SENSASI RASA RUJAK CINGUR.

Menikmati Maksi penuh rasa…

BANDUNG, akwnulis.com. Sudah lama memang tidak bersua dengan sajian makanan yang segar dan menarik ini, tetapi yang menggelitik hati adalah sebuah paduan yang mungkin agak jauh jikalau dipaksa padupadankan. Tapi ternyata ini malah menjadi sebuah sajian ciri khas yang menjadi trade mark kuliner sebuah provinsi di ujung Jawa.

Bagaimana tidak jauh, potongan buah nanas yang segar dan bengkoang dicampurkan dengan potongan tempe dan taoge plus daun kangkung di sandingkan dengan cingur atau potongan moncong daging hidung sapi atau kerbau dan akhirnya dikawinkan dengan kuah kacang yang menggugah selera.

Meskipun sekarang irisan daging hidung sapi atau kerbau tersebut lebih banyak diganti potongan kikil yang lebih mudah didapat di pasar – pasar. Tetapi memang penggabungan ini menurutku yaa… sebuah keunikan rasa tersendiri. Dari literatur yang ada, bahwa kuliner unik ini adalah perpaduan budaya jawa, tionghoa, arab dan madura.

Nah, pasti udah pada bisa nebak, nama sajian kuliner ini adalah RUJAK CINGUR.  Nama yang singkat dan langsung mengena, rujak sudah identik dengan irisan buah-buahan dan kuah sambalnya ditambah Cingur adalah moncing sapi/kerbaunya… tinggal bagaimana sensasi rasanya.

Jangan salah, rasa yang tersaji begitu nikmat menggoda karena perpaduan manis, asam, asin, kecut dan lembut serta segarnya berpadu sempurna. Pantesan banyak banget penggemarnya dan menyebar kemana-mana, tidak terkecuali ibu mertua.

Kenapa nggak ngebahas kuliner jabar aja?”

Aduh santuy bro, diriku menulis apa aja dan kebetulan kali ini ide hadir karena dihadapanku tersaji sebungkus Rujak Cingur yang menyegarkan. Kuliner di Jabar tentu banyak juga dan sudah banyak yang buat tulisannya. Sementara ini aneka rasa yang hadir menggoda mulut dan memberi ide untuk kembali merangkai kata.

Selamat menikmati makan siang yang segar dengan kuliner jatim yang lengkap unsur – unsurnya. Ada protein dari potongan kikil dan tempe, vitamin dan aneka mineral dari buah nanas dan bengkoang serta sayuran tauge dan kangkung plus karbohidratnya dari irisan kentang dan beberapa potong lontong, nyam nyam nyam.

Selamat menikmati makan siang ini dengan syukur tiada hingga kepada Allah Sang Maha Pencipta, Bismillah… (AKW).

V60 Arabica Papandayan & Ide-ide.

Sruput kopi sambil cari Ide.

CIMAHI, akwnulis.com. Menulis dengan kesendirian adalah sebuah perkawanan sejati, karena rasa bisa tercurah dalam jalinan kata yang mengandung makna. Mencoba mengalirkan ide yang berbuncah di dalam kepala, menuju aliran darah dan otot serabut sehingga menggerakkan jemari agar menari di atas keyboard smartphone kesayangan.

Mata jelas menjadi pembeda agar huruf yang tertulis terhindar dari typo ataupun salah penggunaan tanda baca. Meskipun kesalahan itu masih ada, karena kita adalah manusia tidak lufut… eh luput dari khilaf dan dosa.

Tapi, terkadang ide suka tiba-tiba hilang tertindas oleh pikiran lain yang hadir tanpa aba-aba. Sehingga jemaripun terpaku tak hasilkan secuil kata apalagi setumpuk kalimat. Inilah saat yang rentan dengan kondisi pentargetan dan deadline, alamak… gawaat.

“I need mood booster please”

Itulah sebuah bisikan yang membuat penasaran dan ternyata sebagai jalan keluar. Maka… cara terbaik adalah carilah sang mood booster yang dirindukan… yakni Kohitala (kopi hitam tanpa gula)… kopi mana kopiiii?…

Maka tanpa berlama-lama, sajian kopi arabica papandayan langsung diproses dengan metode manual brew V60… itu tuh yang corongnya mengerucut dan wajib pake kertas filter. Request diseduh oleh air panas 93° celcius kayaknya dituruti, karena hasil yang didapat ternyata tepat dengan selera. Yummy.

Setelah tersaji manual brew V60 kopi arabica papandayan. Langsung saja mulut menganga untuk bersiap menyeruput kenikmatan dunia dan berharap ide – ide segera hadir kembali untuk tuntaskan segala tugas yang memgelayuti hari – hari.

Srupuuttt…. hmmmm nikmatnya, acidity pas berpadu dengan body yang tidak terlalu pahit dilengkapi after taste buah cherry dan jeruk yang mengharumkan suasana.

Perlahan tapi pasti, kenikmatan menyeruak dan ide-ide meskipun malu-malu akhirnya hadir dengan beraneka celoteh kreasi dan harapan. Kopi disruput dan jemari lanjut mengetuk… eh mengetik. Menuangkan ide yang kembali hadir karena rangsangan maut si kopi hitam. Alhamdulillah.

Akhirnya jemari lanjut menari dan sang kopipun bergegas menunaikan tugas. Membuka kembali keengganan dan mendobrak kemalasan hingga akhirnya kesegaran datang dan ide-ide yang lahir terasa lebih rilex dan memberi keyakinan bahwa dibalik kerja keras perjuangan ada hasil akhir yang memukau. Selamat pagi Kawan, Wassalam (AKW).

Kopi Tubruk Curug Malela.

Sruput Kohitala di Pelataran Parkir Curug Malela.

KBB, akwnulis.com. Nafas masih turun naik dan kaki agak gemetaran disaat kembali menjejak bumi setelah 10 menit menikmati adrenalin  ber-roller coaster dibelakang boncengan Mamang ojeg lokal yang melahap jalan berliku, sempit, becek, menanjak dan samping kiri berdampingan dengan jurang cukup dalam.

Pulang dari mana?”

Sebuah tanya yang perlu diberi jawaban agar tidak penasaran. Ini adalah langkah praktis kepulangan dari lokasi objek wisata air terjun ‘mini niagara’ Curug Malela yang terletak di Kecamatan Rongga Kabupaten.Bandung Barat. Sebenarnya dengan berjalan kakipun cukup menantang dengan lika liku tanjakan terjal sepanjang 1,7 km. Tetapi manajemen waktu meminta percepatan, karena sore nanti sudah ditunggu meeting dengan bos dan stakeholder…

Ciee stakeholder.. maksudnya dengan para mitra atuh…. maka bertukarlah 40ribu rupiah dengan 10 menit dibonceng  Mamang ojeg yang penuh sensasi dan wajib pegangan, apalagi kalau waktunya bersamaan dengan hujan, pasti suasana naik ojegnya lebih menegangkan.

Tiba di lokasi parkir awal, sebenarnya warung nasi sudah menanti dengan menu liwet lengkap dan tentunya bakakak ayam. Wuih nikmatnya, tetapi apa mau dikata, tugas selanjutnya lebih utama. Terpaksa menolak secara halus, biar nanti rekan-rekan tim yang sedang mendaki berjalan kaki yang akan menikmati.

Tetapi sebelum pergi, sebuah kios kopi yang terlihat asri ternyata menarik hati. Terlihat di spanduknya, KOPI GUNUNGHALU. Segera kaki bergerak dan raga merapat, melihat suasana kafe yang sederhana tetapi bersih dan tertata. Berbagai pilihan kopi sudah tersedia di botol kaca yang bebaris menyambut pengunjung. Juga tersedia bean yang bisa dibawa pulang untuk di grinder di rumah maaing-maaing sesuai selera.

Kang pesen 1 ya, arabica gununghalu yang wine”
“Mangga kang, diantos”

Disini ada ketidaklengkapan perintah eh request, yang terbayang adalah prosesi seduh manual dengan menggunakan V60. Tetapi karena tidak terlisankan maka sang barista membuat kopi manualnya dengan cara ditubruk dengan air panas yang penuh gejolak. Padahal peralatan corong V60 dan filter kertasnya terlihat di depan mata.

Apa mau dikata, yang tersaji adalah kopi tubruk arabica gununghalu jenis wine… gpp lah yang penting kohitala (kopi hitam tanpa gula) dan seduh manual… bedanya… di cangkirnya nggak bersih, tapi penuh dengan serpihan – serpihan biji kopi yang berserakan setelah proses ekstraksi.

Berhubung waktu yang tersedia terbatas, ya sudah kita tunggu hasil trubrukan kopi ini agar segera dapat dinikmati…. 4-5 menitan sambil tak lupa ditiup dengan kemonyongan bibir maksimal.

Srupuut…. hmmm rasa panasnya nikmaat. Acidity strong hadir memberi rasa asam pekat yang melegakan, body relatif medium dan aftertastenya muncul fruitty dan keharuman manggo hadir meskipun tipis sekali. Over all kenikmatan terasa menyatu meskipun sedikit terganggu remah kopi yang memenuhi sudut bibir kanan kiri.

Sruput lagi….. srupuuut. Nikmaat, panas dan harum serta segar memenuhi tenggorokan dan menggairahkan raga.

Bicara pilihan, beberapa bean tersaji dari fullwash, honey, wine hingga yang lainnya dengan  basic tetap kopi arabica gununghalu.

Setelah tuntas segelas sajian panas kohitala berpindah tempat ke perut, dengan basa basi dan membayar sajian serta 3 bungkus bean arabica gununghalu aneka proses, maka pamitlah yang menjadi momen pemisah. Mungkin besok lusa bisa kembali bersua.

Selamat sore dan mengakhiri hari minggu ini dengan bersiap rapat online lagi yang tentu lebih tenang karena ditemani persediaan kopi dari tempat yang penuh cerita warna warni. Wassalam (AKW).

KOLAM RENANG & MOMENTUM.

Menangkap momentum memaknai kata.

Photo : Mentari pagi di Kolam renang Hotel Preanger / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah kesempatan terkadang hadir tanpa di duga, dan yang terbaik dari kesempatan yang hadir adalah menangkap kesempatan itu.

Emangnya bentuknya phisik bisa ditangkap?”

Jangan kaku kawan, menangkap di sini adalah melakukan tindakan sesuai momentum kesempatan yang ada”

Anggukan singkat menandai kesepahaman, jangan sampai kata ‘menangkap’ malah bermakna objek benda seperti bola atau piring, gelas, ballpoin, buku yang sedang beterbangan tertiup angin atau terlempar karena gerakan emosional… “Duh duh duh, siapa lempar siapa?”

Kalem saja, ini hanya istilah. Bukan berarti beterbangan pring dan gelas serta barang-barang lainnya. Tetapi bagaimana menangkap momentum yang hadir dalam kesempatan pertama.

Trus kamu sekarang nangkap momentum apa?”

Ah jadi pertanyaan terus, Gini deh jawabnya. Momentum yang ditangkap kali ini adalah mewujudkan janji kepada diri sendiri bahwa blog pribadi ini mengusung tema inti NGOPAY dan NGOJAY.

Nah tulisan ngopay alias ngopi sudah banyak, dan tulisan terakhir adalah KOPI KESEMPURNAAN.

Giliran tulisan tentang NGOJAYnya ini yang terkait dengan momentum. Bukan aktifitas berenang yang ingin ditampilkan, tetapi momentum hadirnya sang mentari pagi dan prosesi terbenamnya sang surya yang diabadikan melalui jepretan lensa kamera hape dengan suasana kolam renang, itulah momentum yang ada.

Photo : Senja di tepi kolam renang Hotel Preanger / Dokpri.

Jika mentari pagi menyeruak diantara gedung dan pepohonan merambatkan cahaya berpadu dengan kolam anak yang membulat dan seakan timbul, maka hadirlah keindahan.

Begitupun di sore hari dikala mentari siap menenggelamkan diri di balik gedung-gedung di sebelah barat Hotel Preanger. Maka semburat keindahan sore melengkapi ekspresi kolam renang dewasa yang terdiam tanpa kata.

Itulah tangkapan kamera dan sejumput olah kata, melengkapi makna menangkap momentum yang penuh makna. Selamat berkarya, Wassalam (AKW).

Kenangan Kesegaran – Trans Hotel Bdg

Menikmati kenangan…

Photo : Swimming pool Trans Hotel Bdg – siang / Dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Dalam gemericik air dan hempasan lembut di pasir putih, disanalah tersaji ketenangan sore ini. Meskipun sesaat tapi cukup memberi hiburan pada jiwa yang sedang merindu begitu hebat.

Panggilan menyegarkan dari permukaan air kolam terpaksa ditepiskan tanpa alasan yang bisa menjadi pembenar. Tapi terkadang dalam kehidupan, perlu menolak tanpa jelas alasannya. Ya tolak saja. Titik.

Meskipun sejumput analisis selalu membuntuti suatu tindakan. Begitupun kali ini, alasan sedang shaum peringkat pertama. Karena kalau jadi berenang, khawatir menelan air kolam dan membatalkan puasa yang sedang berjalan.

Dahulu, menu berenang di siang bolong pas ramadhan adalah keharusan sekaligus kehausan. Menjadi modus melepas dahaga tanpa terlihat manusia, padahal Tuhan tahu. Tapi itu kenakalan remaja. Sekarang sudah remako atau remaki*), sudah bukan saatnya lagi curi-curi minum air kolam renang hehehehe…. tahan dan tahan, maka tuntaslah puasa hari ini dengan kumandang adzan mahrib yang begitu dinanti.

Photo : Swimming pool Trans Hotel Bdg – malam / Dokpri.

Alasan kedua bisa saja bentuk badan yang sudah custom, “Tahu khan ukuran custom?”

Ukuran custom itu adalah ukuran tubuh yang hanya diketahui oleh Tuhan, pasangan dan tukang jahit. Biasanya kombinasi ukuran. Leher, bahu dan dada itu ukuran XL tetapi pas perut dan pinggang jadi 4XL. Turun ke Paha dan betis jadi XL lagiiii… wkwkwkwkw…..

Sebagai pelepas rindu bergejebur dan bercengkerama bersama kesegaranmu, maka dokumentasi photo dan video yang mewakili. Minimal meskipun tidak bersentuhan dalam keintiman alami, tetap punya arsip dan dokumentasi bahwa daku pernah kembali kesini.

Tidak lupa dikala senja berganti warna, menggelap dalam malam yang merona. Maka mengabadikan suasana kolam renang lantai tiga Trans Hotel Bandung ini menjadi fitur wajib, sebelum meninggalkannya dengan sejuta kenangan yang tak lekang oleh harapan.

Selamat malam kawan, mari menunda kesegaran tetapi kembali ke halaman mesjid untuk melengkapi ibadah di malam-malam terakhir ramadhan. Wassalam (AKW)

***

*)remako : remaja kolot dan remaki adalah remaja aki-aki.

Empon – empon.

Jam segini, kayaknya seger…. ups

Photo : Empon-empon penghangat raga / dokpri.

Tanjungsari, akwnulis.com. Tanjakan dan kelokan licin menjemput kehadiran langkah kali ini. Memang pendek jaraknya, tetapi dengan tanjakan dan 4 kelokan memberikan kesempatan raga melepaskan beberapa kalori yang dilengkapi dengan deru nafas yang sedikit tersengal.

Ternyata baru ditantang nanjak dikit aja udah repot, ketahuan banget nich nggak pernah olahraga ditambah berat badan yang ternyata stabil dikisaran nomor cantik 99,9kg upss…

Tapi tenang, semangat tetap membara dan tanjakan ini bukan halangan untuk hadir dan berkarya. Maka langkah beratpun terus dilakukan hingga tiba di tempat yang diharapkan, sudah ramai dengan berbagai keriuhan yang di kemas dengan nama Village Talk…. senangnya.

Village Talk sejatinya adalah program kerja Disparbud jabar terkait pemberdayaan masyarakat desa dalam memanfaatkan potensi wisata lokal, sementara dari sisi etimologi bahasa memiliki arti luas termasuk jikalau disambung-sambungin maka semakin luas maknanya.

Coba geura, Village Talk bisa diartikan berbincang atau diskusi di desa, berbicara tentang desa, di desa banyak bicara ataupun ngobrol tentang pemberdayaan ekonomi masyarakat desa di sektor pariwisata.  Mantabs khan?….

Apapun itu, sebuah ihtiar penguatan dan pemulihan ekonomi masyarakat sedang dilakukan dengan basis potensi wisata dalam wilayah desa atau kawasan yang lebih kecil sekaligus penguatan ekonomi kreatif demi memulihkan dan membangkitkan sektor pariwisata.

Sebuah catatan penting kali ini adalah sajian minuman khas dari salah satu stand warung di bazaar gantoeng yang begitu mempesona, minuman empon-empon.

Jikalau ditahun lalu sudah di promosikan bapak Presiden, maka kali ini bersua kembali dengan sajian minuman hangat di tempat yang eksotis. Berada di ketinggian yang dipenuhi udara segar serta pemandangan hamparan hijau yang mendamaikan perasaan.

Empon-empon adalah minuman jamu yang terdiri dari temulawak, jahe, kunyit dan rempah-rempah lainnya yang mengandung antioksidan, yang bisa menangkal radikal bebas, meningkatkan kebugaran dan daya tahan tubuh.

Apalagi di bulan ramadhan ini, cocok juga menjadi alternatif minuman berbuka puasa yang memghangatkan dan mendamaikan.

Photo : Secangkir empon-empon dan alam / dokpri.

Rasa pegal sisa menanjak sudah hilang, berganti dengan kesegaran yang dihadirkan oleh 3 cangkir empon – empon….

Selamat berpuasa dan mari kita jaga kebugaran dan daya tahan tubuh kita. Wassalam (AKW).

Kolam Renang Luxton Cirebon.

Sesaat menikmati temaram kesegaran…

CIREBON, akwnulis.com. Terdiam dalam temaram sambil merenungi sebuah kenyataan ternyata bisa menghadirkan sejumput rasa nyaman. Kegalauan yang mendera bisa berangsur mereda karena dibelai oleh desau angin malam yang tanpa beban masa lalu.

Photo : Swimming poll Luxton Cirebon / dokpri.

Ada sebuah keinginan untuk membuka helai pakaian dan bercengkerama dengan kesegaran air kolam renang. Tetapi apa mau dikata ternyata jam operasionalnya yang membatasi perjumpaan ini.

Jadi cukup mematung dan menyerap energi malam sambil tiduran diatas rangkaian rotan berbentuk kursi santai. Terasa tulang punggung relax dan dapat berisirahat setelah seharian menopang pergerakan raga yang tak henti mengerjakan bejibun aktifitas.

Area kolam renang ini terletak di lantai 5 Hotel Luxton Cirebon, sebuah kolam renang berbentuk dinamis karena berlekuk dan multifungsi. Selain bisa untuk berenang juga merupakan tempat bersantai sambil menikmati sajian minuman hangat.

Ada kolam renang dewasa dengan kedalaman 1,5 meter dan dibatasi tangga melengkung tersedia juga kolam renang anak, lebih aman karena dengan pembatas yang jelas. Tetapi tetap pengawasan orang dewasa menjadi kewajiban. Karena bagi anak kecil, dalamnya kolam dewasa itu sangat berbahaya seperti dalamnya keinginan dan permintaanmu dikala ditanyakan tentang apa yang kamu mau. Terpaksa mundur teratur tanpa banyak gaya.

Ah kok jadi nglantur ya?…. musti ngopi dulu klo model gini mah. Tapi suasana sekarang, hasrat nongki – nongki terpaksa harus ketat kendali karena secara nyata kita semua belum terbebas dari pandemi.

Photo : Suasana Siang hari / dokpri.

Jadi puaskan diri dulu dengan memandang air kolam yang mulai temaram serta langit kota Cirebon yang mulai ceria ditemani sang bintang. Selamat malam, Wassalam. (AKW).

TEH GELANG

Menikmati kesegaran alami…

CIATER, akwnulis.com. Dikala jiwa berontak untuk segera beredar menapaki jejak jejak kehidupan, sebersit rasa di ujung hati masih meragu karena pandemi. Apakah sudah aman diluar sana?… sebuah tanya yang menggelantung diatas langit keinginan.

Photo : Teh Gelang & Prosesnya / dokpri.

Detik waktu terus menderu mengitari permukaan jam dinding yang setia nemplok ditempatnya. Sementara hati ini masih dilema, antara berangkat dan tidak. Juga antara diijinkan atau tidak.

Lha emang pake ijin?”

Harus atuh, selama masih menjadi anak buah dan belum jadi bapak atau ibu buah tentu selalu ada atasan diatas. Maka mekanisme ijin adalah protap yang menjadikan perjalanan kedinasan ini tepat dan sesuai dengan kehendak semua vihak eh pihak.

Sebuah kata datang melalui pesan whatsapps, ‘OKEY’…. wuiiih senangnya. Ijin sudah ACC, eh tapi aman nggak ya diluar sana?…

Bismillah we ah…. Kuy ah.

Keraguan masih menggelayuti hati, tetapi minimal persiapan prokes menjadi andalan. Masker cadangan, 1 liter handsanitizer dan sabun cair untuk cuci tangan sama sapu tangan segitiga warna pink pemberian seseorang yang pernah hadir penuh pengharapan… uhuuy.

Cuss……

Bergeraklah raga menembus kelokan dago atas yang menjadi jalan pintas, hingga tepat melewati batas kota dan menghambur menuju perkebunan teh yang menghiasi lereng alami gunung tangkuban perahu.

Nah setibanya diperbatasan Bandung dan Kabupaten Subang, ada rasa ingin sebentar mampir demi melihat tempat baru yang masih sepi. Entah karena memang masih pagi atau karena pandemi, yang pasti kursi-kursi masih kosong minim terisi.

Disinilah bersua dengan sajian teh segar yang diproses betul-betul fresh. Jelas sekali daun teh yang diambil adalah teh yang tumbuh segar dihamparan di depan mata. Lalu dipilih dengan tangan tangan terampil dan…. di masukin wajah untuk dimasak… lha dimasak.. maksudnya dilayukan… katanya sih supaya pori-pori daun tehnya terbuka sehingga si rasa dalam daun teh bisa keluar menyapa semesta.

Setelah itu diangkat dan disimpan diatas nyiru untuk selanjutnya digelang, atau diremas remas dengan jari tangan khususnya dengan telapak tangan…. ini yang membuat hadirnya nama TEH GELANG.

Bukan teh gelang, seperti gelang di lengan. Tetapi Gelang seperti penyebutan ‘Lele‘.. artinya diremas dengan kedua tangan dan penekanan oleh telapak tangan dibantu jari jemari…. nikmaat

….klo dipaksain… bisa pake lagu…

Gelang sipatu gelang….. “ silahkan teruskan.

Nahh….. dari sinilah sebuah seduhan teh alami yang hadir dengan gelas tinggi. Menyebarkan aroma kesegaran tiada tara. TEH GELANG namanya.

Photo : Straberry / dokpri.

Sungguh sebuah kombinasi suasana dan rasa yang tiada tara, disempurnakan dengan kumpulan strawberry merah merona yang membuat semakin terpana karena begitu banyak nikmat Illahi yang hadir dengan segala kemudahannya.

Meskipun tetap waspada dikala ada pengunjung lain yang menyapa dan duduk mendekati area meja, maka masker musti kembali terpasang dan semprotkan handsanitizer di tangan demi sebuah ketenangan. Selamat DL tipis tipis kawan. Wassalam (AKW).

SENJA PENUH WARNA

Sebuah makna di ujung senja.

Photo : Senja penuh warna / dokpri.

SAGULING, akwnulis.com. Bergerak menuju ke ujung janji sambil menyapa semilir angin sore yang berkejaran dengan senangnya. Betapa sang waktu terkadang sering menggoda antara digunakan untuk keluarga atau ternyata harus bekerja. Tapi itulah dinamika, jalani dan hadapi dengan semangat dan ceria.

Sore hampir tiba dikala raga sudah berada di ujung jalan yang di setting dengan beberapa tenda. Tenda yang mulai diisi oleh berbagai persiapan untuk sebuah kesuksesan acara.

Nah sambil mengisi waktu dan mengamati segala persiapan, saatnya hunting dengan keindahan suasana. Menikmati dan tasyakur dengan lukisan alam ciptaan Allah yang mempesona.

Diawali dengan kemegahan lobby gedung dengan lampu-lampu yang mulai menyala. Dilanjutkan dengan memandang takjub lukisan senja yang hadir tiada tara

Photo : Gedung megah di sore ceria/dokpri.

Bukan hanya warna kuning atau merah saja yang sering menjadi gambaran senja. Tetapi begitu lengkap dengan warna ungu, biru, hitam, putih dan hijau didukung oleh kelengkapan lanscape yang saling menguatkan.

Permukaan air danau memberikan efek pantulan, rumput-rumput tinggi berbaris rapih dalam keteduhan serta gradasi langit yang jarang bisa hadir bareng antara biru muda, biru tua, ungu, merah, putih dan magenta… betapa indahnya ciptaan tuhan. Alhamdulilahirobbil alamin.

Meskipun angin malam mulai menerpa, tetapi raga tak bergeming demi menikmati suasana penuh makna. Menghitung batas warna dengan mata telanjang yang mungkin penuh dosa, tetapi semakin menambah makna betapa manusia itu tiada daya upaya didalam cengkeraman kekuasaan-NYA.

Photo : Senja menggoda / dokpri.

Selamat memaknai suasana sambil ikut mendukung persiapan sebuah acara yang akan terlaksana esok hari penuh warna. Wassalam (AKW).

Kamu Lucu tapi Geli

Ah… Kamu lucuuuu…

KBB, akwnulis.com. Bersua dengan kamu memang tanpa sengaja, tetapi kerling mata dan gesture tubuh indahmu mendadak mempesona.

Photo : Taman mini bingit / dokpri.

Tak bisa mata lepas dari gemulainya, padahal jelas kamu bukan siapa-siapa.

Mencoba menahan diri untuk terdiam dan seolah tak peduli, tetapi tarikan keinginan begitu kuat untuk mendekatimu. Merasakan dan melihat lebih rinci tentang segala keindahanmu. Dilihat dan diamati seksama setiap senti tubuhmu yang mewakili betapa Maha Besarnya Illahi. Menciptakan mahluk indah yang begitu rinci dan seksi.

Tapi, setelah begitu dekat denganmu. Barulah disadari bahwa ada gelitik geli dalam hati melihat bulu halusmu dan berbagai sudut tubuhmu yang meruncing dan menghadirkan kegarangan dalam kelembutan.

Terpaksa  akhirnya menahan diri dan harus memastikan bahwa kehadiran dalam pertemuan ini harus tetapi menjaga jarak menghindari persentuhan dan menjaga perasaan.

Photo : Lucu tapi geli / dokpri.

Karena jika tidak, maka kemungkinan rasa kegelian menyebar dan mungkin ditambah panas dan gatal yang tak berkesudahan.

Selamat menghiasi taman kehidupanku dengan kehadiranmu yang lucu imut meskipun menyimpan rasa geli dan kemungkinan menyebarkan kegatalan hakiki. Ternyata keindahan akan terpancar manakala dilihat dan diamati saja, karena jika diraba maka tanggung sendiri akibatnya.

Happy wiken kawan, Wassalam (AKW).