SHISHA MEKAH, akwnulis.id. Sesaat memasuki hotel 704 Wehdah al Khoir langsung dihadapkan dengan informasi yang menyesakkan dada. Salah satu jemaah kloter 28 dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit King Abdul Aziz Arab Saudi dimana sebelumnya diberitakan ada jemaah haji pingsan di sektor 10 tepatnya lobi hotel 1021 lalu ditangani oleh petugas kesehatan arab saudi dan langsung dibawa ke rumah sakit King Abdul Aziz. Memang informasi ini belum A1 tetapi sebagai bagian dari petugas haji maka dipastikan harus ada gerakan khususnya dari ketua kloter dan dokter serta perawat dari tim kesehatan.
Setelah koordinasi intens bu Dokter dan pihak KKHI serta pak ketua kloter dengan pihak sektor disampaikan bahwa penanganannya langsung dibawah kordinasi daker (daerah kerja) mekah. Berita tersebut belum selesai lalu dapat informasi beberapa jemaah belum mendapatkan atau belum masuk ke hotel dan berada di sektor 3. Kami yang masih jetlag dari pesawat harus langsung berkordinasi cepat agar tidak ada jemaah yang telantar sementara operasional bis shalawat sudah dihentikan sementara. Jadi pilihannya naik taksi kembali, untungnya bapak binbad (pembimbing ibadah) bisa sedikitnya berkomunikasi bahasa arab. Jadi bertanya dan menawar ongkos taksi bisa jelas di awal dan mendapat kepastian.
Bersama Ketua Kloter & Binbad / Dokpri.
Kami berempat bergerak menuju sektor 3 dan disambut baik oleh bapak Kepala sektor 3 dan setelah dikordinasikan dengan cepat, jemaah sudah dipastikan mendapatkan hotelnya serta bisa beristirahat dengan tenang. Hanya saja tantangan menuju kantor sektor 3 ini tidak main – main. Karena jalan – jalan sudah banyak ditutup maka pilihannya adalah berjalan kaki. Kebayang nggak, siang mentrang di suhu 45° – 48° celcius kami berempat berjalan kaki dengan bermodal google map dan berpakaian kain ihram. Keringat terasa mengucur terutama di paha, gimana gitu rasanya.
Lelah dan pegal terasa tetapi semangat kami harus tetap membara. Ini baru permulaan sebagai tantangan awal dalam penugasan sebagai petugas haji tahun ini. Maka dari kantor sektor 3 kami kembali bergerak ke kantor Dakker di daerah shisha untuk mengecek kartu NUSUk para jemaah dan petugas. Kembali kombinasi jalan kaki, naik taksi dan jalan kaki hingga masuk ke lantai 2 kantor Dakker mekah. Lapor dan diskusi dengan petugas disana, mendapatkan kartu NUSUK petugas dan juga jemaah dengan pengecualian kartu NUSUK penulis ternyata tidak ada di dakker, katanya di ambil oleh petugas syarikah.
Binbad ngopi di kantor Daker / Dokpri.
Olala…
Ternyata perjuangan belum tuntas, hati kecil ini berbisik, “Harus ikhlas dan banyak istigfar disini mah, yang penting jemaah dulu baru urusan pribadi.”
Setelah dipastikan urusan jemaah bisa tertangani oleh ketua kloter dan tim, kami kembali ke hotel dan barulah berkoordinasi terkait ID card NUSUK yang ternyata harus janjian dengan pihak syarikah dan bahasa arab menjadi wajib. Hasil koordinasinya kami bisa bersua di lusa karena sore ini kami harus melaksnakan umroh wajib terlebih dahulu.
Alhamdulillah petugas haji kloter yang sudah datang di kloter awal bersedia membantu. Kebetulan memang tim kita di kantor, sehingga janjian ketemu dengan pihak syarikah bisa dilaksanakan. Meskipun tentu harus berjalan kaki kembali menuju hotel 711 dan menunggu hingga 1 jam lebih. Jalani saja, akhirnya bisa berjumpa dan ID card NUSUK bisa didapatkan ditukar dengan pasport sebagai bagian dari proses adminstrasi penyelenggaraan haji tahun ini.
Membersamai Bu Dokter / Dokpri.
Oh iya, syarikah itu adalah pihak swasta di arab saudi yang bekerjasama dengan kementerian agama republik indonesia tentu dibawah kordinasi pemerintah Arab Saudi. Terdapat 8 pihak syarikah yang ditunjuk dan mengelola pelayanan para jemaah haji tahun ini diantaranya : 1. AL Baits Guest (BTG) 35.977 jemaah 2. Mashariq Rakeen (RKN) 35.090 jemaah 3. Rehlat Wamanapea (RHL) 34.3802 jemaah 4. Mashariq Sana (SNA) 32.570 jemaah 5. Rifadah (RFH) 20.317 jemaah 6. Rawaf Mina (RWF) 17.636 jrmaah 7. MCDC (MCD) 15.645 jemaah 8. Rifad (RFD) 11.283 jemaah dan penulis berada di syarikah ke-8 yakni RFD.
Daftar Syarikah
Satu lagi yang belum selesai yakni koper besar ternyata belum datang di hotel, sama nasibnya dengan pak Gungun petugas haji juga. Kopernya masih berpetualang dari hotel ke hotel di mekah. Maka pertama yang dilakukan adalah berdoa kepada Allah agar koper segera ditemukan dan yang selanjutnya tentu berikhtiar dengan mengecek ke beberapa hotel serta share info via WAgrup petugas. Alhamdulillah akhirnya diremukan di hotel 301 dan diantarkan oleh petugas dari sana ke hotel 704 tempat kami menginap, Alhamdulillah, bisa ganti baju akhirnya. Khususnya baju dalam hehehe.
Demikianlah cerita singkat proses awal kedatangan kami di kota mekah dan bersiap menghadapi pelaksanaan ibadah puncak haji yaitu wukuf di arafah, mabit di muzdalifah dan melempar jumroh di mina. Tapi jangan lupa ada tahapan umroh wajib yang harus dilaksanakan sebelumnya. Semangat, Wassalam(AKW).
JARWAL MEKAH, akwnulis.id. Suasana mengharu biru dari para jemaah yang sudah melewati pemeriksaan imigrasi lalu bergerak ke tempat persiapan pemberangkatan ke hotel masing – masing di bandara King Abdul Aziz Jeddah. Tempatnya cikup luas dan terdapat akses toilet yang luas baik laki – laki dan perempuan. Maka bergiliranlah ke toilet untuk sekedar buang air kecil atau malah langsung ‘menandai tempat‘ dengan aktifitas buang air besar.
Ada pandangan bahwa manakala di tempat baru bisa langsung BAB alias ee, maka dianggap memiliki tingkat adaptasi tinggi. Katanya. Jadi berbahagialah bagi yang langsung bisa buang air besar di toilet tanpa kesulitan. Eh kok kadi ngobrolin beabe. Udah ah… kembali ke laptop.
Petugas haji dari Kementerian agama dengan cekatan memgatur rombongan dan mengarahkan ke bis yang sudah diatur sedemikian rupa. Maka para jemaah dan petugas haji daerah yang sama menggunakan kain ihram tentu mengikuti semua arahan dan menaiki bis yang sudah ditentukan. Bis bergerak dari bandara di Jeddah menuju mekkah dan beberapa titik terasa melambat tapi karena kondisi phisik cukup lelah jadi avak sayup – sayup hingga kembali terridur. Ternyata beberapa kali tersendat dan atau malah macet terdiam itu adalah proses pemeriksaan super ketat dari aparat keamanan Pemerintahan arab saudi dalam memastikan bahwa di musim haji tahun ini benar – benar tersaring bahwa jemaah haji yang masuk ke kota mekah adalah dengan menggunakan visa haji dan terintegrasi dalam aplikasi yang namanya NUSUK. Hati – hati bukan bahasa indonesia tetapi bahasa arab, *Nusuk* (نسك) dalam bahasa Arab memiliki arti yang terkait dengan ibadah dan ritual keagamaan, khususnya dalam konteks haji dan umrah.
Kartu NUSUK bagian belakang / Dokpri.
Prosesi perjalanan berjalan lancar hingga memasuki kota mekah. Degup jantung terasa lebih kencang seiring luapan rasa syukur bisa menjejakkan kaki di tanah suci. Sebuah kesempatan hidup luar biasa dengan 2 fungsi yang penuh keberkahan. Sebagai petugas yang melayani jemaah haji sekaligus mengikuti prosesi tahapan berhaji. Alhamdulillahirobbil alamin.
Bis berkeliling mengantarkan jemaah menuju hotel yang sudah diatur sedemikian rupa. Satu persatu jemaah turun dengan berbagai hotel yang berbeda. Termasuk yang mengurusnya dari lokal arab yang disebut syarikah, mengatur dan mengarahkan para jemaah ke hotel – hotel yang tersebar di berbagai sektor di daerah kerja mekah. Setelah tuntas jemaah memasuki hotel masing – masing dilanjutkan dengan pendistribusian koper besar jemaah yang juga memerlukan kesabaran serta ketelitian. Ada beberapa koper yang berjiwa petualang sehingga berkeliling dari hotel ke hotel namun akhirnya bisa bersua kembali dengan pemiliknya.
Tantangan terus hadir, setelah mengawal penempatan jemaah juga mengejar koper besar yang berpetualang tiba saatnya kita memastikan para jemaah melaksanakan umroh wajib di masjidil harom. Disini peran ketua kloter, pembimbing ibadah, petugas pelayanan umum dan tenaga kesehatan serta kolaborasi intens dengan para ketua rombongan dan ketua regu sangat menentukan kelancaran semuanya. Alhamdulillah secara umum pelaksanaan umroh wajib dikordinasikan oleh para ketua rombongan termasuk juga yang jalur haji mandiri melakukan umroh wajibnya secara mandiri. Petugaspun menyesuaikan melaksanakan umroh wajib diawali tawaf lalu pelaksanaan sa’i. Selain itu petugas harus siap dan siaga manakala menghadapi jemaah lansia dan resiko tinggi yang tercecer tidak ikut rombongan melaksanakan umroh wajib. Disinilah peran binbad, petugas dan nakes untuk mengawal pelaksanaan umroh wajib tetsebut.
Di depan Hotel 704 / Dokpri.
Kamar hotel yang ditempati penulis berada di sektor 7 tepatnya berkode 704 Hotel Wehdah Alhoir di wilayah Jarwal Kota Mekah yakni lantai 4 kamar 423. Isi kamar berempat dengan keunikan tersendiri yakni bergabung dengan jemaah dan lintas kloter juga lintas embarkasi. Sebuah pengalaman seru yang tidak akan terlupakan. (AKW).
Ternyata Kesedihannya mendalam karena diharuskan juga membayar hehehehe…
JAKARTA, akwnulis.id, Pagi masih menggelayut manja diatas cakrawala sementara mentari tampak malas menampakkan cerianya. Pagi syahdu yang entah mengapa membuat jiwa ini rapuh dan meragu. Tetapi tidak ada jalan lain untuk menahan langkah dan kembali pulang untuk memeluk kenangan. Karena harapan ternyata menjadi bayang yang akan hadir dikala bentar bersinar terang.
Maka dengan segenap sisa kemampuan, dilawan perlahan semua keengganan dan kemalasan dengan cara tarik nafas panjang lalu berteriak spontan dengan semangat, “Alloooohu Akbarr!!”
Otot di raga tergerak dan semesta menemani perubahan sikap ini. Maka sebelum pelukan kemalasan kembali berkelindan, kaki melangkah penuh keyaminan untuk menuju sebuah tempat yang diharapkan memberikan kepastian.
Sebagai penguat sinyal dalam meyakinkan tentang rasa kehilangan ini maka kantor polsek terdekat bisa memberikan secercah harapan dengan menghadirkan sebuah kertas keterangan. Jelas sudah ada yang hilang karena judul surat yang diterbitkan di kantor polisi adalah SURAT KEHILANGAN.
“Biarkan secara administrasi tercatat hilang, tapi kenanganmu tetap tak lekang oleh jaman”
Langkah kaki setengah berlari membawa bukti surat kehilangan. Menuju sebuah tempat yang berharap menjadi pengobat luka akibat kehilangan, namun ternyata kehilangan kali ini bukan sekedar kehilangan tetapi dilengkapi dengan keharusan menyediakan sejumlah uang.
“Omay gad, ternyata kehilangan kali ini bukan hanya kesedihan dan kebingungan mencari kenangan dan bukti keberadaan tetapi juga perlu merogoh saku demi mengikuti sebuah aturan”
Jadi lengkap sudah, pertama hilang lalu kehilangan, diberi surat keterangan hilang dan dalam proses selanjutnya ternyata bukan hanya kehilangan tetapi harus bayar sejumlah uang. Huuuu huuuu huuuu huuu.
“Memang anda kehilangan apa sampai bersedih tak tertahankan?” Sebuah pertanyaan hadir dari kumpulan orang yang jadi penasaran. Termasuk yang sedang baca tulisan ini. “Ya khan?”
“Kehilangan ini” Dengan suara memelas memperlihatkan photo sebuah buku hijau kecil bergambar garuda emas.
“Pantesan atuh, hilang pasport mah resiko, memang begitu aturannya”
“Kamu betlebihan, hilang ginian tapi heboh sendiri cari simpati”
Raga terdiam dan sedikit senyum simpul. Dari awal khan hanya ingin cerita kehilangan dan ternyata kehilangan pasport memang harus berposes dan juga bayar 1 jura rupiah diluar biaya pembuatan pasportnya. “Kenapa orang – orang sewot?”
Jadi kesimpulannya : 1. Bagi yang sudah punya paspor maka dijaga baik – baik jangan hilang. 2. Jika hilang maka ada keharusan membawa surat dari kepolisian, BAP oleh Kantor Imigrasi lalu bayar dendanya. 3. Jika hilang dan tidak ada sama sekali photocopy atau file digital dari paspor yang hilang maka harus ke kantor imigrasi terdekat untuk meminta salinan dari paspor yang hilang ini. Harus datang pagi – pagi dan dengan ikhlas antri. Setelah dipanggil dan mengisi beberapa formulir serta wawancara maka diberikan copy-an berkas sebagai bahan untuk membuat surat keterangan kehilangan dari kepolisian. 4. Ke kantor polisi terdekat atau disarankan di daerah domisili dan inipun perlu waktu yang lumayan. 5. Kembali ke kantor Imigrasi dan berproses untuk pembuatan paspor baru dan selain harus mengantri lagi juga bersiap membayar denda kehilangan. 6. Waktu yang digunakan cukup banyak dalam prosesnya, jadi tetap semangat, bersabar dan fokus.
Begitu ceritanya yang penulis alami, semoga menjadi cerminan kehati-hatian bagi para pembaca yang baik hati dan tidak sombong serta teliti untuk berbagai hal. Selamat menjalani hari ini, penuh arti dan jangan lupa tafakur serta syukuri. Wassalam(AKW).
Lalaunan mapah ngabujeng ka tepas, seja nepangan mitoha, Ama Haji. Katingal anjeuna nuju sila tutug, melong ka payun bari teu hilap ngenyot udud bako molè di bungkus daun kawung. Ni’mat katingalna.
“Assalamualaikum Ama, kumaha damang?” Uluk salam kalawan ajrih, teu hilap rengkuh kanu janten sepuh. “Euleuh Sarjang, Alhamdulillah. Iraha ti dayeuh?”
“Tadi ba’da lohor Ama, hapunten nembè tiasa nepangan” “Teu nanaon Sarjang, nu utama mah sarèhat sakabèhna. Naha awak bayuhyuh deui?” Ama melong kana patuangan ogè damis nu nyurungkuy deui. Rada nyereng.
“Papagah Ama leumpang sapoè 5 kilo jeung push up 100x jigana tos kahihilapkeun nya?” “Teu pisan – pisan Ama, masih dilakonan. Mung push upna rada aya variasi”
“Variasi kumaha Jang?” “Muhun, nembè 10x dina ubin, pun bojo piwarang naèk kana risbang, kangge neraskeun push upna Ama” lalaunan ngawaler bari rada isin.
Ama imut ngagelenyu bari ngenyot rokona, “Si Nyai mah nyeplès indungna.”
***
Sebuah tulisan singkat berbahasa sunda yang menemani perjalanan tugas di tol Cipularang menuju agenda dinas ke Depok. Wassalam, AKW.
Lalaunan mapah ngabujeng ka tepas, seja nepangan mitoha, Ama Haji. Katingal anjeuna nuju sila tutug, melong ka payun bari teu hilap ngenyot udud bako molè di bungkus daun kawung. Ni’mat katingalna.
“Assalamualaikum Ama, kumaha damang?” Uluk salam kalawan ajrih, teu hilap rengkuh kanu janten sepuh. “Euleuh Sarjang, Alhamdulillah. Iraha ti dayeuh?”
“Tadi ba’da lohor Ama, hapunten nembè tiasa nepangan” “Teu nanaon Sarjang, nu utama mah sarèhat sakabèhna. Naha awak bayuhyuh deui?” Ama melong kana patuangan ogè damis nu nyurungkuy deui. Rada nyereng.
“Papagah Ama leumpang sapoè 5 kilo jeung push up 100x jigana tos kahihilapkeun nya?” “Teu pisan – pisan Ama, masih dilakonan. Mung push upna rada aya variasi”
“Variasi kumaha Jang?” “Muhun, nembè 10x dina ubin, pun bojo piwarang naèk kana risbang, kangge neraskeun push upna Ama” lalaunan ngawaler bari rada isin.
Ama imut ngagelenyu bari ngenyot rokona, “Si Nyai mah nyeplès indungna.”
***
Sebuah tulisan singkat berbahasa sunda yang menemani perjalanan tugas di tol Cipularang menuju agenda dinas ke Depok. Wassalam, AKW.
Sebuah catatan kecilku dalam membersamai even FDI (Festival Dulag Istimewa)
Apel persiapan FDI H-1 / Dokhum
BANDUNG BARAT, akwnulis.id. Gema takbir silih berganti dengan sukacita menandakan hadirnya bulan syawal yang begitu gempita. Rasa sedih hadir karena bulan ramadhan segera betakhir, tetapi juga gembira karena bisa melewati satu bulan momentum hari – hari puasa dengan mengisinya beraneka aktifitas yang bukan hanya bicara tentang lapar dan dahaga tetapi yang terpenting adalah melatih diri untuk menjaga derajat taqwa serta mensucikan diri menguatkan niat untuk melakukan ibadah – ibadah terbaik di sebelas bulan yang terbentang dihadapan mata. Sebelum bersua dengan bulan ramadhan tahun depan, Insyaalloh.
Berawal dari diskusi sederhana bersama bapak bos kita, pak KDM, bapak Gubernur Jawa Barat tentang aktifitas memukul bedug di bulan puasa ternyata berlanjut dengan tantangan yang tidak biasa, inilah pwrcakapannya :
“Ari nakol bedug sabaraha warna?” “Tilu warna pak” (baca tiluarna)
Diartikan dalam bahasa indonesia menjadi :
“Kalau memukul bedug berapa warna?” “Tiga warna” (baca dari luarnya).
Tim hadiah – piagam & tropy FDI
Sebuah tatarucingan eh tebak – tebakan sederhana yang sudah menjadi percakapan biasa bagi anak – anak dan remaja di lembur atau di kampung tentang memukul bedug. Tahu kan bedug?… itu yang ada di mesjid, biasa digunakan atau dipukul menjelang berkumandangnya adzan. Bentuknya seperti tong besar yang terbuat dari berbagai bahan baik dari kayu, drum bekas yang dibungkus dengan kulit kambing atau sapi dan satu sisinya bolong / kosong sebagai tempat keluarnya suara.
Bedug ini dipukul menggunakan pemukul atau disebut panakol, bisa dari kayu yang dibentuk seperti korek api tapi ukuran besar atauapun kayu/besi yang ujungnya dililiti kain atau karet sehingga nyaman digunakan sebagai pemukul.
Nah aktifitas memukul bedug itu disebut dengan ngadulag. Malah baju lebaran juga sering disebut baju dulag. Sehingga bedug dan ngadulag adalah dua kata yang tidak bisa dipisahkan. Sekaligus menjadi dasar perintah bagi pak KDM, Kang Dedi Mulyadi memerintahkan kami agar merancang, merencanakan dan menghadirkan even FDI (festival dulag istimewa) 1446 H di halaman gedung pakuan Provinsi Jawa Barat.
Begadang H-1 cek ricek piagam.
Maka bergeraklah kami dengan segera, mempersiapkan pelaksanaan festival dulag istimewa ini dengan segenap kemampuan kami yang ada. Tentu tantangan pertama adalah ketidakpahaman kami bagaimana sebuah even ngadulag eh nakol bedug ini secara teknisnya, sementara mau bertanya lagi kepada pak KDM, masih takut takut kita. Maka langkah awal adalah mencari referensi melalui media online sekaligus bertanya kepada orang – orang atau pejabat di kabupaten purwakarta, bagaimana gelaran festival ngadulag dilaksanakan di alun – alun purwakarta semasa pak KDM menjabat sebagai bupati purwakarta beberapa waktu yang lalu.
Tentu ditengah – tengah tugas lain yang perlu konsentrasi. Maka langkah demi langkah persiapan yang diawali dengan pembagian tim, penentuan nama dan siapa berbuat apa. Lalu menyusun timeline dengan target akhir adalah pelaksanaan FDI festival dulag istimewa ini yang akan dilaksanakan pada malam takbiran atau hari terakhir bulan ramadhan.
Dua pertanyaan besar yang menghantui kami, yakni : “Bagaimana format sebenarnya yang diharapkan oleh pak Gubernur terkait festival dulag inj dan apakah pelaksanaan shalat idul fitri atau hari pertama lebaran itu tanggal 31 maret 2025 atau bisa saja tanggal 30 maret 2025 memgingat pemberitaan sidang isbat akan dilaksanakan di tanggal 29 maret 2025 oleh kementerian agama?…”
Tim Inti lapor pak Sekda Jabar.
Suasana mulai menegang… Teman – teman di Biro Kesra segera mempersiapkan segalanya. Tentu dengan segala ketidaktahuan, namun semangatnya sama. Ini adalah tantangan yang harus dan bisa diwujudkan bersama-sama. Dengan dikomandani oleh bapak Kabag TU (syeh) Ahmad dan ketua teknis Aa Sofyan dan tim TU tidak hanya humas namun kolaborasi semuanya untuk mewujudkan konsep awal even ini.
Begitupun dari Bos Sekda, intruksi teknis tentang festival dulag ini menjadi pedoman bagi kami dan dituangkan dalam Kerangka acuan kerja, paparan versi canva, konsep di media sosial konsep sertifikat juga beraneka surat menyurat baik dalam benfuk nota dinas di internal sekretariat daerah juga surat keluar yang ditujukan kepada berbagai OPD pendukung.
Seperti permohonan dewan juri ke Disparbud, dukungan tim kesehatan dari Dinkes, dukungan publikasi dan live streaming youtube ke Diskominfo, dukungan media luar ruamg termasuk LED outdoor dan yang pasti kehadiran pak Gubernur itu sendiri ke Biro Adpim serta permohonan mencetak undangan resmi plat merah. Juga Dinas Perrhubungan dan Satpol PP serta Polrestabes Bandung untuk pengamanan, ketertiban, pengaturan lalu lintas sekaligus jangan lupa tentang perijinan keramaian.
Panitia FDI bersiap – siap.
Karena jelas intruksi pak Sekda, disaat Panitia inti melakukan audiensi diminta seluruh OPD mengirimkan satu tim dulag yang berjumlah 4 orang serta perwakilan kabupaten / kota dari 27 daerah dengan 2 perwakilan yaitu kategori dewas dan kategori pemuda. Termasuk konsep performance dari masing – masing peserta dengan menggunakan kendaraan masing – masing untuk melewati tribun depan gedung pakuan. Lakukan penampilan, dinilai dan bergerak meninggalkan area halaman gedung pakuan.
Maka detailing waktu menjadi ketat karena diharapkan bisa tuntas di pukul 22.00 wib. Pasukan Kesra semua bahu membahu dengan dikawal para Ketua Tim dan jelas dikawal oleh Bapak Agis JF Madya satu – satunya di biro Kesra.
Rapat internal via zoom meeting menjadi kunci kebersamaan sehingga pergerakan teman – teman fokus kepada aneka persiapan dan juga disaat pelaksanaan. Kang Dadan mengkordinir hadiah dan piagam pontang – panting dibantu pak Juan, pak Asep Achyar juga Fahmi, Septian, Sakti dan maafkan nama – nama yang belum disebutkan. Ternyata piagam yang di tandatangan gubernur harus jelas usulannya, ada nota dinas, kajian, berita acara yang ternyata dengan jaringan kekompakan dengan BKD dan Biro Hukum dapat dituntaskan segera.
Tantangan hadir tentang besaran hadiah yang harus berjibaku dengan usulan perubahan komponen, pemotongan pajak hingga penyerahan hadiah tersebut apakah via transfer ataupun tunai. Seru pisan pokoknya, Neng Rani dan tim perencana berjuang belakang layar dikawal aa Sofyan serta Tim TU sementara waktu pelaksanaan terus mendekat tinggal menghitung hari.
Ada juga pak Haji Encep dan pak Damir sebagai tim pengendali cuaca yang bertugas memastikan dengan ihtiar dan doa agar di malam festival dulag istimewa ini tidak ada hujan dan langit tetap cerah. Nah ternyata dukungannya tidak main – main langsung BPBD, BNPB dan BMKG dalam pelaksanaan rekayasa cuaca sehingga curah hujan beberapa lokasi di jawa barat diihtiarkan agar turun di lautan sehingga mengurangi potensi bencana banjir di kawasan jawa barat.
Pleno Dewan juri
Tim pencari obor sekaligus persiapan untuk makan minum acarapun tak kalah sibuknya. Ada pak Juan, pak Mamat, pak Agis, bu Muftia yang sibuk mencari obor. Juga tim bu Amelia dan bu Imas BMS yang mengkordinasikan konsumsi dari mulai angka 550 pak menjadi 1000 pak disaat even berlangsung yang disupport full oleh Biro Umum Setda Jabar.
***
Sementara urusan kemungkinan hari lebaran kapan, berdasarkan perbandingan sederhana dengan melihat sidang isbat 5 tahun ke belakang, penanggalan 1 syawal selalu sejalan dengan rencana awal pemerintah. Dikaitkan juga dengan arahan pak Sekda di saat tim kami melaporkannya. Berarti jelas, pelaksanaan Festival Dulag Istimewa 1446 H akan dilaksanakan pada tanggal 30 maret 2025 setelah shalat isya sampai malam. Noted.
Pak Kabag TU dilantik jadi Karo Adpim.
Terdapat kejutan yang membahagiakan keluarga besar Biro Kesra Jabar adalah dengan dilantiknya Bapak Syeh Kabag TU menadi Kepala Biro Adpim yang baru. Menjadi JPT Pejabat tinggi pratama atau level eselon II, Alhamdulillahirobbil Alamin… kami ikut bangga dan bahagia meskipun terselip kesedihan karena harus berpisah secara kedinasan. Tapi kerjasama tetap abadi, semoga pengganti beliau adalah orang yang berintegritas dan paripurna seperti beliau.
Balik lagi urusan FDI, waktu tersisa tinggal 2 hari. Tetapi ada hal yang masih mengganjal dalam hati yakni format atau konsep acara yang sudah kami susun, apakah sesuai dengan konsep dan harapan pak KDM, gubernur kami?.. ternyata karena Karo Adpimnya adalah alumni Biro Kesra maka kami diberikan slot waktu untuk menghadap.langsung kepada bapak Gubernur di kediaman pribadinya, di lembur pakuan Subang.
Benar saja, hari jumat siang menemui pak KDM dan ternyata format acara festival ngadulag yang diharapkan adalah nirkendaraan tetapi bedugnya dan para penakolnya eh petugasnya stanby di halaman gedung sate dan disuarakan bersama-sama. Lalu juri bergerak menilai satu persatu penampilan para peserta dan alhirnya merumuskan hasil penilaian yang dituangkan dalam 18 juara. Tanpa banyak basa – basi, pulang menemui pak Gubernur langsung di gelar rapat virtual marathon mulai dari dewan juri, para perwakilan OPD dan 27 kabupaten kota sebagai calon peserta serta petugas dan tim semuanya karena perubahannya sangat signifikan.
Lapor ke Pak Gubernur, bp KDM.
Maka bergeraklah bersama mempersiapkan segala hal dengan aneka perubahannya. Pak Agis menjadi koordinator absensi bagi teman – teman semua sekaligus didapuk sebagai plt Kabag TU melanjutkan tugas pak Ahmad. Pak Ahmad sendiri tetap mendukung kegiatan ini dengan kapasitasnya sebagai pejabat eselon 2 yang mengatur agenda Gubernur.
Pak Sofyan pontang – panting mengawal persiapan teknis kegiatan. Pak Dadan dan tim mempersiapkan piagam, trophy, souvenir dan hadiah. Bu muftia pabeulit sama obor dan tuntaa oleh pak agis, pak juan dan pak rahmat karena bukan hanya obornya saja yang harus ada tetapi lengkap dengan minyak tanah sebagai bahan bakarnya. Bu Oi dan tim penerima tamu sibuk wara – wiri. Apalagi tim registrasi, sudah ready dari minggu pagi demi menerima dan mengarahkan peserta hingga mengkordinasikan tanda tangan dan visum dari para peserta kabupaten / kota.
Pak Gub betikan hadiah kepada juara FDI
Pak rahmat dan pak Juan alih profesi menjadi sopir mobil bak demi mengangkut bedug besar dari mesjid raya Bandung ke halaman gedung pakuan. Tim dokumentasi humas terus bergerak, tim acara berkoordinasi intens dengan protokoler. Termasuk diri ini yang juga harus bersiap tampil menyampaikan laporan kegiatan. Sebuah mantra menjadi pembuka, hadirkan senyum bersama – sama : MOBIL FIAT MOBIL SEDAN, TEU KIAT HOYONG LAPORAN.
Akhirnya di malam takbiran tanggal 30 maret 2025 kegiatan Festival Dulag Istimewa 1446 Hinriah resmi dilaksanakan di halaman gedung pakuan. Total 70 tim hadir dari 27 kabupaten kota dan perwakilan OPD di lingkungan provinsi jawa barat.
Bersama pak Gub KDM & Dewan Juri FDI.
Sukacita peserta dan warga menyatu dalam bahana suara bedug yang dipukul bersama begitu menggetarkan jiwa. Menggabungkan marwah nafas islami, tradisi budaya sunda serta makna mendalam tentang memukul bedug sebagai PENGINGAT bagi umat manusia khususnya muslim muslimah untuk selalu tepat waktu dalam beribadah kepada Allah Subhanahu Wataala.
Menghasilkan 18 juara dari 3 kategori, yakni juara I, juara 2, juara 3, juara harapan 1, 2 dan 3. Dimana dalam prosesi penilaian yang dikawal ketat oleh Bu Neni dan tim BMS menyisakan juga sebuah pengorbanan dengan hilangnya smartphone bu Neni ditengah hiruk pikuk penilaian penampilan dulag dari masing-masing kelompok.
Terima kasih Bapak Gubernur Jabar atas tantangannya, Bapak Sekda yang selalu membimbing kami, seluruh pimpinan OPD serta Baznas Provinsj Jawa Barat yang mendukung terselenggaranya acara FDI ini. Para Dewan Juri yang berjibaku menilai secara objektif yang merupakan representasi dari akasemisi, praktisi dan seniman yakni ada kang Erlan – seniman, Abah Faruq – LASQI & Kang Rizky Hamdani – ISBI serta seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya acara ini.
Tuntas acara bersama sebagian tim & pak Sekda Jabar.
Super thanks for Keluarga Besar Biro Kesra Setda jabar yang begitu kompak, militan, tetap bertahan dengan segala perubahan dan sampai lepas tengah malam menuntaskan even FDI ini hingga setuntas-tuntasnya. Bravo Biro Kesra.Wassalam(AKW).
Dibalik momen haru dan sedih, ada penyempurna yang hakiki. jejak digital terpatri.
BANDUNG, akwnulis.com. Siang ini (19/02) adalah sebuah momentum penting bagi seluruh pegawai di Gedung sate karena hadir bersama pada acara perpisahan dengan bapak Penjabat Gubernur Jawa barat yakni Bapak Bey Triadi Mahmudin dan Ibu Amanda Soemedi yang telah menakhodai pemerintah provinsi jawa barat selama 17 bulan lebih.
Tulisan ini tidak mengulas suasana perpisahan yang mengharu biru, campur aduk antara haru dan biru eh sedih. Tapi inilah kenyataan yang harus dihadapi dan dijalani.
Nah di momen terakhir sambutan bapak Sekda, hadirlah di layar LED sebuah pantun berbahasa sunda. Jengjreng…. awalnya biasa saja. Dibaca sekilas dan berlanjut dalam sebuah rangkaian acara.
Tapi…. kok agak hafal untuk kalimat di barisan pertama dan kedua. Ada 2 kalimat yang terasa tidak asing. Tulisannya adalah : ‘mapay desa nu baranang, manggih domba disimbutan. ..’
2 kalimat ini terasa akrab karena merasa pernah menuliskannya di suatu tempat. Tapi tentunya juga perlu pembuktian. Mengapa 2 kalimat itu memiliki hubungan khusus dengan diri ini. Langsung disalin saja 2 kalimat tersebut dan ditempelkan di kolom searching mbah google.
Tadaaa…..
Ternyata hadirlah urusan searching pertama dan kedua, salah satunya adalah alamat blog pribadiku. Tak sabar dibuka dan benar saja, 2 kalimat itu adalah tulisanku di tahun 2018 atau tepatnya 7 tahun yang lalu.
Capture hasil pemcarian di Google.
Meskipun ternyata 2 kalimat tersebut hadir juga di laman kumparan.com juga website lainnya. Tapi yang membuat hati ini senang karena dengan jejak digital dapat dilihat siapa yang menulis duluan. Mayoritas beberapa website menulis dengan judul ‘Contoh pantun sunda‘ padahal sejatinya itu dibuat dan diupload oleh jemari ini pada tanggal 27 Nopember 2018 atas permintaan seorang kakanda yang beralih tugas dari jabatan Camat Boget Kabupaten Sukabumi dalam momentum perpisahan.
Ada terselip rasa senang karena sebuah tulisan 7 tahun lalu bisa hadir kembali dalam sebuah momentum resmi yang secara kebetulan adalah di lingkungan kerja sekaligus disaat perpisahan pimpinan tertinggi di lingkungan pemerintah provinsi jawa barat khususnya dengan para pejabat tinggi pratama, para pimpinan BUMD dan seluruh pegawai di Sekretariat daerah provinsi jawa barat.
Tulisanku 2018 itu adalah : Mapay desa nu baranang Manggih domba disimbutan Aya mangsana datang Aya oge mangsana amitan.
Dan sekarang di layar LED terpampang : Mapay desa nu baranang Manggih domba disimbutan Aya mangsana Pak Bey datang Aya oge mangsana Pak Bey amitan.
***
Terima kasih Pak Bey & Ibu, Selamat Jalan.
Rasa haru semakin bertambah, awalnya karena memang begitu terasa keteladanan dari Pak Bey selama menjabat Pj Gubernur Jawa Barat. Kasih sayang, kesederhanaan, ketelitian dan kemudahan komunikasi serta bejibun kebaikan – kebaikan yang beliau tunjukan sebagai seorang pemimpin yang hari ini menjadi saat – saat terakhir sebagai peje dan akan kembali bertugas menjadi eselon I di Kementerian Sekretariat Negara di Jakarta.
Dilengkapi dengan penyempurnaan dari hadirnya kalimat pantunku sebagai pengantar dari ungkapan perpisahan. Itulah indahnya momentum kehidupan dilengkapi dengan catatan dari jejak digital. Bagi yang penasaran, bisa dibuka tautannya disini :…. PANTUN PERPISAHAN – akw.
Selanjutnya sebagai penutup, maka pantun singkat langsung dibuat : Makan tahu di pinggir pantai sambil naik kuda. I love u bapak Bey dan Ibu Amanda.
Daun selasih tersemat lagi di depan mata. Terima kasih dan selamat kembali ke Jakarta.
***
Itulah tulisan singkatku kali ini, sebuah tulisan yang dihadirkan dalam masa – masa perpisahan. Wassalam(AKW).
1 hari 5 tempat, gaskeun. purwakarta bekasi karawang subang bandung cimahi.
BANDUNG, akwnulis.id. Semerbak harum pagi menyambut langkah optimis untuk selalu menjaga syukur atas semua berkah Illahi. Memasuki kendaraan yang langsung tancap gas memasuki tol gate Pasteur dan meluncur membelah suasana pagi yang ditemani semburat sinar mentari.
Tak terasa kawasan rest area 97 sudah ada dihadapan mata. Kendaraan dikurangi kecepatan dan belok kiri menjadi secercah harapan karena ada hal yang harus dituntaskan.
“Apa yang harus dituntaskan kawan?”
Jawabannya singkat, SARAPAN.
Yuk ritual makan pagi yang harus dijaga dan jangan terlewati. Meskipun sedikit tetapi menjadi kewajiban demi menjaga daya tahan tubuh dan menjalan tugas pekerjaan yang sedang diemban.
“Lha khan biasanya sarapannya dengan menu khusus yang ada roti gandumnya, telur rebus putihnya saja dan beberapa iris jeruk sunkist?”
Apel pagi di Puskesmas Cikarang Bekasi
Hari ini agak lain, karena menu tersebut tertinggal tadi di rumah. Sehingga alternatifnya tetap harus ada yang masuk ke dalam perut yang sudah bergejolak lapar ini. Maka pilihannya adalah sajian bubur ayam panas dengan pola self service di Kedai Mandiri dan tak perlu berlama – lama langsung dinikmati bersama kawan seperjalanan.
Perut tuntas terisi maka perjalanan dilanjutkan menuju titik pertama yakni di wilayah Kabupaten Bekasi tepatnya di Puskesmas Cikarang. Sebuah kegiatan kedinasan yang diawali dengan pelaksanaan apel pagi bersama seluruh pegawai puskesmas dilanjutkan dengan peninjauan pelaksanaan kegiatan yang diicanangkan pemerintah yaitu CKG (cek kesehatan gratis) bagi warna yang berulangtahun.
Tak berapa lama segera bergerak dari Cikarang, sebuah daerah yang begitu gercep. Karena setiap disebut apapun maka jawabannya adalah CEKARANG eh SEKARANG. (lol).
Gaskeun…..
Bersama Aki nini di Teluk jambe Karawang.
Titik selanjutnya adalah berada 32 menit dari Cikarang yakni di daerah Teluk Jambe Kabupaten Karawang. Tepatnya di satuan pelayanan Griya Ramah Lansia yang menampung 75 orang lansia terlantar dari berbagai daerah di Provinsi Jawa Barat. Terdapat 31 orang lansia wanita dan sisanya adalah lansia laki – laki yang lebih nyaman dipanggil Abah atau aki.
Pertemuan singkat dengan mereka memberi energi baru dalam berkarya. Meskipun terkadang harus ber akting dan sedikit drama karena memposisikan sebagai anak atau malah menjadi cucu bagi mereka yang begitu haus dengan perhatian dari keluarga dan sanak saudara yang dengan berbagai alasan tidak bisa hadir untuk sesekali membersamai mereka, apalagi berkunjung rutin atau mengajak kembali ke rumah keluarga dan hidup di hari tua bersama-sama.
Silaturahmi di Jalan cagak Subang.
Makan siang menjadi momen lintas kabupaten kembali, karena dengan perjalanan hanya 1 jam saja via tol cipali dengan keluar pintu tol subang kota maka bisa menunaikan ibadah shalat dhuhur sekaligus makan siang gurame bakar di daerah kabupaten subang. Silaturahmi berlanjut lagi dengan jajaran pengurus utama BPR Jabar baik komisaris utama dan Direktur utama serta jajaran di direksi dan komisaris lainnya di kantor pusat sementara yang berada di daerah Jalan Cagak kabupaten Subang.
Sore hanya bergeser lagi ke acara di Perbatasan tangkuban parahu tepatnya di kawasan astro ciater highland dengan sebuah acara rapat kerja yang digelar oleh jajaran DKM Mesjid Raya Bandung dalam rangka evaluasi kinerja 2022 – 2024 dan rencana kerja 2025. Di kegiatan ini tentu menjadi ajang diskusi dan silaturahmi sekaligus menguatkan kolaborasi yang didetailkan dalam dokumen rencana aksi.
Diskusi sore di Ciater
Setelah adzan magrib bergema barulah bergerak ke titik akhir yakni kembali ke area Jalan Diponegoro 22 alias kantor Gedung sate untuk mengecek dokumen – dokumen yang ada dan harus dilakukan paraf dan tandatangan secara langsung khususnya terkait urusan kontrak dan keuangan. Hingga tak terasa jarum jam menunjukan pukul 21.20 wib. Barulah sedikit rehat dan bercengkerama ringan dengan para petugas kebersihan yang masih stanby menemani kehadiran. Tidak lupa disajikanlah kopi hitam tanpa gula dengan metode seduh manual V60 dengan berbagai biji kopi yang tersedia dan dilakukan penggilingan secara mendadak.
Harum semerbak kopi memenuhi ruangan, menguatkan harapan dan memberikan kedamaian. Meskipun beberapa kawan masih tergagap disaat menikmati kopi hitam tanpa gula yang disajikan. Tapi menjadi sebuah hiburan bersama dan rasa lelah sedikit terlupa meskipun beredar lintas wilayah, karena saling berbagi tawa disaat melihat wajah mengkerut karena menikmati sajian kohitala (kopi hitam tanpa gula) yang rasanya mendekati rasa brotowali. Selamat berkarya dan ngajegang kawan, Ngariung Ajeg Sagala Bidang. Wassalam(AKW).
Sebuah singkatan yang melengkapi tugas keseharian (tapi seratanna nganggo basa sunda)
BANDUNG, Desember 2024. Teu karaos geuning waktos dina ngajalankeun kahirupan tèh teras ngaguluyur, teu tiasa ditahan sumawonnna dilirènkeun mah sanaos mung sadetik ogè. Kukituna peryogi diseratkeun naon waè anu parantos karandapan, kapayunan tur kasaksèni salami sababaraha waktos kapengker. Bilih aya nu lepat atanapi henteu sapagodos, ulah pameng dilelempeng kumargi rumaos da manusa mah gudangna lepat.
Dina seratan ayeuna hoyong ngaguar hiji singketan nu diciptakeun, euleuh gaya pisan diciptakeun. Dikarang ku simkuring nu maksadna supados gampil ngapalkeunna ogè teu sesah upami ngawartosan kanu sanèsna.
Namina rekokom èta singketan tèh.
“Kunaon singketanna rèkokom?”
Pertarosan ieu tangtos bakal diwaler ku sabab musabab nu teu kedah sesah ngèmutannana. Rèkokom tèh ideuna mah tina nami kokom anu janten nami umum kanggè wanoja di tatar sunda. Malih mah kapungkur nuju alit, èta nami kokom tèh ti unggal kampung aya. Ku kituna matri dina èmutan tur janten apal dugika danget ayeuna.
Uih deui kana singketan REKOKOM ieu ngarupikeun gabungan tina tilu kecap nyaeta REgulasi, KOmunikasi tur KOMitmen. Hayu urang guar hiji-hiji.
Ngawitana tina REGulasi atanapi aturan – aturan boh formal, teknis kalebet aturan lokal nu tiasa janten pedoman dina enggoning ngajalankeun tugas sèwang-sèwangan. Upami kanggo pedoman kahirupan, simkuring muslim tangtos Alqur’an sareng Hadist nu janten rujukan. Agama sanès tangtos ngagaduhan ogè sapertos kitab injil, taurat, zabur sareng sajabina. Dina urusan kaduniawian urang tèh apal nu disebat undang – undang, peraturan pemerintah, peraturan daerah, dugika edaran RT/RW. Atanapi nu langkung singket mah manual book nu sok aya dina boks tipi weuteuh, hapè, kulkas jeung sajabina.
Nu kadua nyaeta KOmunikasi. Wirèhna sagala rupi ogè tiasa dibadantenkeun, diajak bacèprot ngawangkong nu tangtosna tiasa sami dina emutanna tiasa sapagodos dina nangtoskeun tujuan nu ahirna sumanget gotong royong sasarengan silih wangikeun pikeun ngawujudkeun kapentingan sasarengan. Tangtos aya hiji tantangan, kumargi peryogi waktos dina raraga ngadangukeun sagala rupi nu janten aspirasi, bangbaluh, kritik, usul saran ogè tangtosna nu bènten pamadegan. Èta pisan nu ngait kana tèma komunikasi.
Nu katilu nyaèta KOMitmen. Hiji jangji pasini nu ngawujud boh tiasa otomatis langsung jangji ngabantos sasarengan atanapi saatos komunikasina lancar tur sami dina ngudag hiji tujuan nu tangtosna dina wadah kangge kapentingan seueur jalmi sanes urusan pribadi. Insyaaloh urang di kulawargi, di lingkungan masyarakat ogè nu ageungna dina kahirupan berbangsa bernagara tiasa bèrès roès gemah ripah loh jinawi.
Kitu panginten, seratan pondok mugia nyogok, heunteu panjang bilih nyugak mung nambihan sakedik pangèmut, sasieureun sabeunyeureun kanggè urang silih wangikeun dina hirup hurip sauyunan.
Hatur nuhun ka sadayana, uih deui kana paragraf awal, supados gampil ngapalkeunna janten singketan REKOKOM (regulasi – komunikasi – komitmen). Ulah hilap nya. Wassalam. Cag (AKW).
SOREANG, akwnulis.id. Jemari bergetar disaat kembali bercengkerama dengan keyboard virtual untuk membuat sebuah tulisan sederhana yang selama ini menjadi jembatan penyeimbang jiwa dikala berhadapan dengan kenyataan yang sedang menanti kepastian. Padahal selama mingu – minggu ini jemari tetap menari dan berusaha menuliskan fenomena yang terjadi. Namun bukan dalam posisi penyeimbang jiwa tetapi mencatat serpihan – serpihan kehidupan dan merajutnya menjadi kumpulan kebaikan dimana esok lusa menjadi sejarah yang hadir tanpa amarah.
Bergelas kopi hitam tanpa gula sebetulnya sudah tak terhitung menemani tarian jemari ini. Namun catatan yang hadir bukan bagaimana kopi hitam tanpa gula itu memiliki body – acidity dan aftertaste yang istimewa. Tetapi betul – betul sebagai teman saja yang terdiam tanpa ekspresi dan menyaksikan jemari ini menari tanpa diiringi musik yang mendayu. Cukup dibersamai desau keresahan dan denting kekhawatiran yang bersuara lirih namun terasa perih padahal bukan luka, hanya kumpulan kata – kata.
Maka kembali mengapa jemari ini bergetar saat ini, karena yang tertuang dalam tulisan adalah sebuah syukur nikmat yang selama 2 minggu ini tidak sempat tercatat karena suatu sebab.
KOPI NANGKUB Tibalik / Dokpri.
Namanya KOPI TIBALIK alias kopi terbalik. “Menarik khan nama kopinya?” Tentu membuat penasaran. Karena jika dirunut dari biji maka tidak ada yang aneh, dibolak balik ya tetep biji kopi. Jikalau menggeliat disaat hangat dan panas di roasting, pada akhirnya tetap biji kopi tidak terbalik sampai akhirnya di grinder, diseduh dan dinikmati.
Ternyata istilah terbalik ini merupakan metode penyajian saja. Simpel sekali, meskipun ternyata tidak sederhana pada saat menikmatinya. Kopi yang dibuat ternyata biasa saja, kopi base espresso yakni americano. Hanya saja penyajiannya dibalik dimana pisin tutup gelas itu berubah menjadi alas gelas. Sudah deh, tidak menarik.
Tapi ternyata ini baru permulaan karena tantangannya hadir pada momentum menikmatinya.
Mau dibalik lagi gelasnya dibawah, nggak lucu ah. Maka dengan konsentrasi penuh gelas dan pisin atau tatakan ini diangkat perlahan dan buka celah gelas dengan hati – hati. Karena jika bukanya terlalu lebar, air kopinya keluar semua dan dijamin akan tumpah karena pisinnya kecil.
Ngopi tibalik dulu / Dokpri.
Maka harus konsentrasi, terukur dan diangkat perlahan tapi pasti…. wadduh menegangkan kawan. Lalu monyongkan bibir menyentuh pisin dan sruput perlahan, agak ribet memang. Tetapi sensasinya menghadirkan suasana rasa tersendiri. Tetap rasanya pahit namun diperkaya dengan manisnya rasa ihtiar termasuk memonyongkan bibir agak ke depan agar hasil maksimal.
Setelah 7 kali prosesi membuka gelas kupi terbalik ini akhirnya bisa habis meskipun bibir kok terasa lebih maju dari biasanya. Resiko untuk meraih kenikmatan yang berbeda. Maka jemari bergetar disaat menuliskannya karena terasa menjadi penyeimbang jiwa dalam gempuran ketidakpastian yang berkelindan dengan harapan banyak pihak terhadap raga sederhana ini untuk berkhidmat dalam memposisikan sebagai bagian dari solusi.
Sebagai penghormatan terakhir maka gelas terbalik dan pisin serta ampas kopi diberikan anggukan hormat takzim karena telah memberi kesempatan untuk sedikit menghela nafas dan kembali ke jalur penikmat kohitala dengan cara yang berbeda.
Padahal sebenarnya dalam sejarah tradisional di kampung halaman, menikmati kopi dengan menggunakan pisin atau tatakan itu adalah hal yang lumrah dengan tujuan membuat suhu air kopi panas itu segera turun. Kopinya di gelas biasa tapi pas mau diminum dituangkan ke pisin. Namun sekarang yang berbeda adalah posisi gelasnya yang disajikan sudah terbalik dan nyepot ke pisin. Sehingga perlu spesial effort pada saat membukanya perlahan.
Selamat mensyukuri hadirnya malam karena berarti besok insyaalloh akan kembali berjumpa dengan pagi berseri dan siang yang benderang. Salam kohitala gelas kebalik, Wassalam (AKW).