SUMEDANG. akwnulis.com. Disaat perut mulai keroncongan maka disitulah mata segera beredar dan otomatis kepala bergerak celingukan atau menoleh ke kanan dan ke kiri secara perlahan untuk mencari sasaran yaitu pedagang makanan yang tepat untuk menghentikan nyanyian perut yang kian menggila.
Apalagi sudah ada rencana untuk menikmati sajian kopi manual brew yang sengaja dibuat sendiri dan dibawa dari rumah karena khawatir di tempat tujuan akan kesulitan mencari kopi manual yang diseduh dengan filter V60. Kalau bekal khan aman ya friend, tinggal cari titik lokasi yang tepat, buka kopi yang dibawa dan bersiap diambil gambarnya oleh seseorang yang baik hati membantu. Tapi jika tidak ada maka berswaphoto saja, tinggal paskan saja gambarnya. Cetrek, selesai.
Mesjid Agung Sumedang / Dokpri.
Disaat mata beredar mencari pedagang, pandangan tertuju pada monumen Lingga yang berada tepat di tengah alun-alun Kota Sumedang. Bergeser sedikit memandang ke arah kiri terlihat mesjid agung sumedang yang penuh nilai sejarah. Nah diantara monumen dan mesjid agung itulah terlihat berkumpul orang – orang dengan berbagai aktifitas. Diyakini disitu pasti ada pedagang makanan. Tinggal makanan atau jajanan apa yang akan dipilih.
Maka sekarang kedua kaki bergerak melangkah menuju satu posisi pedagang yang sedang sibuk mengolah dagangannya. Pilihannya langsung jatuh pada pedagang bandros.
“Temen temen tahu tentang bandros khan?”
“Tahuuu!!” “Eh bandross”
Monumen Lingga Sumedang / Dokpri.
Bandros adalah kue tradisional khas sunda yang terbuat dari campuran tepung beras, daun suji, santan dan kelapa parut sehingga rasa original yang dihasilkan adalah asin gurih. Ada juga varian dengan taburan gula pasir, tapi penulis lebih senang dengan bandros rasa original.
Tanpa banyak basa-basi segera meminta bandros tersebut, lalu pedagangnya memberikannya dengan bonus kantung kresek. Tak lupa 1 lembar 20 ribuan diserahkan kepada mamang pedagangnya. Mamang pedagang dan penulispun tersenyum, sebuah senyuman pagi yang penuh keakraban.
Dituangkan dulu kopinya / Dokpri.
Maka sarapan pagi segera dilakoni dan bandros sekantong kresek ludes hanya bersisa kertas sebagai alasnya saja. Mungkinkah ini yang disebut kelaparan atau memang kemaruk hehehehe.
Barulah setelah selesai prosesi sarapan pagi dengan bandrosi dimulailah agenda ngopi dengan 2 tempat yang berbeda.
Pertama adalah didekat monumen Lingga yang berada tepat di tengah – tengah alun – alun sumedang ini. Monumen Lingga adalah bangunan cagar budaya yang dibangun pada masa hindia belanda untuk mengenang jasa dari bupati sumedang Pangeran Aria Suria Atmaja (1883 – 1919). Maka segera berpose dan sruput cold brew yang latar belakangnya bangunan bersejarah ini. Cetrek.
Ngopi dulu / Dokpri.
Kedua adalah berlokasi di dekat museum prabu geusan ulun, tepatnya di depan Gedung negara Sumedang yang merupakan rumah dinas bapak Bupati Sumedang yang saat ini dijabat oleh Bapak Donny Ahmad Munir. Sebuah tempat yang kebetulan juga penulis pernah menjadi penghuni salah satu bagian dari kawasan gedung negara ini di akhir tahun 2000.
Tulisan lengkapnya tentang memori di gedung negara bisa di klik di GEDUNG NEGARA & AKU.
Rekan penulis berpose dulu / Dokpri.
Maka kali ini biar teman penulis saja yang menjadi modelnya, langsung sruput kopi tapi mohon maaf jika harus minum sambil berdiri. Mohon maklum buru – buru karena ternyata sang waktu tak bisa kompromi dengan janji. Sruput sruput cetrek langsung pergi. Selamat hari jumat pagi. Wassalam (AKW).
BANDUNG. akwnulis.com. Sebuah prinsip penting dalam kehidupan ini adalah tentang tema keberuntungan. Banyak pendapat dan istilah dari keberuntungan ini. Secara kasat mata sering kita mendapati rekan kerja atau teman juga ibu-ibu tetangga yang rutin mendapat hadiah doorprize dalam even – even yang diselenggarakan di level RW atau juga level provinsi di gedung sate. Dari mulai mejikom hingga ipad yang berharga belasan juta atau kendaraan roda empat.
Pernah di beberapa even yang ada undian doorprizenya penulis ikut menunggu hingga akhir acara berharap mendapatkan salah satu doorprize yang berharga. Ternyata di akhir acara nomor yang dipegang tidak ada yang disebut dan kembali dengan tangan hampa. Ada selarik sedih dalam hati, tapi itu tadi yang namanya undian ya bukan untuk semua orang yang hadir dan datang.
Akhirnya muncul kesadaran bahwa bukan keberuntungan seperti ini yang menaungi takdir penulis sehingga sudahlah kita tidak perlu terlalu berharap dengan hadiah ‘ hadiah doorprize tersebut. Tapi rasa penasaran tentang makna keberuntungan terus bergaung.
Jalan pagi di Tanjung Duriat / Dokpri.
Keberuntungan dalam bahasa sansakerta disebut Adhya dan dalam bahasa italia adalah Fortuna, weleh jadi inget merk pedagang baso malang di kota kembang. Enak pisan tauu…
Nah bagi penulis sendiri memaknai keberuntungan ini sekaligus memiliki padanan arti bagi sebagian pihak tentang makna kesuksesan. Keberuntungan adalah bertemunya kesiapan dengan kesempatan. “Setuju nggak netizen?”
Seperti perbincangan di awal tentang rutin dapat doorprize tentu diawali dengan kesiapan untuk memegang tiket undiannya, kehadiran secara phisik disana dan akhirnya pas diumumkan yang keluar adalah nomor undian yang dipegangnya. Andaikan dia tidak siap alias tidak pegang tiket dan tidak ditempat maka kesempatan itu akan terlewat. Begitupun dengan kejadian – kejadian lainnya.
Jalan pagi di 60 Kavanagh Street, Southbank Victoria / Dokpri
Satu hal yang penulis pahami bahwa sebenarnya dalam rangkaian kehidupan ini tidak ada yang disebut kebetulan semata. Karena semua sudah menjadi takdir dan tercatat di buku kehidupan masing – masing. Hanya saja manusia diberi pembatasan dan ketidaktahuan oleh Allah SWT, sehingga setelah melewati peristiwa dalam kehidupannya tersebut, apakah bersyukur dengan momentum keberuntungan ini atau biasa saja, atau yang paling parah adalah merasa keberuntungan ini hadir dari dirinya.
Tidak kawan, semua sudah ada catatan langitnya. Tapi kita manusia diberi keterbatasan untuk tahu masa depan sebagai bagian dari ujian bersyukur atau tidak terhadap nikmat berkehidupan.
HC, Burwood Victoria / Dokpri
Satu hal yang ingin penulis bagi dari bejibun momen keberuntungan yang dirasakan adalah peristiwa akhir tahun lalu. Cerita diawali dari kecelakaan sederhana atau seolah sederhana karena tergesa mau apel pagi dan meloncati pot kembang tapi mendarat kurang tepat sehingga menjadikan salah satu tulang telapak kaki patah runcing menyilang. Cerita lengkapnya bisa di-kepo-in di tulisan ini : Patah Tulang Menyilang – akwnulis.com
Dampak dari kejadian tersebut adalah masa recovery yang panjang, jika ditotalkan dari 3 bulan full double kruk penyangga dan ke kamar mandi serta aktifitas ganti perban dikawal terus ibu negaraku (baca istriku) dilanjutkan 7 bulan dengan satu kruk penyangga dan terapi ke rumah sakit 3x seminggu hingga tak terasa satu tahun berlalu.
Ada hal yang cukup berat dari semua aktifitas yaitu olahraga dan levitasi. Olahraga seperti futsal, bulutangkis, lari dan loncat serta panjat tebing harus berhenti termasuk mengendarai motor kopling dan mobil type manual. Olahraga yang dibolehkan adalah berjalan kaki dan berenang, titik. Inilah penyesuaian yang penuh tantangan. Termasuk berpose levitasi harus berhenti karena diperlukan minimal 5 hingga 10 kali loncat untuk mendapatkan gambar terbaik. Sebenernya photo levitasi bisa diakali dengan aplkasi photographi tapi kepuasan diri untuk menghasilkan photo secara natural dan nyata tanpa editan memberikan kepuasan tersendiri. Ini dia beberapa cerita levitasiku : AKW & LEVITASI.
Flinders street, Melbourne Victoria / Dokpri.
Maka selanjutnya berjalan kaki rutin menjadi kewajiban. Target minimal 6000 langkah langsung dicanangkan meskipun perlu penyesuaian karena kemampuan kaki kiri tidak bisa langsung diforsir dengan normal. Ya perlahan tapi pasti saja. Karena jika berjalan kaki salah melangkah dan bisa berakibat cidera kembali. Otomatis harus bersiap kembali dengan operasi…. hiiiy takuut. Cukup dioperasi sekali saja.
Maka 6 bulan berlalu dan kebiasaan berjalan kaki ini menjadi bagian keseharianku. Selain melatih kekuatan kaki yang pernah cidera sekaligus menyeimbangkan kembali eh berusaha menurunkan kembali berat badan yang bertambah tak terkendali selama perawatan patah kaki.
Setahun berlalu dan kebiasaan ini menjadi menyatu dengan rutinitas sehari-hari. Terasa ada yang kurang jika 6000 langkah belum terlewati. Semua cerita ini ternyata adalah bagian penting dari keberuntungan penulis dan masuk kepada bab KESIAPAN.
TBA, Melbourne Victoria / Dokpri
Bab KESEMPATAN hadir di akhir tahun 2023, dimana sebuah penugasan hadir untuk mendampingi pimpinan melakukan perjalanan dinas lintas benua dan menapaki sebuah kota benua Australia tepatnya di Kota Melbourne Victoria State.
“Mengapa dimaknai KEBERUNTUNGAN?”
Pertama, kesempatan itu hadir disaat raga sudah dikabarkan membaik dan bisa melakukan aktifitas normal meskipun tidak boleh terlalu diforsir.
Kedua, kesempatan dinas ke luar negeri tentu tidak semua ASN bisa melaksanakannya. Tentu dengan berusaha melakukan tugas dinas dan semaksimal mungkin memanfaatkan waktu untuk pertemuan – pertemuan multi pihak.
142 Franklin St, Melbourne / Dokpri
Ketiga, ternyata kota melbourne adalah perpaduan kota modern dengan arsitektur campuran dengan masa lalu dan memiliki sadana infrastruktur yang begitu ramah terhadap pejalan kaki. Istilahnya jalan kaki kemanapun tidak akan titajong, tijongjolong, tikosewad dan tikusruk*) karena trotoarnya lebar, rata dan penanda yang mudah dipahami.
*)semuanya berarti terjatuh atau terjerembab – bhs Sunda.
Keempat, suhu udara begitu bersahabat dan cenderung dingin seperti di lembang sehingga jalan kaki hingga 12.000 langkahpun relatif tidak sampai bercucuran keringat.
Ngopi di Market lane Coffee / Dokpri.
Kelima, dengan berjalan kaki bisa menikmati detail suasana kota meskipun agenda yang bejibun dan tetap berusaha menyempatkan untuk menikmati secangkir dua cangkir kopi.
Itulah sekelumit kisahku tentang tema keberuntungan. Buat dan ciptakan kebiasaan – kebiasaan yang baik serta selalu bersyukur atas segala kenikmatan hidup yang Allah SWT berikan. Selamat berlibur kawan, Happy Idul Adha. Wassalam(AKW).
Pertemuan Kohitala dengan temannya memberi sejuta makna.
Kohitala V60 Arabica Gayo wine / Dokpri.
CIMAHI, akwnulis.com. Pertemuan 2 pihak atau dua unsur itu terkadang tidak terbayangkan. Padahal jelas semua sudah takdir Tuhan, tapi karena manusia adalah mahluk yang memiliki keterbatasan maka disaat melihat pertemuan ini perlu menjadi catatan panting.
Selama ini kedua unsur ini mungkin bersanding disatu meja sajian tetapi tentu tidak spesifik karena memiliki judul umum dalam daftar menu yang ada. Tapi kali ini kedua unsur itu menjadi tokoh sentral, mereka berdua bersanding saling menguatkan dan memberikan citarasa sore di dataran tinggi cimahi utara semakin bermakna.
“Ngobrol apa ini, kok begitu bersayap dan penuh teka teki?”
Hahay, jangan terburu-buru kawan. Secara umum pasti akan mudah menebak aktor eh tema tulisan ini akan bergerak kemana. Dipastikan bahwa satu aktornya adalah sajian kohitala (kopi hitam tanpa gula) namun giliran pasangannya, ini yang menjadi pelengkap cerita. Kehadiran di cafe inipun tidak khusus dengan berbagai rencana tetapi praktis saja karena mengambil sebuah titik pertemuan yang saling memudahkan bagi kedua pihak, disepakatilah bersua disini, Cafe Kupu – Kupu di jalan Kolonel Masturi No. 88 Kota Cimahi. “Simpel khan?”.. Hidup ini adalah gift dari Allah SWT, maka dalam segala hal tidak perlu dipersulit atau mempersulit diri, apalagi mempersulit orang lain. Jadikan segala itu memudahkan, kompromi dan tentu diskusi dalam memutuskan berbagai hal termasuk sebuah lokasi pertemuan.
Bagi yang penasaran lokasi cafe ini dimana, titik patokannya mesjid agung kota cimahi saja. Di sebelahnya terbentang nalan lurus ke utara dengan nama jalan kolonel masturi. Ikuti jalan ini lurus ke atas hingga melewati perempatan dan masih terus ke atas agak menanjak. Manakala sudah melewati gerbang masuk BPSDM Provinsi Jawa Barat di kiri jalan maka dipastikan lokasi cafe sudah dekat. Kurangi kecepatan dan agak sering lihat kiri jalan, maka hitungan 300 meter adalah lokasi cafenya. Bagi penikmat kopi tidak hanya cafe ini yang menyajikan manual brew kohitala tapi dikala menengok ke kanan tepat diseberangnya terdapat gerbang cafe KABUCI. Sebuah tempat bersantai outdoor dengan tema alam yang memiliki cafe dengan sajian kopi yang cukup enak dengan suasana alami.
Balik lagi ke urusan cerita awal yaitu pertemuan 2 pihak maka sudah jelas pihak pertama adalah sajian kohitala dimana kali ini adalah manual brew V60 dengan beannya adalah arabica gayo wine. Sementara pihak keduanya adalah masuk ke dalam kelompok Phaseolus vulgaris.
Spicy boontjes with coffee / Dokpri.
“Walah naon eta?”
Kalem mas bro jangan panik, itu khan supaya gaya dan membuat penasaran. Maka nama latinnya dihadirkan dulu. Lalu namanya versi bahasa belanda yaitu boontjes atau yang kita krnal dengan nama sayuran buncis.
“Lha buncis sama kopi apa enaknya?”
Ih ntar dulu ceritanya juga belum selesai, tapi memang benar bahwa pertemuan kali ini adalah bersua sajian kohitala dengan cemilan buncis yang enak dan miliki rasa berbeda. Tapi nggak perlu khawatir kawan, buncisnya nggak di blender sama kopi kok, tetapi disajikan sebagai cemilan dengan nama Buncris (buncis spicy crispi) dengan tekstur renyah karena ada balutan tepung dengan garam secukupnya sementara di dalamnya kesegaran buncis yang kress krees nikmat guys.
Sruput kopinya bergantian dengan ngemil buncis crispi ini menghangatkan kebersamaan kami sore ini. Sruput nyam nyam, Wassalam (AKW).
CIMAHI, akwnulis.com. Dikala sebuah keputusan hadir dan memberikan judge-nya kepada kita. Tentu dengan kalimat sopan dan tertata, yang isinya adalah sebuah pernyataan sederhana, kalimat pamit dari sebuah tahapan cerita. Kalimat yang template dari sebuah tahapan kompetisi yang dijalani, biasa saja sebenernya.
Tetapi… ternyata menghadirkan segumpal masgul dalam dada. Mengapa harus berakhir secepat ini?. Lalu setan mengipasi rasa penasaran ini sehingga bergeser menjadi buruk sangka dan mulai menelusuri seseorang yang mungkin membuat ‘penjegalan‘ ini terjadi.
Mulailah otak suudzon menelusuri orang – orang yang berurusan dan berhubungan dengan aktifitas ini. Memadankan dengan kemungkinan – kemungkinan hingga akhirnya memgkristal kepada rasa benci dan memberi ciri pada nama seseorang.
Padahal, jika dimaknai dengan pemikiran yang jernih. Bukan itu yang seharusnya terjadi. Maka perlu hadir penyeimbang rasa agar pikiran bisa jernih dan terhindar dari buruk sangka. Caranya bagaimana?….
Tuangkan dulu kopinya / Dokpri.
Pertama tentu sebagai umat muslim adalah mengucapkan Istigfar ‘Astagfirullahal adzim’ minimal 3x dan duduk dengan menarik nafas fanjang… eh panjang. Berulangkali lakukan dan biarkan otak dibebaskan dari aneka pikiran yang mengganjal. Biarkan semua mengalir dan perasaan lebih tenang.
Setelah itu barulah beranjak pada tahap kedua yaitu mencari stok biji kopi yang tersedia dan langsung menggelar prosesi penyeduhan kopi dengan menggunakan filter V60. Disaat membuka kotak stok kopi ternyata ada 2 jenis kopi yang ada yaitu Arabica Papua Pegunungan Bintang dan Arabica fullwash maribaya Tonas Kopi. Maka dikala memegang biji kopi tetsebut bayangkanlah sebagai bentuk emosi suudzon kita tentang apa yang terjadi dan mari kita hancurkan dengan grinder kopi sehingga menjadi serpihan biji kopi dan harapan untuk diseduh menghasilkan rasa kohitala yang mendamaikan.
Maka komposisi 40% arabica papua dan 60% Arabica full wash tonas kopi yang menjadi pilihan dengan pertimbangan tetap ada acidity dominan yang menjadi penggugah rasa ditengah gempuran kopi papua yang mengusung body maksimal.
Proses dulu…
Tona’s Coffee & Arabica Papua / Dokpri.
Terasa kekecewaan di awal tadi terasa perlahan menghilang dan berkurang dan menghilang, tergantikan oleh kesadaran diri bahwa semua ini hanya sebuah latihan dalam fragmen kehidupan saja. Mengaduk emosi dan mengendalikan nafsu yang ada, padahal semua adalah sandiwara dunia saja. Ingatlah bahwa senang dan kecewa adalah rangkaian perjalanan yang menjadi suka duka kehidupan. Juga hampir saja menuduh seseorang yang menjadi biang kerok kegagalan, padahal memang takdirnya begitu dan mungkin saja konsep yang disajikan bukan hal luar biasa pada momen kali ini. Jadi slay saja kata kids jaman now mah.
Alhamdulillah akhirnya pembuatan kopi manual tuntas sudah. Disandingkan dengan 2 bungkus biji kopi sebagai sumbernya. Menjadi treatment pengedalian emosi diri dan mengubah kecewa menjadi kecewe…. eh dari kecewa menjadi rasa suka.
Jadi itu tips pribadi kalau sedang galau karena kecewa terhadap kenyataan yang ada. Diawali istigfar dan dilanjutkan nyeduh kopi agar lebih segar.
Mari kita sruput bersama sajian kopinya dan jangan lupa memaknai kebersamaan bersama keluarga tercinta di malam minggu ceria dengan bercengkerama dan tertawa bersama. Wassalam(AKW).
Kumpulan pengalaman rasa kohitala ditambah lemon dan ups… gula.
Cat with Lemonade coffee / Dokpri.
CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah penamaan dari produk yang dijual memiliki berbagai nama yang berbeda padahal bahan dasarnya sama atau relatif mirip dan identik. Tapi itulah sebuah makna kreatifitas dan hak dari sang pembuat atau peracik atau bisa juga owner dari sebuah usaha yang menghasilkan suatu produk. Tidak jauh – jauh diskusi perbedaan nama ini tentu berhubungan dengan sajian kopi atau tepatnya varian kopi yang bermacam-macam sebutan padahal itu – itu juga.
Dalam tulisan kali ini tentu berusaha menghadirkan kenyataan yang dirasakan oleh penulis dari sajian produk varian kopi yang ada. Jadi level enak atau rasa segar mungkin berbeda bagi setiap individu, tapi itulah hak penulis untuk menceritakan apa adanya. Kali ini adalah produk varian kopi yang disajikan dingin dengan campuran lemon dan ternyata tetap butuh sentuhan sirup gula meskipun hanya setetes dua tetes tapi ternyata memang itu resepnya. Ini dia tulisannya, silahkan :
1. Lemcoff Pertemuan pertama dengan sajian lemcoff ini sudah sekitar 1 tahun lalu tepatnya di bulan maret 2022 dimana seorang kawan memesan pada saat meeting di sebuah cafe di Cimahi selatan yaitu Cafe OTUTU. Sajiannya simpel dan memang tersaji dingin dengan mengunakan es batu dan jelas hasil kocokan antara espresso tambah lemon serta sirup gula. Rasanya menyegarkan, pahitnya tertutupi rasa manis asam segar dari lemon. Tapi buatku memang terlalu manis karena memang standarnya kopi hitam tanpa gula (kohitala) saja yaitu manual brew V60 dengan beannya adalah arabica manglayang.
Lemcoff ini adalah singkatan dari Lemon dan coffee, gulanya nggak disebut tapi tetap melengkapi sajian kopi dingin ini. Ini tulisanku di awal tahun 2022, MENIKMATI LEMCOFF.
Sparkling Lemon Coffee / Dokpri.
2. Sparkling lemon coffee Nah yang kedua adalah sebuah sajian kopi dengan lemon dan sirup gula plus soda jikalau menilik namanya. Tetapi hasil koordinasi dan lobi dengan sang barista maka opsi soda bisa dihilangkan. Ternyata tidak menghilangkan kenikmatan yang ada, apalagi 3 helai daun mint menyempurnakan sajian lemon kopi kali ini.
Sparkling lemon coffee ini ditemukan di sebuah cafe kopi di daerah kuningan kota tepatnya di jalan Cijoho dengan nama cafenya adalah DOMO coffee. Sebuah nama dari basa jepang yang artinya rumah.
Urusan rasanya menyegarkan dan jelas cukup manis karena menggunakan sirup gula, dan lebih aman ke lambung karena tanpa soda. Sebab soda tidak bisa membersihkan dosa.
Es Komon / Dokpri.
3. Es Komon Nah yang ketiga adalah sajian kopi lemon di salah satu cafe di Kota Cimahi tepatnya di BIABY COFFEE. diberi nama Komon adalah singkatan juga yaitu dari Kopi lemon hehehehe, sama aja ternyata artinya.
Opsi sajiannya ada yang kopi dan lemon tambah sirup gula dan ada yang ditambah sirup leci. Tapi bisa juga order tanpa sirup gula, maka yang hadir adalah kopi dingin yang pahit dan asem tapi tetap menyegarkan karena disajikan dalam kondisi dingin.
Lemonade coldbrew / Dokpri.
4. Lemonade Coldbrew Sajian kopi dan lemon yang keempat adalah lemonade coldbrew yang dikemas dengan botol dan tutupnya yang unik tentu dengan rasa yang menyegarkan tetapi tetap tidak lepas dari sirup gula meskipun dalam takaran terbatas. Termasuk nuga sudah dibuat dengan kemasan baru yaitu kemasan kaleng yang praktis. Tetapi penulis lebih suka dengan model botol yang bertutup khas dengan ikatan tali rami sebagai pengencang tutupnya.
Lemonade coldbrew ini adalah andalan dari sebuah cafe brnuansa hitam dan gelap di daerah ruko pancawarna Kotabaru Parahyangan yaitu Cafe KUROCOFFEE. Kuro coffee sendiri berasal dari bahasa jepang yang artinya kuro itu hitam jadi kuro koffie adalah kopi hitam.
Terdapat juga pilihan yaitu espresso dan lemon tambah gula di kocok semangat dengan berjugling lalu disajikan di gelas kaca sungguh enak juga rasanya. Namanya lupa euy, tapi yang pasti jangan banyak – banyak karena ada unsur gulanya.
Mandarin Americano / Dokpri.
5. Mandarin Americano Berbeda juga nama sanian kopi dan lemon di Cafe Jurnal Risa jalan Braga Bandung. Ini jeruknya memggunakan jeruk mandarin campurannya ditambah irisan jeruk mandarin yang dibakar dan diletakkan diatas kopi jeruknya.
Rasanya menyegarkan dan tentu menyenangkan. Apalagi bosa menikmati lalu lalang orang yang bergerak di sekitar jalan braga kota bandung dengan segala aktifitasnya, bisa menerbitka inspirasi dan kesempatan untuk menumpabkan ekspresi.
Red Sparrow / Dokpri.
6. Red Sparrow Nah kalau ini adalah penamaan bagi kopi lemon dari sebuah cafe yang lagi happening di Cimahi Selatan yaitu INARA Coffee. Lokasinya agak tersembunyi tapi cukup ramai karena tempatnya nyaman dan parkir kendaraan yang memadai.
Hadir di tempat ini bersama ibu negara dan anak semata wayang untuk menikmati kebersamaan di hari libur sekaligus menikmati sajian manual brew V60nya dengan beannya arabica puntang. Nah sebagai pengeimbang maka dipesanlah kopi lemon dengan nama lucu ini. Srupuut.
Begitulah kawan – kawan tulisan singkatku tentang kohitala yang harus berdamai dengan berteman sama lemon dan gula, ternyata menciptakan aneka nama dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Perbedaan itu wajar namun yang pasti rasa pahit dan asam adalah kombinasi hakiki dari sajian ini. Mari kembali ke konsepsi kopi hitam tanpa gula dan menjalani kehidupan dengan ceria. Selamat menikmati, Wassalam(AKW).
Bergerak cepat dalam agenda ketat, ternyata….. ngopi dulu aja.
Jadi motoris dulu demi persingkat waktu / pic by Bintang.
BANDUNG, akwnulis.com. Agenda kegiatan kedinasan begitu bertumpuk dan berkaitan. Pembagian tugas dan peran dalam tim menjadi tumpuan, meskipun beberapa agenda memang harus hadir secara pribadi karena perlu pengawalan dan penghormatan. Sementara agenda lainnya penting juga karena membahas sebuah agenda besar yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi.
Akhirnya rumus skala prioritas menjadi perhitungan meskipun mungkin memiliki subjektifitas tinggi tapi minimal mengeliminir ketidakpuasan dan rasa kekuranghormatan. Tapi dari pusat menjadi konsentrasi pertama dan disetting agenda pertemuan lebih pagi sehingga selanjutnya bisa bergabung di rapat lain yang mengundang multi stakeholder. Eh ternyata ada rapat juga yang cukup strategis terkait perencanaan pembangunan gedung pelayana, ya udah belok dulu dan setelahnya baru bergabung di aula besar untuk mengikuti pertemuan dalam posisi.menutup acara… hehehe ya by feeling saja untuk kesimpulannya ditambah bisikan singkat dari rekan kami yang memimpin pertemuan ini dari awal tadi.
Jangan tanyakan makan siang karena memang waktu terasa begitu cepat bergerak, apalagi satu agenda lagi tentang pengumpulan eviden dari sebuah sistem pengawasan eksternal yang juga perlu segera dipenuhi. Makan siang lewat, tapi kalau shalat dhuhur tetap harus sempat.
Suasana meeting / Dokpried.
Tiba-tiba telepon berdering dan melihat siapa yang menelepon langsung diangkat dan sebuah kabar mendadak untuk hadir rapat exit meeting dengan pemeriksa eksternal dengan lokasi di kantor pusat. Tanpa banyak tanya, langsung bergerak dan bertindak. Karena memang posisi kantor di luar kota bandung atau tepatnya bandung coret dan menjelang sore ini tentu lalu lintas paha seksi (padat terhambat seluruh jalan terisi), maka pilihannya menggunakan roda dua yang bisa mempercepat pergerakan dengan kelincahannya menembus kemacetan.
Ngeeeng…. ngeeeng… Motor meliuk dan bergerak cepat. Alhamdulillah tiba di tempat rapat dan setelah memastikan kepada petugas, langsung masuk dan duduk di kursi yang kosong. Setelah duduk dengan sejumlah cucuran keringat dan engah nafas yang masih diatur plus rambut yang teracak oleh permukaan helm bergegas buka smartphone untuk melihat apakah ada kiriman dokumen via whatsapp sebagai bahan pertemuan sore ini.
Tring…. ada surat undangan pdf tentang pertemuan exit meeting ini tetapi divisi kita tidak diundang. Hanya 4 divisi yang menjadi lampiran undangan. Walah apa yang salah?….
Ternyata….. jawabannya datang sesaat kemudian dari bapak yang menelepon tadi. Sebuah luncuran kata maaf dengan ekspresi penuh kesalahan, karena menyangka diri ini masih bertugas di divisi lama. Padahal 3 bulan lalu sudah bergerak dan berpindah di divisi yang berbeda hehehehe.
Manual brew V60 Gesa cafe / Dokpri.
Ya sudah karena memang sudah di tempat meeting, lanjutkan saja mengikuti sampai akhir, siapa tahu mendapatkan informasi dan wawasan yang berguna sekaligus bercengkerama dengan rekan – rekan divisi lama yang hadir pada pertemuan ini.
Sebuah hikmah yang menjadi catatan penting atas kejadian ini adalah jangan terburu-buru meskipun yang neleponnya orang penting, lakukan cek dan ricek dulu baru bergerak. Eh tapi juga ini bentuk loyalitas sehingga tanpa ba bi bu lagi, berangkaaat.
Selanjutnya mungkin perlu juga diinformasikan bahwa sudah berpindah jabatan. Ah tapi nggak usah, biarkan saja. Hikmah lainnya adalah bisa berada di pusat kota dan akan segera beredar mencari makanan berat untuk mengganti makan siang yang terlewat. Sebagai sinyal kelaparan adalah rasa pusing sebelah yang mulai mendera, sinyal salatri.
Tapi ada juga obat mujarab sebelah sini, sajian kohitala kopi hitam tanpa gula arabica puntang di Gesa Cafe menjadi pendamai dari segala kericuhan hari ini.
Selamat menikmati dinamika pekerjaan dengan suka dukanya. Tetap semangat dan bersyukur. Wassalam(AKW).
Menggali makna di kunjungan kedua ketiga dan seterusnya..
Parkir dulu yuk.
KALIURANG. akwnulis.com. Memarkir kendaraan agak jauh dari tempat yang dituju terpaksa dilakukan karena ternyata begitu banyak kendaraan yang ada dan terparkir berderet memenuhi lahan parkir juga halaman penduduk yang ada. Hilir mudik manusiapun tak terelakkan, tapi itulah kenyataan. Maka langkah kaki menjadi tergesa karena tahu akan apa yang dihadapi selanjutnya.
Benar saja, sesaat memasuki halaman rumah model sederhana beratap genting tanah seadanya sudah mengular antrian manusia menuju pintu masuk yang terbuka dan menyebarkan aura kesetaraan dan kesabaran.
Kopi klotok & anak sembunyi.
“Mengapa disebut setara dan butuh kesabaran?” Seorang kawan yang baru sekarang berkesempatan datang kesini bertanya penasaran. Jawaban pertama adalah jawaban universal yaitu dengan senyum yang seimbang. Dilanjutkan dengan orasi bersemangat sambil pelan tapi pasti melangkah mengikuti antrian. Disebut setara karena disini tidak ada urusan pangkat baik jenderal atau kopral, juga tidak ada atasan bawahan, tidak ada juga orang kaya dan orang miskin ataupun yang nanggung yakni kaya belum tapi gayanya nggak mah kalah hehehehe… juga yang sosialita dengan tas brandednya sama saja dengan emak bersahaja yang penampilan sederhana, intinya semuanya sama, antri dan tak perlu dirapihkan. Semua otomatis menyesuaikan.
Antri dulu.
Kalau urusan kesabaran, sangat jelas terpampang depan mata. Suhu panas, desak desakan, keringat bercucuran, tapi semua ikut antrian. Ada sih yang sedikit cemberut tapi mayoritas hepi hepi aja dan sambil bercanda. Padahal buruan atau yang ditujunya adalah sajian makanan dan minuman sederhana. “Tapi mengapa banyak orang memburunya?’
Dari celotehan dalam antrian dapat ditebak bahwa banyak pengantri bukan yang pertama datang kesini. Mereka terlihat senang dalam antrian dan bersiap mengambil giliran. Piring seng dipilih lalu ambil nasi sendiri dan memilih sayur lodeh yang tersedia. Pilihanku kali ini adalah sayur lodeh rawit karena butuh kepedasan untuk melengkapi cucuran keringat ini ditambah sambel dadaknya dan telur dadar khas rumah makan ini serta yang tak kalah pentingnya adalah sajian kopi sederhana yang menjadi judul rumah makan beken ini, rumah makan KOPI KLOTOK KALIURANG.
Pilihan makanannya.
Tak lupa pesan juga pisang gorengnya yang nikmat dimakan bersama panas panas. Tanpa bicara menit, pisang goreng sudah sirna dari piringnya dan bersemayam di perut masing-masing. Nikmat gan.
Setelah dapat makanan tentu ada perjuangan selanjutnya yaitu mencari meja atau tempat kosong. Disini rumus kesetaraan dan kesabaran kembali hadir, maka bisa saja semeja dengan orang yang tidak dikenal dan terjadilah perkenalan sehingga menjadi akrab bak saudara yang dipertemukan disini. Kebetulan kali ini rombongannya berbelas orang. Jadi berbagi tugas saja, ada yang antri dan ambil 2 porsi, ada juga hunting meja dan menduduki dengan setia serta satu tim lagi berburu minuman baik kopi klotok sebagai ikon juga kopi susu dan es reh manisnya yang dingin dan manis… ya iya atuh namanya juga es teh, gimana seeeh.
Makan dan bergaya.
Pesan kopinya di tempat terpisah tapi kebetulan dekat dengan meja yang sudah diduduki tim pemburu meja, jadi begitu mudahnya memesan tambahan minumannya, bisa es jeruk atau jeruk es. Bagi yang penasaran apa itu kopi klotok maka ini penjelasan lengkapnya, klik saja KOPI KLOTOK. Sebuah tulisan singkatku beberapa tahun lalu menjelaskannya.
Selanjutnya ada pesan moral ketiga setelah kesetaraan dan kesabaran, yaitu kejujuran. Ini dilakukan pada saat transaksi pembayaran, sang kasir hanya bertanya apa yang kita makan dan disebutkan angka sekuan rupiah, bayar dan pulang. Jikalau bohongpun tidak ketahuan, tapi disini semua jujur atau berusaha jujur. Pikiran jadi melayang ke istilah di priangan ‘darmaji‘ dahar lima ngaku hiji (makan lima tapi mengaku hanya satu) atau perilaku ini disebut ‘ngalibur.’ Perilaku remajaku yang sudah ditinggalkan karena merugikan pemilik kedai, warung atau rumah makan.
Halaman belakang.
Beranjak ke halaman belakang ternyata banyak orang yang gelar tikar dan duduk lesehan dengan riang gembira serta jalan jalan di pematang sawah dengan kehijauan padi yang mendamaikan. Termasuk juga aroma romantisme muda mudi yang sedang pedekate ataupun sekedar pacaran sambil lesehan di tikar pandan ditemani sajian makanan dan minuman sederhana yang secara tak sengaja tertangkap jepretan kamera.
Kopi sisa dan pedekate.
Maka seruputan kopi klotok di halaman belakang ini menjadi penutup kenikmatan siang ini, namun kembali menguatkan kenangan bahwa sajian makanan dan minuman sederhana ini memiliki makna mendalam seolah mengobati kerinduan rasa dan suasana dari sajian alami neneng moyang… eh nenek moyang yang wajib didatangi dan dinikmati lagi dikemudian hari. Menikmati kesetaraan, kesabaran dan kejujuran dalam satu frame aktifitas makan siang yang tak terlupakan. Wassalam(AKW).
Hubungan O – nol – kopi O dan Kinerjaku plus SPBU.
Lagi di SPBU / Dokpri.
SAGULING, akwnulis.com. Tulisan ini terinspirasi dari komentar atau laporan akuntabilitas normatif dari mamang tukang SPBU yang selalu bilang, “Dimulai dari nol ya.” Sebuah kalimat biasa yang berubah menjadi berbeda karena banyak didengar oleh aneka telinga dari seantero nusantara disaat siapapun berurusan dengan pengisian bahan bakar kendaraan bermotor.
Termasuk juga dari sisi romantisme, kalimat tersebut menjadi bagian penting percakapan gombalisme bahwa hubungan kita dimulai dari nol atau diawali dari tidak ada apa-apa. Bisa juga yang marahan dari pasangan yang sedang merajut hubungan, maka kalimat ini sebagai pangbeberah atau penguatan agar hubungan yang retak bisa kembali berlanjut meskipun menyisakan noktah kewaspadaan khawatir terjadi lagi kejadian yang sama di masa yang akan datang.
Dikaitkan dengan kopi maka sebuah pengalaman penting tentang nol atau hurup O ini adalah pengalaman ngopi di negeri singa. Nggak perlu nyebut tepatnya tahun berapa, pokoknya pernah aja beredar disanah. Pas memasuki sebuah cafe di daerah bukit bintang, maka salah satu pilihan utamanya tidak jauh – jauh yaitu kopi dong.
Bentar – bentar, perasaan nggak ada daerah bukit bintang di singapura mah, itu di malaysia coy… hehehe salah. Maksudnya di malaysia ya bro. Nah pas masuk ke cafe yang jelas ada menu kopinya. Maka simpel saja, order kopi donk. Bayar dulu dan langsung mencari meja kosong. Tak berapa lama datanglah pelayan dengan gelas kertas dan berisi kopi agak keruh. Wah takutnya salah, langsung diicip. Ternyata kopi susu.
Hampir saja refleks memanggil pelayan tadi dan ajukan komplen karena tidak pesan kopi susu. Tapi sahabat di sampingku mencolek dan berkata, “Dikau yang salah kakak, disini klo mau pesen kopi hitam, bilangnya KOPI O” sesaat terdiam dan wajah melongo lalu perlahan mengangguk dan terdiam atas informasi baru ini.
Sidebarku sudah nol / Dokpri.
Itulah sepenggal kisah 8 tahun lalu disaat berkenalan dengan huruf O atau angka nol yang terkait dengan kopi di sebuah cafe di bukit bintang yang dikawal oleh adinda calon Ph.D yang sekarang sudah menjadi salah satu pejabat tinggi pratama di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Huruf O dan angka nol memang tidak serta merta sama apalagi jika dipijitnya dengan keyboard, tentu beda letak dan bentuk. Namun jika dituliskan dengan tangan maka bisa samar dan menjadi sama termasuk sebutannya. Setuju khan?….
Hubungan dengan angka nol ini berkaitan dengan pekerjaan dan tugas sehari-hari baik dari sisi kinerja penyelesaian pekerjaan yang harus dilakukan dengan memelototin aplikasi SIDEBAR. Baik meneruskan surat ke atasan, mendisposisi dan distribusi surat kepada bawahan dan rekan sejawat juga parafisasi digital untuk surat yang akan ditandatangan elektronik oleh pimpinan. Maka angka nol ini menjadi sangat penting, karena jika angka nol sudah bertengger di dashboard sidebar, berarti pekerjaan sudah dituntaskan untuk hari itu. Besok tentu hadir lagi surat – surat elektronik lainnya yang harus dituntaskan.
Selain itu juga angka nol menjadi bukti kinerja anak buah kita yang sudah disetujui oleh kita dari pelaporan tugas pekerjaan sehari – hari dilengkapi photo aktifitas dan deskripsi aktifitas minimal 300 kata. Ini aplikasi yang berbeda, tapi itulah aplikasi yang membantu kita melaporkan pelaksanaan tugas rutin dan tugas tertentu dari pekerjaan kita.
Demikianlah sekelumit kisahku dengan huruf O dan angka nol termasuk berkaitan dengan kopi, yaitu Kopi O. Karena diluar kopi o-pun akan terasa aneh jika kopi tanpa huruf o berarti kpi dong hehehehe… Have a nice weekend yang berakhir beberapa jam lagi.
Oh ya, yang punya cerita tentang angka nol dan huruf O, silahkan berbagi di kolom komentar ya. Wassalam(AKW).
Suasana panas saat yang tepat lakukan sruputan pendinginan dengan minum kopi coldbrew.
Coldbrew Kopi GAMBINO / dokpri.
CIMAHI, Akwnulis.com. Suasana gerah dan suhu yang panas di siang hari sedikit menyiksa raga dan mengganggu mood yang ada. Ditambah panas tubuh yang hadir dari dalam karena pembakaran kalori dan penimbunan lemak dari asupan makanan yang mayoritas karbo dan gula. Diawali oleh gehu dan bala-bala, dilanjutkan 2 buah roti unyil dan 2 biah bakpia melengkapi menu makan siang yang bersahaja. Sejumput nasi putih, yang ditaburi acar tongkol, tempe geprek pedas, tahu baso, dan tumis kiciwis serta kerupuk.
Maka rasa panas dari dalam dan luar ruangan melengkapi suasana dan menguasai raga sehingga pipi terlihat memerah dan nafas terengah. Maka pilihan untuk menceburkan raga pada kesegaran air dingin di kamar mandi menjadi prioritas. Buka pintu kamar mandi, jebur jebur jebur… sueger rek.
Tapi ternyata tak bertahan lama kawan, baru beberapa saat keluar kamar mandi ternyata pori – pori wajah kembali berkeringat padahal baru tuntas handukan. Begitu membara siang ini, oh my God.
Maka berbagai upaya harus dilakukan, pertama dengan berwudhu dan berlama-lama menikmati kesegaran air dari keran pancuran di belakang rumah. Lalu shalat duhur di mushola ditemani semilir angin siang yang memberikan harapan. Alhamdulillah.
Tampak Depan / Dokpri.
Badan sudah relatif adem, apalagi perasaan tentu lebih tentram setelah lapiran rutin kepada Illahi Rabb. Tapi memang suasana di luar rumah cukup panas dengan sinar mentari yang begitu tajam memancarkan cahayanya seolah begitu dekat dengan permukaan bumi ini. Maka perlu dilakukan tindakan pendinginan yang lebih komprehensif dan terpadu. Ealaaah bahasanya begitu meninggi….
Sebagai pelengkap kesegaran, maka teringat bahwa di kulkas punya kopi khusus. Sebotol kopi coldbrew bermerk GAMBINO yang dibeli beberapa hari lalu di KKV, itu toko yang lagi viral di Kota Bandung. Langsung segera menuju kulkas, buka pintunya dan pilihan mata langsung tertuju pada botol hitam bertuliskan COLDBREW coffee.
Botol hitam kopi coldbrew langsung dibawa ke halaman belakang ditemani gelas kecil kaca kesayangan. Sambil menikmati kehijauan di taman belakang maka botol dibuka, dikucurkan eh dituangkan ke gelas kaca dan langsung disruput dengan segera. Wuih rasanya seger kawan, dinginnya itu yang bikin nikmat. Kalau dari sisi rasa kopinya biasa saja malah cenderung hambar, tetapi sebagai produk kopi hasil proses coldbrew tentu sudah cukup.
Kelebihannya adalah packing produk dalam bentuk botol dan penamaan produk yang jelas serta sudah bisa bertengger di rak toko KKV tentu melalui proses kurasi yang cukup ketat. Sehingga jangkauan pasar cukup luas. Oke lah hayu sruput lagii….. ahh segaaar.
Bagi yang penasaran sebotol coldbrew coffee ini bisa menemukan di rak toko KKV PVJ Bandung atau mungkin di tempat lain, maklum baru ketemunya di satu tempat ini saja. Tapi kalaupun mau buat kopi dengan metode coldbrew di rumah juga tidak sulit kok guys. Step stepnya sederhana yang penting kualitas biji kopinya yang terjaga.
Selamat menikmati hari ini dan selalu bersyukur atas semuanya. Wassalam(AKW).
BREBES, akwnulis.com. Setelah sekian purnama mendapatkan amanah tugas baru, maka momentum kali ini menjadi begitu bermakna. Karena akhirnya pecah telor bisa kembali bergerak lintas batas provinsi menyeberangi provinsi tetangga tentu secara kebetulan dirayakan dengan hadirnya telor juga, tepatnya telor asin.
Ada kebetulan yang seolah tidak disengaja, tapi itulah hal yang nyata. Apalagi keberangkatan kali ini penuh dinamika. Berbicara perubahan rencana sudah menjadi kelumrahan saja. Mulai dari jam keberangkatan, kendaraan yang digunakan hingga rencana acara yang akan dilaksanakan termasuk kepastian keberangkatan personil yang akan mengikuti perdin lintas provinsi ini.
Secara dampak tentu jelas, ada yang ngedumel karena berbagai dinamika ini. Ada juga yang sering diam dan terlihat lebih banyak merenung dan (mungkin) berdoa agar keberangkatan ini menjadi nyata. Juga ada yang cuek saja apa adanya dan menikmati setiap detik perubahan yang ada. Akhirnya plan E yang dipakai, pasukan terbagi menjadi beberapa kendaraan, beberapa waktu dan beberapa personil. Seru pokoknya.
Nah kembali ke core tulisanku yang mengaitkan diri serta tulisan dengan kopi, jangan dimaknai dengan kejenuhan dan kebosanan. Tapi itulah sudut kata yang menjadi penjuru imajinasi dan penguat semangat dalam membuat tulisan sehingga memunculkan citra tentang peminatan dan kekhasan dalam sebuah tulisan. Nah kebetulan itulah yang menjadi rangkaian cerita kali ini.
Kopi Telor Asin berbaris / Dokpri.
Kalimat yang cocoknya adalah ‘pecah telor’ dan ‘telor asin’ ditambah kopi jadilah KOPI TELOR ASIN. Cocok khan?… jangan nyebut memaksakan kehendak, tapi itulah sebuah cara menyatukan makna dan menambah pemahaman tentang arti kalimat dalam perspektif jalinan kata.
“Trus gimana ilustrasinya om?”
Maksudnya nyambungin gambar kopi dan telor asin?.. gampang banget atuh. Pertama keluarkan dulu gelas kaca kesayangan dan kedua tentu dituangkan kopinya, kopi hitam tanpa gula dari termos eh tumbler mini pribadi. Lalu telor asinnya dibelah dan dibariskan dengan seksama. Ada telor asin original, telor asin pindang dan telor asin bakar. Telor asin biasa yang rasanya seperti telor asin umumnya hehehe.
Kalau telor asin pindang ada tambahan rasa rempah yang menyerap pada tekstur putih telurnya. Beda lagi dengan telor asin bakar, selain rasa khas telor asin juga ada rasa smoky yang khusus meskipun tetap rasa smoky-nya lembut. Berbarislah dengan segelas mini kopi, jadilah Kopi Telor Asin (KaTeA).
Mesjid Al khobir / Dokpri.
Jangan dibayangkan minum kopi dicampur telor asin mentah, bakal beranfakan semua. Rasa kopi bercampur amis telur bebek, perlu perjuangan untuk menikmatinya. Telor asinnya jelas berasal dari sebuah kios di rest area Tol jateng pasca keluar dari Tol Cipali, sambil sejenak merenggangkan otot kaki karena duduk diam di dalam Hiace, juga menyempatkan diri sholat asyar di Mesjid Al Khobir atau mayoritas tujuan utama adalah menuju toilet demi menandai lokasi ini dengan menyimpan kenangan dan menitipkan sesuatu.
Itulah sejumput kisah sore menjelang malam ini, sebuah perjalanan menuju daerah Temanggung Jawa Tengah. Bismillahi Mazreeha Walmursaha, Wassalam(AKW).