I’tikaf & muntaber

Perjuangan di 10 malam terakhir…

CIMAHI, http://www.akwnulis.id. Pelaksanaan shaum di ramadhan tahun ini sudah memasuki fase 10 hari terakhir. Dimulai agenda i’tikaf di mesjid pada malam. – malam ganjil sekaligus berharap meraih dan mendapatkan lailatul qodar.

Dalam kerangka agama tentu banyak tulisan, ulasan juga penjelasan versi video baik dengan wajah para ulama dan ustad ataupun seieing teknologi menggunakan AI (artifisial intelegent) uang berupa video yang interaktif, penuh warna serta dengan visualisasi yang menakjubkan. Sehingga banyak diantara kita yang merasa cukup menjadi jemaah Alyutubiah dan Al intagramiyah serta disusul menjadi jemaah al Tiktokiyah.

Padahal semakin sempurna manakala ceramah di media sosial itupun dibarengan atau disempurnakan dengan kehadiran langsung dalam majlis mengaji, tadarus bersama, kajian agama, menghadiri ceramah tablig akbar dan berbagai aktifitas langsung lainnya dengan tema besar adalah menjaga interaksi langsung dalam balutan silaturahmi.

Kalau shalat tarawih dan shalat 5 waktu lainnya tentu berjamaah di Mesjid apalagi bagi lelaki. Jangan sekali-kali shalat tarawih di rumah dan diimami via youtube, teu aya tidituna. Kabayang klo ada yang maksain begitu karena nvgak mau keluar rumah, rokaat kedua ada iklan di youtubnya. Kita sebagai makmum onlinenya gimana?…..

Jadi mari kita manfaatkan momentum bulan ramadhan ini untuk merekatkan silaturahmi kebersamaan dalam berbagai aktifitas keagamaan sekaligus menguatkan keimanan dalam perkembangan jaman yang terus berubah dan bergerak dengan segala dinamikanya.

10 hari terakhir menjadi kesempatan terbatas untuk mer i’tikaf di mesjid. Memanfaatkan seluruh waktu dan atau mayoritas waktu untuk beribadah kepada Allah Subhana Wataala.

Meskipun ternyata dalam pelaksanaan i’tikaf itu ada istilah yaitu ‘muntaber‘…. bukan berarti penyakit yang pernah mendera masyarakat kita di jaman baheula yakni muntah dan berak… dan ditangani dengan penanganan pertama oralit.

Tapi ini singkatannya berkaitan dengan kehadiran i’tikaf di mesjid. Muntaber disini artinya berbeda, yakni ‘mundur tanpa berita‘ yakni disaat tadi malam adalah malam ke-23 ternyata peserta i’tikaf berguguran. Ada beberapa yang muntaber, alias menghilang pelan-pelan dari area mesjid. Mugi-mugi pulangnya ke rumahnya, jangan sampai ke tempat lain hehehe.

Baiklah itu dulu saja tulisan singkat kali ini, selamat menikmati dan mensyukuri 10 hari terakhir ini tentu dengan semangat ibadah, semangat kebersamaan dan juga semangat harapan besar meraih lailatul qodar. Wassalam (AKW).

LATSAR – fbs

Pangalaman Latsar, adaw.

FIKMIN # LATSAR #

Bro, tulungan, sok aya nu noong mun keur mandi” pamènta ti babaturan awèwè nu ngiluan diklatsar.
Siap, keun ku Ibro urang bèrèskeun” Uing ngajawab pertèntang. Peutingna sanggeus apel malam langsung sasadiaan, nèangan gantar. Alhamdulillah aya beusi urut tihang bandèra. Lumayan.

Jam 03.00  hudang, beusi panjang dibawa. Keketeyepan muru jamban asrama putri. Muka panto, asup bari nèangan posisi strategis, keur ngagareuwahkeun nu beuki noong. Teu lila aya tiluan siswa awèwè nu rèk marandi. Pas ngaliwatan uing, tiluannana surti.

Nu tiluan mimiti nyoo cai dina bak panjang, maklum jamban asrama mah bak babarengan.

Kaciri dina para aya nu leumpang lalaunan ngadeukeutan.Pas diluhurueun, besi panjang dirojokkeun.

Coss!
Waddawww…”

Kolèang murag ti para.

Gejebur!!!…
Taaah, beunang……”
Babaturan awèwè rècèt. Uing ngadeukeutan nu murag, rèk diteunggeul beungetna sina kapok.

Peureup geus ngeupeul tinggal neunggeul, panon olohok. Eureun saharita.

Dihareupeun dina jero bak panjang. kaciri pelatih latsar, awak jibrug tarang bohak getihan. Cag. (AKW).

Perpisahan Pak Bey & Jejak digitalku.

Dibalik momen haru dan sedih, ada penyempurna yang hakiki. jejak digital terpatri.

BANDUNG, akwnulis.com. Siang ini (19/02) adalah sebuah momentum penting bagi seluruh pegawai di Gedung sate karena hadir bersama pada acara perpisahan dengan bapak Penjabat Gubernur Jawa barat yakni Bapak Bey Triadi Mahmudin dan Ibu Amanda Soemedi yang telah menakhodai pemerintah provinsi jawa barat selama 17 bulan lebih.

Tulisan ini tidak mengulas suasana perpisahan yang mengharu biru, campur aduk antara haru dan biru eh sedih. Tapi inilah kenyataan yang harus dihadapi dan dijalani.

Nah di momen terakhir sambutan bapak Sekda, hadirlah di layar LED sebuah pantun berbahasa sunda. Jengjreng…. awalnya biasa saja. Dibaca sekilas dan berlanjut dalam sebuah rangkaian acara.

Tapi…. kok agak hafal untuk kalimat di barisan pertama dan kedua. Ada 2 kalimat yang terasa tidak asing. Tulisannya adalah :  ‘mapay desa nu baranang, manggih domba disimbutan. ..’

2 kalimat ini terasa akrab karena merasa pernah menuliskannya di suatu tempat. Tapi tentunya juga perlu pembuktian. Mengapa 2 kalimat itu memiliki hubungan khusus dengan diri ini. Langsung disalin saja 2 kalimat tersebut dan ditempelkan di kolom searching mbah google.

Tadaaa…..

Ternyata hadirlah urusan searching pertama dan kedua, salah satunya adalah alamat blog pribadiku. Tak sabar dibuka dan benar saja, 2 kalimat itu adalah tulisanku di tahun 2018 atau tepatnya 7 tahun  yang lalu.

Meskipun ternyata 2 kalimat tersebut hadir juga di laman kumparan.com juga website lainnya. Tapi yang membuat hati ini senang karena dengan jejak digital dapat dilihat siapa yang menulis duluan. Mayoritas beberapa website menulis dengan judul ‘Contoh pantun sunda‘ padahal sejatinya itu dibuat dan diupload oleh jemari ini pada tanggal 27 Nopember 2018 atas permintaan seorang kakanda yang beralih tugas dari jabatan Camat Boget Kabupaten Sukabumi dalam momentum perpisahan.

Ada terselip rasa senang karena sebuah tulisan 7 tahun lalu bisa hadir kembali dalam sebuah momentum resmi yang secara kebetulan adalah di lingkungan kerja sekaligus disaat perpisahan pimpinan tertinggi di lingkungan pemerintah provinsi jawa barat khususnya dengan para pejabat tinggi pratama, para pimpinan BUMD dan seluruh pegawai di Sekretariat daerah provinsi jawa barat.

Tulisanku 2018 itu adalah :
Mapay desa nu baranang
Manggih domba disimbutan
Aya mangsana datang
Aya oge mangsana amitan.

Dan sekarang di layar LED terpampang :
Mapay desa nu baranang
Manggih domba disimbutan
Aya mangsana Pak Bey datang
Aya oge mangsana Pak Bey amitan.

***

Rasa haru semakin bertambah, awalnya karena memang begitu terasa keteladanan dari Pak Bey selama menjabat Pj Gubernur Jawa Barat. Kasih sayang, kesederhanaan, ketelitian dan kemudahan komunikasi serta bejibun kebaikan – kebaikan yang beliau tunjukan sebagai seorang pemimpin yang hari ini menjadi saat – saat terakhir sebagai peje dan akan kembali bertugas menjadi eselon I di Kementerian Sekretariat Negara di Jakarta.

Dilengkapi dengan penyempurnaan dari hadirnya kalimat pantunku sebagai pengantar dari ungkapan perpisahan. Itulah indahnya momentum kehidupan dilengkapi dengan catatan dari jejak digital. Bagi yang penasaran, bisa dibuka tautannya disini :…. PANTUN PERPISAHAN – akw.

Selanjutnya sebagai penutup, maka pantun singkat langsung dibuat :
Makan tahu di pinggir pantai sambil naik kuda.
I love u bapak Bey dan Ibu Amanda.

Daun selasih tersemat lagi di depan mata.
Terima kasih dan selamat kembali ke Jakarta.

***

Itulah tulisan singkatku kali ini, sebuah tulisan yang dihadirkan dalam masa – masa perpisahan. Wassalam (AKW).

1 Hari 5 tempat – Ngajègang.

1 hari 5 tempat, gaskeun. purwakarta bekasi karawang subang bandung cimahi.

BANDUNG, akwnulis.id. Semerbak harum pagi menyambut langkah optimis untuk selalu menjaga syukur atas semua berkah Illahi. Memasuki kendaraan yang langsung tancap gas memasuki tol gate Pasteur dan meluncur membelah suasana pagi yang ditemani semburat sinar mentari.

Tak terasa kawasan rest area 97 sudah ada dihadapan mata. Kendaraan dikurangi kecepatan dan belok kiri menjadi secercah harapan karena ada hal yang harus dituntaskan.

Apa yang harus dituntaskan kawan?”

Jawabannya singkat, SARAPAN.

Yuk ritual makan pagi yang harus dijaga dan jangan terlewati. Meskipun sedikit tetapi menjadi kewajiban demi menjaga daya tahan tubuh dan menjalan tugas pekerjaan yang sedang diemban.

“Lha khan biasanya sarapannya dengan menu khusus yang ada roti gandumnya, telur rebus putihnya saja dan beberapa iris jeruk sunkist?”

Hari ini agak lain, karena menu tersebut tertinggal tadi di rumah. Sehingga alternatifnya tetap harus ada yang masuk ke dalam perut yang sudah bergejolak lapar ini. Maka pilihannya adalah sajian bubur ayam panas dengan pola self service di Kedai Mandiri dan tak perlu berlama – lama langsung dinikmati bersama kawan seperjalanan.

Perut tuntas terisi maka perjalanan dilanjutkan menuju titik pertama yakni di wilayah Kabupaten Bekasi tepatnya di Puskesmas Cikarang. Sebuah kegiatan kedinasan yang diawali dengan pelaksanaan apel pagi bersama seluruh pegawai puskesmas dilanjutkan dengan peninjauan pelaksanaan kegiatan yang diicanangkan pemerintah yaitu CKG (cek kesehatan gratis) bagi warna yang berulangtahun.

Tak berapa lama segera bergerak dari Cikarang, sebuah daerah yang begitu gercep. Karena setiap disebut apapun maka jawabannya adalah CEKARANG eh SEKARANG. (lol).

Gaskeun…..

Titik selanjutnya adalah berada 32 menit dari Cikarang yakni di daerah Teluk Jambe Kabupaten Karawang. Tepatnya di satuan pelayanan Griya Ramah Lansia yang menampung 75 orang lansia terlantar dari berbagai daerah di Provinsi Jawa Barat. Terdapat 31 orang lansia wanita dan sisanya adalah lansia laki – laki yang lebih nyaman dipanggil Abah atau aki.

Pertemuan singkat dengan mereka memberi energi baru dalam berkarya. Meskipun terkadang harus ber akting dan sedikit drama karena memposisikan sebagai anak atau malah menjadi cucu bagi mereka yang begitu haus dengan perhatian dari keluarga dan sanak saudara yang dengan berbagai alasan tidak bisa hadir untuk sesekali membersamai mereka, apalagi berkunjung rutin atau mengajak kembali ke rumah keluarga dan hidup di hari tua bersama-sama.

Makan siang menjadi momen lintas kabupaten kembali, karena dengan perjalanan hanya 1 jam saja via tol cipali dengan keluar pintu tol subang kota maka bisa menunaikan ibadah shalat dhuhur sekaligus makan siang gurame bakar di daerah kabupaten subang. Silaturahmi berlanjut lagi dengan jajaran pengurus utama BPR Jabar baik komisaris utama dan Direktur utama serta jajaran di direksi dan komisaris lainnya di kantor pusat sementara yang berada di daerah Jalan Cagak kabupaten Subang.

Sore hanya bergeser lagi ke acara di Perbatasan tangkuban parahu tepatnya di kawasan astro ciater highland dengan sebuah acara rapat kerja yang digelar oleh jajaran DKM Mesjid Raya Bandung dalam rangka evaluasi kinerja 2022 – 2024 dan rencana kerja 2025. Di kegiatan ini tentu menjadi ajang diskusi dan silaturahmi sekaligus menguatkan kolaborasi yang didetailkan dalam dokumen rencana aksi.

Setelah adzan magrib bergema barulah bergerak ke titik akhir yakni kembali ke area Jalan Diponegoro 22 alias kantor Gedung sate untuk mengecek dokumen – dokumen yang ada dan harus dilakukan paraf dan tandatangan secara langsung khususnya terkait urusan kontrak dan keuangan. Hingga tak terasa jarum jam menunjukan pukul 21.20 wib. Barulah sedikit rehat dan bercengkerama ringan dengan para petugas kebersihan yang masih stanby menemani kehadiran. Tidak lupa disajikanlah kopi hitam tanpa gula dengan metode seduh manual V60 dengan berbagai biji kopi yang tersedia dan dilakukan penggilingan secara mendadak.

Harum semerbak kopi memenuhi ruangan, menguatkan harapan dan memberikan kedamaian. Meskipun beberapa kawan masih tergagap disaat menikmati kopi hitam tanpa gula yang disajikan. Tapi menjadi sebuah hiburan bersama dan rasa lelah sedikit terlupa meskipun beredar lintas wilayah, karena saling berbagi tawa disaat melihat wajah mengkerut karena menikmati sajian kohitala (kopi hitam tanpa gula) yang rasanya mendekati rasa brotowali. Selamat berkarya dan ngajegang kawan, Ngariung Ajeg Sagala Bidang. Wassalam (AKW).

KUKURUBUKAN – fbs

Patuangan disada..

Fikmin # Kukurubukan #

Beuteung geus kukurubukan deui, padahal cikénéh di asupan kulub jagong jeung leupeut. Ahéng ogé, tapi dalah dikumaha, geuning kitu kaayaanna. Nya teu loba tatanya, digares wé nu aya hareupeun, gigireun jeung tukangeun. Aya rangginang sésa, bandros urut jeung wajit saetik. Belewek asuk kana baham muru beuteung nu beuki bentelu.

Karék ngarénghap tandaning wareg, jol téh si Etéh mawa bongsang. Jerona tahu sumedang, haneut tur seungit. Langsung dirawu, leungeun nyelesep. Tahu haneut karampa, teu antaparah dihuapkeun dituturkeun ku céngék domba nu ngiluan dina sisi bongsang ayana.

Cacamuilan jeung céplak ngahiji dina sungut nu samutut, parebut pahibut paheula-heula ngadahar tahu. Antukna silih surungkeun, aya ogé nu neunggeul. Atuh jegur téh paséa rongkah. Papuket silih cakar patinggorowok, embung éléh. Tahu sésa mancawura, pacampur jeung taneuh garing oge daun kacapiring.

Beuteung masih kukurubukan, tapi ayeuna mah teu lapar teuing sabab napsu kapegung geus manggih tungtung. Bisa bubak babuk ka batur bari babaung.

NGANTÈT – fbs

Ngotrèt deui basa sunda

Fikmin # Ngantèt #

Hayu euy latihan” Gorowok Si Acun bari mawa pakarang panjang ipis hèrang. Ajat, Apud jeung Uing geuwat nepungan. Ajat jeung Uing mawa bedog hèrang, ari si Apud mah leuwih gagah, tumbak panjang.

Geus ngumpul di tengah lapang, kabèh sayaga masang formasi. Usèp jeung Unang bagian nabeuh.

Jrèng dung jrèng dung jrèng!!!”

Ciaaat…..” kabèh ngembatkeun jurus, peureup jeung tatajong nu anca. Jungkir bari mawa pakarang. Tartib sakumaha pituduh ti Engko Jujun, guru sarèrèa.

Teu karasa latihan Wushu tèh lekasan, hasilna nyugemakeun. Dua poè deui rèk minton di buruan kantor dèsa. Gabung jeung grup liong ti lembur tatangga.

Balik tiheula nya, kè ngumpul deui di buruan masjid. Ulah poho mawa oncor tèa!!” gorowok Usep.

Siap kumendaaan” dijawab saur manuk.

Peutingna ngaji heula ti magrib nepika isya. Geus kitu ngumpul di buruan masjid, karèk ngabring nguruling lembur, pawey oncor Rajaban. Si Acun megat ti imahna. Suka bungah taun ieu, imlek jeung rajaban ngantèt. (AKW).

****

EMBUNG ÈLÈH – fbs

Mantak ulah hog hag waè…

FIKMIN #EMBUNG ÈLÈH#

Wanci burit geus kaliwat lila pisan, bèak ku nu ngawangkong ngabahas sagala rupa. Tadina sugan tèh wanci sareureuh budak mah geus lekasan. Tapi geuning ngadeukeutan wanci indung peuting, nu badami beuki rongkah. Patèmbalan embung èlèh. Padahal ukur ku nyebut nuhun bari imut kanjut, moal lila babadamian tèh.

Ku sabab sarua pinter, antukna guntreng tèh kana sagalarupa. Bubat babèt urusan lian, tapi tuluy silih tagenan. Atuh parèa-rèa omong tèh beuki mahabu. Tungtungna ngabeledag, sora bedas meupeuskeun rasa. Nu keur pacèntang – cèntang ngajengkang katukang.

Nu lainnya ogè katindihan, aya nu ngacleng kaluar jandèla sabab awakna leutik tur ipis. Nu awakna kandel mah nagen, ukur ngèsèr saetik. Kabèh ngahuleng, teu nyangka geuning tanaga pasèa tèh badag kacida.

Kabèh ngaheunggeu teu puguh rasa. Tapi aya nu sarua, baham rapet teu bisa disada. Ukur leungeun nu pakupis pepeta. Bari beungeut sepa, teu aya getihan.

Dijuru dua mahluk hideung halughug sareuri bari tutunjuk, “Matak tong patugeng-tugeng. Belegug.” (AKW).

REKOKOM – akw

Sebuah singkatan yang melengkapi tugas keseharian (tapi seratanna nganggo basa sunda)

BANDUNG, Desember 2024. Teu karaos geuning waktos dina ngajalankeun kahirupan tèh teras ngaguluyur, teu tiasa ditahan sumawonnna dilirènkeun mah sanaos mung sadetik ogè. Kukituna peryogi diseratkeun naon waè anu parantos karandapan, kapayunan tur kasaksèni salami sababaraha waktos kapengker. Bilih aya nu lepat atanapi henteu sapagodos, ulah pameng dilelempeng kumargi rumaos da manusa mah gudangna lepat.

Dina seratan ayeuna hoyong ngaguar hiji singketan nu diciptakeun, euleuh gaya pisan diciptakeun. Dikarang ku simkuring nu maksadna supados gampil ngapalkeunna ogè teu sesah upami ngawartosan kanu sanèsna.

Namina rekokom èta singketan tèh.

Kunaon singketanna rèkokom?”

Pertarosan ieu tangtos bakal diwaler ku sabab musabab nu teu kedah sesah ngèmutannana. Rèkokom tèh ideuna mah tina nami kokom anu janten nami umum kanggè wanoja di tatar sunda. Malih mah kapungkur nuju alit, èta nami kokom tèh ti unggal kampung aya. Ku kituna matri dina èmutan tur janten apal dugika danget ayeuna.

Uih deui kana singketan REKOKOM ieu ngarupikeun gabungan tina tilu kecap nyaeta REgulasi, KOmunikasi tur KOMitmen. Hayu urang guar hiji-hiji.

Ngawitana tina REGulasi atanapi aturan – aturan boh formal, teknis kalebet aturan lokal nu tiasa janten pedoman dina enggoning ngajalankeun tugas sèwang-sèwangan. Upami kanggo pedoman kahirupan, simkuring muslim tangtos Alqur’an sareng Hadist nu janten rujukan. Agama sanès tangtos ngagaduhan ogè sapertos kitab injil, taurat, zabur sareng sajabina. Dina urusan kaduniawian urang tèh apal nu disebat undang – undang, peraturan pemerintah, peraturan daerah, dugika edaran RT/RW. Atanapi nu langkung singket mah manual book nu sok aya dina boks tipi weuteuh, hapè, kulkas jeung sajabina.

Nu kadua nyaeta KOmunikasi. Wirèhna sagala rupi ogè tiasa dibadantenkeun, diajak bacèprot ngawangkong nu tangtosna tiasa sami dina emutanna tiasa sapagodos dina nangtoskeun tujuan nu ahirna sumanget gotong royong sasarengan silih wangikeun pikeun ngawujudkeun kapentingan sasarengan. Tangtos aya hiji tantangan, kumargi peryogi waktos dina raraga ngadangukeun sagala rupi nu janten aspirasi, bangbaluh, kritik, usul saran ogè tangtosna nu bènten pamadegan. Èta pisan nu ngait kana tèma komunikasi.

Nu katilu nyaèta KOMitmen. Hiji jangji pasini nu ngawujud boh tiasa otomatis langsung jangji ngabantos sasarengan atanapi saatos komunikasina lancar tur sami dina ngudag hiji tujuan nu tangtosna dina wadah kangge kapentingan seueur jalmi sanes urusan pribadi. Insyaaloh urang di kulawargi, di lingkungan masyarakat ogè nu ageungna dina kahirupan berbangsa bernagara tiasa bèrès roès gemah ripah loh jinawi.

Kitu panginten, seratan pondok mugia nyogok, heunteu panjang bilih nyugak mung nambihan sakedik pangèmut, sasieureun sabeunyeureun kanggè urang silih wangikeun dina hirup hurip sauyunan.

Hatur nuhun ka sadayana, uih deui kana paragraf awal, supados gampil ngapalkeunna janten singketan REKOKOM (regulasi – komunikasi – komitmen).
Ulah hilap nya. Wassalam. Cag (AKW).

Seratan ieu parantos tayang di http://www.kabarsunda.com

EKOR CICAK CABANG DUA

Jarang juga nemu kayak gini.

CIMAHI, Akwnulis.id. Sebuah ritual mandi di sore hari adalah hal biasa, termasuk di minggu sore ini. Perbedaannya adalah untuk anak semata wayangku ditambah dengan jadwal keramas karena rambut indah panjangnya perlu dirawat dan dibersihkan secara berkala. Tapi teriakannya sore ini membuat keterkejutan.

Toloooong, ada cicakkk!!!!!…..”

Berhamburanlah orang rumah mendekati sumber suara. Meskipun tentu sedikit tersenyum simpul karena binatang cicak bukanlah binatang yang notabene menakutkan ataupun berbahaya karena memiliki bisa atau racun yang berakibat kesakitan ataupun malah dapat menimbulkan kematian.

Empat orang dan empat jari telunjuk mengarah ke jendela kaca diatas kamar mandi. Terlihat seekor cicak berwarna gelap menempel di dinding kayu. Sekilas terlihat seperti cicak biasa, namun setelah di dekati dan dilihat lebih cermat, ternyata ekorny bercabang dua. Aneh juga.

Hati-hati Aa, jangan ditangkap pakai tangan. Takutnya ekornya bisa mematuk”

Sebuah pendapat singkat dari adiknya papah mertua, atau bibi dalam arti sebenarnya. Bukan bibi sebutan untuk pembantu. Meskipun pendapatnya agak lebay karena mengaitkan tentang ekor bercabang ini dengan kemungkinan memiliki fungsi lain, agak bergetar juga. Jangan.. jangan memang begitu.

Sebuah angan jadi ingat beberapa film alien dan terbayang sosok cicak yang lucu dan terlihat lemah ternyata adalah alien kecil yang sedang menyamar dan berada dalam kehidupan sehari-hari manusia untuk bersiap melakukan invasi pada saatnya yang tepat… wadduh, pikiran ekstrim begini harus dibuang, membuat jiwa tidak sehat dan pikiran tidak tenang.

Bermodalkan sapu lidi ukuran medium dan tangan kosong, perlahan mendekati cicak yang sedang berdiam. Tentu bergerak secara perlahan-lahan. Tepat pada posisi yang sudah dekat dan berada dalam jangkauan, hap… tangan kanan bergerak. Ternyata kalah cepat, cicak ekor bercabang sudah bergerak menghindar, namun karena di dinding kayu berpernis, cicak tergelincir dan oromatis terjatuh ke lantai.

Disinilah keberuntungannya, kami langsung memburu dimana cicak tersebut jatuh. Benar saja, cicak masih terdiam karena (mungkin) efek posisi jatuh yang tidak tepat. Maka sebelum cicak pulih dan bergerak, jemari tangan kanan sudah menangkapnya dan sedikit meronta, namun apa daya. Cengkeraman jemari lebih kuat menahannya.

Tanpa banyak pembahasan, langkah pertama pegang erat dan photo sebagai bagian dari. Eviden kegiatan percicakan sore ini.

Selanjutnya langkah kedua adalah studi literatur versi mbah google dan ternyata ditemukan dua fakta menarik yakni :
a. Terdapat beberapa tulisan yang mengaitkan dengan mitos yang berkembang turun temurun bahwa jika ditemukan seekor cicak berekor cabang dua adalah berkaitan dengan keberuntungan, kekayaan, keselamatan, akan ada pernikahan hingga akan kedatangan tamu dan sekaligus juga sebuah peringatan berhati-hati dalam pengambilan sebuah keputusan.
b. Ternyata kehadiran cicak berekor cabang dua ini bernilai ekonomi tinggi sehingga terdapat iklan penjualan cicak hidup berekor cabang dua di market place dengan banderol harga fantastis, 10 juta rupiah untuk 1 ekor cicak berekor cabang dua.

Jadi sebuah kejadian inipun tak lupa didokumentasikan sambil dipegang erat dengan jemari tangan. Geli sih, tapi memang untuk menghasilkan dokumentasi yang bagus itu perlu sebuah perjuangan.

Setelah tuntas didokumentasikan akhirnya sang cicak disimpan di halaman luar dan biarkan kembali menyatu dengan alam. Namun ada satu hal yang menambah pengetahuan bahwa bukan hanya lidah yang bercabang seperti lidah hewan melata tapi juga ada binatang yang berekor cabang dua. Selamat memaknai pencabangan ini, yang penting jika dikaitkan dengan urusan pikiran maka dibolehkan bercabang tapi tetap untuk sebuah penyelesaian harus fokus sesuai prioritas dan tujuan yang akan dicapai.

Selamat malam kawan, Wassalam (AKW).

KOPI TIBALIK

Ternyata ihtiar berbeda itu menegangkan…

SOREANG, akwnulis.id. Jemari bergetar disaat kembali bercengkerama dengan keyboard virtual untuk membuat sebuah tulisan sederhana yang selama ini menjadi jembatan penyeimbang jiwa dikala berhadapan dengan kenyataan yang sedang  menanti kepastian. Padahal selama mingu – minggu ini jemari tetap menari dan berusaha menuliskan fenomena yang terjadi. Namun bukan dalam posisi penyeimbang jiwa tetapi mencatat serpihan – serpihan kehidupan dan merajutnya menjadi kumpulan kebaikan dimana esok lusa menjadi sejarah yang hadir tanpa amarah.

Bergelas kopi hitam tanpa gula sebetulnya sudah tak terhitung menemani tarian jemari ini. Namun catatan yang hadir bukan bagaimana kopi hitam tanpa gula itu memiliki body – acidity dan aftertaste yang istimewa. Tetapi betul – betul sebagai teman saja yang terdiam tanpa ekspresi dan menyaksikan jemari ini menari tanpa diiringi musik yang mendayu. Cukup dibersamai desau keresahan dan denting kekhawatiran yang bersuara lirih namun terasa perih padahal bukan luka, hanya kumpulan kata – kata.

Maka kembali mengapa jemari ini bergetar saat ini, karena yang tertuang dalam tulisan adalah sebuah syukur nikmat yang selama 2 minggu ini tidak sempat tercatat karena suatu sebab.

Namanya KOPI TIBALIK alias kopi terbalik. “Menarik khan nama kopinya?”
Tentu membuat penasaran. Karena jika dirunut dari biji maka tidak ada yang aneh, dibolak balik ya tetep biji kopi. Jikalau menggeliat disaat hangat dan panas di roasting, pada akhirnya tetap biji kopi tidak terbalik sampai akhirnya di grinder, diseduh dan dinikmati.

Ternyata istilah terbalik ini merupakan metode penyajian saja. Simpel sekali, meskipun ternyata tidak sederhana pada saat menikmatinya. Kopi yang dibuat ternyata biasa saja, kopi base espresso yakni americano. Hanya saja penyajiannya dibalik dimana pisin tutup gelas itu berubah menjadi alas gelas. Sudah deh, tidak menarik.

Tapi ternyata ini baru permulaan karena tantangannya hadir pada momentum menikmatinya.

Mau dibalik lagi gelasnya dibawah, nggak lucu ah. Maka dengan konsentrasi penuh gelas dan pisin atau tatakan ini diangkat perlahan dan buka celah gelas dengan hati – hati. Karena jika bukanya terlalu lebar, air kopinya keluar semua dan dijamin akan tumpah karena pisinnya kecil.

Maka harus konsentrasi, terukur dan diangkat perlahan tapi pasti…. wadduh menegangkan kawan. Lalu monyongkan bibir menyentuh pisin dan sruput perlahan, agak ribet memang. Tetapi sensasinya menghadirkan suasana rasa tersendiri. Tetap rasanya pahit namun diperkaya dengan manisnya rasa ihtiar termasuk memonyongkan bibir agak ke depan agar hasil maksimal.

Setelah 7 kali prosesi membuka gelas kupi terbalik ini akhirnya bisa habis meskipun bibir kok terasa lebih maju dari biasanya. Resiko untuk meraih kenikmatan yang berbeda. Maka jemari bergetar disaat menuliskannya karena terasa menjadi penyeimbang jiwa dalam gempuran ketidakpastian yang berkelindan dengan harapan banyak pihak terhadap raga sederhana ini untuk berkhidmat dalam memposisikan sebagai bagian dari solusi.

Sebagai penghormatan terakhir maka gelas terbalik dan pisin serta ampas kopi diberikan anggukan hormat takzim karena telah memberi kesempatan untuk sedikit menghela nafas dan kembali ke jalur penikmat kohitala dengan cara yang berbeda.

Padahal sebenarnya dalam sejarah tradisional di kampung halaman, menikmati kopi dengan menggunakan pisin atau tatakan itu adalah hal yang lumrah dengan tujuan membuat suhu air kopi panas itu segera turun. Kopinya di gelas biasa tapi pas mau diminum dituangkan ke pisin. Namun sekarang yang berbeda adalah posisi gelasnya yang disajikan sudah terbalik dan nyepot ke pisin. Sehingga perlu spesial effort pada saat membukanya perlahan.

Selamat mensyukuri hadirnya malam karena berarti besok insyaalloh akan kembali berjumpa dengan pagi berseri dan siang yang benderang. Salam kohitala gelas kebalik, Wassalam (AKW).