Loncati pagi.

Ada waktu dan berjumpa saat terbatas, loncatt.

Photo : Mentari disela pagi / dokpri.

DAGO, akwnulis.com. Semilir angin pagi dan hijaunya dedaunan menyambut kedatangan tanpa basa basi berlebihan. Semua sepakat berbagi kesegaran pagi dalam limpahan cahaya mentari yang selalu berseri-seri.

Berkelilinglah melihat-lihat kesana kemari sambil mengamati suasana pagi yang masih senyap dan sepi.

“Kepagian ini kayaknya” celoteh dalam hati, tapi juga menjadi kesempatan untuk bisa menikmati suasana sambil sedikit melamun yang masih cuma-cuma, nikmatnyaaa…..

Setelah sedikit puas berkeliling maka kembali ke tempat pertemuan yang sudah dijanjikan dan memang sudah dipersiapkan dengan semua kelengkapan, termasuk tulisan kertas yang tertempel di pintu ruang pertemuan.

Tapi….. waktu menunggu masih ada, yuk manfaatkan untuk sedikit berolahraga sambil membuat photo yang berbeda.

“Maksudnya gimana?”

Giniii…..!

Photo : Sedikit terbang / dokpri.

Raga berdiri tegak dengan kuda-kuda nyaris sempurna, dihadapan kawan yang sudah siap membidik dengan kamera samrtphonenya…

“Satu… dua… tigaaa!!”

Raga meloncat dan ditangkap oleh tajamnya lensa kamera, menghasilkan sajian gambar (sedikit) terbang yang pengennya ikutan aliran levitasi hihihi…. tapi berat badannya hahahaha….

Ulangi!!!

Loncaat….

Ulangi!!!…… 1..2..3.. jump!!!

Unsur olahraganya adalah…. berulangkali meloncat demi mendapatkan hasil yang diharapkan. Karena memang tidak menggunakan mode kamera burusut… eh brust, tetapi photo kamera biasa dengan pendekatan luckyshoot saja.

Photo : Menunggu di koridor BPIP / dokpri.

“Pak… maaf, sudah ditunggu di ruangan” Sebuah suara yang hadir tiba-tiba membuyarkan konsentrasi yang ada. Keringat yang mulai membanjiri raga bukti bahwa loncat-loncatnya lebih dari selosin kali hehehehe… no pain no gain.

Segera keringat di seka agak sempurna, sisir rambut sedikit dan melangkah beranjak menuju ruang assesment psikologi yang sudah menanti dari tadi…. Cemunguuutz, Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
Biro Pelayanan Inovasi dan Psikologi (BPIP) Unpad
Jl. Ir H Juanda Bandung No 438-B Coblong Kota Bandung.

Ngopay di Warung Garut.

Menikmati sajian kopi garut di warungnya.

GARUT, akwnulis.com. Dikala malam mulai menjelang, sebuah rasa menyeruak membuka peluang. Setelah lelah bekerja seharian tibalah saatnya menikmati pemandangan sambil bersantai tanpa gangguan.

“Tapi ini sudah malam kawan”

Ya gimana lagi, tugas pekerjaan tetap harus dituntaskan meskipun melewati jam yang sudah diikat aturan. Nggak usah itung-itungan, Allah Maha Tahu, kerja aja, insyaalloh mendapat rejeki yang berkah dan insyaalloh melimpah.. Amiin.

Bergeraklah raga menyusuri jalanan di kota garut jawa barat, mencari sesuap kopi yang masih bisa didatangi, meluncuur….

Photo : Arabica halimun selatan V60 / dokpri.

Dengan bantuan gugelmep plus waze serta silaturahmi dengan penguasa lokal, maka tidak sulit menemukan cafe yang menyajikan kop dengan berbagai pilihan bean serta model pemprosesan lokal dari mulai aeropress, v60, calita dan kawan-kawannya.

Sajian pertama, Arabica halimun selatan garut full wash. Tangan terampil barista Warung Garut yakni kang Away bergerak sinergis memproses pesanan manual brew dengan cekatan.

Photo : Kang Away Barista Warung Garut / dokpri.

Bodynya lite tetapi acidity medium high dengan after taste ada selarik rasa manis… Sruput dulu..

Sebelum pesan sajian selanjutnya, diselingi dulu mencoba satu sloki arabica garut selatan yellow cattura… gratis, milik ini mah.

Sajian kedua adalah arabica papandayan dengan metode manual brewnya tetep v60…. prosesss

Warung Garut ini adalah cafe yang cukup luas terletak di Jalan Pahlawan Garut. Tempatnya nyaman dengan berbagai variasi menu lengkap baik western ataupun asia. Tapi bukan itu tujuannya, karena sajian secangkir kopi yang akan menyelesaikan pertanyaan ini, apalagi jikalau kualitas beannya premium, komposisi seduhan yang tepat baik suhu, rasa dan suasana, maka tinggal dinikmati tanpa banyak basa basi.

Photo : Arabica Papandayan V60 / dokpri.

Sajian kedua, rasa pahit bodynya cukup kuat, dengan acidity medium cenderung low dengan aftertastenya muncul juga karakteristik profile serasa dark chocholate.

Akhirnya seiring waktu yang beranjak melewati dini hari, maka sesi mengopipun harus berakhir karena esok pagi berkutat kembali dengan berbagai tugas yang tiasa henti. Perlu istirahat dan recharge body agar tetap bugar tiada henti, Wassalam (AKW).

***

Manisku

Manis itu tergantung…

Photo : 3 gelas es teh Excelso Paragon / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Rasa manis yang dihadirkan oleh gula cair dipadu es batu yang menari seksi melengkapi rayuan kesegaran siang ini, semua hadir dalam gelas kaca penuh cinta, bukan hanya satu gelas… malah sampai gelas ke tiga 🤣🤣🤣.

Tapi, manis gula sudah lama tak pernah dicoba. Bukan alasan penyakit atau banyak gaya, tetapi ternyata sudah mendapat pencerahan bahwa manis itu bukan hanya dari gula, tetapi berasal dari wajah yang bersahaja… ahaaaay.

“Pesan apa kakak?” Pertanyaan lembut sang pelayan none excelso memberi tambahan rasa manis yang berbeda. Tapi itu memang sudah tugasnya, ya…. tinggal pesan menunya dan tunggu kehadirannya.

Seiring detik berlalu, dentang hati juga melaju, bergerak ritmik sesuai SOP, mengikuti alur yang sudah begitu teratur.

Photo : Espresso Excelso / dokpri.

Maka, tanpa berlama-lama secangkir espresso menjadi pilihan utama ditemani segelas latte sebagai penyempurna. Suatu kombinasi tepat untuk memperlancar suasana dalam membahas masa depan lembaga.

Diskusi bergulir dengan tema penjaminan, tepatnya penjaminan kredit. Jikalau suami harus menjamin anak dan istri selamat dunia akhirat secara bersama-sama hingga akhirnya berkumpul bersama di surga, maka penjaminan kredit adalah juga bagian ‘public service obligation’ dari pemerintah khususnya dalam pemberdayaan pembiayaan UKM dan usaha mikro sehingga mampu berusaha lebih baik dengan status ‘bankable‘.

Diskusi berlanjut diselingi teh dan kopi yang disruput, opini dan pemahaman untuk menterjemahkan aturan bisa saja berbeda, tetapi dengan diskusi bersama maka bisa saling memaknai dan memahami duduk persoalan yang terjadi. Selamat menjalani hari. Wassalam (AKW).

Sepi & Kopi.

Ternyata sepi berkawan kopi…

Photo : Kopi & sepi / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Dibalik gemerlap cahaya dan berjajar beratus kursi, ternyata ada kesepian yang menggerogoti kemapanan fikiran diri. Padahal aku tidak suka sendiri untuk kali ini.

Jajaran kursi coklat memandang sesaat lalu kembali mereka bergunjing dengan sesama kursi lainnya. Sementara diriku tetap terdiam seribu bahasa tanpa bisa melakukan pembelaan terhadap dinamika semesta.

Membiarkan diri menjadi bulan-bulanan sepi, bukan untuk beranjak mati. Karena ternyata sepi sendiripun adalah peluang untuk menata hati. Menata diri dan bukan meratapi, mengumpulkan serpihan janji menjadi bentuk yang dimaui meskipun tetap tak kan utuh seperti harapan pertama kali.

Dibalik kesendirian, aku bisa memaknai hari ini, membaca pemahaman orang lain tanpa perlu menghakimi, sekaligus menyelami kesalahan-kesalahan diri yang sudah dilakoni di lalu hari.

Photo : Sepasang gedung yang beda sendiri / dokpri.

Ternyata sendiri itu bukan berarti sepi, tapi sendiripun bisa terjadi meskipun banyak pihak mengepung diri. Hanya saja karena beda sendiri, akhirnya menjulang tinggi tapi praktis tiada teman setia yang menemani.

Selamat menafakuri hari dan belajar menyepi dalam keramaian abadi. Wassalam (AKW).

Diskusi di Serantau Coffee.

Diskusi sambil ngopi, meskipun tempatnya berganti.

Photo : Sajian manual brew v60 / dokpri.

Bandung, akwnulis.com. Terkadang ketidaksengajaan menghasilkan pengalaman baru. Begitupun hari ini, mencoba bersua di satu tempat yang dikira bakalan menyenangkan, berdiskusi sambil menyeruput kopi, ternyata….

Mencoba berjalan kaki dari kantor ke tempat rencana diskusi memakan waktu 19 menit saja, lumayan gerakkan badan… ehh ternyata… cafe-nya masih tutup… sebuah tanda ‘close‘ tergantung didepan pintunya.. nyeseek deh.

Segera kabari kawan yang hampir tiba juga di lokasi, ‘tempat bersua berubaah’, langsung mata dan telinga pasang lebar-lebar mencari informasi tempat terdekat dengan dua syarat minimal, ada kopi manual dan tempat diskusi…. tadaaa

Photo : Suasana Serantau Coffee / dokpri.

Hanya berjarak 200 meter kaki melangkah, eh ada cafe coffee, langsung menyeberang jalan dan memasuki lokasi cafe… senangnya berjumpa dengan grinder, mesin espresso manual dan beraneka bean coffee yang memanjakan hati.

Kawan diskusi segera diberi informasi, tak berapa lama datang tanpa basa-basi. Mencari tempat duduk yang presisi… hayu mulai diskusi, eh jangan lupa pesen dulu kopiiii.

Kopi manual brew V60 menjadi sajian hakiki, beannya lupa, yang pasti ini arabica karena kombinasi acidity medium dan body low-med serta ada after tastenya memberi perbedaan cita dan rasa.

Diskusi berlangsung seru, karena ternyata terdapat informasi yang belum berpadu. Tetapi seiring waktu, kesamaan frequensi pemahaman menghasilkan padu serasi informasi yang saling melengkapi, untuk bersama-sama membangun, mengawasi dan menjaga lembaga agar semakin bagus dan menjadi juara. Merdeka!!!…

Oh iya, nama cafenya Serantau Coffee, beralamat di Jl. Lombok No.19 Bandung.

Selamat menjalani hari, berdiskusi, susun strategi dan hasilkan solusi sambil jangan lupa menyruput kopi. Wassalam (AKW).

Kopi EDC

Berdinas tetap dapet kopi, double lagi.

Photo : Ice Caffelatte Gesa kopi / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Paparan dari para panelis semakin meramaikan suasana, dipandu oleh moderator energic yang akan menyaingi Karni Ilyas – ILC serta yang lebih menarik adalah bertabur pantun baik panelis juga moderator sehingga acara diskusi semakin seru meskipun tetap santun…. pada acara di ruang papandayan gedung sate yaitu acara Esselon Dua Club (EDC)… trus pengantarnya langsung pak Gub RK.

“Lho kok anda ikutan?”

“Alhamdulillah, ditugasin mewakili pimpinan ajah”

“Ohhh….”

Diskusi bertema pemerintahan berjalan seru, dari analisis sudut pandang ekonomi hingga terkait tentang NKRI. Menghasilkan aliran informasi yang saling melengkapi.

Tapi…. bukan itu yang dibahas disini, pembahasannya tetep urusan kopi hihihihi.

Dikala sore menjelang, diskusi sudah mulai mencapai titik akhir. Beberapa peserta diskusi mulai goyah dilanda kantuk dan kebosanan,.. Jreng!!!

Datanglah pasukan senyum, ibu-ibu berkerudung menenteng beberapa gelas plastik bertuliskan ‘cafe gesa’… eh Gesa Kopi.

Sajian caffelatte ala cafe gedungsate yang berlokasi di lantai basement, hadir dihadapan para peserta EDC edisi I ini. Memberi semangat kembali kepada pada peserta untuk menuntaskan diskusi dengan ceria.

Ice caffelatte diseruput pake sedotan plastik transparan, rasa dominan kopi java preanger yang dipadu lembut oleh susu steamnya menghasilkan paduan sempurna caffelatte yang memanjakan lidah ini, yang jelas tidak ada gula diantara kita sehingga rasa kopinya tetap menonjol meskipun dikepung sejumput susu.

Sruputtt… segeeer.

Sambil menyimak diskusi yang hampir berakhir, kejutan ngopay datang lagii…. maklum karena disampingku, Mr JP sebagai bosnya urusan rumah tangga setda…. ada lagi segelas hot caffelatte…. gede miliknya… jadi dapet double nich.

Photo : Hot Caffelatte Gesa Kopi / dokpri.

Hot caffelatte inipun tanpa gula, rasa kopi espressonya tetap terasa ditemani kehangatan susu yang sebenarnya…. meskipun penikmat kopi hitam tanpa gula, tapi sesekali kopi hitam plus kehangatan susu tentu tidak bisa ditolak, yang pasti tidak ada gula.

Sruput terakhir dari hot caffelatte ini berbarengan dengan kata penutupan dari sang moderator, Bapak Dani Ilyas ramdhan, meskipun pantunnya tidak sempat terekam karena terpesona dengan jalinan kata yang berkelindan dalam keindahan. Sampai jumpa di EDC jilid dua (klo ditugaskan lagi maksudnya…).. wawasan dapet dan double caffelattepun dapet… Hatur nuhun ibu bos, Mr ZP dan semuanya. Wassalam (AKW).

MERDEKA 170819

Merdekaaa……. menggetarkan jiwa dan raga.

Photo : Pose dulu ah / pic by He

BANDUNG, akwnulis.com. Berkibarnya sangsaka merah putih dan sirine penuh semangaaat bergema menggetarkan jiwa-jiwa hadirin yang hadir dalam upacara besar ini, jiwa dan raga terlarut dalam rasa nasionalisme memperingati detik-detik proklamasi ke 74 tahun ini, 2019 tingkat provinsi jawa barat.

Lapangan Gasibu adalah lokasi ke sekian kali, raga dan jiwa ini ikut menjadi bagian sebuah upacara besar, sebagai penggembira.. eh peserta.. eh undangan lho… memperingati momen sangat bersejarah bagi bangsa ini, Bangsaku, Bangsa Indonesia.

Photo : Selfi setelah apel pagi / dokpri.

Upacara besar ini adalah puncak acara, meskipun rangkaian pentingnya sudah diawali dari dini hari tadi, acara renungan suci. Lalu upacara di tingkat Sekretariat daerah tadi pukul 07.30 wib dan setelah itu dilanjutkan acara Upacara besar di lapangan gasibu ini. Rangkaian acara terus berlanjut, hingga nanti sore upacara penurunan bendera.

Semua acara adalah sebuah pemaknaan tentang suatu perjuangan besar yang simultan, pararel serta sinergi dari seluruh komponen bangsa kala itu, 74 tahun lalu, 1945.

***

Photo : TMP Cikutra / dokpri.

Tadi dini hari, tepat pukul 00.00 wib sebuah rasa bangga dan hormat kepada para pahlawan kemerdekaan kusuma bangsa dihadirkan dalam acara renungan suci di Taman Makam Pahlawan Cikutra.

“Kepada Arwah para pahlawan, Hormaaaaat Senjataaa, Graaak!!!!”

Serempak tangan dan senjata memberi hormat. Lengkingan terompet perlahan tapi pasti, diawali dari suara tunggal lalu bersahutan penuh semangat tetapi terselip ada rasa menyayat hati. Lampu-lampu dipadamkan, obor-obor kecil di sekitar TMP menyala dikawal adinda para anggota Pramuka menambah khidmat dan penuh kedamaian, mengingatkan pada pengorbanan jiwa raga, harta benda, perasaan dan tertumpahnya darah-darah pahlawan demi sebuah kata, KEMERDEKAAN.

Photo : Narsis masa lalu / pic by DeA

Cukup lama tangan dan senjata dalam posisi hormat, getaran jiwa dan bayangan perjuangan para pahlawan terasa merasuk di jiwa, meskipun di hati kecil terselip rasa khawatir…. takut posisi hormatnya ini ada yang membalas.. upps.

“Tegak senjataaaaaaa…., Grakk!!!”

Kembali posisi ke sikap sempurna dan tangan kembali ke tempat semula, perlahan rangkaian acara renungan suci berlanjut dengan hening cipta, laporan dan doa.

MERDEKAAA!!!!!

Kemerdekaan kedaulatan negara yaitu NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) tidak diraih dengan mudah kawan, semua penuh pengorbanan yang tidak bisa terbayangkan oleh kita semua sekarang, para penikmat dan pengisi kemerdekaan.

Mari kita isi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya, rasa patriotisme dan bela negara adalah jiwa kita meskipun masing-masing individu memiliki cara berbeda. Indonesia adalah aneka, Indonesia adalah bhineka berbagai rupa warna, bahasa, budaya dan rasa karsa, tetapi semua terangkum dalam NKRI milik kita.

MERDEKAA…
MERDEKAA…
MERDEKAA..

***

Photo : jump dikit / pic by RH

Kegiatan belum usai, tetapi hasrat menulis dalam urutan kata terus membuncah tidak bisa ditunda, Selamat Dirgahayu RI ke 74, Wassalam (AKW).

Kopi Tubruk & Angka2.

Mengamati angka demi angka sambil ngopi, yummy.

Photo : Kopi Tubruk kuled Giggle box / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Memandangi angka yang tertera di layar besar memang menarik untuk disimak, apalagi mengandung semangat optimisme dan pemenuhan target yang nyaris sempurna… atau malah melebihi dari target yang sudah ditentukan. Dilanjutkan dengan proyeksi langkah peraihan target di akhir tahun, makin banyak angka-angka bertaburan.

Silih berganti para pemateri memberikan presentasi sesuai divisi masing-masing, berbagai strategi dan rencana tindak yang sudah dipersiapkan.

Beranjak istirahat makan siang, maka segera mlipir mencari pilihan kudapan yang sesuai dengan harapan, yaitu kopaaay… eh kopi maksudnya.

Ditempat acara sudah tersedia sajian kopi standar hotel, tetapi dengan pertimbangan akan terjadi suasana rebutan karena perbandingan peserta dan stand minuman yang jomplang… maksudnya stand kopinya satu… pasti pada kesitu semua… sementara kopinya standar… ya sudah mlipirr.

Hotel Aryaduta Bandung itu punya akses langsung ke BAndung Indah Plaza Mall, jadi geser dikit….. cari yang lain….

tapi… dengan waktu istirahat terbatas juga belum shalat duhur, perlu berpikir cepat dan bertindak praktis.

Disamping pintu masuk mall, ada resto… “Kopi item ada?”
“Ada pak, pilihannya kopi tubruk, americano dan espresso”

“Oke.. masuuk!”

Milih tempat di lantai 2, sehingga menjadi pos tinjau yang baik, bisa lihat orang-orang lalu lalang sekaligus melihat ke pintu masuk ruang rapat.

Pilihan kopinya terbatas, tetapi tidak masalah, maka dipesanlah kopi tubruk dan kawan-kawannya.. karena tidak sendirian tetapi bersama kru, kasian khan klo mereka cuman minum kopi doang.

Photo : Max & Chesse / dokpri.

Maka cireng dan Max & Chesse ala Giggle Box menjadi teman mengopi dan mengudap siang ini… yummy.

Sajian kopi tubruknya kuled (kental) dengan tekstur permukaan yang tebal, wah meyakinkan nich meskipun sang pelayan nggak bisa jawab tentang kopi apa, tapi biasanya kopinya campuran (blended) antara arabica dan robusta… dan robustanya yang banyak hehehehe

Photo : Cireng (aci digoreng) / dokpri.

Diskusi ringan sambil nyruput kopi tubruk dan nyemal-nyemil…. udah ajaa. Setelah hajat mengopay tersalurkan, kami kembali bergabung ke ruang makan siang di hotel dan menikmati makanan yang ada, nikmaat.

Tuntas shalat dhuhur kembali ke tempat acara, mendengarkan pemateri selanjutnya, daan….. di meja sudah tersaji juga 1 cup coffee…. langsung coba diicip…. mmmmm.. americano maxx coffee BIP, pas bangeet… srupuut lagii, nikmaaat.. tapi lupa ngambil photonya.

Oh ya dalam penutupan acara ini, bapak big bos, Pak RK menekankan kepada Jajaran Direksi, Komisaris dan seluruh pejabat eksekutif yang hadir untuk bersiap menyongsong segala perkembangan jaman dan dinamikanya dengan penguatan IT yang betul-betul sempurna, profesionalisme SDM. Juga tidak lupa agar bisa kembali ke khittahnya sebagai Bank Pembangunan Daerah yang memiliki konsep, kepedulian serta fokus dalam membangun daerah, UMKM serta sinergitas dengan BUMD.

Itulah sejumput kisah kopi kali ini, bersama angka-angka dan kopi, selamat menjalani hari dengan senantiasa bersyukur kepada Illahi Robbi, Wassalam (AKW).

Ngopay di Rancasalak Garut

Sinergi dalam nyeruput kopi disini, Rancasalak Garut.

Photo : Tempat manual brew oleh para Barista / dokpri.

GARUT, akwnulis.com. Sebuah sinergi harus diawali dengan aksi dan semangat membuka diri, apalagi sekarang ini adalah jamannya berkolaborasi maka sebuah kerjasama adalah sesuatu yang banyak musti dilakoni.

Begitupun dengan hari ini, berdiskusi bersama membahas sebuah aplikasi yang berguna untuk membantu menyeleksi para calon direksi yang akan menjadi pemimpin di lembaga keuangan ini.

Tak lupa dengan kenikmatan menyeruput kopi, perlu suatu sinergi dari sajian yang diharapkan dengan pola pikir dan keihklasan untuk menikmati kepahitan yang akan sirna menjadi rasa nikmat yang sulit dilukiskan dengan syarat adalah penuh rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan.

Photo : Arabica wet hull Sunda Hejo / dokpri.

Apalagi jikalau tempat yang dituju ternyata butuh perjuangan untuk mencapainya, semakin terasa kesan dan keinginan untuk menikmatinya secara langsung di lokasi yang sebenarnya, sebuah daerah yang bernama jalan Rancasalak, Kadungora Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat.

Sebenarnya menikmati hasil roasting dari cafe Rancasalak ini sudah beberapa kali dan pernah ditulis di postingan terdahulu, salah satunya yang berjudul Sunda Hejo. Yup nama cafenya Sunda Hejo, sebuah tempat kongkow ngopay yang ternyata cukup ramai dengan aneka varian menu yang menyenangkan.

Tapi tetap, tujuan utamanya adalah ngopay, langsung diseduh sama yang barista yang bertugas, Yi Rizal. Pilihan pertama mencoba arabica wet hulled dengan komposisi 1:12, menggunakan peralatan V60 dan panas suhu air panasnya 90° celcius dengan pola putar searah jarum jam.

Hasilnya sebuah sajian kopi yang harum, body serta acidity standar… cocok buat pemula dengan after taste berry ada muncul selarik waktu.

Yang menarik, setelah kami duduk di kursi sambil ngobrol, sang barista mendekat dan menanyakan kesan kami terhadap sajian kopinya.

“Gimana kakak, sajian kopinya”

“Standar, cocok untuk pemula, bisa dipilihin bean recomended supaya lebih strong?”

“Siap Kakak, saya coba arabica pitalola yaa, pake komposisi 1:10 ya, dengan panas 90° celcius dan putarannya tetap ke kanan, ditunggu kakak’

” Oke dik, ditunggu”

***

Percakapan ringan mengalir meskioun diselingi sholat magrib bergiliran serta ke toilet bergiliran maklum toiletnya cuman 1 buah.. eh satu pintu, didalamnya agak luas dan ad 1 wc duduk, 1 toilet kencing cowok dan wastafel.

Photo : Arabica Pitaloka sunda hejo / dokpri.

Sajian yang kedua ini cukup nendang, strong tapi nggak bitter, harumnya dapet, aftertastenya muncul juga rasa buah-buahan rumpun berry dan selarik caramel dan keharuman asap.... Buat penikmat sajian ini cocok, klo buat pemula mah khawatir kaget dan trauma minum kopi tanpa gula.

Masalah harga per sajian agak lupa, karena ternyata ada kolega yang ikut gabung dan ikut ngebayarin… baik bingit yaaaa.

Selamat menikmati kehidupan dan jangan lupa menikmati sajian kopay, dimana bumi dituju disitu menikmati kopi jangan diganggu hehehehe, Wassalam (AKW).

***

Alamat :
Cafe Sunda Hejo, Kp. Rancasalak rt/rw.02/03 Rancasalak, Kadungora, Kabupaten Garut, Jawa Barat 44153 Indonesia

Kopi Sumatera Huta Raja Yeast.

Menikmati Kopi pake poci, disini.

Photo : Sajian kopi dengan poci / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Siang benderang mengingatkan bahwa sebentar lagi waktunya shalat dhuhur dan tentu dilanjutkan makan siang, mari dengarkan adzan serta tinggalkan semua pekerjaan…. lalu bersiap shalat dhuhur berjamaah.

Berangkaaat…. menuju mesjid AlMuttaqien melalui jalur samping dari arah ruangan.

Allahu Akbar…..

Selesai berjamaah, cek layar hape, tiba-tiba ada pesan whatsapps masuk, ‘Maksi & ngopi yuk, di sini’.

Ada penawaran maksi sambil ngopi, wuihhh Alhamdulillahirobbil alamin.

Segera beringsut dari mesjid menuju tempat yang ditawarkan. Waktu istirahat tinggal 35 menit lagi, masih bisa dimanfaatkan untuk makan dan menikmati sajian manual brew disini.

Menu makannya nggak di share ah, maaf. Tetapi sajian kopinya saja yang akan direview… eh diceritakan.

***

Hari ini ada 2 pilihan kopi untuk menu manual brew menggunakan V60 dan pilihannya jatuh pada kopi Sumatera Huta Raja Yeast (gitu klo dibaca ditulisan bungkus putihnya).

Tak berapa lama, proses manual brew dilaksanakan oleh sang barista, Wildan yang cukup sibuk di seberang sana. Harap maklum karena ini adalah resto besar yang menyajikan aneka menu super lengkap dengan harga lumayan… jadinya penawaran maksi ini tidak dilewatkan.

Photo : Kopi Sumatera Huta Raja Yeats + background / dokpri.

Sajian kopinya pun beraneka rupa tentu berkawan dengan susu dan gula, maka menu manual brewnya menjadi menarik, karena hanya sedikit pilihannya, jadi pengen tahu gimana rasanya dan juga suasananya.

Ngobrolin suasana, adem banget apalagi yang dapet pinggir kolam ikan koi. Bisa menikmati kelincahan berpuluh ikan koi yang berenang hilir mudik memanjakan mata dengan warna warni tubuhnya yang begitu indah di mata.

“Silahkan Kakak, kopi sumatera dengan metode V60nya”

Pelayan menyodorkan sajian kopi yang sudah dibuat oleh barista. Yang menarik adalah penyajiannya menggunakan teko keramik eh poci berwarna hitam bercorak, tentu dengan cangkir keramiknya warna senada ditambah segelas air putih yang dibubuhi potongan jeruk lemon sebagai penetralisir rasa sebelum dan sesudah menikmati kopi yang ada…. excited.

Hati-hati, air putihnyapun bisa digunakan sebagai penetralisir rasa yang sedang gundah gulana… ahaay.

Bicara harga persajian agak lumayan, 32 ribu sebelum pajak. Tapi sesekali boleh khaan… apalagi ada yang ntraktir.. makasih Mr PM, jangan kapok yaaa.

Srupuuut…. hmmmm, cairan kopi hangat tanpa gula bercengkerama dengan lidah dan rongga mulut yang penuh dahaga.

Bodynya lumayan strong, karena memang request untuk komposisi 1:10, Acidityna medium dan aftertastenya sedikit rasa apel dan kacang tanah hadir meskipun hanya sekilas saja, selanjutnya nikmat kopi tanpa gula yang bisa hadirkan perasaan nyaman dan mengurangi beban pikiran yang ada, “Ahh lebaaay kaau!”

Over all sajian kopinya cukup pas dengan panas air 90° celcius (ngobrol dulu sama baristanya, tadi sambil lewat pas mau ke toilet), tetapi yang sedikit agak geli adalah sajian menggunakan poci keramik yang lazim digunakan untuk minuman teh, baik teh artisan ataupun teh biasa. Sedikit mempengaruhi perasaan sehingga ada kecenderungan lagi ngeteh bukan ngopay.

“Ah kamu mah perasa bingit, udah nikmati ajaa”

Sebuah komentar mengingatkan jiwa untuk senantiasa bersyukur, bukan selalu mengkritik dan menilai sesuatu dari sisi perbedaan atau kekurangannya saja.. “Hups.. maafkan daku fren.”

Akhirnya waktu 35 menit berlalu, dan acara ngopay dadakannyapun harus berakhir. Selamat menjalani hari senin minggu ini dengan senantiasa bergairah kerja dalam balutan semangat pagi, Wassalam (AKW).

***

Catatan :
Restorannya adalah Ambrogio Patisserie, Jl. Banda No.22/26, Citarum, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40115.