Ide cerita di pantai selatan Ujung genteng Sukabumi..
Pantai Ujung Gentèng / Dokpri.
CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah perjalanan memberikan inspirasi menulis dalam berbagai sisi. Tentu tulisan utamanya adalah cerita perjalanan yang nyata meskipun tetap harus bertema. Tema utamanya adalah NGOPAY dan NGOJAY, tapi karena berenang (ngojay) tidak memungkinkan maka jadinya MANTAY (main ke pantai) dan hasilnya adalah 2 tulisan serta video di youtube. Ini tulisannya :
Ternyata ide dari perjalanan ini masih ada, dan dicoba ditulis dengan genre berbeda yaitu di ranah reka atau fiksi dengan tulisan berbahasa sunda yaitu fiksimini sunda.
Tulisannya singkat, hanya 149 kata saja. Nggak percaya?… silahkan hitung saja kata perkata.
Tetapi sudah membuat cerita singkat yang di paragraf akhir memberi peluang untuk melanjutkan cerita sesuai ekpektasi pembaca… seru khan?..
Ya sudah kalau penasaran, silahkan dibaca. Jikalau tidak paham kata dan kalimatnya, DM aja kakak… IGnya @akwnulis dan @andriekw.
Pantai Pangumbahan – Ujung genteng / Dokpri.
Silahkan….
FIKMIN # PAKANCI #
Anjog ka vila geus ngaliwatan indung peuting, kaayaan simpè dibaturan hawar – hawar sora lambak laut kidul. Di gerbang vila, lalaki tengah tuwuh ngajentul, nungguan.
“Ieu sosina jang, itu vilana” curuk pèot bentik kana wangunan di juru beulah katuhu.
“Nuhun bah”
Uing leumpang sorangan muru vila, “Naha teu nganteur nya?”
Ah teu loba mikir, nu penting geus boga sosi. Tinggal asup vila, ucul-ucul, mandi, ganti baju, sarè, sanggeus 8 jam numpak èlf ayeuna mangsana rinèh.
“Assalamualaikum…” Uing uluk salam, ukur syarat wè. Da angger simpè. Sosi dicolokkeun, cetrèk. Panto muka, tepas simpè rada meredong.
Mèh teu keueung, muru cetrèkan lampu, urang hurungkeun kabèh. Aya deukeut panto ka pangkèng.
Cetrèk. Burinyay.
Peureum sakedapeun, sèrab. Pas beunta hookeun. Tepas jadi badag aya korsi karajaan jeung lampu gantung nu baranang. Sagala inuman jeung bungbuahan dina bokor emas ngaleuya.
Dalapan punggawa kènca katuhu ngabedega. Duaan maju kahareup bari nyembah dokoh pisan, “Wilujeng sumping Pangèran…”
***
Pantai Pangumbahan – Ujung Genteng / dokpri.
Terima kasih yang sudah berkenan membaca sampai tuntas. Tulisan ini hadir sambil menemani recovery pasca operasi patah kaki.
PELABUHANRATU, akwnulis.com. Perjalanan 5 jam Bandung – Sukabumi, tepatnya Pelabuan ratu cukup melelahkan, meskipun sempat sedikit rehat di daerah Warung kondang. Berhenti sesaat dan bersilaturahim dengan kolega lama adalah sebuah cara menjaga marwah persahabatan hakiki tanpa tendensi apa-apa.
Dikala kendaraan mulai melewati daerah Warung kiara, sudah pede bahwa sebentar lagi tiba. Eh ternyata jalan masih berkelok meliuk-liuk melewati punggung bukit dan lembah hingga menemukan daratan rata memasuki wilayah Citarik dan daerah Bagbagan, wah sebentar lagi tiba.
Langsung jemari searching keyword ‘cafe kopi pelabuanratu’, jreng…. beberapa nama cafe dan warung kopi hadir di hadapan. Semua memberi harapan namun tetap harus ada pioritas yang akan didatangi karena waktu terbatas dan hari sudah menjelang malam.
Tapi kembali, kesenangan menikmati kohitala ( kopi hitam tanpa gula) harus ditahan sejenak karena ada panggilan dari penguasa untuk sowan sejenak ‘bisi teu diaku dulur’ ( takut nggak dianggap saudara). Maka diskusi hangat dan berbagai trik dan tips kehidupan didapatkan dari percakapan sore yang santai. Baik tentang persahabatan, alternatif masa depan mengikuti perkembangan jaman, hingga tata etika non feodalisme dilengkapi dengan derai tawa dan desah nafas kepedasan setelah menyantap sajian indomie kuah bertabur potongan cabe rawit dan secangkir bandrek panas, maknyus guys.
Setelah ucap pamit dengan berat hati, maka kembali membuka smartphone dan meneruskan pencairan eh pencarian kafe kopi tadi dan berhitung jarak. Juga iseng dikirim pesan pada nomor yang tertera, terutama terkait metode pembayaran karena uang cash tinggal selembar. ‘Kami nggak punya mesin EDC, tapi bisa bayar via QRIS’…. Jawaban yang melegakan… meluncurrr.
Ngengg…. dengan patokan SPBU dan TPI ( Tempat pelelangan ikan) Pelabuan ratu. Kami menuju TKP (Tempat Ko Pi) yang bernama Kafe Kopi Siliwangi…. ternyata dekat dari tempat sowan tadi, hanya 4 menit guys.
V60 Arabica Halu Banana / dokpri.
Tempat kafenya strategis di jalan besar dengan posisi nongki bisa outdoor ataupun indoor, tinggal selera masing-masing untuk sekedar duduk diluar sambil merokok atau di dalam mendengarkan suara penyanyi yang sing a song santai pake karaoke youtube.
Tiba di dalam kafe langsung menyerbu ke tempat barista dan menemukan 2 buah bean sebagai calon sajian V60 yaitu Bean arabica halu banana dan bean arabica karo sumatera. Asyiiik….. coba yuk ah.
Eits disamping kanan ada mesin roasting, wah keren nich. Bisa ngatur kualitas dari bean yang tersaji…. jadi penasaran.
“Kang, pesen V60 yang arabica halu banana dilanjut yang arabica karo sumatera”
“Siap Kakak, moo pake 1 : 10 atau 1 : 15?”…
“Mainin 1: 10 dong, makin strong makin mantab”
“Ditunggu Kakak”.
***
Sambil menunggu prosesi seduhan manual oleh sang Barista maka mencoba menikmati suasana dan mendengarkan dendang lagu yang sedari tadi membahana. Berdamai dengan keadaan dan ikuti vibe yang ada, maka rasa nyaman akan tercipta.
Sajian pertama hadir, Arabica Halu Banana yang diseduh oleh kang Sandi sang Barista yang tenyata satu aliran yaitu grup suhu sembilan dua. Sruput perdana membuahkan rasa, kepahitan body medium strong menenangkan raga yang sedikit terganggu karena nyeri di kaki kiri yang tadi pagi terkilir di halaman kantor di saat mengejar apel pagi bersama.
Acidity khas arabica halu yang medium up, terasa menyapa langit-langit mulut dan berakhir dengan after tastenya fruity serta selarik rasa banana memenuhi janji namanya… sruput lagiii..
Menikmati nyanyian & menunggu seduhan / dokpri.
Sajian kedua adalah Arabica Karo Sumatera, Bodynya strong dan acidity medium standar plus aftertaste sedikit hampa. Tetapi tetap dibalik kepahitannya hadir sebuah kesadaran bahwa kenikmatan menyeruputnya bisa mengurangi kenangan pahit bersamanya, ahaay.
Yang pasti kedua sajian manual brew V60 kali ini kembali menjadi kolaborasi rasa yang memberi ketenangan jiwa sekaligus menguatkan semangat untuk terus bergerak menuju Ujung Genteng Sukabumi dengan jarak sekitar 85 km lagi membelah malam dari titik ini.
Akhirnya bisa menyeruput kopi hitam di tepi pantai, alias ngopay & mantay… Sruput.
Mari ngopay & mantay / dokpri
UJUNG GENTENG, akwnulis.com. Deburan ombak dan semilir angin pantai akhirnya menyapa raga dan indra perasa dengan harmonisasi kedamaian. Setelah hampir 2 tahun tak bisa beranjak dengan segala keterbatasan, maka hari ini pertemuan dengan sang laut kembali terjadi.
Perjalanan panjang 7 jam lebih dari Bandung Ke Ujung genteng ini terbayarkan oleh sapaan alam yang begitu menggugah rasa memberikan sensasi berbeda serta mereguk ‘Vitamin Sea’ untuk menguatkan jiwa agar semakin bersyukur atas rahmat dari Allah Sang Maha Kuasa.
Tentu ini semua terjadi karena takdir-Nya, tetapi sebagai mahluk lemah ini nilai ihtiar perjalanan adalah sebuah catatan penting kehidupan. Dengan berbagai judul acara dan kegiatan, yang pasti kali ini bisa bersua kembali dengan pantai.
Yup, pantai di Ujung genteng ini cukup panjang dan ada beberapa lokasi, tetapi yang dikunjungi hanya 2 saja yaitu pantai ciracap yang sekarang sedang di datangi dan selanjutnya pantai pangumbahan dimana terdapat konservasi penyu yang menjadi andalan.
Nah, tak lengkap rasanya perjalanan ini tanpa ditemani sajian si kopi hitam. Maka segera mencari di kios – kios terdekat saja.
“Lha nggak bawa kopi asli?”
“Kebetulan keabisan lagian tadi malem sudah menikmati kohitala di Pelabuanratu kok”
“Oalaah ternyata, ya sudah ditunggu tuh tulisan yang ngopay di pelabuanratunya”
“Oke, ditunggu yaa”
Percakapan imajiner melengkapi langkah tertatih ini, karena kaki kiri membengkak akibat keseleo di kantor pada hari sebelumnya.
Pantai Ciracap Ujung Genteng / dokpri.
Mendekati kios kecil, seorang ibu menyambut kedatangan. “Wilujeng sumping cep, badè ngaleueut naon?” (Selamat datang, mau menikmati apa?”)
Segera pesan kopi hitam yang ada, meskipun tentu kopi gunting.. it’s okey.. less sugar is very important.
Maka sambil menunggu kopi hitam tersaji, segeralah berjalan perlahan ke pantai, menapaki pasir pantai yang bersih memutih lalu menginjak air pantai yang menenangkan diantara perahu nelayan yang sedang beristirahat setelah lelah mencari ikan di tengah lautan.
Kembali ke bibir pantai dan telah tersaji kopi hitam bercangkir hitam dengan tulisan : Be Awesome Today but First, COFFEE.
Satuju pisan èta caption… cucok markocok.
Langsung perlahan tapi pasti… disruput guys.. hmmm… nikmat, kepahitan kopi ditemani deburan ombak pagi… ruar biasa, Alhamdulillahirobbil alamiin.
Inilah tulisan ngopi di pantai kali ini, pantai yang pertama. Sebuah keinginan menggebu ingin bercengkerama dan berenang di air laut terpaksa diurungkan karena kondisi kaki yang tidak memungkinkan. Cukuplah sedikit berendam, berpose dan duduk menikmati deburan serta angin kencang sambil menghabiskan kopi hitam di cangkir hitam.
Tulisan yang pantai pangumbahan, nantinya, nunggu mood dan kesempatan. Hatur nuhun. Wassalam (AKW).
Kembali beredar sambil menikmati kopi hitam tanpa gula, edisi Cirebon.
Kopi Hitam Gedung Negara / Dokpri.
CIREBON, akwnulis.com. Pahitnya kopi hitam tanpa gula adalah sebuah kecanduan hakiki. Semua memang pahit jikalau kopi tanpa gula, tetapi diantara kepahitan itu terselip rasa berbeda dan pengalaman aneka rupa. Karena bisa memaknai perbedaan dari kepahitan rasa ini adalah anugerah tak terkira.
Kali ini raga dan langkah agar menjauh menuju pantura, tepatnya bergiat di kota cirebon dengan tema KOPI NURDIN (nurut dinas) alias terbawa hadir karena urusan pekerjaan.
Nah laporan kerjaan mah ntar dituangkan dalam nota dinas laporan, tapi kalau urusan ngopay maka disinilah tempatnya menuliskan rasa dan kenangan.
Kopi yang pertama tersaji adalah kopi sachet biasa yang diseduh tanpa gula sebut aja merknya kopi kapal api. Untuk rasa ya begitulah flat tanpa banyak rasa-rasa, tetapi suasana dan sajiannya yang bikin berbeda. Pertama cangkirnya cangkir dinas berlogo pemprov jabar dan kedua lokasi kopi tersaji di ruang tamu gedung negara eks keresidenan Cirebon yang penuh sejarah dan kejayaan masa lampau.
Maka dihadirkan dokumentasi kemegahan gedung negara sebagai background yang melengkapi secangkir kohitala (kopi hitam tanpa gula) untuk diabadikan sebelum akhirnya tandas di sruput untuk menikmati dahaga kepahitan kopi yang melenakan.
Alhamdulilahirobbil alamin.
Lalu melengkapi sajian kohitala yang sebenarnya, sebelum pulang ke bandung maka searching-lah lokasi tempat yang menyajikan kohitala dengan metode seduhan manual V60.
Arabica manglayang di Cirebon / dokpri.
Ternyata gayung bersambut dengan hadirnya tawaran dari seorang kawan untuk berdiskusi sambil menikmati sajian kopi… tentu menyenangkan… berangkaaat.
Kopi kedua adalah kopi hitam asli tanpa gula dengan biji kopinya arabica manglayang. Proses seduhan manual dengan filter dan corong V60 menghadirkan sebuah rasa pahit yang kaya makna. Bodynya medium dengan acidity seimbang, hadir selarik segar lemon dan brown sugar sebagai after taste dari sajian kohitala ini. Sruput yummy.
Sajian kohitala ini semakin lengkap dengan menu makanan beratnya yaitu steak yang merupakan pilihan menu spesial di Chantel food space Cirebon. Nyam nyam…
Itulah cerita ngopay kali ini, selamat memaknai kepahitan rasa dengan syukur tiada kira. Wassalam(AKW).
Perlu dicoba pengalaman berbeda, backpakeran di kota Jogja.
Jalan Malioboro dini hari / dokpri.
JOGJA, akwnulis.com. Sebuah pengalaman dalam perjalanan kehidupan adalah catatan penting yang harus dimaknai sebagai bagian takdir yang memiliki makna tersendiri. Begitupun sebuah keinginan dan kepraktisan pengambilan keputusan tentu berimplikasi kepada hasil dan nilai – nilai penting yang menjadi pegangan diri.
Begitupun cerita kali ini, dikala datang ke Kota Jogjakarta ternyata terlalu pagi alias dini hari sudah menginjakan kaki di stasiun Tugu, maka berbagai pilihan hadir untuk menjadi kepastian. Pilihan standar sih gampang, segera menuju hotel tempat acara dan lakukan “early check in”. Namun ada pilihan lain yang mungkin bisa menambah khazanah cerita diri dengan sesuatu yang berbeda.
Alternatif kedua sudah membentang di depan mata, seorang sahabat yang menjadi pejabat teras di kota Jogja sudah mengontak dan mempersilahkan datang ke rumahnya untuk sekedar mandi dan beristirahat di pagi yang dingin ini, lokasi sudah di share tinggal ikuti dengan google map. Makasih ya dok.
Tetapi ada desakan lain yang mengingatkan masa lalu, dikala datang ke kota Jogja dengan budget pas pasan. Memilih hotel super murah di sekitar jalan Malioboro untuk sekedar istirahat dan mandi sebelum dilanjutkan dengan beredar di seantore eh seantero tempat wisata yang tersebar. Tapi itu dulu, 20 tahun lalu. Hanya memang sebuah memori begitu mudah hadir kembali seakan baru terjadi kemarin sore atau beberapa waktu yang lalu.
Suasana box di bobobox / dokpri.
Ini yang menjadi pilihan, tentu dengan menentukan hotelnya yang kekinian alias backpakeran yang tetap mengusung CHSE*) serta uptodate.
Sambil berjalan menyusuri trotoar di area stasiun Tugu Jogja, jemari bergerak lincah di smartphone mencari alternatuf hotel buat backpakeran. Tak terasa kaki bergerak melewati area selasar Malioboro dan memasuki ujung jalan malioboro sebelah utara dan keadaan masih hening sepi serta damai. Ditemani beberapa petugas kebersihan yang sedang menunaikan tugasnya.
Tring, ternyata terdapat hotel capsul hanya selemparan batu, alias berada di jalan malioboro.. yeaah. Langsung di telepon dan ternyata kamar masih ada… meluncurrr… eh melangkahhh…
Damainya jalan Malioboro dan bersih, menenangkan jiwa dan rasa. Sambil langkah terus bergerak dan akhirnya tiba di tempat. Sebuah pintu dengan logo ‘Bobobox’. Langsung ditarik dan terbuka, langsung disambut tangga.. naiklah. Ternyata resepsionisnya di lantai 2.
Box no 36 / dokpri.
Proses registrasi singkat dan cashless serta semuanya full aplikasi. Jadi wajib bawa hape yang ada playstorenya. Karena yang belum punya aplikasi, kudu install dulu. Bayar online, atau debit dan kuncinyapun steril karena berbentuk barcode di aplikasi smartphone dan tinggal di scan nanti depan pintu kamar kapsul untuk membukanya, keren khaan.
Mendapatkan kotak kamar nomor 36. Eh iya sebelum masuk. Sepatu atau sandal yang kita pakai harus disimpan di loker dan terkunci, sementara masuk ke area kotak menggunakan sandah hotel.
Tiba di kotak nomor 36, dekatkan smartphone yang ada barcodenya ke sensor kunci dan ‘klik’… pintu terbuka, sebuah kotak tidur yang bersih bernuansa putih menyambut dengan ceria.
Langsung buka koper pinkku dan bergegas mengambil handuk dan perlengkapan baju pengganti.
“Langsung mandi?”
“Ya iya, badan lengket gini semaleman di kereta juga keberangkatan mendadak sehingga pontang panting persiapan plus ngantri antigen yang lumayan banyak orang” (ini diskusi sendiri ya guys).
Kamar mandinya terpisah, tetapi kebetulan dekat sekali dengan kotak nomor 36. Tinggal belok kanan. Kamar mandinya dipisahkan antara kamar mandi laki-laki dan perempuan. Untuk kamar mandi laki-laki terdapat 4 toilet dengan WC duduk dan 3 ruang shower untuk mandi tentu didepan terdapat 2 wastafel lengkap dengan kaca dan hairdryer.
Kotak eh kamar bersih dan praktis / dokpri
Karena ini masih jam 03.30 wib maka masih sepi dan bersih. Leluasa untuk BAB dan mandi untuk.menyegarkan diri…. currrr… air hangatnya menyirami tubuh.. segaar. Oh ya, sabun cair dan shampo sudah ada tersedia. Handuk juga tersedia di kamar… cuma sikat gigi dan odol musti bawa sendiri.
Udah ah, kembali ke kamar kotakku. Jangan lupa bawa hape. Karena kunci kamar barcode ada di hape.
Buat para pembaca yang phobia ruang sempit, mungkin ini menjadi tantangan. Tetapi yakinlah bahwa kamar kotak yang tersedia disetting bersih serta sentuhan modern menggunakan teknologi. Dari mulai check ini, buka pintu kotak kamar hingga di dalamnya. Ada panel yang touch screen yang bisa mengatur warna lampu kamar sesuka hati. Baik dipijit manual untuk ganti warna ataupun dibuat otomatis kayak di club malem di masa lalu hehehehehe. Ada pilihan untuk musik ‘sleep meditation’ yaitu suara air sungai mengalir dengan gemericiknya atau suara hutan alami ditambah pengaturan volume suara. Plus ada aplikasi bluetooth jika ingin disambungkan dengan smartphone kita dan tombol pembuka dan pengunci pintu… canggih khan?..
Panel pilihan futuristik / dokpri.
Satu lagi yang menjadi hikmah penting dikala terdiam telentang di kotak sempit ini adalah mengingatkan diri ini akan sebuah tujuan hidup akhir kita. Kita akan kembali sendiri, menghadap Illahi robbi dalam sebuah kotak kecil dan tertutup tanpa penerangan serta gelap, dingin dan basah kecuali kita memiliki amalan yang baik serta rangkaian doa dari anak – anak sholeh sholehah di saat berada di liang lahat suatu saat nanti. Semoga kita, kami, diri ini bisa kembali dalam keadaan husnul hotimah, Amin Yaa Robbal Alamin.
Sebelum mencoba terlelap, menikmati berbagai fasilitas kotak yang praktis dan modern ini juga mengabadikan berbagai fasilitas lainnya diluar kotak serta tak lupa mencari mushola di lantai 5 dan menunaikan shalat shubuh beberapa detik setelah adzan berkumandang.
Oh ya disini tidak ada breakfast, hanya tempat beristirahat dan membersihkan diri saja. Tapi jangan khawatir samping kanan kiri dan depan hotel banyak pilihan makanan tersedia.
Rooftop buat bersantai / dokpri.
Sebagai catatan, ini adalah pengalaman kedua menikmati dan memaknai sebuah pengalaman masuk kotak eh pods yah, yang pertama adalah POD RAIL TRANSIT SUITE STASIUN GAMBIR dengan tipe pods untuk single dan sekarang di BOBOBOX PODS MALIOBORO memilih yang tipe double.
Selamat backpakeran dan menjalani hikmah kehidupan. Wassalam (AKW).
***
Lokasi : Bobobox Pods Malioboro Tipe kamar kotak : Double Harga 195K/malam
*)CHSE adalah singkatan dari Cleanliness, Health, Safety dan Enviroment, atau terjemahannya adalah standar nasional dan internasional untuk hotel dari sisi kebersihan, kesehatan, keamanan, dan dukungan terhadap lingkungan dengan berbagai indikator.
BANDUNG, akwnulis.com. Parade pidato seremoni silih berganti dilanjutkan dengan kultum (kuliah ceramah tujuh menit) dan rangkaian kegiatan lainnya serta dikawal oleh suara musik lengkap dengan homeband yang memancing untuk sedikit bergoyang dan bernyanyi.
Tema ceramah tak kalah menarik, dimana membahas tentang banyaklah memuji bari meminta atau disingkat Puji Dulu Baru Minta (PuDuBaMi). Sebuah tuntunan universal yang tercermin dalam 7 ayat Q.S Alfatihah. 5 ayat awal adalah ayat yang bertema pujian atau memuji Allah dan 2 ayat terakhir barulah permintaan.
Kohitala Preanger / dokpri.
Inilah salah satu nilai utama yang harus menjadi pegangan dalam mengarungi kehidupan.
Selanjutnya tema senantiasa memuji adalah refleksi diri untuk senantiasa bersyukur, memgedepankan swasangka baik dan tentunya memaknai detik demi detik kehidupan ini dengan optimisme.
Begitupun dengan kehadiran kopi hitam kali ini, atau disebut Kohitala (kopi hitam tanpa gula) harus disyukuri dan bertabur pujian kepada Illahi yang Maha Kaya. Karena tanpa perlu bersusah payah menanam pohon kopi, merawatnya, memanennya, meroastingnya, membelinya hingga berproses menjadi sajian hitam menggugah selera.
Diawali dengan kalimat, “Mau teh atau kopi om?” yang begitu merdu terdengar di telinga kiri disuarakan si pelayan muda yang cekatan.
Sebuah anggukan kecil dan suara lirih, “Kopi” langsung dibalas senyum tersembunyi dibalik masker pink dan seketika dituangkan sajian kohitala yang harus segera dinikmati.
Maka cara bersyukur selanjutnya selain memuji keagungan tuhan atas kemudahan hadirnya kohitala ini adalah membuat sajian kohitala ini abadi. Yaitu dengan cara dokumentasi, alias diabadikan dalam bentuk photo. Tentu dengan sisi pengambilan photo sesuai selera dan ujung telunjuk menyentuh tombol shooter kamera di smartphone.
Tring, sajian kohitala telah tercapture sempurna dan selanjutnya dihiasi dengan taburan kata untuk bisa disajikan dihadapan sidang pembaca tanpa perlu repot – repot mencerna makna. Have a nice weekend kawan, Wassalam (AKW).
CiMaHi, akwnulis.com. Sebuah ide menulis memang hadir sekelebat dan terkadang hilang jika tidak segera ditangkap. Maka cara terbaik adalah segera ikat dengan kata-kata, disulam oleh kalimat hingga hadirkan kemasan yang penuh niat.
Ada lagi, jikalau lebih nyaman menggunakan bahasa ibunda, maka tulislah. Jangan khawatir dengan perbedaan karena rangkaian kata memiliki kekuatan untuk kita terus berkarya.
Jadi, kembali tulisan singkat hadir berbahasa sunda dengan ilustrasi tiduran di lantai luar ruang kerja, tak lupa tetap menggunakan masker sebagai penanda bahwa waspada adalah yang utama.
Cekidot….
FIKMIN # NGABANGKÈ #
Geus dua peuting panon teu manggih peureum, salawasna bolotot ngagawèan urusan dunya nu pinuh ku wates waktu. Cikopi jeung udud teu sirikna piligenti asup kana tikoro jeung liang irung, ihtiar mèh awak jagjag ngagawèkeun sagala urusan bari mondok di kantor.
Ayeuna asup peuting katilu, geuning loba kènèh garapeun. Sirah mimiti lieur bari awak nyèksrèk manasan. Maksakeun balik heula, sugan wè geus panggih mah cageur.
Nepi ka golodog, motor di sarandèkeun. Muka tulak da boga konci sèrep. Bus ka imah, ngagolèdag na korsi panjang, reup sarè.
“A gugah, ngalih ka pangkèng kulemna” sora halimpu ngagareuwahkeun. Beunta saharita.
Ningali lalangit naha ènternitna bodas, nempo hordèng beresih jeung jandèla nako makè kaca hias, sareungit deuih. Mencrong ka nu ngahudangkeun. Hareugeueun, “Saha salira?”
Plak!… Pipi katuhu dicabok, panas jeung reuwas. “Akang kunaon, hilap ka Isyeu?”
Masih hareugeueun, “Dimana ieu?”
Buk! Karasa punduk aya nu ngababuk, poèk mongklèng saharita. (AKW).
CIMAHI, akwnulis.com. Menulis adalah sebuah aktifitas sederhana yang rutun dilakukan sehari-hari. Tidak hanya dalam aktifitas formal tetapi dalam kegiatan informalpun kegiatan tulis menulis ini tidak akan lepas daru rutinitas keseharian. Terutama manakala berkaitan dengan media sosial. Update status di aplikasi whatspapp dan juga posting Instagram Story ataupun memberi komentar pada status orang lain di kanal youtube plus berbalas pantun di aplikasi twitter, atau meskipun terbatas video pendek dengan dancechallenge di aplikasi tiktok dan reelnya Instagram tetap berkaitan dengan tulis menulis.
Tetapi tentu rutinitas ini harus memiliki makna manfaat lainnya, tidak hanya menebarkan aneka kata dan cerita singkat di media sosial saja atau sebatas tertuang dalam naskah surat kedinasan yang sudah jelas tata naskahnya. Tetapi bagaimana membuat aktifitas menulis ini menjadi sebuah aktifitas wajib dan membuat tulisan secara berkala dengan berbasis diary online seperti blog pribadi ataupun website yang profesional.
Inilah ide dasar yang berusaha dilakukan secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir melalui blog pribadi yang beralamat di www.akwnulis.com. jika merunut jejak digital maka aktifitas tulis menulis ini di dunia maya sudah dilakukan sejak tahun 2009 tetapi masih sporadis dengan berbasis blog gratisan seperti blogspot dan wordpress serta update status di aplikasi facebook.
Ide dasar selanjutnya adalah memikirkan tentang legacy atau warisan ilmu pengetahuan pribadi. Ide ini adalah langkah selanjutnya setelah rutin menulis secara berkala. Idealnya ODOA (one day one article), tapi dengan segala kesibukan yang berpadu dengan kemalasan maka cukup 1 minggu 1 tulisan singkat. Prinsip utamanya adalah konsistensi dan kontinyuitas, ini yang menantang, karena kecenderungan manusia itu cepat menyerah, apalagi di minta untuk rutin menulis. Lawannya adalah diri sendiri, musuh hakiki yang harus dikalahkan dan dikendalikan. Maka kumpulkanlah dalam sebuah kerangka buku yang di kemudian hari bisa dirapihkan, di lihat oleh editor dan akhirnya hadir menjadi sebuah buku baik dalam bentuk cetak ataupun online berupa e-book.
Ide dasar ketiga adalah pilih tema dari tulisan kita dalam bentuk tema besar dan sisanya baru di breakdown dalam tema-tema kecil plus serba serbi aneka tulisan yang seringnya mengikuti kata hati.
Sebagai contoh blog pribadi kami mengusung tema besar yaitu NGOPAY DAN NGOJAY dan SALAD & SHALAT.
Tema NGOPAY DAN NGOJAY memberi ruang untuk menulis tentang seputar kopi, baik cara penyajiannya, citarasa yang dihadirkannya hingga dimana lokasi ngopi tersebut berada, dan dalam bahasa gaul istilah ngopi itu adalah ngopay. Sementara NGOJAY adalah bahasa sunda yang artinya berenang, maka tulisan yang di buat adalah seputar berenang, kolam renang, pakaian renang berbagai hal yang berkaitan dengan kolam renang.
Satu lagi hal yang sangat penting adalah murwakanti atau memiliki sebutan yang mirip sehingga mudah di ingat, seperti akhiran yang sama, ngopAY dan ngojAY.
Begitupun dengan tema SALAD & SHOLAT, ada suara sebutan akhir yang mirip meskipun tidak sama. Tema ini adalah kaitan tulisan tentang kuliner yang menyehatkan dan sisi religius yang berhubungan dengan aktifitas shalat, doa, hadits serta hal – hal baik dalam ajaran islam yang penulis anut.
Ide dasar selanjutnya adalah berbicara tentang pelestarian budaya. Kami berusaha bahwa aktifitas tulis menulis inipun tidak lepas dalam proses ikut melestarikan budaya daerah khususnya budaya sunda dari sisi pelestarian tulisan bahasa sunda. Meskipun tentu masih jauh dari ideal, namun minimal sudah ada ihtiar menuju pelestarian bahasa sunda yang semakin memudar di kalangan generasi muda. (AKW).
Sejak pagi berseragam korpri Kumpul bersama demi sebuah janji Tunaikan tugas untuk menghadiri Upacara peringatan Kemerdekaan RI
Angka 76 menjadi kebanggaan Suatu semangat untuk perubahan Indonesia tangguh adalah harapan Indonesia tumbuh adalah keharusan
Aneka acara formal tetap dengan batasan Karena covid masih mengendap mencari sasaran Konsep hybrid menjadi pilihan Jaga jarak dan prokes ketat adalah pedoman
Upacara online menjadi pilihan Berusaha Khidmat adalah perjuangan Tapi yang utama adalah keyakinan Bahwa Kemerdekaan ini bukan diraih dengan kemudahan
Hormaat Grak di Upacara Penurunan Bendera / dokpri.
Mari mengisi dengan semangat kebersamaan Saling bahu membahu untuk kemajuan Hancurkan ego dan berpegangan tangan Dengan bersama-sama menggalang kekuatan
Upacara penurunan bendera menjadi penutup hari Kembali berkhidmat dalam tahapan proporsi Angkat tangan untuk menghormati Merah putih yang abadi
SELAMAT & DIRGAHAYU INDONESIAKU INDONESIA TANGGUH INDONESIA TUMBUH.
LEMBANG, akwnulis.com. Bismillahirohmaniirohim, Tiada saat kita bisa sedikit menghela nafas, dikala begitu banyak berita duka hadir menghampiri kita. Di media sosial sudah jelas informasi yang tersaji, di WA grup, Facebook, Twitter, Telegram, Line dan sebagainya, semuanya seragam… berita duka, cerita kehilangan orang-orang tercinta untuk kembali dipanggil pulang oleh Allah Sang Pencipta.
Mesjid Al Ukhuwah Bandung / Dokpri.
Yang menjadi keterhenyakan adalah bertubinya berita, dan terasa begitu dekat menghimpit nalar kita. Ucapan duka cita, belasungkawa ataupun template stiker bertuliskan ‘Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun” serta ketikan mendadak yang dihadirkan demi memberikan kata-kata penguat semangat ketabahan dan kehormatan bagi keluarga yang ditinggalkan dan tentunya kiriman doa semoga almarhum almarhumah husnul hotimah.
Karangan bunga duka cita sekarang berseliweran untuk hadir sesaat sebagai bukti ikut peduli dan merasakan duka lara yang terjadi. Sebagai wakil raga yang tak bisa datang secara nyata karena pandemi memghalanginya.
Saking banyaknya berita duka setiap hari, terkadang kitapun terlewati untuk mengetik chat atau comment dalam rangka ungkapan dukacita, atau paling simpel dengan template stiker. Apalagi menelepon keluarga inti untuk berlisan secara langsung.
Jadi sekarang kembali kesadaran, kesabaran dan ketabahan kita semua diuji lahir batin. Satu sisi kita ikut atau (diharapkan) ikut untuk mengekpresikan rasa simpati kepada keluarga, kolega dan mitra yang ditinggalkan tapi di sisi lain harus waspada karena perang kali ini menghadapi musuh tak kasat mana yang bisa menyerang siapa saja, kapan saja dikala abai protokol kesehatan… itu secara phisik.
Secara psikis spritual, kita tebalkan keyakinan masing-masing dengan berbekal rasa takut dan khawatir yang semakin hari semakin menjadi. Mendekatkan diri kepala Illahi Rabb adalah hal utama kali ini dan tentu didukung penuh dengan ihtiar lahiriah yaitu utamakan protokol keshatan yang sudah digembar gemborkan.
Maka jikalau memiliki luang, ekspresikan keduakaan, kepedulian, keprihatinan dalam untaian kata lisan via telepon, tuliskan dalam status, coment dan kata2 di medsos atau stiker belasungkawa atau minimal sepucuk doa yang hadir di hati kita. Jikalau ternyata tidak menyampaikan ucapan keprihatunan di grup WA, bukan berarti tidak peduli, mungkin saja memang sedang sama-sama berduka.
Karangan bunga bisa menjadi media penyambung duka, ataupun dukungan dana meskipun terbatas tapi mungkin bisa membantu semangat ketabahan. Kalaupun tidak, tak mengapa, seuntai doa yang tulus menjadi bekal bagi semuanya.
Hal yang terpenting lagi adalah kematian itu pasti, ditengah kehidupan fana yang berbatas. Jadi kembali tafakuri diri dan jalani hari – hari ini dengan selalu bersyukur terhadap skenario Allah SWT yang dibungkus dalam Takdir serta berdampingan dengan pernasiban.