KIAT AGAR TIDAK STUCK MENULIS FIKSI

Inilah jawaban penting dari kebuntuan menulis, cekidot.

CIMAHI, akwnulis.com. Perjalanan pagi ini ke kantor mengingatkan terhadap sebuah pertanyaan ibu guru muda yang menjadi peserta workshop pembuatan fiksimini bertema sosial. “Bagaimana caranya agar tetap menulis, sementara terjadi stuck ide atau kebuntuan ide untuk menulis?”

Sebuah pertanyaan mendasar yang sering menjadi tantangan terbesar para penulis khususnya penulis pemula seperti diriku ini. Wajah – wajah peserta terlihat memperhatikan raut wajahku dan tak sabar untuk mendengarkan jawabannya.

Tentu bagi dirimu penulis eh ngaku – ngaku penulis tapi memang suka menulis apalagi berhubungan dengan pekerjaan dalam dekade 2,5 tahun ini cukup lekat di bidang tulis menulis malah dalam bahasa sunda disebutkan jabatannya ulis alias juru tulis hehehe.. tapi juru tulis level SKPD di provinsi.

Pertama kita bedakan dulu antara menulis fiksi dan nonfiksi. Jika penulisannya adalah non fiksi berupa laporan ilmiah atau minimal laporan program kegiatan tentu memerlukan data dan fakta yang nyata dan dapat dipertanggungjawabkan. Manakala kebuntuannya berada disini, maka perlu kerja keras ekstra untuk mendapatkan data valid tersebut sehingga penulisan non fiksi yang ditugaskan atau yang diharapkan bisa segera dituntaskan.

Nah untuk penulisan fiksi, tidak ada kendala eksternal seperti hal tersebut. Masalah kebuntuan menulis berada di tangan kita sendiri, di mindset kita, di jari jemari dan hati serta pikiran untuk segera digerakkan.

Tapi pak, kebuntuannya juga termasuk tema dan konten yang ingin saya tulis”

Senyum dulu ah, pertanyaan lanjutan ini menjadi semakin bersemangat untuk membantu memberi semangat. Bahwa menulis tulisan fiksi itu sangat mudah. Cara jitu diri ini untuk melawan atau memecah kebuntuan menulis itu adalah dengan ‘tuliskan kebuntuan menulis kita itu kira-kira karena apa? apakah karena kehilangan tema atau memang malas saja?’

Jika kehilangan tema, ya inilah tema jitu untuk menulis, TULISLAH SUASANA KEBUNTUAN MENULIS ITU SENDIRI. Percayalah tak terasa 2 – 3 paragraf akan terwujud dan tulisan sederhana kita akan kembali hadir menghiasi dunia.

Nggak percaya?”

Ini buktinya, dengan tema yang sama ternyata sampai tulisan ini sudah mencapai 8 paragraf lho.

Apakah tulisan ini penting?”

Untuk penulis eh raga ini tentu sangat penting karena menjadi bagian dari legacy yang tertuang dari curahan pikiran yang mengambil tema tentang KEBUNTUAN MENULIS. Asyik khan?

Jadi sekarang yang terpenting adalah tulislah dulu dan hadirkan legacy pribadi tanpa terbebani itu ini. Gerakkan jemari indahmu dalam keyboard virtual smartphonemu, tuangkan apa yang ada dipikiranmu. Jika sudah selesai jangan lupa baca sekali saja untuk mengecek salah pengetikan (typo) saja. Jangan baca ulang terkait konten, nanti malah nggak jadi diposting tulisan tersebut karena merasa tidak sempurna atau ada kekurangan disana sini.

Upload di medsos pribadi atau blog pribadi, share ke teman – teman dan biarkan dunia memberi penilaian. Jikalau setelah diposting di medsos pribadi atau blog ternyata minim dan zero respon, ikhlaskan saja. Nggak usah dipikirkan, yang penting kita sudah menuangkan rasa dalam kata – kata yang dititip di dunia maya dan yakini suatu saat ada seseorang yang membutuhkannya.

Begitulah sebuah tulisan hadir dari kebuntuan menulis, ayo silahkan coba. Selamat pagi semua, Wassalam (AKW).

PANTUN LEPAS SAMBUT KADINSOS JABAR

Sebuah ungkapan rasa yang hadir dalam rangkaian kata..

CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah pertemuan selalu beriringan dengan perpisahan, sebuah kebersamaan ada saatnya harus menyesuaikan dengan keadaaan. Secara harfiah perpisahan ini hadir karena sebuah prosesi pelantikan pejabat tinggi pratama di lingkup pemerintah provinsi jawa barat. Salah satunya yang beralih tugas adalah bos kami, bapak kami, guru sekaligus orangtua kami. Bapak dr. Dodo Suhendar, MM menjadi Staf Ahli Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Jawa Barat dan dilanjutkan oleh Kadinsos baru, Ibu DR. Ida Wahidah Hidayati, SE, SH, M.Si.

Sebagai refleksi campur aduknya rasa, maka jalan terbaik adalah disampaikan dengan rangkaian kata karena jika diucapkan khawatir terbata-bata. Juga ditulis dalam bahasa sunda sebagai sebuah pesan bahwa selain ungkapan rasa juga ada semangat menjaga atau melestarikan bahasa ibunda.

Haturan….

Pantun Lepas Sambut Kadinsos Jabar 070923

Mapay desa nu baranang
Manggih domba disimbutan
Aya mangsana datang
Aya oge mangsana amitan

Tukang gula disangka semah
Nu ditiung mamawa runtah
Baheula datang kusabab amanah
Ngawangun nagri ngarah tumaninah

Ngarendos peuteuy keur parab oray
Isukna tuluy disangrai
Sanaos ayeuna atos paturay
Silaturahmi mah ulah peuray

Catang regas dina bantal
Mulung bendo eusina hurang.
Wilujeng tugas ditempat enggal
Bapak Dodo, guru oge sepuh urang.

Neang gaang ditengah sawah
Kudu dikawal bisi kabawa caah
Ayeuna diteraskeun ku ibu ida wahidah
Dinas sosial nu pinuh berkah

Daun ragragan kana rancatan
Nyandak pajeng nyingkahan begal
Pileuleuyan juragan kadis mantan
Mugi langkung majeng ditempat enggal

***



Demikian ungkapan rasa yang ditumpahkan dalam rangkaian kata. Ingin terus menulis tapi jemari tak kuasa menahan tangis. Akhirnya biarkan waktu yang abadi menjadi saksi silaturahmi kita. Menjadi saksi bahwa bapak membawa perubahan, inovasi, sinergi dan kolaborasi di dinsos raharja ini.

Wassalam, (AKW)

BUKU BUKU KARYAKU

3 buku hasil karyaku.

CIMAHI, akwnulis.com. Perjalanan panjang menikmati tarian kata dan liukan kalimat selama itu terus dijaga semampu diri. Dengan meluangkan waktu menulis apapun yang mampu dituangkan serta disimpan di jagad online yaitu di blog pribadiku ini. Lalu dengan kekuatan media sosial, link tulisannya tersebar meskipun hanya terbatas dari sebagian kontak di hape, ataupun yang kepo melalui status WA yang hanya berumur 24 jam saja.

Alhamdulillah tulisanku yang ringan, pendek dan singkat.. eh sama ya. Ini bisa terus mewarnai jaringan silaturahmi dan juga (mungkin) menjaga literasi pribadi untuk terus berkarya meski tekanan dan tantangan kesibukan adalah sebuah cengkeraman penghalang yang harus dilawan, dihadapi dan ditaklukan.

Selanjutnya adalah apakah sudah dibuat buku, dikumpulkan dan dicetak tentu dengan cover yang bagus dan dapat dinikmati secara khusus?”

Pertanyaan inilah yang menggugah jari jemari yang lentik eh bulet ini untuk menuliskan barisan kata agar semua menjadi terang benderang.

1. BUKU YANG SUDAH DIHASILKAN

Jika melihat dari sisi produk yang dihasilkan hingga tulisan ini dibaca oleh para penikmat kata yang budiman, baru 3 buah buku yang dihasilkan secara pribadi dan semuanya bergenre fiksi atau cerita rekaan saja (di klaimnya). Meskipun tentu ide ceritanya berhubungan erat dengan pengalaman pribadi dalam menjalani kehidupan yang penuh berkah ini.

Sementara untuk buku keroyokan antologi ada 6 – 7 judul buku yang akan dibahas kemudian. Kembali ke buku murni ciptaan sendiri, inilah daftar buku hasil karya andriekw, sebagai berikut :

1. BELAHAN JIWA
2. ITIKURIH
3. LALANDONG

Yuk kita bedah satu – satu guys.

Buku pertama berjudul BELAHAN JIWA adalah sebuah buku dalam bentuk novel yang berisi tentang sebagian perjalanan hidupku mengawal dan menemani almarhumah istri menjalani pengobatan selama 5 tahun kurang 1 bulan sebagai survivor kanker payudara hingga akhirnya kembali ke haribaan illlahi pada bulan oktober 2014 lalu.

Buku pertama ini disusun dengan pendekatan kenekatan tapi terus berihtiar meskipun dengan segala kekurangan. Akhirnya hadirlah buku novel yang menjadi tonggak awal kehadiran buku fiksiku. Alhamdulillah.

Buku kedua berjudul ITIKURIH, adalah kumpulan tulisan rekaan yang super pendek yaitu maksimal 150 kata sudah menjadi sebuah jalinan cerita dan ditulis dalam bahasa sunda atau lebih terkenal dengan sebutan FBS yaitu fiksimini basa sunda. Di buku pertama kumpulan fiksimini sundaku ini terdapat 101 tulisan singkat yang mungkin bisa memberi senyum dan manfaat.

Buku ketiga berjudul LALANDONG, masih sebuah buku kumpulan fiksimini basa sunda berjumlah 114 cerita fiksi singkat dengan membahas tentang keseharian menggunakan bahasa sunda yang digunakan sehari-hari. Judul ‘lalandong’ memiliki arti berobat atau pengobatan. Maksudnya adalah dengan membaca buku ini dan menikmati isi ceritanya menghasilkan senyuman dan keceriaan sehingga mengobati suasana jiwa yang sedang galau dan muram.

2. BAGAIMANA CARA MENIKMATINYA? (MEMBACANYA).

Produk buku yang sudah dihasilkan tentu bertujuan menyampaikan ide gagasan atau minimal informasi yang menghibur dan menenangkan. Memberi semangat bagi pembaca dan sekaligus menambah wawasan dalam mensyukuri nikmat dunia. Plus untuk buku yang kedua dan ketiga memiliki ide dan semangat untuk melestarikan budaya daerah yaitu bahasa, khususnya bahasa sunda.

a. VERSI BUKU CETAK
Untuk versi cetak maka dipastikan harus hadir bentuk buku cetak yang bisa dipegang, diraba dan dibuka – buka, maaf bukan dicelupin (itu sih iklan snack). Memang versi cetak tidak ada di Toko buku besar, tetapi sekarang dengan hadirnya BITREAD, siapapun bisa menerbitkan buku tampa khawatir dengan biaya yang besar.

Jadi tingal klik DISINI, ikuti langkah – langkahnya dan ditunggu beberapa hari maka versi cetaknya akan dikirimkan ke alamat kita.

b. VERSI E-BOOK
Untuk yang ingin membaca dengan membeli ebooknya bisa dilakukan dengan 2 cara :
1) Melalui website Bitread ada tombol ‘keranjang gramedia’
2) Langsung ke alamat Gramedia ebook dan search ‘andrie kustria wardana’ atau supaya praktis klik saja DISINI.
untuk memperlancar proses membacanya diperlukan instalasi aplikasi GRAMEDIA EBOOK dan ikuti langkah – langkahnya. Harga ebooknya lebih murah dibanding versi cetak dan pembayarannya bisa melalui mobile banking atau aplikasi DANA, OVO dan sejenisnya.

c. VERSI RANDOM
Nah untuk pilihan ini tergantung selera, kalau mau berbentuk buku ya silahkan pesan. Penikmat ebook juga tinggal doenolad aplikasi dan beli buku onlinenya. Untuk yang penyuka tulisan yang bisa dibaca gratisan, tinggal pantengan eh ikuti aja blogku ini www.akwnulis.com

Itulah informasi yang bisa diberikan bagi siapapun yang ingin atau penasaran dengan buah karyaku yang baru sedikit ini.

Selanjutnya ada beberapa buku yang dibuat keroyokan atau sekedar sebagai kontributor cerita saja yang besok lusa akan kita bahas. Selamat weekend kawanku. Wassalam (AKW).

KEHILANGANMU

Kembali belajar memaknai sebuah kehilangan.

BANDUNG, akwnulis.com. Jumat pagi kemarin begitu penuh momentum menyenangkan. Diawali dari photo bersama di area pintu masuk lalu duduk di tribun menunggu acara dimulai. Tak berapa lama berkumpul bersama di lapangan softball, photo bersama dengan pak Sekda secara bergiliran dengan unit kerja lain lalu bergerak bersama dalam iringan musik menghentak dan memaksa raga ini bergerak. Senam pagi bersama dimulai.

Tetapi di saat senam pagi usai ditutup dengan photo bersama gubernur, pak sekda, ibu atalia dan para pejabat eselon 2 lalu berjalan menuju tribun penonton barulah teringat padamu, yang ternyata sudah tidak bersama lagi. Tanpa berfikir panjang segera berlari keluar dan mencoba menapaki kembali pergerakan raga ini diawali dari sesi photo perdana diluar arena tadi.

Kepala menunduk sambil mengamati rumput hijau di halaman lalu lantai semen sebelum memasuki lapangan dan dilakukan berulang kali dengan harapan kita bisa berjumpa pagi. Namun. Apa mau dikata, tanda kehadiranmu tidak ada. Semua seperti biasa saja, hilir mudik dengan kesibukan dan kepentingan masing-masing.

Lelah berkeliling, akhirnya kembali ke tribun dalam mengikuti rangkaian kegiatan hingga berakhir dengan segala teriakan dan suasana meriah dan penuh kekeluargaan.

Tiba – tiba teringat ke hari kemarin dan sehari sebelum kemarin atau selumbari, betapa intensitas kegiatan bersamamu begitu lekat. Baik digunakan untuk menikmati audio di spotify, youtube lalu menikmati aneka film di netflix dan disney hotstar terdapat juga proses pengeditan video untuk channel youtube baik pemotongan dan pengaturan ukuran nada hingga perekaman suara yang sesekali diubah menjadi mode suara chipmunk atau tamias (bahasa latin).

Termasuk juga banyak berpose denganmu, bergaya dengan telinga bertengger selalu kamu. Sebuah kebersamaan disaat – saat terakhir. Sebuah kerjasama apik yang selama ini terjalin, beraneka hasil yang diwujudkan bersama terutama channel youtubeku @andriekw yang masih merangkak menapaki tantangan jaman tanpa terganggu pendapat dari siapapun. Lebih baik membuat sesuatu dari pada berkomentar terhadap karya orang lain padahal diri sendirinya tidak berbuat.

Akhirnya setelah memastikan kehadiranmu tidak bisa ditemukan lagi. Maka dengan merelakan perpisahan ini semoga semua kembali baik – baik saja. Tertulis kata ikhlas didalam kata yang terucap, meskipun hati kecil harus belajar cepat dalam memaknai kehilangan kali ini.

Kenangan bersama kembali muncul seperti potongan gambar film yang tampil disengaja, juga aktifitas rekam dan edit audio video yang selama ini menjadi penyeimbang rutinitas kehidupan, rutinitas pekerjaan yang dinamis dan butuh penyaluran.

Selamat jalan kawanku, semoga ada pihak yang menemukanmu dan memang membutuhkan sehingga dirimu bisa bermanfaat kembali. Tidak sulit kok karena modelnya plug & play dan on off bluetooth dengan mudah. Bisa kompatible dengan berbagai merk smartphone, laptop dan produk apple seperti macbook dan macbook air.

Selamat jalan kawan.

Tiba – tiba sebuah suara mengagetkanku, “Apa yang hilang mang?, kok wajahnya sedih begitu?”

Earphone Gan, SNT182 lenovo – XE06 bone connection IPX7 tea geuning.”

Oh itu, beli lagi aja, nggak perlu melankolis begitu!” Sebuah jawaban yang tegas, ketus tanpa empati. Bukan masalah harga saja yang menjadi pertimbangan, tapi nilai kebersamaan dan suka duka mewujudkan sesuatu itu yang menjadi penyebab keterdiaman ini.

Tapi ya sudah, keikhlasan kita harus universal. Ikhlas kehilangan kamu hai earphone bone connectionku sekaligus ikhlas dengan komentar seseorang yang begitu membagongkan. Dalam kehidupan fana ini sebuah momentum kehilangan adalah biasa, meskipun agak limbung sesaat. Selanjutnya tinggal bagaimana kita bisa memaknainya. Happy weekend kawan, Wassalam (AKW).

NGACLENG – fbs

Kecil sih, tapi beresiko.

LEUWIGAJAH, akwnulis.com. Selamat malam para pembaca setia di tulisan singkatku ini yang berkutat antara cerita kopi dan fiksimini. Tulisan sederhana yang orisinil karena hadir dari persentuhan antara kulit jempol dan tuts keyboard virtual di smartphone ini seiring ide dalam otak bergerak menjadi kata dan kalimat.

Idenya hadir karena tadi siang memang menjadi imam shalat dhuhur di mesjid kantor dan kebetulan cincin bacan menemani jemari di tangan kiri, tepatnya bertengger di jari manis dan agak longgar karena memang hasil pemberian. Akibatnya shalat menjadi penuh konsentrasi karena takut pas tangan diangkat, cincin terbang dan menimbulkan akibat.

Alhamdulillah, shalat dhuhur lancar hingga tuntas. Tapi ide ini terus bertengger di benak dan harus di eksekusi menjadi jalinan kata yang tepat sebelum idenya menghilang ditelan kesibukan yang tiada akhir. Selamat membaca.

FIKMIN # NGACLENG #

Anjog ka jero masjid, beungeut masih baseuh ku cai wudu. “Mangga mang, ngaimaman” Teu loba carita Mang Uca maju ka hareup gigireun mimbar. Nangtung ajeg, ngarènghap sakedap, “Allooohu Akbar” Takbirotul ihrom lancar.

Bacaan fatihah jeung kulhu ngagorolang na jero hatè, sabab ieu mah solat lohor. Giliran ruku ogè antarè. Dina mangsa i’tidal aya kajadian.

Samiallohu liman hamidah!” Sora tarik bari leungeun kaluhur nepi ka puhu ceuli, rada ditanagaan. Cleng cleng cleng! Karasa aya nu lèsot tina curuk, jariji jeung jajangkung.

Adaaw”
“Prang….”

Dua sora nu teu pati dipadulikeun, tuluy waè anteng ngaimaman padahal kadèngè aya ma’mum ngagorowok, “Subhanalloh.. Subhanalloh.”

Bèrès salam ngalieuk katukang, ngagebeg.
Jang ibro keur diriung, tarangna getihan. Gigireunna kaca masigit peupeus patulayah. Teu lila sakabèh panon ngalieuk, nempo ka imam solat nu teu boga rarasaan. Mang Uca ngaheneng, sabot kitu inget kana ali bacan meunang nginjeum. Geuning lain dina ramo deui tapi tinggalolèr dina karpèt masigit, satilu – tilu.

***

Itulah kotretan kali ini, hati lebih tenang karena ide sudah tertuang. Menambah khazanah catatan pribadiku dan semoga memberi senyum bagi pembaca budimanku. Wassalam (AKW).

MACET & MENULIS.

Antara kemacetan dan Kotretan.

CIMINDI, akwnulis.com. Dikala raga terdiam karena kemacetan menghadang maka energi keburu-buruan mengejar setengah delapan di kantor untuk melakukan absensi harian biasanya berontak dan membuncah menjadi kekesalan. Paling mudah adalah kekesalan itu menjalar dari hati ke wajah dan tangan. Wajah menegang dan gigi mulai bergemerutuk, sementara tangan semakin kuat mencengkeram stir.

Kulit wajah mengeras dan lapisan sunblock SPF50pun agak terganggu karena permukaan yang dilindunginya tiba-tiba berubah. Maka lapisan tipis sunblockpun harus adaptasi dengan perubahan drastis ini, kalau tidak berarti berguguran dan melunturkan tugasnya sebagai paparan ultra violet yang telah mengintai di balik kaca depan kendaraan.

Apalagi pas melihat bahwa kemacetan yang terjadi tidak disikapi sabar oleh semua pengguna jalan. Sudah jelas akan terjadi bottleneck dari 4 jalur menjadi satu jalur karena berhadapan dengan pasar pagi dan sebrangnya pintu gerbang sekolah, tetap saja jiwa – jiwa salip kanan salip kiri hadir di depan mata. Untuk para pengendara motor sudah biasa bagaikan air mengalir. Dimana ada celah sempit disitulah motor masuk dan melaju. Tapi disaat melihat kendaraan yang seseleket di kiri demi meraih posisi terdepan padabal jelas memang sedang terjadi kemacetan, jiwa kemudaan ini mendidih kawan.

Pada saat yang melakukannya adalah angkot atau angkutan kota terkadang berusaha maklum meskipun tidak. Tapi pas yang melakukan manuver tersebut mobil non angkot dan ternyata mobilnya adalah keluaran terbaru tapi dengan driver ber-attitude sok jago, itulah yang membakar emosi di cerianya pagi.

Tangan terkepal dan mulut terkatup dengan rahang menegang. Bukan apa – apa, ini semua dilakukan untuk mengekang emosi yang begitu berkobar. Tidak lupa berusaha untuk istiqomah dengan mengucap istigfar.

Astagfirullohal adzim”

Allohumma inni a’udzubika asy-syaiton ar-rajim”

Sebuah ihtiar menenangkan diri dengan berdoa pada Illahi. Biarlah wajah masih tegang dan memerah, tapi hati bisa kembali dingin dan semuanya diharapkan baik-baik saja.

Tapi ternyata godaan kemacetan masih butuh perjuangan untuk lebih bersabar. Karena antrian malah terdiam. Ya sudah angkat eh pijit rem tangan dan lepaskan kaki pada pedal gas  dan menjejak di lantai kendaraan, tentu dengan mengatur nafas panjang agar hilangkan sengal dan kebosanan.

Ambil smartphone dan tulislah kegalauan ini dengan cepat namun tetap tertata. Dengan catatan sesekali melihat ke depan, barangkali kemacetan sudah terurai dan perjalanan bisa dilanjutkan.

Alhamdulillah, akhirnya tulisan singkat ini tuntas dan kemacetan mulai ada pencerahan dengan maju perlahan – lahan. Udah ah nulisnya dan kembali memegang kendali kemudi untuk menyongsong tugas pada hari ini.

Ngeeeeng…. majuu. Selamat beraktifitas hari ini. Wassalam. (AKW).

Momentum PABURANTAK – fbs

Cerita pagi tentang momentum dan selarik senyum.

CIMAHI, akwnulis.com. Minggu pagi dimanfaatkan untuk menggerakkan raga dan melangkahkan kaki agar target 6000 langkah minimal sehari agar terpenuhi. Sekaligus juga memenuhi pesanan anak istri untuk membeli kupat tahu spesial yang menjadi langganan meskipun agak lumayan jaraknya jika ditempuh dengan berjalan.

Tapi justru ini kesempatan atau memontum untuk bergerak, berjalan kaki sekaligus beli kupat tahu dalam waktu yang sama. “Worth it khan?”

Nah membahas momentum, maka menghadirkan ide yang akhirnya bisa menuliskan menjadi sebuah cerita ringan yang mungkin bisa menghibur khalayak pembaca dari websiteku ini.

Momentum adalah besaran vektor yang dapat dinyatakan sebagai hasil kali antara massa benda dan kecepatannya. Rumusnya adalah p = mv (momentum = massa dikali kecepatan). “Wuih jadi serius yah?”

Tapi bener lho, bahwa momentum itu bisa dilihat dari massa atau bobot beratnya suatu kegiatan yang dilihat dari berbagai sisi baik anggaran, ukuran, banyaknya sumber daya manusia hingga promosi yang luar biasa dikalikan dengan kecepatan fikir untuk memastikan saat yang tepat dalam mengambil tindakan dan keputusan. Sejalan dengan pengertian di KBBI bahwa momentum itu memiliki arti ‘saat yang tepat/kesempatan’.

Dari ide itulah sebuah jalinan kata dapat hadir menjadi cerita, tentu cerita rekaan alias cerita fiksi berbahasa sunda. Selamat membaca…

FIKMIN # PABURANTAK #

Domba hideung sakumaha pamènta geus ditungtun, leungeun kènca ngajingjing buah kiwi ustrali. Rèk mèrè hadiah spèsial poè lahir jikan, poè isuk milad ka 51. Rèk ngareureuwas jikan mèh atoh. Sanajan hargana lumayan, tapi diihtiaran.

Ari kiwi mah meunang meuli tadi isuk, kukumpul tina ladang endog meri. Buah kiwi gè geus lila dipikahayang jikan nepika ngimpi tilu poè tilu peuting. “Kudu kiwi ustrali nya kang.”

Anjog ka imah kadèngè sora jikan di pawon keur masak bari hahariringan dipirig lagu ajojing nu keur piral. Keketeyepan muru panto tukang, domba hideung nuturkeun. Panto dibuka saeutik, ngadeukeutan ti tukangeunna.

Wilujeng milad mamah!” Bari jikan digabrug.

Tuluuung!”

Gubrak, katèl dibalangkeun, cukil dipakè ngababuk. Jikan lumpat gogorowokan. Domba hideung leupas, kiwi paburantak sawarèh pejèt katincak. Di buruan, jikan ngajanteng olohok. Geuning lain rampog nu nangkeup tèh.

Uing ngadeukeutan, jikan nyorongot, “Geus aki-aki mah teu kudu roromantisan lah, tuh udag domba, lebar!”

***

Demikianlah cerita singkat tentang ‘momentum’ ini, dan ada satu lagi pesan yang penting, jangan memberi surprise pasangan mendahului harinya alias mendahului momentumnya, karena hasilnya kurang menyenangkan, percayalah.  Wassalam (AKW).

***

EMOSI & KATA

Ternyata sejumlah kata bisa damaikan suasana.

CIMAHI, Akwnulis.com. Sebuah luncuran kalimat menohok ternyata diteruskan dengan rangkaian kata yang begitu memojokkan. Membuat jiwa ini tersudut dan seakan mengecil dari kenyataan dunia ini. Seluruh pandangan mata seolah tertuju kepada raga rapuh ini yang terus menjadi bulan-bulanan.

Mengapa begini?”

Kalimat tanya menjadi pembuka, tetapi ketahanan mental dan gejolak emosi harus terkendali karena melihat serbuan kalimat – kalimat penuh tekanan dan tendensius ini mulai menggoyahkan kendali emosi dan menghapus nalar sehat untuk segera berucap demi harga diri.

Gejolak batin harus tertata dengan helaan nafas teratur berbalut kepasrahan. Sebuah kesadaran rasa kembali terbentuk dan menjadi pondasi hakiki dalam menghadapi sebuah kondisi yang kurang mengenakkan ini. Apalagi aura ketegangan mulai terlihat dari wajah – wajah hadirin. Tentu dengan gejolak dan celoteh hati yang berbeda. Ada yang degdegan takut kena giliran disemprot, tapi ada juga yang merasa senang melihat raga ini menjadi sasaran dan tak bisa sama sekali memberikan perlawanan.

Sementara hamburan kalimat terus mendera, jiwa terdiam dan emosi stabil menjadi pegangan. Tentu dengan berdzikir dalam hati yang terdalam, kita harus kuat dan tenang dalam hadapi kenyataan. Apalagi sikap kita dalam menghadapi ini tentu menjadi penentu bagi sikap teman – teman yang semakin kikuk dengan ketegangan.

Maka wajah tetap tegak dan menatap pembicara tanpa menghadirkan ekspresi berlebihan. Kata anak sekarang mah, B aja alias ‘biasa’ aja. Pikiran yang relatif stabil dengan hati yang damai memberi kestabilan emosi yang sejajar maka apapun kalimat yang dagang, biarkanlah sebagai bagian dari perbaikan di masa mendatang.

Lagian kenapa juga harus tegang?”
“Padahal tegang itu ada saatnya, ada tempatnya khan?”

Alhamdulillah dengan semua ketenangan ini, perjumpaan formal akhirnya usai dan semua bubar dengan membawa segala persepsi dan kekesalan. Penulis sih santey aja, lha wong pembahasan tadi bertujuan untuk perbaikan, meskipun disampaikan dengan penuh penekanan.

Ingatan tiba-tiba terbang ke 20 tahun lalu, disaat menjadi birokrat muda yang baru menapaki karir. Sebuah doktrin dari atasan harita, “Sabar Jang, jadi staf mah ukur 2 urusan, dititah jeung dicarèkan (Sabar, menjadi staf itu hanya 2 pilihan, yaitu disuruh & dimarahin).

Jadi senyum sendiri dan menjadi catatan penting bagi diri ini, bahwa secuil kalimat apresiasi bagi anak buah menjadi berharga dan menumbuhkan motivasi bekerja lebih baik, disamping dengan kemarahan dan perintah.
Maka untuk menetralisir semua gejolak rasa ini, diperlukan penyeimbang yang hakiki. Tentu doa penenang adalah utama, tetapi secangkir kopi akan menjadi penetralisir rasa dan rupa. Maka segera bergerak meninggalkan tempat pertemuan menuju pertemuan lanjutan dengan sang kohitala, Kopi hitam tanpa gula.

Bergerak kemana?”… tunggu tulisan selanjutnya. Hatur nuhun (AKW).

GAYA GESEK HUT RI

Akhirnya misteri terpecahkan.

CIMAHI, akwnulis.com. Hari ini sudah menapaki awal bulan agustus, sebuah bulan yang memiliki makna keceriaan, banyak aktifitas dan banyak kesempatan menikmati aneka jajanan karena banyak even atau kegiatan yang digelar. Sekaligus sebuah kesempatan untuk mengumpulkan berbagai hadiah perlengkapan sekolah dari mulai tas sekolah, buku tulis, buku gambar, spidol, penghapus, uril, penggaris serta handuk dan kaos. Tentu itu kita dapatkan jika kita bisa menembus juara 3 besar diberbagai lomba yang digelar dan sangat terbuka kesempatan karena semua serempak mengadakan kegiatan.

Badanku dulu yang atletis dan proporsional tentu menjadi penantang berat bagi peserta dari berbagai lomba. Kegesitanku membuahkan hasil serta ketahanan badanku ini mengantarkan menjadi juara 3 besar lomba makan kerupuk, lomba memasukan botol kedalam paku, lomba balap karung hingga lomba mengambil koin  didalam semangka berbalut oli plus juara juga pada lomba gebuk bantal diatas sungai.
Termasuk lomba berkelompok seperti lomba panjat pinang dan lomba estafet memasukan belut ke dalam botol. Maka tas sekolah baru dan perlengkapannya bisa menjadi kebanggaan disaat masuk sekolah.

Tapi ada satu lomba yang selalu terlempar dari posisi 3 besar dan raihan prestasi tertinggi hanya juara harapan 2. Maka hadiah yang didapat hanya ucapan harapan dan jabat tangan saja. Ternyata itu berbekas dan menjadi rasa penasaran yang mendalam. Apalagi selama 3 tahun berturut-turut selalu kalah oleh Agus, Asep dan Ade. Padahal lomba tersebut sederhana, hanya lomba lari sprint jarak sedang dan hanya 2 kilometer saja berkeliling kampung. Tapi terdapat beberapa halangan yaitu jalan tanah yang licin serta menanjak dan menurun. Disini posisi lemahku, selalu terjerembab tanpa sebab akibatnya tertinggal beberapa detik berharga dan hanguslah mahkota tiga besar juara lari ini.

Hadiahnyapun sebetulnya sama, tas sekolah dan buku tulis serta sebuah medali. Tapi gengsi kalah terus itu yang mengharuskan melakukan pengecekan di beberapa lokasi yang menjadi titik lemah. Maka biasanya sore hari sepulang sekolah akan menyusuri pematang sawah dan menuju rute lomba lari tersebut serta mencoba track lari yang telah dan akan kembali digunakan.

Di lokasi tidak ada yang aneh, tetapi jelas licinnya tanah merah dan digabung embun berair menghasilkan track basah dengan tingkat indek ketergelinciran 97% alias super duper mudah tigeblug eh terjatuh sambil mengaduh sementara para penonton menjadi riuh dan tak mau menjauh.

Otak berputar dan merekonstruksi adegan disaat harus berbelok tajam sambil menuruni rute ini. Ya memang menantang dan beresiko tinggi tergelincir dan terjatuh. Berarti faktor kegesitan individu peserta lari dan posisi badan serta kaki disaat melewati titik – titik berbahaya ini.

Rasa penasaran ini tersimpan rapi sehingga tetap memberi warna berfikir tentang kejadian ini. Tentu diperlukan penjelasan ilmiah bukan hanya pendekatan keberuntungan semata. Maka disaat waktu istirahat sekolah bergegas menuju perpustakaan dan mencari referensi ilmiah yang tepat dalam memecahkan fenomena ini. Berbagai buku literatur dicari dan dipadupadankan agar menjadi sebuah penjelasan ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

Ternyata di buku Fisika bersua dengan sebuah teori yang cocok dengan fenomena ini, dimana rumusnya adalah fg = u.N yaitu gaya gesek dengan perhitungan satuan internasionalnya menggunakan besaran newton. Teori ini menyatakan bahwa semakin kasar permukaan suatu benda maka gaya geseknya semakin besar. Tetapi jika permukaan yang bersentuhannya halus maka gaya geseknya kecil.

Ada 2 jenis utama gaya gesekan yaitu statis dan kinetik. Jika statis adalah bekerja diantara dua permukaan yang tidak bergerak relatif satu sama lain. Sementara kinetis bekerja diantara gesekan benda – benda yang bergerak.

Berbekal pengetahuan tersebut maka dipadankan dengan momentum tiseureuleu eh terjatuh pada titik tertentu di lintasan balap lari tadi. Setelah memadu nalar dengan teori dan konsentrasi memusatkan perasaan diri maka asumsi yang terjadi adalah gesekan antara tanah merah basah dengan kulit kaki bagian bawah. Karena lomba lari tersebut memang bertelanjang dada dan bertelanjang kaki saja. Berarti faktor telapak kaki yang menjadi penentu.

Maka sejak penemuan itu, diri ini berlatih jalan kaki dan berlari-lari tanpa alas kaki agar menghasilkan telapak kaki yang memiliki gaya gesek yang maksimal yaitu memiliki alur alami yang akan mengurangi traksi. Alhamdulillah para hadirin sidang pembaca yang terhormat, setahun kemudian mahkota juara lari tanpa alas kaki di level kampungku berhasil diraih dengan kemenangan mutlak juara pertama selama 2 tahun berturut-turut. Sebuah tropi dan 2 medali menjadi saksi bisu keberhasilan ini.

Apalagi ada saksi abadi yang bertahan hingga kini, yaitu kondisi telapak kaki yang beralur dan memiliki gaya gesek tinggi karena tergabung dalam klub PAS (perpecahan antar suku).. suku dalam bahasa sunda, artunya kaki. Kaki yang lebar dan tentu beralur inilah yang menguatkan diri dan meopang tubuh setiap hari tanpa khawatir terpeleset lagi. Dalam bahasa sunda terkenal dengan sebutan ROROMBEHEUN atau fisura tumit dalam bahasa indonesia.

Selamat bermalam sabtu dan bersiap memeriahkan aneka lomba dalam rangkaian kegiatan HUT RI ke 78. Wassalam (AKW).

SANÈS KITU – fbs

Karandapan pisan, ambuing.

FIKMIN # SANÈS KITU #

Gempungan pasosonten, Jang Ulis kerung macoco kana layar lèptop, ramona mencètan kibod pikeun nyatet sagala rupi kecap nu kadangu. Ki Lurah nu janten pupuhu gempungan katingal rada teu raos manah. Sagala rupi didugikeun anapon nu sanès padamelan.

Rèngrèngan Kadus nu tadina ngadugikeun pamendakna ngadadak rèpèh. Sapalih tungkul margi biantara Ki Lurah asa sanès ngabahas bagbagan pasualan dèsa. Tapi langkung seueur urusan pribadi nu langkung paos dibadantenkeun diluar gempungan ieu.

Ulis mah teu seueur saur, teras wè ngetik dina lèptop. Tring! Aya WA lebet, dirèrèt geuning ti bojona, “Akang nuju naon?’

Ulis teu wantun nyepeng hapè margi nuju gempungan, bilih diseuseulan pupuhu. Tapi teu ngawaler WA bojo ogè tiasa janten masalah ageung. Dicobi dina lèptop ngangge WA wèb, ‘Hapunten nuju gempungan, geulis’

Teu lami, Ki Lurah lirèn cumarios. Hadirin nahan rènghap. Ki lurah ningal ka katuhu, melong raray Ulis bari ngiceupan, “Nembè nga WA?”
Ulis ngembang kadu.