastikan ukuran menggrindernya yang cocok dengan metode yang akan digunakan. Biasanya untuk metode manual brew V60 ini menggunakan ukuran skala 3-4.

Jadi sebagai kode keras, bagi yang akan mengirimkan kopi kepada penulis baik itu untuk cinderamata, oleh – oleh ataupun ‘kaèmutan‘ ataupun pengen aja ngasih maka kuncinya 2. Pertama kopinya jenis ARABICA dan kedua bentuk kopinya BIJI atau BEAN. Kalaupun ternyata sudah digrinder atau digiling, minta saja untuk ukuran gilingan manual brew V60. Ditunggu kirimannya hehehehe. Bagi yang sudah mengirimkan malah rutin setiap lihat stok kosong, ucapan terima kasih tiada hingga semoga diberi balasan rejeki yang berlipat ganda.

Maka kali ini, dihadapan penulis sudah hadir 2 bungkus biji kopi arabica mekarwangi, biji kopi terbaik kedua di perhelatan dunia tentang perkopian yaitu SCAAExpo di Atlanta, Amerika (2016) mendampingi biji kopi puntang sebagai juara pertamanya.

Bungkus yang pertama adalah bean untuk diriku, berarti akan digrinder dengan ukuran agak kasar untuk diseduh manual menggunakan filter v60. Satu bungkus lagi punya pak budi, rekan di kantor yang mintol untuk digilingin lembut karena akan diseduh dengan model kopu tubruk atau dicampur biasa demgan air panas dan gula. Nah nyambung dengan cerita kehadiran kopi ini karena saudara pak budi ini adalah penggiat kopi atau ownernya dari Hira Roastery & Lab di Kota Hujan, Bogor. Karena pak Budi cerita ada penyuka kopi seduh manual di kantor, maka hadirlah 250 gram kopi ini di hadapan penulis. Begitu ceritanya kawan.

***

Tanpa berlama-lama maka peralatan seduh manual dengan Filter V60pun beraksi. Mulai dari menimbang, menggrinder, menyeduh yang dilakukan diatas kursi plastik putih hingga.menunggu menetes dan langkah terakhirnya untuk dinikmati. Rumus seduh puter kanan, panas airnya o2° celcius dan perbandingan 1 : 12 sudah jadi standar.

#sruput

Kelebihan dari arabica mekarwangi ini adalah rasanya stabil dengan bodi medium dan acidity medium sehingga bisa diterima oleh banyak kalangan. Dari sisi aftertastenya yang muncul ada frutty dan sweet caramelnya serta kelembutan dan tidak ada istilah ninggal. Nikmat pisan. Nuhun pak Budi dan saudaranya. Selamat menjalani weekend dengan keluarga. Wassalam (AKW).