Pagi & Sendu di Pangandaran.

Menjejak pagi yang menyisakan kenangan sendiri.

Photo : Kopi & pilu / dokpri.

PANGANDARAN, akwnulis.com. Pagi ini mentari masih sembunyi dibalik awan kelabu, hempasan angin pantai menitipkan sebuah rasa pilu, disitulah aku menemukan dirimu, tergeletak pasrah tanpa daya ditemani harapan semu.

Ingin bertanya padamu, tetapi yang hadir hanya ragamu. Asumsi menyelimuti kalbu, mungkinkan kamu adalah salah satu yang tertinggal dari kawananmu?… atau meloncat terlalu jauh dikala ombak menghempas pantai?… atau mungkin ragamu sudah berpisah dengan ruhnya di laut sana dan terbawa gelombang kesini tanpa bisa mengadu?… entahlah,
……..aku tidak berharap jawaban karena ragamu sudah damai terdiam.

Secangkir kopi yang dibawa untuk dinikmati, sekejap berubah tawar dengan rasa yang dilingkupi kesedihan.

Sebuah penghormatan atas kejadian yang menimpamu, aku sandingkan segelas kopi ini dengan ragamu yang terdiam tanpa kata-kata perpisahan. Menemani meskipun hanya sesaat ini.

Photo : Suasana sendu di Pantai Timur Pangandaran / dokpri.

Selamat jalan, semoga damai menyertaimu.

Perlahan pergi meninggalkanmu yang sudah berdamai dengan kenyataan, selamat menjalani pagi yang pilu di pantai timur pangandaran. Semoga seiring mentari beranjak meninggi, cuaca akan menjadi cerah dan harapan kehidupan kembali merekah.

Selamat beristirahat kawan kecilku, meskipun baru bersua dengan ragamu di pagi sendu, tetapi yakin bahagia dan damai sudah menantimu. Selamat tinggal ikan kecilku. Wassalam (AKW).

Ngopi HALU di langit.

Menyusuri angkasa bersama segelas rasa.

Photo : Mari nikmati kopi Angkasa / dokpri.

HALIM, akwnulis.com. Angkasa luas menyambut semangat pagi ditemani sisa-sisa embun yang ikhlas berubah menjadi uap indah penuh harapan. Sedikit awan cumulus terlihat di kejauhan, malu-malu tersibak oleh semburat sinar pagi sang mentari.

Begitupun dengan raga ini, sedang bersiap menyajikan sebuah sensasi pagi, minum kopi di atas langit sejati.

Shubuh tadi meracik dengan manual brew phi-sikti (V60) dan pilihannya adalah bean spesial yaitu HALU pure arabica dengan honey process. Bean ini varietas sigararuntang ditanam di ketinggian 1300 m diatas permukaan laut yang di roaster alias diproduksi oleh Coffee Rush.

Photo : Ini Bean-nya, Arabica HALU pure dari Coffee Rush / dokpri.

Perbandingan 1 : 13 dan temperatur air 90° celcius menghasilkan sajian kopi yang ruar biasa, harum mewangi dengan body strong yang ngangenin. Acidity jangan tanya, bikin ingettttt ajjjah… apalagi aftertastenya muncul selarik rasa nanas, manisnya madu dan akhirnya ditutup dengan dark coklat… yummy.

Yang bikin keren lagi, minumnya diatas langit brow….

“Kok bisa?”

“Bisa donk”….

“Gimana caranya?”

Giniii…….. caranya sederhana kok. Beres meracik ambil tumbler yang langsing dan juga gelas kaca kecil. Lalu bawa di tas dan pergilah ke bandara…. bukan ke terminal yaaa….. khan moo naik pesawaat… uhuy

***

Photo : Tumbler langsing + kopi + snack / dokpri.

Sruput kopi HALU pure arabica di temani langit membiru yang membentang setia adalah sebuah kesempatan langka.

Alhamdulillahirobbil Alamin, Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban.

Sruput lagii…..

Srupuuuut lagi.

Awan tersenyum dan batas horison bernyanyi bersama, menemani perjalanan pagi penuh warna warni.

Yang pasti, raga ini disini bersama jiwa penuh dahaga rasa yang terselesaikan oleh hadirnya sajian kopi hangat kohitala dengan rasa luar biasa.

Photo : Berangkaaat…. / dokpri.

Seiring waktu, akhirnya langit biru kembali diatas sana, setelah raga ini menjejak bumi tanpa hempasan berarti, mendarat selamat di Bandara Halim Perdanakusumah Jakarta. Selamat bekerja kawan, Selamat menjalani hari penuh sensasi. Wassalam (AKW).

Kolam Renang Hotel Santika.

Berenanglah sebelum berenang itu dilarang…

Photo : Kolam renang anak di Hotel Santika Bandung / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Ini adalah kisah singkat tentang bercengkerama sehat bersama air kolam renang yang sesekali bersahabat meskipun harus hati-hati untuk hindari akibat.

Terletak di lantai 2, kolam renang ini adalah fasilitas bagi penginap di Hotel Santika Bandung yang berlokasi di Jalan Sumatera Bandung. Sebuah lokasi strategis karena di seberang depan adalah Mall Bandung Indah Plaza dan di seberang sebelah utara adalah Mall Riju (Riau junction), juga akses mudah ke pusat pemerintahan Kota Bandung dan Provinsi Kawa Barat (Gedung Sate) karena memang berada di posisi yang tepat.

Kolam untuk anak dengan kedalaman 60 cm berbentuk lingkaran drmgan keteduhan terjaga karena terlindungi oleh bangunan diatasnya dan kolam dewasa dengan kedalaman mulai 1,5 meter hingga di ujungnya menjadi 2 meter,……… jadi buat yang masih belajar berenang harus hati-hati, jangan sampai pas nyentuh kedalaman 2 meter sementara tinggi badan hanya semekot (semeter setengah kotor… hehehe)... panik dan bikin keributan.

Kursi tunggu dan handuk tersedia di petugas, tinggal minta saja. Untuk toilet dan kamar bilas sedikit turun tangga dari ujung kolam dewasa (ada petunjuk yang jelas kok).

Photo : Kolam renang dewasa agak kelabu dengan kedalaman 1,5m sd 2 m / dokpri.

Kualitas air kolam standar dan terdapat pengukuran berkala tingkat kepekatan, ph ideal juga kandungan kaporitnya, yang pasti ikuti aturan mainnnya, beres berenang berbilaslah dengan air bersih dan bersabun, jangan berbilas dengan pasir karena ntar disangka keturunan kucinggg…. meoooong.

Oh iya, air kolam renangnya dingin, tapi jangan khawatir, kesegaran akan didapatkan dan kehangatan hati kembali kepada masing-masing.. eaaaaa.

Selamat bercengkerama dengan kesegaran, jangan lupa bersyukur dan bahagia. Wassalam (AKW).

CaffeLatte & 3 Teh artisan.

Melanggar prinsip Kohitala.

Photo : Kombinasi sajian Caffelatte & 3 teh spesial / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Menjalani fungsi sebagai aktivis kohitala alias penikmat aktif kopi hitam tanpa gula itu perlu perjuangan karena diluar sana aneka godaan mengharapkan prinsip yang dipegang bisa memudar.

Hari ini, godaan kembali datang. Diawali dengan tawaran makan siang dari seorang kolega sekaligus membahas beberapa hal pekerjaan adalah momen yang strategis dan efektif efisien. Makan siang bisa tepat waktu dan urusan pekerjaan bisa dibahas juga diambil keputusan, “Mantap khan?”.

Restoran G&B di Jalan Bahureksa Bandung menjadi tempat pertemuan, membahas berbagai urusan kerjaan sekaligus shalat dhuhur di mushola yang telah disediakan. Pilihan menu makanan sehat segera dipilih sesuai selera sang pelanggan, sayangnya kopi manual brewnya pas habis persediaan…. godaanpun datang.

Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, pilihan caffelatte-pun dijatuhkan, offcourse without sugar, tetapi campuran steamed milk menjadi hal wajib demi hadirkan gambar dedaunan di permukaan gelas caffelatte yang segera disajikan, hatur lumayan.

Sebagai penyeimbang maka pilihan sajian teh artisan adalah pendamping yang tepat, apalagi dengan suguhan warna yang bervariasi bisa bikin tenang mata dan hati, menemani kesedihan terlanggarnya Kohitala principle.

Photo : Caffelatte & Butterfly Pea Tea / dokpri.

3 sajian teh sekaligus, warna merah adalah wedang uwuh, warna bening kecoklatan dari silver needles tea dan warna biru adalah teh bunga telang (butterfly pea tea) hadir dalam gelas-gelas kecil, menjadi kombinasi syantik bagi sajian siang ini.

Sebenernya pesenanku cuman 1 porsi teh putih atau silver needles tea atau teh jarum perak yang hadir dengan teko kaca dan 2 buah gelas bening kecilnya. Tetapi untuk kepentingan photo yang ideal maka kebetulan rekan lainnya memesan sepoci eh seteko wedang uwuh dan teh bunga telang, maka warna warni gelas kaca kecil yang dapat dihadirkan.

Merah, bening kecoklatan dan mengharu biru mewakili warna warni pembicaraan di siang ini. Fasilitas refill air panasnya hingga 2x menambah semangat diskusi dan habiskan waktu makan siang dalam balutan kehangatan dan keakraban pembicaraan. Perut kenyang kerjaan kelar.

Oh iya, Caffelattenya nggak lupa disruput dan ditelan perlahan sambil ada sedikit rasa bersalah karena ada prinsip yang dilamggar, uhh.. tapi yaa sudahlah… sesekali, atau yang terakhir kali.

Akhirnya waktu istirahat maksipun habis, segera menutup pembicaraam dengan pamitan yang penuh kesantunan untuk kembali ke kantor dan melanjutkan tugas pekerjaan lainnya. Semoga di kesempatan lain bisa kembali bersua dan makan siang bersama dan ditambah dengan sajian terbaik Kohitala (Kopi hitam tanpa gula). Wassalam (AKW).

Berenang di Harmoni Hotel.

Relaksasi di kaki Gunung Guntur.

Photo : Kolam renang air agak hangat / dokpri.

CIPANAS, akwnulis.com. Pagi yang cerah di kaki gunung Guntur memberi kesegaran tak terperi. Jangan terus berdiam di kamar, tetapi gerakkan raga dan kuatkan kaki agar melangkah menuju lantai bawah, disana kesegaran lainnya menanti.

Photo : Kolam renang dewasa & kolam renang anak / dokpri.

Gunung Guntur masih sembunyi di balik awan pagi, berselimut dingin yang merayu untuk kembali ke haribaan selimut di kamar lantai 2. Tapi daya tarik kesegaran kolam renang tidak bisa dilupakan, apalagi ada sedikit kehangatan yang akan memanjakan badan, maksudnya kolam renangnya airnya hangaat…. “Iya gitu??”.

Ternyata bener kawan, kolam renangnya bertemperatur hangat-hangat kuku, yach lumayan dibandingkan hanya berdiam di pinggir kolam dan di terpa angin pagi yang menggemaskan.

Jeburr!!!!…

Kolam renang satu lagi untuk bermain anak-anak, lengkap dengan seluncuran dan ember tumpahnya. Cuma anaknya nggak ikut…. yaa… nggak jadi bermain-main disitu.

Photo : Suasana kamar hotel / dokpri.

Kesegaran dan kehangatan air kolam renang memberi rasa nyaman, kombinasi alami yang menghasilkan relaksasi. Sementara kamar yang hangat ditinggalkan dulu, sofa yang luas silahkan menunggu, sementara raga ini bersantai dulu serta semoga jiwapun bisa lebih membumi tanpa terbebani pikiran tugas pekerjaan yang selalu hadir dalam labirin pikiran dan selasar neocortec.

Photo : Sofa & Sajadah / dokpri.

Sebuah pilihan tempat yang pas untuk jeda sejenak, beristirahat di sela beban pikiran dan tugas yang terus di-gas. Kerjaan kelar, istirahatpun bukan hanya kelakar.

Yang kepo, ini namanya Hotel Harmoni di daerah Cipanas Garut.

Hayu ngojay bray, Wassalam (AKW).

Kopi Sarongge Bogor

Cerita Kopi dari Pakansari.

Photo : Sajian kopi & backgroundnya kopi juga / dokpri.

BOGOR, akwnulis.com. Tiada kesan abadi jikalau tiada yang menuliskan kisah perjalanan lengkap dengan dokumentasi. Maka tulislah apa yang kamu kerjakan, tulislah apa yang kamu rasakan, jangan takut dengan bagus atau jeleknya tulisan karena tujuannya bukan perlombaan menulis, tetapi jejak indah jalinan kata memberi nuansa catatan kehidupan yang berbeda.

Dokumentasi akan semakin seksi manakala ada cerita yang bisa digali, apalagi sambil menikmati sajian kopi, lengkap sudah dan perjalanan hidup bakalan lebih indah.

Meskipun pekerjaan dan target terkadang meleset, tapi ngopi bisa menjadi penghibur hati. Dikala tugas tuntas dan sukses sesuai rencana, maka kopi juga bisa menjadi penyempurna.

Jadi, biarkan kopi bicara….

Photo : Biji kopi Sarongge Bogor / dokpri.

Kali ini mencoba salah satu kopi arabica yang (kata pelayannya) asli dari bogor, dinamainya ‘Arabica Sarongge Bogor‘, lets try guys…

Prosesnya tetep pake manual brew V60 dan hasil diskusi singkat dengan barista di Kavez Coffee Roastery yang terletak di area Stadion Pakansari Kabupaten Bogor ini menggunakan air 90° celsius untuk proses penyeduhan dengan perbandingan 1:13.

Sambil menunggu proses manual brew kopi, maka berkeliling sambil mendokumentasikan suasana cafe yang mulai ramai ini. Cafe yang nyaman dengan pilihan tempat No-Smoking, juga lebih luas smoking areanya baik di dalam cafe juga outdoor. Termasuk di lantai 2, tapi hanya buka malam minggu saja untuk lantai 2 ini.

Photo : Pilihan biji kopi siap disaji / dokpri.

Pas balik ke meja, eh sajian kopinya sudah ada, langsung photo (maklum kekinian) baru disruput-kumur-telan…. yummy nikmaaat. Acidity dan bodynya stabil. yach medium, meskipun aftertastenya tidak terlalu kentara tetapi selarik citrun muncul malu-malu.

Photo : Kavez Coffee Roastery / dokpri.

Inilah sejumput kalimat tentang cerita menikmati kopi di tanah bogor ini, beberapa tulisan terdahulu tentang kopi bogor ini ada Kopikir, juga Kopi Mandailing di cafe Migliore. Selamat wiken sahabat, Wassalam (AKW).

Mandailing Migliore

Isilah waktu yang belum pasti dengan ngopi…

Photo : V60 arabica mandailing / dokpri.

CIBINONG, akwnulis.com. Perjalanan hampir 5 jam di siang hari yang cukup melelahkan tetap harus dijalani dengan suasana hati yang hepi. Titik kemacetan disaat melewati tol cikampek khususnya di daerah bekasi tidak bisa dihindari lagi, moo milih jalur bdg – bogor via puncak juga bukan pilihan….. yaaa jalani dan syukuri saja.

Hingga akhirnya bisa tiba di Cibinong Bogor sesuai dengan waktu yang tertera di undangan, Alhamdulillah… bersegera mencari mushola untuk tunaikan shalat berfasilitas jama qashar, sebelum mengikuti pertemuan yang sudah diagendakan.

Ternyata…. acaranya delay dengan berbagai alasan teknis. So…. sambil nunggu, mariih mlipir duyuuuu…

***

Photo : Aji barista Migliore / dokpri.

Persinggahan pertama adalah cafe kecil bernuansa kayu-kayu, disambut keramahan Aji sang barista, namanya ‘Cafe Migliore‘, lokasinya di jalan akses dari Jl.Raya Tegar beriman cibinong ke arah Stadion Pakansari, klo masih bingung yaa buka gugelmep aje.

Migliore itu artinya terbaik dari bahasa italia, semoga memang menjadi tempat yang menyajikan kopi dengan rasa dan asa terbaiknya.

Dengan waktu terbatas, maka hadirnya manual brew v60 arabica mandailing menjadi hiburan penting dalam situasi menunggu ini. Diracik di suhu 90° celcius dengan komposisi 1 :13 hadirkan sajian kohitala yang seimbang antara body & acidity, sama-sama strong dilengkapi aftertaste frutty floral yang segar… cukup membantu hati dan suasana untuk terus menunggu yang tak menentu, sruput duluuu….

Selamat meniti waktu sambil nikmati sajian kopi bermutu. Biarkan tulisan takdir yang jadi penentu, dan kita ikut berperan untuk menjadi bagian tertentu demi wujudkan keputusan yang satu, tentang sesuatu.

Pesen lagi ah, mumpung belum ada tanda-tanda pertemuan akan dimulai, srupuut. Hatur nuhun (AKW).

***

Kopi Cerbon.

Sruput dulu…

CIREBON, akwnulis.com. Bukan dilihat dari hitamnya kopi, tapi ada faktor lain yang perlu menjadi dokumentasi. Itulah salah satu daya tarik menulis tentang kopi, banyak faktor yang melingkupi.

Kopi ini jelas jenis bean biasa, yang pasti robusta, pahitnya khas tanpa rasa lainnya. Tapi dibalik kepahitannya tersimpan pembeda, yaitu cangkir yang disajikannya. Cangkir keramik putih berlogo… eh lambang.

Pasti langsung di zoom, lambang apa?… ini lambang pemerintah Kabupaten Cirebon dengan ‘Rame Ing Gawe Sepi Ing Pamrih’ adalah motto ksatria yang giat bekerja keras dengan harapan yang suci.

Selamat menikmati secangkir kopi dinas, sambil menunggu saat yang tepat membahas sebuah perubahan kelembagaan yang penuh dinamika.

Sruputtt, Wassalam (AKW).

Mendaki Lagi..

Akhirnya bisa menaiki hati, eh menaiki gunung andesit nan eksotis.

Photo : Santai duyuuu pren / pic by mr B.

Chapter 3
MENDAKI LAGI.

GUNUNG PARANG, akwnulis.com. Setelah beristirahat sejenak di sebuah bangunan tradisional sunda atau saung yang ternyata adalah warung, bisa sambil pesen kopi dan makanan ringan, kami disambut kang Baban, pemandu pendakian kali ini. Orangnya masih muda, ramah dan penuh percaya diri.

Tuntas duduk sejenak, kami bergerak mengikuti jalan dan mulai menaiki beberapa tangga menuju bangunan saung diatasnya yang berfungsi untuk tempat brefing persiapan pendakian sekaligus pemasangan alat-alat pengaman selama pendakian.

Ini adalah lanjutan cerita PERSIAPAN PENDAKIAN

Kembali dipertemukan dengan harnes, tali temali, carabiner dan helm pengaman serasa dejavu dengan kesenangan masa lalu yang sangat sering pergi ke gunung, yaitu Gununghalu… xixixixi… (itu mah nama kampung kelahiran dan orangtua atuh gaaan…..🤣🤣🤣🤣).

Tidak lupa berpose dulu dengan background spanduk Badega dengan berbagai photo pendakiannya… semangaaat, serasa adrenalin di dalam raga ini bergerak cepat dan detak jantung petualangan kembali berdegup lebih kencang dan perasaan tertantang begitu besar, Bismillahirrohmannirrohim.

Petualangan dimulai….

Bersama dua orang rekan dan satu orang pemandu, berangkatlah kami menapaki jembatan bambu yang sudah dibuat oleh para pengurus Badega Gunung parang ini untuk mempermudah pada pendaki pemula mencapai titik awal pendakian, karena sebelum ada jembatan bambu ini, harus berjuang lebih keras untuk mencapai titik pendakian.

Ternyata, perjalanan menapaki jembatan bambu ini terasa menyesakkan dada…. ketahuan jarang olahraga dan…. kegemukan yang mendera hihihihi….. jembatan bambu menanjak, belok kiri belik kanan, nanjak lagi… pegal menggerayangi lutut dan paha, tapi lawaan… kami bisaaa….

Pepohonan liar memberi tanda bahwa ini bukan saatnya main-main, mari belajar menyatu dengan alam, jangan lupa berdzikir dalam hati meminta selalu perlindungan dari Illahi Robbi.

Photo : Ee luwak ada biji kopinya / dokpri.

Langkah kaki perlahan tapi pasti, menapaki seutas janji untuk mencoba memenuhi tantangan menaiki gunung batu andesit ini, kondisi jembatan bambu yang agak elastis menjadi hiburan tersendiri sehingga agak ancul-anculan jikalau kita sedikit meloncat, ditambah juga nemu ceceran kotoran luwak yang lengkap dengan biji kopinya, “Ada yang mau coba?“….

***

20 menit berlalu dan sampailah kami di titik awal briefing, sebuah tempat cukup datar dan ada juga ayunan kayu dengan latar belakang pemandangan alam yang menakjubkan khususnya Danau eh bendungan Jatiluhur yang mempesona…. hilang sudah pegal dan penat yang tadi mendera disaat menapaki jembatan bambu yang cukup panjang dan menanjak ini.

Photo : Ayo manjaat / pic by mr B.

Tapi….. pendakian sebenarnya sedang menanti setelah briefing singkat ini.

Intinya, keamanan adalah yang paling utama, sehingga pemahaman, disiplin dan konsentrasi menjadi luar biasa penting termasuk kerjasama tim akan menentukan keberhasilan pendakian ‘mini’ ini…..

Carabiner harus selalu mengunci bergantian di sling adalah syarat mutlak pendakian ini. Pola pasang lepas pasang ini yang akan menjadi tantangan teknis. Klo urusan takut ketinggian sih… udah jelas dari awal, yang tidak berani ya sudah tunggu dibawah…. yang berani lanjut… yang berani diatas 75% lanjut, yang ragu-ragu… kembali, gitu aja kok repot.

Tuntas briefing terbitlah saat penting, memandang tebing batu andesit yang menjulang tinggi terasa mulai menggetarkan hati. Tetapi adrenalin terasa lebih banyak reaksi, pompakan semangat tiada henti.

Photo : Rehat sejenak di sela pendakian / pic by mr B.

Dihadapan kami trek pendakian sangat jelas apalagi dilengkapi pegangan besi beton yang tertancap kokoh di sepanjang pendakian.

“Oh pake pegangan besi, gampang klo begitu mah, aku juga bisa”

Nggak terpengaruh dengan komen kacangan itu, sekarang bukan hanya bicara tetapi aksi nyata. Klo sudah naik dan turun bersama, baru silahkan komentar sesuka-sukanya.

Perlahan tapi pasti, tangan memegang pegangan besi, tangan kiri memasang carabiner di sling dan kaki bergerak mengangkat tubuh keatas, perlahan tapi pasti….. akhirnya manjat lagiiii, Alhamdulilah.

Woaaah, angin mulai menerpa raga ini dan pijakan awal terlihat menjauh, detak jantung berdegup kencang, doa dipanjatkan, semoga semua baik-baik saja.

Ternyata… tantangan pasang-lepas-pasang carabiner di sling yang cukup merepotkan di awal tetapi setelah terbiasa, pendakian bisa berjalan cepat dan penuh semangat, perkampungan sekitar Gunung Parang dan kebun serta bendungan Jatiluhur menemani naiknya raga ini menyusuri gunung padang yang eksotis dengan fasilitas via ferattanya.

“Penasaran dengan istilah Via Feratta?… itu bahasa italia, artinya menggunakan besi, jadi disini pendakian dengan menggunakan besi pegangan… satu-satunya di Asia lho guys, keren khan?…

***

Perjalanan 2,5 jam mendaki hingga kembali turun dari pendakian Gunung parang ini menyisakan memori yang penuh arti, pengalaman luar biasa serta tes adrenalin yang nyaris sempurna. Ditemani pemandu pendakian, Kang Baban Badega GP yang ramah dan cekatan serta menghibur dengan lagu-lagu masa kini dari tas ransel yang dipakainya juga photo-photo akfitas pendakian menjadi momen tidak terlupakan.

Apalagi demi sebuah ciri pendakian yang berbeda, kami mencoba memggunakan baju batik kebanggaan masing-masing, sehingga pose diatas sana bukan pake baju olahraga biasa hehehehe…. meskipun terus terang lebih gerah dari biasanya.

Monggo yang mau mencoba, tinggal kepo-in aja IG : Badega Gunung Parang, biaya pendakian per-orang mulai dari 120rb untuk ketinggian 250 meter , atau 160ribu untuk 300 meter dengan jalur naik dan turun berbeda, atau bisa juga sampai puncak dengan biaya 360rb/per orangnya.

Insyaalloh aman selama mengikuti instruksi pemandu, pasang peralatan yang tepat, dan konsentrasi yang tenang, ada asuransi juga trus yang paling utama adalah berdoa kepada Allah SWT agar senantiasa mendapat perlindungannya. Juga klo nggak barengan sama pasangan hidup, istri atau suami, minta ijinlah demi kebaikan semua (xixixixi…. pengalamann pribadi yaaaach?… gubrak).

Photo : Sedikit mengambang dulu / Pic by Mr R.

Udah dulu yaaach, eh satu lagi, jika sudah turun dari pendakian, istirahat dulu sejenak di tempat awal pemberangkatan… luruskan badan, kaki dan hati, tarik nafas dalam-dalam sambil berucap syukur atas kelancaran pendakian hari ini.

Setelah istirahat mendinginkan badan, bisa juga mandi di kamar mandi yang tersedia, airnya segar dan bersih, ganti baju dan tentu shalat jika sudah tiba waktunya. Selamat mencoba mendaki kawan, jangan hanya mendaki hati tapi coba mendaki gunung andesit ini. Wassalam (AKW).

***

Menuju Gunung Parang.

Lokasi pendakian adalah tujuan, berangkat.

Photo : Terbang dulu yuuk… / dokpri.

Chapter II

PERSIAPAN PENDAKIAN, lanjutan dari chapter I. Keinginan vs BB.

PURWAKARTA, akwnulis.com. Berat badan menjadi pertimbangan karena khawatir tidak kuat dalam menghadapi tantangan kenyataan. Tetapi semangat dalam diri tetap membara dan ingin membuktikan bahwa serpihan keberanian dan kemampuan itu masih ada, masih tersisa.

Segera berkontak dikala mulai merasa siap dan berat badan menjadi pembahasan prioritas, ternyata jawabannya menyejukkan, “Ah segitu mah nggak berat atuh Kakak”

Agak plong perasaan tertekan yang ada, langsung bersiap dan bersegera menyusun rencana, sebuah rencana yang pernah tertunda bertahun lamanya.

Berangkaaat……

Eh, persiapaaaaan…. dulu atuh.

***

Perjalanan dari Bandung ke lokasi yang sudah diimpikan bertahun-tahun lalu terasa menyenangkan, meskipun di tol Cipularang ada suasana sedikit beda, apalagi mendekati km93-91, rata-rata pengendara mengendurkan kecepatan dan lebih berhati-hati, sambil sesekali memandang sisa-sisa bukti benturan dan goresan akibat tabrakan karambol yang melibatkan 21 kendaraan beberapa waktu lalu,

Semoga para korban meninggal khusnul khotimah dan yang luka-luka kembali sehat seperti sediakala begitupun keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, keikhlasan dan ketawakalan.’

Mobil terus melaju….

“Bentar.. bentar, memangnya kakak mau kemana dan ngapain?”

Jawabannya senyum dikulum dam tatapan penuh arti, meskipun moncong kendaraan sudah menuju kepada arah yang pasti. Keluar dari pintu tol Jatiluhur belok kanan menuju daerah Sukatani. Selanjutnya tinggal ketik saja ‘Badega Gunung parang’ di aplikasi gugelmap.. dan ikuti perintahnya.

Dari keluar pintu tol hingga sampai di TKP memakan waktu sekitar 35 – 40 menitan, dari jalan utama purwakarta – bandung belok kanan melewati pasar anyar sukatani, daan… beneran masuk pasar… kendaraan berjalan perlahan menyusuri jalur pasar yang ramai pengunjung, hingga akhirnya melewatinya dan memulai perjalanan di jalan kampung yang cukup sempit tetapi lumayan sudah beraspal… ikuti saja belokan demi belokan.

Buat yang belum pernah ke lokasi dan suangaat bergantung dengan gugelmap

…..Pastikan pake operator yang internetnya stabil, jangan sampai putus petunjuk ditengah jalan dan akhirnya kebingungan….

…eh tapi jangan takut juga, gunakan saja ilmu dasar komunikasi, berhenti sejenak dan bertanya dengan santun kepada orang yang ditemui.

“Dupi ka Gunung parang ka palih mana?”…. Pasti dapet jawaban, kecuali nanyainnya ke sapi atau ayam.. dijamin makin tersesat kawan.

Kami kebetulan mengaktifkan guglemap di masing-masing smartphone dengan operator seluler yang berbeda, sehingga bisa saling melengkapi sekaligus membully kawan yang sinyalnya hilang terus hehehehe.

Ke lokasi Gunung parang ini lebih enak pake motor, tetapi jikalau berkendara roda 4 hindari pake sedan apalagi yang ceper, ntar nyangkut lho karena beberapa titik jalan mendekati tkp dalam kondisi yang cukup menantang dan sebaiknya kendaraan yang ground clearence yang tinggi… ya kayak avanza/xenia, elf,panther,kuda,katana,crv… lhaa kok disebutin semua?…… atau seperti kami menggunakan Toyota Rush (kok jadi kayak iklan ya?)…

Lanjutt……

Tiba di tempat yang dituju disambut dengan gerbang ‘Badega Gunung Parang’, perlahan tapi pasti kami memasuki area parkir dan disambut suasana alami dengan background gunung batu yang menjulang tinggi.

Photo : Nangkring di saung warung / Pic by Mr R.

“Alhamdulillahirobbil alamiin, akhirnya kami bisa tiba disini, tempat yang sudah lama ingin mencoba dan merasakan tantangannya”.

Segera menuju saung dan ternyata warung, sebagian lagi bergegas ke tanah lapang untuk berpose dengan latar belakang gunung parang…

woy….. ikutaaaan… loncaaat… cetreek.

To be continue Chapter III, MENDAKI LAGI. Wassalam (AKW).

***