BANDUNG, akwnulis.com. Malam ini terasa temaram ditemani gemericik air hujan yang bercengkerama dengan dedaunan. Sebuah rasa melesat ke angkasa dan memandang alam sekitar tidak sehinggar bingar dan terang benderang seperti biasanya.
Sebuah rasa khawatir menyeruak di dada, “Apa yang sebenarnya terjadi kawan?”
“Benarkah alam dunia sedang menyembuhkan dirinya dan mengingatkan kepada manusia bahwa kita semua hanya menumpang sementara saja sehingga tidak boleh semena-mena terhadap dunia?”
Sebongkah tanya hadirkan beraneka penasaran dan memaksa kumpulkan cerita dan informasi yang bertebaran di jagad maya. Hasilnya ternyata luar biasa membingungkan, mana yang hoak mana yang kabar burung berkelindan dengan teori kontipasi yang berujung pada kengerian dan kebingungan. Medsos dan jagad maya menyajikan limpahruahan informasi yang mungkin nirfaedah…. ahh pusiiing.
Lebih baik sementara kembali dari langit menjejak bumi, menikmati gemericik hujan yang bercumbu dengan dedaunan. Memberikan harum tanah yang tak bisa dilukiskan. Biarkan rasa syukur melingkupi jiwa dan menyadarkan raga, karena ternyata nikmat bisa tetap menjalani kehidupan seringnya terabaikan sehingga kita lupa kepada sang Maha Punya… Allah Taala.
Sepakat tidak sepakat, ini bukan lagi wacana tetapi sudah nyata di hadapan mata. Jadi mari nikmati dan syukuri apa yang ada dan jangan lupa berbagi dengan saudara kita diluar sana yang mungkin tidak seberuntung kita. Semangaaat, Wassalam(AKW).
CIMAHI, akwnulis.com. Sejumput haru bersembunyi diujung dada kesendirian, sebait harap tetap dipegang meskipun kenyataan belum sesuai harapan.
Hari lebaran yang emosional, harus menahan rindu untuk tidak bisa wajah, raga dan jiwa bertemu langsung dengan kedua orangtuaku…..m yang sebenarnya jikalau hanya bicara jarak, sangat mudah untuk ditemui.
Bersimpuh di kaki mereka, memohon doa keberkahan dan keselamatan dunia akherat di momen hari suci pasca dilatih selama 30 hari di bulan ramadhan 1441 hijriah.
Memeluk ibu bapak dengan penuh kehangatan dan ketulusan, dimana karena merekalah, karena pengorbanan, pola pendidikan, motivasi dan keikhlasan kepada anaknya hingga segalanya dilakukan demi cita-cita hakiki yaitu agar anak cucunya kelak bahagia di kehidupan masa depannya.
Mendengarkan cerita dari ibu dan bapak, betapa kenakalanku di masa lalu adalah rangkaian kebahagiaan yang mengharu biru, tiada umpatan kasar atau bentakan, tetapi peringatan halus yang memberi ketenangan.
Berpose terbaik setahun sekali dengan senyuman dan tawa yang tak pernah habisnya lalu memposting di media sosial agar tahu bahwa dunia ikut bahagia melihat kita ceria, itu dulu karena sekarang harus menahan diri terlebih dahulu.
Maafkan anakmu ibu bapak, pandemi ini membatasi hadirnya raga tetapi jiwa dan asa tetap tidak bisa dihalangi untuk senantiasa menyayangimu sepanjang hayat ini.
Ketidakhadiran kami di kampung halaman adalah bukti kasih sayang kami untuk menjaga kebersamaan ini memiliki kesempatan lebih lama lagi.
Ah sedih….. tapi inilah pengorbanan. Jikalau tenaga kesehatan berjibaku di medan pertempuran menyelamatkan nyawa manusia yang sedang melawan ganasnya covid-19, maka kami disini berkorban untuk menghentikan penyebaran pandemi ini dengan menahan diri, mengendalikan rindu sekaligus menata rasa agar tidak memposting photo ceria bersama keluarga di media sosial kita.
Karena….. mungkin banyak yang berduka atau malah merasa pengorbanan ini menjadi sia-sia akibat terjebak oleh sebuah kultur budaya yang sebetulnya bisa kita tahan sementara.
Ah sudahlah, jangan berfikir pengorbanan rasa ini sia-sia, ikhlaslah menata asa, karena hanya Allah SWT yang tahu pengorbanan kita, semoga menjadi pahala yang menyelamatkan kita di dunia dan alam akherat nantinya.
Tetap jaga silaturahmi dengan memanfaatkan teknologi tanpa harus pergi-pergi di masa pandemi ini.
Secangkir eh setengah cangkir kopi coldbrew cukup mengerti kegundahan ini, ditemani semerbak bunga sedap malam yang mekar mewangikan kesepian malam ini. Tanpa banyak basa basi merelakan diri disruput gelas pergelas hingga sebotol 250 ml tandas tuntas tanpa ampas dan keharuman bunga seolah tiada batas.
Banyak sekali yang ingin dituliskan untuk mewakili kegundahan ini, tapi biarlah sisanya tersimpan di sanubari dan catatan hakiki milik alam semesta ini.
Bapak dan ibu, maafkan kami.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah.
Jiwa semoga kembali suci dan bersiap melanjutkan hari, menjaga ibadah seperti sebelum idul fitri, serta tidak lupa kembali menulis tentang hari ini dan cerita kopi.
Semoga pengorbanan ini menjadi berkah, dan sembuhkan gundah menjadi masa depan yang indah. Wassalam(AKW).
Minuman tradisional penjaga imun tubuh, imun kuat tapi imin dan iman harus lebih kuat.
Photo : Jamu berlima sedang bersama / dokpri.
BANDUNG, akwnulis.com. Nah siang kemarin sudah hadir dihadapanku 5 botol minuman kesehatan alami yang terdiri dari 3 botol jamu rempah herbal dan 2 botol jamu kunyit asam. Packing yang rapih serta terlihat segar di siang hari, ternyata menggoda juga di siang hari bulan ramadhan ini….
Dari dua jenis minuman sehat alami yang tersaji ini di klaim oleh sang pembuat betul-betul menggunakan bahan-bahan alami terbaik… insyaalloh percaya apalagi ini bulan puasa, berbohong khan merusak pahala.
“Jadi klo nggak bulan puasa boleh bo’ong?”
“Ah dasar kamu mah, tetep aja nggak boleh, cuman di bulan puasa lebih dahsyat akibatnya karena merusak nilai pahala”
“Iyaa A ustad hehehehe”
Photo : 3 sekawan jamu / dokpri.
Jamu rempah herbalnya memang kumplit dengan bahan-bahan yang terdiri dari kunyit, gula aren, temulawak, jahe, sereh, kayu manis dan air.
Sementara Jamu kunyit asem udah jelas bahannya kunyit dan asam kandis.. bukan bahan lain yang mengandung rasa asem. Nah dua-duanya punya bahan yang sama yaitu air…. lhaaa iya atuh, masa nggak pake air, gimana minumnya?.. ntar seret di tenggorokan atuh kang.
Tidak lupa ditambah gula aren kualitas tinggi agar rasa yang dihasilkan tidak getir dan pahit seperti ditinggal menikah oleh mantan gebetan…. halaah apalagi nich, maksudnya supaya segmentasi penikmat jamu ini tidak hanya kalangan penggila jamu saja tetapi juga bisa buat anak-anak, remaja dan mudamudi yang tertarik menikmati minuman tradisional alami ini.
“Kenapa jadi suka jamu kang, kopinya berhenti?”
Photo : Wedang jahe, ini mah bonus / dokpri.
Ih kepo amat, ya suka-suka aku aja, mau seneng kopi, mau seneng jamu ya bebas-bebas aja…. eh tapi ingat diriku ya, nggak boleh menggerutu. Sang penanya pasti pihak yang penasaran karena selama ini objek tulisannya adalah #ngopay alias sruput kopi manual dan selanjutnya dituangkan dalam bentuk tulisan ala-ala.
Itulah kehidupan, sebuah tema blog yang telah dipublikasikan harus dipertanggungjawabkan. Yaa memang taglinenya ‘ngopay dan ngojay‘, tetapi di moment shaum ini ada sedikit geser variasi konten tulisan dengan hal lain diluar tema kopi kopi kohitala kotala dan sebagainya, insyaalloh pasca idul fitri besok akan kembali menulis artikel bertema kopi.
Kali ini kosentrasi dulu untuk menuntaskan tulisan ini, yaitu jamu rempah dan jamu kunyit asam yang memiliki fungsi guna sebagai penambah stamina dan imun tubuh. Sebuah kegunaan minuman alami yang begitu penting di masa pandemi covid19 ini.
Harganya 20ribu/botol dan variannya adalah Jamu Rempah herbal, Jamu Kunyit Asam, Jamu Jahe dan bisa juga request jamu lain, seperti jamu buyung upik… ahaay serasa masa kecil… kecuali jamu cepat kaya untuk sementara belum diproduksi. Pembuatnya seorang ibu tangguh yang di support anaknya seorang pemuda kreatif dan brilian yang membantu ibunya disela-sela usahanya yang spesifik berkaitan dengan printer 3D (halah sotoy, ini hasil cerita dari ibunya....)
Photo : Jamu Kunyit Asam / dokpri.
Jadi cekidot, minum jamu yuk guys… Srupuuut… suegerrr… insyaalloh sehat bugar dan imun terjaga sehingga bisa melawan atau menangkal penyakit khususnya Covid19….Alhamdulillah, Selamat berpuasa di hari terakhir bulan ramadhan tahun ini, semoga masih diberi kesempatan jumpa di tahun depan, Wassalam(AKW).
Photo : Jikalau ilustrasi ini tidak sesuai dengan cerita, mohon abaikan / dokpri.
Fbs : fiksimini basa sunda, seratan fiksi (rèkaan) dina basa sunda. Sanès kisah nyata, mung ngarang wè kaditu kadieu.
Fiksimini basa sunda, tulisan fiksi (karangan belaka) ditulis dengan bahasa sunda. Bukan kisah nyata, hanya mengarang tulisan kesana kemari (AKW).
# SONO PISAN #
Teu acan lami tepang sareng salira tapi naha bet hoyong patepang deui, meuni kacida. Èmutan marojèngja, antawis hoyong tepang sareng kasieun. Sieun dina panampiannana ngaraheutkeun manah balarèa. Sanaos anggang ku waktos, tapi geuning jamparing kapanasaran mah teu tiasa dipungpang, ngabelesur meulah jaman.
“Akang kunaon huleng jentul waè?” Soanten halimpu bèbènè nu didieu ngagareuwahkeun pikir. Rikat wangwangan salira dibuntel ku imut ngirut, “Teu aya nanaon geulis, kumaha kumaha?”
BDG, akwnulis.com. Terkadang memang sebuah nilai di dunia itu relatif, sesuatu menjadi sangat bernilai padahal sebenernya biasa saja bagi sebagian orang lainnya. Tapi ternyata sebuah nilai yang diukur dengan harga, membuat sebagian orang penasaran dan ingin ikutan memiliki dan mencobanya. Malah merasa bangga dan merasa ‘lebih’ dari orang lain jikalau sudah memiliki dan menikmatinya.
“Ngobrol apa sih kamu?”
“Eta geuning, kue Oreo warna merah yang tulisannya SUPREME, dibanderol 500ribu per bungkus yang isinya cuman 3 buah”
“O may gattt…. aya gitu?”
Deziggg…..!!!!
“Ah nggak gaul pisan”
“Bentar.. bentar, googling dulu…… (sambil buka browser di hape)… “Uluhhh mahal pisaaan, serius itu teh?”
Akhirnya muncul komentarnya setelah membaca kenyataan. Diriku tersenyum, ya memang begitu kenyataannya.
“Mengapa menjadi begitu mahal?”
Ya nggak tahu… yang pasti pro dan kontra pendapat pasti akan ada lha wong inilah ciri kehidupan dunia, selalu ada beda pendapat karena memang satu sama lain beda pendapatan.
Klo yang pro, maka berbagai untaian kata yang mungkun bermakna akan mendukung kemahalan ini dengan mengatakan bahwa bukan 3 buah oreonya saja, tetapi merk Supreme-nya ini yang memiliki nilai jual tidak terkira. Karena membangun brandingnya bukan waktu yang sebentar, penuh suka duka. Sehingga 3 buah kue ini dianggap wajar dengan angka segitu mewakili nilai harga gengsi bin prestise bagi yang membelinya, menikmatinya plus mengupload di media sosialnya supaya dunia tahu bahwa…… dirinya makan oreo supreme dengan harga fantastis.
Photo : Oreo hitam & Oreo marun / dokpri.
Yang kontra juga banyak, tentu ini terkait dari irasionalitas harga kue yang normalnya dibawah 10ribu menjadi berpuluh kalilipat, terhubung dengan terlalu mengagungkan gengsi dan prestise serta tercipta dalam gurindam pamer kemewahan dan ingin diketahui banyak orang bahwa bisa makan kue mahal.
Sementara, aku mah cenderung kontra karena secara harga tidak masuk logika. Lebih baik nilai harga segitu mah digunakan untuk hal lain yang berguna, apalagi buat umat muslim yang sedang beribadah puasa, nilai tersebut jika di infak shodaqohkan maka nilainya akan berlipat lipat ganda serta penuh pahala.
Tapi ada juga yang nggak terpapar dengan oreo supreme ini, meskipun mungkin besok lusa harganya makin naik ataupun drastis turun, yaitu orang-orang yang nggak suka biskuit oreo hehehehe.
“Trus photo di awal maksudnya apa, mau pamer juga?”
Oh itu yang dimaksud, itu mah oreo biasa dan oreo red velvet dengan harga normal-normal saja dan membelinya di minimarket dekat rumah. Warnanya juga bukan merah, tapi marun.
“Ohhh, kirain”
Akhirnya kami tersenyum sambil mengunyah kue eh biskuit oreo yang tersisa. Selamat bepuasa di hari ke 26, Wassalam(AKW).
CIMAHI, akwnulis.com. Tuntas tarawih bersama masih tersisa waktu dan ruang dalam tembolok untuk memasukan sesuatu melalui mulut yang seolah tak pernah kenyang sejak adzan magrib berkumandang.
“Mengapa begitu yach?”
Sebuah tanya yang memang nyata, tetapi cukuplah menjadi bahan renungan dan tasyakur bahwa bulan ramadhan adalah bulan penuh berkah dan hikmah.
Urusan mulut pengen terus ngunyah, itu mah banyak faktor. Baik dari sisi momen sebagai faktor pertama, dimana kesempatan makan minum di batasi waktunya di bulan shaum sehingga ruab raeb – sagala hayang (pengen makan semuanya) padahal kapasitas perut itu ada batasnya. Jangan sampai berlebihan karena akan menimbulkan derita ‘kamerkaan‘ (kekenyangan) seperti pengalamanku dahulu, cerita lengkapnya monggo klik DISINI.
Faktor kedua adalah setelah shalat tarawih, badan lebih segar dan makanan berbuka shaum sudah tergerakkan sehingga di perut sudah mulai tertata, maka rasa laparlah yang ada lagi.
Faktor ketiga adalah kualitas makanan/kudapan/minuman yang disajikan memang begitu menggugah selera. Pasti sudah nggak tahan untuk menyantapnya setelah tarawih tuntas tas tas tas….
Nah ini faktor utama, berhubungan dengan RW yaitu RW06 atau dibaca Rewog alias senang barang hakan (makan segala), yang biasanya ini ada karena faktor keturunan, lingkungan ataupun memang si eta mah selalu laparrrr……. ini sulit untuk menjelaskan karena pasti kapanpun dimanapun selama lepas berbuka hingga sahur, maka digayem saja segala macam makanan kayak mesin giling hehehehe… ayo ngaku ayo….
Sementara bagiku, tuntas shalat tarawih tadi malam hanya mencoba segelas kecil minuman dingin jamu kekinian, ikutan istri yang begitu rajin mengkonsumsi minuman kuning pekat dingin manis dan rasanya menyenangkan.
Namanya Golden Ginger Latte (GGL), sebuah minuman perpaduan unik yang memberi sensasi rasa jahe dan latte serta manis madu yang memberi suasana rindu.. ahaay. Diproduksi oleh PINKu yang beralamat di Jl. Sultan Agung No.8 Bandung.
Gampang, klo mau tapi #stayathome ya tinggal gofood atau grabfood aja. Harganya 100rb/liter kalau via online, pernah beli langsung ke gerainya harganya 90ribu.
Srupuut…. hmmm.. segaar… eh sekarang mah udah pagi dan memasuki hari shaum ramadhan selanjutnya, selamat berpuasa di hari ke 19. Wassalam(AKW).
BANDUNG, akwnulis.com. Dikala malam merambat hingga tiba dipergantian hari, sang kantuk seolah menjauh dan menyisakan raga yang bugar sambil ditemani alunan musik populer melalui earphone kesayangan ini. Tak ada tanda-tanda mengantuk sehingga jari jemari lanjut mengetik dan sesekali menjawab pesan whatsapp yang masih muncul di layar laptop.
Jam 01.00 dini hari, segera beres-beres peralatan kerja dan beringsut ke peraduan, tidak lupa sikat gigi dahulu agar memberi kesegaran dan menjaga kesehatan. Ternyata mengantuk perlahan-lahan datang hingga akhirnya terlelap dalam dekapan ketenangan malam yang beranjak menuju awal pagi.
Itulah awalnya kejadian pagi ini, terbangun sahur dalam kondisi lulungu, lulungu itu adalah teu acan kumpul sukmabayuna… halah apalagi ini istilah, maksudnya…… terbangun dalam kondisi masih ngantuk dan belum konsentrasi penuh, jadi kayak orang bego, bingung bingung. Rasa kantuk masih kuat mencengkram sementara waktu sahur sudah mepet… maka melahap nasi dan kudapannya dengan terkantuk-kantuk….. siapa suruh begadang hayoooo…
Shalat shubuh dipaksakan harus terlaksana sebelum rasa kantuk ini menguasai raga. Semangaaat….. lalu bergeraklah ke kamar mandi seiring kumandang adzan yang terdengar dari kampung sebelah, untuk menyikat gigi dan berkumur dengan listerine rasa siwak (lha jadi iklan merk, padahal belum ada permintaan endorse… ya sudahlah… amal we)….. untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut, apalagi di bulan ramadhan yg lebih khusus wajib bermasker maka aura dari mulut semakin wajib dijaga hehehehe.
Ternyata…. obat ngantuknya ada di kamar mandi.
Tuntas menyikat gigi langsung sambar botol berisi cairan kuning terang dan dituangkan di tutup botolnya….
Baru saja lidah menempel di tutup botol obat kumur, “Kok ada yang beda ya?… ini aromanya lebih tajam dari biasanya tapi tidak asing baunya?”
Kena di lidah terasa ada rasa pahit yang mendera, padahal baru satu sentuhan lidah saja.
Photo : Listerine & Dettol Antiseptic / dokpri.
“Astagfirulloh…. fuih.. fuihhh….” ….Reflek mulut disemburkan…. eh cairan yang ada dilidah disemburkan keluar karena ada rasa panas yang mengintimidasi lidah. Segera berkumur dengan banyak air dan menyemburkannya di wastafel, ternyata air semburannya berubah menjadi warna putih.
Usut punya usut, yang dipakai berkumur memang cairan kuning emas bening persis seperti listerine, tetapi ternyata ini adalaaaaaah…. Dettol Antiseptik… Alamaaaak……. langsung berkumur-kumur berukangkali dengan air hangat…. aduuuuh.
Akhirnya segera berwudhu dan bersyukur masih diselamatkan dari berkumur dengan cairan dettol… ya sedikit sih nyobain…. tapi nggak full setutup botol.
Hilang sudah rasa kantuk berganti kesegaran penuh waspada dan kekhawatiran takut ada efek samping lainnya. Sampai siang menjelang sore, mata tetap segar dan badan terhindar dari lemas, ternyata itu salah satu cara kecil Allah SWT untuk mengingatkan hambanya agar memgendalikan rasa kantuk dan tetapi bisa beribadah sebagai bentuk syukur kepada-Nya.
Sebelum keluar kamar mandi, langkah yang penting adalah memisahkan botol listerine dan dettol, karena meskipun isinya sama ternyata rasa dan gunanya agak jauh berbeda. Selamat berpuasa di hari ke18, Wassalam(AKW).
CIMAHI, akwnulis.com. Waktu bersama keluarga semakin terbuka di masa pandemi covid19 ini dan di satu sisi tingkat stres meningkat karena 4 minggu ‘terpenjara‘ di rumah. Tidam hanya bagi orangtua tetapi juga bagi anak-anak tentu menimbulkan rasa tertekan yang semakun kuat.
Nah, kita yang dewasalah yang semestinya lebih lembam memanage psikologis diri dan menguatkan mental bukan sebagai korban karena #stayathome tetapi menjadi bagian pembaharu bahwa dengan diam di rumah, banyak hal yang mungkin bisa dilakukan sehingga bisa mengurangi dan menghilangkan rasa bosan dan tertekan yang mendera.
Nah, aku mah sementara agak seret nulis tentang kopi atau kohitala, karena memang pas moo nulis idealnya sambil meminumnya jadi si rasa misteri kopinya langsung bisa dinikmati dan dituangkan dalam kata plus kalimat.
Bulan ramadhan mah bahaya, sruput siang-siang pasti nikmat, tapi khan membatalkan shaumnya…. sayang itu.
Photo : Sudah dipindahin ke polybag / dokpri.
Giliran di malam hari, waktu yang tersedia sangat terbatas. Sesudah tarawih harus berbagi tugas dengan orang rumah untuk saling membantu membereskan urusan domestik karena pembantu sudah lama dirumahkan karena pandemi covid19 ini. Trus klo maksain menggelar prosesi manual brew, pasti akan direcoki anak kesayangan yang antusias dengan kopi, ikutan nge’grinder, mindahin bubuknya ke kertas filter V60 dengan tingkat rata-rata tumpahnya 70%….. akhirnya nambah kerjaan dan malah bisa bikin kehebohan…
Maka, bercocok taman eh bercocok tanam inilah yang menjadi jalan tengah yang relatif multiguna. Bisa menyalurkan hobi menulis, mengasuh anak sekaligus memperkenalkan anak untuk mencintai bumi dengan terlibat rebutan ngisi tanah ke polybag dan plusnya juga persiapan bakal panen sayur-sayuran dikala pandemi ini entah kapan usai.
Kali ini dengan bermodal 4 buah polybag dan mindahin tanah subur dari karungnya, cukup buat ngasuh anak kesayangan sekitar 2 jam. Meskipun maksudnya membantu tapi ternyata membuat tanah becacaran apalagi pas nemu cacing, langsung loncat dan berteriak histeris bikin heboh yang dirumah. Tapi over all, jadi acara kebersamaan yang menarik.
Setelah 4 polybag ini terisi tanah kompos ditambah dua pot plastik maka dilanjutkan dengan memindahkan tanaman hasil semaian alam dan semaian sengaja. Semaian alam adalah ada 3 bibit pohon jeruk yang tumbuh dari biji yang dilemparkan kalau tuntas mengunyahnya. Itu adalah jeruk kumkuat yang manis asam tapi bisa dimakan tanpa perlu kupas kulitnya, pernah ditulis DISINI.
Nah… lalu ada satu pot berisi 10 pohon matoa ukuran tinggi 10-15 cm.
“Tahu matoa nggak?”
Klo googling… nemunya bisa matoa sebagai nama pohon juga matoa sebagai merk jam tangan, coba geura.
Photo : Bibit matoa sudah berjajar sama jeruk / dokpri.
Nah matoa ini adalah berasal dari biji matoa yang sengaja disimpan di pot setelah daging buahnya dimakan sama aku dan keluarga. Rasa dagingnya lembut dan manis harum seperti cempedak dengan bentuk dagingnya mirip buah rambutan dengan kulit yang agak keras tinggal dibuka pake tangan atau digigit dulu.
Matoa ini pohon asli papua dan ukuran pohonnya besar dengan tinggi rata-rata 18 meter…. walah eta mah di hutan… gimana donk?….ya gpp…. makanya dipindahin ke polybag, siapa tahu ada yang mau nanam di tempat yang luas atau di kebun… lumayan khan.
Atau siapa tahu, di polybagpun ternyata bisa berbuah… lebih luar biasa itu. Tapi sekarang mah yang penting dipisah dulu aja pake polybag.
Inilah aktifitas bercocok tanam kali ini, karena prinsipnya jelas harus cocok dulu baru boleh menanam, karena kecocokan adalah hal yang utama kata Pak Komut BJB. Selamat menjalani shaum di hari ke-17. Wassalam(AKW).
Mari jaga semangat menanam dengan mencoba segala kemungkinan.
Photo : Bercocok Taman / dokpri.
CIMAHI, akwnulis.com. Sabtu pagi adalah saat yang sempurna untuk menjaga semangat diri dalam prosesi belajar bertani. Setelah melaksanakan tahapan bertani versi hidroponik, dimulai dari belajar hidroponik hingga belum berhasil ber-hidroponik maka sekarang mencoba bercocok tanam biasa saja.
Dengan berbagai pertimbangan maka media tanam kali ini adalah tanah bercampur kompos yang dimasukin ke dalam goodybag…. eh salah, polybag dan disusun berjajar atau berbaris.
Nah aktifitas ini jangan dijadikan benan ya guys, tapi justru multi moment. Selain benar-benar kita membuat media tanam sekaligus mengasuh anak semata wayang yang senang bermain sekop kecil, tanah dan polybag. Yaa… sesekali menjerit kecil dikala bersua dengan cacing tanah yang menggeliat kegeluan karena terangkat oleh sekop kecil disaat pengambilan.
“Bibit atau benihnya dari mana?”
Pertanyaan yang mudah dijawab, karena bibit atau benih dibeli secara online termasuk polybag dan sejumput pupuk NPK, tinggal search saja atau kadang iklannya nongrkong di halaman facebook kita. Klik aja tapi harus hati-hati, baca teliti j7ga bagaimana testimoni serta bintang penilaian dari sang penjuak. Dilengkapi dengan manual book yang berbentuk e-book, tinggal download dan baca. Bisa juga di print dan dibawa-bawa sambil tangan belepotan tanah hehehehe…
Photo : Polybag sudah siap, Bismillah / dokpri.
Anakku bilangnya ‘bercocok taman‘ bukan ‘bercocok tanam‘. Ya sudahlah, yang penting dia senang dan belajar mengenal cara bercocok tanam.
Maka diisilah polybag dengan tanah subur versi tukang bunga seharga 10ribu perkarung beras ukuran 5 kg… ternyata 2 karung tanah itu untuk 10 polybag kecil dan 1 polybag sedang… sedikit ya?.. gpp ah.
Benih yang di tabur ada 5 macam yaitu mentimun, bayam,kangkung, cabe rawit dan wortel. Sementara sayuran lainnya masih menunggu kehadiran tanah subur dan polybagnya.
Semoga bercocok taman eh tanam kali ini bisa menghasilkan sayuran yang sehat dan bisa dinikmati keluarga plus menjadi ajang bermain dan belajar mengenal tanah serta fungsinya untuk anak tercinta. Wassalam(AKW)