Komansu & Kohitala Biji Pak Asep.

Berlanjut menikmati biji lainnya.

Photo : Seliter Cold brew biji pak Asep / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Hanya perlu 3 hari untuk menikmati buah karya biji kang Yuda, sebotol besar tandas tiada sisa dan yang ada tinggal seonggok botol kaca benderang tembus cahaya. Penasaran tentang cerita menikmati biji eh kopi kang Yuda, klik saja DISINI.

Hari keempat mulai berharap bisa menikmati biji lainnya disela kesibukan yang mendera.

Emangnya sibuk apa pak, khan PNS enak disuruh libur atau #workfrom home alias kerja dirumah?

Sebuah tanya yang bisa hadirkan jawaban beraneka, meskipun sebuah tanya wajar hadir karena sudah menjadi persepsi bahwa kesantaian seakan melekat di status PNS.

Padahal, kondisi saat ini justru merupakan tantangan untuk terus beradaptasi dengan kenyataan dan tetap produktif di posisi apapun. Bicara kesibukan tentu relatif, tetapi kami bisa mengklaim bahwa dunia PNS kami penuh tantangan, monitoring dan pelaporan online untuk mengukur kinerja kami baik pas piket di kantor ataupun ber-WFH di rumah ataupun terlibat dalam sub divisi gugus tugas pencegahan pandemi covid19.

Absensi di smartphone dengan photo selpi minimal 2x sehari dengan GPS di lock di posisi kantor masing-masing membuat kepatuhan yang hakiki. Pelaporan harian minimal 300 menit perhari dengan rincian tugas yang sudah diatur serta harus dilengkapi photo up todate adalah keharusan, harus lapor dan harus narsis… awww jadi takut terkenaaal.

Jadi sisi adaptasi teknologi adalah tantangan terkini, dari mulai koordinasi via videocall di whatsapps yang cuman muat maksimal 4 orang lalu bergeser dengan belajar ID meeting via aplikasi zoom yang sekarang diramaikan tentang kerentanan dari sisi keamanan atau kembali lagi ke aplikasi skype yang pernah bertahun lalu menjadi pelepas rindu pelaku LDR lintas kota, batas negara dan benua.

Trus hubungannya sama menikmati biji kang yuda dan biji lainnya gimana?”

Photo : Seliter Komansu biji Pak Asep / dokpri.

Itu dia, karena dengan model adaptasi teknologi di masa pandemi ini, maka virtual meeting menjadi keharusan yang ternyata perlu effort lebih dari biasanya. Dari mulai persiapan peralatan, download aplikasi, wifi kantor yang jadi favorit plua kuota wifi pribadi atau untuk tethering jika pas WFH hingga standar smartphone yang ternyata belum kompatible adalah sebuah dinamika. Belum lagi aplikasi virtual meeting gratisan yang lagi booming ternyata ada masa 40 menit putus nyambung, cukup bikin deg-degan pada awalnya… selanjutnya deg-degan juga atuh… klo nggak deg-degan berarti jantung anda bermasalah hehehehehe.

Jadi masa jeda istirahat siang begitu berharga untuk makan dan shalat dhuhur sebelum dilanjut lagi masuk ruangan kerja didepan laptop ditengah rumah untuk melanjutkan virtual meeting yang terjeda ishoma.

Maka kebiasaan prosesi ngopay eh ngopinya sedikit berubah. Biasanya bisa menyeduh sendiri yang butuh waktu untuk persiapan dan pelaksanaannya….. tetapi sekarang dengan segala aktivitas WFH yang ternyata lumayan menyita waktu, maka cold brew dan kopi susu dari biji (kopi) pak Asep adalah pilihan tepat… tinggal order, dikirim, buka, srupuut.

Terima kasih juga kepada bos Yuda-Halu yang membuat diri ini terpapar dan terjangkit ketergantungan terhadap biji pak Asep… eh biji kopi pak Asep yang diolah apik menjadi sajian kopi yang menarik hati.

Bahannya sama yaitu Espresso Blend dari Desa Girimekar biji kopi pak Asep yang dibuat original cold brew dan satu lagi komansu (kopi manis bersusu). Dua pilihan produk ini jadi lengkap untuk mengakomodir aliran kohitala (kopi hitam tanpa gula) dan penikmat komansu.

Rasa cold brewnya seger, dingin dingin asam dan kepahitan sedang nan menggoda. Klo kopsusnya sih kata akumah manis banget, tapi istriku menyatakan enak banget…. langsung saja aku setuju hehehehehe.

Selamat membaca dan membayangkan menyeruput produk kopi dingin siap minum yang bijinya dari pak Asep Girimekar. Tetap semangat meskipun kondisi kehidupan sedang berubah cepat. Wassalam (AKW).

Berjemur yuk…

Yuk ikutan menikmati sapaan sinar mentari pagi..

Photo : Berjemur dulu / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Aktifitas yang satu ini menjadi trend sekarang, apalagi dengan serbuan seruan serta anjuran dan kekhawatiran plus kebosanan karena memenjarakan diri di rumah alias #stayathome demi melawan wabah pandemi yang mencengkeram negeri, pasti perlu celah pelarian.

Dilengkapi dengan peran media sosial yang bisa menyalurkan hasrat narsis agar diketahui buanyaak orang…. dilengkapi aneka tantangan untuk mengajak posting aktifitas ini dengan gaya – gaya unik.

Maka…. terpaparlah diri ini untuk ikutan menampilkan sisi diri yang sedang beraktifitas moyan alias berjemur di pagi hari dikala sang mentari baru beberapa waktu menghangatkan bumi.

Photo : Berjemur bersama bueuk / dok kang ATH.

Kalau punggung yang kena sinar mentari maka disebutnya ‘moto’ alias ‘moè tonggong‘ dan jikalau wajah tersinari langsung maka istilahnya motar (moè tarang)…. ada juga istilah moè korong, itu istilah yang disematkan kepada para ‘layangan hunter‘ alias pemburu layangan putus akibat beradu kuat di angkasa. Istilah ini hadir karena wajah sang pemburu akan senantiasa menengadah ke langit melihat layangan yang sedang bertanding, dan jikalau ada yang putus, maka segera dikejar demi mendapatkan kepuasan… yap kepuasan. Dengan efek samping sang upil (korong) mengering karena terpapar sinar mentari sepanjang hari.

Hasilnyapun lebih ke kepuasan batin saja, karena mayoritas layangan yang didapat dalam kondisi robek karena rebutan dengan hunter cilik lainnya… asli memang, terasa menyenangkan, tertawa dan terkadang bersitegang rebutan layangan putus….. ah pengalaman masa kecil yang tak terlupakan.

Photo : Berjemur bersama kucing dan kawan / dokpri.

Back to topik… di medsos berseliweran anjuran tentang waktu yang baik untuk berjemur alias moyan. Ada yang menyebut maksimal sampai jam 09.00 wib ada juga yang menyarankan jam 10.00 supaya imun tubuh bertumbuh. Ada juga yang berjemurnya dianjurkan diatas atap rumah sambil bolak-balik kayak ikan asin dan telanjang dada.. teteh, ibu-ibu dan ma nini mah jangan yaa… tetap harus menutup aurat… bahayyya.

Maka di medsos berseliweran photo aktifitas moyan ini, dari yang normal hingga yang rada-rada nyleneh bin unik… itulah warga negeri +62.

Diriku juga tentu tidak boleh ketinggalan, mari posting berjemur dengan segala gaya dan keadaan. Tidak usah protes ataupun terkejut, itulah salah satu cara mensyukuri hidup dalam suasana yang sangat berbeda akibat gempuran virus corona yang mencengkeram dunia.

Photo : Jemur full body / dokpri.

Mari berjemur tetapi tetap mengukur waktu dengan teratur, jangan sampai terlalu lama karena khawatir ada efek lain, yaitu kulit menghitam dan terbakar… bahaya itu, apalagi pas berjemur lihat mantan berjemur berduaan, pasti yang terbakar bukan hanya kulit tapi juga tembus ke hati.. sakiiit dan panaasss… aw.. aw.. aw.

Udah ah, mau berjemur dulu sambil rebahan supaya sinar mentarinya hadir merata ke sekujur tubuh dan raga. Tidak hanya muka tetapi seluruh jengkal tubuh bisa merasakan hangatnya sinar mentari yang perlahan tapi pasti semakin panas dan nèrèptèp (panas banget)…. udah ah.

Selamat beraktifitas pagi ini, sempatkan berjemur dan senantiasa bersyukur. Wassalam (AKW).

Flores Red Honey vs Covid19

Antara Waspada, kerja dan Arabica Flores yang menggoda selera.

Photo : Masker & petugas / dokpri – sketsa.

BANDUNG, akwnulis.com. Pas kebagian jadwal piket di kantor.. eh masuk kantor, maka berbagai perlengkapan juga disiagakan. Masker kain dipakai, hand sanitizer di botol kecil udah masuk saku celana kanan, sabun cair di celana sebelah kiri. Tak lupa semprotan kecil berisi disinfektan untuk menyemprot gagang pintu dan permukaan toilet disaat kebelit eh kebelet pipis atau eek. Plastik sarung tangan buat bikin kue juga ready di tas, dan jas hujan jikalau memang hari hujan.

Bukan parno bin panik tapi waspada, sebuah prinsip yang harus dipegang dalam memerangi wabah ‘gaib’…. halah kok segitunya pake sebutan gaib segala. Memang bener kok, tapi ini hanya istilah, karena virus corona tidak terlihat tetapi efeknya dahsyat dan kita tidak tahu virusnya ada dimana dan sedang apa sama siapa?….

Maka antisipasi pencegahan pribadi menjadi penting dan utama. Begitupun dengan pembatasan jarak yang jelas atau bahasa kerennya phisical distancing… pembatasan jarak phisik harus menjadi prinsip, tak peduli sedekat apapun…. buatlah jarak.

Photo : Arabica Flores Red Honey siap minum / dokpri.

Lha pusing dengan istilah, kemarin – kemarin nyebutnya social distancing, belum paham bener… eh udah diubah lagi. Kayaknya yang dulu anak sosial yang bikin dan sekarang anak fisika yang nimpalin, trus anak biologi istilahnya belum muncul?” Sebuah celotehan yang mengundang senyum, lumayan ngurangin stres dalam suasana menegangkan ini sambil memori menerawang masa-masa menyenangkan di kala menjadi siswa SMA.

Tiba di kantor tentu bekerja, disemprot dulu, hand sanitizer, cuci tangan dan tetap masker menutup sebagian muka. Tuntaskan konsep dan perbaiki segera, buat surat serta koordinasi dengan berbagai pihak plus video conference dengan mitra – mitra yang tersebar diseantero jabar dan banten raya.

Tetapi jangan lupa, dikala jam istirahat tiba, maka hiburan hakiki diri ini adalah menyeduh kopi dengan sebuah prosesi yang tak luput dari dokumentasi.

Menu makan siang sudah diorder ke mamang ojol via aplikasi, sambil menanti saatnya menyeduh kopi dengan metode Vsixti (v60) dan pilihannya adalah Arabica Flores red hani (honey) hasil roasting Suka Sangrai.

Maka….. jeng.. jreng… proses pembuatan kopi tanpa gula yang mungkin lama dan bertele-tele bagi yang tidak biasa. Tapi jangan salah kawan, dibalik keribetan prosesi penyeduhan manual ini tersimpan keribetan…. eh sama aja, tersimpan sebuah kenikmatan dan rasa syukur yang semakin menguatkan kita untuk senantiasa nyeduh kopi sambil senantiasa bersyukur atas nikmat kehidupan dari Allah SWT.

Sesaat ketegangan karena pandemi corona agak terlupa, seluruh indera dalam raga fokus kepada prosesi di depan mata, hingga akhirnya hadir se-wadah kopi panas kohitala yang menggoda selera.

Tuangkan ke gelas kecil…. dan… srupuut.

Owww….. Body medium, acidity medium serta rasa segar menengah mengitari lidah dan rongga mulut bagian tengah. Menyegarkan pikiran dan menenangkan harapan, rasanya medium tetapi mampu memberikan ketenangan, Alhamdulillah.

Selamat berkarya dan tetap waspada, dimanapun berada. Protokol kesehatan menjadi utama dan nyeduh kopi secara manual jangan tertunda. Semangaaaat, Wassalam (AKW)

***

Catatan di bungkusnya :

Flores Red Honey Single origin, Farm : Aurelia Dagabo, Process : Red honey, Altitude : 1300 – 1500 Mdpl, Varietas : Kartika, Lini s 795, Roaster : Sukasangrai, Flavor notes : Vanilla, Orange, Brown sugar, Herb.

Janji pagi.

Sebuah janji yang butuh ekstra perjuangan untuk dipenuhi.

Photo : Treadmil sambil video call urusan kerjaan / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah janji adalah komitmen yang menjadi keharusan untuk dipenuhi. Meskipun terkadang angin kegalauan sering menghadirkan godaan sehingga membimbangkan perasaan untuk menundanya atau malah menelantarkannya.

Padahal semakin dibiarkan, sang janji tetap hadir dalam relung hati malah ditambah dengan janji-janji lain demi menutupi ketidakhirauan ini.

Kamu tèh janji sama siapa kang?”

“Janji pada diri sendiri”

“Har ituh, kirain janji sama siapa, sok atuh segera dipenuhi”

Raga terdiam meskipun pikiran norowèco (bacèprot… eh masih bahasa sunda, maksudnya cerewet bin bawel).. tapi tidak terucap secara harfiah karena diskusinya antara neocortec dan amigdala dengan disaksikan myelin yang tersenyum tanpa kata-kata.

Sebetulnya janji awalnya sangat sederhana, ingin menjaga berat raga ideal sesuai ketinggian yang merupakan kenyataan. Tetapi ternyata melawan atau mengendalikan diri sendiri adalah hal yang tersulit. Mendisiplinkan diri dan mengatur waktu untuk diri sendiri, ternyata begitu rumit dan super mudah tergoda.. aslina mang.

Biar badag (gendut) juga yang penting sehat” kata amigdala sambil ketawa-ketawa. Diaminkan oleh raga sambil….. tak kuasa melihat angka digital timbangan yang menunjukan batas psikologis garis PSK (pemuda seratus kilo)…. awww pemudanya sih memang, tapi itu sekuintalnya yang adaaaw….

Photo : Rapat via video conference / dokpri.

Apalagi ditambah dengan kebijakan tentang #WFH (working from home) yang musti lebih banyak di rumah…. alamak.. godaan semakin buanyak… tidak kemana-mana demi menjadi bagian pencegahan penyebaran virus covid19 tetapi harus pintar-pintar menjaga mulut.. maksudnya jangan sembarang waktu menghuapkan (memakan) makanan yang senantiasa tersaji di meja makan atau aneka cemilan yang stanby menunggu untuk dicicipi berulangkali.

Aturan kantorku tidak full di rumah bekerja tetapi menggunakan pola bergiliran tugas ke kantor dengan istilah menterengnya adalah flexible working arangement (FWA), yaitu pengaturan pekerjaan secara fleksibel dengan model shift terjadwal. Sehingga masih variasi dengan aktifitas pekerjaan biasa.

***

Balik lagi ke janji pengendalian diri, .. “Jadi gimana?”

Tentu berproses turun naik, dalam situasi saat ini maka cara terbaik adalah penyesuaian dan jaga mulut eh jaga diri… jika keluar rumah ikuti protokol kesehatan pencegahan virus dan jika jadwal ngendon kerja di rumah, jaga mulut dari asupan berlebihan terutama diluar jam makan yang seharusnya. Serta yang lebih penting adalah rutin berolahraga.

Selamat menjalani aktifitas hari ini kawan, mari saling mendoakan agar wabah ini cepat berakhir dan hilang dari muka bumi sehingga kehidupan kembali baik-baik saja. Wassalam (AKW).

WFH Ngantor di rumah.

Working from home dulu…

Photo : Aku & WFH / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Dalam rangka mendukung program pencegahan penyebaran virus Covid-19, maka pilihan WFH adalah sebuah tindakan tepat yang harus dilakukan.

Work from Home satu minggu terakhir telah dilakukan dengan pola giliran yang temanya FWA (Flexible Working Arrangement) dan mulai hari senin ini bener-bener WFH diterapkan.

Hari pertama bekerja di rumah berbuah hikmah, selain mendukung program pencegahan pandemi juga semua level ‘dipaksa‘ melek teknologi melalui aplikasi teleconference untuk mengkordinasikan banyak hal yang terkait pekerjaan.

Baik level bos, setengah bos, yang ngerasa bos juga yang disuruh-suruh sama bos dan setengah bos, musti bin wajib ngedownload aplikasinya. Pahibut eh repotlah semuaa…..

Disinilah mental suasana perubahan berlaku, ada yang segera menyesuaikan dengan tangkas, ada yang semangat berubah meskipun sedikit gagap tapi mau bertanya dan ada yang bertahan dengan status quo, meskipun akhirnya mengikuti dengan setengah hati.

Tapi itulah konsekuensi sebuah penyesuaian, tidak perlu banyak keluhan. Jalani dan ikuti…. Yuk dukung program pemerintah sekaligus jadi mahir berteleconference sambil berkumpul bersama keluarga tetapi tetap bekerja, “Kenapa tidak?”

Jikalau masih gagap, jangan malu bertanya. Jika masih bingung, yaa kasihin (sementara) aja hpmu ke teman atau anak buah yang paham, tolong downloadin, instalin sekaligus sign-inin… pokoknya tinggal pake aja.

“Gampang khan?…”

Rapim perdana berjalan meskipun masih banyak kekurangan, tetapi nilai pentingnya adalah ketaatan. Taat kepada anjuran untuk di rumah saja, taat juga untuk tetap bekerja sekaligus taat juga untuk memasang aplikasi teleconference di hp masing-masing juga di beberapa laptop.

Aplikasi yang di gunakan adalah zoom cloud meeting, dengan otodidak dan coba-coba, akhirnya rapat virtual bisa terlaksana, meskipun harus jeda hingga 3x karena masih zoom basic yang gratisan, dibatasi 40 menit meeting dan akan tiba-tiba mati sendiri…. hikmahnya… lumayan bisa jeda teleconference, tarik nafas, minum dulu atau siapa tahu pengen ke toilet.

Rekan sekantor mengatakan bisa juga dengan aplikasi google meet,….. insyaalloh dicoba dan dipelajari secepatnya sebagai alternatif……

Yuk tetap semangat bekerja, meskipun berada di rumah masing-masing. Semoga wabah pandemi Covid19 ini segera berlalu, dan kehidupan kembali normal. Wassalam (AKW).

Coffee Buntis Village Aromatic Fruits.

No WFH but always Ishomapay…

Photo : Kursi direnggangkan dulu / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Perkembangan pandemi Covid19 diantisipasi dengan berbagai tindakan termasuk pengaturan kerja bergiliran di rumah atau work from home (WFH), maka 2 hari kebelakang sudah mulai dilaksanakan dengan dasar surat edaran dari para bos-bos.

Tapi karena tidak berlaku bagi diriku, ya sudah protokol kesehatan waspada covid19 harus dijalankan dalam berbagai keadaan, terutama pas masuk kantor, menerima tamu dan pulang ke rumah.

Pagi ini… eh pagi kemarin lalu, cuman baru sempet nulis hari ini karena pabeulit (sibuk) dengan mempelajari aplikasi untuk teleconference sekaligus dalam waktu yang sama musti mengedukasi mitra-mitra kerja yang tersebar di seantero jabar banten.

Tindakannya sebenernya sederhana, memisahkan kursi baik kursi tamu di ruang kerja ataupun kursi tamu diluar ruang kerja serta menempelkan peringatan ‘please jaga jarak’ yang merupakan prinsip SOCIAL DISTANCE di kursi agar tidak diduduki.

Lalu menyemprotkan disinfektan buatan, mengelapnya (ini mah dibantuin OB) dan terakhir tentu memotretnya untuk dokumentasi.

Setelah semua tuntas, maka kembali ke meja kerja dan berkutat dengan surat, berkas, surat, berkas dan surat serta berkas hehehehehehe… yang harus diselesaikan.. ditambah koordinasi via WAcall dan Vicall bersama beberapa mitra…. hingga tak terasa adzan shubuh…. ehh adzan dhuhur berkumandang.

Alhamdulillah…. saatnya ishoma, istirahat – sholat – makan.

Photo : Persiapan Ishomapay / dokpri.

Selain ishoma juga ishomapay, istirahat, sholat, makan dan tidak lupa ngopay alis manual brew kopi bean yang sudah sedari minggu lalu nongkrong dan nemenin diri ini, menanti saatnya menari dalam proses ekstraksi yang akan menghadirkan rasa alami penuh misteri.

Kali ini, kiriman dari Mas Didit – antapani yang diutus langsung bu Dini Cirebon, ternyata mereka kawan lama. Beberapa pilihan bean yang dikemas apik serta berbeda dengan keterangan di bungkusnya yang cukup lengkap, menambah kepenasaran rasa yang ada.

Pertama tentu dialak ilik eh dilihat bolak balik dulu kemasannya baru perlahan tapi pasti dibuka….. hmmmm harum aroma kopinya nya luar biasaa…. ada harum buah-buahan dan…. tembakau yang menyengat, “Ini teh kopi apa rokok?”

Makin penasaran ih, langsung peralatan perang digelar. Filter V60, corongnya, termometer, air panas langsung dididihkan dan tidak lupa bean yang begitu harum ini di grinder dengan ukuran 3 supaya menghadiran butiran sedikit kasar yang cocok untuk filter V60.

Hmmm…. prosesi yang penuh arti dan semerbak harum aromaterapi kopi mulai melingkupi diri, indera penciuman menajam dan menambah rasa bahagia…. currrr…..

Belum disruput aja udah nikmat… Alhamdulilah.

Setelah prosesi tuntas dengan 400ml air bersuhu 90° celcius, maka hadirlah kopi hitam tanpa gula (kohitala), srupuut….. hmmmmm… woaaaah rasanya begitu kaya, eh kok ada rasa tembakau?…. atau winey ya?… enak euy.

Photo : Sajian Coffee Buntis VAF / dokpri.

Bodynya strong dan aciditynya juga high…. bikin terbelalak sesaat dan dilanjutkan hingga bèak (habis)…. nikmat nyaaa….. after tastenya banyak sesuai note di bungkusnya, tapi memang sulit disebutkan dengan kata-kata… sruput dulu aaaah.

Eits jam ishomapay-nya sudah hampir habis, mari bersiap kembali ke dunia nyata, bekerja dengan protokol pencegahan pandemi covid19. Jangan lupa cuci tangan sebelum makan dan tentu berdoa untuk keselamatan serta keberkaham dari rejeki makanan dan kopay yang tersaji.

Itulah sejumput cerita kali ini, selamat berkarya dan tetap waspada. Wassalam (AKW).

***

Catatan :
Ini tertulis di bungkusnya,
Buntis Village Aromatic Fruits
Single Origin
Koperasi Tani Buntis
Proses anaerobic Natural
Altitude 1400-1500Mdpk
Roaster Suka Sangrai
Varietal (s) Typica, Lini s 795
Flavor Notes : Jackfruit, Jasmint tea, dark plum, winey, ripe manggo.

Detox Margarita.

Siang yang sendu ditemani minuman sehat ‘Detox Margarita’…

Photo : Detox Margarita di meja kerja / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Siang yang begitu sendu dan sepi karena berusaha mengisolasi diri ternyata agak susah juga mengubah kebiasaan. Butuh perkuangan dan ihtiar meskipun seolah sepele, ternyata hese (susah).

Maksudnya perlu niat dan semangat untuk mengatur jarak dan menjaga alias mengurangi komunikasi dengan orang lain, khususnya orang lain eh tamu luar dalam rangka social distancing ceunah….

Biasanya ramai penuh gelak tawa dan tamu silih berganti diselungi berdinas keluar kantor berkeliling jawa barat & banten, sekarang diam di ruangan, relatif menyendiri sambil mengutak atik aplikasi teleconverence dan video online… terasa membatasi interaksi sosial itu.. menyedihkan. Tetapi ini adalah suatu ihtiar besar demi menahan dan mencegah penyebaran pandemi covid19 yang sedang mengguncang dunia.

Nah…. giliran makan siang, …. sekarang belum rutin bawa dari rumah, karena baru hari-hari awal pelaksanaan FWA, maka musti beli dari luar. Sesuai fatwa ibu negara untuk order makanannya adalah makanan yang lengkap dengan sayuran dan disebut makanan sehat… pesanlah via grabfood sekaligus minumannya.

Tring…. tralalala

Tak perlu lama sang babang grabfood hadir di lobby lantai bawah dan ternyata sudah melaksanakan protokol kesehatan anti covid lho, nggak mau bersentuhan, jaga jarak dan pembayaran uangnya dimasukin amplop dulu lho, kebetulan satu lembaran merah tak perlu kembalian, karena cuma 2rb perak, monggo aja.

Makanannya nggak diekspos ya disini, takutnya pada kepengen hehehehe..

Tapi minumannya yang bikin suasana segar dan lebih bersemangat guys…. namanya aja menarik ‘Detox Margarita’... jangan disingkat ‘DEde monTOX MARi jaGA diRI KIta’ ya… karena itu kepanjangan yang maksa… tapi…. miliki arti yang sebenarnya.

Photo : Detox Margarita / dokpri.

Detox berarti bisa membersihkan racun dan kotoran ditubuh juga kotoran-kotoran pikiran yang selama ini sulit dihilangkan dan dilunturkan ditambah margarita, sebuah minuman rasa manis asam khas yang aslinya berbahan dasar minuman ber alkohol seperti tequila, miras lemon dan jeruk lemon serta disajikan menggunakan es batu… aslinya mah haram untuk umat muslim karena beralkohol… tapi minuman ini free alcohol…. karena isinya setelah diubek-ubek pas airnya habis adalah : daun sirih, sereh, irisan lemon juga ada sedikit rasa manis, mungkin ditambah madu.

Rasanya…. seger euy.. dingin, asem, sedikit nyereng…. rasa daun sirihnya dapet, jadi nambah semangaat…. “Tapi nggak jadi rapet khaan?”

Sruputtt….. suegerrr… Alhamdulillah. Ntar nyoba bikin ah di rumah. Khan bisa lebih murah.

Selamat wiken kawan, jangan lupa jaga jarak dan jaga perasaan serta bersihkan pikiran dari kotoran dengan detox kepasrahan dan keikhlasan. Wassalam (AKW).

Kopi FWA anti COVID19

Yg lain kerja dirumah, aku mah ngopay aja.

BANDUNG, akwnulis.com. Perkembangan penyebaran Virus yang dikenal dengan COVID19 diantisipasi dengan banyak hal, termasuk aktifitas tugas rutin dari aparatur sipil negara. Pagi ini … eh sejak tadi malam istilah yang paling ngetren di jagad maya yang melingkupi lingkungan WA grup, line dan Telegram serta WAcall adalah istilah FWA.

Naon eta FWA?”

Eta geuning, yang sudah ramai diperbincangkan dalan beberapa hari eh minggu terakhir, yaitu…. bahasa simpelnya dulu yaa… para pegawai bekerja di rumah.

Ohhh…. itu, trus kenapa baru tadi malem ramenya?

Karena di lingkup pemprov jabar, tadi malam eh kemarin sore Surat Edaran Sekdanya terbit dan otomatis menjadi pedoman untuk mulai mengatur mekanisme bekerja di rumah.

Trus hubungannya kerja di rumah dan FWA apa?”

“Ih nggak sabaran kamu mah, slow sloww”

“Okeh okeh”

Sambil benerin masker yang terpasang diwajah, eh di depan idung dan mulut, maka mencoba meraba-raba… membaca berulangkali dan (mencoba) memahami tentang instruksi pemerintah pusat hingga daerah yang disebut dengan istilah FWA (flexible working arrangement) yang pengertian bebasnya adalah pegawai dimungkinkan melaksanakan tugas di rumahnya masing-masing secara fleksibel demi menekan penyebaran pandemi COVID19.

Maka diaturlah fleksibelnya kehadiran para ASN ini dengan berbagai prasyarat, diantaranya dilakukan sistem shift sehingga bergiliran melaksanakan tugas dikantor, kecuali Pejabat Tinggi Pratama dan Pejabat Administrator atau level I dan II di setiap unit kerja.

Tapi yang kebagian bekerja di rumah juga tetep kudu (harus) produktif, dengan cara melaksanakan tugas yang diberikan dari pimpinannya plus melaporkan secara online pekerjaannya melalui aplikasi TRK dan absensi online dengan KMOB dimana posisi lokasi rumah menjadi lokasi dinas luar selama FWA ini berlangsung.

“Trus hubungannya dengan kopi gimana?”

Gampang pisan, karena diriku ternyata masuk kategori yang dikecualikan.. sehingga musti stanby di kantor seperti biasa selama FWA ini. Jadi….. kopilah yang menjadi teman setia, menemani kesepian ini hiks hiks hiks…. karena jika bersosialisasi dengan teman lain… atuh melanggar prinsip ‘Social Distancing’…

Naon deui eta?

Ih kamu mah euweuh kanyaho, itu di medsos berseliweran infona, intinya hindari kontak dengan siapapun, dan jaga jarak”

Nah karena bersentuhan atau kontak dengan orang lain mah dilarang, maka kontak paling aman mah sama…

sama Kopi… hehehehe

maka…..

Hari pertama FWA diberlakukan, kopi Lanang Arabica Peaberry yang menemani….. prosessss……. dengan metode V60 dan panas 90° celcius, komposisi 1 : 15 dan gramasi (kira-kira) 19gr maka berproseslah……. manual brew perdana FWA di ruangan kerja sambil tidak lupa mengerjakan tugas-tugas rutin sebagai Abdi Negara. Wassalam (AKW).

Manual Book Kehidupan.

Jangan lupa baca manual booknya…

Photo : Lentera Kehidupan / dokpri.

GARUT, akwnulis.com. Perjalanan hidup memang menarik dan penuh kejutan, bersiaplah kita dengan dua senjata kebanggaan yaitu syukur dan sabar.

Syukur digunakan dikala kita mendapatkan kesenangan, kebahagiaan, keceriaan, kemudahan, keramahan dan keadaan yang berlimpah rejeki dari Allah. Sementara sabar dihadirkan pada saat suasana duka, sedih, merana, kenyataan jauh dari harapan kita hingga berbagai kondisi yang menyesakkan dada, hati, pikiran dan semua indera perasa. Insyaalloh perjalanan hidup kita akan berjalan baik-baik saja.

Teringat kembali simulasi sederhana dari Kang Asep RK minggu lalu, sebuah permainan singkat yang seperti main-main, iya atuh da namanya juga permainan.. ternyata menyimpan makna mendalam setelah di renungi bersama, tentu dengan fikiran terbuka.

Pertama, pelajari aturan main. Sebelum melakukan apapun, cari dulu dan buka manual booknya, pelajari dengan seksama dan sesingkat-singkatnya.

Pertanyaannya, “Permainan apa yang akan kamu jalani?” Lalu “Apa tujuan dari permainan ini?”

Jawaban akan bervariasi, dengan kecenderungan adalah masing-masing ingin berhasil meraih kemenangan. Nah karena tergesa-gesa, maka manual booknya nggak tuntas dibaca sehingga di akhir permainan semuanya dalam posisi kurang berhasil, ada yang rugi banget dan ada yang rugi sedikit… usut punya usut, ternyata semuanya menerapkan konsep win-loss, karena khawatir pihak lain yang mengambil keuntungan…. disinilah kebersamaan diuji, karena ternyata egois diri berakhir kepada rugi dan dirasakan oleh semuanya yang seharusnya saling berbagi.

Photo : Wajah lelah mencari manual book / dokpri.

Semoga permainan ini mengingatkan kita bahwa berfikir win-win dengan berkorban, bukan berarti kita akan dirugikan. Tetapi bersama-sama meraih keberkahan dan kesuksesan sebagaimana tertera dalam manual book permainan…. baca dulu yang lengkaaap….

Abis di buru-buru sama Motivator nya” sebuah kalimat lirih terdengar, itulah kehidupan, selalu ada komentar yang membela kekurangan.

Bagi yang ingin kehidupannya sukses dan penuh keberkahan, khususnya umat islam maka manual booknya adalah Alqur’an dan Hadits dilengkapi penjelasan imam dan ulama serta cendekia. Sementara sabar dan syukur adalah tools praktis dalam menjalani kenyataan hidup ini, Bismillahiroohmannirrohimm (AKW).

#ARK

#motivator

#AKW

#2020

Illy Americano Aston Pasteur.

Ngopay dan Ngojay di Aston Pasteur…

Photo : Illy Americano / dokpri.

Bandung, Akwnulis.com. Pagi hadir disambut dengan senyuman dan harapan, itulah kehidupan. Apalagi jika dilengkapi dengan segelas kopi hitam dipinggir kolam renang, serasa lengkap sudah kehidupan hari ini.

Yang lengkap tentu tagline blog ini, ngopay dan ngojay. Ngopaynya ada dengan gelas illy putih, ngojaynya jelas karena kolam renang tersedia. “Apalagi coba?”... tinggal sruput tipis tipis, ucul ucul…*) (aww bahasa planet)… gejeburrrr…….

*)buka baju celana dengan segera dan tentu sisakan solempak eh celana renang, karena kalau dibuka semua khawatir mengganggu ketentraman dan ketertiban hotel yang ada.

Kopi hitam yang tersaji adalah americano standar hotel, jadi secara rasa harus bersiap dengan sesuatu yang biasa, tetapi kelebihannya adalah suasana pinggir kolam renang yang membuat kedamaian sekaligus keceriaan.

Nyebur nggak?

Pertanyaan yang menggantung, karena jelas tidak bisa dijawab sempurna. Lha wong kesini nya juga mau meeting dan meetingnya marathon lagi, 4 agenda meeting lho (aww… sombong), tapi itulah kenyataan yang harus dijalani dan dihadapi.

Photo : Kolam renang aston pasteur / dokpri.

Meeting pertamalah yang bisa hasilkan gambar ngopay dan (tempat) ngojay/berenang, karena meetingnya semi formal di meja pinggir kolam renang. Sehingga sebuah dokumentasi bisa didapat tanpa mengabaikan tujuan me-rapat.

Meeting kedua dan ketiga sudah tidak bisa lepas dari konten materi, meskipun kopi hotel tersedia free tapi kebanyakan minum khawatir menghitam hehehehe… jadi dibatasi saja dimulai dari diri sendiri. Selamat menikmati hari ini kawan, Wassalam (AKW).

***

Lokasi : Hotel Aston Pasteur – Bandung.