LEMBANG, akwnulis.com. Semerbak aroma hutan memberi rasa alami yang melegakan. Sang angin yang tadinya garangpun menjadi santai setelah bercumbu dengan basahnya pucuk lembut daun pinus. Ah memang nuansa hutan mendamaikan.
Apalagi disaat berjumpa dengan sajian kopi dan teh yang diolah dengan tangan terampil plus senyuman, makin lengkaplah hari ini.
Kopi yang menjadi pilihan kali ini adalah Arabica Cibeber Golden Honey, diproses manual brew V60 dengan air panas 85° celcius dan perbandingan 1 : 18 menghasilkan sajian kopi yang beraroma harum, body dan acidity medium serta after taste muncul mixberry serta selarik rasa dark chocolate.
Eh lupa… “Dimana ini teh?”
Tempatnya di Aspacia Coffee di area Orchid Forest Cikole Lembang.
“Trus pilihan tea eh teh nya gimana?”
Buat jawab pertanyaan ini maka semua teh dipesan, ada 3 pilihan yaitu green tea, black tea dan olong tea….
Photo : Coffee + Tea + Nasgor cikur / dokpri.
Rasanya…. masing-masing punya karakteristik rasa tersendiri. (Bikin penasaran yaaa?’)
Oh ya…. saran sih, klo moo kesini bareng-bareng keluarga karena memang suasana hutan yang sangattt luas dan ditata dengan berbagai sisi yang instagramable. Baik tentang aneka anggrek yang ditata begitu teratur dan menawan, tersedia juga tempat bermain anak, rabbit park, mini golf, kuda tunggang, foodcourt, mushola, toilet dan toko souvenir yang pantang dilewatkan.
Photo : Tempat barista beraksi / dokpri.
Nah Aspacia Coffee ini adalah restoran awal yang akan menyambut pengunjung disini.
Cuman saran, jangan ajak orangtua ke area sini, apalagi yang punya keluhan sakit kaki dan persendian. kontur jalanan berpaving-block menurun, cukup menyulitkan.
Itu dulu yach infonya, soalnya ngetiknya butuh perjuangan, sambil goyang-goyang di mobil yang berjalan agak cepat karena ada ada tugas yang musti segera merapat… Hatur nuhun, Wassalam(AKW).
***
Aspacia Coffee.-Orchid Forest. Cikole Lembang, KBB Jawa Barat
Sajian kopi yang bikin hepi, amarah menepi dan emosi hilang sendiri.
Photo : Coffeebery / dokpri.
BANDUNG, akwnulis.com. Dinamika kehidupan adalah keniscayaan, tidak ada jalan lain kecuali menjalani meniti nasib dan hadapi takdir dengan senantiasa bersyukur meskipun terkadang harus berada di titik nadir.
Perubahan rencana bisa datang kapan saja, tiba-tiba tanpa peringatan. Sometimes bikin bete dan menyentil emosi hingga membakar rasa memunculkan amarah.
“Trus lo moo ngapain?. marah-marah sama orang yang lo temuin?”
Opsi itu bisa terjadi dikala kendali emosi setipis tali, tapi bukan cara yang elegan untuk menjalani hari.
Tak perlu bertindak grasa grusu, cukup luangkan waktu sedikit saja. dari ribuan menit sehari berikanlah 2 menit terbaikmu. Berdiam sejenak, tarik nafas panjang perlahan dan jangan memikirkan apapun…
tik tok….
tik tok…
(ini bukan disuruh buka aplikasi tiktok, tapi maksudnya detak jarum jam guedee jaman jadul perdetiknya itu bersuara kayak gitu….)
Tarik nafas panjang dan biarkan semua pikiran tenang melandai.
Gimana hasilnya?…
Pasti akan variatif…. aku mah alhamdulillah, bisa lebih tenang dan emosi mereda, amarah berkurang.. Alhamdulillah.
Lebih ideal lagi segera cari air untuk berwudhu dan shalat sunatlah…. insyaalloh akan lebih tenang lagi.
“Trus kalo yang masih bete dan ada amarah atau minimal masih uring-uringan?”
Nah mungkin tarik nafas dan relaksasinya kurang, atau memang gede ambek… eh pemarah dari sonohnya heu heu heu..piss. ah.
Buat nambah rasa nyaman, tidak ada salahnya setelah tarik nafas tadi segera menikmati sebekong (gelas gede) air putih… nikmaat teh.
“Mau yang lebih nikmat?”
Photo : Sebekong Coffeeberry / dokpri.
Ini dia Kopi dengan rasa buah yang maksimal, kopi arabica dengan manual brew V60 dan pas dimulut terasa banget aneka rasa berrynya. Strawberry besar begitu segar menyentuh lelangit mulut, blueberrynyapyn demikian dan dilengkapi rasa yang sudah jarang berjumpa, yaitu starwberry kampung alias buah arben.. masa kecil mudah sekali menemukan buah arben ini karena merupakan tanaman perdu liar, tapi sekarang menjadi buah yang sangat langka.
Selamat menjalani hari ini kawan, tarik nafas panjanglah sebentar… perlahan lepaskan… insyaalloh amarah dan emosi akan berkurang, apalagi dilanjut solat sunat dan ngopay… insyaalloh suasana akan damai.
Hidup hanya sebentar, mari maknai dengan kedamaian sambil ngopay. Wassalam(AKW).
BANDUNG, akwnulis.com. Photo dan tulisan singkatan ini hanya sebuah refleksi di hari tadi. Manakala waktu libur tiba dan saatnya bersua manja bersama anak tercinta.
Sang anak semata wayang asyik dengan kelincinya yang berlari kesana kemari, bikin gemes dan jerit-jerit. Si Ayahnya juga sibuk bikin kopi Arabica Sunda Hejo pake saringan V60, sambil nenemin anak bermain, tetap waspada kok, tidak ashik… eh asyik sendiri.
Photo : Kopi kelinci coklat / dokpri.
Hasilnya terjadi kolaborasi tak biasa, dimana seteko kaca kopi panas siap saji bersanding dengan kelinci-kelinci lucu yang ternyata mau berpose sesaat, sambil (mungkin) meresapi rasa kopi yang segar hasil ekstraksi.
MAJALENGKA, akwnulis.com. Kabut tipis menemani hadirnya kenangan, semerbak harum kopi yang telah terekstraksi memberi spirit baru dalam menjalani hari, hari yang begitu padat dengan agenda bejibun hingga malam menuju larut.
Yup, perjalanan pagi hari dari bandung menuju bandara kertajati dan menghasilkan beberapa tulisan yang (semoga) ada manfaat bagi siapapun yang memang perlu, terkait dengan fasilitas – fasilitas umum bandara dari kacamata seorang penumpang, diantaranya :
eh kembali ke depan meja ini…. Kopinya keburu dingin klo ngetik terus… padahal setelah beres ngopay musti balik lagi ke bandara kertajati untuk melihat suasana bandara di malam hari.
Photo : Sajian V60 Arabica Naganingrum / dokpri.
Sebelum itu, maka mari kita nikmati sajian Barista Majalengka, tepatnya di cafe apik yang beralamat di jalan Satari 239 Majalengka. Bean yang dipilih adalah Kopi Arabica Naganingrum dan Kopi Sugihwangi, … namanya keren-keren khan?..
Untuk masalah rasa hanya satu, dicoba.. dicoba.. dicoba. Maka Diki sang barista segera beraksi, menggrinder bean naganingrum lalu memproses ekstraksi manual brew dengan perbandingan 14gr bean dengan 200ml air panas 86° celcius…. currrr…. clak clak clak.
Nggak berapa lama sudah tersaji di meja, di sebuah cafe yang hommy, agak sempit duk dek sih…. tapi menambah keakraban karena pageye-geye…. Kebetulan juga cafenya penuh dan ramai, termasuk lengkingan suara parau sang pengamen jalanan yang tiba-tiba hadir di dekat meja kami…
“Ayyyyaaahhhh…. dalam hening sepiii kuriiiiindu…… 🎶🎼🎵dst”
Photo : Akses Bandara yang terang / dokpri.
Sajian kopi V60 naganingrumnya beraroma harum, bodynya medium dengan acidity low after tastenya kurang berasa di bibir… eh di lidah… ada sedikit tamarind, tapi selarik saja… lumayan menemani malam yang dingin dan mengembalikan mood sebelum bertugas eh memantau kembali kondisi bandara kertajati.
Sajian kopi tetep aja disruput tandas, karena sari-sari kopinya masih ada. Tak lupa berbincang dulu sebelum pamit dengan sang barista, nambah saudara dan jaringan sesama penikmat kopi, siapa tahu besok lusa bisa kembali dan bersua lagi.
***
Sebelum beranjak pergi, tiba-tiba berkelebat di fikiran sebuah Undang-Undang. UU 10 Tahun 2008 Tentang Perbankan.
“Lho kok jauh pikirannya, dari Bandara trus kopi sekarang bank?”
“Suka-suka aku, kepala kepala aku, ya bebaas moo mikir apa aja”
Diskusi tidak berlanjut, tetapi produktifitas berfikir harus terus dan tentunya dituliskan di layar smartphone menggunakan keyboard virtual… ta daaaa……
Kaitannya adalah……….. Bandara perlu pendanaan yang sangat besar, baik dari perencanaan, pembangunan hingga pengoperasian dan pemeliharaannya, dimana sumber pembiayaannya tentu salah satunya berasal dari perbankan atau kita kenal dengan sebutan bank.
Bank menurut UU 10/2008 pasal 1 ayat 2 adalah sebuah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lain dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidup orang banyak.
Tuh khan dari sisi pengertian mah bertujuan mulia lho, terus pengertian Bank menurut Pedoman Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) nomor 31 maka bank adalah suatu lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan antara pihak-pihak yang memiliki kelebihan dana dan pihak-pihak yang memerlukan dana, serta sebagai lembaga yang berfungsi memperlancar lalulintas pembayaran.
Tah lumayan khan nambah pengetahuan, “Trus apa hubungannya dengan kopi?”….
“Kopi berfungsi memberi semangat untuk mempelajari hubungan bandara dengan bank!!! 🤣🤣🤣”
“Ah teu pararuguh kamuh mah”
Heu heu heu heu……
Ih nggak percaya, sok aja coba. Menikmati kopi bikin mood lebih baik dan bisa mikir lebih banyak, cobain ayooo….
Kami berangkat kembali, dari arah kota Majalengka menuju Bandara Kertajati (lagi) disaat waktu menunjukan pukul 21.45 Wib. Semangaat. Hatur nuhun(AKW).
Meniti derasnya arus balik lebaran, perlu strategi dan berbagai persiapan.
Photo : Ngopay bray….. / dokpri.
KUNINGAN, akwnulis.com. Perjalanan mudik lanjutan yang lebih menantang adalah menghadapi arus balik, maksudnya ikutan arus balik yang diprediksi tepat di hari terakhir libur idul fitri yakni hari minggu tanggal 09 Juni 2019.
“Mudik kemana gitu?”
“Deket aja, ke Kuningan. Cuma pulangnya musti ikutan pusaran eh puncak arus mudik yang bagaikan air bah memenuhi seluruh jalur tol cipali yang menggunakan metode one way… semua sama-sama menuju arah jakarta.”
Mau nggak mau perhitungan harus mateng bingit, mengantisipasi berbagai kemungkinan di perjalanan karena penumpang yang dibawa rentan dengan kondisi kemacetan yakni seorang anak berusia 3,5 tahun ditambah seorang penumpang yang mual-mual duluan sebelum naik kendaraan.
Awalnya ingin kembali pulang lebih awal sehingga ada waktu beristirahat sejenak di rumah, sebelum kembali mengantor dan sibuk sama rutinitas kerjaan. Tetapi orang tua minta pulang hari minggu… ya sudah… nurut aja.
Inilah beberapa strategi dan persiapan yang dilakukan :
1. Secara berkala melihat kondisi jalanan atau rute yang akan dilalui via google map, apakah via tol dan bergabung dengan arus balik dari Jateng menuju jakarta atau via jalur non tol menyusuri wilayah majalengka-sumedang-bandung. Ya.. setiap 3 jam dilihat mulai H-1, sebagai bahan pertimbangan.
2. Sesekali lihat berita Televisi dan medsos… tapi sesekali aja. Soalnya klo liat medsos eh malah liat cuitan twitter, pic IG dan status temen di FB.. keterusan komen status temen.. jadi sesekali aja yaaa.
3. Nyetok makanan ringan dan minuman…. air mineral yang 600ml trus snacknya yang asin dan berasa manis… supaya nggak bosen dan variasi rassshaa di mulut.
Photo : Setermos kopi robusta rum / dokpri.
4. Pastikan kondisi fit karena akan memegang kemudi dalam waktu yang lebih lama dari biasanya. Ya… itu tadi, kondisi rute yang macet atau musti putar-putar cari alternatif jalan… jadinya jangan banyak begadang meskipun saudara lagi pafa ngumpul. Makan minum jangan berlebihan dan perlu mood booster plus disiapkan minuman penahan kantuk. Woalah… apa itu?… monggo cek photo diatas, itu adalah segelas kopi robusta rum dari pak bos Dodi KadisbunJB, diseduh manual sebelum berangkat dengan V60. Air panasnya sebanyak 300ml dan bubuk biji kopinya (kira2) 40-43gr… maklum gak bawa timbangan digital hehehe….. ini yang jagain mata supaya melek dan badan segar selama perjalanan.
5. Yang terpenting setelah 4 poin diatas tentu meluangkan waktu shalat sunat 2 rakaat, bisa shalat dhuha di pagi hari atau shalat mutlak… berdoa kepada Allah agar diberikan kelancaran, kesabaran dan kemudahan dalam perjalanan arus balik lebaran tahun ini… Amiiin.
Berangkaaaat…. Cussss.
Alhamdulillah, perjalanan Kuningan – Cimahi selama 7,5jam. Penuh petualangan jalan alternatif hingga lewati pematang sawah karena ternyata google map nggak bisa deteksi jalanan ditutup panggung hajatan…. jadi putar-puter ke kebun dan jalan setapak… yang penting cukup satu mobil… hajaaar.
Ikutan arus balik one way di tol Cipali, tersendat 30 menitan di pintu tol Palimanan…. lalu tersendat lagi beberapa kali di dekat rest area hingga akhirnya menyerah…. dan keluar GT Kalijati karena di layar android terlihat antrean panjang merah menghitam mendekati cikampek….. menyusuri jalan desa lalu jalan raya kalijati hingga akhirnya masuk lagi GT sadang dan Cipularang lancar jaya hingga akhirnya tiba di tujuan dengan bahagia.
Hanya saja efek minum kopi robusta rum hingga hampir 300ml berefek dahsyatt…. badan lelah tapi mata melotot… sampe jam 2 pagi… padahal esok hari wajib masuk kerja dimana yang mangkir akan penuh dengan sanksi ancaman…. woaaah, semangaaaaat. Wassalam(AKW).
Selembar photo sejuta makna, legam bukan berarti kelam, tapi legam yang penuh harapan.
Photo : Sang Pembaca berkulit eksotik / dokpri.
CIMAHI, akwnulis.com. Ber-lebaran di kampung halaman tempat kelahiran adalah saat yang begitu berkesan. Selain bisa kembali bersua dengan kawan sepermainan juga mengembalikan kenangan masa kecil yang ternyata menjadi pondasi penting dalam menjalani kehidupan.
Jikalau mesjid besar Al-Kahfi mengingatkan kembali betapa ‘aktifnya‘ (maksudnya aktif bermain dan iseng di mesjid dan sekitarnya).. maka sebingkai photo masa lalu, mengingatkan kembali tentang sosok kecil, lugu dan polos dengan kulit sawo matang sematang-matangnya karena senang sekali ‘natural salon tunning ‘ alias maemunah(moé manéh = berjemur langsung dibawah sinar terik mentari) sambil berburu layangan yang putus dan terbang tak tentu arah mengikuti gemulai angin kehidupan, yang juga ber-efek samping keringnya kotoran hidung sehingga disebut juga -moé korong-…. masa kecil anak kampung yang menyenangkan.
Selembar photo sejuta kenangan, itu bukan hanya istilah, tapi nyata adanya. Kembali memandang photo ini, teringat terasa waktu itu betapa gagahnya, berbaju putih dan celana (pendek) putih… lho kok pendek?…. ya iya atuh, khan masih anak SD. Anak kecil yang punya mimpi besar.
Menjadi petugas upacara sebagai pembaca UUD 1945 di acara Upacara Bendera HUT RI di tingkat Sekolah… eh lupa lagi… atau tingkat kecamatan ya?… ah sudahlah… yang pasti ada bukti udah pernah jadi petugas pembaca…. bukti otentik berupa photo, titik.
Kembali urusan kulit, terlihat begitu legam membahana… mendekati level gelap kehitaman. Tapi jangan salah, kulit super gelap itu tahan terhadap alergi kulit lho…. trus kukurusukan(masuk ke semak-semak) di kebun atau pinggir hutan, nggak khawatir dengan gigitan nyamuk atau serangga. Mereka enggan mendekati kulit gelap, mungkin darahnya pahit sepet jadi males gigit sang nyamuknya hehehehe.
Trus bagus buat penyamaran, sedikit saja ada tempat gelap maka langsung bisa menyatu dengan keadaan menggunakan teknik kamuflase ala bunglon wkwkwkwkwkwkw…..
***
Tiga puluh tiga tahun berlalu, ternyata hobby membaca melekat dalam jiwa, jikalau dulu memang sebagai pembaca dalam upacara, maka sekarang membaca buku masih menjadi pilihan santai di waktu senggang, meskipun ada buku yang senantiasa sedih jikalau dibaca…. yaitu buku tabungan, hiks hiks hiks.
Satu lagi yang masih melekat dengan aktifitas membaca adalah membaca situasi, baca gejalanya, analisis sederhana dan lakukan tindakan, maka hasilnya akan didapatkan.
“Maksudnya gimana?”
Ahh…. pertanyaan yang agak panjang untuk dijawab. perlu bersua dan dijelaskan secara langsung tentang ‘membaca situasi’ ini, karena ternyata tidak cukup keinginan saja, tetapi harus berlatih dan akhirnya menjadi ‘keterampilan’….
“Siyaap mas bro, eh tapi mendingan kontak-kontak dulu, khawatir lagi shaum sunnah syawal (nyawalan)”
“Ah banyak kali kau alasan”
Aku Malas berdebat, karena situasinya tidak memungkinkan. Tapi jikalau waktunya tiba dan bisa berdiskusi, maka ‘membaca situasi’ ini bisa menjadi tema yang (mungkin) menarik. Entahlah.
Kembali photo ini dilihat lebih seksama, terutama latar belakangnya. Barangkali ada wajah kawan-kawan masa kecil yang bisa diingat. Semua mirip, masih lugu, polos dan wajah asli urang lembur (desa) seperti akyuuu….
Semakin diperhatikan wajah-wajahnya, tetap saja belum bisa memastikan wajah-wajah siapa itu, ya sudahlah….
Selamat menikmati mudik dan berjumpa dengan kenangan masa kecil yang tak akan terulang kembali, Wassalam(AKW).
GUNUNGHALU, akwnulis.com. Usai shalat Idul Fitri berlanjut musafahah (bersalam-salaman), bibir terus tersungging dan harapan bersua serta silaturahmi bersama saudara, handai taulan, kawan, tetangga dan sahabat sepermainan menjadi sebuah semangat yang memberi makna mendalam.
Shalat Sunat (muakad) Iedul fitri di Mesjid Alkahfi menerbangkan kenangan yang jauh di masa silam. 30 tahun lalu, dikala usia belia, mesjid ini adalah tempat bermain, bermain dan bermain sekaligus tempat menuntut ilmu agama, pondasi pemahaman agama yang menyelamatkan diri ini di kala dewasa.
Tempat balapan lari ataupun balapan naik sarung yang ditarik teman lainnya, mengitari mesjid yang licin dengan lantai porselen yang baru adalah agenda menyenangkan di mesjid ini. Meskipun harus berkorban di jewer DKM dan sarung jadi bolong-bolong karena gesekan dengan lantai…. itu menyenangkan… asli.
Photo : Musyafahah starts / privdoc.
Dahulu, di halaman mesjid terdapat penampungan air berbentuk bulat, di gunakan untuk berwudhu sekaligus kolam renang gratis bagi anak-anak bandel yang rutin masuk kolam yang disebut ‘kulah‘ untuk mencari kesegaran atau jika beruntung mendapatkan beberapa ‘kijing’, kerang air tawar yang cukup besar ukurannya sebesar telapak tangan orang dewasa dan bisa dimakan dengan memasaknya terlebih dahulu.
Di kolam ini pula, aku dan beberapa kawan di rendam dini hari di hari idul fitri karena insiden takbiran misterius di tengah malam, yang penasaran monggo di klik cerita lengkapnya di ….. PENTAKBIR MISTERIUS.
Ah…. banyak sekali kenangan masa kecil yang terlintas dikala sang Khatib Ied memberikan ceramah dalam bahasa sunda yang berirama. Mesjid ini yang sekarang begitu megah dan bernama Mesjid Al Kahfi, adalah bagian masa kecilku yang penuh keceriaan, tawa, suka dan duka…. mulai paham huruf hijaiyah, belajar kitab sapinah dan jurumiyah (meskipun akhirnya nggak tuntas karena lebih banyak main di sekitar mesjid)… tapi minimal halaman-halaman awal quran dan kitab kuning menjadi pembeda dalam memahami Nur Illahi, di kemudian hari.
Akhirnya sesi ceramah tuntas dan di momentum selanjutnya, saling bersalam-salaman, menebar senyum serta jabat erat dan rangkulan bahu dikala jumpa kawan sepermainan, sepengajian yang telah berubah menjadi sosok bapak-bapak (diriku juga hehehehe), ….. ah sang waktu ternyata tak pernah mau berhenti. Hanya kenangan yang mengajak berjumpa dengan suasana masa lalu meskipun hanya bermain di tataran imajinasi.
Hari ini, bersujud di rumah-MU ya Allah, di kampung tanah kelahiran, bersama keluarga kecilku termasuk my little princes yang begitu excited disaat berjumpa pertama kali dan menikmati suasana di‘Rumah Api’ (Bantu masak di kampung Eyang)….
Sebuah kisah memasak berselubung asap di dapur tradisional milik eyang kakungnya di rumah masa kecilku.
GUNUNGHALU, akwnulis.com. Kali ini aku moo cerita ya guys… Cerita mudikku ke rumah eyang di kampung tempat kelahiran ayahku…
Perjalanan hampir 3 jam, tidak terlalu kurasakan karena lebih banyak terbuai dalam pangkuan ibunda dengan dengkur teratur yang berirama.
Tetapi pas terbangun, suasana siang sudah berganti dengan kegelapan, ternyata sudah melewati waktu magrib. Awalnya bingung lho, tapi karena ayah ibu ada bersamaku, ya sudah…. tenang sajaaaa….
Nyampe di rumah Eyang di kampung yang disebut daerah Gununghalu. Disambut pelukan hangat eyang istri dan eyang akung…. Alhamdulillah.
***
Perkenalan sama rumah api itu, pas jam 10 malem. Aku kehilangan ayah, ternyata ayah lagi mindahin lokasi parkir mobil ke tempat yg lebih strategis sesuai saran eyang.
Aku berjalan ke dapur dan ternyata eyang lagi pada masak…. woaaah langsung gabung donk, khan di rumah udah biasa masak segala macem (maksudnya main masak-masakan)…. “Eyang ikutan bantu yaaa” “Iya cantik, silahkan”…. senangnya.
Lalu Eyang memberi peralatan memasak beneran, ada cocolek, garam, gula dan piring bumbu… lalu diberi meja kursi dan dipersilakan bekerja di rumah api.
Photo : I am Binar, still working at Fire house / privdoc
Iya guys, rumah api beneeraan… ada api yang membara dan membakar kayu, lalu diatasnya ada wajan besar berisi air santai dan potongan daging serta berbagai bumbu yang diurus sama eyang kakung. Eyang putri nyiapin bumbunya lalu membuat tumis sayuran, wortel mentimun… eh acar ya?…. Sambal goreng kentang, bihun, sambal dan goreng kerupuk…. waaah ramaiii….
Di rumah api, selain hangat juga asapnya yang bikin sensasi berbeda, seolah kabut menyelimuti malam dan bau khas asap ternyata bikin suasana mudik makin terasa. Aku mah terus aja bekerja membantu eyang, dan asap yang ada tidak bikin sesak atau perih di mata…. pokoknya jadi aneh tapi menarik… beneraan lho guys.
Ayah juga jadinya ikutan nemenin, ngobrol sama eyang istri dan eyang kakung, ibu juga… jadi di saat mendekati tengah malam, suasana rumah api makin ramai dengan celotehan dan berbagai sajian makanan untuk esok hari, hari lebaran.
Oh iya guys, aku juga kangen nenek, ibunya ibuku yang kali ini jauh, karena mudik ke Kuningan. Ingin menyusul, cuma nggak tahu gimana caranya, cuman bisa berdoa dan berharap semuga ayah ibu masih punya jatah libur dan bisa nyusul ke tempat nenek….. yach sementara rumah api menjadi penghiburku dulu…. Kemoon, masak lagiiii.
***
Catatan Binar, 030619.
***
*)Rumah api : Dapur di kampung, dimana proses memasaknya menggunakan kayu bakar, dalam bahasa sunda disebut ‘hawu’ dan aktifitas menghangatkan badan sambil cingogo/jongkok didepannya disebut ‘siduru’.
*)fikmin : fiksimini, sebuah genre penulisan fiksi singkat berbahasa sunda.
Fikmin # Jikan Anyar #
Haté guligah nyanghareupan isukan, wegah tapi panasaran.
“Kumaha Mang, geus siap lahir bathin?” Mang Badri nanya.
“Nyaéta mang, lahir mah geus sayagi ngan bathin masih palaur, can panceg”
“Maksadna kumaha?”
Uing ngadeukeutan Mang Badri, tuluy ngaharéwos. Mang Badri seuri tuluy unggut-unggutan.
“Engké dibéré ubarna ku amang” kitu ceunah, bari nepakan tonggong.
***
Alhamdulillah akad nikah tur walimahan lancar teu aya halangan harungan. Aya kétang sautak saetik urusan kurang lalawuh jeung pahili bésék.
Peutingna nu hariwang, sieun teu nyugemakeun. Maklum ari calon jikan parawan tingting belekesentreng, ari Uing mah durian, duda ripuh anjrxxt. “Duh sieun teu mampuh.”
“Hayu atuh Kang…” Soanten halimpu dina puhu ceuli, dilieuk téh jikan tos polos sapuratina.
Bati olohok wé teu ngiceup-ngiceup, ningal pinareup nu matak sieup. Deg!.. bumi alam oyag, geutih dina awak ngadadak lancar ngagolak. Gabrug… les poèk.
Bulan madu di rumah sakit, dibaturan mesin EKG jeung jikan anyar. Duh.
Berbuka puasa, tidak lupa bahagia dan nikmati kopi setrika….
Photo : Kopi double espresso dan setrika jadul / dokpri
CIUMBULEUIT, akwnulis.com. Berbuka adalah saat bahagia, tentu ada syaratnya yaitu melakukan ritual puasa.
“Klo nggak puasa, emang nggak bahagia pas (ikutan) berbuka puasa?’
“Kata aku sih, Enggak… Bahagia itu ada syaratnya bro, nggak percaya?.. silahkan di coba”
Sebuah jawaban yang belum memuaskan, tapi karena belum mengalami langsung suasana berbuka tapi sebenernya udah batal (berbuka puasa sebelum waktunya)… maka pendapatku tetep, ‘Bahagia berbuka itu jikalau berpuasa’.
“Trus khan perempuan ada siklus menstruasi, otomatis dalam satu bulan ramadhan ada hari-hari tidak berpuasa?” pertanyaan dengan rasa penuh perasaan kembali digelar.
“Bener itu mah, tapi untuk pembahasan awal tadi, aku nggak tahu, aku bukan perempuannn….”
Itulah sepenggal dialog yang saling mempertahankan argumen tentang salah satu definisi bahagia, padahal poin yang sangat pentingnya adalah sebuah rasa bahagia, wajib hukumnya untuk disyukuri, bukan dipertentangkan.
Omar Khayyam berkata, “Be happy for this moment. This moment is your life”
Tuhh… bener khaan?..
Jangan ketuker yaa, Omar Khayyam ini adalah sastrawan ternama di Iran sekaligus ilmuwan yang mendalami ilmu matematika dan astropologi yang lahir di Nishapur-Iran 18 mei 1048 dan meninggal pada 4 Desember 1131 H.
Di Indonesia juga ada sastrawan terkenal yaitu Umar Kayam yang lahir di daerah Nganjuk Jawa Timur pada tanggal 30 April 1932 dan meninggal pada tahun 2002, beliau adalah sastrawan, sosiolog dan seorang guru besar Fakultas sastra UGM (Wikipedia).
“Balik lagi ke pokok pembahasan kali ini, jadi berbuka puasa dimana, sama siapa dan apakah bikin bahagia?”
Photo : Japanese salad / dokpri.
Kembali pertanyaan bertubi mendera diri, yang pasti kali ini berbuka spesial sekaligus bisa nikmati kopi setrika.
“Naon deui eta?” Sang kawan penasaran sambil mengamati daftar menu sang telah tersaji.
“Silahkaan….” diriku ngloyor ke meja depan sambi membawa secangkir kecil double espresso karena terlihat ada objek menarik disana.
Objeknya adalah sebuah setrikaan masa lalu yang pake pengunci depan, biasanya sih kunci atasnya berbentuk kepala dan badan ayam jago.
Simpan gelas espresso disampingnya, pilih posisi dan….jepret!… Kopi setrikaan berhasil diabadikan hehehehehe.
Kembali ke meja tempat diskusi bersama dan bersiap sesaat lagi berbuka puasa…..
“Allahi akbar… Allahhhhh hu akbar…
….. dst”
Kumandang Adzan magrib membuncahkan rasa bahagia kami, menahan lapar dahaga sedari pagi, termasuk hindari hoax atau forward beritanya…. sekarang saatnya bahagia dengan berbuka puasa.
‘Bismillahiroohmanirrohim”
Air putih dan 3 butir kurma menjadi pembuka, shalat magrib bergantian adalah aktifitas yang seharusnya. setelah itu, barulah kita menikmati bersama, sajian makan minum paket berbuka puasa.
Photo : gulai kepala kakap / dokpri.
Kopi setrikaan perlahan disruput… nikmaaat, dilanjutkan salad ala chef miss be resto yang begitu beraneka tumpah ruah… yummmy, hingga akhirnya appetizernyapun ternyata…. main coursenya kawan setia, Gulai kepala kakap yang menggiurkan…..yang kebetulan tembolok kawanku-nya terbatas, jadi bantu ngabisin hehehehehe. Selamat berbuka shaum di ‘Injury time’ bulam ramadhan tahun ini, Wassalam(AKW).