Bahas KEK di Bogor Icon

Bergerak dan bekerja sambil mencoba merangkai kata. Jangan bertanya kenapa masih banyak kurangnya, tetapi bacalah dengan seksama dan ‘japri’ kalau ada yang tak tepat menyentuh asa.

Photo : Tamanhijau depan ruang rapat / dokpri.

Kala mentari baru beranjak menyinari hari, kami susah melesat menyusuri jalan bebas hambatan berbayar Cipularang – Cikampek – Cikunir JORR – Jagorawi – Lingkar luar bogor sehingga total 4 ruas tol yang dilewati, alhamdulillah perjalanan lancar sehingga waktu 2;5 jam sudah mendekati tempat tujuan sesuai yang tertera di Undangan.

Tak ingin berbasa-basi dan tak suka berujar harap, tetapi sebuah usaha menangkap kata meskipun berjuta makna untuk dipintal menjadi cerita yang bisa berguna bagi yang suka ataupun memang demi pelaporan semata.

Yup, rapat inipun adalah suatu wujud komitmen bersama antara pihak pemerintah baik Kementerian Pariwisata, Kemenko Perekonomian, Pemprov Jawa Barat, Pemkab Pangandaran dan Sukabumi untuk mendorong Badan Usaha yang menjadi Pengusul Kawasan Ekonomi di Provinsi Jawa Barat.

Photo : Suasana Rapat FGD / Dokpri.

Telah berpuluh rapat beraneka diskusi yang dijalani tetapi tak ada kata menyerah menghadapi semua hambatan dan halangan yang ada justru menjadi lecutan untuk mampu lewati semua tantangan dengan cara bergandengan tangan bahu-membahu tanpa terganggu ego sektoral untuk wujudkan harapan bersama.

Berikut tersaji catatan hasil rapat pembahasannya, semoga bisa memberi secercah manfaat baik secara administratif juga mungkin melengkapi konten untuk raih hasil yang kompetitif.

Haturan….

Assalamualaikum Wr Wbr.
Laporan kegiatan Acara Forum FGD Penguatan Kemitraan Jejaring Kawasan Terpadu & Pengembangan Kawasan Wisata Terpadu Kementerian Pariwisata, di Bogor Icon Hotel, Selasa 05 Desember 2017 sbb :

I. Rapat dimulai oleh Pa Burhan Kemenpar lalu dipandu oleh Pa Azwir selaku Ketua Tim Percepatan KEK Kemenpar dihadiri oleh Pa Arifin KabiroSPIBUMD, SahliEkbang, KabiroDalbang & KabiroProdi Setda Prov Jabar. Direktur Badan Usaha Pengusul KEK di Jabar, Pemkab dan Tim Perintis KEK Prov Jabar.
Prof DJP selaku Ketua Tim Perintis Pembangunan KEK Provinsi Jawa barat datang menyusul.

II. Acara dimulai dengan paparan dari 4 Pimpinan Badan Usaha Pengusul :
a. Pa Anggoro Dirut KCIC
b. Pa Dani Direktur PT. Bintang Raya Lokalestari – Geopark Sukabumi.
c. Pa Abi Direktur PT PMB Pangandaran.
d. Pa Virda Dirut PT BIJB.
disela acara tersebut dilaksanakan Prosesi penandatanganan Kerjasama antara PT. Bintang Raya Lokalestari – Geopark Sukabumi dg PT PGN (Perusahaan Gas Negara) dlm rangka dukungan investasi pembangunan dan pengembangan KEK di Kabupaten Sukabumi.

Photo : Refleksi gaya kebersamaan / Dokpri.

III. Kesimpulan FGD Penguatan Kemitraan Jejaring Kawasan Terpadu adalah :

A. Pak Arifin :
1. Pembagian tugas yang jelas antara tugas teknis adminstrasi, fungsi eksekusi & Substansi di pemkapb dan pemprov Jabar.
2. Mekanisme pengusulan sesuai regulasi dan dokumen administrasi segera dilengkapi seperti berita acara verifikasi di level kabupaten dan selanjutnya dikirimkan ke gubernur dengan surat pengantar bupati untuk diverifikasi di level provinsi, baru gubernur membuat surat pengajuan usulan KEK ke Dewan Nasional KEK.
3. Tambahan 1 slide tentang perbandingan pertumbuhan ekonomi di jabar dengan adanya KEK untuk segera dilaporkan ke Tim Perumus.
4. Perlu simulasi final dengan Badan Usaha Pengusul sebelum pertemuan Gubernur dengan Menpar tgl 14 Desember 2017.

Photo : Menu maksi (sebagian) / Dokpri.

B. Pa DJP :
1. Kesimpulan hasil pertemuan tgl 23-24 Nopember 2017 dari 6 vadan usaha pengusul dikategorikan Berdasarkan kelengkapan perrsyaratan adalah KEK Pangandaran dan KEK Cikidang Gepark Sukabumi disebut Batch I dan KEK Walini KCIC dan KEK Kertajati BIJB adalah Batch II dan sisanya KEK Jatigede Sumedang & Purwakarta kemungkinan mundur karena tidak bisa melengkapi persyaratan.

2. Selain syarat normatif yg tercantum pd PP 2/2011 & Permenko BidEko No 07/2011 juga ada surat pernyataan dari Direksi Badan Usaha Pengusul bahwa dokumen yang diajukan adalah benar dan bisa dipertanggungjawabkan serta status lahan yang diajukan tidak sedang bersengketa juga sah legalitasnya.

3. Bertanggungjawab secara eksekusi & substansi usulan dan teknis administratif berdasarkan regulasi adalah AsdaEkbang & KabiroSPIBUMD.

C. Pa Buchori, Sekretariat Dewan Nasional KEK :
1. Beberapa isu penting dlm usulan KEK : Ketersediaan Air sehingga AMDAL harus ada, Pemerataan Ekonomi, Kepastian Luas Lahan, komitmen Investor dan pembuatan tabel untuk memudahkan monitoring & evaluasi.

2. Untuk BIJB secara konsep rencana bisnis sudah dinilai OK oleh Wakil Ketua Sekretariat Dewan Nasional KEK tetapi ketersediaan lahan tetap menjadi syarat utama. Jikalau belum dimiliki bisa saja dikuasai dengan kerjasama yang mengikat dan janfka waktu yg jelas seperti dengan pihak Perhutani.

3. Sepakat dengan ide adanya panduan yang jelas dan penyajian usulan proposal KEK dari Dewan Nasional KEK, tetapi untuk saat ini masih informal dimana tahapan usulan KEK ini berproses di Tim Kecil DNKEK, level Eselon I Kementerian hingga mengerucut di Sidang Dewan Nasional KEK.

4. Hal penting dalam usulan KEK ini adalah terkait Devisa negara yang bisa dioptimalkan.

5. Top of mine dari tiap usulan KEK harus diterjemahkan dalam bentuk angka-angka yang rasional seperti laju pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan perkapita.

D. Pa Azwir :
1. Lahan yang diajukan harus clear & clean, pengusul yang jelas dan dukungan penuh pemerintah daerah.

2. Tindak lanjut dari akselerasi usukan KEK ini akan ada pertemuan dengan Menteri Pariwisata. Surat undangan pertemuan Pak Menpar dengan Gub jabar, Gub jatim, Gub babel, Gub Sumbar pd tgl 14 Desember pukul16.00 wib sd 18.00 akan dibuat oleh kementerian Pariwisata.

3. Gubernur diharapkan hadir dengan para bupati pengusul KEK serta para mitra calon investor yang akan berinvestasi di area KEK.

4. Mari kita dukung penuh Usulan KEK dari 4 badan usaha pengusul sehingga momen berharga ini dapat menjadi sejarah khususnya terwudnya KEK Walini dan Kertajati yang akan mengubah konstalasi ekonomi di Jabar.

Photo : Rada Eksis dikit / Dokpri.

Demikian laporan dan info kami, semoga KEK di Provinsi Jawa Barat dapat segera terwujud. Wassalam. (Akw).

Sakoteng Einstein.

Perjalanan malam minggu menjemput istri, mendapatkan pelajaran yang berarti untuk menambah kemantapan dalam meniti kehidupan ini.

Photo : Pa Udeng Sakoteng / olanumot.

Dinginnya malam di Bandung utara terasa menggigit permukaan kulit yang terbuka. Tetapi malam ini harus dihadapi demi janji jemput sang istri. Keroncong irama perut berima menggugah selera, mengingatkan alarm lapar untuk segera mencari pengganjal perut yang tengah merana. Perpaduan dingin dan lapar segera dieksekusi mata.

Memandang sekitar dengan fokus dan tajam. Tap…….. sebuah warung makan menjadi pilihan. Segera raga ini menepi menambatkan seikat tali agar tunggangan tak hilang kala ditinggal makan. Tak banyak basa-basi karena perut ingin segera diisi. Tunjuk itu tunjuk ini akhirnya sepiring hidangan untuk makan malam tersaji. Rolade, ayam sambel ijo, telur dan Ati ayam (tanpa nasi) menemani malam yang makin menusuk kulit ini.

Photo : Makan malamku / Olanumot.

Usai acara mengganjal perut maka sang waktu terus berpaut. Bergegas menuju tunggangan yang masih setia menunggu. Sesaat mau bergerak, mata terpaku melihat sesosok pedagang yang terlihat gesit melayani pelanggan dan berpenampilan rapih. Penasaran, tak jadi pergi dan perlahan mendekati bapak kurus berambut hitam perak. Sesaat mengingatkan kepada sang ilmuwan jenius Einstein. Tapi setelah beberapa saat bercakap, bukan sodara atau keluarga malah tak tau einstein itu siapa.

Namanya pa Udeng dan berjualan Sakoteng, sebuah sajian makanan atau minuman yach?… soalnya kuahnya banyak. Disajikan panas-panas sangat cocok untuk melawan dinginnya suhu di dataran tinggi bandung utara tepatnya di area Barukai Cisarua KBB. Disimpulkan aja ah, Sakoteng tersaji sebagai minuman penghangat badan yang diisi oleh bermacam campuran yaitu potongan roti, kacang sangrai, kelapa serut, pacar cina, simping pedas, campuran jahe dan tak lupa krimer susu kental manis. Tapi tak berani mencoba karena alasan yang ada. Yang pasti bungkus aja buat istri tercinta yang sedang tugas jaga.

Pengamatan singkat dan pembicaraan yang ramah dengan Pa Udeng berbagi tips tentang usaha berdagangnya yang terus bertahan sejak tahun 70-an hingga saat ini dan bisa menjadi sumber penghasilan sehari-harinya adalah :
a. Tampilkan sajian produk yang rasanya enak dan menarik.
b. Gerobak dan meja kursi tertata rapi dan bersih termasuk penampilan pedagangnya.
c. Bersikap ramah kepada pembeli, sedikit bercanda dengan tetap menjaga sopan santun.
d. Jangan lupa niatkan ihtiar usaha berdagang ini adalah ibadah untuk menjemput rejeki dari Allah SWT.

4 poin penting yang didapat dari Pa tua ini semakin menghangatkan pemahaman dan betapa rasa syukur merupakan modal untuk wujudkan ketenangan hidup dimana keimanan adalah pilar utama dalam meniti perjalanan hidup ini.

Photo : Spanduk Sakoteng / Olanumot.

Sebelum pamit iseng nanya singkatan ‘SKG’ yang tertera di tembok tempat pa Udeng berjualan. “Itu mah singkatan dari ‘Sakoteng Koboy Garut’, bapa dagang sakoteng rada ngoboy ti baheula ogé wedalan garut.” (Bapak berdagang Sakoteng, berpenampila Koboy dan lahir di Garut). Pa Udeng menjawab dengan senyumannya yang khas.

Jangan lupa kawan, menurut tuntunan agama, infak shodaqoh itu diambil dari sebagian rejeki pendapatan kita. Yaitu dari Gaji arau ujroh, yaitu balasan bagi jasa kita. Harta yaitu apa yangcdimiliki bisa dijual dan diwariskan. Milik adalah sesuatu yang dimiliki tetapi tidak bisa dijual dan tidak bisa diwariskan seperti senyum, tenaga, pikiran dan doa.

Jadi keramahan yang salah satunya menyajikan senyum yang tulus itu ibadah. Senyum itu infak shodaqoh yang sangat mudah kita lakukan, selama niatnya ikhlas, insyaalloh berpahala. Wassalam (Akw).

*)Catatan : Saran masukan dan pertanyaan dari beberapa suhu dan kawan, ijinkan hamba menambahkan sebaris dua baris coretan….

Lokasi jualan Sakoteng pa Udeng klo dari keluar toll gate baros itu 12 km menuju arah utara Kota Cimahi yaitu Jalan Kolonel Masturi. Perjalanan 32 menit dengan kontur menanjak memberi sensasi tersendiri.

Melewati pusat Kota Cimahi trus nenuju utara. Setelah setelah jalan berbelok kanan di depan gerbang masuk SPN Sekolah Polisi Negara Cisarua Lembang. Sekitar 300 meter ada Alfamart, disitulah Pa Udeng berikhtiar dengan bendera perusahaannya Sakoteng Koboy Garutnya. Nhn.

Diajar Ngaji… *)

Haréwos jaman teu gedag ngoyagkeun paniatan salira nu tos jangji ngadoja manusa.

Photo : Ilustrasi nu keur meuleum domba bari mopoék / Olanumot.

Ngabeulit ati ngaréngkas raga, ngan teu bisa aral subaha. Ukur ngahuleng bari ngabetem nyerangkeun laku salira. Teu ngukur umur teu émut yuswa . Kumincir lain wayah, mijah bari sakapeung owah.

Ragamang leungeun kokoréh, niat noél ka salira. Tapi hampos da geuning geus salin rupa jadi gundukan méga. Tulang ilang, irung nu mancrit leungit. Diganti ku rumasa nu nabeuh goong dina tonggong gorowong.

Mapatkeun jampé pamaké, salira beuki réhé. Ngaréngkénék dipengék ku seungit kélék. Salikur panon ngiceupan teu eureun-eureun. Tuluy ngagorolong simata lolong. Gancang metakeun jurus pamungkas, salira ngadon ngigel ngawut-ngawut anggel. Nyirihil bari nyeuhil tuluy ngaharéwos bari bobos, “Tong hariwang kang, da geus tugas ngaing ngajak sia ngajauhan surga.”

Teu loba mikir jeung tatanya, ayat kursi ngajait diri, Alpatihah nyuaykeun pitenah, alhamdulillah. Salira ngaleungit bari susuit, muru incuing nu anteng nyeukseukan peuting.(Akw).

*) Sebuah genre karangan bahasa sunda yang disebut fiksimini, tulisan fiksi dengan maksimal 150 kata. Sudah membangun alur cerita dan idealnya dengan diakhiri ‘rénjagan’ atau kejutan bagi pembaca. Komunitasnya bernama FBS (Fiksimini Basa Sunda).

Mengejar dirimu….*)

Melawan rasa menyeret hasrat untuk bisa bersua denganmu meski jarak tetap membuat jarak berlaku. terima kasih atas kehadiranmu yang senantiasa tepat waktu.

Langkah lelah berbuah hikmah, sengal dan peluh hilangkan keluh. Genggam berpadu menyusuri waktu, erat berpilin membentuk siluet kebebasan. Perjalanan ini harus tetap bergerak karena kehidupan tak kan pernah diam.

Photo : Sunrise di Ciwidey / dokpri.

Disaat teman-teman kembali terlelap bergumul dengan selimut kemalasan setelah shalat shubuh berjamaah. Maka dicoba menyeret langkah menapaki jalur bukit untuk mengejar dan menyambut hadirnya rutinitasmu menyinari alam dunia hingga nanti terbenam di ufuk barat.

Photo : Pagi yang dingin di penginapan dokpri.

Shalat shubuh tadipun menjadi sebuah pembuktian dari aneka motivasi dan nawaitu dari masing-masing. Ada yang memang sudah terbiasa, ada juga yang takut atau segan sama pak Boss yang hadir pribadi, atau juga ada yang memang belum bisa tidur hingga adzan shubuh berkumandang karena kedinginan yang teramat sangat atau akibat bersendagurau dan bermain gapleh bersama hingga lupa terhadap ketika, luruh berbalut waktu sehingga akhirnya dini haripun tiba.

Kembali kepada langkah yang terus menjejak terjalnya punggung bukit serta bercampur tanah merah yang sangat licin sehingga kehati-hatian menjadi keharusan. Meninggalkan teman-teman sekantor yang bersibuk dengan kepentingan masing-masing sebelum sarapan pagi dan kegiatan outbond dimulai.

Kenapa kamu bersusah payah menyendiri demi abadikan sesuatu yang biasa terjadi?…

yap, momen matahari terbit adalah biasa, tetapi yang luar biasa adalah bagaimana mentafakuri kehadiran sang mentari pada punggung bukit kehidupan, bergerak perlahan menyemburat sinar keemasan, memperlihatkan setitik mikron saja dari bentuk keagungan Allah SWT. Lokus untuk menikmati kehadiranmu adalah sensasi tersendiri, meskipun harus berpeluh dan melawan dinginnya hari, tetapi kehadiranmu dengan semburat keemasannya dan lambaian aneka warna harapan dalam harmonisasi keindahan, begitu memukau melupakan segalanya.

Menikmati kehadiranmu yang tak pernah ingkar janji adalah cerminan diri, begitupun disaat harus kembali dan bertukar harapan dengan sang bulan, semua dijalani dengan ketenangan. Tak pernah dirimu bertahan untuk terus menyinari bumi, tetapi legawa disaat waktunya sudah tiba pada saat yang dinanti untuk kembali bersiap menghadapi esok hari.

Akh kok jadi melo begini.. tapi itulah kekuatanmu yang menjadi bukti bahwa diri ini tiada daya tiada upaya tanpa restu dan perkenan Allah Sang Maha pencipta.

Setelah tuntas mengabadikan kehadiranmu ingin rasanya memandangi dan menikmati kehadiranmu hingga tenggelam nanti. Tetapi kewajiban kehidupanpun harus dijalani karena itulah yang menjadi tugas kami, yaitu untuk berserakanlah di bumi.

Wassalam (AKW).

*) Curhatan ringan mengejar sunrise di Dataran Tinggi Ciwidey.

Ternyata kamu… *)

Seikat rasa yang tergelitik emosi diatas aspal kehidupan yang panas.

Photo : Dokpri.

Sebenarnya tak kenal dengan pemilik mobil putih kecil itu, tetapi tiba-tiba pas masuk jalan tol langsung terasa begitu akrab dan menjelma menjadi seteru. Tak mau mengalah dan saling susul menyusul, malah hampir bergesekan bagaikan perlombaan rally yang berujung penghargaan. Terasa aura emosional berpadu dengan adrenalin menjalar ke sekujur tubuh, bergerak lincah mendidihkan darah. Memaksa sang kaki menginjak gas hingga lewati batas toleransi. Jemari menggenggam erat stir dan mata begitu fokus melihat pergerakan depan, samping dan belakang.

“Pokoknya tidak boleh kalah, titik!!!.”
Gaung doktrinasi menggenggam otak, memaksa diri untuk berontak, salip kiri bahu jalan menjadi lumrah seolah harga satu nyawa itu sangat murah.
Entahlah, semua terjadi begitu saja.

Duel unjuk kemampuan masih terus berlangsung, saling salip sudah tidak terhitung. Disaat mampu mendahului, terasa degub jantung nengencang dan rasa khawatir disalip mencuat meski kesombongan terasa sesaat sebelum disalip ulang oleh sang kompetitor. Mobil putih melesat kencang mendahului dari bahu jalan.

Segera dikejar tanpa melihat lagi tanda kecepatan yang lewati batas kewajaran. Dada bergemuruh penuh peluh, rasa kalah terasa menyeluruh tapi perjuangan belum usai karena terlihat mobil putih kecil itu jauh didepan tetapi mentertawai dengan tingkat kepuasan tertinggi.
Hampir saja jarum kecepatan di spedometer protes karena melewati 220km/jam, tetapi tak kuasa menolak karena aura persaingan masih menggelegak.

Tepat 30 menit kami “berlomba”, hingga akhirnya mendekati pintu gerbang pasteur dan terjadilah gesekan bodi mobil karena berebut ingin duluan menempelkan kartu e-toll dan keluar dengan rasa masygul. Tanpa kesepakatan kami meminggirkan kendaraan masing-masing. Hamburan kosakata sampah sudah berbuncah dimulut tinggal disemburkan, tetapi….

Yang keluar dari mobil putih sang kompetitor adalah seseorang dengan postur tubuh gagah dan mukanya bersih serta mirip aku. Dia tersenyum sambil mengulurkan tangan, “Maafkan saya yang telah mengganggu kosentrasi mengemudi anda” Aku terdiam karena seolah sedang bercermin. “Kamu siapa?” Meluncur pertanyaan dari bibir yang bergetar. Dia tersenyum, sementara amunisi sumpah serapah yang tadi siap membuncahpun susut dan hilang tanpa disadari.

Aku menunduk sesaat untuk meyakinkan diri bahwa ini bukan mimpi. Tetapi saat wajah kembali diangkat, sang kembaran sudah menghilang begitupun kendaraan putih yang ditungganginya. Hanya tersisa selembar kecil kertas putih yang agak kekuning-kuningan. Perlahan berjongkok dan memungut kertas tersebut. Dibaca perlahan, ‘Lain kali jangan ngebut lagi ya bro.’
Raga terdiam pikiran termangu, sambil menatap goresan di bodi mobil hasil gesekan tadi. Ucap istigfar memenuhi rongga keteledoran. Memberi ruang untuk sesaat terdiam sambil merenungi hikmah kejadian. Wasssalam. (Akw).

*) Coretan iseng menemani perjalanan melintasi tol Cipali.

Nyaah Ka Indung

Nyaah ka indung mah utama, tapi cara jeung rupa tangtu kudu maké rumpaka.

“Huwaaaaaa…… huaaaaaa!!!” sora ema ngahudangkeun saimah-imah. Patinggurudug Enang, Enung jeung Ening ngaboro datangna sora. Kaciri indungna diuk dina risbang, nginghak balilihan. Enang rikat ngusapan tonggong, Enung meuseulan bitis jeung Ening nyusutan cipanon nu ngagarantung dina damis indungna.

“Tos ema teu kedah sedih, palaputra aya didieu ngajagian” Enang ngalelemu indungna. Ma Iroh kalah ngagoak bari nyekelan hapé nu ngajeblag poto Abah almarhum.

Enung mairan, “Insyaalloh Abah tos salamet di kalanggengan, urang kintun du’a waé ma” Enang jeung Ening unggeuk nyaluyuan.
Tapi Ma Iroh angger cirambay bari curukna tutunjuk kana layar hapé.

Teu lila Ma Iroh eureun ceurikna, tuluy nyarita bari dareuda, “Ari nyaraah ka kolot mah, buru eusian pulsa hapé ema atawa téthering, méh bisa muka yutub deui, tadi pareum pas keur kakagokna”

Teu talangké tiluanna lumpat ka enggon séwang-séwangan. Enang ngahurungkeun téthering, Enung jeung Ening meuli pulsa maké internét béngking. Ema Iroh répéh ceurikna. Tengah peuting jadi jempling deui. (Akw)

*Manusia Bertajuk Waktu* 2)

Lanjutan cerita tentang asa bersua rencana, memupuk cinta fana dan menuju akherat sana, tapi jangan lupa bahagia.

Alhamdulillah, lanjutan tulisan tentang *Manusia Bertajuk Waktu* yang merupakan penangkapan dari tauziah Ustad Aam Amiruddin bisa dilanjut lagi….. beginih lanjutannya :

Photo : Mentari mengintip di taman belakang gesat / dokpri.

Life is temporary alias hidup itu sementara. Setelah ditulisan sebelumnya menyampaikan 4 persefektif pembagian waktu yaitu :
1. Ad dahru.
2. Al maukut.
3. Al ashr.
4. Al Azl.

Maka sekarang membahas tentang bagaimana supaya kita bisa menggunakan waktu yang dimiliki atau dinikmati secara berkualitas.

Pertama, senantiasa Khusnudzon atau berbaik sangka. Jikalau mendapatkan informasi dan berita, lakukan Tabayun (cek & ricek dan crosscheck), apalagi sebagai pemegang amanah jabatan. Harus tabayun disaat menerima informasi sepihak sehingga keputusan atau kebijakan yang diambil tidak mendholimi orang lain atau pihak lain. Disisi lain manakala berhadapan dengan orang yang tidak suka, iri dan dengki maka tetap berkhusnudzon dengan mode waspada. Karena dalam hidup ini senantiasa ada 3 sikap manusia di sekitar kita yaitu : Suka – Tidak Suka – Tidak Peduli. Seperti cerita Lukman bersama anaknya membawa keledai.

Kedua adalah sikap Harus menerima apapun yang Allah SWT tetapkan untuk kita yaitu Takdir. Baik buruk, senang sedih adalah episode paket kehidupan, sikap menerima ketetapan Allah-lah yang menjadikan waktu kita berkualitas.

Ketiga adalah Lakukan selalu Muhasabbah atau Introspeksi diri dari semua yang telah dilakukan, dilaksanakan dan di jalani. Jikalau dalam pekerjaan terdapat kesalahan, jangan menyalahkan orang lain atau anak buah tapi introspeksi dulu dan kalau kita yang salah maka gentle mengakui bahwa itu kesalahan kita.

Sebagai contoh adalah kisah Nabi Adam A.S. Banyak yang meyakini bahwa Nabi Adam diturunkan oleh Allah ke bumi karena memakan buah khuldi di Surga. Padahal di dalam Alquran tidak ada ayat yang menjelaskan itu. Dalam QS Albaqarah 30-37 disebutkan bahwa Nabi Adam A.S terusir dari surga karena mendekati pohon khuldi dan setan menggelincirkannya.

Tetapi Nabi Adam tidak menyalahkan setan sebagaimana tercantum dalam QS Al A’raf 27. Begitupun kita, belajar untuk tidak menyalahkan pihak lain.

Terakhir, Keempat adalah Jalani hidup ini dengan keyakinan bahwa semuanya ada batasnya. Senantiasa berbuat baik, niscaya kita atau anak keturunan kita yang akan menuai kebaikan itu.

Hatur nuhun, itulah sekelumit tulisan yang berasal dari penangkapan dengar tauziah senin pagi di Mesjid Al Muttaqien Gedung Sate.

Photo : Merumput segar di Taman belakang / dokpri.

Tuntas dengerin tausiah ternyata waktu apel pagi masih jauh. Maka segera beranjak berganti kostum yaitu kaos dan sepatu olahraga. Bergerak dan bergerak menyecap segarnya pagi di kehijauan taman gedung sate. Berbagi lembutnya embun dengan sang pucuk rumput yang menanti setia datangnya hangat mentari membawa hari-hari berseri.(Akw).

*Manusia Bertajuk Waktu*

Jalani hari berburu waktu, bersama dinginnya pagi dan semilir keengganan untuk meraih waktu yang berkualitas.

Photo : Gedung sate ba’da Shubuh / dokpri.

Sentuhan dingin di senin dini hari telah menjadi teman sejati. Membelah temaram berteman lampu jalan, sudah lumrah dan malah berwujud sebuah kebutuhan. Menjalani perlahan dan menjadi kebiasaan, terhindar dari crowded nya kemacetan senin pagi sekaligus nge-cas keyakinan agar nambah paham dan juga bersua dengan banyak kawan.

Senin pagi (06/11) ba’da sholat shubuh, ustad Aam Amiruddin yang memberikan tauziah dengan judul : Manusia dalam Perspektif waktu.

Sambil terantuk oleh ngantuk, terbuai oleh suasana senyap. Jemari berusaha menari diatas keyboard smartphone, menuliskan rangkaian kata bermakna untuk ditulis semampunya. Mari kita simak gan :

Assalamualaikum Wr Wbr.
Manusia selalu bertransformasi, beradaptasi menyesuaikan dengan keadaan, tetapi ada yang tidak merasa berubah, itulah uniknya.

Terdapat 4 (empat) istilah yang terkait manusia dalam dimensi waktu yaitu :
1. Ad dahru.
2. Al maukut.
3. Al ashr.
4. Al Azl.

Pertama adalah Ad dahru, dimana manusia itu asalnya tiada.. menjadi ada dan selanjutnya tidak ada. 100 tahun lalu kita tidak ada, sekarang ada hadir kedunia tanpa bisa memilih dilahirkan dimana, oleh siapa dan menjadi suku mana atau menjadi bagian bangsa mana. Sehingga yang masih mengutak atik suku bangsa dan asal muasal, itu termasuk Jahiliyah lho (kata pa Ustad).

Setelah itu kita semua tiada, meninggalkan dunia fana sesuai dengan hitungan masing-masing yang merupakan rahasia.
Perbandingan lamanya hidup di dunia dibanding kehidupan akherat menurut sabda Nabi Muhammad adalah “Celupkan ke air laut, kehidupan dunia bagaikan air yang ada ditelunjuk sementara Kehidupan akherat adalah air yang ada di samudera”. (Punten klo ga lengkap seperti Haditsnya ya….)

Kedua adalah Al Maukut yang berarti bagaimana manusia memanage waktu. QS Annisa 103. Dalam hal memanage waktu harus definitif seperti waktu sholat, jelas batasnya jelas saatnya. Sehingga kehidupan inipun harus jelas program kerjanya, rundown-nya gimana, kapan dan siapa yang menjadi pelakunya. Mari kita terbiasa menetapkan waktu secara definitif, nggak boleh terlalu abstrak dan jangan ambigu.

Ketiga adalah Al Ashr, semua pasti udah tahu surat ini, surat yang rutin dibaca sholat menemani kulhu dan inna a’toina. Pengertiannya disini adalah bagaimana manusia mengisi waktunya dengan berkualitas. Waktu 1 hari tetap 24 jam, tetapi cara mengisi waktunya masing-masing individu berbeda. Contoh waktu 1 jam antara magrib dan isya diisi oleh si A dengan membaca Alqur’an sementara si B menonton televisi dengan tayangan yang gitu-gitu ajah. Nah menurut ajaran Islam, orang yang beruntung adalah orang yang bisa mengisi waktu dengan berkualitas.

Yang terakhir, keempat adalah Al Ajl yaitu Ajal. Dalam QS Yunus ayat 49 disebutkan bahwa setiap umat ada ajalnya, setiap orang tidak ada yang bisa menangguhkan dan mempercepatnya. Selanjutnya dalam QS Annaml ayat 96 disebutkan bahwa.. yang ada digenggamanmu akan habis…. rambut memutih, rontok, gigi morolok karena semuanya fana. Termasuk kecerdasanpun akan menurun seiring waktu. Semua ada ujungnya, pegawai pada akhirnya pensiun juga. Khusus pegawai yang punya amanah jabatan, antisipasi dari sekarang masalah post power syndrome dengan cara perkuat iman agar ikhlas menerima kenyataan.

Demikian tangkapan dengar cernaan pikir dari hamba yang penuh kekurangan tentang tauziah senin pagi minggu ini. Ada sambungannya tentang bagaimana cara supaya waktu yang dimiliki temporary ini berkualitas… bentar lagi ditulis dulu.

Sementara ini dulu. “Kucing ungu berkencan sambil tersenyum cantik, sabar menunggu sambungan karena sedang diketik” Wassalam. (Akw).

Baradé lurrrr!!!…

Baheula nu geus kasorang, kapungkur nu masih nunutur. Ulah janten bangbaluh tapi ropéa janten pangaweruh supados tetep lingsig tur lintuh.

Photo : Spion di buruan masjid / potlang.

“Harita mah pakaya jeung pangajén meuni dalit dina kahirupan amang….”, dongéng mang Usa bari pepeta, mertélakeun pangalaman keur jegud loba pakaya. Meuni pogot jeung rada somseu, tanggungan cingcau diantep heula da keur anteng bacéprot nyarita jaman harita.

Sanajan meureun dongéng hirupna dibalur ku wadul sawaréh, kanyataan sawaréh. Sanajan matak uruy bin kabita, tapi da geus kaliwat. Ayeuna ukur jadi sauted carita sapuruluk dongéng nu bakal ngahiang ukur ku angin halimpu nu ngaliwat teu loba ucap.

Mang Usa masih bacéo, pepeta bari surungah séréngéh. Nu ngadéngékeun patingkoléséd, bedo rék meuli cingcau dan nempo nu dagangna lain ngaladangan tapi ngadon norowéco teu eureun ngomong. Mang Usa beuki motah, taneuh dirawu tuluy dihuapkeun. Cingcau dikeduk bari dibalédogkeun kanu araya, atuh kabéh paburisat nyalametkeun diri. Lain pedah bisi nyeri dibalédog cangcau, tapi horéam wé lamokot héjo bari geunyal.

Mang Usa maceuh bari ngagerem, panon beureum tapi rambisak. Teu lila léwéh, nangkuban dina sisi tegalan, nginghak tuluy gagaukan. Puluhan pasang panon nyerangkeun, tapi teu wani ngadeukeutan da sieun kumaonam.

Teu lila mang Usa eureun ceurikna, cengkat bari nempo ka sakurilingna, tuluy ngagorowok, “Baradé cingcauna lurrrr!!!” Leungeunna lamokot taneuh tegalan jeung késangna. Nu nempokeun dumareuda.(Akw).

Tanjung Lago2

Bergerak menyusuri aliran sungai dan rawa, menuju tanah pengabdian yang ternyata penuh kejutan dan pelajaran tentang nilai kebersamaan.

Photo : Jembatan Ampera di Sungai Musi / Dokpri.

Sambil menikmati semilir angin sore, wajah lelah berganti cerah. Meski kami beda asalnya tapi disini kami sama, nasiblah yang mempersatukan dalam agenda Latsitarda, sebuah wahana latihan bersama lintas matra multi institusi pendidikan kedinasan untuk beintegrasi bersama. Hilangkan ego demi menjadi bagian dalam pembangunan bangsa yang diawali pengabdian kepada rakyat diseantero nusantara.

Perahu yang kami tumpangi adalah perahu terakhir, 4 perahu telah duluan meluncur membelah rawa. Kami harus menanti sang nakhoda yang sibuk memperbaiki mesinnya yang katanya sedikit bengkok karena sesuatu di rawa sana pada saat perjalanan menjemput kami.

Setelah menunggu 45 menit, perahu dinyatakan laik jalan maka kami satu persatu naik. Selanjutnya duduk seenaknya…. disinilah kami, diatas rawa tak jelas arah duduk berjuntai menikmati suasana tanpa ada pelatih kepala, sesaat terasa merdeka sambil menikmati roti kelapa yang tersisa. Tetapi kesantaian kami terusik mulut usil pengemudi perahu, “Bapak-bapak maaf, kakinya jangan di berada di luar perahu, berbahaya”

Photo : Moncong ikan lupa namanya yang hidup di Sungai Musi / dokpri.

“Ah bapak, bahaya apanya?. Ini sungai tenang begini” Kawanku menjawab sedikit angkuh dan kami sepakat meng-amini.

Lelaki tua itu tersenyum, tanpa banyak cakap tangannya membuka roti kelapa yang tersisa. Lalu melemparkan ke sungai di dekat ujung kanan perahu. Sambil tangan kirinya memegang kemudi perahu. Kami hanya melihat atraksi ini tanpa atensi, cuek aje.

Tapi……. gemericik air tenang berubah menjadi kengerian karena hanya hitungan detik disamping kanan kami terlihat tiba-tiba gambaran jelas moncong buaya muara yang menyantap roti kelapa lalu kembali ke dalam air dengan menyisakan siluet tubuh kekar ukuran 3 meteran dan ombak kecil memberi pesan kegarangan. Kami bersepuluh bagai terhipnotis sihir alami, serempak menarik kaki menjuntai kami dipinggir perahu, terdiam sambil berpandang-pandangan, kengerian itu membekas, dalam.

“Baru kemarin ada yang hilang di seret buaya, karena tak mau dengar peringatan saya. Dicari sudah tak ada jasadnya”, terdengar suara datar sang pengemudi perahu yang semakin mengukuhkan kengerian ini. Untuk sesaat luntur sudah kegarangan dan kegalakan senioritas di ksatrian berganti rasa kerdilnya diri dihadapan alam yang merupakan sentilan dari tuhan, Allah Subhanahu Wataala bahwa kita manusia itu tidak ada apa-apanya hanya seperti setitik debu tiada arah.

Photo : Ikan Buaya / Dokpri.

Perjalan menyusuri sungai rawa ini terasa begitu sepi dalam kebisuan, kami semua waspada karena ternyata alam liar penuh kejutan. Air sungai yang dirasa tenang ternyata menyimpan rahasia kehidupan yang mendalam. Siapa sangka bahwa dibawah kami ikut pula berenang buaya besar dan ikan raksasa…. sungguh ngeri membayangkan semuanya.

Suara serangga sore menyambut hadirnya kami yang melintas di wilayahnya. Suara alam yang menenangkan sekaligus menegangkan. “Hey kawan coba lihat di pohon besar depan sana!!” Joni anak Akpol berseru sambil menunjuk. Terlihat pohon besar yang diisi oleh sosok seperti manusia dengan jumlah sangat banyak. Ternyata monyet berwarna abu sedang bercengkerama bersama!!!. Kami merasa senang karena ada hiburan, tetapi peringatan pengemudi perahu melumerkan lagi nyali kami yang sempat menguat, “Maaf jangan pada ribut, monyet itu bisa menyerang, mencakar, menggigit dan melukai kita”…. semua terdiam dan waspada.

Benar saja, pada saat melewati pohon besar atau pohon raksasa yang semakin jelas berada di depan mata. Terlihat beratus monyet berwarna abu kehitaman karena sedikit tersaput kabut sore, sungguh kawan… itu bukan hitungan satu hingga sepuluh monyet, tapi ratusan!!! Jadi inget Film The Rise of The Planet of The Apes, dimana manusia jadi budak dan monyet sebagai penguasa planet bumi.

Photo capture film dari gugel.

Perlahan tapi pasti perahu gethek kami mendekati… mendekati dan detik-detik yang menegangkan begitu memompa adrenalin kami. Tangan waspada memegang apapun yang mungkin dijadikan senjata jika terjadi penyerangan tiba-tiba.

Pelan-pelan dengan kecepatan normal, perahu bisa melewati pohon raksasa tempat bersemayam ratusan monyet…. mungkin ini kerajaan monyet. Satu meter… ua meter… perahu melewati kerumunan, tiba-tiba terlihat dari dahan yang cukup tinggi, seekor monyet besar menunjuk-nunjuk ke perahu kami. Serempak semua monyet menengok dan berteriak dengan suara khasnya, “Nyeeet… ngok… arrggg.. grok.. grok…nyet.. nyeet” menggema suara ancaman bak orkestra kematian, kami saling memandang dengan wajah siap bertarung untuk menunggu komando perlawanan. Gemuruh suara teriakan ratusan monyet terus terdengar di belakang, tetapi kami lihat tidak ada yang mengejar. Lega lah rasa beban di dada ini. Semua penumpang perahu menarik nafas melepas ketegangan.

Pengemudi eh pak tua nakhoda kapal terkekeh, “Jangan tegang begitu pak, mereka berteriak itu adalah kata-kata sambutan selamat datang” Kami semua melongo, “Serius pak?, tadi begitu menegangkan loh” Mas Abud bertanya dengan nada tak percaya. “He he he he… kalau penyerangan, mereka sudah ngobrak ngabrik nich perahu dan kita semua” .... hiy sungguh seram memikirkannya. Berarti tadi itu teriakan pertama, “Hei kawan tuch ada manusia-manusia lucu pake perahu” Lalu disambut teriakan dari monyet lain, “Iya manusia… hallow”
“Mereka imut-imut, gemes”
“Mirip kita yach”
“Badannya pada sixpack ya?”
Serta beragam komentar lainnya dalam bahasa monyet yang tentu tidak dimengerti, berarti ketegangan tadi terjadi karena faktor bahasa.. ahai, jadi pengen kursus bahasa monyet, tapi dimana?….

Riak air sungai tertutup kabut seakan kami semua sedang menuju dunia lain, udara lembab menusuk hidung memberi sensasi ketegangan lain. Kaki bersepatu lars tetap berada dalam perahu karena khawatir ada mulut buaya yang mengikuti dibawah perahu ini. Dzikir menjadi pegangan diri, menenangkan galaunya rasa yang terus menggelora. Dalam benak kami, “Apalagi yang akan terjadi?”

Satu hal yang pasti ketegangan ini memberi sensasi sendiri, memacu adrenalin dan merekatkan silaturahmi. Kami yang bersepuluh dari asal yang berbeda serasa telah menjadi sodara lama karena berjuang bersama melewati pengalaman menegangkan di alam yang liar penuh kejutan.

Akhirnya setelah menerjang kabut bersaput senja. Perlahan tapi pasti atap perkampungan terlihat nyata, kami melinjak gembira seolah telah lepas dari alam liar dan kembali ke peradaban. Perjalanan dengan perahu gethek selama kurang lebih 3 jam melintasi sungai rawa di Sunatera Selatan ini menjadi pengalaman tak ternilai. Menjadi momentum untuk tafakuri diri bahwa manusia itu bukan apa-apa, tiada daya tanpa kuasa Allah Sang Maha Pencipta.

Didepan kami sungai membentang dengan lebar sekitar 50 meter, disamping kanan terlihat bangunan yang terang dengan lampu penerangan. Terlihat 6 perahu gethek dan satu speedboat tertambat di dermaga sederhana. Kami perlahan mendekat…. mendekat.. mendekat.. Alhamdulillah. Beberapa sosok tubuh dan uluran tangan menyambut kami. Bergerak menginjak dermaga, dan terlihat ada plang lusuh tertempel di bangunan tersebut, ‘Dermaga Tanjung Lago’.

Bersambung…….

(Akw).