Sarapan Goim-Jekisam

Mencoba sarapan dengan jenis makanan yang berkualitas, tapi kok rasanya asing?

Photo : Sajian Sarapan Goim-Jekisam/ dokri.

PURWAKARTA, akwnulis. Pagi meninggi dan mentari berseri. Ada kewajiban diri yang tak bisa dihindari. Apa itu?… makan pagi.
“Hahaha, kirain boker.. eh buang air besar”

“Ah kamu mah mikirnya itu aja, dasar obok!”

Makan pagi alias sarapan, sangat dianjurkan. Mayoritas gaya hidup dan gaya diet mensyaratkan sarapan alias makan pagi.

Ingat yaa…. makan pagi.. sarapan.. makan pagi!!!

“Bukan makan nasi?”

“Bukannn… tapi makan pagi”

“Ah nggak kenyang makan pagi mah, aku tetep makan nasi”

“Ih ngeyel kamu, cubiit geura”

***

Sarapan pagi tidak harus nasi, atau aneka karbohidrat saja. Bisa lontong, bubur, leupeut, kupat, hucap, bacang, lemper, tangtang angin, buras, jagung, kentang, talas, ubi, singkong…. trus golongan gorengan seperti bala-bala, gehu, rarawuan, comro, misro, karoket, lumpia, dan gorengan lainnyaaa…. eh semuanya karbo ya????

Iyaaaa….. 🙂 🙂 🙂

Ada juga yang sarapan dengan minum kopi doang dan rokok, atau gorengan dengan rokok, atau buah-buahan, atau dengan sereal dan banyak pilihan lain.

Tapi kembali ada hal yang hakiki dimana sarapan ini menjadi seni mensyukuri. Sebuah momen yang harus dipahami sebagai bagian penting kasih sayang Allah SWT. Karena mungkin saja, saudara kita dibelahan dunia lain atau mungkin tetangga kita masih kesulitan untuk mendapatkan sarapan di hari ini.

Eh ada juga yang tidak sarapan dengan yang disebutkan tadi, tetapi cukup teguk setetes madu dan 2 sendok teh cairan virgin coconut oil (vco), ini aliran diet ketofastosis (klo nggak salah).

Klo yang sarapan buah-buahan itu biasanya aliran diet food combining, atau memang penyuka buah yang sudah konsisten istiqomah.

Tetapi rasa bosan itu terkadang menghinggapi, sehingga perlu variasi dan inovasi dalam sarapan di pagi hari.

Menu diawal tulisan ini mencoba mewakili. Alhamdulliah rasanya jadi aneh dan menantang. Padahal dipilih potongan jeruk yang berkualitas, goreng ikan mas yang menggugah selera serta sambel dadak yang begitu menggiurkan.

“Tapi kok rasanya aneh dan asing?”

Akhirnya disadari bahwa menggabungkan sesuatu yang menurut kita enak dan baik belum tentu berujung baik manakala komposisinya tidak tepat. Kecuali emang nekat, ya monggo tanggung reskio eh resiko sendiri.

Nama sajian ini GoimJekisam (Goreng Ikan Mas Jeruk Sunkist Sambel). Rasanya campur-campur, manis asin hanyir pedas heu heu heu…..

“Berani?… silahkan cobaa!!”

Photo : Secangkir kopi luwak ala-ala / dokpri.

Tidak lupa secangkir kopi luwak ala-ala dengan metode seduh biasa, disajikan menjadi teman sarapan pagi ini.

Selamat sarapan dan makan pagi setiap pagi kawan, jangan sarapan yang macam-macam juga jangan macam-macam dengan sarapan. Wassalam (AKW).

Arabica Wine & Ijen di Renjana

Menikmati V60 Arabica wine vs Ijen.

Photo : Sajian V60 Arabica wine – Renjana / dokpri

BANDUNG, akwnulis.com.Pagi yang cerah dan senyum di bibir merah, sejuta rasa bahagia….’

….”Lhaa kok jadi nyanyiin lagu mendiang Chrisye seeh?”

Tapi ini emang pagi yang cerah meskipun bibir merahnya sih relatif. Merah karena obat merah, atau bibirnya kejemur atau polesan lipstik yang mungkin harganya mahal dari mulai Estee Lauder Pure Color Envy Sculpting (400ribuan) hingga Couture Beauty Diamond Lipstick yang harganya (ceunah) 187 Milyar karena bertabur berlian.

Pagi yang cerah ini, menjadi kesempatan berharga untuk menjajal program jalan 30 menit/hari. Kebetulan ada perintah buat ngewakilin bos rapat di salah satu kantor di daerah jl Riau – jl.Laswi. “Kayaknya nyampe kesitu jalan kaki 30 menitan”

Berangkaat…..

Dengan rute Jl. Martadinata / Jl.Riau luruss aja ngikutin trotoar, dan beberapa kali menyebeberang di perempatan… ada 4 apa 5 per4tan. Mulai dari perempatan Istiqomah, Cihapit, ujung jalan Aceh, Gandapura hingga perempatan Jl. Anggrek…

Ternyata 24 menit sudah hampir tiba di TKP, wah masih ada spare 6 menit. Belok kanan dulu ke jalan Anggrek trus ke Jalan Pudak… ternyata ada 4 cafe kopi…. yang pasti ada kopi pudak, kopi Renjana dann…..halah 2 lagi lupa euy.

Photo : Barista Renjana beraksi / dokpri

Dari Jalan Pudak langsung balik badan dan kembali kepada jalan yang benar eh.. jalan yang menuju tempat rapat….. 35 menit akhirnya waktu berjalan dari daerah Istiqomah hingga ujung jalan Martadinata-Ahmad Yani. Keringat lumayan mengucur, tapi segar… aslinya segeerr. Yaa kalaupun ada sedikit bau keringet pas ntar rapat, itu mah resiko. Namanya juga jalan kaki, ya keringetan.

—- Cerita rapatnya nggak dibahas

Naaaah… jam 2 siang baru beres rapatnya…… setelah bubar…. jalan kaki lagi menuju jalan anggrek tadi… kemooon.

Photo : Sebungkus arabica wine / dokpri

Namanya Kafe Renjana, kata sang duo barista artinya ‘Rencana‘ tapi diwujudkan jadi cafe. Nama baristanya Rio dan Diki. Menunya banyak, dan ruangannya cozy serta rapih. Ada juga ruangan private buat meeting, itu mah musti booking dulu….. lha kok jadi iklan cafe seeeh!!.

Yang penting kopinya bro, manual brew V60 tea geuning….

Tanpa perlu lama, pilihan biji kopi yang ada dibaca satu persatu. Ah pilihan mah nggak boleh terlalu banyak, lagian yang lainnya udah tau karakter rasanya… wheleeeh wheleeh kayak yang udah nyicip ratusan kopi aja, sombong lu!!

Pertama, Arabica wine. Katanya beannya dari gunung manglayang. Oke deh gpp, ditunggu racikan manual brew V60nya.

Sambil duduk di meja sebelah dalam, mencoba menikmati suasana cafe Renjana dalam waktu yang sangat terbatas ini. Enak juga buat nongkrong, eh tapi jauh dari kantor. Ya sudah sesekali aja.

Tak berapa lama sajian kopi manual brew V60 Arabica wine ala Renjana cafe telah tiba dihadapan. Sebelum dinikmati tak lupa didokumentasi, wajiib itu!!

Ouuww…. bodynya bold dan ninggal di seputar bibir, aromanya oke dan ada taste fruitty yang ninggal plus selarik rasa karamel.

Kata baristanya pake perbandingan 1:15 alias 100ml dengan 15gr bean persajian… cucook deh.

Nggak pake lama, disruput habis tuh sajian kopi arabica wine. Eh sang pelayan lewat, sambil tersenyum berkata, “Om kayak minum air putih aja, teguk teguk habis.. itu khan pahit bingiit”

Senyum tersungging, salah besar. Ini sajian nggak pahit, justru nikmat dan bisa sesaat melupakan pahit getirnya kehidupan… ahaaay.

“Pesen lagi neng, Manual brew V60, kopinya Ijen”
“Oke Kakak”

Ahay kok berubah panggilannya dari Om jadi Kakak….

Photo : Sajian V60 kopi ijen / dokpri

Sajian kedua, manual brew V60 kopi Ijen. Sajiannya sama dengan gelas botol saji transparan dengan gelas kecil. Tanpa embel-embel, polos saja.

Perlahan disruput, kumur dikit dan glek.. glek.. glek… aroma harum dengan body lite, cocok buat pemula. Serta acidity medium. Taste tidak terlalu jelas, sangat tipis rasa fruittynya.. “Eh atau jangan-jangan efek arabica wine-nya belum hilang?”

Nggak usah dipikirkan. Biarkan kopi arabica wine dan kopi ijennya bersepakat di dalam lambung untuk menghasilkan MOU perikekopian yang akhirnya akan keluar dari tubuh ini dalam bentuk yang relatif sama.

Photo : bean kopi Ijen / dokpri

Yang pasti keduanya nikmat dengan segmentasi peminat ya g berbeda. Mau yang strong atau medium, itulah pilihan.

Akhirnya sang waktu jua yang memaksa raga ini hengkang dari Cafe Renjana. Kembali ke alam nyata dan berpetualang menapaki jalan kehidupan yang terbentang sepanjang hayat. Wassalam (AKW).

***

Kopi Mundur

Ternyata bisa juga bergerak mundur untuk mencapai tujuan, sambil ngopi.

Photo : Kopi tahukah kamu?/dokpri

JAKARTA, akwnulis.com. Mentari masih malu-malu menampakan diri disaat kejadian ini diawali. Kisah nyata yang ternyata berbuah hikmah.

“Mau tahu?”

“Mauuuu!!”

“Ternyata dengan duduk dan bergerak mundur, bisa sampai juga ke tujuan”

“Ah seriusan?… nggak pusing tuh?”

“Agak siih, tapi takdir sudah memilih kami”

“Kerennn, kok bisa sih?”

“Gampang kok caranya, tinggal beli tiket kereta kelas ekonomi jurusan bandung – jakarta”

“Ahh kirain teh apa”

Tapi betul kok, duduk di kursi kereta api kelas ekonomi memang terbagi menjadi dua arah, 1abcd sd 11abcd akan berhadapan dengan 12abcd sd 20abcd, jadi 11 dan 12 berhadap-hadapan. Nah klo yang kebagian arah maju menyongsong tujuan sih fine fine aja.

Yang berabe adalah posisi berlawanan, sehingga mundur teratur tapi menuju tujuan. Jadi istilahnya ‘Terus mundur untuk mencapai tujuan’ heu heu heu.

Untungnya nggak sendirian yang mundur tapi maju ini, minimal satu gerbong ada 4×11 : 44 orang , belum gerbong ekonomi lainnya, klo ada 4 gerbong ekonomi berarti ada kawan 175 orang.. jadi yaa… nikmati.. jalani sambil munduriii.. hihihi.

Untuk yang pertama kali mungkin akan ada sedikit pusing dan bingung, dislokasi.. eh itumah tulang keseleo ya.. disposisi… eh misposisi yaa?…. terserah deh… tapi karena ini perjalanan ke sekian kali… yaa nikmati saja, yang penting bisa tiba di jakarta tepat waktu dan bebas macet.

Photo : Black coffee ResKa / dokpri

Naah… supaya kemunduran menuju tujuan ini terasa menyenangkan maka pesanlah kopi dari petugas restoKA yang akan datang melewati kita membawa dorongan makanan minuman dengan harga khusus… maksudnya khusus di kereta.

Pilihan makanan minumannya bervariasi, tapi bagi diriku cukup dengan satu cup kopi hitam panas tanpa gula…. haruuum dan nikmaaat.

Jikalau sang petugas memberi 2 sachet gula, tolaklah dengan tegas. Karena itu artinya sang petugas tidak meyakini bahwa kita ini ‘sudah maniss‘… kopi hitam tanpa gula adalah segalanya… “ihh mulai lebaay dech”

Saran penting, jangan langsung disruput tuh kopinya. Karena air panasnya bener-bener panas, ntar malah mulut dan tenggorokan terluka. Jadi diamkanlah beberapa saat sambil tetap menikmati ‘kemunduran’ yang nyata ini.

Meskipun mundur, pemandangan diluar tetap bisa dinikmati. Tapi semua dengan cepat terlihat, menjauh dan berganti… begitulah kehidupan. Sekilas menghijau, berganti dengan tanah merah, persawahan atau gelap memekat karena memasuki terowongan.

Ah sudahlah, sekarang saatnya menikmati kopi hitam ala KA Argo Parahyangan. Srupuut…. hmmmm.. nikmat. Body tebal dan getir menyambut, acidity praktis nggak ada, tastenya flat… ya begitulah. Tapi tetap aroma kopinya ada, dipastikan ini dasarnya kopi robusta.

Sruputt…. nikmat. Terasa perjalanan kemunduran ini lebih bermakna, hingga akhirnya 3 jam sudah bermundur bersama dan tiba di stasiun Gambir tepat waktunya.

Jadi ternyata bergerak mundur itu bukan kemunduran, tapi bergerak mundur demi mencapai tujuaaan. Udah ah nglanturnya. Wassalam (AKW).

Salmon Pasta Salad (SalpSa)

Jalan kaki lanjut makan pagi eh maksi. yummy.

Photo : Sajian Salmon Pasta Salad / dokpri

BANDUNG, akwnulis.com. Berjalan kaki di jumat pagi menjadi rutinitas utama, meskipun tetap harus menyesuaikan dengan tugas yang ada. Target jalan 30 menit harianpun tetap diupayakan, meskipun tentu kendala malas bergandengan dengan aneka tugas membatasi gerakan kaki yang senantiasa kepengen bebas.

Jumat pagi inipun ternyata tidak terlaksana sempurna, karena hingga mentari mulai meninggi, raga ini masih berkutat di ruang kerja menyelesaikan tugas dadakan yang datang tiba-tiba (ya iya atuh datang tiba-tiba, khan tugas dadakan…. iyaa bener jugaa 🙂

Jam 10.01 wib baru bisa keluar ruang kerja dengan stelan masih training dan sepatu olahraga kesayangan, black terrex. Maka tidak menyia-nyiakan kesempatan, segera menghambur keluar area gedung sate dan menapaki jalan banda, belok kiri jalan martadinata… lurussss…. lewati 2 perempatan hingga akhirnya belok kiri ke jalan Cihapit. Lurus lagi hingga ada persimpangan yang deket Bank, lurus lagi menuju area Pet Park, jalan Cilaki.

Sambil terengah dan keringat mengucur, sampai juga ke tujuan.

“Nyari apa seeeh?”

“Iniiiiih” telunjuk mengarah ke cafe simple yang menyajikan menu makanan sehat dan bahagia serta tentu dengan harga yang ‘Lumayan‘.

***

Sajian kali ini adalah ‘Salmon Pasta Salad’

Icip-icip rasanya enak lho, pasta yang dibuat sendiri dengan warna warni yang lucu. Daun horenzo yang hijau lebar, potongan daging ikan salmon, tumis tomat ceri, paprika, jamur di karamel dengan saus italy.

Nggak pake lama, langsung disantap diawali Bismillah. Rasa pastanya enak gurih dan mengenyangkan. Ditambah segarnya horenzo dan paprika serta tumis tomat ceri. Untuk asupan protein maka daging ikan salmon itu adalah jawabannya. Saus italy-nya juga enak dan enak weeeh….

Alhamdulillah tandas.

Mengingat jadwal jumatan yang sudah dekat serta pertimbangan ketinggian matahari akan tepat di ubun-ubun. Maka niat berjalan kaki ke kantor harus diurungkan, apalagi perut penuh dan waktu mepet, jangan sampai shalat jumat telat.

Pleasee jemppuutt!!!

Wassalam (AKW).

Swimming Pool Grage Sangkan Kuningan

Menikmati kolam renang di salah satu hotel Kabupaten Kuningan.

KUNINGAN, akwnulis.com. Birunya air membawa ketenangan, gemericiknya membuat ritme jiwa kembali selaras setelah didera tugas dan dinamika kehidupan. Suasana alami adalah janji bumi, yang membuat rasa hakiki bahwa manusia dan alam harus bersinergi.

Sebuah konsep yang ditawarkan oleh salah satu hotel di Kabupaten Kuningan ini begitu memanjakan harapan dan menenangkan perasaan bagi yang datang dengan tujuan tugas ataupun berlibur bersama keluarga tersayang.

Anugerah subur menghijau di dataran kaki Gunung Ciremai serta berkah air panas alami yang menjadi keunggulan tersendiri berpadu disini, di Hotel Grage Sangkan.

Bagi yang kepo dan penasaran, udah nggak usah bingung dan galaw. Tinggal buka smartphone, googling, google map atau waze. Pesan via traveloka, tiket.com dan aplikasi sejenisnya… selesai. Karena tulisan ini mah bukan iklan, tapi ceritaku AKW yang nulis. Siapa tahu memang ada yang perlu dengan informasi ini, titik.

“Ih kamu kok jadi sensitif?”
“Bukan gitu, cuma klarifikasi aja”

Lanjuut…..

Photo : Ngopay di Kolam renang / dokpri.

Kembali ke birunya air, maka swimming pool yang menjadi arah tulisan ini. Kolam renang utama yang menjadi fasilitas hotel ini terletak di dalam area hotel setelah melewati lobby. Diapit oleh beberapa ruang pertemuan dan tempat makan atau restauran dengan pemandangan luas alam kuningan bernuansa hijau alami.

Sebelum ke kolam renang, sebenernya terdapat kolam air panas alami dan bagi penginap dapat voucher masuk free. Nah, pas mau masuk dan rencananya ambil photo, ternyata ibu-ibu semua, mungkin rombongan arisan kali. Jadi nggak enak, urunglah mengambil photo kolam air panas ini.

Segera bergeser ke kolam renang yang besar dengan kedalaman 1,8 meter. Biru mengharu menyambut rindu, terang berpendar menjejak sinar. Dasar kolam yang biru ditambah tulisan ‘Grage’ memberikan identitas jelas sedang berada dimana sekarang. Disamping kanannya ada kolam anak, ukuran 5×3 meter, lumayan buat bercanda dengan anak tercinta.

Tak lupa secangkir kopi ikutan didokumentasikan di pinggir kolam. Kopi jatah rapat, tetapi tetap rasanya nikmat.

Jam operasional mulai pukul 07.00 wib sampai jam 20.00 wib. Peralatan handuk tersedia lengkap, jangan lupa kepada petugas tunjukan voucher hotelnya. Kamar bilas berada di arah utara kolam renang, sekaligus akses menuju kolam air panas.

Jadi beres berenang di kolam air dingin, bilas sebentar, lanjut berendam di kolam air panas, nikmatnyaaa. Sayang sekali sore ini meetingnya masih berlanjut, sehingga momen bercengkerama dengan gemericik rasa akan sedikit tertunda. Mungkin baru bisa besok atau lusa. Met ngojay bray, Wassalam (AKW).

***

Alamatnya :
Hotel Grage Sangkan Kuningan
Jl. Sangkanhurip No.1 Kuningan Jawa Barat
Telp 0232-614545

Kopi & Mutasi

Perubahan tugas bernama mutasi, harus dihadapi tanpa basa basi. urusan kopi terus dinikmati.

Photo : Sajian kopi hitam tanpa gula di cangkir hitam / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Pahitnya kopi menjadi pemecah suasana yang cenderung formal berhias angka-angka akuntansi. Diawali dari basa basi, penuh janji dan ambisi ditutup dengan angka-angka target yang mengejar presisi. Meskipun yakin secara niat, semua yang hadir memiliki tujuan hakiki.

“Kenapa bicara pahitnya kopi?”
“Karena rasa kopi pahit bisa menetralisir pahitnya angka-angka rumit dalam perjalanan kehidupan”

‘Ahaay lebaay’

Tapi benar saja, setelah ungkapan ‘kopi pahit’ tadi mengemuka, suasana perbincangan dalam meeting perdana ini menjadi cair dan penuh keakraban. Angka-angka yang menjadi target tetap dibahas dalam kerangka keilmuan, tetapi suasana penuh kekeluargaan.

“Ngapain ngurusin angka-angka?”

Senyum dikulum menjadi jawaban sederhana. Dengan pendekatan telepati, jawaban tiba tanpa perlu berteriak lantang yang menggegerkan dunia.

Photo : Meeting perdana bertabur angka / dokpri.

“Ini efek mutasi, berpindah tugas baru beberapa hari, bersua kembali dengan angka-angka yang menari. Berbalas pantun membaca neraca akuntansi demi sebuah kemajuan lembaga keuangan di wilayah tasikmalaya yang loh jinawi”

Kata berima menjadi jawaban, nafas perlahan menandakan ketenangan. Secangkir kopi hitam di gelas yang hitam tidak menghitamkan pandangan, malah menyalakan secercah cahaya untuk menghapus kelam setelah lembaga ditinggal oleh sesepuh yang penuh dedikasi di dunia perbankan lokal di jabar selatan, selama-lamanya.

Secangkir kopi hitam tanpa gula, menjadi saksi diskusi yang berusaha menghasilkan keputusan penuh arti. Inilah meeting perdana pasca mutasi, hidup kopi, Wassalam (AKW).

Kopi & Sopir Tembak

Menjalani hari dengan tugas yang nggak mau berhenti, diusahakan tetap bisa ngopi.

Photo : Sajian Kopi Ijen dengan metode V60 / dokpri

BANDUNG, akwnulis.com. Dikala harus tampil mewakili pimpinan, disitulah latihan kepemimpinan terbuka lebar. Tidak usah takut, coba saja. Ini kesempatan bagus untuk melatih kemampuan berbicara di depan umum sekaligus ajang belajar untuk menyampaikan materi yang diketahui dan dipahami.

Itulah yang terjadi hari ini, istilah bekennya mah ‘sopir tembak‘ heu heu heu heu.

Dengan berbekal sejumput keberanian dan serpihan-serpihan puzzle pemahaman, segera tampil menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara pelatihan di sebuah hotel yang indah, Hotel Amarossa.

Tadinya kirain bakal ketemu penyanyi mungil asal sumedang, Rossa. Ternyata nggak ada, memang nama hotelnya Amarossa.

Alhamdulillah acara lancar dan bahagia, nambah temen nambah sodara.

***

Tuntas bertugas menjadi ‘sopir tembak’, bergegas pamit kepada panitia. Karena harus bersiap untuk meeting lanjutan di siang hari. Padahal coffee break sudah tersedia, ya sudah lewat saja.

Ternyata pas keluar hotel, mobil nggak ada. Eh baru inget, khan tadi yang nyopirin disuruh beli sesuatu ke daerah Buahbatu… lupa euy.

Ya sudah jalan kaki saja ke kantor, lumayan sambil berolahraga.

Photo : Acting membaca bahan rapat di cafe 9/11 (dokpri)

Maka ngagidiglah.. eh basa sunda, berjalan kaki lah keluar dari halaman hotel Amarossa menelusuri jalan Aceh, belok kanan jalan Banda dan lurus saja… trus belok kiri dan dipertigaan jalan Halmahera berhenti sejenak, ada yang menarik di seberang sana.

“Apa yang menariknya kang?”
“Sesuatu”

Sebuah bangunan berdinding putih, bertuliskan 9/11.

Langsung masuk, aroma kopi semerbak. Iya cafe kopiiii……. cuman nggak leluasa tanya-tanya dan pilah pilih karena waktu yang terbatas. Sebuah dilema, pengen ngopi tapi waktu sedikit sekali. Ya sudah dibujeng enggalna.

“Neng, pesen manual brew V60, kopi ini nich, kopi Ijen sama satu lagi cappucino”

“Oke kakak, semua jadi 36ribu”

Nggak banyak nanya, bayar, tunggu kembalian, ambil kembalian dan cari tempat duduk di luar.

Photo : Sajian secangkir Capucinno / dokpri

10 menit kemudian, muncul sajian yang dinanti-nanti. Kopi manual brew V60 dan secangkir capucinno untuk kawanku.

Disajikan dengan gelas botol server bening dan gelas mini yang menarik.

Srupuut….. euh… acidity ada sih, khas rasa kopi arabica, tapiiiii….. euh.

Suasana hati yang diburu-buru atauu…..penyebabnya, air yang digunakan nyeduhnya kurang pas takaran suhunya. Mungkin cuma 60°celcius jadi ‘baleuy’ alias rasanya hambar karena ekstraksi bijinya nggak maksimal.

Tapii… ya sudahlah. Mungkin lain kali kalau mampir, bisa dinikmati sajian lainnya.

Photo : Sebungkus kopi Ijen / dokpri

Berhubung waktupun begitu sempit, ya usah sruput… glek glek glek… tandas. Langsung bergerak kembali mengayun kaki menyusuri jalan Halmahera-Riau-Banda dan akhirnya sampai di gerbang belakang kawasan Gedung Sate.

Tiba di ruangan, sepatu ganti sandal dan segera wudhu, sholat dhuhur dulu bray.

***

Baru beberapa detik selesai sholat, handphone berdering.

Tap…. segera diangkat, “Assalamualaikum!!”

“Waalaikumsalam, Maaf pak, kata bapak, rapat yang jam 13.00 tolong dipimpin saja, wakili, bapak masih kegiatan dengan Menteri di Subang” Suara aspri bos menyampaikan mandat.

“Siap”

Owwmaygaat….. tugas kedua hari ini, jadi ‘sopir tembak’ lagi. Semangaaaat!!!.

Sedikit bulir keringat tiba-tiba hadir di dahi, mengingat rapat sekarang bukan rapat sembarangan. Tapi ya sudahlah. Hadapi, jalani, dan jangan lupa ngopi. Wassalam (AKW).

Double Espresso – Crown Hotel Bdg

Ngopi sambil kerja, pasti bisa.

Photo : Secangkir Double Espresso Home Blend Crown Hotel Bandung / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com, Perjalanan sebuah perusahaan tentu tidak lepas dari suka dan duka, tetapi satu hal yang menjadi sangat esensial adalah ‘Asbabun nuzul’, asal mula dari semua yang detik ini mengemuka.

Paragraf awal ini terinspirasi dari pidato Gubernur Jabar pada pembukaan acara Review Kuartal VI Bank BJB di Crown hotel, Bandung (23/01) yang menekankan tentang ‘Jas merah’, jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Poin penting bagaimana peran bank plat merah ini dalam pembangunan di Jabar, keberpihakannya kepada masyarakat mikro dan minimikro serta harapan besar menjadi Bank buku VI di Indonesia.

“Ngopinya mana?”
“Ih ntar dulu, sabaar, ini lagi dengerin pidato”

Jadi treatmen pa Gub terhadap BJB itu dengan ilustrasi cerdas, yaitu dikala terasa ada sesuatu yang salah dalam tubuh ini tentu perlu pengobatan dan dokter memberi resep lalu pergi ke apotek. Pilihannya dua, ada obat batuk rasa strawberry atau obat batuk hitam (OBH), kalau kasusnya sakit batuk.

Jadi bersiap dengan solusi yang ‘manis ala strawberry’ atau rasa pahit yang menggetirkan tetapi semua bertujuan menyelesaikan penyakit atau masalah, tentunya bertuan demi kemajuan BJB dan Jawa Barat.

Nah, untuk kopinya diwakili oleh sajian double espresso dengan beannya home blend Crown hotel. Rasanya pasti strooong dengan body yang tebal, bikin cénghar dan melotot sepanjang acara.

“Gitu aja?”
“Iyaaa….. “
“Teu puguh ah”
“Terserah”

***

..dan dua cangkir double espresso-pun tandas serta mengakhiri perdebatan penting ini. Wassalam (AKW).

Longblack Sejiwa

Memulai hari bersama sajian kopi yang memberi asa dalam diskusi

Photo : Secangkir Longblack membawa inspirasi, abaikan cake red velvetnya ya, bukan punyaku / dokpri.

PROGO, akwnulis.com, Sekuncup harap bersua nyata, semisal hanya ingin mencoba nikmati rasa tanpa harus bersusah payah memproses dengan daya upaya.

“Lagi malas bikin sendiri ya mas?”
“Kamuuh tau aja, kali-kali ngafee donk”

Cakap singkat di pagi yang sendu, semakin menebalkan ingin menguatkan harapan bahwa nyruput kopi akan semakin memberi arti indahnya hari ini.

Ternyata, gayung bersambut, harap dan nyata berjumpa, diawali dari sebuah perintah singkat untuk menemani ibu bos mengikuti meeting singkat di pagi ini.

Tak perlu pake lama, setelah merapihkan berbagai dokumen yang terserak di meja. Membawa bahan seperlunya, bergegas menuju tempat pertemuan, sebuah tempat yang suka dijambangi jikalau ada waktu di hari libur bersama istri tercinta, Cafe Sejiwa.

Salam kenal dan bertukar nomor kontak otomatis berjalan, cakap ringan hingga esensipun mengalir lancar. Meskipun disaat ingin menikmati sajian manual brew V60nya belum tersedia, agak masgyul siih. Tapi ini masih pagi, pukul 08.00 wib, yaaach wajar aja. Akhirnya hasrat bercengkerama dengan si kopi hitam dipenuhi dengan sajian hot longblack dengan beannya home blend cafe ini.

Alhamdulillah, kopi pertama hari ini. Perbincangan bersama tetamu dari Bank Mandiri berlanjut ditemani sedikit canda tetapi tetap fokus kepada tema tentang peluang investasi dan keanekaragamannya.

Sajian secangkir kopi hot longblack, membuka kenikmatan kopi hari ini. Meskipun beda dengan kopi racikan manual, tetapi tetap nikmat dan menyegarkan. Kemoon ngopay.

Ditambah lagi dengan menu sarapan berbasis buah-buahan segar. Anggur dibelah menemani irisan pisang dan dikawal barisan strawberry yang ranum memukau berpadu dengan oatmil menghasilkan padanan nyaris sempurna. Bicara rasa, jangan tanya, tetap pada dua pilihan, enak dan enak bingiit. Wassalam (AKW).

Kopi Open Bidding

Ngobrolin Seleksi Jabatan itu enaknya sambil ngopi.

Photo : Sajian manual brew V60 Kopi arabica garut di balkon gesat / dokpri

GEDUNG SATE, akwnulis.com, Tulisan hari senin lalu sebenernya tulisan biasa saja, tetapi yang menjadi menarik adalah gelas kopi yang disajikan. Bertuliskan ‘Biro Umum’.

Tulisannya‘Ngopi Senin Pagi’ monggo klik aja.

“Kenapa dengan Biro Umum?”
“Karena kebetulan, itu adalah salah satu dari 15 jabatan eselon II atau sekarang mah disebut Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPT) di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang di-open biddingkan”

Sehingga postingan tulisan tadi ada yang menterjemahkan bahwa diriku lagi ikutan seleksi open bidding yang membidik jabatan tersebut, malah mencoba mengkofirmasi ikut tidaknya hingga berulangkali, ada-ada aja.

Padahal, itu adalah sebuah kebetulan saja. Namanya rejeki nggak bisa ditolak. Pas mampir, disuguhin kopi, ya diterima dengan senang hati. Nggak perlu banyak mikir sana sini, sruput, nikmati dan syukuri.

Ngomongin seleksi terbuka untuk JPT yang sedang berproses dalam seleksi awal yaitu pendaftaran administrasi, ada sebuah nilai penting yang perlu di-amini.

‘Jadi, sebuah amanah jabatan akan datang manakala proses seleksi dijalani.’

“Maksudna kumaha lur?”*)

“Gini…. regulasi udah ngatur bahwa rekrutmen jabatan di pemerintahan untuk level JPT atau dulu mah disebut Pejabat Eselon IIa dan IIb harus dilakukan melalui mekanisme seleksi terbuka atau dikenal dengan istilah open bidding…”

“Ohh.. lelang jabatan?”

“Istilahnya sekarang adalah Seleksi Terbuka, titik!!”

***

Diskusi hangat terus berlanjut, seiring proses ekstraksi bubuk kopi arabica garut bersama air panas 90° celcius melalui corong V60 di lantai 3 gedung sate.

Photo : Pejabat ‘téras’ sedang kongkow di téras balkon / dokpri

Supaya lebih dramatis, segera bergeser duduk di balkon sambil berhadap-hadapan.

Tapi sebelum perbincangan sore ini berlanjut, tidak lupa mengabadikan secangkir kopi arabica V60 yang tersaji di gelas kecil dengan background halaman depan Gedung Sate.

Suasana yang tidak ternilai, karena tidak banyak orang yang berkesempatan kongkow disini seperti ini. Nyruput sajian kopi asli, tanpa basa-basi, di balkon gedung bersejarah yang menyimpan berjuta arti.

Rasa medium aciditynya menyeruak di lidah, berpadu dengan body hasil ekstraksi yang berada di level medium bold. Taste fruitty muncul selarik tapi segera hilang lagi, sementara aroma harum memberi janji di sore ini.

Trus jangan khawatir, ini udah jam 5 sore. Secara resmi diluar jam kerja, meskipun beres ngopi masih lanjutin tugas lainnya.

***

Balik lagi ngobrolin seleksi terbuka, ini adalah sebuah momen penting untuk meraih sebuah amanah jabatan. Jika memang mau dan menilai diri (mungkin) pantas, segera daftar via online untuk melengkapi segenap persyaratan yang sudah ditentukan.

Jikalau lulus dalam tahapan-tahapan yang sudah ditentukan, maka bersiaplah menerima amanah jabatan.

Cemunguuut…..

Sruput dulu bray. Wassalam (AKW).

***

*) artinya : Maksudnya bagaimana bro?