Kopi Kompak

Kompak itu tak selalu baik.

CIMAHI, akwnulis.com. Pagi yang cerah ternyata tidak semua perjalanan menjadi mudah. Perjalanan yang biasanya cukup 30 menit untuk tiba di kantor, sekarang berlipat menjadi tiga dengan 60 menitnya terdiam dan atau bergeser perlahan seolah tanpa harapan.

Jika bicara agenda kegiatan maka jelas sudah berantakan, jadwal meeting pagi terpaksa delay, anak sekolahpun sudah jelas kesiangan. Suara hardikan dan klakson silih berganti tanpa menghasilkan solusi?

Ada apa ini?….

Kalau nafsu sih akan bicara bahwa ini salah aparat ….. eh tapi khan diriku juga bagian dari aparatur sipil negara hehehehe…. ga jadi ah, atuh nyalahin diri sendiri. Meskipun suasana kali ini macet dimana-mana nggak ketulungan, bikin stres.

Jadi karena apa?…. coba dirunut lagi lebih makro, apakah ini terkait dengan ketidakseimbangan pertumbuhan kesediaan jalan dengan peningkatan jumlah kendaraan yang beredar di masyarakat?.. atau karena memang pergerakan rutin manusia dari rumah di pinggiran kota ke kota untuk bekerja adalah penyebabnya?…

Udah jangan pusing ah, daripada mikirin kemacetan mending menikmati kopi hitam. Caranya gampang, buka termosnya … eh salah, siapkan dulu mejanya, pasang gelas kaca mini kesayangannya baru buka termos dan tuangkan… cuuur.

Sajian kopi hitam tanpa gula arabica natural sylvasari gununghalu yang harum mengubah suasana kemacetan menjadi tetap macet tapi suasana hati lebih damai. Ya iya atuh macet mah tetep aja, tapi suasana hati lebih tenang dan bisa menerima kenyataan.

Srupuuut…..
Nikmaat.

Ternyata kalau melihat samping kanan kiri depan belakang dalam suasana macet ini, terdapat satu hal yang mendasar dan membuat kemacetan ini terjadi. Jika dibuat kalimat adalah, “Tidak semua kekompakan itu baik hehehehe”…

Pagi ini semua kompak lho, padahal mayoritas tidak kenal satu sama lain. Kompak hadir bersama-sama dengan motor dan mobil kesayangan pada waktu yang sama meskipun tujuannya berbeda tetapi harus bersua di tempat yang sama.

Kompak banget semuanya, padahal nggak ada broadcast all dan woro-woro untuk berada di jalan ini. Semuanya berkumpul dari utara jalur Baros, selatan dari Margaasih dan Cibogo dari barat adalah Cangkorah dan Batu jajar serta dari timur Cimindi semua berlomba memenuhi ruas jalan Leuwigajah yang segitu-gitunya.

Sudah ah, dipikirin juga tetep aja macet. Ya sudah sruput lagi kohitala manual brew arabica natural yang diseduh tadi pagi di rumah. Srupuut.. Alhamdulillah, kemacetan karena kompak ini ternyata bertahan lama. Sabar sabar dan sabar, Wassalam. (AKW).

23.55 note.

catatanku dini hari.

Bukan semesta yang membiarkan kemalasan ini melanda. Tapi raga dan jiwa yang sedikit lelah harus terdiam sejenak dalam kesunyian.

Itulah catatan nyata yang begitu sulit menggerakkan ibu jemari agar aktif mengitari tuts virtual keyboard dan hasilkan sederet dan kalimat yang mungkin bermakna.

Manakala detik hati bergerak, jalinan katapun harus menghambur dan bergegas memunguti memori serta menyusun menjadi curhat singkat tengah malam.

Itulah suasana dikejar deadline jam 00.00, sebelum akhirnya beranjak menjadi esok hari. Selamat pagi eh dini hari dunia.

Wassalam, 23.55 wib.

Warung Bu Ageng & Kohitala

Cari maksi sekaligus kopi.

JOGJA, akwnulis.com. Jam makan siang sudah mendekati, alarm alami di perutpun mulai berbunyi dengan nada khusus yang menambah lapar plus dahaga. Melewati area alun-alun selatan keraton Jogjakarta dan menuju tempat makan utama yaitu Restoran Bale Raos, sebuah resto yang menyajikan menu khas masa silam kearifan kuliner kraton jogja dalam setiap sajiannya.

Tapi….. ada yang terlupa, ini musim liburan anak sekolah kawan. Pas dengan pedenya masuk dan mencari tempat duduk, langsung tertegun. Karena meja meja yang biasanya relatif lengang telah terisi oleh para penikmat rasa. Juga beberapa orang masih antri untuk menunggu giliran mendapatkan meja. Lalu perlahan ada pegawai restoran mendekat, “Maaf bapak, apakah sudah reservasi?”

Jeddang… saya dan istri beradu pandang, lalu menjawab pelan, “Belum mbak, biasanya bisa langsung”

Maaf bapak, harus reservasi dulu. Ini yang antri yang sudah reservasi”

Wah gawat, keburu lewat lapernya nich. Akhirnya kompromi dan tahu diri saja. Senyuman dan ucapan terima kasih atas penolakan halusnya sang pegawai resto. Kami balik kanan menuju mobil dan langsung memutar ingatan tentang tempat makan siang yang memungkinkan.

Istriku berseru, “Yah, kita coba ke RM warung Bu Ageng.”

Siyaaap

Maka kedua jempol langsung berselancar di layar gawai. Mencari informasi tentang rumah makan ini. Tring, teknologi memang dalam genggaman… lokasi RM Bu Ageng ditemukan dan sang pemgemudi bertolak menuju titik sasaran. Agar tidak zonk kedua kali, maka coba ditelepon dulu sesuai yang tertera di google search.

Monggo pinara mas, nggak perlu reservasi, bisa langsung”

Wuihh adem tuh suara, bikin perut lapar makin lapar tetapi jelas ada kepastian. Ternyata jarak dari area keraton tidak terlalu jauh. Berarti sebentar lagi tiba, Alhamdulillah.

Tempatnya terlihat nyaman dengan ornamen bangunan kayu begitu estetik. Segera masuk ke dalam dan ternyata benar saja, masih ada beberapa meja yang tersedia dan langsung mendudukinya dengan gembira.

Pilihan makanan sudah tersaji di pintu masuk, tetapi kami lebih cenderung berburu meja dulu, takut keburu penuh hehehehe. Buku menu segera dibuka dan berbagai pilihan makanan khas jogja hadir disana. Tetapi pilihan kami praktis saja, pertama yang lengkap dan kedua tentu recomended. Pilihannya adalah nasi campur lidah dan nasi campur suwir ayam.

Rumah makan yang diberi nama warung ini adalah milik keluarga Butet Kertaredjasa dan penamaan Bu Ageng ini adalah sebutan anak cucu dan keluarga kepada istrinya, bu Rulyani Isfihana. Bangunan berbentuk joglo dan full ornamen kayu memberi suasana di rumah yang ngangenin ditambah dengan.

Tadinya mau pesen lagi pecel agar lengkap sayurannya. Tapi ternyata menu nasi campurnya begitu kumplit, tidak hanya lidah dan suwir ayam tetapi juga ada abon tuna, kripik kentang, tempe potong, juga kuah kental seperti rendang plus krupuk gendar. Disaat lidah menyecap, kental masakan jogjanya tetapi juga hadir rasa berbeda yang membuat penasaran.

Pada kesempatan yang tepat, salah satu pelayannya diinterogasi halus dan didapati cerita bahwa makanan khas warung ini adalah masakan khas jogja dan dilengkapi sentuhan masakan kutai, kalimantan timur. Wow pantesan….

Tak lupa juga memesan kopi hitam ala warung bu ageng. Sebuah kesempatan langka menikmati sajian kopi di tempat yang berbeda. Kopi yang tersaji adalah kopi bubuk biasa yang diseduh atau ditubruk air panas yang tersedia. Tentu gula dihindari, karena ini adalah kohitala.


Itulah catatan kecil tentang kuliner siang di Warung Bu ageng Jogjakarta plus kopi tubruknya. Wassalam (AKW).

KOPI KANTOR KOPI DINAS

Urusan dinas, rapat offline dan Zoom meeting berjalan, hadirnya kohitala tetap menyertai.

BANDUNG, akwnulis.com. Pekerjaan bejibun dan tugas bertumpuk menjadi tantangan tersendiri minggu-minggu ini. Bagi tugas dan saling mengisi antar divisi menjadi sebuah kolaborasi yang begitu menguras energi. Tetapi itulah dinamika pekerjaan yang harus dihadapi sekaligus disyukuri. Karena diluar sana banyak saudara kita yang bingung mau mengerjakan apa, sementara disini begitu banyak tugas, alhamdulillah, mari berbagi pekerjaan.

Meskipun ada tugas – tugas yang memang tidak bisa diwakilkan, karena memang kita yang musti mewakili pak bos. Itu mah resiko, atur jadwal dan hadiri. Titik.

Nah bagaimana nasibnya ngopi, ditengah kesibukan ini?”

Ya nggak gimana-gimana, ngopi mah harus tetep jalan. Khan tinggal bikin atau dibikinin aja. Yang penting syarat utamanya satu. Metodenya manual brew dan jelas tanpa gula. Selesai.

Oh iya, supaya kualitas kopinya sesuai selera kita. Ya bekel sendiri, baru seduh di dapur kantor dengan peralatan manual brew V60 yang ready setiap waktu. Apalagi Bu Santi, TU kantor juga punya keahlian menyeduh kopi secara manual, cocok dah. Tambah lagi di lantai 2 ada juga sang barista, Ojan namanya. Pasti seneng dia bikinin manual brew setiap diminta, kecuali kalau pas beannya habis heuheuheu… kasiaan deh.

Kopi manual yang pertama, dibuat dengan hati-hato oleh Bu Santi menggunakan filter phisixti (V60) dengan panas 92° celcius dan gramasi 14gram membuat sajian kohitala yang nendang. Karena dimodali  bijinya adalah arabica wine sylvasari gununghalu tea geuning.

Para penikmat kopi terhenyak dengan sentuhan awalnya yang ‘menggigit’ dengan acidity poool… lalu bodynya pun medium high hingga aftertaste tamarind, citrun dan berrynya begitu menyayat hati… eh begitu paten menguasai rongga lidah serta memberi efek ninggal yang lumayan (moo bilang rasanya luar biasa, ntar pada komplen karena cuman cerita dan ngabibita sementara biji kopinya nggak pernah ngirim), harap maklum stok disetting limited supaya bisa memaknai kenikmatan dalam keterbatasan kawan.

Pak Galih, Rivaldi, Ojan dan Bu Santipun ikut menikmati sajian kohitala ini dengan gelas kaca tipis yang rentan pecah jikalau terbentur dengan benda keras, seperti kepercayaan yang terhianati maka hancur berantakan dan sulit dipulihkan. Tapi itulah kenyataan, maka kehati-hatian adalah kunci segalanya. Maksudnya hati-hati nyimpen gelas kacanya guys, bukan nyimpen rahasia.

Jadi sambil diksui… eh diskusi, juga rapat koordinasi via zoom. Bisa sambil ngopay bersama. Atau di kesempatan lain, nyuguhin tamupun bisa sambil ngopay kopi hitam tanpa gula dengan metode V60.

Nah gimana ngopinya kalau pas rapat diluar kantor?”

Ini mah rumusnya ‘mimilikan‘ atau sesuai rejekinya. Jadi kalau pas kebetulan rapatnya diluar kantor, semoga ada sajian kohitala meskipun berbasis mesin kopi.

Kalau yang pengen liat versi videonya, monggo klik aja link youtubenya : KOPI KANTOR | menyeruput kopinya di kantor ya guys.

Ternyata memang milik rejekinya, rapat di Resto Teras Akasya bahas urusan penting, ternyata ada sajian kopi. Cocok pisan gan, pekerjaan kelar dan ngopay pun jalan.

Pertama adalah kopi tubruk dengan biji kopi dari malabar jawa barat, alhamdulillah rasanya cukup lembut karena memang ditubruknya pelan-pelan. Kebayang kalau ditubruknya dengan keras, pasti tikusruk (terjerembab).

Kopi kedua lebih kepada kompromi dari sajian yang ada, karena seduh manual pake filter V60 tidak tersedia, maka berdamai dengan kohitala versi mesin kopi. Hadirlah segelas kecil espresso dan secangkir americano, tanpa gula. Sruput gan.

Itulah cerita kopi sambil berdinas sehari-hari. Jadi ngopi hitam tanpa gula adalah bagian dari keseharian, baik di dalam keseharian ataupun jika kebetulan hunting di luar kota baik itu karena dinas ataupun memang sedang beredar bersama keluarga.

Selamat nyruput si hitam tanpa gula, Happy weekend. Wassalam (AKW).

HEHA Sky view (Dragon Smoke vs Americano)

Nikmati pemandangan dan sruput selalu kopay.

JOGJA, akwnulis.com. Pergerakan raga dan rasa dalam mencicipi kopi beserta kelengkapannya terus tak terbendung. Disaat kohitala perdana di kunjungan ke Jogjakarta kali ini diawali oleh hadirnya KOPI V60 MANGLUNG. Maka petualangan harus berlanjut, sayang atuh udah jauh-jauh bergerak ternyata cuman meeting trus tiduran di kamar saja. Tapi beredarlah sebelum beredar itu dilarang hehehehe.

Maka insting pencarian kopi terus berlanjut, meskipun tentu tetap saja harus menyesuaikan dengan jadwal dan keinginan untuk mengacu kepada tempat wisata yang katanya ‘happening bingit.’ Yaitu HEHA sky view. Awalnya ingin mencoba menjajal HEHA ocean view, namun dengan berbagai pertimbangan dan juga saran masukan dari sopir selaku GPS. Maka dipending karena terlalu jauh dan lama sementara banyak anak-anak yang kecapaian setelah 6 jam perjalanan dengan KA Argowilis dari stasiun Bandung.

Isi perut dan kopi awal sudah aman di Manglung Resto & View. Jadi ke HEHA tinggal menikmati suasana. Dari Manglung resto ke HEHA ternyata cukup 8 menit saja. Nggak percaya?… ya entar coba aja.

Tangga HEHA resto / dokpri.

Ternyata, HEHA memang besar dan megah. Namun seperti pasar kaget karena pengunjung begitu membludak. Untuk pengelola tentu ini yang dicari, tapi bagi kami penikmat suasana, terasa hiruk pikuk ini agak mengurangi kenyamanan.

Masuk ke HEHA sky view membayar Rp 20.000 per orang dan didalamnya bisa berjalan-jalan mencari posisi dan spot menarik sesuai keinginan terutama pemandangan sunset yang katanya begitu spektakuler. Tapi karena terlalu banyak orang, sulit mengabadikannya. Ya sudah apa adanya saja.

Meskipun kemalasan mengabadikan sedikit terobati dikala melihat seorang ibu berbaju kuning rebahan dengan santai, menikmati suasana sekaligus ketiduran. Sebuah ilmu tingkat tinggi dimana bisa menemukan kesunyian ditengah hinggar bingar dan kegaduhan. Eh atau memang udah kelelahan ya?… jadi cape ngantuk nggak nahan, entahlah.

Untuk menjaga mood tetap di level yang baik, maka saatnya hunting kopi guys. Tapi sebelumnya tetep ngikutin keinginan anak untuk mejajak jajanan yang katanya happening di HEHA ini, yaitu Dragon Smoke. Harganya 25rb perporsi.

Kirain apaan, ternyata chiki bentuk kotak yang diberi nitrogen cair. Nah makannya ditusuk pagi tusukan dari bambu, lalu berasap deh dari mulut kita, atau kalau mulutnya ditutup bisa keluar asap dari hidung…. ohhh pantesan namanya naga merokok (dragon smoke) hehehe… ada – ada aja. Pasti ketawa – ketawa pas makannya, apalagi sambil mengepul asapnya.

Tapi hati-hati, kalau tidak terbiasa bikin tenggorokan gatal, kering dan batuk lho. Jadi saran kalau beli satu porsi, makan bareng-bareng aja. Bukan masalah ‘iritisasi‘ tapi khawatir menimbulkan iritasi di rongga mulut.

Pilihan makanan lain masih banyak namun tak berani lagi beli karena bejubel dan banyak orang. Maka mlipirlah menuju restoran sambil berharap bisa mendapatkan view sunset terbaik dan ditemani sajian makanan terbaik.

Ternyata, di restoranpun sudah penuh hehehehe, ada beberapa meja tersisa tetapi bukan di posisi strategis samping kaca. Ya sudah duduklah dan pesan cemilan plus kopinya americano.

Khusus yang males baca tapi pengen liat video youtubenya, ini dia linknya : KOPI DI JOGJA VOL 1.

Rebutan sunset / dokpri

Hehehehe, ternyata lama juga. Akhirnya mendokumentasikan suasana yang ada dan menikmati minuman yang disajikan. Americano ya rasanya begitu, agak sulit bahas body, acidity dan aftetastenya. Yang pasti kepahitannya tetap memberi nuansa berbeda, apalagi jaraknya jauh dari rumah, ya sudah kita nikmati saja.

Eh ternyata anak – anak mulai cranky dan nggak sabar menanti pesanan cemilan, tetapi tak kunjung tiba, mungkin karena banyak sekali pesanan. Maka kami menyerah, akhirnya diputuskan bungkus saja. Masih menunggu beberapa saat waktunya.

Tepat sruputan terakhir secangkir americano, pelayan datang dan mengabarkan pesanan sudah dibungkus dan siap bayar. Yuk ah bayar dulu. Eh sruputtt habiskan dulu americanonya brow.

Americano at HEHA resto sky view / dokpri.

Itulah cerita singkat perjalanan ngopay di kota Jogja edisi 2, edisi satunya khan KOPI MANgLUNg. Akhirnya raga bergerak menuruni dataran tinggi ini, dan menuju tempat hotel yang akan diinapi dengan estimasi perjalanan 46 menit dari sini. Wassalam (AKW).

KOPI CAMARO di MANGLUNG View & Resto.

Kembali bersua dengan kohitala, kali ini di dataran tinggi selatan Jogjakarta.

JOGJA, akwnulis.com. Perjalanan menanjak dan berliuk menuju dataran tinggi di selatan jogja, mirip dengan perjalanan ke lembang mau cari susu murni, ketan bakar ataupun tahu goreng plus kesegaran suasana alami. Tetapi tentu hal penting yang harus dicari adalah secangkir janji yang tertuang dalam cangkir abadi bernama kenikmatan hakiki dari sajian kopi.

Maka dilakukanlah kombinasi pencarian yang keduanya berdasarkan GPS. GPS pertama adalah global position system yang menjadi nyawanya googlemaps, dimana dengan jari jemari eh salah dengan jempol kanan kiri maka begitu mudah menjelajahi dan mencari lokasi yang didambakan… uhuy.

GPS yang kedua, apa itu?”

Wah ada yang penasaran, ini adalah teknologi tertua yang tak lekang oleh jaman dan tak pupus oleh perubahan. Karena modalnya adalah keberanian dan tentu berbicara dengan sopan. Maka GPS ini bisa dipakai.

Tahu khan?”

Pasti pada geleng kepala khan. Padahal jawabannya gampang banget. GPS ini adalah Gunakan Penduduk Sekitar  alias banyak bertanya kepada orang yang domisili di sekitar tempat tersebut. Minimal sopir grab atau sopir mobil sewaan yang mengantar kita ke tempat lokasi.

Dijamin bisa lebih tepat sasaran dan terukur, termasuk bisa juga berdiskusi tentang rencana kunjungan ke objek wisata. Siapa tahu GPS ini bisa memberikan opsi lebih baik, karena tahu dan berpengalaman untuk rekomendasi waktu yang tepat untuk berkunjung ataupun lokasi wisata lainnya yang bisa menjadi alternatif.

Jadi double GPS lebih efektif hehehehehe.

Setelah menanjak begitu rupa, sekitar 52 menit dari Stasiun Tugu, tibalah di lokasi makan siang menjelang sore kali ini, yaitu The Manglung View & Resto.

Ini adalah hasil GPS kedua lho guys, saran yang recomended dari bapak Sutarno, Driver langganan khusus Jogja karena paham dengan kebutuhan kami berbanyakan ini untuk makan dulu dalam suasana yang relatif ‘tenang.’

Karena tujuan awal kami adalah menuju objek wisata HEHA Sky View yang kata guugle lagi happening. Tapi saran pak Sutarno lebih kami dengarkan karena beliau yang sehari-hari lebih tahu keadaan.

Benar saja, dengan mengikuti sarannya, kami bisa menikmati makan siang dengan nyaman. Menu yang enak dan mengenyangkan serta tidak lupa sajian kopi manual dengan menggunakan seduhan V60 dapat dinikmati dengan pasti. Berlatar belakang pemandangan hamparan daerah Patuk bersama taburan sinar mentari yang mendekati ujung hari.

Pesan kopinya manual brew V60 hot ya mas”
“Inggih”

Wah senangnya, keluarga bisa pesan makanan minum sesuia serela… eh sesuai selera, akupun bisa bercengkerama dengan sang kohitala di wilayah jogja. Beannya adalah arabica camaro dari bantul (klo hasil interogasi mas baristanya) dengan notesnya adalah Sweey honey brown sugar karamel.

Ternyata hasil racikannnya agak mendekati, meskipun sweetnya kurang dapet tapi tergantikan dengan suasana sore dan pemandangan yang memanjakan mata dan belum banyak pengunjung. Eh nggak lama juga, setelah 20 menitan kami berada, ternyata mulai ramai juga.

Sruput dulu guys…. nikmaaat. Kopi manual brew V60 yang asli dan berada di Jogja. Jadi inget tahun lalu menikmati sajian V60 ini dimalam hari, hujan turun dengan lokasi tepat di depan tuggi jogja, yaitu di Cafe Kebon ndalem, ini tulisannya KOPI TUGU JOGJA.

Oh ya, tulisan tentang objek wisata HEHAnya menyusul ya, khan belum sampai.

Maka kembali ke paragraf atas, wisata yang terencanapun harus ada improvisasi di lapangan, jangan lupa GPS google dan GPS asli hehehehe. Selamat malam, have a nice weekend. Wilujeng Idul Qurban 1443 Hijriyah. Wassalam (AKW).

***

The Manglung View & Resto.
Jl. Ngoro ngoro ombo No. 16 patuk, Kecamatan Patuk Kab. Gunung Kidul Yogyakarta.

Mesjid RM Ciamis

Menelusuri jejak leluhur

CIAMIS, akwnulis.com. Perjalanan kali ini memberi arti tersendiri. Bukan tulisan tentang tentang kopi tetapi lebih mendalam melebihi urusan duniawi.

Apa itu?”

Sebuah momentum perjalanan yang mengingatkan akan fananya dunia ini sekaligus dari mana diri ini berasal. Perberhentian saat ini adalah sebuah mesjid kecil yang ciamik dan bersih bernuansa putih dengan nama Raudhatul Mukminin.

Bukan sekedar singgah dan shalat sunat, tetapi jauh lebih mendalam lagi adalah dibalik tembok mesjid sebelah kiri. Berjajar rapi makam – makam para sesepuh keluarga besar Kartadibrata termasuk almarhumah nenek, ibu kandung dari ibuku.

Maka bergegaslah menuruni tangga batu, mengambil posisi terbaik dan berdoa untuk keselamatan di akherat sana semua leluhurku termasuk nenek Sumirah binti Kartadibrata.

Suasana lengang di makam keluarga ini, memberikan pesan tenang dan damai sekaligus kembali mengingatkan bahwa besok lusa giliran kita yang harus kembali ke haribaan Illahi Robbi. Maka persiapan bekal amal dan pahala harus tetap dan terus diupayakan demi keselamatan dan keberkahan abadi di akherat sana.

Oh ya, mesjid putih yang diatas kanan makam adalah mesjid keluarga besar Kartadibrata yang dihadirkan sebagai penanda, tempat shalat sekaligus dapat bermanfaat bagi banyak orang yang beristirahat sjenak, ngaso, atau sekedar menikmati makanan ringan di warung yang hadir sebagai penyemarak juga menjaga agar mesjid tetap bersih.

Bismillahirrohmannirrohim, Allohummagfirlaha Warhamha Waafihi Wa fuanha Waakrim nujulaha Wawasi’mad kholaha”

Itulah sejumput makna yang menemani perjalanan diri ke daerah priangan timur yang melintasi wilayah kabupaten ciamis ini, kabupaten leluhurku dari garis keturunan ibu.

Wassalam, AKW.

HOAX yg NIKMAT

Ternyata Hoax ini mah beda euy.

JAKARTA, akwnulis.com.  Sebuah pertemuan yang mengantarkan raga bergerak ke ibukota. Secarik undangan menjadi dasar bahwa kehadiran adalah sebuah keharusan. Apalagi berkaitan dengan anggaran negara, semua harus hati-hati, teliti dan betul – betul mempelajari regulasi yang sering berubah dan  berganti.

Namun kembali, cerita tentang kerjaan maka tertuang dalam laporan. Kotretan resmi dan sesuai naskah dinas akan hadir sebagai nota dinas. Namun kesempatan hadir di pinggir pantai ibukota negara tepatnya di daerah ancol harus dioptimalkan dengan berbagai aktifitas.

Trus ngapain aja bro?”

Gampang jawabannya, yang pertama disaat sesi istirahat sore menjelang malam segera bergerak dengan skuter (suku muter) atau jalan kaki dan usahakan minimal 6.000 langkah.

Diitung perlangkah gan?”

Ya enggak atuh, khan ada teknologi. Cukup pake gelang smartfit dan ber-skuterlah. Maka hitungan akan berjalan. Lalu supaya skuternya full motivasi, search dulu cafe kopi seputar ancol yang menjadi srandar tujuan. Nyalain googlemap, lets go.

Langkah mantabs bergegas menyusuri pinggir pantai, masih berbaju kemeja dinas ‘smiling west java’ tapi sepatu slip on karena pasca operasi ternyata belum bisa pake sepatu biasa.

Setting tujuan diperkirakan 30 menit saja, biasanya cukup 6.000 langkah. Kalau kurang ya ditambah lagi aja. Gitu aja kok repot.

Nah, perjalanan inilah yang menemukan sebuah nilai penting. Yaitu cerita tentang HOAX. Kita tahu semua bahwa Hoax ini sering menyengsarakan karena berupa berita bohong dan menyesatkan. Bisa membuat kegaduhan di keluarga, kedinasan, masyarakat juga bangsa dan negara.

Tapi Hoax kali ini berbeda, karena ternyata ini adalah HOAX yang nyata kawan. Ceritanya setelah perjalanan dari hotel mercure – putri duyung cottage – bunderan Symponi of the sea – danau ancol hingga Bandar Jakarta – Colombus cafe – Le Bridge – dan ada yang menarik yaitu sebauh Cafe dengan nama HOAX, cuma karena target langkah nelum terpenuhi  lanjutkan skuternya sampai ke Ereveld Ancol (Dutch War Cemetery Ancol)….. tapi pas mau naik jembatan yang membelah pantai, kok serasa nggak enak hati. Apalagi suasana agak temaram dan sepi.

Ya sudah balik kanan dech, lagian sudah 6.321 langkah. Mencari mushola lalu bergerak kembali ke arah tadi berangkat. Cafe HOAXlah yang menjadi tujuan.

Alhamdulillah, tempatnya nyaman dan pilihan menunya variatif, bukan hoax guys. Lalu yang paling penting adalah ada sajian kopi meskipun kopi berbasis mesin. Lumayanlah, cafelatte bisa menemani kesendirian pada malam hari ini.

Jadi sekali lagi, di daerah ancol inilah baru menemukan nama hoax yang bermanfaat. Srupuut gan. Wassalam (AKW).

Kopi Monju

Hayu ah kita Srupi… Sruput hepi.

BANDUNG, akwnulis.com. Jumat pagi adalah saatna menggerakkan kaki sambil menemani otot meregang bersama helaan nafas kesegaran. Tapi ingat, dengan catatan memang tidak ada kegiatan  dinas di pagi hari.

Tentu dilihat dulu penjadwalan kegiatan kali ini. Medio jam 07.30 sampai 09.00 wib relafif aman, nah selanjutnya jadwal padat merayap baik yang hadir online dan offline.. meluncuur.

Kamu mah meluncur aja, emangnya mau ski air atau ski di es ya?”

Aduh bestie ini mah hanya ungkapan, meluncur itu artinya berangkat cuy”

Ya udah capcus”

Langsung pasang posisi start dan aktifitas ber-skuter berlangsung. Kaki kanan lebih dahulu lalu kaki kiri dan mengayunlah bergantian dan bergerak semakin cepat sehingga jika dilihat secara kasat mata, kaki ini seperti berputar. Itulah makanya disebut skuter yang asal katanya sukuter alias suku muter (kaki berputar).

Jangan lupa niatkan olahraga dengan basmalah juga pake jam gelang penghitung langkah supaya ada ukuran dan bukti berskuter pagi ini. Melangkaah.

Menyusuri trotoar sepanjang jalan Riau atau LLRE martadinata, belok kanan ke jalan citarum, lewati sisi timur gedung sate hingga memasuki jalan diponegoro dan menyusuri pinggir gasibu. Akhirnya menyebrangi jalan raya paspati menuju area monumen perjuangan rakyat jawa barat. Lumayan skuter 40 menit dan dapat 3.882 langkah.

Tiba di area monumen perjuangan jawa barat atau MONJU atau MONPERA.. disambut dengan keramah tamahan teman – teman yang bertugas disana. Menemani berkeliling termasuk memberi suguhan segelas kopi panas yang nikmat.

Tring…
Muncul ide.

Segelas kopi yang disajikan langsung diboyong ke pelataran monumen perjuangan. Sambil berkeliling melihat hasil kerja pemeliharaan monumen sekaligus memilih spot poto yang tepat.

Tapi, Sebuah keindahan hadir dengan penelungkupan. Yup nangkuban atau telungkup di lantai hangat pelataran monumen langsung dijalani demi hasilkan angle photo yang tepat. Nangkub gan.

Keceng dan cetrek, cetrek, cetrek.

Motretnya pake hape aja, da ini mah cuman hiburan.  Jadi inget istilah baheula, ‘No Pain No Gain’… pengen gambar yang indah, maka telungkuplah hehehehe.

Selamat menikmati pemandangan dan dijaga oleh secangkir kopi. Wassalam (AKW).

1 Kopi 3 Hewan : Takdir.

Ngopi bersama aneka hewan, siapa takut… yu ah.

PANGANDARAN, akwnulis.com.  Pertemuan dengan seseorang ataupun sesuatu tidak lepas dari takdir yang ditentukan Illahi. Manusia hanya mahluk lemah yang sok perkasa dan mampu merencanakan sesuatu yang luar biasa. Padahal semua adalah berdasar kehendak-Nya. Tetapi nilai ihtiar dan kesungguhan hati dalam memikirkan, mengkonsepkan hingga melaksanakan sesuatu sampai terwujud dengan baik, itulah bagian dari ibadah seorang hamba.

“Weiits… mentang-mentang jumat pagi ya, jadi begitu agamis?”

Hehehe, tidak kawan. Ini adalah bagian penting dalam kehidupan sebagai mahluk tuhan, dimana kita wajib mengikuti jejak sikap Rasululloh yaitu Tablig, menyampaikan kebaikan.

Nah kalau Rasul mah dakwah, penulis mah begini aja. Nulis sesuatu yang mengingatkan diri sendiri sekaligus tulisannya di share ke kolega via WA. Siapa tahu ada yang baca dan tergerak hatinya. “Betul khan?”

Tulisan sekarangpun tidak jauh dari makna takdir tadi. Manusia berkehendak tetapi Allah yang menentukan.

Sebenernya spoilernya sudah ada di tulisan awal yaitu KOPI & TEMAN DI TENGAH MALAM. Temanya tetap yaitu perkopian namun kali ini berhubungan dengan kehadiran mahluk tuhan yang lain yaitu binatang.

Ulangi dikit ya, di tulisan sebelumnya itu adalah pertemuan dengan kumang. Kumang atau lebih dikenal dengan umang-umang atau kelimang darat (dardanus celidrus) serta dalam bahasa inggrisnya ‘terrestrial hermit crab” adalah jenis krustasea deapod dan masih merupakan bagian familia kepiting kelapa yang cenderung hidup sendiri.

Yang menariknya adalah kumang ini bisa lepas dari cangkangnya dan bisa pake cangkang siput laut, kerang, juga potongan pohon yang berongga. Kali ini dia pake cangkang kerang atau kewuk sebagai rumahnya.

Maka menyeduh manual brew V60 kopi garut dan dengan perbekalan yang ada termasuk gelas kaca, bisa bercengkerama dengan kumang sambil mengabadikannya perlahan bergerak keluar dari cangkang kerang adalah momentum yang wajib disyukuri. Disengajain tengah malam cari kumang dan kopi manual mah susah pisan guys.

Lanjut sambil nunggu shubuh ngedit video… eh bukannya shalar tahajud yaa… gpp ketang suka-suka. Hidup itu pilihan. Jadi inget kata pak Gubernur RK kemarin, “Cintai yang kamu kerjakan dan Kerjakan yang kamu cintai”... hayu ngedit ah…  eh wudhu dulu.

***

Pertemuan kedua antara kopi dan binatang itu terjadi dikala mengabadikan sajian segelas kopi racikan sendiri berlatar belakang mentari yang malu-malu terbit di ujung cakrawala pantai timur pangandaran. Alhamdulillah, begitu indahnya sunrise ciptaan Tuhan. Warna kuning keemasan berpadu padan dengan permukaan perak laut pangandaran bersama deburan ombak yang membuat raga dan hati bergetar. Luar biasa sekali kawan.

Disitulah seekor kucing liar datang dan mendekam di dekat gelas kopi yang sedang diabadikan.. ya sudah cetrek cetrek cetrek.

Eh satu hewan lagi nggak mau ketinggalan untuk diabadikan bersama mentari yang semakin menghangat. Berarti ini hewan ketiga. Yaitu seekor ayam jago. Perlahan datang dan langsung berpose bersama kehangatan sang mentari serta secangkir kopi racikan pribadi.

Sungguh menyenangkan sruputan kopi kali ini, ditemani berbagai mahluk tuhan yang hadir tanpa direncanakan.  Di mulai dari seekor Kumang, lalu seekor kucing dan akhirnya seekor ayam jago. Sebuah sensasi menikmati kopi yang penuh arti. Selamat berkreasi dan mensyukuri hari ini. Wassalam (AKW).