KOPI CINTA di Kota MAKASSAR.

Mencoba Kopi penuh romantisme, ternyata…

MAKASSAR, akwnulis.com. Menikmati kopi dapat dimaknai dari berbagai sisi, tidak hanya dari rasa tetapi ada asa juga pembeda dari setiap sajian yang ada. Kalau bicara idealisme maka ada 2 golongan besar sumber rasa kopi yaitu jenis beannya, apakah arabica, robusta atau liberica. Tapi jika berbicara praktis maka pertanyaan sederhananya adalah kopi menggunakan mesin atau diproses secara manual?.. nah pertanyaan lanjutannya menjadi panjang jika dikaitkan kesana kemari, meskipun pasti bahwa rasa menjadi yang utama. Apalagi jika sudah bersua dengan susu dan jenis jenis gula, maka aneka rasa menjadi variatif dan ini yang malah menjadi lebih menarik.

Karena penulis adalah aliran kohitala, maka kenikmatan secangkir kopi tanpa gula adalah sebuah hal yang nyata. Maka kecenderungannya adalah kopi hitam tanpa gula dengan model seduhan manual yang menggunakan filter, baik V60, flatbottom atau cemex. Tetapi jika tidak berjumpa, maka kohitala produk mesinpun tidak mengapa. Pilihannya sangat terbatas yaitu espresso, dopio, americano, long black saja karena disaat memilih cafelatte dan capucinno maka campuran foam susu telah merubah formulasi kohitala.

Ih kami idealis bingit, udah ngopi mah ngopi ajaa, nggak bisa nikmati hidup”

Bisikan atau komentar agak pedas kadang hadir menemani kenikmatan ini. Namun yang terpenting adalah sebuah prinsip tentang bahagia. Bahagia itu unik kawan, dan setiap manusia memiliki nilai bahagia masing-masing. Nah urusan menikmati kopi hitam tanpa gula ini sebuah kebahagiaan, karena tidak setiap orang bisa menikmatinya. Merasakan selarik manis dan aneka rasa asam yang mengitari lidah dan mulut padahal jelas – jelas kopinya hitam tanpa gula. Ini bisa hadir secara maksimal jika dilakukan seduhan menggunakan pola manual. Jika produk mesin, maka rasanya bisa ditebak. Kepahitannya mendatar dan flat.. eh sama ya? Sementara acidity dan aftertastenya agak sulit untuk ditangkap oleh indera pengecap ini.

Tapi lagi-lagi, menikmati kopi hitam tanpa gula bukan hanya rasa. Ada asa dan suasana yang menjadi kenikmatan lainnya termasuk keunikan nama kopi tersebut. Kali ini ada penamaan kopi yang menjadi daya tarik yaitu KOPI CINTA.

Kopi cinta, sebuah sebutan yang memberi kesempatan angan untuk berimajinasi dan menerka-nerka, makna dari kopi ini. Tentu ada yang berharap ada sisi romantisme pas menikmati kopi ini, atau mungkin benih cinta akan hadir pada saat menyeruput kopi ini. Bisa juga disajikan dalam cangkir berbentuk hati.

Maka cara terbaiknya adalah ayo kita buktikan saja. Memasuki tempat makan yang mengklaim merk kopi penuh romantisme…

Ternyata ini hanya branding marketing semata, karena resminya ini adalah rumah makan soto lamongan Cak Har dan ada menu kopi dengan label KOPI CINTA, itu saja. Karena pilihan kopinya hanya berdasarkan mesin saja dan kohitalapun hanya pilihannya americano dan espresso saja. Tapi supaya tidak penasaran maka pesan juga sajian sotonya yang memang memiliki rasa asli soto di pulau jawa sehingga serasa tidak berada di pulau sulawesi. Kehangatan kuahnya dan juga taburan koya sebagai ciri khasnya menambah kenikmatan rasa di sore hari penuh makna.

Kembali ke kopi cinta, pesanan americano tiba dengan cup putih dan ada cap dengan tulisan kopi cinta. Urusan rasa dan sebagainya biasa saja, seperti americano lainnya. Tidak ada analisis body, acidity dan aftertaste disini. Ya nikmati saja tanpa membawa perasaan yang beraneka.

Kalau melihat suasanapun biasa saja, tidak tampak romantisme yang berlebihan. Tentunya acungan jempol untuk ownernya yang bisa membawa dan bertahan dengan menu makanan yang jelas jelas bukan makanan khas makassar. Sruput dulu guys kopi cintanya, lumayan.

Tuntas menikmati kopi cinta tanpa cinta ini, maka raga bergerak ke luar kota menuju bandara yang akan menerbangkan semua rasa ini kembali ke bandung via penerbangan jakarta. Wassalam (AKW).

Ngopi di ANATOMY COFFEE

Menyusuri trotoar dan Ngopi sebentar.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah langkah kaki menemani pergerakan pagi, menapaki trotoar di jalan merdeka bandung. Sebuah hal yang tidak disengaja, tetapi ternyata memang insting ngopay eh ngopi semakin terasah. Jadi begitu cepat sudut mata melihat sesuatu yang berhubungan dengan kopi. Bisa nama cafe atau warung, juga juntrungan kopinya itu sendiri. Jadi seperti magnet gitu lho. Padahal sebenarnya terhadap kopi tuh nggak gitu gitu amat, tapi amat gitu gitu.

Begitupun pagi ini, langkah kaki terayun sebenernya untuk memenuhi target 6 ribu langkah harian. Nah pas hampir melewati dpan Gramedia jalan merdeka, sudut mata menangkap sesuatu tentang kopi. Sebenernya agak terhalang pohon, tetapi dengan mundur 2 langkah, maka tulisan di kaca bisa dibaca dengan sempurna, ANATOMY COFFEE buka mulai jam 08.00 wib.

Wuih mantaabs itu, tadinya mau menyeberang dan meloncati pembatas di tengah median jalan karena memang lalu lintas masih lengang. Tapi nurani memgingatkan bahwa ada aturan yang tidak perlu dilanggar, namun ikuti demi kebaikan. Sesaat terdiam dan mencoba diskosi antara akal sehat dan otot kaki untuk hadirkan solusi.

Akhirnya putusan ideal yang diambil, kembali melangkah di trotoar jalan merdeka sisi kanan hingga ujung dan menaiki jembatan penyebrangan. Menaiki anak tangga dengan hati-hati dan sedikit terengah karena cukup mendaki. Setiba diatas JPO bisa sedikit beristirahat dengan alibi ambil photo jalan dari atas, padahal mengatur nafas agar kembali stabil penuh keteraturan.

Perlahan turun di undakan tangga yang membawa raga ke seberang jalan merdeka tepatnya di pelataran mall BIP (Bandung Indah Plaza). Berjalan perlahan selangkah demi langkah…. ya iya selangkah selangkah, masa langsung melangkah dua kaki, atuh loncat itu mah. Lokasi yang dituju berada di bawah GGM.. pasti tau khan singkatannya :)… yang penasaran pasti langsung searching hehehe.

Dari luar memang seperti cafe kecil saja, eh pas masuk mau order ternyata dibelakang tempat order terdapat ruangan luas dan beberapa meja kursi tertata untuk diduduki dan menikmati pilihan kopi sambil ngobrol bersama kawan dan kolega.

Pilihan kopinya lumayan banyak, tetapi sejalan dengan waktu yang terbatas, maka pilihan utama adalah sajian kohitala (kopi hitam tanpa gula) dengan bean yang tersedia. Nama kopinya Kopi Taneuh Sunda dan pilihan kali ini adalah manual brew V60 Kopi Taneuh Sunda Gulali.

Ada 2 pilihan kak, yang aromanis dan sunda gulali”
“Oke, beannya sunda gulali saja”

Setelah membayar maka bergerak ke arah area outdoor dan tertarik dengan tulisan Mbah Sapardi Joko Damono yang terpampang di putihnya dinding.

Yang fana adalah waktu, Kita yang Abadi, Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga, sampai suatu hari kita lupa untuk apa”

Ah rangkaian kata yang sarat makna. Menambah selera untuk mengikutinya, terus menulis meskipun dalam segala kesibukan yang ada karena merangkai kata membantu kita untuk tidak mudah lupa.

Akhirnya kohitala hadir dalam kebeningan gelas kaca. Langsung disruput tanpa perlu bertanya dan rasanya menyenangkan. Ada selarik manis menemani kehangatan rasa kopi yang tersaji. Bodynya medium dan aciditynya pas tidak terlalu tajam dan mengagetkan. Juga suhu airnya menjaga stabilitas aciditynya pada level yang sama, sekitar 90 – 94° celcius saja.

Srupuut guys, wualaah segeer pisan. Alhamdulillah.

Nikmati sensasi minum kopi meskipun di waktu yang terbatas janji, biarpun waktu yang hadir sesaat namun memberi makna yang kuat. Selamat weekend kawan, Wassalam (AKW).

MENULIS DIATAS LANGIT

Menulis itu bahagia, apalagi menulisnya di atas awan

LAUT JAWA, akwnulis.com. Perjalanan menjelajahi udara dengan pesawat Airbus A320 ini menjadi pengalaman perdana pasca covid19 melanda dunia, maka ekspresi berbagai rasa sudah terangkung dalam tulisan sebelumnya yaitu  AKHIRNYA TERBANG LAGI.

Mengapa perjalanan dengan pesawat menjadi menyenangkan buatku?”

Tentu saja menyenangkan karena ada kesempatan untuk berkonsentrasi membuat tulisan tentang berbagai hal, meskipun tetap frame utamanya adalah tema NGOPAY & NGOJAY, yaitu sekitar cerita kopi, ngopi dan ngopi serta hal hal yang terkait dengan ngojay (berenang). Bisa berenang di kolam renang, pinggir pantai, sungai, kolam ikan ataupun di bathtube hehehe… bukan berenang ini mah tapi berendam.

Tentu full doa, karena harapan keselamatan menjadi utama. Agar bisa kembali ke rumah dan bersua bersama keluarga tercinta. Momentum take off dan landing jangan dijadikan momen menulis, tapi saat kontemplasi tentang betapa tidak berdayanya kita, manusia tanpa campur tangan Allah yang maha kuasa. Artinya kuatkan doa dan niat bahwa perjalanan ini adalah bagian dari ibroh sambil memaknai kekuasaan Illahi.

Nah kalau pramugari sudah mulai hilir mudik di koridor, saatnya menulis di note smartphone. Eh jangan lupa dari sebelum take off, mode airplane sudah on dan sementara terputus dengan dunia luar. Langsung menulis ya jangan bobo, kalau mau bobo mah di rumah aja heuheuheu. Kecuali bobo eh tidur memejamkan mata ini adalah teknik mengusir ketakutan karena pobia ketinggian, karena jelas ini tinggi sekali yakni 35 ribu kaki diatas permukaan laut, tepatnya laut Jawa.

Maka mulailah menulis, satu kata dua kata hingga akhirnya hasilkan kalimat berbuah karya. Tapi ingat, jangan dulu di upload di blog http://www.akwnulis.com dulu, karena hal ini perlu koneksi internet yang otomatis menyalakan akses jaringan telepon seluler dan berpotensi mengganggu jalur komunikasi penerbangan.

Menulis apa?”

Nah ini sih diserahkan kembali kepada jempol dan kata hati. Apa yang terasa itulah yang menjadi buah kata. Jangan berfikir ideal, biarkan saja mengalir tanpa banyak berfikir bahwa ini layak atau tidak layak. Menulis dan menulislah.

Saking asyiknya menulis tidak memperhatikan ibu yang disebelah kiri kursi wajahnya putih bukan karena perawatan, tapi ternyata stres karena takut ketinggian jadinya pucat pasi. Konsentrasi menulis sedikit terganggu karena suara safety belt ibu itu yang ngak bisa terkunci terus.

Trek, trek… terlihat ibu itu panik. Pas diperhatikan wah posisinya salah. Maka sambil menengok ditegurlah perlahan, “Maaf bu, itu posisinya terbalik”

Ibu itu mendongak, lalu mengikuti intruksi dan ‘trek‘ safetybeltnya terpasang sempurna. Ibu wajah putih pucat itu perlahan memerah.

Terima kasih ya dik”
Sama-sama bu”

Sebelum menulis dilanjutkan ternyata pramugari lewat di lorong penumpang sambil menawarkan berbagai sajian makanan dan snack serta minuman. Langsung pesan, “Kopi hitam tanpa gula satu ya mbak”
“Oke pak, 15 ribu”

Tring….. tak sampai satu menit, secangkir kopi sudah tersaji. Menemani perjalanan terbang perdana ini. Ngomong- ngomong terbang perdana dan bersejarah, maka ingatan bergerak di 4 tahun silam, inilah catatannya HISTORICAL FLIGHT KERTAJATI.

Melengkapi sajian kopi dan cara menikmatinya, dari saku jasket dikeluarjan gelas pyrex mini kesayangan. Lalu dari cangkir kertas perlahan tapi pasti dituangkanlah cairan coklat ke gelas kaca. “Eh kok nggak hitam ya cairannya?”

Coba dinikmati, srupuut… oalah ternyata kopi dan krimer tapi tanpa gula. Ya sudahlah lanjutkan saja srhputannya. Kepikiran mau komplen, eh tapi ini kan di pesawat. Ya sudah segini juga lumayan. Kalau mau minum kohitala manual brew V60 dan hangat, ya bekel sendiri atuh. Jadi ingat penerbangan tahun 2019, itu sengaja bawa kopi hangat dan dinikmati dipesawat ini tulisannya Ngopi HALU DI LANGIT.

Ya begitu dulu ya tulisannya, jadi sekali lagi kalau naik pesawat jangan lupa berdoa dan manfaatkan waktu tanpa koneksi dunia ini dengan menulis bagi yang suka nulis. Kalau yang suka tidur ya bobo, yang suka makan ya ngunyah aja terus tapi jangan lupa tawarin penumpang kanan dan kirinya siapa tahu laper juga hehehehe. Karena tentu saja kesenangan masing-masing orang itu berbeda.

Selamat beraktifitas dari hari kamis ceria. Wassalam. (AKW).

Americano Inkspirasi & Kruk penyangga.

Sruput Kopi dan berharap sembuh seperti sediakala.

BANDUNG, akwnulis.com. Memasuki pelatarannya relatif sepi, begitupun disaat keluar kendaraan dengan ditemani kruk untuk menjadi aksesoris di lengan kanan, sebagai pertanda bahwa ada sesuatu yang berbeda, sementara.

Inilah akibat dari terlalu memforsir diri dengan segala keceriaan dan kesenangan karena berbagai momentum yang dilewati sehingga satu hal penting terlupa. “Apa itu yang terlupa?”

Kondisi kaki kiri yang patah pada tulang jari atas kiri, patah menyilang TULANG KAKI PATAH 6 bulan yang lalu. Ternyata lupa, sehingga begitu aktif di acara menyemarakkan HUT RI ke 77 di kantor bersama seluruh rekan-rekan keluarga besar Disparbud Jabar.

Eh dilanjutkan dengan mengikuti latihan rutin tari tradisional ketuk tilu yang rencananya dipentaskan flashmob seribu penari pada hari puncak HUT Jabar ke 77 juga, meskipun pada hari H ternyata harus berdamai dengan kehadiran masyarakat yang begitu banyak sehingga para penari asli dan penari dadakan terpaksa berdamai dengan keadaan dan menari di hati masing-masing. Kaki kanan yakni telapaknya mulai terasa tidak normal, ada linu – linu yang timbul tenggelam.

Ternyata di hari sabtu dan minggunya mendapat titah untuk pergi ke sukabumi tepatnya di kaki gunung Halimun salak untuk menghadiri acara sakral tahunan kasepuhan ciptagelar SEREN TAHUN 2022 yang ditempuh dengan berbagai cara termasuk berjalan kaki menempuh jalan tanah merah dan berbatu untuk mencapai lokasi, disinilah kesakitan semakin menjadi. Tetapi kembali, semangat untuk menuntaskan tugas tetap membara sampai akhirnya kembali ke bandung hampir senin dini hari.

Dan pagi hari harus kembali bergabung dalam apel senin pagi yang merupakan bukti komitmen dalam balutan aplikasi TRK kebanggaan semua. Meski tertatih tapi itulah kenyataannya, ternyata kaki kiri semakin sakit dan harus beristirahat di ruangan. Maka untuk antisipasi hal – hal yang tidak diinginkan, segera kontak penyewaan alat kesehatan Griya Kami dan  sepasang kruk penyangga tubuh meluncur untuk menjadi teman beberapa waktu ke depan.

Esok harinya segera menuju pelataran rumah sakit, menuju lantai 3 dan disinilah raga yang ringkih terdiam menanti hasil rontgen serta titah dokter terhadap semua yang dirasakan.

Alhamdulillah tidak ada yang serius di kaki kiri hasil operasi, titanium tetap kokoh mencengkeram tulang. Hanya saja beberapa otot menegang akibat dipaksa beraktifitas melebihi kemampuan. Disinilah pesan yang penting bahwa kendalikan keinginan dan ingatlah bahwa kaki kirimu bukan kaki kirimu yang dulu, tetapi punya catatan cidera dan perbaikannya.

Maka pertemuan dengan Americano di cafe inkspirasi ini menambah rasa percaya dili.. eh diri untuk segera kembalikan kesembuhan diri meskipun dalam 2 minggu ke depan harus kembali berakrab ria dengan kruk si tongkat penyangga.

Sruput dulu ah kohitala hasil mesin kopi ini, kepahitannya tidak terasa karena rasa syukur atas kondisi kaki kiri yang bukan kembali cidera tapi kelelahan dari beberapa otot saja. Wassalam (AKW).

KOPI & PROFESIONALISME

Sajian Kopi Sumba & arabica Gununghalu natural anaerob sebagai obat penahan lelah.

BANDUNG, akwnulis.com. Hari jumat ini ternyata menumpuk aneka tugas dan pekerjaan, sementara kondisi phisik sebetulnya masih kelelahan karena baru landing tengah malam di bandara cengkareng jakarta dan perjalanan ke bandung tersendat oleh perbaikan jalan di sepanjang jalan tol cikampek setelah turun tol layang hingga memasuki tol cipularang, ditambah dengan ke kantor dulu di bandung dan baru menuju cimahi, tepat pukul 04.00 wib baru bisa masuk ke rumah dan bersua air hangat plus say hello sama keluarga.

Tapi pagi tetap harus ngantor karena tugas kedinasan menanti. Itulah makna profesionalisme, lelah itu manusiawi tapi janji dan sumpah sebagai abdi negara adalah bagian dari pengabdian diri. Jadi ngantuk dan terlelap terpaksa di manage di sela – sela tugas yang bejibun. Tampilkan wajah wibawa meskipun guratan lelah tak bisa disembunyikan dari wajah dewasa ini, ahay dewasa cuy.

Hayu semangaaat….

Meeting pagi membahas manajemen resiko dengan sesekali kantuk dan heuay.. eh menguap…  dan dijeda shalat jum’at, disinilah rasa kelelahan itu begitu kuat mencengkeram sehingga hanya terdengar salam pembuka “Assalamualaikum Wr Wbr…” dan tiba-tiba sudah Iqomah…. cepat sekali khutbah jumat kali ini.

Padahal sebelum shalat jumat sudah di booster oleh seduhan kopi Sumba oleh-oleh bu Okti yang dinikmati bersama dengan seduhan manual Teh Santi sang Baristi TUpim. Rasanya cenderung body flat meskipun labelnya arabica tetapi karena sudah berbentuk bubuk halus maka sulit untuk memilih rasa yang spesifiknya, lalu ada sentuhan rasa rempah yang sulit didefinisikan, mirip aroma kapulaga atau kayu manis tapi takut salah, ya sudah nikmati saja.. eh ternyata pas khutbah jumat tetap terlelap.

Maka sesi siang dengan meeting yang berkejaran ini perlu di doping lagi. Sekarang giliran Ucup Sang Barista yang beraksi, dengan pilihannya adalah kopi arabica Gununghalu natural anaerob yang juga kiriman dari pak Bos Priyo Dinas Perkebunan, nuhun mas Yo.

Karena masih berbentuk biji, maka prosesi penggrinderan memberi sensasi berbeda. Suara grinder menghancurkan biji menjadi musik tersendiri, begitupun aroma harum yang mendamaikan sesuai ruangan adalah salah satu berkah kehidupan. Apalagi pas penyeduhan, aroma semakin kuat menggoda indera penciuman, segaar.

Nggak pake lama, langsung disruput saja sambil menunggu rekan-rekan untuk kumpul rapat sesi pertama. Rasanya santuy dengan body dan acidity medium serta aftertaste lemon dan kacang tanah. Cukup menyegarkan dan memberi ketenangan meskipun rasa kantuk tetap hadir meskioun bisa tertahan.

Alhamdulillah hingga magrib menjelang, 4 agenda rapat bisa dituntaskan. Meskipun tentu ada kekuranglengkapan, tapi minimal persiapan kegiatan dengan dana APBN sudah mulai tergambar. Lalu aplikasi SURABI juga bisa mulai diinput dan antisipasi, termasuk pembahasan tentang usulan Inovasi daerah serta terakhir adalah kaitan persiapan agenda sabtu minggu yang juga butuh koordinasi dan pengertian.

Ah udah ah jangan ngobrolin kerjaan, sekarang mari lanjutkan menyeruput kohitala arabica gununghalu anaerob yang masih tersisa. Nikmat nian kawan, sesaat rasa kantuk dan lelah teralihkan. Tapi jangan lupa, harus segera pulang agar bisa bercengkerama dengan anak istri yang telah 3 hari ditinggalkan demi tugas lintas pulau. Wassalam (AKW).

Ngopay & Sunrise di Pantai Karanghawu.

SUKABUMI, akwnulis.com. Kekuatan jempol untuk menulis di atas virtual keyboard menjadi hal yang sangat penting karena sejumput cerita tentang perjalanan menikmati kopi telah diawali dengan pengalaman berbeda yaitu sruputannya sambil naik angkot sebagaimana ditulisan terdahulu NGOPI DI ANGKOT BIRU.

Dilanjutkan yaa…

Berbincang singkat namun akrab dengan pengemudi menambah kecerian pagi. Ternyata pak sopirpun sedang membawa segelas plastik kopi yang menjadi ritual rutinnya setiap pagi agar memberi semangat dan kesegaran hakiki.

Perjalanan melewati pinggir pantai dari palabuanratu cisolok, melewati Hotel Samudra Beach lalu pantai Citepus dan berbelok ke kanan agak menjauh dari pantai melewati pasar dan pertigaan ke arah Cikotok lalu akhirnya tiba di Pantai Karanghawu yang menjadi tujuan utama perjalanan ngopay pagi ini.

Target yang penting juga adalah waktu pagi berkaitan dengan kehadiran sang mentari. Maka sebuah doa kembali disampaikan kepada Allah Sang Pemilik Dunia bahwa semoga cuaca cerah tanpa awan tebal apalagi hujan yang membuat mentari enggan menampakan kehadirannya.

Bismillah…

Debur ombak menyambut raga sekaligus menggetarkan jiwa. Ada rasa campur aduk yang memenuhi dada. Senang dan sukacita tentu menjadi utama, namun rasa sedikit gentar juga menelusup melihat kegarangan ombak memukul pantai dengan kelembutan yang penuh tenaga serta segera kembali ke laut lepas dengan kekuatan dan kecepatan yang tidak bisa dikira.

Gundukan karang yang begitu tegar menerima terpaan ombak pantai, menjadi tempat favorit bagi pengunjung untuk mendekat dan mengabadikan menjadi photo dan video yang membanggakan. Tapi tetap kewaspadaan betul – betul utama karena bahaya mengintai diantara runcingnya batu karang dan debur ombak pantai Karanghawu.

Nama karanghawu adalah sebutan bagi pantai ini karena gundukan batu karang yang ada dengan lubang – lubang alami itu jika dilihat mirip dengan tungku sederhana untuk memasak di masyarakat sunda. Nah tungku itu dalam bahasa sunda disebut hawu. Maka jelaslah bahwa penamaan pantai ini sesuai dengan kondisi alam yang ada dan dinilai oleh indera penglihatan nyata.

Mari kembali ke agenda kita, Ngopay di Pantay… eh pantai. Langsung saja mencari spot photo yang pas dengan menggabungkan 4 unsur utama yaitu : ombak, karang dan mentari berpadu dengan secangkir kopi, plus termosnya ya.

Tring… beberapa jepretan saja tapi bisa mewakili semuanya. Rasa senang menyeruak dan benih bahagia menemani pagi ceria. Tak lupa sebagai bukti hadir ngopi di pantai, perlu ada capture photo dan video dengan ekspresi wajah yang begitu menikmati. Sruputtt guys.

Nikmatnya kohitala dilengkapi rasa bahagia karena di pagi ceria ternyata deburan ombak, kehangatan kohitala lengkap dengan sinar mentari yang hadir dengan sempurna, Fabiayyi Ala irobbikuma tukadziban.

Tuntas sudah menikmati kopi di pantai kali ini, maka tidak pake lama, kembali bergegas meninggalkan area pantai dan menyeberang jalan untuk menunggu kehadiran angkot yang akan mengantarkan kembali diri ini ke Hotel Karangsari Palabuanratu.

Perjalanan angkot kali ini dikemudikan oleh Mang Ujang yang terlihat semangat disaat di-on-kan kamera video, eksis juga guys. Video lengkapnya perjalanan ngopay di angkot dan di pantai karanghawu bisa dinikmati di NGOPI DI PANTAI KARANGHAWU SUKABUMI.

Selamat pagi dan selamat memaknai hari. Wassalam (AKW).

NGOPI di angkot menuju Karanghawu.

Sruput kopi di Angkot biru…. Nukmat.

SUKABUMI, akwnulis.com. Deburan ombak menggapai karang begitu keras dan menegangkan, tetapi anehnya terselip juga perasaan senang yang tak bisa dihadirkan dengan sebatas kata dalam bilangan.

Memang bahagia itu unik.
Bahagia itu sederhana.

Setiap orang punya cara masing-masing untuk meraih dan merasakan bahagia. Seperti pagi ini di sebuah pantai di daerah palabuanratu, namanya pantai Karanghawu.

Tak sulit mencari di peta online, hanya butuh keyword saja. Tapi via bertanya dan naik angkot sekitar 10 menit dari palabuanratupun bisa dengan mudah mencapainya.

Maka pagi ini menjadi sebuah momentum yang tak terlupakan kawan. Suasana ngopay (menikmati kopi) yang berbeda. Tentu saja dengan persiapan yang diawali dini hari. Yaitu meracik eh menyeduh kopi secara manual dengan metode SMD (seduh manual darurat). Metode SMD ini dengab memanfaatkan peraltan yang ada di kamar hotel. Mulai dari pemanas air yang sekaligus menggantjkan fungsi ketel leher angsa, trus ukuran bean 16 gram atau 18 gramnya diukur dengan perasaan saja plus temperatur air panasnya menggunakan termometer kulit jari tangan hehehehe… alias dipegang aja.

Ups panaaas….

Kopinya sudah digrinder dari rumah, arabica honey sylvasari. Maka setelah corong filter flatbottom dilengkapi kertas filter yang telah dibasahi air panas. Prosesi ekstraksi terjadi dini hari, selain dinikmati juga dimasukkan ke dalam termos sebagai persiapan untuk ngopi di pagi hari.

Tepat pukul 05.30 wib segera keluar kamar sambil membawa tas ransel berisi termos kopi berlapis bambu juga gelas eh cangkir stainless berbalut bambu dengan tulisan ‘Smiling West Java.’ Menuruni jalanan dari lobi hotel Karangsari Palabuanratu menuju jalan raya sambil memandang hamparan laut yang begitu menggoda.

Tapi, kali ini ada hal yang berbeda. Jari telunjuk refleks bergerak dikala sebuah mobil biru akan melintas, sebuah angkot (angkutan kota).

Pak, bisa ke pantai Karanghawu?”
Tiasa Cep”

Wah senangnya, kebetulan kursi penumpang di samping sopir masih kosong. Buka pintu, duduk dengan nyaman dan angkotpun bergerak perlahan. Alhamdulillah setelah sekian purnama bisa kembali merasakan nikmatnya sensasi menaiki angkot dan berbaur dengan para penumpang lainnya. Apalagi dilengkapi terpaan AG (Angin Gelebug) alias angin dari jendela yang memang terbuka melengkapi sensasi perjalanan pagi ini.

Menyenangkan sekali kawan, apalagi disaat membuka tas ransel dan mengeluarkan termos dan cangkir kesayangan. Putar dikit dan termos terbuka, rasa wangi kopi menyambar kemana-mana. Maka sebagai basa-basi, ijin kepada sang pengemudi yang terpapar harum kenikmatan ini, sekaligus menawarkan untuk mencicipi.

Mangga bapak, bade ngersakeun ngaleueut kopi?” (Silahkan bapak, apakah mau mencoba kopi?”)

Jawabannya tersenyum dan menggeleng singkat, sementara tangan dan matanya memandang ke jalan dengan waspada. Untuk melihat calon penumpang setia dari angkot kesayangannya.

Srupuut guys, kopi nikmat manual brew arabica membasahi mulut dan menggoda lidah agar dengan unggahan rasa yang enak dan bersahaja. Sambil raga bergerak di dalam angkutan kota, aktifitas ngopay tetap dijalankan dengan sempurna, sruput lagii. Nikmat.

Trus cerita Ngopay di pantai Karanghawunya gimana?”

Ahay, sabar kawan. Tulisan sedang berproses. Menyesuaikan kecepatan kedua jempol memproduksi kata-kata. Sabar ya…..

(To be continue…)

Manual brew Arabica Malemdiwa

Nikmati kohitala aceh malemdiwa.

CIMAHI, akwnulis.com. Setelah sekian lama jarang posting tulisan sajian manual brew dengan V60 di rumah, maka kali ini kesempatan itu tiba. Tentu itupun disela-sela jadwal hari minggu yang padat merayap… heuheuheu gaya ya, kayak yang sibuk. Padahal biasa aja kok.

Jangan tanya aktifitas pagi ngapain ya, karena pasti kalau dijawab maka akan ditanggapi beragam. Jikalau sibuk tugas kerjaan kantor di sabtu minggu, maka labelling TKW (tenaga kerja weekend) yang tersemat. Namun jika sibuknya menemani anak kesayangan untuk beraktifitas juga bersama istri tercinta maka muncul komentar BUCIN dan sebagainya.

Yang penting adalah “work life balance” sebuah bentuk kesimbangan yang dinamis antara tugas pekerjaan dan kehidupan pribadi khususnya pola hubungan kebersamaan dengan keluarga.

Maka disaat kesempatan itu hadir, jangan sia-siakan kawan. Keluarkan dan hadirkan semua perlengkapan yang ada. Mulai dari teko kaca kesayangan, filter flat bottom, kertas filter dan jangan lupa beannya dong. Khan ceritanya mau nyeduh kopi manual.

Kopi yang akan di eksekusi, eh diseduh manual kali ini adalah kopi arabica peaberry Gayo Aceh merk malemdiwa coffee pemberian om DaLex. Tetapi tidak bisa terlalu mengexplore karena susah berbentuk bubuk siap seduh. Ya sudah kita syukuri saja, lha wong ini khan pemberian.

Maka siapkan air panas dan sendok takar 15 gram. Tidak lupa aor panasnya melumuri dulu kertas filternya sebelum bubuk kopi gayo ini mengisinya untuk siap berekstraksi mewujudkan sebuah rasa yang hakiki.. jeng jreng.

Air panas yang sudah mendidih langsung dituangkan di teko kaca. Bersiap untuk menyeduh bubuk kasar kopi yang menanti diatas kertas filter putih nan bersih. Langkah pertama adalah menuangkan air panas pada kertas filter yang ada. Baru langkah kedua adalah menuangkan air panas diatas bubuk kopi yang sedari tadi menanti.

Currr….

Rasa harum menyambar hidung, menusup ke otak sehingga memberi sejumput kedamaian, ahaay bahasanya. Putaran kanan teko kaca melengkapi prosesi seduh manual ini. Hmmm nikmaaat.

Tetesan cairan kopi yang dinanti sudah hadir menapaki bejana kaca. Kebeningan coklat hitam yang menggoda. Tanpa perlu lama, maka dituangkan di cangkir pyrex kesayangan. Siap dinikmati…

Sruputttt…. hmmmm sebuah rasa memenuhi dahaga ngopay kali ini. Ada rasa lembut yang menyapa mulut dan seulas kesegaran. Body coffeenya medium cenderung bold, acidity stabil dan aftertastenya agak sulit mengidentifikasi, tapi kayak stawberry dan jeruk lemon. Tapi nggak yakin ah, coba sruput lagi.

Srupuuut.. enak tenaan. Mbulet gitu si rasanya, tidak tajam menghenyakkan usus. Meskipun keharumannya relatif standar saja. Tapi yang paling disyukuri adalah momentum untuk bisa nyeduh kopi manual dengan kopinya yang hadir jauh dari aceh mengarungi perjalanan yang tidak sebentar. Selamat sruput hari ini dan jangan lupa untuk bersyukur. Wassalam (AKW).

Kopi & Tabungan.

Ngopi obat galau serta jadi bijak mengelola tabungan.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah bisikan senja menemani kegalauan hati yang sedang merana. Terdiam tanpa bisa menghasilkan rangkaian kata, tetapi hanya berputar di dalam amigdala dan neocortex saja bahwa hari ini begitu terasa menderita. Padahal mungkin sederhana jikalau ditelusuri penyebabnya, yaitu berawal dari kebingungan karena kebutuhan keuangan yang ternyata terjadi ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran.

Mengapa menjadi galau, khan pendapatanmu besar kawan?” Sebuah tanya membahana dan menohok rasa sehingga sulit memberikan jawabannya. Ingin rasanya memberi penjelasan rentetan kata betapa beban pengeluaran bulanan begitu ketat dan dipengaruhi urusan eksternal yang fluktuatif. Tapi sebuah gengsi menahan diri untuk tidak mudah mengeluarkan curahan hati sehingga kesan pria cengeng akan menjadi label abadi.

Maka sambil terdiam dan menata hati, pemikiran terus berjalan mengevaluasi diri tentang mengapa ini semua terjadi. Runutan data – data keuangan segera disingkap dan diingat kembali, berbagai peristiwa yang telah terlewati dan terbukti membutuhkan sejumlah uang kembali dihitung meskipun tanpa coretan tinta namun dihitung garis besarnya saja.

Sebagai pelengkap sebagai obat penyembuh kegalauan, tak lupa seduhan kopi manual tanpa gula dengan metode filter menemani dalam indahnya kepahitan rasa. Sekaligus mengingatkan bahwa kegalauan ini tidak seberapa. Karena ternyata cara terbaiknya adalah bagaimana mengendalikan dan melawan keinginan diri sendiri.

Maksudnya bagaimana melawan diri sendiri?”

Pertama adalah menata kembali kedisplinan diri dalam mengeluarkan uang untuk segala kepentingan. Ketatkan uang agar tetap bertahan di rekening agar tidak kering. Yakinkan diri agar tidak semudah itu menggesek kartu debit atau kredit plus scan QR di berbagai merchan karena sebuah keinginan semata atau rengekan anak dan permintaan istri, tetapi harus rasional.

Kedua adalah menjadi nasabah yang bijak sehingga dalam menggunakan produk perbankan tidak hanya terpaku terhadap satu produk dan fasilitas saja. Jalin komunikasi dan manfaatkan berbagai produk agar penyisihan uang kita lebih efektif dan bisa tersimpan dengan baik. Meskipun dengan perkembangan teknologi informasi saat ini betapa mudahnya uang yang ada di rekening kita mengalir keluar tanpa terasa, eh terasa sih. Tetapi secara psikologis kok ringan ya mengeluarkan uang 1 – 2 juta karena tidak melihat phisiknya.

Coba kalau kita ambil cash dulu di ATM, baru digunakan membeli atau membayar sesuatu, maka terasa berbeda.

Nah kalau mengacu data yang ada dari Publikasi Otoritas Jasa Keuangan dalam kurun waktu 1 tahun periode april 2021/2022 terdapat peningkatan tabungan sebesar 0,30% (Rp 652.125 Miliar) dan peningkatan tabungan sebesar 0,13% (Rp 325.042.Miliar) dari data tersebut terlihat bahwa trend menabung mengalami peningkatan dari sisi dana pihak ketiga yang terkumpul.

Makin banyak orang menabung, tinggal bijak tidaknya kita sebagai nasabah untuk menggunakan tabungan tersebut.

Ketiga adalah manajemen keuangan yang mengacu pada philosopi keuangan yaitu “Don’t put all your eggs in one basket”. Istilah ini umum di dunia investasi, tetapi menabungpun adalah salah satu investasi terdahulu yang sangat umum serta dikenal oleh kita semua. Maka sebagai nasabah yang bijak jangan hanya menyimpan uang dalam bentuk tabungan saja di bank BRI tetapi juga produk lain seperti deposito, tabungan berjangka, logam mulia ataupun KPR.  Perlu mulai juga mengenal dunia saham meskipun diawali dengan investasi recehan. Syaratnya adalah jangan takut mencoba tetapi banyak bertanya dan mencari referensi yang jelas tanpa tergiur oleh pihak yang bermulut manis menjanjikan gain yang tidak masuk akal.

Sruput kopinya dulu kawan, body dan acidity yang berpadu medium bold dilengkapi aftertaste rasa berry dan kesegaran lemon membantu kurangi kegalauan sore ini. Perlahan membuka hati bahwa semua hal harus direncanakan termasuk urusan keuangan.

Selain sebagai individu yang belajar melek tentang pengelolaan keuangan sekaligus belajar sebagai penyuluh digital yang membantu saudara kita lainnya untuk bersama-sama paham tentang pengelolaan keuangan. Juga sebagai pengendali diri sendiri dalam mengelola keuangan secara bijak dan terukur. Bagi yang sudah berkeluarga maka keputusan pengelolaan uang harus berdasarkan diskusi bersama sehingga bisa saling melengkapi dan menyempurnakan pengambilan keputusan yang ada.

Karena tidak sedikit dari kita yang pengelolaan keuangannya mengalir begitu saja. Dapat gaji bulanan atau pendapatan dari usaha dan langsung digunakan untuk keperluan bulanan. Di saat tertentu ternyata tertekan atau stres yakni pada saat keuangan tidak seimbang antara pendapatan dan pengeluaran, atau ada istilah tentang gaji ‘lima koma’ yang artinya bukan gajian sebesar Rp 5 koma sekian juta tetapi tanggal 5 sudah koma karena gaji habis untuk keperluan bulanan saja.

Nah, diri inipun sekarang menyadari bahwa keputusan 2 tahun lalu dikala berinvestasi membeli rumah dengan mengambil KPR ke bank tentu memiliki konsekuensi untuk disiplin membayar cicilannya sementara rumah satu lagi yang digadang-gadangkan laku terjual, hingga saat ini masih betah menjadi bagian harta tidak bergerak yang menunggu jodoh pembeli. Akibatnya ketidakseimbangan terjadi dan disadari bahwa kedisiplinan dalam menghemat pengeluaran bulanan adalah harga mati. Meskipun disiplin ini begitu berat dan penuh godaan ingin berbelanja hehehehe. Lha malah curcol ya.

Kembali ke topik tulisan ini bahwa kegalauan sore ini bisa dimaknai memiliki berbagai sisi. Dimensi awal adalah pemahaman untuk pengendalian diri dan disiplin, lalu dilengkapi pemahaman tentang seputar perbankan dan sikap bijak nasabah yang baik serta dimensi luasnya adalah berbagi  wawasan dan pengetahuan plus tidak lupa menikmati kohitala (kopi hitam tanpa gula) sebagai mood booster pamungkas menghadapi tantangan kehidupan yang penuh variasi.

Selamat menghadapai tantangan dan cobaan eh godaan hari senin kawan, Wassalam (AKW).

NGopay di RASAHAUS & Kahoot.id

Meeting – Games – Ngopay – Ngojay – Meeting.

BEKASI, akwnulis.com. Ikutan rapat koordinasi afaupun sosialisasi adalah hal yang biasa. Tetapi di acara kali ini, iseng – iseng ikutan kuis interaktif yang digawangi panitia pake aplikasi kahoot (kahoot.id). Sebuah aplikasi permainan interaktif yang menarik dan sekakigus ngetes peserta tentang pemahaman terhadap materi yang diberikan.

Selama ini biasanya via zoom, tapi kali ini hybrid sehingga yang offline di acarapun bisa ikutan. Balap cepat baca soal dan pijit jawaban di layar smartphone masing-masing…. rame.

Pertanyaan tentu seputar inpassing jabatan fungsional adyatama pariwisata dan ekonomi kreatif, tetapi ketajaman mata dan kekuatan sinyal smartphone menjadi pendukung utama. Ternyata kombinasi tersebut membuat nickname akwnulis.com berhasil memuncaki  games di batch 1 ini kawan, Alhamdulillah.

Iseng – iseng berhadiah dan diundang ke depan untuk mendapatkan hadiah. Apalagi pak Kepala Pusat SDM yang langsung menyerahkan dan berphoto bersama. Cetrek.

Pertanyaan dari MC sederhana, “Kok bisa cepet banget jawabannya pak?”, “Jempolnya banyak ya?”

Betul neng MC, jempolnya ada lima

Pantesan

Itulah cerita awal tentang menjuarai games sesi pertama. Tetapi jika setelah makan siang masih ada sesi games, aturannya nggak boleh ikut lagi, khawatir menang lagi dan menutup kesempatan yang lain hehehehe. Padahal belum tentu juga, cuma aturan adalah aturan. Ikuti saja, apa susahnya.

Nah sambil istirahat agak menjauh dari lokasi acara, hunting kopi langsung beraksi. Karena jelas ada cafe di lantai 6. Eh tapi shalat dulu ke mushola, baru cuss TeKaPè.

Nama cafenya lucu, RASA HAUS. Menunya tidak ada versi manual, tetapi semuanya pake mesin. Ya sudah americano langsung dipesan. Sambil menunggu kopi tersaji, bergeraklah mengitari area cafe sambil tetaoi ditemani tongkat kruk yang sementara menjadi pengingat bahwa kaki kiri sedang tidak baik – baik saja.

Area cafe RASAHAUS ini strategis, dengan area indoor yang o smoking dan outdoor yang cozy plus pemandangan menariknya adalah bisa melihat suasana taman dan kolam renang dibawahnya dengan leluasa.

Tapi kesempatan menikmati pemandangannya terhenti oleh suara sang pelayan yang sudah ada disamping kanan lengkap dengan nampan kebesarannya.

Silahkan Kakak, ini Americano-nya”

Terima kasiih

Asyik deh, srupuut yuk. Tanpa perlu basa – basi maka beraksilah tangan menjulur menjangkau cangkir dan mendekatkan pada bibir. Regukan pertama hangat dan nikmat, begitupun regukan kedua dan ketiga memenuhi rasa haus ingin minum kohitala hari ini.

Lalu sebagai pelengkap menu hari ini, pesanan salad versi cafe ini menjadi penyegar mulut sekaligus menghilangkan kantuk karena rasa bumbu asam pedasnya yang cukup membuat lidah bergoyang dan hati degdegan.. hahay lebay.

Namun ingat, sesi acara masih berlanjut. Jadi tak bisa berlama-lama di cafe RASAHAUS ini. Tetapi harus kembali ke lantai 10 dimana acara sedang berlangsung.

Maka berakhirlah sesi menikmati kohitala di cafe ini, raga bergerak menuju acara meskipun sebagian jiwa masih melekat pada mesin kopi di cafe ini. Wassalam (AKW).

***

CAFE RASA HAUS, Lt.6 Hotel Ultima Horison Bekasi.