Strong Acidity Coffee

Diawali dari harapan dan berujung pada syukur atas semua kenikmatan.

BDG, akwnulis.com. Jikalau jumat lalu bersua dengan biji kopi yang masih hijau meranum di dataran tinggi Ciwidey tepatnya di kecamatan Pasir jambu. Maka sekarang berhadapan dengan sang barista yang memberi peluang untuk memilih sebanyak-banyaknya opsi bean, suhu, ritual penyeduhan dengan putar kanan searah jarum jam.

Photo : Si Hijau misteri / dokpri.

Jangan sambil terlalu lama, mari putuskan pemilihan kopi ini dengan cara seksama.

Kali ini, keinginan menikmati coffee dengan strong acidity menyeruak dalam hati. Jadilah mata menjelajah mengitari botol-botol kaca besar yang berisi aneka bean yang menarik hati. Sambil tak lupa tanya-tanya sana sini

Tetapi akhirnya, pilihan jatuh kepada BANCEUY arabica medium air roasted yang diproduksi SIKICOFFEE.

Langsung order….

Sambil menanti barista mengolah rasa, maka sebuah syukur kembali membuka. Betapa seiring waktu dan kesempatan yang ada, kembali bisa menikmati.. eh akan menikmati kohitala di tempat-tempat yang berbeda dan miliki sejuta makna.

Alhamdulillah….

Nggak pake lama, sebuah sajian ciamik kopi hitam tanpa gula dengan metode manual brew V60 telah hadir dilengkapi keterangan bahwa suhu yang digunakannya dipastikan 90° celcius… tak sabar segera mencoba.

Tapi jangan lupa, diabadikan dulu sebelum dinikmati sebagai bukti bahwa hadirnya kohitala ini bosa terbingkai abadi.

Sruputan pertama memberikan sensasi nyata tentang kekuatan acidity alami yang dihasilkan dari biji kopi hasil ekstraksi bersua dengan kucuran air bersuhu tinggi…. nikmat tiada henti.

Photo : Strong Acidity Coffee / dokpri

Bodynya sih medium, tapi aciditynya wow haseum pisan…  dengan profile fruitty dan tamarind serta suasana cafe yang cozy, memberikan kesempatan untuk sedikit menghela nafas dalam deru tugas yang begitu bertubi.

Itulah warna warni kehidupan, ada saatnya kita melihat harapan tumbuh yang diwakili biji kopi hijau memukau. Seiring waktu, harapan ini berproses, berinteraksi, berproses dan bergerak dengan berbagai pihak hingga akhirnya…… (ceritanya dipersingkat saja…) sekarang dapat tersaji menjadi nyata dalam bentuk secangkir kopi.

Sruput lagi… Alhamdulillahirobbil alamin. Wassalam (AKW).

BERBAGI KAMAR MANDI.

Dengan berbagi maka masalah bisa teratasi.

Photo : Suasana Kota dari jendela kamar hotel / dokpri.

akwnulis.com. Memasuki lobby hotel dan menanyakan posisi restoran dimana sebuah jadwal janjian tersusun sedari tadi. Ternyata cukup naik tangga atau via lift, supaya sedikit membakar kalori dan mengurangi berat badan yang bertahan, eh bertambah saban hari.

Meeting sambil makan siang yang tertunda ternyata nikmat juga. Berbincang dan membahas beberapa tema pentung serta rencana tindaklanjut kegiatan yang akan dilaksanakan bersama-sama.

Setelah selesai berdiskusi, maka kembali ke lantai lobby dan melakukan check in untuk mendapatkan kunci kamar. Prosesnya cepat karena kamarnya  sudah dipesan sebelumnya via traveloka.

Lantai 13 menjadi pemberhentian pintu lift dan setelah keluar maka dicari nomor kamar yang tertera di bungkus kunci kamar. Kamarnya deket dengan lift, jadi mempermudah gerakan jika naik turun lobby dan kamar. Sambil melirik jam ditangan, waktu shalat magrib hampir usai.

Memasuki kamar, disambut dengan suasana muram dan tembok kamar yang terlihat kusam. Agak jengah dan kecewa karena berbeda dengan tampilan di traveloka, tetapi apa mau dikata. Minta pindah hotel tentu diperlukan tambahan dana.

Ya sudahlah, kita nggak usah mikirkan pindah hotel, lagian cuman 1 hari. Syukuri saja apa yang ada.

Simpan tas yang sedari tadi bertengger di punggung dan segera mengambil wudhu untuk menunaikan shalat magrib. Disinilah sesuatu yang berbeda terasa. Suasana kamar mandinya temaram dan pada saat sedang berwudhu serasa ada yang memperhatikan. Langsung dalam hati membaca doa perlindungan dan melihat ke sekeliling kamar mandi, kosong tidak ada siapa-siapa, hanya memang lampunya tidak terlalu terang. Ah mungkin ini hanya perasaan saja, setelah capek seharian melakukan perjalanan darat dan dilanjutkan marathon rapat.

Setelah shalat magrib dilanjutkan dengan membuka laptop dan membuat revisi bahan paparan esok hari. Kembali jemari terlarut dengan keyboard untuk menghasilkan kata-kata, gambar dan info grafis yang saling melengkapi. Hingga tak terasa, waktu sudah menunjukan pukul 22.00 wib.

Photo : Kamar mandi tempat berbagi / dokpri.

Nah, karena kegerahan juga serta sisa keringat tadi siang. Diputuskan mandi dulu sebelum beranjak tidur. Kembali masuk kamar mandi dan membuka pakain yang melekat di badan. Kamar mandinya memang terbatas karena tipe kamar hotel standar. Wastafel dan WC serta tempat terpisah untuk mandi dengan shower atas yang siap mengguyur badan ini.
Pas menginjak lantai tempat mandi, kembali terasa ada sesuatu yang beda. Bulu-bulu halus di kaki dan tengkuk sedikit meremang. Ada apa ya?

Ah paling juga sugesti, jangan takut, udah mandi aja…..

Badan telanjang diguyur aliran air shower yang berlimpah dari atas kepala menyegarkan raga dan rasa. Secara reflek mata terpejam dan menikmati sensasi kesegaran yang ada. Butiran air membelai kulit begitu menenangkan, tetapi…..

Dikala mata terpejam dan guyuran air membasahi kepala hingga sekujur badan, konsentrasi terpusat dalam ketenangan. Ternyata disamping kanan sekitar 30 sentimeter saja, sesosok mahluk sedang berdiam sambil memandang…. Astagfirullohal adzim. Langsung matikan shower.

Trek.

Segera mata dibuka, tidak ada apa-apa. Hanya temaram kamar mandi yang sekarang terasa mencekam. Baca doa dalam hati sambil mempercepat membasuh badan karena sabun dan busa shampo masih menempel di rambut dan badan.

Tapi penasaran, jangan jangan memang masih ada. Sambil dada berdegup lebih kencang. Kembali menyalakan shower dan air hadir lagi mengguyur kepala….. tidak ada apa-apa, tentu dengan mata tetap terbuka.

Masih penasaran, coba mata dipejamkan lagi sambil menikmati guyuran air dari shower.

Ternyata…. mahluk itu masih adaaaa……  wajahnya hanya berjarak 30 sentimeter dari wajahku. Sesosok wajah tanpa ekspresi dengan seluruh tubuhnya berbungkus kain putih yang sudah kotor terkena tanah disana-sini.

Astagfirullohal adziim…. Hiiyyy…. kali ini reflek meloncat keluar kamar mandi sambil tak lupa menyambar handuk putih yang sudah tersaji. Keluar kamar mandi dengan degup jantung yang tak karuan, Ya Alloh ternyata mahluk itu terlihat nyata dan begitu dekatnya….. hiiiiiy.

Melihat jam di hape, jam setelah sebelas malam. Haduuh… pantesan udah malam. Tapi apa mau dikata kesegaran berbalut kekagetan…. ada ada saja.

Setelah mengenakan pakaian maka dengan menguatkan diri kembali memasuki kamar mandi untuk mengambil air wudhu untuk persiapan shalat isya.

Perlahan membuka pintu kamar mandi, aura mencekam ternyata masih melekat. Tetapi memang tidak ada apa-apa yang terlihat kecuali sisa uap air dari shower yang tertinggal.

Berwudhu tanpa memejamkan mata, khawatir terlihat kembali sosok menakutkan yang tadi ada.

Meskipun tetap saja terasa bahwa kehadiran mahluk itu masih ada, atau memang sudah lama ada disitu… entahlah.

Tapi…. penasaran juga… di coba ah.

Sambil berdiri didepan pintu kamar mandi, pejamkan mata perlahan dengan konsentrasi….

Walaaah…. segera membuka mata kembali dan bergerak menutup kamar mandi, karena ternyata mahluk berbungkus kain putih dengan kepala terikat diatas serta beberapa bagian tubuhnya pun terikat masih berdiri di tempat tadi. Tersenyum sih… tapi sekali lagi…. mengerikaaaan.

Ada pikiran pindah kamar atau keluar hotel pindah ke tempat lain, tapi tanggung udah mau tengah malam… dilema.

Akhirnya diputuskan berbagi saja, silahkan berada di kamar mandi tetapi jangan keluar kamar mandi selama diriku ikut tidur semalam ini disini.

Tuntas shalat isya dilanjutkan dengan membuka quran dan mengaji sebisa-bisa. Lalu diteruskan dengan lantunan murottal dari laptop hingga akhirnya diriku terlelap dibuai mimpi.

Esok hari kembali berwudhu dengan kewaspadaan tinggi, tetapi relatif tidak mencekam lagi karena sebentar lagi akan terbit pagi, Alhamdulillah.

Itulah sekelumit kisah nyata di sebuah hotel berbintang yang berada di sebuah kota di provinsi Jawa Tengah pada bulan desember lalu.

Ditulis sekarang sambil berkumpul bersama keluarga tercinta.

Selamat long weekend di rumah saja ya kawan. Jangan lupa jaga protokol kesehatan. Wassalam (AKW).

TIPS PERJALANAN DARAT BDG – SMG PP Di MASA PANDEMI

Tips sederhana tapi bermakna.

Photo : Suasana Simpang lima Kota Semarang / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Kali ini tergerak hati untuk berbagi sekaligus menggerakkan jari mengetik kembali di keyboard virtual pada smartphone kesayangan. Tema yang dipilih adalah berdasarkan pengalaman, meskipun hanya sejumput cerita tapi semoga memiliki manfaat dan guna.

Tema kali ini adalah TIPS PERJALANAN DARAT DI MASA PANDEMI COVID19.

Mengapa menjadi tergerak menulis, karena jangan sampai niat baik kita mengerjakan tugas dalam sebuah perjalanan kedinasan berujung dengan nestapa karena terpapar oleh virus seribu rupa. Apalagi jikalau ternyata menjadi OTG, dan menularkan kepada keluarga terdekat kita, suami atau istri, anak ataupun orangtua, Audzubillahimindzalik….

Maka inilah TIPSnya kawan, dengan contoh kasus perjalanannya adalah dari Kota Bandung ke Kota Semarang lalu bermalam 2 hari dan kembali pulang setelah tuntas pekerjaan. Apalagi yang bikin agak nggak karuan adalah pada saat hadir di Kota Semarang ternyata sedang gelombang kedua peningkatan penyebaran Covid19 di Jawa Tengah, makin deg degan lah… sport jantung teh beneran guys.

Inilah langkah-langkah yang dilakukan :
00. Sebuah Doa perlindungan senantiasa terpanjat kepada Allah SWT dari pandemi dan juga keselamatan & kelancaran perjalanan adalah yang utama.

0. Lakukan tes swab antigen dahulu sebelum berangkat, selain memastikan kondisi kita juga sebagai pegangan jikalau diperbatasan antar wilayah atau pas masuk kota tujuan ternyata diwajibkan membawa bukti tes tersebut.


1. Persiapan perlengkapan pribadi, perlengkapan ini diantaranya : aneka handsanitizer, disinfektan semprot, sarung tangan, plastik, masker medis, fave shield, tissue basah, cairan alkohol, vitamin C dosis tinggi, vitamin B complex, tissue alkohol, minyak kayu putih dan plastik kecil. Baju dan pakaian secukupnya saja sesuai dengan sebentar lamanya di perjalanan dan di kota tujuan.

Photo : Perlengkapan pribadi anti covid19 / dokpri.


2. Isi penuh BBM dan e-tol card sebelum berangkat. Pengalamanku kemarin Bandung – Semarang PP, eh nginep 2 malam itu habis etoll sekitar 800ribu dan BBM 1jt, berarti sekitar 1,8 juta.


3. Bawa makanan ringan, air mineral dan makanan berat yang praktis seperti leupuet, buras, popmie, roti-roti dan sebagainya.


4. Hindari berhenti di Rest Area, jikalau terpaksa kebelet pipis, maka bawa hand sanitizer dan tissu basah plus tissue kering sendiri. Di toilet umum rest area hati-hati dengan persentuhan tak sengaja dengan badan orang lain.


5. Pemesanan dan pembayaran Hotel secara Online. Ini sih udah biasa jadi tak perlu dibahas lebih terperinci.


6. Setiap bersentuhan dengan benda apapun maka langsung gunakan hand sanitizer atau cuci Tangan.


7. Pesan makanan secara online atau gunakan fasilitas home service di hotel. Untuk menu sarapan pagi dipastikan ada pelayan yang memberikan pelayanan serta senantiasa membawa hand sanitizer di botol kecil.


8. Hindari nongkrong di cafe atau angkringan, sementara jangan tergiur dengan kuliner di kota tujuan.


9. Kegiatan meeting menggunakan masker dan faceshield juga disarankan berkemeja atau batik lengan panjang.


10. Batasi durasi pertemuan, koordinasikan secara diplomatis dengan tuan rumah.


11. Jikalau harus makan siang bersama, pilih rumah makan yang terbuka, sehingga sirkulasi udara tersedia. Jaga jarak antar orang dan usahakan bergantian membuka masker dan makan sajian yang ada.


12. Hindari beredar di malam hari, gunakan waktu yang ada untuk beristirahat yang cukup di kamar hotel.

Photo : Simpang lima Kota Semarang / dokpri.


13. Jika dekat dengan lapangan atau jogging track, bisa lakukan jogging terbatas dan tetap menggunakan masker.


14. Pembelian oleh-oleh dapat dilakukan secara online melalui aplikasi Grab/Gojek dan dikirimkan ke resepsionis hotel. Pada saat check out diambil untuk masuk ke kendaraan, jangan lupa disemprot dulu dengan semprotan pembasmi virus/bakteri.


15. Jika mau menggunakan fasilitas hotel seperti kolam renang dan tempat fitnes sebaiknya pada saat sepi. Jika banyak pengunjung, disarankan dihindari.


16. Jangan pernah melepas masker dimanapun, apalagi jika sedang berhadapan dengan orang lain.


17. Tetap update info kepada keluarga terdekat via whatsapps atau telegram secara berkala kondisi yang ada.


18. Dokumentasi photo dan video tanpa diarahkan juga biasanya sudah otomatis kok, baik sebagai dokumentasi juga sekaligus pelaporan online ke jagad maya bahwa kita sedang ada dimana, bersama siapa dan sedang apa…..

Itulah trips trik dari kami, sebuah ihtiar dalam menjaga diri, menjaga keluarga dan rekan kerja dari paparan virus covid19 serbu rupa.

Photo : Menu sarapan & hand sanitizer / dokpri.

Ada poin ke 19, jika merasa belum yakin dengan kemungkinan menjadi pembawa virus. Setiba di kota Bandung maka segera lakukan Swab antigen untuk memastikan hasilnya. Bisa juga swab PCR tetapi berhubung hasilnya agak lama dan cukup mahal jikalau periksa secara mandiri maka diawali swab Antigen dulu sudah merupakan langkah bijak pencegahan sebwlum bersua kembali dengan keluarga tercinta. Wassalam (AKW).

TAKTIK KENCINGku..

Pengen kencing?… ada Tips nya Bro.

Photo : Refleksi Kaca Toilet Intercontinental Hotel / dokpri.

DAGO, akwnulis.com. Tatkala rasa ingin buang air kecil mendesak, maka otak bekerjasama dengan mata untuk mencari toilet terdekat. Harapannya jelas, agar segera membuang air kencing dan memberi kelegaan tersendiri.

Ahh nikmatnya….
Eh belum ketang, khan belum dapet toiletnya juga, gimana sihh.
Sambil tangan sibuk mengendalikan kemudi memundurkan kendaraan di tempat parkir, maka mata beredar melihat keadaaan, siapa tahu ada toilet terdekat atau rumpun perdu yang tersembunyi.

Ternyata tidak ada.
Ya sudah dengan sedikit tertatih berjalan menuju lobby hotel dan yakin di dekat resepsionis pasti ada toilet yang lengkap, lha ini kan hotel bintang lima.
Sesaat tiba dihadapan petugas satpam dan pegawai hotel, maka protap cek suhu dengan kamera thermal dan tampil suhu tubuh kita di layar disertai siluet tubuh kita. Juga penggunaan hand sanitizer agar semakin terlindungi, lalukan saja dengan sedikit meringis… takut ngompol di celana.

Photo : Barisan Urinour / dokpri.

Setelah ditunjukan arah toilet yang tepat maka setengah berlari menuju tempat yang sangat dinanti. Langsung buka pintu dan memilih urinoir yang agak ke sudut, lalu.. cerrrr.
(Urinour : tempat kencing)

Nah legaa…. Alhamdulillah.
Tapi kebingungan menghinggapi karena muncul kesulitan tersendiri. Sebab musababnya seolah sederhana, padahal tidak, ini menjadi masalah fundamental. Model urinoirnya yang canggih dengan sensor, ternyata mengatur air mengalir dan membilas kencing yang sudah dialirkan akan menyala manakala sensor tidak menangkap penghalang didepannya.

Dengan bahasa sederhana, manakala kita menjauhi urinoir, barulah air bilasnya keluar.
Lha nggak salah kan?… jadi bisa bilas setelah kita pergi dari urinoir?”

Dari sisi fungsi urinour mah bener, tapi dikala sebuah petunjuk yang diyakini bahwa harus membersihkan alat kelamin setelah kencing menjadi terhambat. Karena harus menjauh dulu dari urinoir, praktos musti tutup risleting celana dan mengembalikan posisi di dalam celana. Lha kapan membersihkannya??….

Inilah problem besarnya.
Tapi dengan tulisan santai ini ada beberapa tips yang ingin disampaikan, diantaranya :

Pertama, Sikap Pasrah. Ya sudah karena air bilasnya keluar setelah menjauhi urinoir maka tak perlu alat ini dibilas. Akibatnya menimbulkan keraguan dikala akan wudhu dan melakukan shalat, pertanyaan besarnya “Apakah bersih dari najis?”

Kedua, Sikap kompromi. Nah ini yang saya coba praktekkan. Jadi sebelum menuju urinoir maka bergeraklah ke wastafel dan mengambil 1-2 lembar kertas tissue.. ya tergantung kebutuhan. Basahi pake air dari keran dan bawa menuju urinoir. Setelah tuntas buang air kencing, maka kertas tissu basah ini sebagai pembasuhnya. Maka relatif lebih tenang, bahwa kemungkinan tercecer najiz sisa air kencing bisa di hindari. Lalu tinggalkanlah urinour, biarkan dia membilas dirinya sendiri.

Ketiga, Sikap Nekat. Ini masih dimungkinkan dlakukan dengan syarat di kamar mandinya sendirian. Caranya setelah tuntas mengencingi urinoir, maka sebelum tutup celana berlarilah menuju wastafel dan nyalakan kerannya lalu basuh kepunyaan dengan air yang mengalir. Jangan lupa tengok tengak kiri kanan. Jangan sampai ada orang lain yang melihat, nggak elok khan, ntar disangka kauk eksibisionis lho….

Keempat, Sikap sabar. Ini kalau masih kuat menahan kencing di urinoir, maka bisa tunggu bilik-bilik WC berpintu. Jika ada yang kosong masuk saja…. tapiii klo buat bilas airnya bukan bentuk keran dan kocoran maka… balik lagi rumus kedua. Manfaatkan kertas tissu basah yang ada

Photo : Tissu di Wastafel / dokpri.

Itulah empat sikap hadapi urinoir yang begitu adanya. Trus klo perempuan gimana triknya?… lhaa kagak tau atuh, khan aku mah cowok hehehehe.

Sebagai bonus dari aktifitas ini, sebuah refleksi di kaca besar wastafel, hadirkan gambar photo yang menarik (kata aku sih) dan mengobati kebingunganku menghadapi keberadaan urinoir ini. Selamat kencing Kakak, Wassalam. (AKW).

PERTEMUAN TAK SENGAJA

Keindahan bergerak di catwalk.

BOJONGHALEUANG, akwnulis.com. Pertemuan tak disengaja diri ini dengannya menyisakan sebuah kenangan tak terlupa.

Betapa tidak, dibalik kegarangannya tersimpan bentuk keindahan yang tak bisa diungkap dengan kata-kata.

Dikala dikau berjalan meniti catwalk rumput kehidupan, maka terlihat gemerlap dan keyakinan serta rasa percaya diri yang pas dan tidak berlebihan.

Meskipun memang jikalau ada yang berani mengganggumu dengan secuil sentuhan saja, maka konsekuensi ketidaknyamanan akan diterima tanpa banyak pertanyaan.

Maka tidak ada kata lain yang lebih berarti, kecuali mengabadikan gerakanmu agar tersimpan abadi di hati. Jikalau dikau pergi dari pandangan dan menghilang dibalik catwalk kehijauan itu, maka siluet dan bentuk rumbai keindahanmu akan selalu dikenang.

Photo : Meniti catwalk kehidupan / dokpri.

Selamat menjalani catwalk kehidupan selanjutnya, jangan pernah menyerah karena kehidupan ini adalah anugerah. Wassalam (AKW).

MAKANAN MEWAHku.

Makanan mewahku…. Yummy.

SUINDA, akwnulis.com. Semilir angin malam membawa pesan tentang sebuah keinginan yang terpendam dan tertahan dalam hitungan bulan. Ini telah menginjak bulan ke 12, dimana kendali keinginan terus dikuatkan sari segala macam godaan, momentum kesempatan hingga kenekatan untuk mencoba meskipun belum saatnya.

Tetapi akhirnya pertahanan jebol juga, apalagi keharumannya begitu menguasai indera penciuman dan indera perasa… akhirnya diputuskan saja untuk nekat mencoba.

“Pesen satu juga Mang, Pake cengek dan gehu”

“Mangga cep”

Maka proses memasak dimulai, dan cuping hidung bergerak-gerak tak sabar karena terpapar keharuman.

Hanya hitungan 5 menit, sajian kenikmatan yang ditunggu-tunggu sudah datang. Semangkok indomie rebus ditambah telor ceplok, irisan cengek (cabe rawit) dan gehu besar (gorengan yang berisi tahu dan toge) yang pedaas… duh ngaruy… air liur mulai menggenang di bawah lidah…. kabita.

Inilah sajian makanan mewah yang akan segera dinikmati.

Mewah apa nya, itu khan gampang ada dimana-mana”

Pasti sebait tanya akan hadir menghibur suasana. Memang indomie rebus mah ada dimana-mana, tetapi itu baru dari sudut pandang kehadiran.

Setelah hadir, maka perlu tambahan kesempatan untuk menikmatinya… ini tituk pentingnya. Karena setiap orang berbeda.

Dahulu di masa masih asrama dan kost nebeng sementara maka sajian mie rebus ini adalah makanan pokok. Baik nongkring.. eh nongkrong di warung indomie bersama secangkir kopi dan bubur kacang alami ataupun secara mandiri menyeduh menggunakan air panas. Lalu ditali dengan karet dan biarkah matang bin beukah sebelum akhirnya bisa dinikmati… nikmatnya kala itu.

Photo : Indomie telor cengek gehu / dokpri.

Tapi sekarang… menjadi MaKANAN MEWAH bagiku karena menjadi daftar makanan yang hanya boleh 3 bulan sekali.

Punya dosa apa dia?”

“Bukan masalah dosa, tetapi situasi yang memaksa sehingga terpisah dari kenikmatannya”

Jadi dosa besar indomie itu karena kenikmatan dan kepraktisan dalam pengolahan dan penyajiannya. Sehingga ketagihaaan….. hehehehehe… sebenernya bukan hanya indomie… saudara sesama mie lainnyapun sikat abiis… supermi, mie sedap dan yang lagi hits sekarang itu mie lemonilo…. pokoknya sabangsaning mie… termasuk popmie.

Dengan kenikmatannya sangat berkontribusi positif dalam membuat tubuh ini meninggi ke samping kanan kiri alias menggelembung tak teratur hingga mencapai batasan PSK (pemuda seratus kilogram)…… ohhhh tidakkk.

Maka jadilah indomie dan saudara-saudaranya menjadi makanan mewah karena kenikmatannya dan dibatasi menikmatinya…. 3 bulan sekali aja…. kasiaaan deh aku.

Jadi mari kita syukuri kenikmatan Allah SWT atas kemudahan kita menikmati makanan dan minuman yang selama ini dirasakan oleh kita dengan kemudahan mendapatkannya. Have a nice weekend kawan. Wassalam (AKW).

NGOPAY Kaum Rebahan.

Nikmati lagi sajian coffee, suatu hari nanti.

Photo : Coconut Milk Coffee WP / dokpri.

KOSUIN, akwnulis.com. Mendamaikan rasa dan menge-charge semangat bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Beraneka aktifitas tentu akan menjadi pilihan yang sangat menyenangkan, dari mulai jalan bareng keluarga atau masak bareng di rumah hingga naik gunung atau menikmati adrenalin terpacu menggunakan motor trail dan kendaraan offroad menembus alam liar yang (mungkin) belum terjamah.

Makan bareng di cafe, restoran, kedai atau rumah makan bersama keluarga di hari libur serta sambil ber-tawaf di mall adalah aktifitas kebersamaan yang biasa dilakukan oleh keluarga pada umumnya.

Tapi….. sekarang semuanya berbeda.

Kebersamaan yang paling mudah dengan beredar di mall, makan bareng di restoran berkongkow bersama kawan, kolega, keluarga atau sanak saudara …. sekarang penuh kekhawatiran karena pandemi virus tak kasat mata sedang mendera.

Menjeda bersama, menahan keinginan untuk semua aktifitas itu ternyata berat rasanya.

Sekaranglah kesempatan untuk mengubah haluan kebiasaan dimana awal tahun lalu gerakan kaum rebahan itu dipandang sebelah mata. Tetapi sekarang, pilihan menjadi kaum rebahan ternyata bisa mencegah kehancuran dunia karena bisa memutus rantai penyebaran virus covid19 yang ternyata semakin merajalela.

Jadi, marilah rebahan di rumah, yaa.. agak bermalas-malasan di rumah… meskipun ternyata setelah 9 bulan berusaha menjadi kaum rebahan…. eh bosan jugaaa…

Photo : Nasgor WP / dokpri.

Tetap pertahankan kemalasan… eh kaum rebahan ini sebelum jelas bahwa pandemi ini tuntas.

Karena, jika sudah terpapar. Urusannya panjang dan berdampak tak terbayangkan. Selama kita berusaha menghindari, Insyaalloh akan terlindungi.

Jadi, maafkan kawan. Jikalau diriku ini seakan menghilang dari peredaran. Sulit diajak makan bareng diluar meskipun katanya ini mah restoran terbuka di alam.

Jikalau terpaksa makan bersama, pasti memilih yang meja kursi hanya berdua, duduk berhadap-hadapan dan terpaksa bergiliran membuka maskernya. Hikmahnya adalah, jika kita sedang buka masker dan menyantap makanan maka yang ada dihadapan kita tetap tutup masker sambil bonusnya bisa melihat wajah kita yang sedang mengunyah dengan seksama…. begitupun sebaliknya.

Jadi, untuk mengobati kekangenan menikmati makanan dan merasakan enaknya ngopay, tak ada salahnya memposting sajian kopi dan juga pilihan menu makan siang di sebuah tempat makan yang rimbun alami dan mendamaikan hati.

Meskipun para pembaca tulisan ini jangan terjebak dengan momentum, ini bukan info update tetapi dokumentasi aktifitas beberapa waktu lalu sekaligus mengobati kerinduan akan kenikmatan makan dan ngopay diluar kediaman.

Kalau mau info update, tinggal pilih aja media online ternama atau nyalain televisi dengan saluran umum yang ada. Pasti info hangat dan terbaru yang akan hadir tersaji di gadget kesayangan kita.

Sekali lagi, selamat mempertahankan status menjadi kaum rebahan yang bisa menyelamatkan dunia sambil posting gambar-gambar aktifitas masa lalu yang tentunya bisa kembali kita lakukan setelah badai pandemi ini berlalu. Wassalam (AKW).

Pake MASKER Yuk.

Minimal pake MASKERnya Guys…

LEGOK EMOK, akwnulis.com. Liburan pergantian tahun disarankan untuk dihabiskan dengan bercengkerama bersama keluarga tetapi karena sebuah komitmen tugas sekaligus menjadi bodyguard ibu negara yang bertugas di instalasi gawat darurat yang juga rentan dengan kemungkinan hadirnya si covid19.

Jadi antisipasi pencegahan menjadi utama, masker tak pernah lepas dari wajah dan selalu menggunakan hand sanitizer atau mencuci tangan jikalau ada kesempatan. Apalagi pas pulang ke rumah, semua pakaian kotor langsung di rendam cairan detergen bersama dettol. Peralatan elektronik, dompet dan pernak pernik segera bergabung di mesin steril untuk menerima paparan sinar ultraviolet selama 10 menit. Tentu smartphone diusakahan dalam keadaan mati demi melindungi aplikasi dan berbagai komponennya dari paparan sterilisasi.

Mandi dan keramas sehari 3x sudah menjadi hal biasa, ini ihtiar sederhana manakala keluar rumah, kemanapun, sebentar atau lama maka wajib melakukan mandi plus keramas. Tujuannya sederhana untuk melakukan pencegahan, sebuah iktiar adaptasi kebiasaan baru dalam suasana dunia yang sedang dilanda pandemi.

Bosankah dengan rutinitas ini?”

Tentu bosan, apalagi orangtua dan anak yang praktis tak pernah keluar rumah. Tapi itulah sebuah kenyataan yang harus dijalani semua. Melatih kesabaran dan ketelitian tingkat tinggi demi menghindari terpapar oleh virus yang tak jelas bentuknya tetapi nyata dampaknya.

Photo : Perlengkapan pencegahan / dokpri.

Nah, dikala melihat media sosial. Terlihat betapa banyak rekan-rekan, saudara-saudari yang beredar berwisata bersama keluarga besar juga tidak sedikit yang mengabaikan penggunaan masker atau pake masker tapi hanya hiasan… ah hanya bisa mengelus dada….. Inilah kenyataan yang ada.

Sulit memang untuk mengendalikan diri dari hasrat beredar dan bersua bersama keluarga, kolega dan handai taulan yang ada apalagi dalam momentum liburan yang memang cukup berharga.

Tapi, pengendalian diri bersama yang sebenarnya bisa mencegah semuanya. Sayangnya tidak semua miliki kendali yang sama, sebagian men-justifikasi bahwa beredar terbatas itu tidak mengapa. Padahal penyebaran covid ini sudah tidak pandang strata, siapapun bisa kena dengan dampak yang berbeda-beda.

Maka cara terbaik adalah kendalikan diri, kendalikan keluarga terdekat kita agar tetap patuh dengan protokol kesehatan yang ada.

Jangan terjebak oleh stigma bahwa orang yang mati-matian mencegahpun itu bisa kena. Itu ranahnya Takdir Illahi Tuhan Yang Maha Kuasa, tetapi jikalau kita sudah berusaha mencegah, insyaalloh hikmah dan berkah akan melindungi kita semuah….

Memang sekarang semua berbeda, serba terbatas dan penuh rasa khawatir yang mendera. Tetapi ingat kawan, kepedulian dan kedisiplinan kita yang akan membuat kita bisa melewati cobaan ini bersama.

Selamat berlibur panjang dan tetap menjaga diri dengan mengutamakan protokol kesehatan.

Minimal pake masker

Minimal itu….

Ah gemes deh, semoga semua diberi kesadaran untuk bersama-sama mencegah penyebaran dengan pengendalian diri dan tak banyak beredar.

Kalaupun harus beredar, maka bersih-bersih raga, peralatan dan juga jiwa ditenangkan sebelum kembali berkumpul dengan keluarga. Wassalam (AKW).

ULAT & CINTA

Ekspresi Cinta memang tak berbatas.

LEGOK EMOK, akwnulis.com. Pagi yang cerah diisi dengan berjalan kaki ringan dan menerima sentuhan lembut paparan mentari pagi. Bergerak di sekitar rumah sambil menikmati kehijauan tanaman sudah cukup menjadi obat kegalauan.

Sudut mata terdiam dikala melihat gerakan gemulai tapi sedikit garang. Merayap ringan diatas dedaunan kehidupan, setelah kenyang menikmati sarapan yang bergiji dan penuh rasa kehijauan.

Hanya saja yang menarik hati adalah sebuah jejak yang ditinggalkan setelah tuntas sang ulat makan siang. Dedaunan yang begitu renyah dan segar, memberi imunitas dan harapan bahwa sang ulat berumur panjang. Apalagi jejak yang tertinggal ternyata merupakan ekspresi diri bahwa cinta kasih itu tiada batas.

Karena diperhatikan dengan seksama, bekas makan sang ulat itu berbentuk lambang cinta, alias love… silahkan saja perhatikan… betulkan love oh love

Penasaran deh, maka sang ulat dicegat dan ditanya baik-baik, “Betulkah itu ungkapan cinta?”

Ulat tersenyum sambil memamerkan bulu-bulu halusnya, lalu berkata, “Memang nggak boleh kami mengungkapkan cinta?”

Ah ternyata yang hadir malah sebuah tanya, dan jadi terdiam tak berani menjawab karena jika dibahas tentang ungkapan cinta tentu tidak tuntas dalam satu masa.

Apalagi terlihat bahwa sang ulat sudah mulai memperlihatkan taring dan siap melepaskan bulu-bulu tajam yang bisa menggatalkan dunia andaikan perbedaan pendapat ini meruncing menjadi silang pendapat tak berkesudahan.

Maka cara terbaik adalah diskusi hangat tanpa perlu menyinggung rasa dan utamakan tentang bagaimana menjaga dan merajut cinta meskipun jelas secara phisik berbeda.

Maka, marilah kita berdampingan dan menjaga rasa tanpa perlu bingung menafsirkan simbol cinta. Karena semua mahluk punya rasa, miliki harapan dalam memaknai cinta dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jika masih belum faham dengan semuanya, maka cobalah untuk bercinta.. ups.

Sang ulat tersenyum sambil berlalu dan duniapun kembali berlanjut menapaki waktu. Wassalam (AKW).

IGA BAKAR.

Met Maksi yaa….

CIMAHI, akwnulis.com. Judul tulisan ini terinspirasi dari sajian makan siang suatu waktu yang lalu di sebuah cafe yang menyajikan menu makanan ini. Saat ini agak terbatas untuk makan di restoran atau cafe, atau malah tidak sama sekali nongkrong-nongkrong demi menjaga dan mencegah hadirnya virus covid19 yang memiliki seribu wajah.

Kangen nggak maksi di resto bersama kolega atau keluarga?”

Jawabannya pasti variatif, tapi penulis lebih memilih untuk sementara menahan diri. Jikalau kangen dengan menu-menu ini, maka carilah dokumentasi-dokumentasi yang lalu dikala masih bebas menikmati sajian menu resto baik dengan kolega ataupun bersama keluarga tercinta.

Pilih photonya dan bayangkan kenikmatannya… Yummy.

Nah kembali ke sajian Iga bakar ini, terlihat bahwa sudah lengkap dan siap disantap. Tapi pada saat Basmallah sudah terucap dilanjutkan dengan, “Allohumma bariklana Fii ma rozaktana wakinna adza bannar”… lanjut kepala sendok mengeduk nasi dan daging iga,……. hmmm… terasa ada yang kurang.

Terdiam sesaat sambil meneliti sajian yang ada..

Ternyata, semangkok kuahnya yang belum hadiiir. Karena menu yang dipesan adalah Iga bakar, berarti kuahnya dipisah. Beda dengan iga biasa, pasti bersatu dalam satu mangkok kuah.

Untung aja nggak keburu disikat abis, khan jadi nggak elok jikalau kuahnya datang belakangan dan lanjut di minum pake sedotan hehehehe.

Perlu ketelitian dan kesabaran dalam memaknai dan menikmati sajian makan siang. Berdoa yang utama tetapi teliti terhadap sajian, itu penting juga.

Jadi tahan dulu menanti hadirnya semangkok kuah, untuk selanjutnya dinikmati bersama iga bakar yang sudah stanby di depan mata.

Selamat makan siang… eh makan nasi dan lauknya dimanapun saudara berada… nyam nyam, Wassalam (AKW).