KOPI & PROFESIONALISME

Sajian Kopi Sumba & arabica Gununghalu natural anaerob sebagai obat penahan lelah.

BANDUNG, akwnulis.com. Hari jumat ini ternyata menumpuk aneka tugas dan pekerjaan, sementara kondisi phisik sebetulnya masih kelelahan karena baru landing tengah malam di bandara cengkareng jakarta dan perjalanan ke bandung tersendat oleh perbaikan jalan di sepanjang jalan tol cikampek setelah turun tol layang hingga memasuki tol cipularang, ditambah dengan ke kantor dulu di bandung dan baru menuju cimahi, tepat pukul 04.00 wib baru bisa masuk ke rumah dan bersua air hangat plus say hello sama keluarga.

Tapi pagi tetap harus ngantor karena tugas kedinasan menanti. Itulah makna profesionalisme, lelah itu manusiawi tapi janji dan sumpah sebagai abdi negara adalah bagian dari pengabdian diri. Jadi ngantuk dan terlelap terpaksa di manage di sela – sela tugas yang bejibun. Tampilkan wajah wibawa meskipun guratan lelah tak bisa disembunyikan dari wajah dewasa ini, ahay dewasa cuy.

Hayu semangaaat….

Meeting pagi membahas manajemen resiko dengan sesekali kantuk dan heuay.. eh menguap…  dan dijeda shalat jum’at, disinilah rasa kelelahan itu begitu kuat mencengkeram sehingga hanya terdengar salam pembuka “Assalamualaikum Wr Wbr…” dan tiba-tiba sudah Iqomah…. cepat sekali khutbah jumat kali ini.

Padahal sebelum shalat jumat sudah di booster oleh seduhan kopi Sumba oleh-oleh bu Okti yang dinikmati bersama dengan seduhan manual Teh Santi sang Baristi TUpim. Rasanya cenderung body flat meskipun labelnya arabica tetapi karena sudah berbentuk bubuk halus maka sulit untuk memilih rasa yang spesifiknya, lalu ada sentuhan rasa rempah yang sulit didefinisikan, mirip aroma kapulaga atau kayu manis tapi takut salah, ya sudah nikmati saja.. eh ternyata pas khutbah jumat tetap terlelap.

Maka sesi siang dengan meeting yang berkejaran ini perlu di doping lagi. Sekarang giliran Ucup Sang Barista yang beraksi, dengan pilihannya adalah kopi arabica Gununghalu natural anaerob yang juga kiriman dari pak Bos Priyo Dinas Perkebunan, nuhun mas Yo.

Karena masih berbentuk biji, maka prosesi penggrinderan memberi sensasi berbeda. Suara grinder menghancurkan biji menjadi musik tersendiri, begitupun aroma harum yang mendamaikan sesuai ruangan adalah salah satu berkah kehidupan. Apalagi pas penyeduhan, aroma semakin kuat menggoda indera penciuman, segaar.

Nggak pake lama, langsung disruput saja sambil menunggu rekan-rekan untuk kumpul rapat sesi pertama. Rasanya santuy dengan body dan acidity medium serta aftertaste lemon dan kacang tanah. Cukup menyegarkan dan memberi ketenangan meskipun rasa kantuk tetap hadir meskioun bisa tertahan.

Alhamdulillah hingga magrib menjelang, 4 agenda rapat bisa dituntaskan. Meskipun tentu ada kekuranglengkapan, tapi minimal persiapan kegiatan dengan dana APBN sudah mulai tergambar. Lalu aplikasi SURABI juga bisa mulai diinput dan antisipasi, termasuk pembahasan tentang usulan Inovasi daerah serta terakhir adalah kaitan persiapan agenda sabtu minggu yang juga butuh koordinasi dan pengertian.

Ah udah ah jangan ngobrolin kerjaan, sekarang mari lanjutkan menyeruput kohitala arabica gununghalu anaerob yang masih tersisa. Nikmat nian kawan, sesaat rasa kantuk dan lelah teralihkan. Tapi jangan lupa, harus segera pulang agar bisa bercengkerama dengan anak istri yang telah 3 hari ditinggalkan demi tugas lintas pulau. Wassalam (AKW).

Ngopay & Sunrise di Pantai Karanghawu.

SUKABUMI, akwnulis.com. Kekuatan jempol untuk menulis di atas virtual keyboard menjadi hal yang sangat penting karena sejumput cerita tentang perjalanan menikmati kopi telah diawali dengan pengalaman berbeda yaitu sruputannya sambil naik angkot sebagaimana ditulisan terdahulu NGOPI DI ANGKOT BIRU.

Dilanjutkan yaa…

Berbincang singkat namun akrab dengan pengemudi menambah kecerian pagi. Ternyata pak sopirpun sedang membawa segelas plastik kopi yang menjadi ritual rutinnya setiap pagi agar memberi semangat dan kesegaran hakiki.

Perjalanan melewati pinggir pantai dari palabuanratu cisolok, melewati Hotel Samudra Beach lalu pantai Citepus dan berbelok ke kanan agak menjauh dari pantai melewati pasar dan pertigaan ke arah Cikotok lalu akhirnya tiba di Pantai Karanghawu yang menjadi tujuan utama perjalanan ngopay pagi ini.

Target yang penting juga adalah waktu pagi berkaitan dengan kehadiran sang mentari. Maka sebuah doa kembali disampaikan kepada Allah Sang Pemilik Dunia bahwa semoga cuaca cerah tanpa awan tebal apalagi hujan yang membuat mentari enggan menampakan kehadirannya.

Bismillah…

Debur ombak menyambut raga sekaligus menggetarkan jiwa. Ada rasa campur aduk yang memenuhi dada. Senang dan sukacita tentu menjadi utama, namun rasa sedikit gentar juga menelusup melihat kegarangan ombak memukul pantai dengan kelembutan yang penuh tenaga serta segera kembali ke laut lepas dengan kekuatan dan kecepatan yang tidak bisa dikira.

Gundukan karang yang begitu tegar menerima terpaan ombak pantai, menjadi tempat favorit bagi pengunjung untuk mendekat dan mengabadikan menjadi photo dan video yang membanggakan. Tapi tetap kewaspadaan betul – betul utama karena bahaya mengintai diantara runcingnya batu karang dan debur ombak pantai Karanghawu.

Nama karanghawu adalah sebutan bagi pantai ini karena gundukan batu karang yang ada dengan lubang – lubang alami itu jika dilihat mirip dengan tungku sederhana untuk memasak di masyarakat sunda. Nah tungku itu dalam bahasa sunda disebut hawu. Maka jelaslah bahwa penamaan pantai ini sesuai dengan kondisi alam yang ada dan dinilai oleh indera penglihatan nyata.

Mari kembali ke agenda kita, Ngopay di Pantay… eh pantai. Langsung saja mencari spot photo yang pas dengan menggabungkan 4 unsur utama yaitu : ombak, karang dan mentari berpadu dengan secangkir kopi, plus termosnya ya.

Tring… beberapa jepretan saja tapi bisa mewakili semuanya. Rasa senang menyeruak dan benih bahagia menemani pagi ceria. Tak lupa sebagai bukti hadir ngopi di pantai, perlu ada capture photo dan video dengan ekspresi wajah yang begitu menikmati. Sruputtt guys.

Nikmatnya kohitala dilengkapi rasa bahagia karena di pagi ceria ternyata deburan ombak, kehangatan kohitala lengkap dengan sinar mentari yang hadir dengan sempurna, Fabiayyi Ala irobbikuma tukadziban.

Tuntas sudah menikmati kopi di pantai kali ini, maka tidak pake lama, kembali bergegas meninggalkan area pantai dan menyeberang jalan untuk menunggu kehadiran angkot yang akan mengantarkan kembali diri ini ke Hotel Karangsari Palabuanratu.

Perjalanan angkot kali ini dikemudikan oleh Mang Ujang yang terlihat semangat disaat di-on-kan kamera video, eksis juga guys. Video lengkapnya perjalanan ngopay di angkot dan di pantai karanghawu bisa dinikmati di NGOPI DI PANTAI KARANGHAWU SUKABUMI.

Selamat pagi dan selamat memaknai hari. Wassalam (AKW).

NGOPI di angkot menuju Karanghawu.

Sruput kopi di Angkot biru…. Nukmat.

SUKABUMI, akwnulis.com. Deburan ombak menggapai karang begitu keras dan menegangkan, tetapi anehnya terselip juga perasaan senang yang tak bisa dihadirkan dengan sebatas kata dalam bilangan.

Memang bahagia itu unik.
Bahagia itu sederhana.

Setiap orang punya cara masing-masing untuk meraih dan merasakan bahagia. Seperti pagi ini di sebuah pantai di daerah palabuanratu, namanya pantai Karanghawu.

Tak sulit mencari di peta online, hanya butuh keyword saja. Tapi via bertanya dan naik angkot sekitar 10 menit dari palabuanratupun bisa dengan mudah mencapainya.

Maka pagi ini menjadi sebuah momentum yang tak terlupakan kawan. Suasana ngopay (menikmati kopi) yang berbeda. Tentu saja dengan persiapan yang diawali dini hari. Yaitu meracik eh menyeduh kopi secara manual dengan metode SMD (seduh manual darurat). Metode SMD ini dengab memanfaatkan peraltan yang ada di kamar hotel. Mulai dari pemanas air yang sekaligus menggantjkan fungsi ketel leher angsa, trus ukuran bean 16 gram atau 18 gramnya diukur dengan perasaan saja plus temperatur air panasnya menggunakan termometer kulit jari tangan hehehehe… alias dipegang aja.

Ups panaaas….

Kopinya sudah digrinder dari rumah, arabica honey sylvasari. Maka setelah corong filter flatbottom dilengkapi kertas filter yang telah dibasahi air panas. Prosesi ekstraksi terjadi dini hari, selain dinikmati juga dimasukkan ke dalam termos sebagai persiapan untuk ngopi di pagi hari.

Tepat pukul 05.30 wib segera keluar kamar sambil membawa tas ransel berisi termos kopi berlapis bambu juga gelas eh cangkir stainless berbalut bambu dengan tulisan ‘Smiling West Java.’ Menuruni jalanan dari lobi hotel Karangsari Palabuanratu menuju jalan raya sambil memandang hamparan laut yang begitu menggoda.

Tapi, kali ini ada hal yang berbeda. Jari telunjuk refleks bergerak dikala sebuah mobil biru akan melintas, sebuah angkot (angkutan kota).

Pak, bisa ke pantai Karanghawu?”
Tiasa Cep”

Wah senangnya, kebetulan kursi penumpang di samping sopir masih kosong. Buka pintu, duduk dengan nyaman dan angkotpun bergerak perlahan. Alhamdulillah setelah sekian purnama bisa kembali merasakan nikmatnya sensasi menaiki angkot dan berbaur dengan para penumpang lainnya. Apalagi dilengkapi terpaan AG (Angin Gelebug) alias angin dari jendela yang memang terbuka melengkapi sensasi perjalanan pagi ini.

Menyenangkan sekali kawan, apalagi disaat membuka tas ransel dan mengeluarkan termos dan cangkir kesayangan. Putar dikit dan termos terbuka, rasa wangi kopi menyambar kemana-mana. Maka sebagai basa-basi, ijin kepada sang pengemudi yang terpapar harum kenikmatan ini, sekaligus menawarkan untuk mencicipi.

Mangga bapak, bade ngersakeun ngaleueut kopi?” (Silahkan bapak, apakah mau mencoba kopi?”)

Jawabannya tersenyum dan menggeleng singkat, sementara tangan dan matanya memandang ke jalan dengan waspada. Untuk melihat calon penumpang setia dari angkot kesayangannya.

Srupuut guys, kopi nikmat manual brew arabica membasahi mulut dan menggoda lidah agar dengan unggahan rasa yang enak dan bersahaja. Sambil raga bergerak di dalam angkutan kota, aktifitas ngopay tetap dijalankan dengan sempurna, sruput lagii. Nikmat.

Trus cerita Ngopay di pantai Karanghawunya gimana?”

Ahay, sabar kawan. Tulisan sedang berproses. Menyesuaikan kecepatan kedua jempol memproduksi kata-kata. Sabar ya…..

(To be continue…)

NGopay di RASAHAUS & Kahoot.id

Meeting – Games – Ngopay – Ngojay – Meeting.

BEKASI, akwnulis.com. Ikutan rapat koordinasi afaupun sosialisasi adalah hal yang biasa. Tetapi di acara kali ini, iseng – iseng ikutan kuis interaktif yang digawangi panitia pake aplikasi kahoot (kahoot.id). Sebuah aplikasi permainan interaktif yang menarik dan sekakigus ngetes peserta tentang pemahaman terhadap materi yang diberikan.

Selama ini biasanya via zoom, tapi kali ini hybrid sehingga yang offline di acarapun bisa ikutan. Balap cepat baca soal dan pijit jawaban di layar smartphone masing-masing…. rame.

Pertanyaan tentu seputar inpassing jabatan fungsional adyatama pariwisata dan ekonomi kreatif, tetapi ketajaman mata dan kekuatan sinyal smartphone menjadi pendukung utama. Ternyata kombinasi tersebut membuat nickname akwnulis.com berhasil memuncaki  games di batch 1 ini kawan, Alhamdulillah.

Iseng – iseng berhadiah dan diundang ke depan untuk mendapatkan hadiah. Apalagi pak Kepala Pusat SDM yang langsung menyerahkan dan berphoto bersama. Cetrek.

Pertanyaan dari MC sederhana, “Kok bisa cepet banget jawabannya pak?”, “Jempolnya banyak ya?”

Betul neng MC, jempolnya ada lima

Pantesan

Itulah cerita awal tentang menjuarai games sesi pertama. Tetapi jika setelah makan siang masih ada sesi games, aturannya nggak boleh ikut lagi, khawatir menang lagi dan menutup kesempatan yang lain hehehehe. Padahal belum tentu juga, cuma aturan adalah aturan. Ikuti saja, apa susahnya.

Nah sambil istirahat agak menjauh dari lokasi acara, hunting kopi langsung beraksi. Karena jelas ada cafe di lantai 6. Eh tapi shalat dulu ke mushola, baru cuss TeKaPè.

Nama cafenya lucu, RASA HAUS. Menunya tidak ada versi manual, tetapi semuanya pake mesin. Ya sudah americano langsung dipesan. Sambil menunggu kopi tersaji, bergeraklah mengitari area cafe sambil tetaoi ditemani tongkat kruk yang sementara menjadi pengingat bahwa kaki kiri sedang tidak baik – baik saja.

Area cafe RASAHAUS ini strategis, dengan area indoor yang o smoking dan outdoor yang cozy plus pemandangan menariknya adalah bisa melihat suasana taman dan kolam renang dibawahnya dengan leluasa.

Tapi kesempatan menikmati pemandangannya terhenti oleh suara sang pelayan yang sudah ada disamping kanan lengkap dengan nampan kebesarannya.

Silahkan Kakak, ini Americano-nya”

Terima kasiih

Asyik deh, srupuut yuk. Tanpa perlu basa – basi maka beraksilah tangan menjulur menjangkau cangkir dan mendekatkan pada bibir. Regukan pertama hangat dan nikmat, begitupun regukan kedua dan ketiga memenuhi rasa haus ingin minum kohitala hari ini.

Lalu sebagai pelengkap menu hari ini, pesanan salad versi cafe ini menjadi penyegar mulut sekaligus menghilangkan kantuk karena rasa bumbu asam pedasnya yang cukup membuat lidah bergoyang dan hati degdegan.. hahay lebay.

Namun ingat, sesi acara masih berlanjut. Jadi tak bisa berlama-lama di cafe RASAHAUS ini. Tetapi harus kembali ke lantai 10 dimana acara sedang berlangsung.

Maka berakhirlah sesi menikmati kohitala di cafe ini, raga bergerak menuju acara meskipun sebagian jiwa masih melekat pada mesin kopi di cafe ini. Wassalam (AKW).

***

CAFE RASA HAUS, Lt.6 Hotel Ultima Horison Bekasi.

Habisnya KOPI TUTU BADUY.

Menikmati bersama kopi tutu baduy.

BANDUNG, Akwnulis.com. Pasca menulis tentang HUNTING KOPI TUTU BADUY dan juga video di channel youtubeku terkait perjalanan menuju dan beredar di Kasepuhan Ciptagelar Kabupaten Sukabumi yang menggelar acara seren taun 2022 di tempat yang baru yaitu di wilayah yang dinamakan Gelar Alam. Ternyata banyak yang nagih pingin mencicipi kopi tutu baduy ini.

Padahal dapat kopinya cuma satu bungkus, sebungkus yang berharga. Karena penuh perjuangan untuk mendapatkannya, yaitu 250 gram alias seperempat kilogram dan sudah dalam bentuk bubuk siap seduh.

Bingung atuh, banyak yang ingin mencoba tapi kopinya terbatas. Maka demi kebaikan bersama, kopi tutu baduy ini harus segera dinikmati oleh banyak orang tapi dengan prinsip ‘mimilikan’ atau menjad rejeki bagi seseorang karena sudah takdirnya.

Ternyata, di jumat pagi semuanya terbukti. Pada saat menjambangi kawan-kawan yang bertugas di area monumen perjuangan jawa barat, disinilah kopi tutu baduy digelar. Berlokasi di tenda luar dekat mushola, air dijerang hingga mendidih. Gelas gelas disiapkan dan gula juga dihadirkan khusus untuk yang merasa belum manis hehehehe.

Bapak Ohim segera beraksi, ditemani kang Agung dan rekan – rekan kamdal Monumen perjuangan termasuk abah Wawan langsung menubruk kopi tutu baduy dengan air panas yang menggelegak. Curr…. hmmn keharuman kopi organik menyebar dan memberi rasa nikmat sebelum disruput tentunya.

Kocekan sendok hanya untuk melarutkan air dan kopi. Gula disisihkan karena akan merusak rasa asli kopi yang mungkin terasa pahit bagi sebagian orang, padahal ada rasa lain yang begitu luar biasa.

Sruput dulu bersama-sama guys… slruup.

Sebuah rasa hadir berkumpul di mulut dan membuat lidah mengecap sebuah body kopi medium dengan less acidity dan aftertastenya yang menyegarkan serta keharuman alami organiknya.

Diikuti oleh tubrukan kopi di cangkir lainnnya dan dinikmati bersama di kesegaran pagi sekitar monumen perjuangan jawa barat. Ternyata, semuanya menyukainya dan akhirnya tandas sudah 250 gram kopi tutu baduy hasil hunting di acara puncak seren tahun di Kasepuhan Ciptagelar ini.

Kenapa ini diceritakan?.. tentunya sebagai jawaban dari permintaan para kolega yang kabita dengan kopi tutu organik ini hehehe. Ternyata kopinya sudah habis dinikmati bersama. Maafkan semuanya.

Tapi jangan pada pundung ya, dan berkecil hati. Karena kopi tutu baduy tentu masih ada, tetapi bukan di tangan penulis lagi. Adanya di baduy dan di onlen hehehehe. Selamat malam semuanya. Salam Ngopay, Wassalam. (AKW).

Hunting KOPI TUTU BADUY

Mencari kopi asli baduy di acara Seren taun 2022.

SUKABUMI, akwnulis.com. Lewat sedikit tengah malam, kami menjejak di bumi palabuanratu tepatnya di Hotel Karangsari. Setelah menempuh perjalanan 6 jam dari bandung dengan 2x beristirahat, maka tibalah saatnya merebahkan raga dan membiarkan jiwa menghela nafas kelegaan.

Tapi sebelum menikmati istirahat, gerakan langkah terhenti karena melewati kolam renang yang berkilau di waktu malam oleh permainan lampu taman. Ada rasa untuk mencoba bercengkerama dan nyebur menyelami rasa, namun ternyata larangan datang dari petugas karena sesi berenang sudah usai. Ya sudah tidak jadi.

Akhirnya mandi di kamar mandi sebagai kompensasinya dan setelah tuntas shalat isya barulah merebahkan raga sambil mencoba memejamkan mata. Alhamdulillah.

Zzzz… zzzzz… zzzz

Jam 04.30 wib mata langsung terbuka dan bangun dari tidur lelap yang memberi kesegaran di tubuh ini. Tidak ada kompromi segera bangun dan bersiap mandi serta memantaskan diri. Karena pagi ini harus melakukan perjalanan lagi menuju lokasi yang direncanakan yaitu Kampung adat Kasepuhan Ciptagelar.

Sarapan pagi menjadi penting karena perjalanan secara estimasi adalah sekitar 2 jam lebih karena memasuki medan jalan yang naik turun bukit dan pinggir Gunung Halimun – Gunung Salak. Persiapan lainpun yakni badan harus fit dan siap berguncang-guncang di mobil double kabin 4×4 Toyota Hilux yang cocok bingit dengan medan jalan ‘unpredixtible‘ ini.

Kampung adat atau desa Adat Kasepuhan Ciptagelar adalah sebuah desa adat yang memegang teguh budaya kearifan lokal yang turun temurun dari para nenek moyang yang tinggal di sekitar gunung halimun dan gunung salak kabupaten sukabumi. Meskipun begitu modernisasi juga diterima secara terbatas, dimana teknologi pembangkit listrik mikrohidro telah hadir.

Nah, terkait perjalanan kali ini. Hati terasa gembira disaat masuk jalan biasa dan ada gapura bertuliskan ‘Selamat Datang di Kasepuhan Ciptagelar’… wah sebentar lagi, begitu suara dalam hati. Benar saja hanya 10 menit kemudian sudah masuk ke pedukuhan eh perkampungan dengan atap khas rumah desa adat.

Tapi kok sepi?”… lalu masuk ke gapura yang bertuliskan Kampung adat Sinarresmi. Ada area luas dikelilingi rumah – rumah panggung. Segera memarkir kendaraan dan bertanya kepada 2 orang warga yang merekapun menatap kami dengan heran.

Ternyata, bukan disini tempatnya. Ini ada kampung adat Sinarresmi sementara yang dituju adalah kampung adat Ciptagelar. Hehehehe, naik mobil lagi dan lanjutkan perjalanan menuruni bukit mendaki punggung gunung dan beberapa kali menyeberangi sungai serta berhenti di tanjakan berkelok tajam. Meloncat dari kabin mobil mencari batu atau kayu pengganjal agar mobil double kabin kami bisa bermanuver dan melanjutkan perjalanan.

55 menit berlalu, barulah tiba di Kampung adat Ciptagelar, “Tapi sepi juga dimana acaranya?” Berhubung GPS handphone terganggu maka GPS lainnya digunakan yaitu Gunakan Penduduk Setempat (GPS) juga khan?… bertanyalah kepada penduduk yang ada.

Dimana acara seren taun teh?”
“Diditu jang, pindah ka Gelar alam, deukeut da, paling leumpang sakilo”
(Disana Jang, pindah ke Gelar alam, dekat kok, cuma satu kilometer jalan kaki).

Tak menyurutkan semangat, segera meninggalkan kendaraan dan bergerak menapaki jalan turun naik bersama para pengunjung dan masyarakat yang ternyata mulai ramai hilir mudik.

Benar saja, 1,2 kilometer jalan kaki ditempuh 56 menit dengan kondisi kaki pasa patah kaki kiri, dan mulai terasa ada sesuatu yang salah di kaki kiri. Tapi perjalanan hampir tiba dan keharusan bersua serta bergaung dalam acara seren tahun mewakili pimpinan adalah yang utama, lanjutkan perjuangan.

Alhamdulillah rangkaian acara seren taun di tempat baru yang bernama Gelar Alam bisa diikuti meskipun tidak semua aktifitas hadir karena acara seren taun ini berlangsung seminggu lamanya. Tapi di acara puncak, gempungan gegeden miwah para jaro bisa bergabung memdengarkan harapan dan langkah-langkah yang sedang dilakukan semua pihak untuk kemajuan desa adat kasepuhan ciptagelar dan ciptaalam ini.

Duh jadi serius, khan mau hunting kopi. Pastinya kopi asli di ciptagelar ini. Tadi di pasar rakyat sudah berusaha ubek-ubek sambil lewat namun belum bersua dengan kohitala lokal.

Pasca menghadiri gempungan atau pertemuan resmi. Ada peninjauan bersama pak bupati, ibu Direktur Even Kemenparekraf dan Ibu Dewi Asmara DPR RI ke stand pameran dan mulai berbelanja berbagai hasil karya masyarakat adat Ciptagelar seperti boboko, aseupan, bedog, pacul, kored, korang… eh korangnya habis.

Dan pucuk dicinta ulam tiba, ada tersisa sebungkus kopi tutu baduy, kopi asli buatan masyarakat ciptagelar yang diproses secara tradisional dan ditumbuk halus menggunakan alu kayu dan proses penghancurannya itu, atau aktifitasnya disebut ‘nutu‘ dan hasilnya adalah hasil ‘tutu.’

Nggak pake basa basi, kopi tutu organik ini berpindah tangan bertukar dengan selembar rupiah merah bergambar pahlawan yang sedang sumringah. Wah senangnya….

Namun untuk menyeduhnya perlu persiapan lainnya. Nanti saja di Bandung bersama kawan-kawan sejawat dan sekantor atau kawan tamu yang kebetulan bersua atau bertandang. Sebagai pelengkap ngopay di lokasi ciptagelar ini, maka dikeluarkanlah bekal kopi manual brew V60 yang sudah dipersiapkan dari shubuh tadi.

Buka termos kayunya, tuangkan di cangkir kayu dan sruputlah jangan ragu-ragu. Nikmatt.

Itulah sekelumit cerita tentang ihtiar mencari kopi asli baduy disela tugas dinas yang menyenangkan namun penuh perjuangan. Untuk yang penasaran dengan versi videonya bisa di klik saja link youtube penulis, ada 3 video yakni :


1. PERJALANAN KE SEREN CIPTAGELAR
2. ACARA SAMBUTAN SEREN TAUN CIPTAGELAR 2022
3. HUNTING KOPI TUTU BADUY PADA SEREN TAHUN GELAR ALAM 2022.

Selamat bermalam minggu guys. Wassalam (AKW)

TOS KOLOT – fbs

Hiji carita basa harita

BANDUNG, akwnulis.com. Pagi menjelang dan mentari bergerak memberi terang. Sebuah ide menulis hadir di kepala dan tak perlu banyak pertimbangan, segera eksekusi dengan jari dan dirapihkan oleh mata. Itulah berkah pemberian Illahi yang harus kita syukuri.

Tulisannya bisa apa saja, namun sebuah tema besar perlu tetap dijaga. Maka blog ini dijaga konsistensinya dalam 2 koridor besar tema yaitu Ngopay dan Ngojay serta tema kedua adalah tulisan singkat fiksi berbahasa sunda.

Selamat pagi kawan, dan inilah tulisannya. Cekidot.

***

TOS KOLOT

Soca neuteup bari ngagerentes, “Duh gusti, èta damis meuni leucir, pangambung bangir ogè lambey pikabitaeun, soca langkung cureuleuk tur matak iuh kana manah”

Nu diteuteup mah anteng wè nyarios perkawis padamelan ogè murangkalihna nu tos ngawitan lebet ka paguron luhur tIna hasil ngiring selèksi nu saujratna. Teu hilap karier carogèna nu seueur cocobi tapi tiasa ngigelan dugika junun janten pupuhu. Cèrèwèdna teu robih.

Kang!”

Gebeg tèh, “Muhun” ngawaler bari rada ngarènjag.

Kunaon sapertos nu malaweung?, ulah seueur èmutan atuh. Da padamelan mah moal aya rèngsèna.”

Teu aya nanaon nèng, kalèrèsan aya nu hilap di kantor” diwaler bari rada tungkul.

Ngawangkong deui ngalèr ngidul dugika teu karaos acara parantos lekasan.

Ayeuna mah urang tèh tos karolot, teu kedah ngèmutan nu tos kalangkung. Urang ngarawat kulawargi sèwang-sèwangan, ngatik murangkalih supados janten solèh sholèhah.”

Amiin.”

Hiji kalimah nu mungkas carita, padahal dada ngaguruh teu puguh rasa.

***

Itulah jalinan kata bahasa sunda kali ini. Tidak perlu dipikirkan, tapi nikmati saja susunan kata dan hamburan makna yang bisa menghasilkan persepsi berbeda.

Kalau masih roaming karena ini bahasa sunda, tulis di kolom komentar atau japri saja sama saya hehehe. Terima kasih, Wassalam (AKW).

KOKYO Coffee Pangandaran

Ngopi di KOKYO yuk.

BULAKLAUT, akwnulis.com. Jikalau pagi tadi dimanjakan oleh sajian KOPI & KELAPA di pinggir pantai barat dengan kopi yang seadanya di emak penjual jajanan maka dikala sore menjelang perlu mencoba sajian kopi yang diproses secara manual v60.

Bergeraklah jemari mencari informasi di sekitar layar smartphone dan muncul beberapa pilihan. Sebagai pelengkap maka tanya-tanya juga kepada beberapa orang yang kelihatannya adalah akamsi atau orang sini.

Om kalau kafe atau kedai kopi yang nyediain kopi seduh manual dengan V60 dimana ya?”

Wajahnya agak bingung, trus nunjuk salah satu kafe di depan. Yach sudah kayaknya harus sambil bergerak deh.  Kayaknya salah nanya hehehehe.

Di layar smartphone ada sebuah pilihan namanya KOKYO KOPi, kayaknya sih kopi susu begitu yang biasa anak muda sekarang dengan aneka campuran susu, matcha, coklat dan sebagainya. Tapi ternyata ada juga pilihan manual brew V60, nah ini baru pilihan tepat. Meluncuuur….

Hmmn.. tempatnya gabung sama restoran tapi agak depan dan akses tersendiri. Ruangannya juga enakeun dan benar saja, ada sajian manual brew dengan corong V60 dengan pilihan biji kopinya adalah Enrekang Bungin Nating, Anaerobic wash Exotic java dan Arabica Kerinci Natural.

Pilihannya jatuh pada arabica Exotic Java karena penasaran dengan noticenya yang menyebutkan ada sweet yang exotic.

Nah yang bikin penasaran juga adalah nama cafenya, KOKYO. Lontaran pertanyaan kepada teteh pelayan dan Yoga sang barista disambut dengan kebingungan tapi jadi pe er mereka untuk mencari tahu apa arti sebenarnya. Nah besok lusa mampir lagi harus sudah ada jawaban.

Jangan sampai artinya dalam bahasa indonesia sunda, yaitu ‘Kok Kieu?” Ini mah berarti rasa kopinya nggak enak jadi komplen hehehehe.

Maka jelas bahwa penamaan sebuah cafe coffee tentu harus ada philosopinya. Setelah itu sang owner wajib mengajarkan makna nama itu kepada seluruh pegawainya terutama front office dan barista. Jadi tidak akan bingung lagi disaat ada pelanggan iseng dan nanya-nanya.

Urusan rasa dari kohitala yang tersaji lumayan enak, ada keseimbangan body dan acidity serta aftertaste yang menyegarkan dilengkapi dengan suasana cafe yang ditata apik meskipun mungil tapi cantik.

Yang penasaran dan pengen ngopi disini yaa googling aja. Tapi kalau malas googling lokasinya sebelah kiri terhalang 2 bangunan daru hotel Arnawa Pangandaran. ‘Hotel arnawa sebelah mana?’… monggo googling lagi.

Udah ah, sekarang mah sruput dulu ah….. hasil karya barista KOKYO Coffee. Alhamdulillah. Wassalam (AKW).

Kopi Kelapa.

Sruput kopi dan air kelapa, nikmat tiada tara.

BULAKLAUT, akwnulis.com. Sebuah momentum penting dan nikmat dalam jalinan kisah kehidupan ini adalah disaat angin berhembus menembus dedaunan dan secangkir kopi hitam tanpa gula sedang menempel di ujung bibir. Tinggal sedikit bergerak, maka kenikmatan kopi melengkapi sejauh mata memandang deburan ombak pantai selatan.

Apalagi raga ini terasa segar dilindungi oleh keteduhan pepohonan yang rindang dan rapi berjajar sepanjang pantai. Ditemani secangkir kopi dan sebutir kelapa muda segar yang jatuh dari pohonnya… halaaah jangan ngarang, kelapa mudanya khan memang beli dari ibu-ibu tukang dagang.

Sruputan kopi hitam bergantian dengan air kelapa muda yang segar disertai selaput kelapa muda yang ‘lumèho’ atau seperti lendir maka kenikmatan semakin lengkap memanjakan lidah dan rasa dalam momen mengkopi eh mengopi kali ini.

Ah celoteh singkat ini tak berlanjut karena mulut dan lidah lebih memilih memaknai rasa air kelapa dan segelas kopi yang penuh arti. Srupuut…. Alhamdulillah. Wassalam (AKW).

KOPI & SORE di Km88

Catatan rehat sore.

SUKATANI, akwnulis.com. Menyore dalam sebuah perjalanan kehidupan tentu diperlukan sebuah rehat yang singkat tapi nikmat. Setelah berjibaku dengan tugas, kertas dan berkas maka perlu sesaat istirahat berkualitas tanpa hilangkan makna dari sebuah hakikat kualitas. Maka pilihan utamanya adalah mencari waktu dan tempat istirahat yang tepat.

Begitupun cerita menyore kali ini, atau mlipir sore setelah seharian mendengarkan arahan, paparan dan tanya jawab berhubungan dengan penggunaan uang negara yang berkutat di antara tiga besar yakni perjadin, honor narsum dan paket meeting. Maka sebuah komitmen kehati-hatian dan  hitam putih aturan menjadi hal utama yang menjadi pegangan. Review pengawas sebagai awalan menguatkan konsepsi perencanaan tahun depan agar lebih sempurna dalam ketepatan guna dan sasaran.

Maka rehat sore sejenak menjadi obat mujarab yang menenangkan. Tentu dengan pilihan menu yang tepat dengan harapan, harga dan pemandangan. Pilihannya sederhana, sebuah tempat yang bisa memenuhi hasrat nongkrong  dan lengkap dengan sajian kohitala meskipun dengan metode tubruk ala – ala, yang penting terhindari dari gula.

Sebuah kios kopi menjadi pilihan tepat, karena posisi penjuru dan berada di depan mesjid BSI yang bersih dan elegan. Tanpa basa-basi maka pilihan pertama untuk memesan kopi hitam tanpa gula menjadi prioritas, ya memang dapetnya kopi gunting tapi kelihatannya sedikit meyakinkan.

Lalu sebagai pelengkap tak lupa gorengannya yaitu gehu dan sejumput  cengek sebagai penggugah kepedasan yang menambah semangat dan kesegaran.

Maka sebagai sebuah kenangan, segelas kopi berlatar belakang mentari sore serta mesjid BSI menjadi catatan penting dalam menyore kali ini.

Oh ya posisi menyore kali ini berada di rest area Km88 Tol Cipularang arah Bamdung ya guys. Pokoknya klo berkesempatan menyore disini,  bisa dicoba spot kios ini. Karena selain kopi dan gorengan juga tersedia aneka minuman termasuk mie rebus dan mie goreng aneka varian plus leupeut dan lontong sebagai teman atau pengganti nasi.

Sruput dulu guys lalu mengunyah gehu dan memotret momentum sore yang menyenangkan. Lagian menyore nggak bisa lama-lama karena dibatasi mentari yang tenggelam di peraduan menuju malam untuk berganti peran dengan rembulan. Plus hadirnya panggilan shalat magrib via adzan yang berkumandang. Wassalam (AKW).