Photo Ibu Deputi III KSP, Bp Deputi LAN RI serta Bp Kapus PKP2A I LAN RI / pic by Tri Arya rlaxiv
Jakarta, akwnulis.com. Closing statement pertemuan RLA XIV, Deputi LAN RI, Kapus PKP2A I dengan Ibu Deputi III Kantor Sekretariat Presiden di Gd Bina graha Jakarta, Selasa tanggal 6 Nopember 2018, monggo :
Berburu kaset bilingual Isinya bahasa juga jalinan cinta
Mengantar konsep untuk millenial kepada negara melalui ibu Deputi III
Photo : Pemaparan peserta Diklat RLAXIV di Ruang Utama Bina Graha / pic by Tri Arya rlaxiv
Cenderawasih makan mentega Bersama rusa meraih juara
Ini sumbangsih kami untuk negara
Demi indonesia maju sejahtera
Ke pasar ikan meramu kasih
Cukup sekian terima kasih.
Menangguk kesegaran di 3 kolam renang Grand Inna Sanur Bali
Photo : Kolam renang besar / dokpri.
Sanur, akwnulis.com. Setelah sore hari hampir saja terjebak air pasang di pantai sanur, baca ‘Gairah di Pantai Sanur’maka malam harinya rangkaian kegiatan Diklat di Pulau Dewata dimulai. Makan malam beserta ucapan selamat datang dari kawan-kawan Pemprov Bali berlanjut diskusi yang menghasilkan banyak kisi-kisi untuk menyatukan aksi reformasi birokrasi dari setiap institusi.
Besok paginya tidak lupa menikmati sunrise di pantai Sanur dilanjutkan dengan bermain air satu lagi yaitu kolam renang hotel yang berair bening serta menawarkan kesegaran plus kebugaran.
Kolam renangnya berdekatan dengan pantai, sehingga begitu strategis. Beres jalan-jalan memburu sunrise, lanjut nyebur di kolam renang, tapi jangan lupa jam 08.00 waktu Bali sudah harus siap di ruang pertemuan yang disulap menjadi ruang kelas dalam agenda berikutnya. Tidak ada kompromi telat atau apalagi ijin, karena dari panitia LAN RI hadir lengkap, dari mulai pa Kapus, Kabid, Coach, tim administrasi serta tuan rumah yang dihadiri langsung oleh beberapa eselon II Pemprov Bali serta para tokoh kriya di Bali.
***
Photo : kolam renang lagoon / dokpri.
Nggak pake lama, bergegas ke kolam renang. Buka baju, pasang kacamata renang. Pas moo loncat… agak ngeper juga, soalnya liat tulisan kedalaman kolam 3 meter. Padahal khan berenang udah agak bisa kenpa takut?…
Nah kolam renangnya ada 3 buah. Satu kolam yang besar semi olimpic daan dengan kedalaman 3 meter…. pokoknya puas tuh berenang.
Kolam renang kecil untuk anak dengan kedalaman 40 cm, dan..
Kolam renang satu lagi berbentuk lagoon dengan kelok-kelok serta rimbun pepohonan. Kedalamannya 1,5 meter. Nah disini aja ah, loncat…
Jeburrr!!!!
Suegerrr, mencoba berdiri dengan kaki menjejal dasar kolam, … “embeebbh… kok airnya sampe lewat telinga ya?” Agak kaget juga, teorinya klo kedalaman 1,5 meter maka dagu keatas itu aman tidak berada dalam air. “Wah ini ukuran 1,5 m khas Bali kalee, atau airnya kepenuhan” terlintas di kepala, tapi egepe lanjut saja berenang mengikuti liukan air mengikuti bentuk lagoon serta rimbunnya pepohonan. Kebetulan masih sepi karena di pagi hari.
Cuman itu tadi, nggak bisa lama. Maksimal 30 menit saja bermain-main di kolam. Setelah itu harus segera mandi dan berpakaian. Jangan lupa sarapan sebelum mengikuti jadwal pertemuan yang dirancang padat merayap hingga dua hari ke depan.
***
Over all kolam renang di Grand Inna Sanur memanjakan bagi penginap baik dewasa ataupun anak-anak, karena terdapat 3 pilihan kolam yang memiliki segmentasi masing-masing.
Petugas yang ramah, kursi-kursi santai banyak di sekitar kolam. Jikalau lapar dan haus maka tinggal pesan karena rumah makan berada selemparan batu dengan petugas yang terus siaga menanti order dari para pemburu kuliner di pinggir kolam renang. Selamat bersantai kawan, Wassalam. (AKW).
Sanur, akwnulis.com. Kecipak air memanjakan pendengaran yang terus terpapar oleh kompleksitas pekerjaan serta berbagai rutintas kehidupan. Bukan suara air sembarangan, karena ini merupakan perpaduan dari suara alami air di pinggir pantai yang mewujud dalam bentuk debur ombak menyentuh karang. Beberapa meter dari suara alami itu, gemericik air menjadi deburan penuh keriangan yang terjadi di kolam renang…. Yups kolam renang pinggir pantai, sungguh menyenangkan.
“Dimana itu mas?”
“Ih kepo”
“Jangan pelit info donk mas, plis plis” suara berharap dengan memelas, meruntuhkan benteng pertahanan keengganan. Munculnya trenyuh berpadu senang karena sudah bikin penasaran seseorang, padahal informasinya juga bukan hal baru. Tetapi itulah kehidupan, sebuah cerita akan berbeda makna apabila disajikan dengan dasar pengalaman dan diramu penuh cinta untuk hasilkan catatan abadi bagi diri, juga mungkin bisa berguna bagi orang lain suatu hari nanti.
‘Oke, balik lagi ke cerita yaa’
“Tempatnya di Pantai Sanur Bali yaa”
“Oh di Bali, ih kamu jalan-jalan melulu, kapan kerjanya?” pertanyaan nyinyir dari seorang kawan yang merupakan kombinasi antara rasa iri dan ‘kabita’(kepengen) langsung bikin makin semangat untuk bercerita lebih banyak. Bukan untuk bikin makin iri tetapi membuka wawasan bahwa di sela-sela bekerja, bisa juga meluangkan sedikit waktu untuk mengintip tempat wisata dan jangan lupa menjadi bahan cerita.
Photo kapal berlabuh di Pantai Sanur / dokpri.
Lha wong klo ngobrol kerjaan, ya sami mawon, gitu-gitu aja. Tinggal bagaimana mengkemas dan memaknai semua gerakan kehidupan menjadi jalinan kalimat penuh makna.
“Kembali ke urusan air di sanur ya guys!”
***
Sebelum sesi pertemuan malam hari, maka jalan sore di pantai menjadi menu wajib. Pantai Sanur yang berpasir putih memiliki daya tarik untuk segera dinikmati. Secara kebetulan penginapan dan acara pertemuan bertempat di Grand Inna Sanur Hotel yang miliki akses langsung ke pantai Sanur. Jadi lebih efektif dan efisien.
Photo pantai sanur sebelum pasang / dokpri.
Pantai Sanur memiliki panjang pantai cukup panjang… “Ih nggak jelas!’ itu pasti respon netizen. Tetapi itulah kenyataannya, pertama melalui jalur search via mang gugel ada yang nyebut panjangnya + 3 km, ada juga yang 9 km, entahlah… lagian penulis pas nyoba jalan, lumayan panjang juga, tetapi menyenangkan, suasana segar nan bersih, klo panas sih udah pasti tetapi dengan semilir angin pantai yang terus mengelus perasaan maka rasa senangnya yang lebih dominan.
Pantainya pun terasa landai karena ada barrier batu karang yang menjadi pelindung dari ganasnya ombak lautan. Sehingga kami bisa bergerak agak ke tengah laut, sekitar 100 meter dari bibir pantai dengan kedalaman air laut hanya mencapai betis.
Photo : mencoba terbang hindari air pasang / mr. Ronni pic.
Beningnya air hampir saja melenakan kami yang terus bergerak ke tengah lautan, sebuah teriakan mengingatkan,
“Awas air pasangg!!”
“Astagfirullahal adzim, lari Mang!!” suaraku berbaur dengan gerakan cepat dari rekan-rekan.
Terengah dan tersengal terasa melegakan setelah sampai di bibir pantai berpasir, meskipun harus merelakan dompet ikut basah karena terendam sedalam pusar.
Smartphone aman karena dipegang dengan tangan dan mengacung menggapai langit.
Alhamdulillahirobil alamin, hampir saja musti berenang di air asin hehehe, padahal niatnya cuma moo berpose di pantai dengan tinggi air sebatas betis, ternyata datangnya air pasang nggak terdeteksi terhalang keceriaan dalam kebersamaan.
***
Esok hari menjadi menu wajib untuk mengabadikan hadirnya sang mentari disaat mulai menyinari bumi, inilah hasilnya :
Photo Sunrise di Pantai Sanur / dokpri.
Semburat keemasan menyapa permukaan air laut di Pantai Sanur, memberi nuansa gairah yang membangkitkan keinginan untuk bahagia. Siluet nyiur melambai memberi harapan bahwa kehidupan adalah perjalanan panjang.
“Info kolam renangnya gimana?”
“Sabarr, tunggu tulisan berikutnya yaa” Hatur nuhun. (AKW).
Heureut létah midulur jeung cicingeun, kitu oge éraan moal jauh jeung baladna, kecing. Tapi lain hartina cicing pasrah sumerah kana takdir, euweuh ihtiar teu gadag ngudag kahayang. Cicing camperego niténan nguliatna jaman nu geus mangsana ngarobah diri pikeun jadi wujud anyar, jaman nu teu maké wates, jaman nu geus cararanggih, sieun.
Duit numpuk ayeuna jadi kalakay, teu payu. Mayar nanaon ukur maké kartu, cukup ku ditapelkeun atawa digésék, lunas wé. Uing nu teu boga kawasa kitu, ukur ngaheruk. Hayang dahar teu bisa barang beuli, hayang indit numpak ojég geus euweuh nu narima duit kertas, kalah ka maké édécé.*)
Aral, duit kertas kabéh digundukeun. Cekés! Korék nyiptakeun seuneu, nyamber kalakay nu geus teu walakaya. Di anteur ku angin nu sarua mawa amarah, kalakay ngabebela. Uing jigrah, ngahibur raga nu geus teu mangrupa. Rumasa teu bisa ngigelan jaman, jajatén musna ku papastén. (AKW).
***
Catatan :
édécé *): mesin EDM (electronic data capture), yaitu alat untuk menerima pembayaran dihubungkan antar rekening bank, fungsinya untuk memindahkan dana secara realtime.
Pekanbaru, akwnulis.com. Tadinya ada rasa ragu berkelindan di kalbu, disaat menatapnya. ___ Tak berani mengusapnya karena khawatir #asap yang keluar dari ujung moncongnya lalu berubah menjadi suatu bentuk. ___
Tapi penasaran terus menggelayut, sepintas mirip ceret atau teko, mungkin buat tambah #minum bagi yang masih haus, entahlah. ___
Ternyata eh ternyata, diakhir masa makan sore usai, sang ceret perak memperlihatkan fungsi yang begitu lekat dengan dunia #sanitasi — sebagai alat mencuci tangan dan wadah bawahnya sebagai penampung air bekasnya.
___ Amboi betapa #kuper bin kupdetnya diri, kudu banyak beredar ini mah, ___ cekidot. (AKW).
Senja meredup ditelikung keharuan, tetes air hujan membasahi bumi meski perlahan tapi pasti.
Saatnya ‘ninyuh kopi’…
Kopi Bali Kintamani, oleh-oleh Pak Ketut Adhi segera dieksekusi.
Agar rasanya bisa stabil dan original maka manual brew V60 menjadi pilihan diri.
Hasilnya segelas kopi panas harum mewangi memenuhi ruangan di senja ini. Body strong dan low acidity memberi spirit kesegaran yang hakiki. Tastenya pahit pisan kuy.
Tapi itulah indahnya kopi, kepahitan bukan untuk diratapi tetapi kepahitan adalah bagian dari kenikmatan. Wassalam (AKW).
Pantun ‘terpaksa’ demi menyesuaikan budaya bahasa di Tanah Lancang Kuning penuh asa.
Pekanbaru, akwnulis.com. Di tanah Lancang Kuning hampir setiap momen selalu bersua pantun, deretan kata berima sejukkan rasa. Mulai dari pesawat Citilink, sebelum makan siang, hingga pelaksanaan rapat kunjungan kedinasan, semuanya berpantun dulu.
Maka sebuah tantangan berbuah tulisan, pantun sederhana yang terbit dengan tergesa. Semoga masih bisa menambah catatan dalam perjalanan dunia, cekidot :
Timun merambat berbenang labu Beralih rupa menjadi nasi
Selamat siang bapak dan ibu
Salam jumpa dalam kunker Silaturahmi
Ikan baung membawa surat Naik ke darat dicampur tomat
Kami datang dari Bandung Jawa Barat
Mengirim hormat salam sahabat
Bolu kemojo enak rasanya Di pasar bawah lengkap semuanya
Terima kasih atas penerimaannya
Kami tunggu kunjungan balasannya
Kue talam dibungkus lagi Ikan salai berbumbu cinta
Sekali lagi terima kasih
Atas keramahan dan kehangatannya
Kain batik bermotif bunga Digelar di Taj Mahalnya indonesia
Kami pamit dengan bahagia
Ditunggu yaa kunjungan balasannya (AKW).
Jangan terjebak dengan judul ya. Photo yang ditampilkan ini bukan bermaksud menjebak pandangan atau mengarahkan opini tentang kopi harimau. Tetapi sebuah kebetulan dimana dipertemukan antara proses penyeduhan kopi versi kopi dingin dengan sang boneka harimau belenuk yang mendapatkannya cukup menyita waktu disaat bertugas di Pulau Bali.
Cold brew, itu metode penyeduhannya. Kopi yang diseduh dingin adalah pemberian Bu Een Kota Sukabumi, “Hatur nuhun Bu”
Metode seduh dingin sangat sederhana. Yang pasti siapin dulu alat dan tempatnya. Trus kelengkapan terpenting itu tadi kopinya sudah ready Kopi Liong, ini kopi blend khas bogor, robusta dan arabika. Elemen penting lainnya air dingin matang dan gelas ukur.
Caranya, baca basmallah dulu. Lalu timbang bubuk kopinya. Karena ini pake perbandingan 1 : 10, maka ditimbanglah 100 gram lalu masukinn perlahan kedalam tempat seperti tabung saringan yang terletak di tengah bejana. Lalu ukur air dingin sebanyak 1 liter, dikucurin perlahan… eh bahasa sunda. Dituangkan airnya perlahan menimpa bubuk kopi hingga tuntas 1 liter itu berpindah tempat. Jangan khawatir, bejana kaca merk Hario itu kapasitasnya 1,5 liter.
Sesudah selesai, tutup bejana atasnya. Simpan di kulkas minimal 8 jam.
“Gitu aja?” “Nggak bisa dinikmati langsung?”
“Maafkan kawan, metode cold brew memang bukan untuk dinikmati langsung, tapi butuh kesabaran”
“Ahh kirain langsung, ya udah moo nyeduh pake V60 aja!!”
“Silahkan”
***
Boneka harimaupun tersenyum sambil memperlihatkan pose terbaiknya disamping bejana cold brew berisi Kopi Liong yang berekstraksi perlahan menuju kenikmatan rasa di esok hari. Wassalam (AKW).
Pagi yang cerah membawa semangat kebersamaan untuk segera menuntaskan laporan tentang pelaksanaan Diklat yang memasuki putaran akhir ini.
Yang bikin mood booster di pagi hari ini adalah sebuah sajian ciamik dari salah satu kopi terbaik di tanah priangan, yaitu kopi arabica single origin Gununghalu dari CoffeeRush.
Terus terang aja, memang belum pernah ke tempat atau lokasi kebun kopi Gununghalu ini, tetapi karena sama dengan nama daerah yang tertera di Akta Kelahiran 40 tahun silam, makin bangga jadi urang Gununghalu eh (ralat) kelahiran Gununghalu, salah satu nama kecamatan di wilayah Kabupaten Bandung Barat.
***
Nge-grinder dulu 30 gram dengan ukuran kasar, khan moo di manual brew. Harum alami kopi mulai menyapa panca indra inti, menebar aroma segar di ruangan kerja Om Fajar.
Metode seduhnya pake V60 dengan komposisi 1 : 15, panas air untuk nyeduhnya 86 derajat celcius. Caranya tetep protap, proses blumming dulu lalu diseduh berputar perlahan searah jarum jam… aromanya nikmatt pisan.
Hasilnya… Tralalalala… sebuah sajian eksotis dari biji kopi pilihan. Nuhun Bu Nova.
Srupuuut…
Segera rasa nikmat menjejak di ujung lidah, meresap ke bawah lidah dan bermain dulu dalam kumuran istimewa. Setelah tuntas baru ditelan perlahan, hangat rasa menghangatkan jiwa, menambah semangat untuk segera tuntaskan tugas yang ada.
Body-nya medium, Acidity medium high dan taste yang muncul ada sedikit dark chocholate dan selarik kesegaran tamarin, kalau aroma udah jelas harum menyegarkan.
Yuk ngopay ah.. srupuut.
***
“Tambah lagi kopinya Pak?” “Pasti dong!”
Segera berdiri dan menuju sudut ruangan yang disulap sekumplit cafe, baik persediaan kopi juga peralatan lengkap. Menyenangkan. Haturnuhun, Wassalam (AKW).
Nilai kehidupan hadir dari Boneka Harimau belenuk.
Photo Wajah macan tampak depan | lucu | dokpri.
“Ayah beli Boneka Harimau yaa..” Sebuah permohonan sederhana dari anak semata wayangku. “Siap, Ayah kerja ke luar kota dulu yaaa” “Oke Ayah, eh jangan lupa sama lolipop ya, dua” sambil kedua tangan terbuka semua, jarinya jadi sepuluh. “Iya sayangku, Assalamualaikum” “Waalaikumsalam”
Dialog singkat disaat akan kembali berdinas ke pulau dewata dalam rangka pendidikan dan pelatihan yang sedang dijalani dengan pola on-off ini menjadi sebuah kontrak pribadi yang miliki konsekuensi serta hak dan kewajiban. Permintaan sederhana dari seorang anak kecil yang ternyata memberi hikmah besar dalam memandang dan mencoba memahami nilai kehidupan.
***
Di sela-sela istirahat sore ataupun malam hari, video call menjadi keharusan. Kemajuan teknologi yang memutus jarak ratusan kilometer menjadi sebatas jengkal, bisa bercengkerama, bercanda sambil melihat wajah masing-masing di layar smartphone. Ah indahnya kemajuan jaman, meskipun ada beberapa rekan yang tidak suka video call sama istrinya, entah karena apa. Mereka lebih suka telepon suara saja. Ya gpp juga, silahkan itu mah urusan masing-masing.
Photo macan nyamping | belenuk | dokpri.
Setiap kontak baik video call ataupun telepon biasa, pertanyaan tentang oleh-oleh boneka harimau menjadi pertanyaan utama sehingga menjadi kewajiban untuk membelinya.
“Sayang anak… sayang anak…” jadi teringat ucapan pedagang asongan mainan anak di bis, dulu jaman masih muda.
***
Hari ketiga acara di Bali, akhirnya ada kesempatan untuk meluangkan waktu mencari boneka ‘cheetah ceetah bang bang’ sebelum bertolak ke bandara. Ternyata lokasi Bali Safari bertolak belakang dengan arah bandara. Ya sudah jajal aja. Ditemani sopir taksi kenalan yang baik hati dan sopan, kami meluncur ke Bali Safari demi membeli sejumput janji untuk anak penyejuk hati.
***
33 menit berlalu, tiba di gerbang depan Bali Marine & Safari. Masuk melewati pos penjagaan dan taksi mengantar hingga ke loket pembayaran. Disitulah bersemayam eh terdapat jualan souvenir binatang-binatang.
“Ada boneka harimau mbak?” “Ada pak, ada yang kecil 60 ribu, yang berbentuk topi 160 ribu dan ini agak besaran 135 ribu”
Boneka topi kayaknya nggak mungkin, trus yang ukuran kecil kayaknya terlalu kecil, nah berarti ini mungkin yang menjadi pilihan, boneka harimau lucu.
Tapi, sebelum memastikan membeli, agak tertegun karena wajahnya harimau lucu sementara badannya agak aneh, buntet eh bantet nggak jelas gitu. Badannya lebih mirip binatang hamster dech atau anak kelinci. Jadi klo dilihat dari samping memang tampilannya aneh tapi tetep lucu.
“Duh gimana ya?, udah beli ternyata anaknya nggak suka. Tapi beli aja ah, daripada jauh-jauh nggak dapet apa-apa”
Diskusi dalam hati karena kondisi boneka yang badannya nggak mirip harimau. Malah kepikiran beli juga yang ukuran mini, tapi ntar pemborosan, ya sudah lah. Belum lagi kalau diitung sama ongkos taksinya.
***
Ternyata, setelah mendarat dengan keras di runway Bandara Husein dan dijemput hingga tiba di rumah. Boneka harimau dan lolipop yang menjadi pertanyaan.
Perlahan tapi pasti boneka harimau buntet (belenuk, bhs sunda) diambil dari koper, daan….
Reaksi senangnya terpancar dari wajah anak semata wayangku. “Makasih Ayaah” dengan sumringah boneka harimaunya dipeluk-peluk, dibelai dan dipamerin sama nenek serta ibunya.
Anak tidak terganggu dengan tampilan badan yang belenuk (buntet) karena imajinasi mereka tentang harimau lebih melihat muka dan belangnya saja. Tidak perlu berfikir detail tentang bentuk hewan yang proporsional, semua itu cukup dan menyenangkan.
Tiba-tiba tersadar bahwa terkadang diri ini sering mengharapkan suatu barang atau seseorang itu sempurna untuk membantu kita sesuai harapan kita. Sehingga mudah dihinggapi rasa kecewa disaat kenyataan tidak sesuai harapan.
Padahal, semua barang dan juga seseorang pasti ada kekurangan atau kelemahan masing-masing. Sikap ikhlas menerima dari diri kita lah yang memberi warna sehingga rasa syukur akan muncul bahwa ini semua adalah takdir yang harus kita jalani dan syukuri.
Anak kecilku memberi contoh bagaimana menerima sebuah mainan yang bentuknya tidak proporsional meskipun harganya lumayan. Dengan gaya penerimaan yang senang, ikhlas serta apa adanya, menghilangkan rasa cape, melupakan berapa biaya taksi tambahan, berganti aura kebahagian yang menjadi bekal kehidupan.
“Hai Ayah, jangan bengong, ayo kita joget bersama bonekaku, Cheetah cheetah bang bang” Suara anakku membuyarkan lamunan ini. Segera berganti senyuman dan langsung melarut dengan permainannya.
Terima kasih atas pelajaran sederhana ini. Wassalam (AKW).