CIMAHI, akwnulis.com. Pagi ini tepat dua minggu mencoba menyemai bibit berbentuk biji yang harapannya menjadi tahapan awal pengenalan hidroponik mini. Tetapi pas dilihat, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Sedikit rasa masgyul menyesakkan dada, meskipun memang dari awal sudah ada perkiraan bahwa mungkin penanaman ini tidak sesuai harapan. Sebelumnya dapat dibaca di BELAJAR HIDROPONIK.
Masalahnya satu, TERLAMBAT. Yup… terlambat memulai sehingga kualitas biji benih tanaman hidroponik ini yang sangat berkurang. Maklum keterlambatannya… 5 tahun guys alias 1.825 hari… hehehehehehe. Tapi yang penting adalah niat memulainya… hehehe pembelaan.
Nilai yang penting adalah niat memulai dan siap bangkit jikalau dihadapkan dengan kegagalan penanaman perdana ini.. hiks hiks hiks… usap air mata dulu guys.
“Trus gimana?”
Ya nggak gimana gimana, berarti yuk kita mulai lagi menanam bibit atau benih baru tanaman sayuran dengan media tradisional biasa. Pake tanah dan pupuk kandang, isi di polibag dan taburkan benihnya…. gampang khan?.
Tapi sedih itu manusiawi, melihat semua media tanam hanya terdiam membisu menemani butiran benih sayuran yang ternyata sudah lewat waktu tumbuhnya. Keterlambatan ini berbuah hikmah, dimana semangat menanam sayuran semakin membara, meskipun dimulai dari kebun mini yang mungkin akan segera diimplementasi.
Selamat jalan bibit benihku, maafkan atas keterlambatan penanamanmu. Wassalam(AKW).
CIMAHI, akwnulis.com. Salah satu efek pandemi covid19 adalah fenomena belanja di supermarket atau di pasar juga agak berubah. Tidak hanya ibu-ibu, euceu-euceu, teteh-teteh atau ma nini yang mendominasi tetapi juga pemuda, bapak-bapak hilir mudik memilih belanjaan dengan memegang secarik kertas atau menatap layar hape yang berisi daftar pesanan belanjaan yang di reques istri, anak dan keluarga.
Trus ditambah dengan gerakan yang sedikit tergesa plus tatapan saling waspada sambil semua kompak menggunakan masker penutup hidung dan mulut…. sangat sulit menemukan senyum saat ini hehehehe…. yang senyum banyak sebenernya cuman ketutup sama masker.
Kali ini permintaan membeli sesuatu hadir melalui pesan di aplikasi whatsaps dan tanpa banyak cingcong sembari bergerak pulang kantor maka berusaha mampir dinsalah satu supermarket di bilangan pasteur.
Memasuki parkiran terlihat agak penuh kendaraan yang parkir, jangan-jangan banyak orang… tapi gimana atuh?.. ya sudah protokol kesehatan dijalankan selalu. Pake masker sudah pasti, baju lengan panjang sudah dipake, tambah sarung tangan plastik yang buat bikin kue.. baru deh masuk ke supermarket dengan waspada jaga jarak dan jaga hati.
Nah… giliran mencari barangnya.. bingung, ingetnya ‘pacar cina’, pas mau nanya ke si mas pelayan, kelihatan lagi sibuk sementara klo keliling semua rak… kapan dapetnya?… ya udah gugling dulu dengan keyword ‘pacar cina’……
Tring… lhaa kok yang muncul cari pacar cina (chinese)?…. atuh bakal marah besar ibu negara klo cari pacar lagi… menghianati komitmen cinta dan kasih sayang donk… eh tapi beneran ini hasil gugling urusannya cari pacar beneran… puyeng dech.
Sesaat menghela nafas sambil berfikir dan mata berkeliling mencari ‘pacar cina’… tapi belum terlihat saja. Akhirnya mencoba minta tolong pelayan tokonya, “Mas, pacar cina sebelah mana?”.
“Euh…. sebelah mana ya, bentar”
Si mas nya nanya lagi ke pelayan wanita, lalu dengan gerakan tegas menunjuk ke sudut kanan di tempat bumbu-bumbu masakan berada… meluncuuur.
Diubek-ubek dari rak atas hingga bawah, kok belum kelihatan nich ‘pacar cina’… hingga hampir menyerah… eh, tapi itu kayaknya terhalang bungkusan gula merah.
Tadaaa…. akhirnya dapat barang penting yang dicari, sang pacar cina.
Ternyata….. nama resminya adalah sagu mutiara atau mutiara sagu… hiks hiks hiks… keliatan banget kagak gaul bapak ini, maklum tahunya tinggal ready di mangkok dan dimakan dengan ceria.
Atau mungkin excuse-nya karena lagi menjalankan ibadah puasa, jadi di sore hari konsentrasi menurun sehingga lupa dech istilah sagu mutiara hehehehehe.
Alhamdulillah setelah dapat, berlari menuju kasir, bayar dan ngeeeng….. bergerak pulang membelah jalan yang relatif lengang menuju rumah kediaman.
Sebuah nilai yang didapat adalah jangan meremehkan nama bahan makanan atau kudapan, sehingga bingung sendiri karena lupa istilah yang seharusnya.
Selamat berbuka puasa untuk hari ini kawan, pacar cina atau sagu mutiaranya bisa diolah sebagai teman berbuka puasa. Wassalam(AKW).
NAMI ISLAND, akwnulis.com. Kelopak daun menguning menemani perjalanan ini, menapaki sebuah pengalaman berbeda dikala bersamamu. Suasana yang syahdu semakin berpadu dikala rindu beradu dengan belaian angin yang tidak menderu tetapi sepoi-sepoi menyentuh kalbu.
Jajaran pohon yang berbaris melindungi perjalanan ini, semakin menguatkan semangat untuk terus bersama dalam suka dan duka. Meskipun halangan rintangan senantiasa ada, tetapi itulah dinamika yang menjadi kawah candradimuka kehidupan di dunia.
Suasana penat dan lelah berubah seketika, berganti rasa senang penuh keindahan, romansa menjalar dalam urat nadi sepanjang badan, bersemangat untuk menggamit dunia demi penuh hasrat keinginan yang tetiba membuncah tanpa tertahan.
Duduk perlahan di rerumputan kering, berlarian sambil tertawa seakan dunia sudah bukan milik bersama. Mentari siangpun sangat paham dengan keadaan, karena sesekali bersembunyi di balik awan tipis sambil mengantarkan pesan kerinduan.
Begitulah kehidupan fana yang sesaat begitu indah penuh rasa, begitu mempesona sehingga terkadang membuat lupa bahwa ini hanya sementara.
Sungguh aneh tapi nyata, karena rasa bahagia tanpa syarat ini hadir dengan tiba-tiba nir tanda-tanda, hati damai dan raga segar bergerak bersama di rimbunnya pepohonan Nami Island.
Apakah karena banyak tersembunyi pesan cinta? Atau memang suasana tenang yang membuat rasa ini berbeda? Padahal ini bukan yang pertama.
Sudahlah kawan, jangan mendebat hati nurani, biarkan semuanya mengalir tanpa perlu khawatir dengan tahapan selanjutnya. Hidup ini indah, dikala kita bisa mensyukurinya. Hidup ini penuh berkah dikala kita menjalaninya tanpa keluh kesah. Apalagi banyak hal diraih dengan susah payah, sudah sepatutnya kita bersujud dikala cita diraih pada saatnya.
Maka, momentum bercumbu dengan angin rindu perlu dinikmati tanpa pandang bulu. Duduk dan berguling bersama rumput hijau yang luas adalah kesukaan sekaligus menikmati pelukan erat aura pepohonan yang begitu ramah tanpa banyak pertimbangan.
Mari syukuri hidup tanpa melupakan kewajiban, mari jalani hari dengan segala haru biru perubahan.
Sesekali sinar mentari menerobos lindungan daun dan menyentuh wajah polosku, mengingatkan bahwa kenikmatan ini hanya sementara. Jangan terlena, tetapi harus tetap waspada. Karena setelahnya akan banyak hal – hal tak terduga yang menanti di perjalanan selanjutnya.
Sebuah catatan kecil dari seberang lautan sana, Wassalam(AKW).
Pertemuan tidak disengaja bukan hanya say hellow saja, tapi bisa berbeda.
CIMAHI, akwnulis.com. Cerita kali ini adalah sebuah kejadian yang seperti kebetulan, padahal memang skenario Illahi yang sudah dirancang begitu rapih dan tidak terbantahkan.
Pagi hingga siang kesibukan di tempat kerja tidak berhenti, dari mulai penyusunan bahan da konsep hingga meeting – meeting berjarak dengan peserta terbatas plus 1 video meeting virtual yang harus dilakukan.
Yach, situasi waspada pencegahan pandemi corona membuat kita semua harus esktra adaptasi dan harus mampu mengikuti perubahan alam semesta ini. Status wfh (work from home) sudah diatur sedemikian rupa, tentu itu menjadi pedoman untuk memaksimalkan bekerja di rumah, tetapi… dalam satu minggu minimal 2 kali hari harus berada di kantor karena berbagai pertimbangan.
Meskipun tentu perjalanan kantor – rumah – kantor harus extra waspada bermasker, handsanitizer, sarung tangan hingga rajin cuci tangan. Hingga berjaga jarak dan membatasi durasi pertemuan dalam ber-meeting… ternyata yang membuat lelah mudah datang itu karena rasa kekhawatiran tentang penyebaran covid19 yang bisa memgintai dimana dan kapan saja.
Salah satu antisipasinya adalah penguatan diri khususnya asupan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh yaitu Vitamin C, meskipun tentu vitamin lainnyapun tetap penting.
Di sela istirahat kerja mencoba menjambangi beberapa minimarket dan warung untuk membeli vitamin C, ternyata dimana-mana stock kosong…. wadduh, lalu cek via online, harganya berlipat-lipat ngikuten harga masker dan hand sanitizer… alamaak, makin pusing.
Photo : Penerapan standar pencegahan di RM / dokpri.
Setelah waktu istirahat hampir habis, maka kembali bergerak menuju kantor. Tiba-tiba ada pesan whatsapp masuk, ‘Jangan lupa beliin masakan ya, di rumah nggak masak‘… plus nama rumah makan yang ditujunya.
Siettt….
Langsung belok kiri karena arahnya sedikit berlawanan dengan arah kantor, namanya RM dalaraos di jalan siliwangi Kota Bandung.
Ngeeeng……
Tiba di rumah makan, segera menuju etalase touchscreen, maksudnya tunjuk makanan di kaca yang jadi pilihan dan langsung dibungkus dengan ukuran sesuai request. Tapi sebelumnya mengamati kondisi sekitar, terlihat bahwa RM ini sudah menerapkan prinsip pencegahan covid19 yang dianjurkan oleh pemerintah, diantaranya tersedia bak cuci tangan lengkap dengan sabun cuci tangannya di teras lalu antrean dibuat tanda dengan stiker di lantai dan berjarak 1 meter, ada juga hand sanitizer di dekat tempat makanan touchscreen, semua pelayan dan pengunjung menggunakan masker, ada hijab plastik yang membatasi kasir dengan pembeli serta tidak melayani makan di tempat hanya untuk take away saja plus beberapa pengumuman seperti : wajib masker, wajib antri dan yang paling wajib adalah wajib bayar setelah milah milih masakan yang dibungkus.
Nah di kala mengantri inilah tetiba berinteraksi dengan seorang ibu, lalu menawarkan sebotol jamu rempah buatannya. Dari pembicaraan awal tersebut ternyata jamu rempah ibu ini sudah banyak yang mengkonsumsi… keren, dan yang paling menarik adalah pada saat menawarkan jeruk lemon dengan harga bersahabat.
“Wah cocok nich, sumber vitamin C alami dengan harga terjangkau” dalam hati berbicara dan nggak pake lama langsung diputuskan membelinya..
Jreng.
Tuntas dari RM tersebut kembali ke kantor dan menghabiskan sisa waktu kerja dengan menyelesaikan beberapa berkas yang ada serta kordinasi via WAvideocall.
“Gaya banget kontak-kontak pake videocall”
Pada nggak tau yaa…. itu sangat berguna buat pelaporan kinerja harian guys. Jadi pas WAvidcal sambil di capture… dapet deh bukti koordinasinya.
“Oh gitu” Sang penanya mengangguk-angguk mengamini komentar ini.
Kembali ke jeruk lemon, Bahasa latinnya citrus lemon dan memang sangat kaya vitamin C juga unsur vitamin lainnya sehingga cukup dengan diminum air perasannya pagi hari campur madu, sudah cukup memberikan asupan vitamin bagi kekebalan dan kesegaran tubuh. Hikmah perjumpaan tadi ternyata, vitamin C alaminya alias buah jeruk lemonnya langsung diantar ke rumah pake motor oleh ibu Wati yang berjumpa tadi, luar biasa.
Begitulah sebuah cerita sederhana tentang kejadian keseharian yang bisa dianggap biasa, ataupun bisa membaca beberapa makna hikmah yang terkandung dalam kejadian ini. Selamat menjalani perubahan kehidupan dengan tetap optimis dan mengkonsumsi vitamin secara teratur. Wassalam(AKW).
BANDUNG, akwnulis.com. Entah apa yang terjadi, ternyata perubahan kehidupan yang drastis terpampang didepan mata berdampak juga pada produktifitas penulisan ala – ala iseng yang diupload di blogku ini.
Yang banyak muncul adalah keinginan menulis dan ide-ide menulis di dalam otak saja, berkelindan antara amigdala lalu geser ke neocortec atau kadang bermain jauh bersama myelin sampai ke ujung tulang belakang, tapi sayangnya hanya sebatas ide yang berkeliaran.
Andaikan ide itu bergerak terus hingga mencapai jemariku yang lentik inih.. ahay lentik, mungkin akan berhasil wujudkan tulisan di masa yang penuh ketidakpastian ini.
“Eh jangan bilang penuh ketidakpastian, PAMALI!!!” Gelegar petir pengingat memberi semangat untuk tetap berkarya meskipun penuh tekanan.
“Maaf, jadi yang pasti saat ini apa mas?”
“Bukan hanya saat ini, tapi dari dahulu, sekarang hingga nanti masa depan, yang pasti itu adalah –PERUBAHAN-.”
Aku terdiam, atuh keneh keneh wae, eh… tapi bener juga, apalagi yang ngomongnya dia, ya sudahlah.. back to topik.
“Kira-kira yang jadi penghambat utama menulis kali ini apa ya?... ”
Pertanyaan buat diri sendiri inih mah, langsung ingatan menelusuri…. sekejap ketahuan… memang malas nulis hahahaha. Sementara untuk urusan lagi shaum, atau sedang masa PSBB, atau sibuk tadarusan, …. itu mah excuse saja. Karena manakala niat terpatri maka jemari akan tetapi menari menghasilkan tulisan yang (semoga) menyenangkan hati juga ada sejumput informasi yang berguna bagi orang lain juga diri sendiri.
“Trus ini nulis apa?”
Ah pertanyaan yang aneh, ini adalah menulis tentang kemalasan menulis, tetapi dengan menuliskan kemalasan menulis, malah bisa menghasilkan tulisan… bener khan?…. beneeeer.
Jadi ternyata resepnya mudah, DO IT alias LAKUKAN. Tulis saja apa yang terlintas di kepala dan biarkan kata demi kata menyusun diri dengan sendirinya.
“Bisaan… trus aku mah klo nggak muncul idenya gimana?”
… Jiaah malah makin cerewet. Caranya coba dengan menuliskan alasan kenapa ide-ide untuk menulis tidak muncul, apakah karena banyak pikiran, atau lagi bingung ditagih utang, atau malah lagi bingung ngabisin uang dan mau belanja apalagi yaaaa…. (ngarep).
Gitu deh, curhatnya. Ternyata dengan menuliskan kemalasan menulis, menghasilkan paragraf yang lumayan. Alhamdulillah. Selamat menjalankan ibadah shaum di hari ke-7. Wassalam (AKW).
CIMAHI, akwnulis.com. Sebenernya paket ini sudah berpindah tempat beberapa kali, hingga akhirnya diambil dan disimpan ditempat yang mudah dipandang mata. Dengan tujuan manakala niat dan kesempatan waktu berpadu, ini adalah saat yang tepat untuk membuka paket dan mengerjakannya sesuai dengan manual book yang menjadi bagian tak terpisahkan dari paket ini.
Ternyata, kesempatan itu datang dikala pembatasan pergerakan kehidupan diberlakukan, dengan istilah yang keren yaitu PSBB (Pembatasan sosial berskala besar)… awalnya sih masih kepleset nyebut PSPB (Pendidikan Sejarah perjuangan bangsa), sebuah mata pelajaran sejarah di jaman SMA…. eh jadi ketahuan nih generasi tua hahahaha… biarin ah, memang kenyataannya. Generasi grey millenial, generasi yang rambutnya udah sebagian beruban sehingga bercampur dengan rambut hitam maka muncullah rambut abu-abu… xixixixi maksa pisan… ya iyah atuh, daripada disebut generasi kolonial… itu mah terlalu atuh.
Plus bulan ramadhan yang penuh berkah sekaligus tantangan, niatnya mah tadarus terus-terusan tapi apa mau dikata, perlu juga aktifitas lain di rumah sebagai pemberi celah agar kebosanan karena #stayathome itu bisa disalurkan dengan beragam aktifitas yang memiliki nilai guna.
Maka paket hidroponik minipun akhirnya dibuka, sebuah paket yang berumur 5 tahun karena jika diingat-ingat lagi, pas awal pernikahan di tahun 2015lah paket ini didapatkan dari Bunda Agus… woalaaah udah lama banget atuh mas….
Tapi karena semangatnya adalah menghindari gabut non produktif. Dibukalah paket hidroponik ini dan dibaca manual book sebanyak 400 lembar ini dengan seksama dan sesingkat2nya.
Langsung mencari cutter, gunting dan pinset buat jerawat istriku untuk menyempurnakan proses awal menanam tanaman dengan media air.
Mulailah memotong busa sebagai media tanam dengan ukuran 2x2x2 cm, meskipun kenyataannya malah berukuran sangat variatif tergantung selera…. ya sudah yang penting waktu yang ada bisa dimanfaatkan nyata.
Potongan busa dicelupkan ke air dan ditata diatas nampan plastik seperti buat kue lebaran. Nah setiap busa kecil tersebut, di sobek sedikit oleh ujung cutter dan perlahan tapi pasti bibit sayuran yang terdiri dari kangkung, sawi sosin, selada kribo, bayam dimasukan ke dalam busa kecil tersebut dengan menggunakan pinset….. pekerjaan yang seperinya gampang tapi butuh ketelitian dan ketekunan.
Akhirnya setelah berkutat hampir 2 jam, tuntas sudah peletakan benih perdana sayuran di media tanam busa dalam rangka berhidroponik. Sedikit terhenyak karena bibit tanaman ini sudah tersimpan selama 5 tahun, tapi berfikir optimis saja bahwa mereka baik-baik saja dan bersiap bertumbuh menjadi sayuran alami yang siap dinikmati suatu hari nanti. Wassalam(AKW).
CIMAHI, akwnulis.com. Poè ka opat bulan romadon, geuningan kudu ngilu gempungan di kantor. Padahal geus puguh aya panyarèk ti pamarèntah pikeun ngajedog berjamaah di imah.
Tapi geuning, keur pagawè nagri mah aya pasal, ‘lamun di butuhkeun, bisa dipanggil sawaktu-waktu‘. Jadi dina jam gawè, sanajan di imah bari meuweuh ku tugas jeung gempungan onlèn makè aplikasi ‘zum’, ogè kudu rancingeus mun di panggil atawa di titah ngadadak ku dunungan.
Gura giru muru ka kantor, pas tepi langsung asup lift muru ka lantey 12, tempat gempungan.
Rohangan rapat geus di sèt, korsi paanggang 2 mèteran, jandèla dibarukaan, kaambeu bau taeun, èh disinfèktan.
Gempungan mimitina mah lancar, ngan nincak menit ka 20, Haji Uton ngalenggerek bari kawas nu eungap. “Astagfiruloooooh..” kabèh paburisat lalumpatan, lain nulungan.
Langsung kontak ka petugas kesèhatan, teu kudu lila, datang nu marakè APD, nulungan nu kapiuhan, biur ka IGD rumah sakit.
Gempungan bubar, kabèh hariwang, sieun kumaonam.
Sajam ti harita, aya bèja. Haji Uton lain kasarad korona, tapi kapiuhan ku panyakit sèjèn nyaeta virus basusa (bau sungut puasa) kakekeb masker, cag. (AKW).
***
Catatan :
fbs : Fiksimini basa sunda, tulisan fiksi singkat dalam bahasa sunda, maksimal 150 kata.
CIMAHi, akwnulis.com. To the point saja, setelah disruput maka hadirlah rasa kopi dengan body strong, acidity tinggi dan kenikmatan yang hakiki. Apalagi disajikan masih dingin karena baru keluar dari kulkas. Kekuatan citarasa arabica HaLu begitu berkarakter dan memiliki rasa yang unik.
Yup sebotol kaca gede ukuran 1 liter, cold brew kopi buatan cafe biji-rakyat di jalan Supratman no. 90 Kota Bandung sudah tiba di rumah dengan selamat.
Yang bikin senyum dikulum adalah label botol kopinya yang didesain kreatif dengan kata-kata yang agak absurd alias multi tafsir, yaitu : ‘Anda menikmati Biji Kang Yuda, Single Origin Gununghalu Jawa barat‘ dan photo seseorang yang sudah lama diriku mengenalnya sebagai pengusaha muda yang pantang menyerah menanam kopi hingga akhirnya menghasilkan satu kopi khas yang memiliki citarasa unik sekaligus bisa melanglang buana karena kecintaan dan ketekunannya dalam dunia perkopian jawa barat.
Dalam suasana WFH dan kekhawatiran penyebaran wabah ini, maka pesan kopi yang sudah jadi siap minum dengan kualitas terbaik adalah pilihan tepat. Tentu beda orang beda selera, seperti cold brew ini, sajian kopi yang hadir dengan suhu dingin memberi sensasi berbeda bagi penikmat kopi dimanapun berada. Bisa diminum perlahan sambil rapat virtual video conference ataupun membuat konsep dan laporan harian serta mingguan sebagai bagian dari kewajiban ASN, insyaalloh lebih semangat dengan sensasi SPA (segar – pahit – asem)nya.
Lalu jangan lupa, senantiasa berbagi, minimal dengan saudara serumah atau yang dekat jaraknya, karena 1 liter cold brew untuk sendiri itu terlalu banyak… ya iya lah, ah kamu mah suka macam-macam.
Trus jangan lupa, pas orderan kopinya datang maka berlakukan protokol kesehatan pencegahan covid-19. Bisa botolnya dicuci atau disemprot hand sanitizer lalu di elap dengan tisu bersih…. atau botolnya dijemur?…. semua untuk jaga-jaga demi kebaikan bersama.
Klo pas minumnya supaya awet pakailah masker hehehehehe…. salah, atuh nggak bakalan bisa nyruput… yang pasti berdoa dulu sebelum meminumnya dan senantiasa bersyukur atas nikmat hidup ini serta doa khusus kepada Allah SWT agar pandemi covid-19 ini segera sirna dan denyut kehidupan kembali seperti sedia kala. Happy wekeend, Wassalam(AKW).
CIMAHI, akwnulis.com. Mahabuna carita pageblug korona geus ngageunjleungkeun sa alam dunya. Geus lain ukur carita nagara tatangga, tapi ayeuna pandemi geus aya hareupeun soca kalawan nyata.
“Tuluy kudu kumaha?”
Geus teu kudu loba carita, ayeuna diwajibkeun makè masker teh. Masker kaèn keur sakabèh rahayat, bisa diseuseuh tuluy dipakè deui… èh dipoè heula, dilèot (diistrika). Masker anu sakali makè tuluy dipiceun mah keur tanaga mèdis nu ayeuna jadi pahlawan pejoang panghareupna dina enggoning mariksa, ngarawat jeung ngubaran dulur – dulur urang nu didiagnosis positif keuna ku pageblug si covid-19 nu goib tèa. Teu kaciri nyiliwuri tapi nyata loba korbanna.
Photo : Biar eungap agar tidak engap-engapan / dokpri.
Kukituna, ayeuna mah mun kapaksa kaluar ti imah makè masker. Mun perlu di double supaya leuwih pèdè. Prinsipna ‘mending eungap tibatan engap-engapan‘. Mawa semprotan hand sanitizer jeung sabun, bisi manggih cai ngocor, pancuran jeung sajabana, ulah loba kalèkèd langsung kokocok.. kadè lain ngocok, bèda deui hartina èta mah.
***
MASKER
Mari gunakan masker jikalau ‘terpaksa‘ keluar rumah. Wajib hukumnya karena demi keselamatan diri dan juga keselamatan kita semua untuk mencegah tertular viros covid-19 yang terus memakan korban seiring perjalanan waktu dari hari ke hari.
Photo : Maaf ini salah, pake masker anak, nggak cukup / dokpri.
Sebetulnya tidak ingin menuliskan tentang pandemi ini, tapi apa mau dikata, memang ini menjadi tantangan bagi saya, kami, kamu, kita semua dan seluruh manusia di seantero dunia.
Maka lebih baik gunakan masker dengan hati dan pikiran yang tetap gembira. Karena dengan kegembiraan bisa menjaga mental kita tetap kuat dan waspada serta bisa menjalani ketidakjelasan ini dengan tenang dan bijaksana.
Gunakan masker kain yang memenuhi standar, jika dimungkinkan. Jika tidak, maka minimal yang bisa menutup hidung dan mulut. Malah disarankan yang bermotif lucu seperti motif sedang tertawa atau ngupil… lumayan khan jadi hiburan.
***
Kukituna ulah bingung ningal photo simkuring atanapi dina rupi sketsa nu nuju nganggo masker. Teu aya maksad agul, nanging seja ngadugikeun wirèhna nganggo masker gè moal ngirangan wibawa. Malih mah tiasa nyumputkeun kumis tur janggot nu badami nyarambung janten nyaingan kumis – janggot Toni Stark – Iron man Ketua Paguyuban KumjebungTobar (kumis janggot nyambung teu makè ubar) Internasional.
Photo : Anggota KumjebungTobar / dokpri.
Ogè kanggè nu nuju dièt, masker tèh tiasa ngabantos. Carana gampil, upami waktosna barang tuang, si masker ulah dilaan. Anggo wè teras, insyaalloh moal seueur tuangeun nu lebet kana patuangan.
CIMAHI, akwnulis.com. Aktifitas yang satu ini menjadi trend sekarang, apalagi dengan serbuan seruan serta anjuran dan kekhawatiran plus kebosanan karena memenjarakan diri di rumah alias #stayathome demi melawan wabah pandemi yang mencengkeram negeri, pasti perlu celah pelarian.
Dilengkapi dengan peran media sosial yang bisa menyalurkan hasrat narsis agar diketahui buanyaak orang…. dilengkapi aneka tantangan untuk mengajak posting aktifitas ini dengan gaya – gaya unik.
Maka…. terpaparlah diri ini untuk ikutan menampilkan sisi diri yang sedang beraktifitas moyan alias berjemur di pagi hari dikala sang mentari baru beberapa waktu menghangatkan bumi.
Photo : Berjemur bersama bueuk / dok kang ATH.
Kalau punggung yang kena sinar mentari maka disebutnya ‘moto’ alias ‘moè tonggong‘ dan jikalau wajah tersinari langsung maka istilahnya motar (moè tarang)…. ada juga istilah moè korong, itu istilah yang disematkan kepada para ‘layangan hunter‘ alias pemburu layangan putus akibat beradu kuat di angkasa. Istilah ini hadir karena wajah sang pemburu akan senantiasa menengadah ke langit melihat layangan yang sedang bertanding, dan jikalau ada yang putus, maka segera dikejar demi mendapatkan kepuasan… yap kepuasan. Dengan efek samping sang upil (korong) mengering karena terpapar sinar mentari sepanjang hari.
Hasilnyapun lebih ke kepuasan batin saja, karena mayoritas layangan yang didapat dalam kondisi robek karena rebutan dengan hunter cilik lainnya… asli memang, terasa menyenangkan, tertawa dan terkadang bersitegang rebutan layangan putus….. ah pengalaman masa kecil yang tak terlupakan.
Photo : Berjemur bersama kucing dan kawan / dokpri.
Back to topik… di medsos berseliweran anjuran tentang waktu yang baik untuk berjemur alias moyan. Ada yang menyebut maksimal sampai jam 09.00 wib ada juga yang menyarankan jam 10.00 supaya imun tubuh bertumbuh. Ada juga yang berjemurnya dianjurkan diatas atap rumah sambil bolak-balik kayak ikan asin dan telanjang dada.. teteh, ibu-ibu dan ma nini mah jangan yaa… tetap harus menutup aurat… bahayyya.
Maka di medsos berseliweran photo aktifitas moyan ini, dari yang normal hingga yang rada-rada nyleneh bin unik… itulah warga negeri +62.
Diriku juga tentu tidak boleh ketinggalan, mari posting berjemur dengan segala gaya dan keadaan. Tidak usah protes ataupun terkejut, itulah salah satu cara mensyukuri hidup dalam suasana yang sangat berbeda akibat gempuran virus corona yang mencengkeram dunia.
Photo : Jemur full body / dokpri.
Mari berjemur tetapi tetap mengukur waktu dengan teratur, jangan sampai terlalu lama karena khawatir ada efek lain, yaitu kulit menghitam dan terbakar… bahaya itu, apalagi pas berjemur lihat mantan berjemur berduaan, pasti yang terbakar bukan hanya kulit tapi juga tembus ke hati.. sakiiit dan panaasss… aw.. aw.. aw.
Udah ah, mau berjemur dulu sambil rebahan supaya sinar mentarinya hadir merata ke sekujur tubuh dan raga. Tidak hanya muka tetapi seluruh jengkal tubuh bisa merasakan hangatnya sinar mentari yang perlahan tapi pasti semakin panas dan nèrèptèp (panas banget)…. udah ah.
Selamat beraktifitas pagi ini, sempatkan berjemur dan senantiasa bersyukur. Wassalam(AKW).