Jumat Pagi & Anosmia.

Renunganku di kehangatan Jumat Pagi

Bandung, akwnulis.com. Sebuah kata yang menjadi trending saat ini adalah anosmia. Sedang menjadi hits dan sering disebut dalam terpaan gelombang kedua pandemi covid19 yang sedang melanda. Ya, karena arti yang dihadirkan adalah kehilangan indra penciuman dan diyakini merupakan gejala yang dirasakan oleh raga dikala virus covid19 sudah berada di dalamnya, merajalela.

Pada saat penciuman menghilang perlahan dan akhirnya sama sekali tidak bisa membaui, disitulah rasa khawatir merayapi hari dan menggerogoti keyakinan akan terjadi sesuatu yang lebih parah. Seolah dunia akan runtuh dan kehidupan ini berakhir. Titik.

Maka hadirlah tangis menguasai raga, ketidakpercayaan dan sesal tiada hingga melingkupi pikiran dan psikis kita. Panik hadir dengan tiba-tiba dan terasa bahwa ini tragedi dan akhir kehidupan kita.

Apalagi dilengkapi dengan hilangnya indera perasa, membuat semua rasa itu hambar tanpa makna. Kesedihan dan kebingungan melanda.

Disinilah sebuah takdir Tuhan memerankan kekuatannya, memperlihatkan betapa kecilnya manusia yang terkadang masih banyak berlaku dzolim dan jumawa serta tidak mau bersyukur atas semua nikmat kehidupan ini.

Padahal penciuman dan perasa itu baru sebagian kecil nikmat yang diberikan Allah Subhanahu Wataala. Sangat banyak nikmat – nikmat lainnya yang melingkupi detik demi detik, menit dan menit kehidupan kita.

Selama ini seolah biasa saja, bahwa bisa mencium dan merasakan lezatnya rasa adalah biasa saja….. dan kita tidak atau jarang mensyukurinya.. Astagfirullohal Adzim.

Kembalikan indera saya, Yaa Allah Sang Maha Hebat….”

Sebuah ratapan berbuah tobat, sebuah keinginan bangkitkan insyap serta setahap ikhlas menjadi pendewasa dalam memaknai indahnya kehidupan fana.

Maka kesabaran dan keikhlasan ini menjadi nilai tak terhingga, dan memberi kepasrahan serta ketenangan dalam menjalani fase anosmia ini. Sembari tentu ikhtiar dalam memgkonsumsi vitamin dan makanan serta buah-buahan segar agar imun tubuh stabil dan meningkat plus obat yang diharuskan mengawal kesembuhan.

Dari semua usaha duniawi, maka  munajat doa dalam kesabaran dan keikhlasan. Dzikir rutin serta membaca ayat Alquran adalah cara universal seorang muslim untuk berserah diri dan memohon, begitupun dengan saudara kita yang memiliki keyakinan berbeda, masing-masing punya cara untuk mendekati Tuhannya.

Sehingga cukuplah anosmia sebagai gejala ringan saja yang dihadapinya dan dapat segera sembuh kembali serta pulih seperti sediakala.

Sebuah hikmah telah berbuncah, seikat syukur menyeruak cerah, ikhtiar terus ke segala arah, sabar dan taubat obat terindah. Selamat memaknai hangatnya jumat pagi, Wassalam (AKW).

CURUK – fbs

Diwaler lepat teu diwaler lepat.

CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah coretan kata yang hadir dalam suasana pandemi yang semakin tak pasti. Semangatttt dan kita bersatu padu menghadapinya.

Tulisan ringan berbahasa sunda, semoga menghibur.

CURUK fiksimini basa sunda.

Nèng Rahmi rawah riwih baru jubras jebris, ngadu ka indungna. Pèdah asa dihina ku Jang Opan, babaturan ngajina.

Kunaon nyai tèh?” Ema na nanya bari reuwas kacida, sieun budak awèwè hiji-hijina digunasika. Nèng Rahmi tungkul bari ngagukguk. Jang Opan ngajanteng hareugeueun, teu puguh peta.

Indungna Rahmi melong ka Jang Opan, “Kumaha ieu kajadianna?”

Jang Opan bari rada geumpeur lalaunan nyarios, “Hapunten Amih, teu pisan – pisan kumawantun ngaheureuyan si Enèng. Mung ngawaler pertarosan wungkul”

Naroskeun naon Jang?” Ma Onah rada muncereng.

Muhun, tadi naroskeun kumaha cara panggampilna kanggè ngetès fungsi pangambung tiasa ngangseu atanapi heunteu, dina raraga antisipasi virus covid19 nu nuju nerekab”

Nya ku abdi tèh, curuk ieu  dicolokkeun kana imbit abdi, teras diantelkeun kana pangambung nèng Rahmi, eh kalah ka ngagoak teras ngababuk raray, naon lepat abdi?”

Ma Onah ngahuleng, curukna dicobi kana imbit nyalira, teras diambuan, “Aduh teu kaangseu…. Nèng hayu anteur rapid tès!!!”

***

Itulah cerita singkat berbahasa sunda kali ini, nanti jikalau waktu dan sempat bersua, maka akan dibuat versi audio dan ditambah penjelasannya dengan bahasa indonesia di channel youtube : @andrie kw. Terima kasih, Wassalam (AKW).

V60 Arabica Papandayan & Ide-ide.

Sruput kopi sambil cari Ide.

CIMAHI, akwnulis.com. Menulis dengan kesendirian adalah sebuah perkawanan sejati, karena rasa bisa tercurah dalam jalinan kata yang mengandung makna. Mencoba mengalirkan ide yang berbuncah di dalam kepala, menuju aliran darah dan otot serabut sehingga menggerakkan jemari agar menari di atas keyboard smartphone kesayangan.

Mata jelas menjadi pembeda agar huruf yang tertulis terhindar dari typo ataupun salah penggunaan tanda baca. Meskipun kesalahan itu masih ada, karena kita adalah manusia tidak lufut… eh luput dari khilaf dan dosa.

Tapi, terkadang ide suka tiba-tiba hilang tertindas oleh pikiran lain yang hadir tanpa aba-aba. Sehingga jemaripun terpaku tak hasilkan secuil kata apalagi setumpuk kalimat. Inilah saat yang rentan dengan kondisi pentargetan dan deadline, alamak… gawaat.

“I need mood booster please”

Itulah sebuah bisikan yang membuat penasaran dan ternyata sebagai jalan keluar. Maka… cara terbaik adalah carilah sang mood booster yang dirindukan… yakni Kohitala (kopi hitam tanpa gula)… kopi mana kopiiii?…

Maka tanpa berlama-lama, sajian kopi arabica papandayan langsung diproses dengan metode manual brew V60… itu tuh yang corongnya mengerucut dan wajib pake kertas filter. Request diseduh oleh air panas 93° celcius kayaknya dituruti, karena hasil yang didapat ternyata tepat dengan selera. Yummy.

Setelah tersaji manual brew V60 kopi arabica papandayan. Langsung saja mulut menganga untuk bersiap menyeruput kenikmatan dunia dan berharap ide – ide segera hadir kembali untuk tuntaskan segala tugas yang memgelayuti hari – hari.

Srupuuttt…. hmmmm nikmatnya, acidity pas berpadu dengan body yang tidak terlalu pahit dilengkapi after taste buah cherry dan jeruk yang mengharumkan suasana.

Perlahan tapi pasti, kenikmatan menyeruak dan ide-ide meskipun malu-malu akhirnya hadir dengan beraneka celoteh kreasi dan harapan. Kopi disruput dan jemari lanjut mengetuk… eh mengetik. Menuangkan ide yang kembali hadir karena rangsangan maut si kopi hitam. Alhamdulillah.

Akhirnya jemari lanjut menari dan sang kopipun bergegas menunaikan tugas. Membuka kembali keengganan dan mendobrak kemalasan hingga akhirnya kesegaran datang dan ide-ide yang lahir terasa lebih rilex dan memberi keyakinan bahwa dibalik kerja keras perjuangan ada hasil akhir yang memukau. Selamat pagi Kawan, Wassalam (AKW).

Kerumunan KOPI.

Akhirnya berkerumun juga….

KBB, akwnulis.com. Ngobrol bareng dan ngopi bersama menjadi momen yang sangat berharga karena setahun lebih telah tercerai berai akibat penyebaran pandemi covid19 yang menerkam dunia.

Harapannya saat ini semua sudah sirna dan semua baik-baik saja. Tetapi ternyata itu masih mimpi yang bersembunyi di pelupuk mata. Karena kenyataaannya justru kita sekarang harus lebih waspada. Virus covid19 yang bermutasi telah menghadirkan kekhawatiran gelombang serangan kedua, dengan segala kehebatannya termasuk (katanya) tak mempan dideteksi dengan swab PCR….

Aduuh makin hawatir saja tapi jiwa berontak, sampai kapan terkungkung dalam ketakutan dan ketidakpastian ini?”

Bergelas-gelas kopi sudah dinikmati di rumah dengan metode pres, model tubruk hingga andalan adalah seduh manual filter V60. Tapi ternyata ada yang kurang, bukan urusan kopi… tapi teman ngopi….

GuBRAk….  jangan berfikir yang macam-macam. Yang dimaksud adalah teman-teman pecinta kopi, khususnya kopi tanpa gula. Saling diskusi sruput kohitala dan terkadang berantem karena beda rasa antara keyakinan selarik banana dengan aroma nangka.

Jikalau sendirian, itu tidak bisa. Pernah ada ide cupping kopinya via zoom karena masa pandemi. Tapi ya nggak afdol karena berarti bikin manual sendiri baru dinikmati. Tidak ada objektifitas saling tukar hasil karya.

Tapi, jikalau memaksa. Resiko kemungkinan tertular adalah niscaya, dan yang lebih menyakitkan adalah jikalau karena pertemuan atau pergaulan kita ternyata membawa virus ke rumah dan menularkan kepada keluarga termasuk orangtua atau anak kecil dan saudara yang punya penyakit bawaan (komorbid)… Audzubillahi Mindzalik.

Maka cara terbaik yang bisa dilakukan adalah berkerumunlah di cafe dengan kopi.

Apa itu?”

Iya cari cafe yang penerapan protokol kesehatannya bagus, tersedia cuci tangan, cek suhu, hand sanitizer plus kapasitas pengunjung yang terkendali dengan model duduk jaga jarak.

Susah atuh bos!”

Ini khan hanya ihtiar, disatu sisi ingin ngopi sambil kongkow bareng dan jadilah kerumunan. Di sisi lain takut terjadi kontak erat dan menjadi lanjutan penularan. Maka cara terbaik adalah…. biarkan kopi yang berkerumun hehehehe.

Pesen kopi kohitala 2 porsi dan (terpaksa) nikmati sendiri. Jangan sedih karena sulit kongkow kali ini. Tapi kembali bersabar sambil menunggu pandemi pergi. Nanti mah kita bisa lanjut kongkow ngopay tanpa harus terlihat lebay.

Semangat kawan, biarkan sekarang kopinya yang berkerumun dengan gelas dan botol saji tembikar ditemani 2 keping kue kopi yang terbungkus plastik rapi. Wassalam (AKW).

Empon – empon.

Jam segini, kayaknya seger…. ups

Photo : Empon-empon penghangat raga / dokpri.

Tanjungsari, akwnulis.com. Tanjakan dan kelokan licin menjemput kehadiran langkah kali ini. Memang pendek jaraknya, tetapi dengan tanjakan dan 4 kelokan memberikan kesempatan raga melepaskan beberapa kalori yang dilengkapi dengan deru nafas yang sedikit tersengal.

Ternyata baru ditantang nanjak dikit aja udah repot, ketahuan banget nich nggak pernah olahraga ditambah berat badan yang ternyata stabil dikisaran nomor cantik 99,9kg upss…

Tapi tenang, semangat tetap membara dan tanjakan ini bukan halangan untuk hadir dan berkarya. Maka langkah beratpun terus dilakukan hingga tiba di tempat yang diharapkan, sudah ramai dengan berbagai keriuhan yang di kemas dengan nama Village Talk…. senangnya.

Village Talk sejatinya adalah program kerja Disparbud jabar terkait pemberdayaan masyarakat desa dalam memanfaatkan potensi wisata lokal, sementara dari sisi etimologi bahasa memiliki arti luas termasuk jikalau disambung-sambungin maka semakin luas maknanya.

Coba geura, Village Talk bisa diartikan berbincang atau diskusi di desa, berbicara tentang desa, di desa banyak bicara ataupun ngobrol tentang pemberdayaan ekonomi masyarakat desa di sektor pariwisata.  Mantabs khan?….

Apapun itu, sebuah ihtiar penguatan dan pemulihan ekonomi masyarakat sedang dilakukan dengan basis potensi wisata dalam wilayah desa atau kawasan yang lebih kecil sekaligus penguatan ekonomi kreatif demi memulihkan dan membangkitkan sektor pariwisata.

Sebuah catatan penting kali ini adalah sajian minuman khas dari salah satu stand warung di bazaar gantoeng yang begitu mempesona, minuman empon-empon.

Jikalau ditahun lalu sudah di promosikan bapak Presiden, maka kali ini bersua kembali dengan sajian minuman hangat di tempat yang eksotis. Berada di ketinggian yang dipenuhi udara segar serta pemandangan hamparan hijau yang mendamaikan perasaan.

Empon-empon adalah minuman jamu yang terdiri dari temulawak, jahe, kunyit dan rempah-rempah lainnya yang mengandung antioksidan, yang bisa menangkal radikal bebas, meningkatkan kebugaran dan daya tahan tubuh.

Apalagi di bulan ramadhan ini, cocok juga menjadi alternatif minuman berbuka puasa yang memghangatkan dan mendamaikan.

Photo : Secangkir empon-empon dan alam / dokpri.

Rasa pegal sisa menanjak sudah hilang, berganti dengan kesegaran yang dihadirkan oleh 3 cangkir empon – empon….

Selamat berpuasa dan mari kita jaga kebugaran dan daya tahan tubuh kita. Wassalam (AKW).

TEH GELANG

Menikmati kesegaran alami…

CIATER, akwnulis.com. Dikala jiwa berontak untuk segera beredar menapaki jejak jejak kehidupan, sebersit rasa di ujung hati masih meragu karena pandemi. Apakah sudah aman diluar sana?… sebuah tanya yang menggelantung diatas langit keinginan.

Photo : Teh Gelang & Prosesnya / dokpri.

Detik waktu terus menderu mengitari permukaan jam dinding yang setia nemplok ditempatnya. Sementara hati ini masih dilema, antara berangkat dan tidak. Juga antara diijinkan atau tidak.

Lha emang pake ijin?”

Harus atuh, selama masih menjadi anak buah dan belum jadi bapak atau ibu buah tentu selalu ada atasan diatas. Maka mekanisme ijin adalah protap yang menjadikan perjalanan kedinasan ini tepat dan sesuai dengan kehendak semua vihak eh pihak.

Sebuah kata datang melalui pesan whatsapps, ‘OKEY’…. wuiiih senangnya. Ijin sudah ACC, eh tapi aman nggak ya diluar sana?…

Bismillah we ah…. Kuy ah.

Keraguan masih menggelayuti hati, tetapi minimal persiapan prokes menjadi andalan. Masker cadangan, 1 liter handsanitizer dan sabun cair untuk cuci tangan sama sapu tangan segitiga warna pink pemberian seseorang yang pernah hadir penuh pengharapan… uhuuy.

Cuss……

Bergeraklah raga menembus kelokan dago atas yang menjadi jalan pintas, hingga tepat melewati batas kota dan menghambur menuju perkebunan teh yang menghiasi lereng alami gunung tangkuban perahu.

Nah setibanya diperbatasan Bandung dan Kabupaten Subang, ada rasa ingin sebentar mampir demi melihat tempat baru yang masih sepi. Entah karena memang masih pagi atau karena pandemi, yang pasti kursi-kursi masih kosong minim terisi.

Disinilah bersua dengan sajian teh segar yang diproses betul-betul fresh. Jelas sekali daun teh yang diambil adalah teh yang tumbuh segar dihamparan di depan mata. Lalu dipilih dengan tangan tangan terampil dan…. di masukin wajah untuk dimasak… lha dimasak.. maksudnya dilayukan… katanya sih supaya pori-pori daun tehnya terbuka sehingga si rasa dalam daun teh bisa keluar menyapa semesta.

Setelah itu diangkat dan disimpan diatas nyiru untuk selanjutnya digelang, atau diremas remas dengan jari tangan khususnya dengan telapak tangan…. ini yang membuat hadirnya nama TEH GELANG.

Bukan teh gelang, seperti gelang di lengan. Tetapi Gelang seperti penyebutan ‘Lele‘.. artinya diremas dengan kedua tangan dan penekanan oleh telapak tangan dibantu jari jemari…. nikmaat

….klo dipaksain… bisa pake lagu…

Gelang sipatu gelang….. “ silahkan teruskan.

Nahh….. dari sinilah sebuah seduhan teh alami yang hadir dengan gelas tinggi. Menyebarkan aroma kesegaran tiada tara. TEH GELANG namanya.

Photo : Straberry / dokpri.

Sungguh sebuah kombinasi suasana dan rasa yang tiada tara, disempurnakan dengan kumpulan strawberry merah merona yang membuat semakin terpana karena begitu banyak nikmat Illahi yang hadir dengan segala kemudahannya.

Meskipun tetap waspada dikala ada pengunjung lain yang menyapa dan duduk mendekati area meja, maka masker musti kembali terpasang dan semprotkan handsanitizer di tangan demi sebuah ketenangan. Selamat DL tipis tipis kawan. Wassalam (AKW).

PASANGAN

Sejalan tapi belum tentu seiring secara fungsi.

Terkadang, Pasangan yang ada bukan bicara rasa. TETAPI, bagaimana saling menjaga.

Photo : Pasangan Serasi / dokpri.

Contohnya Hand sanitizer mini dan sajian Kohitala V60.

Apakah berhubungan langsung?… tentu tidak. Jikalau dipaksakan disemprotkan ke gelas berisi kopi sajian manual brew v60, maka yang terjadi adalah pembolayan (cancel) untuk meminumnya karena jelas beresiko. Kecuali isinya diganti gula cair hehehehe…..

Teu nyambung sih, tapi lebih tenang menikmati kopi sambil sebelumnya semprotkan cairannya ke tangan dan gosokan dengan merata, baru ambil gelas untuk sruput tanpa perlu lama-lama.

Nah sekarang terasa terlindungi… karena tidak ada jaminan bahwa gelas yang tersaji dari sang baristi mungkun saja membawa kuman, virus atau bakteri

Wilujeng.. selamat menikmati kopi dengan hati yang lebih damai tanpa basa-basi. Wassalam, (AKW).

TIPS PERJALANAN DARAT BDG – SMG PP Di MASA PANDEMI

Tips sederhana tapi bermakna.

Photo : Suasana Simpang lima Kota Semarang / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Kali ini tergerak hati untuk berbagi sekaligus menggerakkan jari mengetik kembali di keyboard virtual pada smartphone kesayangan. Tema yang dipilih adalah berdasarkan pengalaman, meskipun hanya sejumput cerita tapi semoga memiliki manfaat dan guna.

Tema kali ini adalah TIPS PERJALANAN DARAT DI MASA PANDEMI COVID19.

Mengapa menjadi tergerak menulis, karena jangan sampai niat baik kita mengerjakan tugas dalam sebuah perjalanan kedinasan berujung dengan nestapa karena terpapar oleh virus seribu rupa. Apalagi jikalau ternyata menjadi OTG, dan menularkan kepada keluarga terdekat kita, suami atau istri, anak ataupun orangtua, Audzubillahimindzalik….

Maka inilah TIPSnya kawan, dengan contoh kasus perjalanannya adalah dari Kota Bandung ke Kota Semarang lalu bermalam 2 hari dan kembali pulang setelah tuntas pekerjaan. Apalagi yang bikin agak nggak karuan adalah pada saat hadir di Kota Semarang ternyata sedang gelombang kedua peningkatan penyebaran Covid19 di Jawa Tengah, makin deg degan lah… sport jantung teh beneran guys.

Inilah langkah-langkah yang dilakukan :
00. Sebuah Doa perlindungan senantiasa terpanjat kepada Allah SWT dari pandemi dan juga keselamatan & kelancaran perjalanan adalah yang utama.

0. Lakukan tes swab antigen dahulu sebelum berangkat, selain memastikan kondisi kita juga sebagai pegangan jikalau diperbatasan antar wilayah atau pas masuk kota tujuan ternyata diwajibkan membawa bukti tes tersebut.


1. Persiapan perlengkapan pribadi, perlengkapan ini diantaranya : aneka handsanitizer, disinfektan semprot, sarung tangan, plastik, masker medis, fave shield, tissue basah, cairan alkohol, vitamin C dosis tinggi, vitamin B complex, tissue alkohol, minyak kayu putih dan plastik kecil. Baju dan pakaian secukupnya saja sesuai dengan sebentar lamanya di perjalanan dan di kota tujuan.

Photo : Perlengkapan pribadi anti covid19 / dokpri.


2. Isi penuh BBM dan e-tol card sebelum berangkat. Pengalamanku kemarin Bandung – Semarang PP, eh nginep 2 malam itu habis etoll sekitar 800ribu dan BBM 1jt, berarti sekitar 1,8 juta.


3. Bawa makanan ringan, air mineral dan makanan berat yang praktis seperti leupuet, buras, popmie, roti-roti dan sebagainya.


4. Hindari berhenti di Rest Area, jikalau terpaksa kebelet pipis, maka bawa hand sanitizer dan tissu basah plus tissue kering sendiri. Di toilet umum rest area hati-hati dengan persentuhan tak sengaja dengan badan orang lain.


5. Pemesanan dan pembayaran Hotel secara Online. Ini sih udah biasa jadi tak perlu dibahas lebih terperinci.


6. Setiap bersentuhan dengan benda apapun maka langsung gunakan hand sanitizer atau cuci Tangan.


7. Pesan makanan secara online atau gunakan fasilitas home service di hotel. Untuk menu sarapan pagi dipastikan ada pelayan yang memberikan pelayanan serta senantiasa membawa hand sanitizer di botol kecil.


8. Hindari nongkrong di cafe atau angkringan, sementara jangan tergiur dengan kuliner di kota tujuan.


9. Kegiatan meeting menggunakan masker dan faceshield juga disarankan berkemeja atau batik lengan panjang.


10. Batasi durasi pertemuan, koordinasikan secara diplomatis dengan tuan rumah.


11. Jikalau harus makan siang bersama, pilih rumah makan yang terbuka, sehingga sirkulasi udara tersedia. Jaga jarak antar orang dan usahakan bergantian membuka masker dan makan sajian yang ada.


12. Hindari beredar di malam hari, gunakan waktu yang ada untuk beristirahat yang cukup di kamar hotel.

Photo : Simpang lima Kota Semarang / dokpri.


13. Jika dekat dengan lapangan atau jogging track, bisa lakukan jogging terbatas dan tetap menggunakan masker.


14. Pembelian oleh-oleh dapat dilakukan secara online melalui aplikasi Grab/Gojek dan dikirimkan ke resepsionis hotel. Pada saat check out diambil untuk masuk ke kendaraan, jangan lupa disemprot dulu dengan semprotan pembasmi virus/bakteri.


15. Jika mau menggunakan fasilitas hotel seperti kolam renang dan tempat fitnes sebaiknya pada saat sepi. Jika banyak pengunjung, disarankan dihindari.


16. Jangan pernah melepas masker dimanapun, apalagi jika sedang berhadapan dengan orang lain.


17. Tetap update info kepada keluarga terdekat via whatsapps atau telegram secara berkala kondisi yang ada.


18. Dokumentasi photo dan video tanpa diarahkan juga biasanya sudah otomatis kok, baik sebagai dokumentasi juga sekaligus pelaporan online ke jagad maya bahwa kita sedang ada dimana, bersama siapa dan sedang apa…..

Itulah trips trik dari kami, sebuah ihtiar dalam menjaga diri, menjaga keluarga dan rekan kerja dari paparan virus covid19 serbu rupa.

Photo : Menu sarapan & hand sanitizer / dokpri.

Ada poin ke 19, jika merasa belum yakin dengan kemungkinan menjadi pembawa virus. Setiba di kota Bandung maka segera lakukan Swab antigen untuk memastikan hasilnya. Bisa juga swab PCR tetapi berhubung hasilnya agak lama dan cukup mahal jikalau periksa secara mandiri maka diawali swab Antigen dulu sudah merupakan langkah bijak pencegahan sebwlum bersua kembali dengan keluarga tercinta. Wassalam (AKW).

Bersua dengan Kehijauan.

Photo : Saoropus Androgynus / dokpri.

CIMOHAY, akwnulis.com. Akhir bulan januari yang memaksa tetap berdiam diri. Pertama karena memang masih masa pandemi dan yang kedua memang harus menghemat amunisi. Maka memutar otak agar tetap bisa bereskpresi tanpa perlu banyak keluar anggaran itu ini.

Sejak dini hari ternyata temperatur disini membekukan hati, sehingga niat bersepeda bersama istri terpending belitan hawa dingin yang begitu kuat melingkupi… ah ini mah alasan aja, justifikasi kemalasan ya?….

Bukan kawan, betul memang begitulah kenyataan.

Ah nggak jelas, jikalau jadi bahan debat maka tak akan tuntas penyelesaiannya karena yang dipertahankan hanyalah menghilangkan energi dan kata-kata tanpa ada hasil nyata.

Tapi, jikalau berkemul teruspun tak elok. Karena banyak hal lain yang bisa dikerjakan untuk mengusir kegalauan di akhir bulan.

Meskipun penuh kahoream alias malas bingit bergerak, akhirnya raga dipaksa ikuti jiwa untuk mencari kegiatan yang mungkin menghadirkan semangat untuk berkarya dan mencipta.

Maka…. lawanlah kemalasan dengan bangkit dari gerak tidur-tiduran, jangan lupa bawa hape. Lalu segera berdiri dan cuci muka. Seterusnya beranjak ke halaman belakang dimana banyak aspirasi menulis yang tak lekang oleh kebosanan.

Agar terjadi keseimbangan maka perlu dipilih perwakilan, yaitu wakil dari kaum tumbuh-tumbuhan dan wakil juga dari kaum kehewanan. Dengan catatan memiliki kesamaan dari sisi warna yaitu hijau penanda bergeraknya tahapan kehidupan.

Photo : Papilio Demoleus / dokpri.

Silaturahmi pertama adalah bersua dengan batang hijau dengan bunga kecil merah yang begitu indah. Apalagi jikalau sudah dipetik daun dan batangnya lalu diolah memjadi sayur bening. Betapa nikmatnya dengan nasi panas dan sambel dadak plus kerupuk, apalagi jika di taburi goreng ayam kering dan serundeng. Dijamin nikmat bangeeet…….

Nama latin daun dan bunga merah kecil ini adalah Saoropus Androgynus, gaya khan?…. sementara nama familiarnya adalah daun katuk….

Ohh daun katuk…. biasa itu mah.

Justru dibalik hal yang biasa, banyak makna cerita yang bisa kita ambil hikmahnya. Seperti daun katuk ini, selain rasanya enak juga banyak gunanya termasuk yang paling terkenal adalah khasiatnya untuk menyuburkan dan meningkatkan kualitas air susu bagi ibu menyusui bayinya…. bukan bapaknya yaaa :).

Silaturahmi kedua tidak kalah menghijau dan miliki nama keren juga yaitu Papilio Demoleus. Kayaknya nama cowok, khan ada papi-nya. Tapi ternyata ini berlaku jantan dan betina, eh lagian nggak tahu juga mana yang jantan dan mana yang betina. Inilah wakil hijau dari dunia hewan yang bisa bersua di area taman belakang.

Bentuk tubuhnya lucu dan terlihat menggelembung dibeberapa bagian terutama di bagian kepala. Terlihat lebih besar dari bagian tubuh dan ujungnya. Kaki-kaki terlihat imut meskipun kuat mencengkeram daun yang menjadi pegangan sekaligus makanan kesukaan.

Photo : Papilio Demoleus lagi diatas dahan / dokpri.

Inilah penampilannya, hijau lucu dan menggemaskan tetapi juga rakus jikalau terus dibiarkan. Nama akrab kita yaa… ulat jeruk gundul… asli gundul tanpa bulu-bulu yang menyebabkan kegatalan. Sehingga memegang dengan jaripun tidak menjadi halangan, hanya geli gimana gitu dikala menyentuh kekenyalan badan hijaunya.

Itulah silaturahmi sederhana dikebun belakang bersama tumbuhan dan perwakilan hewan yang menggemaskan. Hadirkan kata-kata dan kalimat indah yang mengubah kemalasan menjadi keceriaan. Selamat mengisi sisa libur mingguan dengan kehangatan keluarga tersayang, Wassalam (AKW).

Ngopi di AWAN.

Sebuah cerita tentang keinginan dan kenyataan.

Photo : Kolam renang & nuansa alam / dokpri.

PADALARANG, akwnulis.com.  Setelah sekian purnama tak berani untuk menjambangi cafe ataupun kedai untuk menikmati suasana ditemani sajian kohitala (kopi hitam tanpa gula), maka kali ini sebuah tulisan yang dihadirkan adalah sebuah cara untuk mengobati kerinduan ini.

Lalu mencoba mencari koleksi photo yang belum pernah dihadirkan, pilihannya jatuh pada photo-photo yang ternyata bukannya mengobati kerinduan kongkow tetapi malah membikin rasa ingin ngafe menggebu, ah serba salah.

Tapi sudahlah, jangan nekat dalam suasana saat ini. Pandemi belum berakhir dan virus covid19 masih mengintai tanpa kita sadari.

Cukuplah sedikit mengkhayal dan membayangkan sebuah makna kenikmatan yang di masa lalu adalah biasa dan kita kurang mensyukurinya. Tetapi kali ini, diri ini faham bahwa kesempatan berkongkow sambil ngopay itu menjadi hal yang luar biasa dan harus disyukuri.

Sambil merefresh ingatan, masih tergambar dikala kita bergerak dari lobby hotel ke arah utara dan memasuki lift untuk mengakses ke lantai 8 dimana lokasi tujuan yang telah ditentukan.

Keluar dari pintu lift maka tersaji nuansa cafe yang simpel namun elegan dan sesuai namanya yakni AWAN, ingin menggambarkan bahwa pemandangan di sekitar seakan kira berada diatas awan, ahay lebaay.

Photo : Hot Chocholate / dokpri.

Sudahlah, daripada ntar disuudzonin dapet endors padahal inimah ditulis karena kegabutan dan rasa sedikit frustasi melihat pandemi yang terus melanda negeri sehingga aktifitas berubah dari rutinitas sehari-hari.

Maka tanpa basa basi, mendekati sang baristi dan memesan minuman yang sudah menanti diracik sedari tadi.

Tanpa perlu berlama-lama sajian cafelatte dan hot coklat menemani semaraknya sore itu. Saling melengkapi meskipun harus segera disruput untuk dinikmati karena ternyata dengan suhu yang memang dingin ditambah gelebug*) angin, maka sangat cepat berubah dari hot coklat menjadi ice coklat hehehehe…..

*) gelebug : terpaan angin.

Photo : Cafellatte Awan / dokpri.

Sebelum meninggalkan lantai delapan, tidak ada salahnya mengabadikan secuil fragmen kehidupan dalam bentuk photo dari ketinggian. Kolam renang dan tempat bermain air bagi anak dipadukan dengan kelokan sungai dalam nuansa alam kehijauan memberikan semangat dan menggugah rasa syukur bahwa lukisan Tuhan adalah Keberkahan.

Selamat memaknai segala perubahan dan kehidupan ini. Insyaalloh dibalik kesulitan akan hadir kemudahan. Wassalam (AKW).