Kopi Klotok Jogja

Menikmati Kopi Klotok di tempatnya.

SLEMAN, akwnulis.com. Mentari masih bersembunyi dibalik semburat janji, tetapi cahaya terangnya sudah mulai merata di seantero kota yang selalu ngangenin untuk dijambangi.

Maka meskipun lelah masih sedikit tersisa setelah menjalani 6,5 jam duduk di gerbong 11D KA Mutiara Selatan tetapi semangat menikmati kenangan di kota gudeg adalah kewajiban heuheuheu sebelum jam 10 pagi harus bergabung pada sebuah meeting resmi yang tentu penuh seremoni.

Maka bermodalkan cerita testimoni dan ulasan yang bertebaran di laman google dan medsos maka diputuskan untuk sarapan di tempat yang sudah buka tentunya dan berlabel ‘kopi’.

Sungguh bersyukur setelah 2 tahun terdiam dan terkungkung keterbatasan karena PPKM dan berbagai istilah lainnya. Kali ini pecah telor dan bisa piknik lagi luar kota…. eh kerja lagi luar kota.

Setelah survey super singkat dilengkapi dengan perenungan (karena masih ngantuk maksudnya 🙂 )… maka dipilih Warung Kopi klothok yang lokasinya menuju utara kota yogya dan cukup jauh, memakan waktu perjalanan 35 menit.. lumayan juga. Tapi keburu ah, lagian di google disebutkan jam 07.00 wib udah buka kok, trus yang lebih penting adalah memiliki tempat makan dengan alam terbuka. Ini menjadi prasyarat pribadi karena masih khawatir atau waspada dengan kerumunan. Apalagi makan minum, dipastikan semua buka masker… ya khan?

***

Dibenak ini yang terbayang awalnya adalah sajian kopi asli yang bernilai tradisional dengan metode manual brew model kopi tubruk dan menghasilkan rasa yang bisa terbagi dari sisi body, acidity dan after taste.

Semangaat, berangkaaat… Bismillah.

Sambil raga bergerak menuju titik tujuan, iseng lagi buka google, ternyata banyak yang namanya kopi klothok hanya saja yang sudah buka sejak pagi adalah warung kopi klothok yang sedang dituju ini yaitu yang terletak di Jalan Kaliurang KM16 Pakem Binangun – Sleman.

Setelah 37 menit perjalanan, maka tibalah di sebuah tempat yang disebut Warung Kopi Klothok jogja ini… walah sudah penuh parkiran.. berarti banyak yang datang nich.

Cusss… ah.

Oh iya untuk cerita tentang makanannya nanti di tulisan selanjutnya. Sekarang mah urusan kopi dulu… kopi klothok.. eh kopi klotok… kelebihan huruf H… tapi ada juga yang nulis pake h.. ya sudahlah terserah.

Ternyata kawan, setelah interogasi halus dan penuh kelembutan maka didapat sebuah kesimpulan bahwa kopi klotok ini adalah lebih kepada merk bukan sajian kopi manual brew yang terbayang tadi di kepala.

Tapi tidak mengapa karena tergantikan oleh vibes yang mendamaikan suasan hati dan sajian kuliner yang memiliki nilai tersendiri (ntar ulasannya ya).

Kopi klotok ini adalah sebuah sajian kopi biasa yang dimasak dengan air panas dan gula dengan bahan dasar bubuk kopi. Nah pada saat dipanaskan airnya dan mendidik maka terdengar suara klotok klotok yang khas dan itulah yang menjadikan nama kopi klotok.

Bicara rasa tentu adalah kopi gula panas biasa, tidak bisa menilai tentang bodi – acidity – dan after tastenya. Tetapi yang menarik adalah suasana alami dengan meja kursi kayu masa lalu ataupun mau lesehan bertikar di halaman bersama keluarga sambil menikmati pemadangan gunung merapi.

Sebagai teman nyruput kopi maka dipesan juga sepiring goreng pisang dan ketan goreng agar melengkapi sarapan pagi ini.

Sruputtt…. hmmm nikmaat.

Selamat pagi, salam dari Jogja. Wassalam (AKW).

Panna cotta.

Lembut tapi sayang..

BANDUNG B, akwnulis.com. Sebuah sajian makanan penutup yang hadir dengan sebuah keindahan. Namanya panna cotta, sebuah pudding asal italia yang bertekstur lembut dan lumer di mulut.

Hanya saja, dengan segala kelembutannya menghadirkan rasa enggan untuk menyantapnya. Sayang sekali jika keindahannya terlukai oleh nafsu ingin menikmati.

Lalu dengan ukuran mungil ini bisa menimbulkan ganggarateun alias nanggung. Kenyang enggak, lapar iya. Harap maklum kana perutnya tipe buldoser, jadi pudding italia ini akan cepat menghilang di mulut yang kelaparan.

Tapi tentu dengan keindahannya bisa menjadi media rayuan maut yang dapat melumerkan hati pasangan karena tekstur, keindahan sekaligus harga hehehehehe…. klo nggak kenyang, tinggal geser ke warung padang sebelah atau bakso pinggir jalan.

Dilema hadir menyapa, tetapi keputusan harus tertata. Malah hanya 2 kali menyendok maka habislah puding lembut putih bersih bertoping strawberry syrup dan ditemani setangkai daun mint. Nyam nyam, yuk ah. Wassalam (AKW)

Love & latte

Sejumput cinta tanpa raga.

BANDUNG, akwnulis.com. Kehadiran diri untuk menikmati secangkir kopi di pagi hari tak tertahan lagi. Maka segera bergegas memandang kanan kiri mencari kedai kopi yang mungkin sudah pantas untuk dijambangi.

Ternyata gayung bersambut dengan beberapa pilihan kedai dan cafe. Asyiik.

Order V60 ya”

Maaf kakak, V60nya belum ready”

Ugh.. sebuah pukulan tanpa raga terasa menyentuh dada. Menyelinap sedikit kecewa.

Ini beannya dan corong V60 ada mas?” Sebuah tanya memberondong sang pelayan yang memandang iba.

Beannya ada, cuma kertas filternya habis kak, maaf ya”

Oalaah ternyata selembar kertas yang menjadi masalahnya. Tetapi kalau dipaksa dengan kertas koran mungkin bisa jadi sajian kohitala, tetapi akan tercampur dengan lunturan berita yang sudah kehilangan makna.

Demi sebuah perjuangan rasa, akhirnya berdamai dengan menu yang ada dan menjatuhkan pilihan pada cafelatte no sugar.

***

Tak lama kemudian, datanglah segelas latte dengan siluet hati di permukaannya. Seolah memberi kejutan bahwa ada ungkapan cinta disana. Padahal memang tarikan yang paling mudah dalam penuangan latte ke gelas adalah menghasilkan siluet gambar heart perlambang cinta.

Jikalau tidak percaya, request aja ke baristanya bahwa pesan latte dengan siluet gambar permukaannya kelenci… eh kelinci (rabbit) maksudnya… dijamin sang barista ampun-ampunan.

Sudahlah nggak usah kecewa dengan ketidakhadiran kohitala V60, mari seruput sajian ini, segelas latte dengan permukaan siluet cinta. Selamat pagiii… Wassalam (AKW).

Kemalasanmu begitu menggemaskan.

Tapi sangat sukaaaa….

CIKUTRA, akwnulis.com. Pagi masih sendu dikala bersua dengan kemalasanmu. Tetapi sentuhan kelembutan akhirnya meluluhkan sebuah niat untuk menjauh, malah kembali dekat dan penasaran dengan segala tindak.

Kerlip mata sayumu menyiratkan kemalasan, tetapi itulah daya tarikmu. Disaat kedua mata tertutup dan dagu menempel beralaskan kedua tangan, terlihat betapa nikmatnya menjalani kehidupan.

Saat sebuah tanya meluncur, “Apa kabar kawan?”

Baik Kaka”

Nikmat sekali dikau merem melek di pagi hari”

Dikau menjawab sambil tersenyum membuas, “Ini hiburan termurah dan termudahku kawan, ngantuk ya tinggal bobo, setujukan?”

Sebuah anggukan dan sedikit senyum kepasrahan harus ditampilkan, demi menjaga mood di pagi sendu ini kawan.

Trus selain bobo, apa lagi hiburan mu?” Rangkaian kata muncul karena penasaran.

Ini hiburan selanjutnya” gitu jawabannya sambil memperlihatkan keller kaca berisi bean arabica gayo fullwash yang tinggal sepertiga.

Buset, ternyata penyuka kopi juga. Cocok dong. Akhirnya sambil merem melek tetap berbincang dan dikenalkan sama Kak Firda, Barista Kopi Kitaku.

Munculllah urusan teknis manual brew, diawali dengan panas air seduhan 92° celcius, 15 gram beannya hingga komposisi dan posisi badan pas nyeduh bean agar berekstraksi sempurna…. Yummy… ternyata menikmati proses juga menyenangkan kawan.

Akhirnya sebuah sajian manual brew V60 hadir memenuhi ruang dahaga pagi ini. Disruput perlahan sambil tetap memantau sesosok mahluk malas yang sangat menggemaskan.

Selamat minum kawan.

Selamat menikmati hiburan paling sederhanamu sekaligus bagaimana menikmati sebuah proses yang berujung kenikmatana juga. Alhamdulillah… srupuut. Wassalam (AKW).

Kopi Jagapati vs Bubur Mang Oyo.

Nikmati kopi sambil sarapan pagi.. Yummy.

BANDUNG, akwnulis.com. Menikmati secangkir kopi bisa hadirkan inspirasi, termasuk membantu hati menjaga mood dalam menjalani hari ke hari. Maka ekplorasi tempat – tempat yang menyajikan kopi adalah sebuah haraoan tersendiri. Apalagi aturan sudah dibolehkan meskipun tetap dengan prokes yang ketat.

Tapi, untuk penyajian kopi dengan manual brew V60 musti dikeceng dulu. Karena mayoritas cafe kopi itu yang laku adalah minuman less coffee full sugar and milk… jadi keceng dulu.

Kedua, dilihat kondisi kerumunan. Jika banyak orang dan tentu mayoritas nggak kenal. Agak parno juga karena aku teh yakin si covid19 masih gentayangan dan sukaaa banget berada di kerumunan… kumaha atuh?

Ya demi keamanan diri, carilah tempat warung atau cafe outdoor yang nggak bejubel orang… malah klo moo sepi banget mah datangnya shubuh.. dijamin kosong tuh tempat.. hanya saja masih di gembok da belum buka hehehehe.

Nah, sekarang pas lewat dari belokan jalan trunojoyo ke kiri… klo nggak salah jalan Sultan Ageng Tirtayasa deh. Judulnya kebetulan tapi sambil dilihat-lihat juga…. adaaa… nama cafenya sih Bubur Mang Oyo tapi ada juga sajian kopi.

Lha nggak puguh ini teh, nyari kopi atau mau sarapan sih?”

Aduh ampyun protes mulu, ikutin aja dulu cerita.. sabaar gitu lho.

Tempatnya enak bisa sambil berjemur di pagi hari dan menikmati sarapan bubur ayam. Tapi khan aku mah cari kopi, maka yang dipesan adalah kopi hitam tanpa gula.

Sambil pesen kopi, iseng nanya sang pelayan, “Kopinya kopi apa kang?”

Kopinya kopi Jagapati Gan”

Weits, eta namanya kereen… jadi penasaran dengan rasanya.

***

Hadirlah sebejana kopi hitam tanpa gula ditemani gelas sloki bening, memberi harapan kedamaian dan tentunya mewujudkan kenikmatan.

Sebelum dinikmati, tentu di dokumentasikan dulu.

Nah dokumentasi pertama di area dalam dengan latar belakang buku-buku perpustakaan, sehingga minum kopi disini bisa nambah wawasan… kalau yang mau baca buku-bukunya. Klo yang cuman bengong doang sih… yaa tetep aja before after nggak nambah pinter.

Dokumentasi kedua di lokasi outdoornya dimana cirinya adalah mejanya dari besi dan bolong-bolong. Jadi bagi yang pobhia sesuatu bolong-bolong atau ruang berongga atau lubang yang dikenal dengan istilah Tryphopobhia, jangan maksain kesinih.

Tapi ketang tergantung, klo suasana asik – asik aja mah, seneng atuh kongkow disini. Oh iya menu utama sarapannya udah pasti bubur ayam Mang Oyo tea.

Jadi dokumentasi photo bubur ayam lengkappun harus hadir agar tidak penasaran, masa nggak ada photo buburnya… monggo dipasang di akhir tulisan ini yaa… cekidot.

Bicara rasa kopi jagapati ini relatif standar dan kohitala manual brew V60nya biasa aja. Sebagai pelengkap setelah selesai makan bubur pas juga hehehe… yang pasti vibesnya oke. Bisa sarapan, bisa kongkow dan sedikit berdamai dengan kenyataan. Selamat weekend kawan, Wassalam. (AKW).

KEHANGATAN MINT TEA & KERENYAHAN LUMPIA.

Menikmati kebersamaan…

BANDUNG, akwnulis.com. Semburat senyum berpendar menerangi siang yang riang, untaian kata dan derai tawa menjadi sensasi rasa yang saling melengkapi. Memberikan segudang arti bahwa pertemuan ini ternyata sudah lama di nanti.

Aneka cerita berhamburan diselingi kunyahan geraham yang ternyata begitu rindu untuk menikmati sajian makanan ringan di luar rumah, tentu bersamamu.

Setelah sekian lama di sekat keterbatasan gerak serta bertubi tugas bagai air bah yang tak suka berhenti sesaat. Kali ini momentum itu hadir atas ijin Allah Sang Maha Penguasa.

Saling bertatapan tanpa bicarapun bisa berakhir dengan senyuman dan sejumput tawa. Karena ternyata sang mata bisa berbicara, mengeluarkan harapan dan keinginan yang terpendam begitu lama.

Pipi yang lembut di saput bedak tipis plus seulas lipstik, semakin memancarkan auramu yang begitu mempesona. Sebuah momentum kongkow sore yang sempurna.

“I love u, my Darling”

Meskipun dibatasi waktu, tetapi kebersamaan ini memberikan arti tersendiri. Melengkapi kembali rasa kasih sayang yang harus di pupuk dan di jaga selamanya.

Sebagai teman berbincang dan bercengkerama maka sajian marakesh mint tea dan lumpia tersaji dengan segala kenikmatan rasa.

Menu lainnya sengaja di skip karena telanjur dinikmati tanpa sempat melakukan dokumentasi, khan tidak elok jika ditampilkan piring kosong dan mangkuk kosong serta kotor ditambah isinya sisa – sisa perjuangan.

Yang pasti kesegaran mint tea mewakili kehangatan pertemuan kami dan kerenyahan lumpia adalah keceriaan dalam momentum saling berbagi cerita serta menghayal untuk rajutan kehidupan masa depan. Wassalam (AKW).

Piknik tivis tivis…

Menikmati setitik piknik, meskipun…

BANDUNG, akwnulis.com. Terpaku menatap keindahan alam yang membentang memanjakan mata. Begitu indah dan menentramkan. Lansekap dataran tinggi bandung utara hingga menyentuh kota Bandung yang penuh hinggar bingar optimisme.

Tarikan nafas begitu lega, dikala saluran pernafasan bercengkerama dengan udara segar milik tuhan yang tidak ternilai, kembali rasa syukur adalah kewajiban, betapa banyak nikmat Allah yang sering kita lupakan.

Apakah ini rehat sejenak dari rutinitas atau hanya sebuah hayalan tingkat tinggi akibat nggak bisa piknik dimasa PPKM darurat?”

Hehehe hampir beririsan pendapat itu, tetapi yang pasti kali ini masih dalam posisi bekerja dan kebetulan lokasi rapatnya di bandung utara. Maka udara segar begitu mudah didapat, meskipun protokol kesehatan tetap ketat.

Penggunaan QR code aplikasi lindungi sebagai pembuka untuk bisa memasuki area, dilanjutkan swab antigen sebagai bentuk kewaspadaan karena pandemi covid19 masih ada. Untuk penggunaan hand sanitizer dan masker jangan dibahas lagi, ini sudah given, wajib hukumnya. Dengan semangat optimisme adalah agar kita terhindar dari virus covid19 sekaligus menghindari sebagai penular kepada orang lain ataupun keluarga tercinta.

Nah dikala waktu istirahat tiba, maka mencari tempat private di ujung resto sambil menikmati sajian dari panitia, memberikan sensasi rasa berbeda sekian purnama tak pernah nongki-nongki atas nama bahagia.

Sajian yang dipilih kembali kepada tema utama yaitu ngopay dan ngojay…. eh salah ngopay dan salad.

Pertama untuk memgobati kehausan atas piknik dan wisata lainnya adalah sajian kopi hitam tanpa gula dengan seduhan manual menggunakan V60, bean yang dipilih kali ini adalah manglayang wine nectar. Sebuah pilihan tepat karena menyajikan sensasi rasa lengkap. Acidity jelas begitu ‘menggigit’ sejak seruputan pertama dan ninggal di ujung lidah serta di ujung kenangan. Body medium dan after tastenya bikin damai, paduan fruity dan tamarind serta cocoa hadir selintas menemani keceriaan kali ini.

Kedua adalah sajian utama eh atau pendukung ya?.. thai salad. Yach pokoknya saling mendukung aja deh. Sajian makanan sehat yang dilengkapi potongan daging sapi yang empuk dan memanjakan lidah. Apalagi saus khasnya begitu menggoyang lidah dan membuat selera makan semakin membuncah….. yummy.

Perpaduan inilah yang menjadi momentum syukur berkelanjutan. Kegiatan meeting bisa diikuti diawali dengan rangkaian testing antigen dan aplikasi peduli lindungi ditutup dengan piknik tivis – tivis di kala makan siang ditemani sajian kopi kohitala dan salad penggugah selera, Alhamdulillah.

Pak maaf, ditunggu di ruangan, acara sudah mau mulai lagi”

Sebuah suara sendu membubarkan piknik tipis-tipis kali ini. Segera anggukan kepala dan bergegas… eh sruput dulu sisa kopi yang ada dan sikat habis salad yang juga tersisa.. nyam nyam nyam… yuk ah meeting lagi. Wassalam (AKW).

OBAT GALAU DI TERAS KIARA

Lagi galau?… obati dengan Ngopay.

V60 arabica manglayang / dokpri.

KIARAPAYUNG, akwnulis.com. Sebuah rasa berbeda yang hadir tiba-tiba, menyusup dibawah raga dan menyentuh pinggiran hati tanpa banyak tanya. Disitulah hadir rasa khawatir ditambah sejumput kebingungan.

Tapi kenapa?”

Sebaik kata tanya yang berbahaya, karena untuk memperbaiki dan menyembuhkan sesuatu memiliki syarat utama. Syaratnya adalah kejujuran.

Coba renungkan, dikala kita butuh solusi masalah kesehatan, maka diskusi dengan dokter adalah kejujuran dan keterbukaan. Setelah itu dilakukan pemeriksaan phisik, barulah bisa dihadirkan resep dan akhirnya treatment obat atau tindakan yang diperlukan.

Begitupun jikalau jiwa kita yang ‘sakit’, maka perlu sesi diskusi yang dilandasi kejujuran dan keterbukaan. Lalu proses terapi baik dengan dokter jiwa ataupun psikolog, barulah tindakan atau resep obat kembali dihadirkan dengan berbagai cara minum yang penuh keteraturan.

Teras Kiara / dokpri.

Nah, kali ini kebimbangan hadir tanpa sebab yang jelas. Wah lebih berbahaya nich. Harus segera ditenangkan dengan terapi khusus penuh kenikmatan.

Maka tanpa membuang waktu dan menyia-nyiakan kesempatan, pada kesempatan pertama segera bergerak memutar arah dan menantang kondisi jalan berbeda dari seharusnya. Termasuk berjuang dalam ajrug-ajrugan karena jalan agak hancur dilewati truk – truk besar yang hilir mudik ditengah debu tanah yang beterbangan.

Ada usaha dengan semprotan air membasahi jalan, tetapi terlihat tak kuasa melawan debu-debu tanah yang menari riang bersama deru kendaraan besar.

Alhamdulillah setelah melewati jalan berdebu, maka tak jauh lagi lokasi terapi bathin akan dicapai… ahaaay… sabaar.

Namanya Teras Kiara, sebuah cafe asri yang bersih dan aman dari hinggar bingar keduniawian. Kebetulan pengunjung sedang tidak ada, maka leluasa memilih tempat dan mengambil spot photo serta meminta obat galau yang sangat manjur.

Apakah obatnya?”

Obatnya adalah sajian V60 arabica manglayang yang dibuat oleh Aris/Teguh sang barista. Tangan terampil an kedisiplinan pada tahapan manual brewnya menghadirkan sajian sederhana dengan rasa yang tidak sederhana. 15 gram bean arabica manglayang diproses hingga hadirkan sajian kohitala dengan body medium, acidity medium dan aftertastenya selain dark coklat juga selarik kesegaran mentimun dan mint menenangkan rasa yang galau plus kembali semangat menjalani kehidupan.

Semerbak harum aroma kopi manglayang menenangkan perasaan yang sedang gundah gulana karena suatu sebab yang tak jelas ditambah rasa yang mendamaikan. Itulah obat galau dalam sebuah kehidupan.

Jus mangga teras kiara / dokpri.

Tak lupa untuk melengkapi kehadiran kohitala si obat galau ada juga dokumentasi sajian jus mangga yang dipesan seorang rekan yang memang butuh juga kesegaran versi yang bersangkutan.

Happy weekend kawan. Wassalam (AKW).

SALAD Merdeka..

Maksi & Teriak merdeka.

BDG, akwnulis.com. Semarak semangat kemerdekaan menggema di seantero nusantara dan inilah momentum kebersamaan untuk bahu membahu di masa prihatin ini.

Begitupun perayaan HUT RI ke 76 ini adalah tahun kedua di masa pandemi. Maka acara upacara formal, segala permainan dalam kemeriahan plus kerumunan harus diubah dalam format berbeda.

Yang penting kemeriahan tetap terasa dan rasa patriotisme tetap membara. Betapa kemerdekaan ini diraih dengan segala pengorbanan pejuang bangsa, sudah kewajiban kita untuk mengisi dan menjaga kemerdekaan ini tetap abadi.

Begitupun dengan menu makan siang kali ini, harus senada dengan semangat merah putih. Maka penyesuaian segera dilakukan dan aksesoris pendukung yaitu masker merah putih bertuliskan 76 tahun RI menemani sajian sehat ini.

Nyam.. nyam.
MERDEKA. (17/08/21)

Sisa – sisa salad merdeka / dokpri.

Gambar kedua adalah dokumentasi sisa salad yang hampir habis dinikmati. Sebelum tandas, photo dulu. #cekrek.  Wassalam (AKW).

HIDUP & MATI

Duh, Betapa bertubi-tubi… Tabah semua ya.

LEMBANG, akwnulis.com. Bismillahirohmaniirohim,
Tiada saat kita bisa sedikit menghela nafas, dikala begitu banyak berita duka hadir menghampiri kita. Di media sosial sudah jelas informasi yang tersaji, di WA grup, Facebook, Twitter, Telegram, Line dan sebagainya, semuanya seragam… berita duka, cerita kehilangan orang-orang tercinta untuk kembali dipanggil pulang oleh Allah Sang Pencipta.

Yang menjadi keterhenyakan adalah bertubinya berita, dan terasa begitu dekat menghimpit nalar kita. Ucapan duka cita, belasungkawa ataupun template stiker bertuliskan ‘Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun” serta ketikan mendadak yang dihadirkan demi memberikan kata-kata penguat semangat ketabahan dan kehormatan bagi keluarga yang ditinggalkan dan tentunya kiriman doa semoga almarhum almarhumah husnul hotimah.

Karangan bunga duka cita sekarang berseliweran untuk hadir sesaat sebagai bukti ikut peduli dan merasakan duka lara yang terjadi. Sebagai wakil raga yang tak bisa datang secara nyata karena pandemi memghalanginya.

Saking banyaknya berita duka setiap hari, terkadang kitapun terlewati untuk mengetik chat atau comment dalam rangka ungkapan dukacita, atau paling simpel dengan template stiker. Apalagi menelepon keluarga inti untuk berlisan secara langsung.

Jadi sekarang kembali kesadaran, kesabaran dan ketabahan kita semua diuji lahir batin. Satu sisi kita ikut atau (diharapkan) ikut untuk mengekpresikan rasa simpati kepada keluarga, kolega dan mitra yang ditinggalkan tapi di sisi lain harus waspada karena perang kali ini menghadapi musuh tak kasat mana yang bisa menyerang siapa saja, kapan saja dikala abai protokol kesehatan… itu secara phisik.

Secara psikis spritual, kita tebalkan keyakinan masing-masing dengan berbekal rasa takut dan khawatir yang semakin hari semakin menjadi. Mendekatkan diri kepala Illahi Rabb adalah hal utama kali ini dan tentu didukung penuh dengan ihtiar lahiriah yaitu utamakan protokol keshatan yang sudah digembar gemborkan.

Maka jikalau memiliki luang, ekspresikan keduakaan, kepedulian, keprihatinan dalam untaian kata lisan via telepon, tuliskan dalam status, coment  dan kata2 di medsos atau stiker belasungkawa atau minimal sepucuk doa yang hadir di hati kita. Jikalau ternyata tidak menyampaikan ucapan keprihatunan di grup WA, bukan berarti tidak peduli, mungkin saja memang sedang sama-sama berduka.

Karangan bunga bisa menjadi media penyambung duka, ataupun dukungan dana meskipun terbatas tapi mungkin bisa membantu semangat ketabahan. Kalaupun tidak, tak mengapa, seuntai doa yang tulus menjadi bekal bagi semuanya.

Hal yang terpenting lagi adalah kematian itu pasti, ditengah kehidupan fana yang berbatas. Jadi kembali tafakuri diri dan jalani hari – hari ini dengan selalu bersyukur terhadap skenario Allah SWT yang dibungkus dalam Takdir serta berdampingan dengan pernasiban.

Astagfirullohal adzim.
Innalillahi Wainna Ilaihi Roojiun.’

-Sesungguhnya kami adalah Kepunyaan Allah dan kepada Allah juga lah kami kembali.”

Wassalam. (AKW).