Kembali beredar sambil menikmati kopi hitam tanpa gula, edisi Cirebon.
Kopi Hitam Gedung Negara / Dokpri.
CIREBON, akwnulis.com. Pahitnya kopi hitam tanpa gula adalah sebuah kecanduan hakiki. Semua memang pahit jikalau kopi tanpa gula, tetapi diantara kepahitan itu terselip rasa berbeda dan pengalaman aneka rupa. Karena bisa memaknai perbedaan dari kepahitan rasa ini adalah anugerah tak terkira.
Kali ini raga dan langkah agar menjauh menuju pantura, tepatnya bergiat di kota cirebon dengan tema KOPI NURDIN (nurut dinas) alias terbawa hadir karena urusan pekerjaan.
Nah laporan kerjaan mah ntar dituangkan dalam nota dinas laporan, tapi kalau urusan ngopay maka disinilah tempatnya menuliskan rasa dan kenangan.
Kopi yang pertama tersaji adalah kopi sachet biasa yang diseduh tanpa gula sebut aja merknya kopi kapal api. Untuk rasa ya begitulah flat tanpa banyak rasa-rasa, tetapi suasana dan sajiannya yang bikin berbeda. Pertama cangkirnya cangkir dinas berlogo pemprov jabar dan kedua lokasi kopi tersaji di ruang tamu gedung negara eks keresidenan Cirebon yang penuh sejarah dan kejayaan masa lampau.
Maka dihadirkan dokumentasi kemegahan gedung negara sebagai background yang melengkapi secangkir kohitala (kopi hitam tanpa gula) untuk diabadikan sebelum akhirnya tandas di sruput untuk menikmati dahaga kepahitan kopi yang melenakan.
Alhamdulilahirobbil alamin.
Lalu melengkapi sajian kohitala yang sebenarnya, sebelum pulang ke bandung maka searching-lah lokasi tempat yang menyajikan kohitala dengan metode seduhan manual V60.
Arabica manglayang di Cirebon / dokpri.
Ternyata gayung bersambut dengan hadirnya tawaran dari seorang kawan untuk berdiskusi sambil menikmati sajian kopi… tentu menyenangkan… berangkaaat.
Kopi kedua adalah kopi hitam asli tanpa gula dengan biji kopinya arabica manglayang. Proses seduhan manual dengan filter dan corong V60 menghadirkan sebuah rasa pahit yang kaya makna. Bodynya medium dengan acidity seimbang, hadir selarik segar lemon dan brown sugar sebagai after taste dari sajian kohitala ini. Sruput yummy.
Sajian kohitala ini semakin lengkap dengan menu makanan beratnya yaitu steak yang merupakan pilihan menu spesial di Chantel food space Cirebon. Nyam nyam…
Itulah cerita ngopay kali ini, selamat memaknai kepahitan rasa dengan syukur tiada kira. Wassalam(AKW).
SOREANG, akwnulis.com. Semilir angin sore menyapa raga tanpa basa-basi ditemani rintik hujan yang menyegarkan keadaan. Lalu lalang kendaraan terasa tenang tanpa teriakan klakson yang mengganggu pendengaran. Semua terlihat nyaman dengan keadaan masing – masing.
Tetapi ternyata masih ada yang tertatih dan belum berdamai dengan keadaan, perlahan mendekat dengan tatapan sayu dan badan lusuh, tentu di lengkapi aroma kesulitan yang dijalani sehari-hari. Dalam hati ingin membantu dengan segepok uang agar segera merubah kehidupan, tapi apa daya dengan segala keterbatasan. Hanya selembar uang ungu yang mewakili perhatian, semoga tawakal dan selamat menjalani kehidupan.
Setelah menghilang dari pandangan, giliran waitres yang sudah hadir di depan dengan senyum manisnya, “Silahkan scan barcode untuk menunya kakak”
Cekatan jemari lentik membantu scan dan memilihkan menu makanan serta minuman dan tanpa banyak cingcong pilihannya adalah sajian kopi hitam tanpa gula yang bakal menjadi obat bengong.
Pilihan kali ini jatuh kepada arabica puntang, si kopi legendaris dari bandung selatan. Di minta dibuat dengan manual brew V60, tentunya dengan panas yang tepat yakni aliran 92 derajatan.
Arabica puntang V60 / dokpri.
Sambil termangu menanti sajian kohitala arabica puntang, kembali hadir seorang ibu muda menggendong anak bayi dilengkapi kotak speaker lengkap dengan mic untuk ber solo karaoke dangdutan.
Tak banyak tanya, sebuah lembaran coklat berpindah tangan dan dengan sumringah diterima tanpa banyak tanya lalu pergi dengan tergesa.
“Silahkan kaka, kopinya” Sebuah suara renyah membuyarkan lamunan. Dibalas dengan senyuman tulus terima kasih. Alhamdulillah sudah tersaji kopi hitam tanpa gula dengan manual brew V60.
Tanpa banyak diskusi maka kopi di bejana berpindah ke gelas kecil putih dan langsung dinikmati… srupuuut.. nikmaat. Bodynya tebel dan aciditynya setrong dilengkapi arima khas dan aftertastenya adalah fruity dan selarik nangka plus kacang tanah… segerrr.
Betapa sebuah nikmat tidak harus di tempat yang super mewah, tetapi cafe biasapun bisa hadirkan rasa, tinggal bagaimana kita bisa memaknainya.
Sruput lagi…. segaaar. Kembali memandang ke luar dan lalu lintas terasa begitu lengang serta rintik hujan telah hilang berganti siluet pelangi penuh harapan. Wassalam(AKW).
BANDUNG, akwnulis.com.Sebuah sajian minuman berwarna terang menari dihadapan, memberi rasa penasaran dan sedikit ketakutan. Penasaran sangat jelas karena tampilannya menggiurkan dan terlihat segar. Sementara rasa takut menyelusup karena pasti ini bukan lagi murni sajian kopi hitam tanpa gula, tetapi dicampur berbagai rasa yang mungkin lebih nikmat namun berpotensi bahaya.
Kopi Pandan / Dokpri.
Hanya saja sebuah tulisan yang menempel diatas tembok bercahaya kuning keemasan memberikan pencerahan. Bahwa apapun yang dikatakan mamah itulah aturan mainnya hehehehe alias ‘Mama is always right’.
Kata mamah barusan, “Sekali- kali boleh atuh minum sajian kopi dicampur unsur lain agar nggak monoton, ada variasi“
Sebagai ungkapan tulus dan angin segar bagi pelanggaran hukum kohitala kali ini. Maka tanpa komando kedua, langsung disegerakan untuk di sruput pada kesempatan pertama.
Rasanya nak enak kawaan, manis dan harum pandan lho.
Ya iya atuh, khan pesennya juga kopi pandan, jelas sudah pake pandan. Tapi gula dan susu nggak dipesan… eh ternyata ikutan. Menyatu menjadi satu sajian yang ciamik dan nikmat…. eh tapi menurutku terlalu manisss… maklum sudah terbiasa minum kopi tanpa gula dan tanpa kawan – kawan kopi lainnya. Klo kopi pandan ini bejibun, dari mulai kopi, tambah sirup pandan, tambah gula, juga susu dan setumpuk harapan barista… jiaah ahay.
Tetapi kembali lagi, karena mamah sudah bersabda maka segera nikmati tanpa jeda. Yakinilah bahwa mama is alway right. Wassalam(AKW).
CIMAHI, akwnulis.com. Dikala hujan rintik mencumbu bumi, maka wangi tanah memberi kedamaian tersendiri. Suasana sendu melingkupi diri dan akhirnya harus mengambil keputusan untuk menepi, daripada raga cipruk eh jibrug… maksudnya basah kuyup dan mungkin bisa masuk angin. Maka merapat ke suatu tempat yang menyajikan minuman kohitala hangat, disajikan tanpa gula dan tanpa berburuk sangka juga penuh hormat.
Tanpa basa – basi maka pesanan Visixti (V60) manual brew dengan stok bean yang ada langsung dinanti karena sudah menjadi agenda rutin untuk hadir disini.
Cafe kecil ini agak menjorok ke dalam dari jalan utama Leuwigajah, tetapi sekarang bukan halangan karena dengan bantuan teknologi begitu mudah menemukan tempat tanpa perlu susah payah bertanya. Tinggal bermodal smartphone, batere penuh dan sinyal serta paket internet aman plus jari jemari yang sehat.
Tring.
Langsung penunjuk arah berebut memberikan pilihan.
***
Sambil menikmati gerimis hujan, terasa pikiran hanyut ke masa silam. Dikala masih bocah yang nakal, begitu senang bermain diatas cucuran air hujan yang meluncur deras dari ujung atap rumah. Sebuah nilai bahagia begitu terasa, seolah tindakan sederhana namun penuh makna.
“Silahkan sajian V60nya Kakak” sebuah suara membuyarkan cerita masa silam. Digantikan dengan kehadiran sang pelayan membawakan nampan panjang.
Agak heran karena pesanan tadi sudah jelas hanya segelas Kopi manual brew menggunakan V60, just it. Tapi kok yang datang banyak?… ya udah ikuti saja. Siapa tahu memang ada surprise malam ini, entahlah.
Sajian kopi manual brew V60 di bejana memang cuma satu. Tetapi gelasnya banyak. Wah ada apa ini, apakah ada demo?.. kenapa begitu banyak gelas yang hadir?.
Gelas berbaris bersamabkopi / dokpri
Jawaban yang hadir hanya selarik senyum yang menambah tanya. Tapi harus pasrah karena memang sang pelayan meninggalkan begitu saja tanpa ada penjelasan lainnya.
Ternyata, tak berapa lama. Datanglah sang Barista, Akang Ano.
Inilah penjelasannya (mulai dari kiri) : 1. Cangkir keramik berbibir tebal ternyata menghadirkan rasa yang lebih manis. Aduh jadi inget bibir siapa ya?. 2. Gelas Duralex memberikan rasa yang lebih complex dan balance baik dari sisi aroma, sweetness dan acidity. 3. Gelas Wine memberikan sensasi aroma lebih kuat, tetapi rasa dan acidity agak melemah. 4. Gelas Lurus menghadirkan kecenderungan rasa dan aroma yang flat.
Mulut sedikit ternganga mendengarkan penjelasannya. Betapa sebuah pilihan gelas dapat hadirkan perbedaan baik aroma, rasa dan acidity segelas eh sebejana kopi hitam tanpa gula dengan manual brew V60…. sebuah momentum syukur kembali terasa. Betapa aneka nikmat kehidupan dunia termasuk kemampuan lidah mengecap rasa, body dan acidity ajian kopi adalah nikmat yang tidak ternilai. Alhamdulillahirobbil Alamin, srupuuut… Wassalam (AKW).
***
Lokasi : Cafe Kopi ABDI, Jl. H. Danudin No.4 Leuwigajah Cimahi.
Perlu dicoba pengalaman berbeda, backpakeran di kota Jogja.
Jalan Malioboro dini hari / dokpri.
JOGJA, akwnulis.com. Sebuah pengalaman dalam perjalanan kehidupan adalah catatan penting yang harus dimaknai sebagai bagian takdir yang memiliki makna tersendiri. Begitupun sebuah keinginan dan kepraktisan pengambilan keputusan tentu berimplikasi kepada hasil dan nilai – nilai penting yang menjadi pegangan diri.
Begitupun cerita kali ini, dikala datang ke Kota Jogjakarta ternyata terlalu pagi alias dini hari sudah menginjakan kaki di stasiun Tugu, maka berbagai pilihan hadir untuk menjadi kepastian. Pilihan standar sih gampang, segera menuju hotel tempat acara dan lakukan “early check in”. Namun ada pilihan lain yang mungkin bisa menambah khazanah cerita diri dengan sesuatu yang berbeda.
Alternatif kedua sudah membentang di depan mata, seorang sahabat yang menjadi pejabat teras di kota Jogja sudah mengontak dan mempersilahkan datang ke rumahnya untuk sekedar mandi dan beristirahat di pagi yang dingin ini, lokasi sudah di share tinggal ikuti dengan google map. Makasih ya dok.
Tetapi ada desakan lain yang mengingatkan masa lalu, dikala datang ke kota Jogja dengan budget pas pasan. Memilih hotel super murah di sekitar jalan Malioboro untuk sekedar istirahat dan mandi sebelum dilanjutkan dengan beredar di seantore eh seantero tempat wisata yang tersebar. Tapi itu dulu, 20 tahun lalu. Hanya memang sebuah memori begitu mudah hadir kembali seakan baru terjadi kemarin sore atau beberapa waktu yang lalu.
Suasana box di bobobox / dokpri.
Ini yang menjadi pilihan, tentu dengan menentukan hotelnya yang kekinian alias backpakeran yang tetap mengusung CHSE*) serta uptodate.
Sambil berjalan menyusuri trotoar di area stasiun Tugu Jogja, jemari bergerak lincah di smartphone mencari alternatuf hotel buat backpakeran. Tak terasa kaki bergerak melewati area selasar Malioboro dan memasuki ujung jalan malioboro sebelah utara dan keadaan masih hening sepi serta damai. Ditemani beberapa petugas kebersihan yang sedang menunaikan tugasnya.
Tring, ternyata terdapat hotel capsul hanya selemparan batu, alias berada di jalan malioboro.. yeaah. Langsung di telepon dan ternyata kamar masih ada… meluncurrr… eh melangkahhh…
Damainya jalan Malioboro dan bersih, menenangkan jiwa dan rasa. Sambil langkah terus bergerak dan akhirnya tiba di tempat. Sebuah pintu dengan logo ‘Bobobox’. Langsung ditarik dan terbuka, langsung disambut tangga.. naiklah. Ternyata resepsionisnya di lantai 2.
Box no 36 / dokpri.
Proses registrasi singkat dan cashless serta semuanya full aplikasi. Jadi wajib bawa hape yang ada playstorenya. Karena yang belum punya aplikasi, kudu install dulu. Bayar online, atau debit dan kuncinyapun steril karena berbentuk barcode di aplikasi smartphone dan tinggal di scan nanti depan pintu kamar kapsul untuk membukanya, keren khaan.
Mendapatkan kotak kamar nomor 36. Eh iya sebelum masuk. Sepatu atau sandal yang kita pakai harus disimpan di loker dan terkunci, sementara masuk ke area kotak menggunakan sandah hotel.
Tiba di kotak nomor 36, dekatkan smartphone yang ada barcodenya ke sensor kunci dan ‘klik’… pintu terbuka, sebuah kotak tidur yang bersih bernuansa putih menyambut dengan ceria.
Langsung buka koper pinkku dan bergegas mengambil handuk dan perlengkapan baju pengganti.
“Langsung mandi?”
“Ya iya, badan lengket gini semaleman di kereta juga keberangkatan mendadak sehingga pontang panting persiapan plus ngantri antigen yang lumayan banyak orang” (ini diskusi sendiri ya guys).
Kamar mandinya terpisah, tetapi kebetulan dekat sekali dengan kotak nomor 36. Tinggal belok kanan. Kamar mandinya dipisahkan antara kamar mandi laki-laki dan perempuan. Untuk kamar mandi laki-laki terdapat 4 toilet dengan WC duduk dan 3 ruang shower untuk mandi tentu didepan terdapat 2 wastafel lengkap dengan kaca dan hairdryer.
Kotak eh kamar bersih dan praktis / dokpri
Karena ini masih jam 03.30 wib maka masih sepi dan bersih. Leluasa untuk BAB dan mandi untuk.menyegarkan diri…. currrr… air hangatnya menyirami tubuh.. segaar. Oh ya, sabun cair dan shampo sudah ada tersedia. Handuk juga tersedia di kamar… cuma sikat gigi dan odol musti bawa sendiri.
Udah ah, kembali ke kamar kotakku. Jangan lupa bawa hape. Karena kunci kamar barcode ada di hape.
Buat para pembaca yang phobia ruang sempit, mungkin ini menjadi tantangan. Tetapi yakinlah bahwa kamar kotak yang tersedia disetting bersih serta sentuhan modern menggunakan teknologi. Dari mulai check ini, buka pintu kotak kamar hingga di dalamnya. Ada panel yang touch screen yang bisa mengatur warna lampu kamar sesuka hati. Baik dipijit manual untuk ganti warna ataupun dibuat otomatis kayak di club malem di masa lalu hehehehehe. Ada pilihan untuk musik ‘sleep meditation’ yaitu suara air sungai mengalir dengan gemericiknya atau suara hutan alami ditambah pengaturan volume suara. Plus ada aplikasi bluetooth jika ingin disambungkan dengan smartphone kita dan tombol pembuka dan pengunci pintu… canggih khan?..
Panel pilihan futuristik / dokpri.
Satu lagi yang menjadi hikmah penting dikala terdiam telentang di kotak sempit ini adalah mengingatkan diri ini akan sebuah tujuan hidup akhir kita. Kita akan kembali sendiri, menghadap Illahi robbi dalam sebuah kotak kecil dan tertutup tanpa penerangan serta gelap, dingin dan basah kecuali kita memiliki amalan yang baik serta rangkaian doa dari anak – anak sholeh sholehah di saat berada di liang lahat suatu saat nanti. Semoga kita, kami, diri ini bisa kembali dalam keadaan husnul hotimah, Amin Yaa Robbal Alamin.
Sebelum mencoba terlelap, menikmati berbagai fasilitas kotak yang praktis dan modern ini juga mengabadikan berbagai fasilitas lainnya diluar kotak serta tak lupa mencari mushola di lantai 5 dan menunaikan shalat shubuh beberapa detik setelah adzan berkumandang.
Oh ya disini tidak ada breakfast, hanya tempat beristirahat dan membersihkan diri saja. Tapi jangan khawatir samping kanan kiri dan depan hotel banyak pilihan makanan tersedia.
Rooftop buat bersantai / dokpri.
Sebagai catatan, ini adalah pengalaman kedua menikmati dan memaknai sebuah pengalaman masuk kotak eh pods yah, yang pertama adalah POD RAIL TRANSIT SUITE STASIUN GAMBIR dengan tipe pods untuk single dan sekarang di BOBOBOX PODS MALIOBORO memilih yang tipe double.
Selamat backpakeran dan menjalani hikmah kehidupan. Wassalam (AKW).
***
Lokasi : Bobobox Pods Malioboro Tipe kamar kotak : Double Harga 195K/malam
*)CHSE adalah singkatan dari Cleanliness, Health, Safety dan Enviroment, atau terjemahannya adalah standar nasional dan internasional untuk hotel dari sisi kebersihan, kesehatan, keamanan, dan dukungan terhadap lingkungan dengan berbagai indikator.
TJIMAHI, akwnulis.com. Terkadang sebuah keinginan hadir tanpa alasan, muncul begitu saja di benak ini dan diucapkan dengan lantang. Sehingga didengarkan oleh rekan staf dan menjadi sebuah perintah yang harus dilaksanakan.
Itulah yang terjadi, setelah sekian waktu berusaha makan siang itu adalah makanan sehat dengan menu aneka salad. Ternyata ada gejolak jiwa cheating yang ingin menikmati sajian makanan lain yang digandrungi kawula muda.
Sebuah sajian makanan alias jajanan yang berbasis kerupuk dengan aroma kencur yang dilengkapi dengan berbagai boga bahari, protein seperti serpihan telur, daging ayam, ceker, tulang, sosis, termasuk baso dan banyak lagi pilihan dengan rasa gurih pedas dengan nama sajiannya adalah seblak.
Maka bergeserlah dari salad ke seblak, sama awalan s tetapi begitu berbeda dari warna dan rupa serta tentunya rasa. Tapi hidup ini butuh variasi kawan. Sesekali perlu menikmati sajian ekstrim yang membuat hati berdebar (seseblakan) akibat rasa kuah yang memerah karena minta diberi bumbu pedas level dewa.
Jika hari kemarin adalah menikmati kesegaran eggplant salad, maka siang ini mencoba menikmati sajian seblak kumplit pedas maksimal.
Dilihat sepintas terasa tantangannya karena kuahnya begitu merah dan biji cabe bertaburan di permukaan mangkok putih bercahaya. Setelah membaca BIsmillah, prosesi penyuapan kuah dimulai… amm.. srupp…..
Mata langsung membelalak dan hati berdebar, apalagi mulut dan lidah tidak bisa mengucapkan banyak kata. Semua bergabung di otak dan teriak didalam neocortec, “Ampyuuuun Lada Pisaaaaan…..”
Seblak Burahay pedas maksimal / dokpri.
Tak perlu lama, butiran keringat muncul dan desah mulut kepanasan langsung memenuhi ruanganku yang sederhana ini. Tapi masalahnya bukannya berhenti makan, malah lanjutkan penyuapan. Karena dibalik sensasi pedas, panas dan gurih ini hadir kenikmatan berbeda yang wajib disyukuri…. nyam nyaam.
Akhirnya setelah sekian lama berusaha, menyerah tanpa bisa menghabiskan sajian seblak yang ada. Karena ternyata peluh bercucuran dan lidah teriak karena sudah tidak siap menerima level kepedasan ini, begitupun perut mulai bereaksi. Betapa cepatnya rasa pedas ini menguasai raga yang rapuh ini.
Lalu bergegas mengambil gelas dan meminum air putih yang tersedia di meja sebelah. Meskipun tidak menghilangkan pedas tetapi minimal memberi waktu bagi mulut untuk berdamai dengan keadaan dan tidak harus tertekan oleh pedas yang hadir bertubi-tubi.
Dampak ikutannya ternyata sang perut tidak kompromi karena berbagai faktor, terutama faktor U (umur). Perut panas sepanjang malam dan hingga dini hari bolak balik kamar mandi karena sembelit dan perut rasa melilit.
Kapok ah. Jangan maksain jikalau tak siap. Kendalikan keinginan dan sandingkan dengan kenyataan. Karena sebuah pengorbanan yang terjadi tidak sebanding dengan keinginan awal yang terucap begitu saja. Have a nice weekend kawan. Wassalam (AKW).
Kebutuhan dan Kebersamaan ternyata begitu singkat.
Suasana lengang JORR Jakarta / Dokpri.
CILANDAK, akwnulis.com. Pertemuan yang tidak disengaja menghadirkan sejumput rasa. Karena kesan pertama begitu melekat di dada. Pada saat sebuah kebutuhan hadir mendesak maka keberadaanmu menjadi begitu penting dan dinantikan.
Diawali dari sebuah kepentingan maka mengkristal menjadi kebutuhan, sementara ketidakhadiranmu membuat sedikit galau. Karena biasanya tidak pernah tertinggal, kali ini ternyata tidak ada ditempat biasanya.
Padahal betapa hadirmu menjadi penentu, memberikan sentuhan hakiki agar penampilan tetap terjaga dan rapi.
Akhirnya dengan modal pertukaran suara di media telepon kabel, datanglah dirimu dan terasa dunia lebih indah. Apalagi melihat bahan dasarnya yang begitu alami, melengkapi rasa senang dan tenang untuk tampil malam ini.
Hingga pagi dirimu menemani dan tak lupa terus berada di saku kiri agar menjaga setiap langkah kaki dan gerakan raga mengarungi detik demi detik takdir kehidupan yang harus dijalani.
Tetapi kebersamaan yang indah ini tidak berlangsung lama. Sebuah perpisahan hadir dengan tiba – tiba. Membuyarkan harap dan menyesakkan rasa di dada.
Kopi & Sisir kayu / dokpri.
Betapa tidak, kebersamaan 1 x 24 jam lebih dikit bersamamu harus berakhir hanya ditandai suara ‘krek’, pada saat paha kiri depan beradu dengan ujung tiang yang tak terlihat menghadang di depan karena mata sedang memandang pemandangan indah di sebrang jalan.
Terbelah dua dan terdiam dalam kebisuan kata. Tuntas sudah tugasmu menjaga penampilanku. Sebagai penghormatan terakhir sebelum akhirnya kita harus berpisah, maka meskipun telah patah tetapi dokumentasi abadi dengan bersanding bersama sajian kopi menjadi kenangan tersendiri.
Selamat jalan sisir kayuku.
Pertemuan kita singkat tetapi memberikan sejuta ingat. Bahwa dibalik jumpa tersimpan potensi duka, dan dibalik kepergian ada hikmah tentang kebersamaan. Wassalam, Have a nice weekend kawan.(AKW).
Biarpun didera kemacetan, tapi akhirnya bisa berdamai dengan sruputan.
Arabica Burangrang Kertawangi / dokpri.
CIMAHI, akwnulis.com. Ternyata beredar di hari minggu di kota menguras emosi dan tenaga. Apalagi beberapa jalur ternyata padat merayap tanpa bisa menghindar atau berbelok melewati jalan tikus. Karena ternyata jalan tikus… atau jalan alternatifpun ternyata dipenuhi mobil – mobil plat luar kota yang beredar di Kota Bandung ini.
Istilah jalan tikus menjadi sebuah sebutan populer untuk menyebut jalan alternatif dalam rangka menghindari kemacetan. Jangan khawatir dengan sebutan binatang pengerat ini, karena jalannya pasti bisa dilewati mobil meskipun tentu lebih kecil dari jalur jalan utama.
Maka aplikasi waze dan gugel map ternyata menjadi perangkat wajib untuk menuntun kita dengan mata langitnya agar terhindar dari rasa kesel dan kecewa karena terjebak atau tersendat dalam pusaran kemacetan yang melanda berbagai titik sepanjang perjalanan.
Sementara si tikus berbangga hati, karena jikalau kemacetan menguasai jalan utama maka si tikus akan sering disebut. Coba saja bilangnya jalan anjing atau jalan kucing, pasti yang diajak ngobrol akan bingung. Padahal anjing dan kucing lebih besar dari tikus… atau jangan – jangan sekarang tikus sudah berubah jauh lebih besar, entahlah.
Nah kepenatan dan kepegalan menembus kemacetan biasanya diobati dengan sebuah pemberhentian yang menyajikan harum segarnya sajian kopi hitam tanpa gula dan tentunya kopi asli yang di giling mendadak, proses seduh manual dan akhirnya tersaji penuh kenikmatan.
Apa mau dikata, harapan tinggal harapan. Sementara kemacetan tak mau kompromi dengan keinginan. Akhirnya diputuskan minggir ke kiri dan berhenti di warung kecil demi menjemput si hitam nikmat yang mendamaikan.
Alhamdulilah, tersaji secangkir kopi biasa yang tak tahu asal mulanya. Secangkir kopi hitam dengan lingkaran busa hasil kudekan telah datang menemani kepenatan. Feeling sih kopi gunting, tapi ya sudah mari kita coba.
Kopi Hitam Biasa / dokpri.
Bismillah, sruputt….. hmmm… kopi biasa. Flat tanpa rasa acidity berbeda, hanya kepahitan singkat belaka yang melintas minim makna. Ya minimal ada kepahitan yang sedikit mendamaikan daripada termangu dalam kungkungan kemacetan yang nyata.
Tuntas menghabiskannya, lalu membayar dan pamitan ke teteh warung. Perjalanan dilanjutkan dengan sebuah harapan besar bisa berjumpa selanjutnya dengan kopi sebenarnya…. heuheuheu lebay, maksudnya kopi yang proses manual terutama V60 yang menjadi kesukaan.
Perjalanan berlanjut dan tugas segera dituntaskan meskipun harus menembus kemacetan dan ditemani gerimis hujan.
Akhirnya setelah balik kanan dan kembali menuju kediaman, saatnya hunting kedai kopi yang bisa menyajikan kohitala sesuai selera tanpa perlu basa basi dan banyak bertanya sebelum akhirnya sampai di rumah untuk kembali berkumpul bersama keluarga.
Gayung bersambut, sebuah cafe kecil dengan posisi agak menjorok ke dalam jikalau dijangkau dari jalan utama seolah menunggu untuk didatangi dan disapa.
Ternyata tersaji kohitala dengan beberapa pilihan bean yang menggugah selera. Tetapi kembali bahwa kopi jabar adalah kebanggaan, pilihannya adalah kopi arabica burangrang kertawangi dengan proses natural…. yummmy, akhirnya jumpa kohitala yang sesuai dengan harapan sang pemuja.
Aroma harum menyapa hidung saat bean digiling menjadi serpihan atau butiran kasar dan semakin tak sabar untuk menikmatinya.
***
Setelah proses manual brew tuntas, hadirlah secangkir kopi hitam tanpa gula dengan metode V60 yang menggugah selera sekaligus menghilangkan penat dan pegal berganti optimisme penuh kenikmatan.
Acidity dan body medium lite menemani sore menjelang malam kali ini, panasnya cukup dengan kisaran 92° derajat celcius dikala proses penyeduhan. After tastenya frutty hadir selarik lalu berpadu dengan tamarind dan citrun, cukup menyegarkan.
Srupuut… ahhh… segaar.
Meskipun gerimis melebat masih menguntit tanpa ampun, tapi suasana hati lebih tentram karena terobati oleh secangkir kopi hitam yang menenangkan. Menemani akhir weekend minggu ini untuk bersiap kembali dengan bejibun tugas di senin pagi. Wassalam(AKW).
BANDUNG, akwnulis.com. Arachis pintoi menutupi hamparan bumi dengan kombinasi daun menghijau dan bunga kuning menggemaskan. Apalagi dengan bentuk bunga kuning kacang-kacangan begitu menarik perhatian. Tidak hanya sepasang mata tetapi segerombolan lebahlah yang akan benar – benar menikmatinya.
Hanya hitungan detik, maka hadirlah perwakilan lebah yang agresif mendekati, menempel dan menghisap nektar dengan caranya yang ternyata begitu indah untuk diabadikan.
Untuk berbagi / dokpri.
Terlihat goyanganmu sang arachis pintoi berusaha menghindari agresifitas, tetapi apa daya dengan segala keterbatasan akhirnya harus berdamai dengan kenyataan dan mencoba menikmati prosesi alami yang menjadi takdir diri.
Itulah drama kecil kehidupan yang jika dimaknai memberi sebuah nilai tiada hingga. Hadir keindahan dari aneka warna tanaman dan salur salur hitam tubuh lebah, dilengkapi dengan tema kepasrahan dalam mengimbangi agresifitas kehidupan. Dimana pada akhirnya terjadi keberlanjutan kehidupan melalui prosesi penyerbukan. Sebuah skenario Illahi yang harus ditafakuri.
Tetap berseri / dokpri.
Sang lebah segera pergi setelah puas menyecap sari kehidupan, beranjak ke bunga selanjutnya yang ternyata pasrah meskipun bukan berarti menyerah. Wassalam(AKW).
JOGJA, akwnulis.com. Gemericik air hujan perlahan tapi pasti bertambah lebat, mengiringi malam yang penuh kedamaian. Angin memberikan kesempatan sang butiran hujan menyapa raga karena posisi meja outdoor, tetapi tidak mengapa karena sebuah keyakinan terpatri jikalau hujan terjadi adalah salah satu berkah Illahi Robbi.
“Kenapa nggak milih meja di dalam mas?”
Hanya senyuman yang hadir menjawab sementara pikiran tersenyum simpul, “Justru ini meja terbaik yang bisa langsung menghadap tugu jogja dan menyerap asa dalam suasana sekitarnya” meskipun memang butuh pengorbanan, ya itu tadi tersapu dan tersapa tetesan air hujan yang terbang dibawa oleh nakalnya angin malam.
Tapi hujan tak selamanya lebat, ada saatnya berhenti dan hanya berniat menyirami bumi serta memberi ketenangan hati. Apalagi sajian kopi yang sedari tadi pagi sudah ada di pelupuk mata akhirnya bisa nyata, kopi manual brew V60 tanpa gula dan tanpa teman – teman lainnya seperti syrup, ice cream, creamer, bubuk coklat dan susu. Inilah kohitala, kopi hitam tanpa gula yang digiling mendadak dari beannya lalu diseduh secara manual menggunakan corong V60.
Meskipun lupa menanyakan beannya apa, tapi suasananya dapet banget guys.. antara sajian kopi dan lokasi. Sebuah lokasi ikonik di kota jogja, lha selain jalan malioboro maka tugu jogja juga menjadi derajat penentu keberedaran di kota penuh kenangan ini.
Kopi manual brew Tugu Jogja / dokpri.
Tak terasa hujanpun berhenti dan memberikan pemandangan ciamik yang harus disyukuri serta ditafakuri. Semuanya adalah atas ijin dan kehendak Illahi, bagi mahluk hanyanya berusaha dan berikhitiar serta dokumentasikan dan akhirnya ‘dipamerkan’ di medsos sendiri demi memunguti jempol jempol virtual dan komentar yang hadir di laman dunia maya.
Padahal yang terpenting adalah mensyukurinya dan tak lupa memohon ampun kepada Tuhan atas dosa dan kekhilafan. Tentunya menyeruputnya wajib banget, jangan lupa baca Basmallah (bagi umat muslim).
Sruputt….. Nikmaaat…. segarnya sajian kopi hitam tanpa gula yang diseduh manual memberikan sensasi berbeda yang penuh kedamaian. Dilengkapi dengan pemandangan malam di tempat yang penuh kenangan… sungguh kombinasi yang tak terlupakan.