KOPI GELATIK SARIMUKTI

Dimanapun bisa ngopi..

KBB, akwnulis.com. Segelas plastik cairan hitam telah hadir dihadapan, lengkap dengan kepulan asap putih sebagai hasil pertemuan air panas mendidih dengan bubuk kopi andalan. Rasa panas menyeruak di dalam tenda komando ini, tetapi dengan hadirnya kohitala gelatik ini suasana ‘hareudang‘ menjadi ceria.

Singkatan apalagi KOHITALA GELATIK?”

Oh itu, singkatan dari Kopi Hitam Tanpa Gula dengan Gelas Plastik. Sebuah sajian kopi darurat yang hadir di dalam trnda dapur umum yang menjadi pendukungan terhadap penanganan kondisi bencana yang terjadi di lapangan, yaitu kebakaran di tempat pembuangan sampah Sarimukti Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat.

Para relawan Tagana KBB yang juga merupakan Tagana Jabar berjibaku membantu pendukungan kegiatan ini dengan mendirikan dapur umum dengan tenda dari Dinsos Jabar serta membuat dan menguplai makanan minuman bagi petugas yang bekerja dengan jumalh 1.500 pak setiap kali makan dibawah koordinasi BPBD & Dinsos KBB selama 14 hari sampai dengan tgl 11 September 2023. Selanjutnya peran dapur umum diampu oleh BPBD provinsi seiring penetapan tanggap darurat di level provinsi untuk penanganan selanjutnya.

Kembali ke tema kopi, sudah jelas bahwa uniknya si kohitala ini adalah bukan hanya berbicara tentang rasa saja tapi banyak dimensi yang bisa kita gali dan menjadi bahan literasi. Pertama bisa dilihat dari sisi bahan baku atau bijinya, kedua bagaimana penyajiannya, ketiga siapa yang menyajikannya, keempat dimana kita menikmatinya dan kelima yang juga krusial adalah dengan siapa menikmatinya… ups agak sensitif nich hehehehe.

Maka tulisan singkat kali ini adalah masuk ke dalam poin keempat yaitu dimana kita menikmatinya. Karena dengan Kohitala Gelatik ini untuk poin pertama sudah jelas bahwa bahannya adalah kopi sachet tetapi dipilih yang tanpa gula. Poin keduanya sudah jelas penyajiannya minimalis dengan gelas plastik. Tentu ini patut disyukuri, gimana kalau disajikannya tanpa gelas? Langsung air panas ditumpahkan ke telapak tangan, atuh berabe gan.

Poin ketiga siapa yang menyajikannya, sudah pasti petugas tagana yang begitu mahir membuat aneka masakan menghadirkan makanan dan minuman yang enak lho, ngvak kalah sama rasa dan kelezatan makanan di rumah makan. Maka dilanjutkan poin keempat, ini yang menjadi titik tolak, dimana kopi ini di nikmati. Tentu berada di dalam tenda yang menjadi bagian dari dapur umum dinsos – tagana. Sebuah suasana berbeda dibandingkan ngopi di cafe. Tapi jangan salah kawan, kenikmatan sruputan, kenikmatan rasa kebersamaan dan senda gurau ala orang lapangan memberi nilai tersendiri yang tidak bisa diukur dengan angka.

Bagaimana suasana lelah membuat masakan dan minuman, kericuhan pada saat jam makan, deadline makanan dan minuman tersaji dan terbungkus sempurna untuk segera disebar kepada petugas di lapangan yang berjibaku dengan hadirnya titik api yang baru agar mereka tidak kehausan dan kelaparan adalah cerita kebersamaan yang saling menguatkan ditemani sruputan kohitala gelatik sehingga harus minta tambah dua kali.

Maka kembali dalam tulisan ini, jangan takut untuk memulai menulis. Tulislah, alirkanlah rasa yang tersimpan dan simpanan yang terasa sehingga berbuah kata dan kalimat hingga akhirnya sebagian memori kita tersimpan dalam server berbeda yaitu sebuah tulisan indah yang sarat makna.

Sruput dulu gan, kohitala gelatik kedua.

Lalu jika sudah tuntas menulis, sebarkanlah kepada dunia melalui media sosial kita, atau media sosial dimana kita bekerja. Banyak cara agar tulisan kita hadir di dunia maya. Bisa blog pribadi baik gratisan atau berbayar. Bisa juga mengikuti komunitas dan kolom netizen di beberapa media nasional ternama. Tapi ingat beberapa aturan mungkin berbeda, ya pelajari saja dan ikutu ‘role of the gamenya’.

Baiklah selamat memikmati pagi hari yang agak sendu ini, tapi mungkin nanti berganti ceria karena mentari sudah mulai naik di ufuk timur sana. Wassalam (AKW).

RENUNGAN SUCI 2023

Catatan penting tentang memaknai kemerdekaan.

CIKUTRA, akwnulis.com. Renungan suci tahun terasa berbeda, karena kehadiran raga di area sekitar 11 hektar ini tidak hanya di malam pergantian hari. Tetapi H-1 alias tanggal 16 Agustus 2023 pagi haripun sudah hadir di lokasi dan berkeliling bersama para pengelola.

Pantesan tahu luasnya sebelas hektar, langsung diukur ya?”

Pertanyaan serius yang dijawab dengan anggukan mantab dan sebuah senyum seimbang, “Iya berkeliling lalu membaca data yang ada di kantornya pak.”

Ya nggak mungkin juga mengukur langsung seorang diri demi memastikan luasnya secara detail. Hanya berkeliling memutar dan ke area upacara pada akhirnya. Tapi jadi tertantang juga menghitung luas tanah yang menggunakan rumas panjang kali lebar. Kalau petak tanahnya lurus sih gampang menghitungnya, kalau belok-belok gimana?

Ya sudah nggak usah dipikirkan ah, tapi sebelum beredar diperlukan morning mood buster yaitu sruputan kopi hitam tanpa gula hasil seduhan manual V60 dengan beannya adalah gayo halu natural yang dimasukan ke dalam botol kaca. Maka sruputan bersama di kantor pengelola taman makam pahlawan cikutra ini berlangsung dengan khidmat. Pak Bos pengelola, Pak Amas terlihat begitu menikmati sruputan pagi ini, begitupun beberapa rekan kerja lainnya.

Srupuuut.
Alhamdulillah.

Semangat pagi yang menggelora, digunakan untuk menggerakkan raga menuju lokasi makam di samping kantor pengelola. Jajaran batu nisan lengkap dengan nama menyambut perjalanan pagi ini adalah area TMB taman makam bahagia.

Sebuah istilah terkait area kawasan taman makam atau tempat pemakaman bagi prajurit/purnawirawan yang tidak memenuhi syarat untuk dimakamkan di TMPN, itu istilah jika merujuk pada Peraturan Menteri Pertahanan RI Nomor 11 Tahun 2022 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Pertahanan nomor 24 tahun 2017 tentang Perawatan dan Pemakaman jenazah prajurit, purnawirawan, pegawai negeri sipil, dan wredatama di lingkungan Kementerian Pertahanan dan Tentara Nasional Indonesia.

Jadi salah satu tempat yang menyematkan kata ‘bahagia‘ ada disini guys. Jadi yang galau dan merasa sedang bersedih harus tahu ini. Ternyata taman makam atau tempat pemakamanpun tidak selalu bernuansa kesedihan, tetapi tersemat rasa bahagia disana.

Maka sambil berdiskusi dan sedikit tersengal dengan bapak bos pengelola karena ternyata dari area Taman Makam Bahagia menuju area Taman Makam Pahlawan ini perlu berjalan menanjak yang membutuhkan ketangguhan dengkul dan pengaturan nafas yang tepat.

Tiba di area tengah yang merupakan lokasi utama sebuah boulevard luas yang mengitari tiang bendera besar dengan kibaran bendera merah putih besar begitu memukau dilengkapi dengan prasasti yang diatasnya bertengger burung garuda yang gagah, garang dan tatapan tajam dibawahnya batu granit hitam yang menjadi sebuah tempat dengan tulisan grafir besar ‘ESA HILANG DUA TERBILANG.’

Pengecekan diakukan sampai ke ujung utara kawasan taman makam pahlawan cikutra ini, sampai blok N. Dari pengamatan langsung terdapat beberapa tembok pembatas yang terbuka dengan berbagai faktor, ada yang terpaksa dirobohkan karena beririsan dengan jalan atau gang penduduk sekitar sehingga beresiko mencelakakan warga yang melintas serta ada juga yang benteng terbuka karena faktor alam. Semoga semua pihak yang berkepentingan dapat duduk bersama dan membahas langkah solutif untuk memelihara, menjaga, memperbaiki dan mengelola taman makam pahlawan ini semaksimal mungkin.

Setelah tuntas berkeliling di area taman makam pahlawan maka langkah kaki menuju pintu gerbang utama yang diapit 2 monumen besar yang menjulang tinggi menjangkau langit. Seperti gerbang menuju dimensi lain lho. Nah disini ada protap atau aturan yang sebaiknya kita ikuti yaitu memberikan penghormatan pada saat masuk area dan juga keluar area. Lakukan posisi hormat gerak, badan tegap, tegak gerak, balik kanan dan lanjutkan perjalanan menuruni tangga berbatu yang akan membawa raga ini keluar dari area taman makam pahlawan ini.

Sebuah kawasan pemakaman yang menampung 5.968 pahlawan di area TMP dan 2.537 orang di area Taman Makam Bahagia di area 11 hektar terletak di daerah Cikutra Kota Bandung ini berlokasi strategis dan memiliki nilai penting sebagai sebuah bangsa yang menghormati, mencintai dan menjaga semangat kepahlawanan sebagaimana para pejuang yang telah mengorbankan jiwa raga dan segalanya demi meraih kemerdekaan dan memberikan untuk anak cucu generasi penerusnya.

Setelah semua pengecekan dirasa cukup lengkap, maka kembali berkumpul di kantor pengelola dan membahas persiapan acara nanti malam dimana upacara renungan suci akan berlangsung. Kelengkapan terkait lampu sorot, perlistrikan hingga kebersihan ruangan stop over, toilet plus lalawuh eh snack tamu perlu cek and ricek agar semuanya lancar pada waktunya.

***

Malam hari menjelang dimana hilir mudik para peserta upacara renungan suci mulai terlihat. Mayoritas untuk ASN menggunakan pakaian seragam Korpri dan sebagian lagi menggunakan PSL, stelan jas dasi dilengkapi peci sebagai penutup kepala. TNI, POLRi tentu dengan PDUBnya termasuk berbagai asosiasi dan berbagai perwakilan elemen masyarakat telah hadir bersama.

Hingga akhirnya momentum renungan suci tengah malam tiba. Tepat pukul 00.00 wib memasuki tanggal 17 agustus 2023 acara sakral berjalan sempurna. Penghormatan kepada para pahlawan yang jasadnya bersemayam di taman makam pahlawan ini dilakukan oleh seluruh peserta dalam kehidmatan suasana tengah malam. Sebuah cara untuk merawat rasa tentang bagaimana makna berjuang, betapa penuh pengorbanannya untuk meraih sebuah kata, KEMERDEKAAN.

Akhirnya upacara renungan suci berakhir dan seluruh peserta renungan suci berangsur meninggalkan taman makam pahlawan. Tidak lupa penghormatan di pintu gerbang yang diapit dua monumen tinggi menjulang dengan sikap sempurna dan keseriusan. Lalu raga bergerak kembali menuju ruang kerja pengelola TMP ini dan melanjutkan diskusi hingga tak terasa dini hari sudah menyentuh waktu pukul 02.00 wib tanggal 17 agustus 2023.

DIRGAHAYU  KE – 78 REPUBLIK INDONESIAKU.

Raga harus pamit dan bergegas pulang ke kediaman untuk mengistirahatkan semua karena nanti jam 07.00 wib harus kembali bertugas sebagai perangkat upacara bendera  di level kantor kita. Demikianlah catatan singkat tentang momentum renungan suci dan HUT ke-78 RI. MERDEKA. (AKW).

DEFILE – AJOJING & KOPI.

Semua hadirkan kabisa dan ngopi tetep harus bisa.

CIMAHI, akwnulis.com. Keriuhan pagi hari menjelang siang di halaman tengah kantor begitu menyenangkan. Semua terlarut dan menikmati rangkaian acara yang direncanakan, diatur dan dikordinasikan oleh para ASN muda, generasi penerus birokrasi yang sekarang bertugas di Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. Sebuah prosesi regenerasi dari generasi ‘kolotnial ke millenial’ secara teknis kegiatan tetapi secara kebijakan dan dukungan keseluruhan tetap diaping dan diawasi oleh para kolotnial.

Pagi hari yang menjadi momentum dimulainya rangkaian acara di lingkup dinas dengan melibatkan seluruh elemen yang ada. Baik berdasarkan unit pelaksana teknis daerah (UPTD) dan satuan pelayanannya juga di lingkup bidang dan sekretariat. Semua tumpahkan ide kreatifitasnya untuk menjadi bagian baik dari sisi performance kekompakan kelompok ataupun individu dengan batasan waktu yang ketat.

Juga penggunaan aksesoris defile yang tidak berlebihan, apalagi menjadi beban biaya untuk sewa peralatan. Semua berusaha optimal meskipun tetap dibalut dengan kesederhanaan. Karena kembali kepada philosopi kemerdekaan di lingkup dinas, bahwa peringatan kemerdekaan bukan berarti hura-hura tetapi memperingatinya dengan bersama-sama ceria dengan konsep dari kita, oleh kita dan untuk kita.

Judul resminya adalah defile masing-masing dan dipersilahkan menampilkan aneka kreatifitas yang ada tentu dengan batasan waktu yang tertata. Maka berbagai kreatifitas hadir beraneka, dari mulai gerakan baris berbaris yang kompak tapi lucu, marching band, vocal grup, joged bersama, pantun jenaka, yel-yel hingga retsing (kabaret singkat). Semuanya dilakukan dengan gembira, apalagi dikala terjadi kendala membuka konfeti atau ada juga musik pengiring telat hadir, maka tawa membahana menjadi penanda keceriaan.

Sebagai implementasi penilaian yang mengusung tema independensi maka dewan juri diambil dari para expert yang fashionable serta paham tentang rumus baris berbaris. Ada bunda juju perwakilan mitra, ibu Nina pimpinan DWP juga bapak Azis Zulfikar seorang ASN kreatif yang selalu tampil elegan. Inilah yang diembani amanah oleh panitia memberikan penilaian yang akhirnya akan diumumkan pada acara penutupan nanti di akhir bulan agustus 2023.

Ada satu kata yang menjadi kesimpulan setelah semua defile melalukan tugasnya untuk menampilkan kamonesannya yaitu lagu sunda yang lagi hits bingit, yaitu lagu AJOJING. Lagu ceria ini memaksa segera bergoyang dengan ketukan gendang yang khas malah dikolaborasikan dengan musik koplo pantura-an.

Lagu eh musik ini menjadi primadona dalam defile ini, karena ada 4 kontingen menggunakanannya sebagai latar musik dan rata- rata semua bergoyang dengan kapasitas masing-masing. Dari mulai goyang dalam hati, goyang sedikit jari kaki hingga ngarengkenek bergaya jaipong yang pas banget dengan alur musik candu ini gan.

Ajojing ala ala ajojing…..  Ajojing ala – ala ajojing!!”

Maka sesuai arahan pimpinan untuk mentahbiskan AJOJING ini menjadi tema pendukung rangkaian acara memperingati hari kemerdekaan ini diperlukan penelaahan singkat jangan sampai sesat makna dan berakibat sesat rasa.

Berdasarkan KBBI, kata ajojing berarti ‘Dansa dengan cara berjingkrak. Sementara kalau terjemahan bebas lebih cocok sebuah singkatan : Ayo Bergoyang sambil jingkrak (Ajojing). Tapi ada juga seorang kawan membisikkan arti ajojing adalah, “Ayo berjoged… Jing!”

Upss..

Jangan gunakan arti yang terakhir karena sarat makna kata – kata kasar hehehehe. Supaya pikirannya cekas dan fokus maka perlu di doping dengan sajian kopi arabica sunda typica yang diseduh manual dengan corong V60. Sebuah cara menikmati kohitala tentu dengan metode sederhana dan menghasilkan cairan kopi yang apa adanya tapi mampu hadirkan body, acidity dan aftertaste yang berbeda.

Sajian kopi arabica sunda typica diabadikan terlebih dahulu dengan latar belakang sorai – sorai ramai para peserta, panitia, penonton, penggembira dan masing-masing manajer area yang beradu ketangkasan pada rangkaian lomba tradisional yang seru dan penuh canda tawa. Diawali dengan lomba tepung sehingga banyak peserta yamg cemong dan wajah putih, lomba kelereng sendok, balap bakiak dan balap karung berhelm.

Kembali sang pejuang tepung harus ditambah bau amis karena mengikuti lomba memasukkan belut estafet ke dalam botol terus balap makan kerupuk dengan kecap yang enak dan seru hingga akhirnya ditutup dengan lomba pecah balon. Lomba penutup yang dirancang oleh para milenial pengampu acara agar dari mulai lumuran tepung berpadu keringat, bau hanyir belut dan bubuk krupuk berbalut kecap serta jelas cucuran keringat ditutup dengan air segar dari balon yang pecah memberi kesegaran dan gelak tawa. Kalian semua luarrrr biasaa.

Nah urusan sajian kopi, ternyata arabica sunda typica menghadirkan keseimbangan rasa antara body dan acidity di level medium. Sementara aftertaste-nya ada rasa kacang tanah dan selarik lemon yang menyegarkan. Srupuut gan. Trus inget lagi tentang AJOJING, sebagai anak yang lahir dan besar dalam keluarga sunda itu maka makna ajojing adalah berjoged dalam suasana gembira. Baik sendiri ataupun berkelompok dengan iringan musik yang mendayu, bisa ketuk tilu, dangdutan ataupun jedag jedug atau jep ajep. Intinya bergembira dan bergoyang. Tapi tidak salah juga jika buat singkatan lain tentang ajojing ini yaitu : Aplikasi Jaringan Organisasi dan Jaringan Informasi Non Goverment.

Halah maksa pisan, terserah aja ah. Udah kita sruput kopi aja”

Maka sruputan ketiga menutup catatan bahagia sore kali ini. Sebuah acara pembukaan dan lomba-lomba ceria dan bahagia. Have a nice weekend kawan. Wassalam (AKW).

***

Catatan : bagi yang merasa photonya tidak tercantum disampaikan permohonan maaf, tapi kalau mau ya kirim saja photonya. Cekidot.

EMOSI & KATA

Ternyata sejumlah kata bisa damaikan suasana.

CIMAHI, Akwnulis.com. Sebuah luncuran kalimat menohok ternyata diteruskan dengan rangkaian kata yang begitu memojokkan. Membuat jiwa ini tersudut dan seakan mengecil dari kenyataan dunia ini. Seluruh pandangan mata seolah tertuju kepada raga rapuh ini yang terus menjadi bulan-bulanan.

Mengapa begini?”

Kalimat tanya menjadi pembuka, tetapi ketahanan mental dan gejolak emosi harus terkendali karena melihat serbuan kalimat – kalimat penuh tekanan dan tendensius ini mulai menggoyahkan kendali emosi dan menghapus nalar sehat untuk segera berucap demi harga diri.

Gejolak batin harus tertata dengan helaan nafas teratur berbalut kepasrahan. Sebuah kesadaran rasa kembali terbentuk dan menjadi pondasi hakiki dalam menghadapi sebuah kondisi yang kurang mengenakkan ini. Apalagi aura ketegangan mulai terlihat dari wajah – wajah hadirin. Tentu dengan gejolak dan celoteh hati yang berbeda. Ada yang degdegan takut kena giliran disemprot, tapi ada juga yang merasa senang melihat raga ini menjadi sasaran dan tak bisa sama sekali memberikan perlawanan.

Sementara hamburan kalimat terus mendera, jiwa terdiam dan emosi stabil menjadi pegangan. Tentu dengan berdzikir dalam hati yang terdalam, kita harus kuat dan tenang dalam hadapi kenyataan. Apalagi sikap kita dalam menghadapi ini tentu menjadi penentu bagi sikap teman – teman yang semakin kikuk dengan ketegangan.

Maka wajah tetap tegak dan menatap pembicara tanpa menghadirkan ekspresi berlebihan. Kata anak sekarang mah, B aja alias ‘biasa’ aja. Pikiran yang relatif stabil dengan hati yang damai memberi kestabilan emosi yang sejajar maka apapun kalimat yang dagang, biarkanlah sebagai bagian dari perbaikan di masa mendatang.

Lagian kenapa juga harus tegang?”
“Padahal tegang itu ada saatnya, ada tempatnya khan?”

Alhamdulillah dengan semua ketenangan ini, perjumpaan formal akhirnya usai dan semua bubar dengan membawa segala persepsi dan kekesalan. Penulis sih santey aja, lha wong pembahasan tadi bertujuan untuk perbaikan, meskipun disampaikan dengan penuh penekanan.

Ingatan tiba-tiba terbang ke 20 tahun lalu, disaat menjadi birokrat muda yang baru menapaki karir. Sebuah doktrin dari atasan harita, “Sabar Jang, jadi staf mah ukur 2 urusan, dititah jeung dicarèkan (Sabar, menjadi staf itu hanya 2 pilihan, yaitu disuruh & dimarahin).

Jadi senyum sendiri dan menjadi catatan penting bagi diri ini, bahwa secuil kalimat apresiasi bagi anak buah menjadi berharga dan menumbuhkan motivasi bekerja lebih baik, disamping dengan kemarahan dan perintah.
Maka untuk menetralisir semua gejolak rasa ini, diperlukan penyeimbang yang hakiki. Tentu doa penenang adalah utama, tetapi secangkir kopi akan menjadi penetralisir rasa dan rupa. Maka segera bergerak meninggalkan tempat pertemuan menuju pertemuan lanjutan dengan sang kohitala, Kopi hitam tanpa gula.

Bergerak kemana?”… tunggu tulisan selanjutnya. Hatur nuhun (AKW).

KOPI KELAPA LEMON RAJA MANGKUNEGARAN.

Menikmati Kopi seperti raja solo di masa silam.

SURAKARTA, akwnulis.com. Perjalanan menikmati kopi dalam berbagai kesempatan yang sudah tertuang dalam blog ini ternyata sudah berhitung tahunan dengan segala dinamika, warna, suasana, tempat, baristanya semakin melengkapi sebuah warisan diri yang tertuang dalam jalinan kata serta dilengkapi poto pendukung yang menjadi penegas dari semua jalinan cerita.

Seiring waktu ternyata kesempatan menikmati kopi hitam tanpa gula ini terus bergulir dan terbuka. Jadi jika sebagian kawan berpendapat bahwa kemanapun harus bisa bersua dan ngopi kohitala. Kenyataannya tidak begitu. Menikmati kopi ini lebih kepada mengikuti aliran takdir saja, tidak memaksakan dimanapun harus ngopi tapi disaat memang mendapat pengalaman baru tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kopi maka sajikanlah dalam tulisan atau dokumentasi video melalui channel youtube kesayangan.

Nah yang menariknya adalah kemanapun bergerak dan menjelajahi bumi ini, baik dengan judul kedinasan ataupun keperluan keluarga dan juga urusan pribadi, ternyata kesempatan bertemu kopi dalam aneka bentuknya itu seolah sudah diarahkan alami. Meminjam istilah Prof Johannes Surya adalah ‘MESTAKUNG‘ yaitu seMESTA menduKUNG.

Maka semangat konsistensi menulis dan membuat video youtube dipertahankan meskipun tentu dilakukan di waktu luang dan berusaha untuk tidak mengambil jam dinas ataupun jam bercengkerama dengan keluarga.

Pada tulisan kali inipun tidak mengkhususkan ingin menikmati kopi di tempat yang spesial, tetapi kenyataannya memang itu yang terbuka di depan mata. Maka bersyukurlah, jalani, nikmati dan tulis sesuai dengan kata hati.

Tulisan kali ini adalah MENIKMATI KOPI DI TEMPAT MAKAN SANG RAJA. Wuih mantaabs khan?….

Jadi tulisan ini hadir setelah menikmati makan dan minum di tempat para raja – raja Surakarta di masa lalu tepatnya di Pura Mangkunegaran Surakarta. Salah satu yang dipilih tentu yang ada kopinya, itu lagi itu lagi. Ya gepepe atuh, khan setiap orang berhak menulis sesuatu dengan berpegang pada prinsip konsistensi tema serta keberlanjutan. Jadi wajar kalau menulis lebih menyoroti tentang sajian kopi ataupun yang berkopi.

Tempatnya berada di dalam komplek kerajaan Pura Mangkunegaran Kota Surakarta, nama restorannya adalah PRACIMA TN MANGKUNEGARAN. Restoran ini menjadi sangat spesial karena menyajikan originalitas baik sajian menu makanan dan minuman serta suasana masa lalu plus yang menarik adalah menjaga tatakrama keraton yang begitu ketat aturan. Semua itu dibalut dengan manajemen modern yang terbuka dengan mengawinkan teknologi dan kemajuan media sosial dengan nilai masa lalu yang memiliki kekhususan.

Jadi yang kepo dan ingin tahu tentang restoran ini tinggal buka instagram, searching ‘Pracima’ lalu klik link untuk info pemesanan dan interaksi awal langsung terjadi. Menariknya adalah pembatasan pengunjung yang akan masuk ke restoran dengan dibagi jam masuk plus pembatasan maksimal 90 menit berada di restorannya serta standar pakaian yang digunakanpun spesifik seperti tidak bercelana atau rok pendek, tidak menggunakan sandal serta tidak menggunakan batik motif tertentu.

Kondisi riilnya yang dilihat langsung oleh penulis adalah sebuah kompromi tapi adab tetap dipegang. Pada saat pengunjung termasuk anak-anak bercelana pendek maka diwajibkan menggunakan kain agar menutupi bagian kaki, tanpa kecuali. Jadi bukan berarti yang rok mini serta merta ditolak. Sementara untuk yang langsung datang tanpa reservasi disarankan JANGAN. Karena pasti ditolak. Pertimbangan pengelola sederhana, restorannya memiliki kapasitas tertentu dan itu sudah sesuai dengan pesanan secara online.


Eh kok jadi membahas urusan restorannya ya?”
“Ya nggak apa-apa, karena pada akhirnya sajian kopi adalah bagian penting dalam prosesi makan minum ini.

Pada saat menu tersaji, pilihan kopinya sedehana sekali. Yakni americano, cappucino dan cafelatte. Sebuah pilihan yang agak menyesakkan bagi pecinta manual brew karena jelas eksplorasi terhadap biji kopi akan terlumat oleh mesin kopi dan akan hadir sajian kopi yang super mirip dengan sajian kopi ditempat lainnya. Maka diskusi terjadi, lalu ada penawaran kopi kelapa lemon. Lupa nama di menunya. Pokoknya campuran kopi, air kelapa dan lemon.

Wah ini menarik. Pesan satu ditambah dengan menu minuman asli yang tercantum adalah PARE ANOM, yaitu sajian minuman perasan jeruk baby dan jeruk lemon, syrup dan kolang-kaling yang tersaji dingin serta dihias dengan sate kolang-kaling diatasnya.

Sajian kopi kelapa lemon dinginnya begitu menyegarkan. Rasa kopi tetap hadir meskipun terbatas ditemani manis alami dari air kelapa muda plus asamnya lemon melengkapi nikmatnya suasana serasa menjadi raja penguasa keraton yang sedang menikmati makan sore bersama kolega atau keluarga. Makanan utamanya adalah PITIK GORENG JANGKEP dan sebagai pembuka dipilih SELADA TOMAT KALIYAN KEJU serta ditutup dengan minuman PARE ANOM yang segar dan ceria.

Tuntas sudah menjadi eh merasakan suasana makan minum raja Pura Mangkunegaran selama 90 menit direstoran. Dilanjutkan mengabadikan taman pracima yang luar biasa. Air mancur warna warni, gedung restoran pracima yang bertabur cahaya serta gazebo pembuka yang juga tak kalah mengesankan telah memberi nilai lebih dari pengalam ngopi di kota solo ini. Selamat menghadapi tugas bekerja di esok hari, senin pagi. Wassalam (AKW).

KOPI GAPURA – ZUMBA – PRESENTASI ASAFUNYA

Ngopi Kerja Kerja Ngopi, ya Ngopi ya kerja…

BANDUNG, akwnulis.com. Perjalanan pagi yang menyenangkan menuju arah dataran tinggi Bandung utara, tepatnya sebuah kawasan resort yang cukup sering didatangi baik urusan pekerjaan atau sekedar nongkrong dan ngopi di cafe CUPBa dengan produk spesialnya yaitu cold brew 3 bln dan 6 bulannya. Rasanya spesial, asem kecut, manis agak nyereng… apa ya nyereng itu bahasa sunda, dalam bahasa indonesianya adalah rasa yang menyengat manakala meminum minuman, biasanya yang bersoda. Nah ini kopi tanpa soda tapi tetap miliki rasa sengatan yang unik.

Tapi tulisan kali ini adalah momen ngopi disini tapi kopinya berbeda. Kopi hasil racikan sendiri di rumah dengan metode manual brew V60 dan biji kopinya adalah arabica wanasuka dari seribukopi roastery bapak ampi Cimahi. Dibawa di botol dan tak lupa membawa gelas kaca mini phirex kesayangan. Setiba di lokasi langsung mengarah ke atas kiri, tepatnya ke Pasar Kebun. Sebuah nama untuk kawasan belanja alami dan nongkrong di weekend kalau nggak salah. Setelah berkeliling sedikit lalu mendaki dengan tangga besi hingga mencapai halaman belakang hotel yang sekarang sudah punya ornamen baru yaitu gapura ukir dengan gaya bali.

Ingatan ini segera melesat ke pulau dewata Bali. Perjalanan 2 jam dari kota Denpasar menuju kabupaten Karang Asem dengan mobil rental. Berhenti di area parkir dan dila jutkan dengan shuttle dituntaskan berjalan kaki sekitar 9 menit hingga tiba di area pura lempuyangan. Weits perjuangan belum tuntas, undakan anak tangga menjadi tantangan pamungkas hingga akhirnya mencapai titik gerbang Gates of heaven yang viral itu tuh. Berlatar belakang gunung Agung yang megah, pasti epic deh hasil photonya.

Tapi khan nggak mungkin tiap minggu atau sebulan sekali ke bali atuh, jebol kantong dan ngak bekerja ini teh?… mah kalau bicara kemiripan tentang gerbang ini terdapat juga bentuk gapura ini di area candi kleco karang anyar jawa tengah. Minimal kalau mau kesini dari bandung bisa tancap gas pake mobil, bis atau juga touring motor via jalan darat. Inipun posisinya berada di dataran tinggi gunung lawu dan diberi nama candi cetho dimana cetho itu artinya jelas. Jelas melihat pemandangan dari dataran tinggi.

Terlepas dari itu semua, kehadiran gapura ukir beton ini menambah kelengkapan titik intagramble yang akan menghiasi halaman media sosial pengunjung, penginap dan pelewat. Maka sebagai pengopi perlu diabadikan momentum menikmati sajian kopi disini. Tentu sambil duduk dan ditemani semilir angin pagi yang mendamaikan hati.

Ternyata pagi ini menikmati esensi ngopi ada 2, yaitu menikmati kopi dan mengopi suasana pagi. Sebuah saat dimana mengembalikan mood dan membuahkan semangat untuk terus bekerja dan bekerja tapi tetap tidak lupa memaknai dan mensyukuri semua kenyataan yang ada.

Kopi disruput sambil duduk dilanjutkan ikut bergerak badan sedikit dengan musik zumba yang energic, apalagi iringan musiknya dengan musik jedak jeduk kekinian seperti kolaborasi ikan dalam kolam, flowernya Ji sung hingga lagu hits domba kuring. Hayu joged sedikit kawaaaan…

Sebagai penutup sesi ngopi pagi ini maka dengan terpaksa meninggalkan gelanggang zumba dan melangkah menuju lokasi pertemuan dimana akan mendampingi pimpinan memaparkan inovasi gerakan pengelolaan aset dengan jargon ASAFUNYA, asetnya ada fungsinya nyata. Agak malas pergi menjauh dari haru biru musik yang menyenangkan ini, tapi apa mau dikata, keputusan harus dilakukan.

Ternyata ada sedikit perubahan rencana, disaat melewati area kolam renang dan melibat stok kopi siap minum ini masih ada setengah botol, kenapa tidak mari dinikmati dipinggir kolam renang ini. Segera menuju kursi santainya, siapkan gelas dan botol kopinya, tuangkan dengan seksama. Santai dulu guys, nangkarak sambil sruput kopi, nikmat pisan… Alhamdulillah.

Dan… ngopi terakhir sesi kali ini adalah dikala persiapan untuk mengikuti tahapan presentasi. Ngopi di meja peserta disamping pak bos yang sedang bersiap untuk tampil sebagai panelis selanjutnya. Selamat memaknai rangkaian hari kerja dan ngopay jangan lufaa… eh lupa. Wassalam (AKW).

KOPI & BAYI YG MENYAYAT HATI.

Sruput kopi bersama bayi – bayi yang menyayat hati.

BATUNUNGGAL, Akwnulis.com. Keberangkatan berdinas pagi ini adalah sebuah janji yang berulangkali dijadwal ulang karena berbagai pertimbangan dan alasan. Alhamdulillah baru menjelang sianglah raga ini mulai bergerak menuju wilayah buahbatu tepatnya di kawasan batununggal Kota Bandung.

Judul resminya monitoring dan evaluasi program dan kegiatan terutama pengelolaan anggaran semester I yang telah berakhir di akhir bulan juli lalu, jadi pasukan tim perencanaan dan pelaporan hadir bersama-sama. Maka dari Cimahi melewati tol gate baros 2 dan keluar di toll gate buahbatu, lalu lintas cukup padat seperti biasa. Lalu setelah dijalur utama ada belokan ke kiri ke kawasan batununggal dan disitulah tujuan kita hari ini.

Penyambutan begitu hangat dari Kordinator Satuan pelayanan anak dan balita yang merupakan satuan pelayanan dari UPTD PPS Griya ramah anak yang terletak di daerah pagaden subang. Sekaligus juga hadir ibu Kepala UPTDnya yang kebetulan sedang monitoring ditempat yang sama. Ditambah pak kepala bidang rehabilitasi sosial ikut bergabung sehingga menyempurnakan kunjungan kerja monev kali ini.

Karena judul kegiatannya adalah silaturahmi dalam rangka monitoring dan evaluasi maka berkeliling area satuan pelayanan ini menjadi langkah pertama. Meskipun baru lantai 1 saja dan dilanjutkan dengan meriung bersama di ruang pertemuan untuk berdiskusi dan membahas berbagai hal termasuk tema tentang pengasuhan anak alias fortesker… eh salah, Foster Care.

Maka penjelasan awal dari ibu Kasatpel PSAB dilengkapi ceriwisnya ibu Kapus GRA membuka wawasan dan pemahaman bahwa pelayanan sosial ditempat ini berbeda dan menyimpan aneka cerita dan drama.

Tapi sebelum jauh membahas tentang drama dan sinetron, maka menikmati kopi hitam tanpa gula yang sudah tersaji didepan mata adalah keharusan yang nyata. Hayu sruput dulu.

Kopi tersaji di cangkir putih, mengubah hati ceria dan tidak lagi tertatih. Memikirkan aneka cerita yang begitu menyayat hati tentang kenyataan dan hadirnya para bayi di tempat ini.

Para bayi, begitu banyakkah?”

Bagaimana kondisinya?”

Pertanyaan ini tentu menyeruak, dan jawaban singkatnya adalah terdapat 17 bayi dan 10 anak yang ada di satuan pelayanan ini. Bayi – bayi tak berdosa ini ada di lantai 2 dan akan segera dihampiri setelah diskusi ini diakhiri.

Disarankan makan siang dulu bersama sebelum naik ke lantai 2, khawatir suasana hati menjadi gundah setelah bertemu dengan bayi-bayi dan selera makan menghilang. Padahal penulis mah santuy urusan makan mah, makin sedih makin lapar, makin galau makin lapar apalagi pas lagi senang, tentu makin banyak ruab-raeb*) makan banyak. Pantesan badan makin membulat dan masagi.

Dikala raga dibawa kedua kaki melangkah menaiki tangga ada rasa berbeda di hati ini, entah sugesti karena cerita tentang nasib anak bayi atau alasan lain, yang pasti secuil sedih terbit di sanubari.

Sebelum memasuki ruang balita diwajibkan menggunakan hand sanitizer yang tersedia di samping kanan pintu masuk. Crot crot crot.. usap usap usap di kedua tangan dan masuklah ke ruangan perawatan.

Jeng jreeng…. wajah wajah bayi mungil bersih terawat dan penuh harap terpampang nyata di depan mata. Dikala kedua tangan terulur maka langsung disambut dengan semangat bayi yang baru bisa berdiri dan dikala digendong dan dipeluk, senyuman indah dari mahluk kecil ini meluluhkan hati. Apalagi pas coba dikembalikan ke boxnya, tangannya tetap terulur untuk bersiap digendong lagi…. hap gendong lagiiii… terjadi sampai 3x tapi para pengasuhnya segera ambil alih dan sang bayi langsung menangis, mungkin marah atau sedih karena tidak boleh digendong lagi.

Bayi lainnya ada beberapa yang cacat sejak dilahirkan, hingga usia 3 tahun ini hanya tergolek lemas dengan kondisi mengenaskan. Bayi ini hadir kedunia karena kasus inces ayah kandung memperkosa anak kandungnya sendiri dan melahirkan bayi-bayi ini. Lalu bergeser ke box yang lain, terlihat senyuman lebar bayi putih montok yang sebelumnya ternyata dibuang oleh ibunya sesaat setelah melahirkan dan tergolek di lantai rumah kosong bersama ari-ari tanpa dibungkus selembar kain sekalipun.

Ada juga yang terbaru, bayi mungil yang dibuang di pinggir sungai citarum daerah nanjung. Bayi di tas dengan posisi terbalik dan hampir terjatuh ke aliran sungai, alhamdulillah ada warga yang menemukan dan menyelamatkan. Ada juga yang dibuang di dalam dus dan satu lagi bayi yang terlahir di belakang pasar dari seorang ibu yang menderita ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) sehingga setelah melahirkan ditinggalkan saja sang bayinya begitu saja.

Ah cerita – cerita pahit yang nyata dan sekarang bayi – bayinya hadir di depan mata. Salah satunya sedang digendong dengan wajah ceria, jauh berbeda dengan kondisi mengenaskan dikala ditemukannya.

Kopi pahit yang tersaji tadi tidak ada apa-apanya dibandingkan nasib mahluk – mahluk kecil yang begitu menyedihkan ini. Tapi disinilah ihtiar negara untuk hadir, merawat, menyayangi dan mencintai mereka sehingga tumbuh menjadi anak ceria.

Sebagai penenang hati maka raga ini beranjak pergi meninggalkan ruang perawatan bayi dan kembali ke ruang rapat tadi. Mencari dan menyambar secangkir kopi lalu menyeruputnya sambil berdoa kepada Illahi, semoga semua kenyataan ini bisa dijalani dan anak bayi ini segera ada keluarga yang menyayangi dan mencintai sepenuh hati.


***

Sebagai pengobat gundah gulana yang melanda karena melihat kenyataan yang ada. Segera berpamitanlah kepada ibu kasatpel dan ibu kapus bersama jajarannya. Maka janjianlah dengan pak Kabid rehsos untuk mendiskusikan langkah lebih lanjut di tempat ngopi sekitar  kantor satpel ini, yaitu di Cafe Coffee ON terletak di jalan terusan buah batu no.181 kujangsari kecamatan bandung kidul Kota Bandung.

Sajian manual brew V60 dengan pilihan biji arabica natural menemani perbincangan sore ini dilengkapi dengan sajian kedua manul brew V60 japanese yang menyegarkan. Mengalirkan ide dan berbagi pandangan tentang mekanisme foster care dan adopsi juga dibahas tentang kriteria COTA dan aneka cerita. Wassalam (AKW).

KOPI GRIYA RAMAH ANAK

Perjalanan kopi eh dinas ke Griya ramah Anak.

PAGADEN, akwnulis.com. Dikala mentari baru saja hadir menyinari bumi dengan cahaya kemilau yang begitu indah, raga ini sudah bergerak menapaki jalan tol cipularang menuju satu tujuan. Kehangatan mentari menemani dari sebelah kanan sepanjang perjalanan di tol Cipularang, lalu di dilanjutkan belok kanan untuk memasuki arah Cikampek lalu menapaki jalur tol Cipali (Cikampek – Palimanan). Disini sinar mentari head to head langsung dengan wajah sehingga dibalik rasa bersyukur karena kehangatannya sekaligus harus waspada karena silaunya dapat mengganggu konsentrasi mengemudi sepanjang jalan tol ini.

Mau kemana pagi – pagi begini?”

Pertanyaan kepo mulai hadir menemani, tapi sementara tidak digubris karena fokus memicingkan mata agar bisa menyetir dengan baik ditengah gempuran silau mentari pagi. Semangaaat.

Tujuannya sebetulnya tidak sampai ke ujung Cipali yaitu area cirebon dan kuningan sana. Tetapi berbelok ke arah kota Subang dan dipertigaan antara arah kanan ke kota subang dan arah kiri ke pagaden terjadilah dilema. Namun segera diputuskan bahwa kita harus ke arah pagaden karena disanalah tujuan kita kali ini yaitu UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Ramah Anak Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat.

Sebuah tempat yang mendapatkan tugas untuk merawat, mendidik dan menguatkan phisik dan mental serta perilaku anak – anak terlantar yang sekaligus tuna pendidikan agar mendapatkan hak untuk bersekolah, hak bernaung dan memiliki percaya diri yang kuat untuk menggapai mada depannya.

Maka sebagai langkah awal memberikan pendukungan terhadap keberfungsian dari UPTD ini adalah melakukan identifikasi aset yaitu melihat secara langsung, mengamati dengan teliti dan tentunya bertanya kepada orang – orang yang memiliki keterkaitan baik dari sisi kewenangan ataupun para anak terlantar yang menjadi klien.

Terdapat beberapa rumah atau disebut wisma yang dihuni oleh anak – anak dari berbagai tingkatan mulai dari usia sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Tentu asrama atau wisma putra dan putri terpisah dengan masing-masing terdapat pembina atau pengawas dari para pekerja sosial, penyuluh sosial.

Disaat berjumpa dengan anak – anak para penghuni panti atau klien di griya ramah anak, terlihat wajah – wajah polos tak berdosa yang dikarenakan nasib sehingga terpaksa terenggut haknya untuk menjalani masa kecil yang menyenangkan dan indah bersama orangtua atau sanak saudara karena ketidakmampuan ekonomi dan keterbatasan lainnya.

Tetapi secercah harapan hadir dari pandangan mata mereka dan juga gerak gerik ceria bersama kawan – kawannya menandakan proses pembinaan dan perawatan di griya ramah anak ini menjadi penguat mereka untuk mampu menapaki masa depan. Sekaligus secara parsial adalah sebuah negara menghadirkan fungsinya mengacu kepada UUD 1945 yang menyebutkan bahwa ‘….. fakir miskin dan anak telantar dipelihara oleh negara…’ dalam bentuk pelayanan anak telantar di griya ramah anak ini.

Tuntas berkeliling wisma langsung menuju ruang pertemuan dan melanjutkan pada sesi formal yaitu memberi motivasi kepada para anak – anak dimana sebentar lagi mereka lulus kelas 12 (SMA/SMK/MA) dan bersiap meraih impian selanjutnya. Tapi sebelum masuk ruang pertemuan ada secangkir kopi hitam menyambut penuh senyuman.

Itulah kawan, sebuah catatan kehidupan tentang tugas dinas sosial untuk memberikan pelayanan kepada anak anak telantar yang merupakan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) dari 26 jenis PPKS yang ada. Terkait sruputan kopi yang kedua ditempat ini adalah kopi spesial aksara. Aksara adalah nama cafe yang dikelola  UPTD ini dan terletak di Kota Subang, tetapi saat ini sementara jeda beroperasi karena (katanya) sang baristanya pergi.

Maka sesi ngopi kedua terletak di antara bangunan mesjid dan kolam ikan, 2 tempat yang strategis. Satu tempat untuk beribadah, mengadu dan kontemplasi diri kepada Illahi sementara dihadapannya terdapat kolam ikan tempat berekspresi para pehobi. Tentu dalam rangka penyelamatan ikan yang tenggelam hehehehe.

Ini catatan penyelamatan ikan di salah satu satuan pelayanan griya ramah anak ini yang terlrtak di Kota Bogor, ini linknya NGOPI PENYELAMATAN DI CIBALAGUNG.

Maka ngopi eh minum kopi pinggir kolam sambil melihat rekan – rekan sedang berusaha menyelamatkan ikan tenggelam menjadi hiburan tersendiri. Suruput jeprut…..

Inilah sekelumit perjalanan ngopi eh perjalanan dinas sambil bertemu kopi kali ini. Sebuah pengalaman penting bahwa bekerja di panti atau sekarang disebut dengan griya tidak cukup hanya berbekal kemampuan nalar saja tetapi harus ditambah dengan hati yang ikhlas untuk melayani, merawat dan memberikan kasih sayang kepada klien anak yang telantar ini. Salam ngopi salam melayani dengan hati. Wassalam (AKW).

KOPI LANSIA CIPARAY

Bekerja – Ngopi & Terharu.

CIPARAY, akwnulis.com. Langkah kaki kali ini penuh makna dan ketrenyuhan. Disaat berjalan kaki memasuki komplek perkantoran, gedung serbaguna yang juga menjadi ruang pertemuan besar, mesjid tempat bersama-sama beri adah bagi umat muslim lalu berderet bangunan rumah yang berbentuk komplek perumahan.

Suasana pagi yang segar memberikan semangat khusus untuk tak sabar berkeliling mengitari lokasi ini. Setelah melewati beberapa rumah atau wisma yang diisi para orang tua, kaki melangkah memasuki salah satu rumah dan ternyata terdapat rata – rata 5 orang ibu – ibu renta yang sedang bercengkerama. Pertanyaan sederhana tentang keadaannya menjadi pembuka pembicaraan akrab yang tak bisa dilupakan. Ya mereka adalah klien dinas kami yang dirawat dan dijaga keberadaan mereka di hari – hari tuanya karena telantar ataupun ditelantarkan.

Wajah – wajah tua dengan kerutan perjalanan kehidupan yang mungkin begitu keras dijalani hingga akhirnya terdampar ditempat ini, tepatnya menjadi warga atau klien di UPTD PPS Griya Lansia yang terletak di daerah Ciparay Kabupaten Bandung. Jumlah mereka ratusan orang dan tidak hanya diterima dan dirawat di Ciparay saja sebagai kantor pusat tetapi juga tersebar di beberapa satuan pelayanan diantaranya di satuan pelayanan garut, karawang dan sukabumi.

Kumaha Abah dan Ema sehat?”

Sebuah pertanyaan singkat yang dibalas dengan wajah berseri dan senyum sumringah. Mereka adalah para lanjut usia telantar atau ditelantarkan oleh keluarga dan sanak saudaranya dan sekarang menjadi keluarga besar Griya Lansia Dinsos Jabar.

Terlihat wajah berbinar dan rasa senang, seolah penulis ini adalah anak keluarganya yang datang menjenguk mereka, para orang tua yang ‘dilupakan.’ Rasa haru semamin bertambah dikala diskusi singkat terus menjadi obrolan. Mereka betah berada di Griya Lansia ini karena merasa kembali di manusiakan, diberi rumah, dirawat oleh para petugas dengan telaten juga tidak perlu memikirkan tentang makanan dan minuman sehari-hari. Sudah tersedia dapur umum yang menyuplai makan minum dan snack mereka dengan pelayanan penuh kehangatan dan kekeluargaan.

150 orang lansia berada disini di Griya Lansia Ciparay, 75 orang di satpel Garut, 65 orang di satpel Karawang dan 50 orang di satpel Sukabumi. Totalnya 350 orang menjalani masa tua dari hari kehari hingga akhir hayat nanti. Tapi tentu berbagai ihtiar dilakukan dengan dikomandani bapak Kapus yang ganteng kalem, bapak Ade Irwan. Diantaranya proses reunifikasi dengan sanak keluarganya, tentu diawali dengan tahapan penelusuran, identifikasi dan koordinasi intens. Karena secara harfiah, berkumpul dengan keluarga adalah sebuah nilai yang tidak ternilai. Sementara sehari-hari adalah tugas mulia para pegawai untuk merawat, melayani dan mendengarkan curhat serta keluhan mereka yang bertakdir terpisah dari sanak saudara anak cucu di hari tuanya.

Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat nomor 1 Tahun 2023 ini disebutkan bahwa para Lanjut usia atau lansia ini berhak dan berkewajiban yang sama dalam semua aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Di Griya lansia ini fungsi pemerintah hadir untuk memberikan pelayanan kepada salah satu dari 24 jenis PPKS (Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial) meskipun masih terbatas.

Maka sebagai individu, yakinkan niat dan ihtiar kita untuk menjaga orangtua kita masing-masing agar di hari tuanya tetap bisa berkarya dan bahagia dalam kebersamaan bersama keluarga. Yakinkan diri bahwa pengorbanan orangtua melahirkan, merawat dan menjaga kita hingga akhirnya dewasa adalah sebuah makna perjalanan hidup yang harus dibalas dengan kasih sayang, perhatian dan kepedulian kepada orangtua hingga akhir hayatnya.

Suasana sendu di pagi hari bergerak menuju siang dalam agenda rapat kordinasi di tempat ini. Rapat berjalan dengan baik dan ternyata kopi hitampun hadir dalam acara formal ini. Maka langsung diabadikan, di cetrek dan akhirnya disruput guys.

Tuntas diskusi dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju dapur bersama dan melihat aktifitas para pekerja sedang mempersiapkan sajian
terbaiknya untuk para klien lansia ini, lalu bergerak lagi ke arah belakang untuk menikmati makan siang dengan LISA (liwet lansia).

Disaat makan sianglah akhirnya bersua yang kedua dengan kohitala (kopi hitam tanpa gula) di tempat yang spesial. Sebuah gazebo diatas kolam yang bersih dan menyenangkan. Tentu tidak hanya kopi yang hadir, tetapi liwet lengkap dan buah – buahan yang terhampar sebagai menu lengkap makan siang, alhamdulillah.

Sebagai penikmat kopi maka diabadikan dulu sajian kopi dalam cangkir ini dengan latar belakang keasrian kolam dalam suasana menghinau pepohonan. Cetrek srupuut… nikmat. Baru ambil piring dan menyiuk*) nasi liwet dan sambal saja, maklum lagi diet. Lalu tak lupa di prulukin**) oleh daging ayam, gepuk dan goreng ikan mas. Lengkap sudah.

Kembali ke makna kunjungan hari ini, sebuah nilai kepedulian, kepekaan dan makna melayani sepenuh hati terlihat dari seluruh insan di UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Lansia ini. Semangat semua, Peduli & melayani. Wassalam (AKW).

***

Catatan :
*) mengambil nasi dengan centong
**) menaburi

NGOPI DI TANJUNG DURIAT

Lanjutkan ngopi penuh sensasi.

SUMEDANG, akwnulis.com. Perjalanan menikmati sajian kopi di tempat – tempat eksotis ataupun yang memiliki nilai sejarah tentu harus diceritakan. Baik nilai sejarah sebagai peninggalan budaya ataupun nilai sejarah pribadi karena pernah tinggal beberapa waktu di wilayah kabupaten sumedang ini. Kalau dihitung masa pengabdian di kabupaten melewati 8 tahun beberapa bulan.

Untuk edisi ngopi tadi pagi yang bertempat di Alun – alun Sumedang dan di depan gedung negara bisa disimak pada tulisan ini, yaitu NGOPI, BANDROS & GEDUNG NEGARA.

Melanjutkan petualangan menikmati kopi dalam berbagai suasana maka perlu dicari tempat yang tepat dan memiliki keunggulan yang nyata khususnya dari sisi suasana dan pemandangan alamnya yang menyejukan jiwa serta memberi ketenangan dan keseimbangan untuk raga, tentu pilihannya adalah lokasi yang memiliki pemandangan alami.

Maka perjalanan dari alun – alun sumedang ditempuh dalam waktu 53 menit menyusuri jalan raya ganeas – situraja hingga masuk ke jalur lingkar jatigede. Yup kita menuju tempat wisata di daerah waduk jatigede… semangaaaat.

Titik lokasi kali ini adalah tempat wisata yang dikembangkan terus oleh pemkab sumedang. Jika dulu pernah sampai ke titik lokasi yang bernama Kampung Buricak burinong dan menikmati sajian bakakak ayam di pinggir waduk jatigede maka kali ini lokasinya bernama Tanjung Duriat.

Tanjung duriat adalah gabungan dari dua kata yang berbahasa indonesia dan bahasa sunda. Penulis berusaha memberi penjelasan arti secara pribadi ya. Tanjung dalam bahasa indonesia adalah bagian daratan yang menjorok ke lautan dalam hal ini tentu luasnya air yang menggenang di waduk jatigede ini ibarat lautannya. Eh tapi kok jadi inget daerah lain di kabupaten sumedang yang menggunakan nama tanjung lho. Ada daerah tanjungsari yang berdekatan dengan jatinangor dimana menjadi kawasan pendidikan tinggi seperti UNPAD, IPDN, ITB, Unwim, dan IKOPIN. Lalu ada juga daerah tanjungkerta dan tanjung siang, pertanyaannya apakah dahulu daerah ini adalah daratan yang menjorok ke laut, laut purba kali ya?..

Ada satu lagi yang harus dijelaskan tentang kata DURIAT, jika searching di google maka akan muncul nama almarhum Darso seniman sunda yang menyanyikan lagu berjudul duriat. Sementara dari sisi arti, maka duriat itu adalah sebuah istilah mendalam tentang rasa cinta yang cenderung sebuah takdir sehingga sulit untuk menghindarinya jika sudah terjadi. Ahaay… cinta cintaan.
Udah ah nggak usah nglantur, ini mau cerita ngopi kok jadi kesana kemari.

Tiba di area wisata Tanjung Duriat langsung keluar tempat parkir yang luas, menuju jalan besar yang resik dan terlihat beberapa struktur besi yang cukup instagramable sekaligus terdapat meja kursi sebagai pos tinjau yang menghadap langsung ke arah genangan air di waduk jatigede. Begitu luas dan memanjakan mata. Maka prosesi menikmati kopi harus segera terjadi, tangan beraksi dan botol coldbrew langsung disimpan di meja disertai gelas kaca mini kesayangan.. jeng jreng. Maka tuangkanlah, abadikan dengan kamera smartphone dan bersiap disebarkan ke dunia hehehehe.

Ternyata lokasi wisata tanjung duriat ini masih luas, Penulis penasaran, maka lanjut berjalan kaki menuju ujungnya. Maka ada nama TANJUNG DURIAT yang besar dan menjadi tempat pentung bagi pengunjung sebagai keabsahan bukti sudah sampai disini. Terdapat juga saung – saung untuk botram dan tempat – tempat untuk bersantai serta beberapa cafe sudah hadir disana sehingga pilihan makanannya beragam. Bisa mekdi (mekel di imah) ataupun jajan di cafe dan kios – kios yang tersedia.

Terdapat juga menara pandang yang luas dan bisa menampung banyak orang untuk berpose dengan latar belakang keindahan waduk jatigede yang menawan. Lalu pose kedua adalah ngopi di dalam saung dan berlatar keindahan waduk. Sebenernya penulis pesan juga kopi manual brew dari cafe yang ada. Sayangnya keburu disruput sambil nikmati suasana, jadi nggak sempet photo tuh kopi. Untung saja kopi coldbrew bawaan masih ada, itu saja yang di abadikannya. Cetrek dan sruput.

Itulah kisah ngopiku kali ini di tanah penugasan pertama bekerja di duapuluh tahun silam. setelah cukup lama tidak beredar di sumedang. Happy weekend kawan, selamat beraktifitas bersama keluarga tercinta. Eh tapi kecuali yang dapat tugas dinas di weekend ini, ya atur – atur saja. Wassalam (AKW).