Petugas Pembaca UUD1945

Selembar photo sejuta makna, legam bukan berarti kelam, tapi legam yang penuh harapan.

Photo : Sang Pembaca berkulit eksotik / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Ber-lebaran di kampung halaman tempat kelahiran adalah saat yang begitu berkesan. Selain bisa kembali bersua dengan kawan sepermainan juga mengembalikan kenangan masa kecil yang ternyata menjadi pondasi penting dalam menjalani kehidupan.

Jikalau mesjid besar Al-Kahfi mengingatkan kembali betapa ‘aktifnya(maksudnya aktif bermain dan iseng di mesjid dan sekitarnya).. maka sebingkai photo masa lalu, mengingatkan kembali tentang sosok kecil, lugu dan polos dengan kulit sawo matang sematang-matangnya karena senang sekali ‘natural salon tunning ‘ alias maemunah (moé manéh = berjemur langsung dibawah sinar terik mentari) sambil berburu layangan yang putus dan terbang tak tentu arah mengikuti gemulai angin kehidupan, yang juga ber-efek samping keringnya kotoran hidung sehingga disebut juga -moé korong-…. masa kecil anak kampung yang menyenangkan.

Cerita mesjid dan masa kecilku bisa dibaca di tulisan SELAMAT HARI LEBARAN.

***

Selembar photo sejuta kenangan, itu bukan hanya istilah, tapi nyata adanya. Kembali memandang photo ini, teringat terasa waktu itu betapa gagahnya, berbaju putih dan celana (pendek) putih… lho kok pendek?…. ya iya atuh, khan masih anak SD. Anak kecil yang punya mimpi besar.

Menjadi petugas upacara sebagai pembaca UUD 1945 di acara Upacara Bendera HUT RI di tingkat Sekolah… eh lupa lagi… atau tingkat kecamatan ya?… ah sudahlah… yang pasti ada bukti udah pernah jadi petugas pembaca…. bukti otentik berupa photo, titik.

Kembali urusan kulit, terlihat begitu legam membahana… mendekati level gelap kehitaman. Tapi jangan salah, kulit super gelap itu tahan terhadap alergi kulit lho…. trus kukurusukan (masuk ke semak-semak) di kebun atau pinggir hutan, nggak khawatir dengan gigitan nyamuk atau serangga. Mereka enggan mendekati kulit gelap, mungkin darahnya pahit sepet jadi males gigit sang nyamuknya hehehehe.

Trus bagus buat penyamaran, sedikit saja ada tempat gelap maka langsung bisa menyatu dengan keadaan menggunakan teknik kamuflase ala bunglon wkwkwkwkwkwkw…..

***

Tiga puluh tiga tahun berlalu, ternyata hobby membaca melekat dalam jiwa, jikalau dulu memang sebagai pembaca dalam upacara, maka sekarang membaca buku masih menjadi pilihan santai di waktu senggang, meskipun ada buku yang senantiasa sedih jikalau dibaca…. yaitu buku tabungan, hiks hiks hiks.

Satu lagi yang masih melekat dengan aktifitas membaca adalah membaca situasi, baca gejalanya, analisis sederhana dan lakukan tindakan, maka hasilnya akan didapatkan.

“Maksudnya gimana?”

Ahh…. pertanyaan yang agak panjang untuk dijawab. perlu bersua dan dijelaskan secara langsung tentang ‘membaca situasi’ ini, karena ternyata tidak cukup keinginan saja, tetapi harus berlatih dan akhirnya menjadi ‘keterampilan’….

“Oke dech, nanti ke ruangan ah, sambil ngopay, khan udah nggak berpuasa”

“Siyaap mas bro, eh tapi mendingan kontak-kontak dulu, khawatir lagi shaum sunnah syawal (nyawalan)”

“Ah banyak kali kau alasan”

Aku Malas berdebat, karena situasinya tidak memungkinkan. Tapi jikalau waktunya tiba dan bisa berdiskusi, maka ‘membaca situasi’ ini bisa menjadi tema yang (mungkin) menarik. Entahlah.

Kembali photo ini dilihat lebih seksama, terutama latar belakangnya. Barangkali ada wajah kawan-kawan masa kecil yang bisa diingat. Semua mirip, masih lugu, polos dan wajah asli urang lembur (desa) seperti akyuuu….

Semakin diperhatikan wajah-wajahnya, tetap saja belum bisa memastikan wajah-wajah siapa itu, ya sudahlah….

Selamat menikmati mudik dan berjumpa dengan kenangan masa kecil yang tak akan terulang kembali, Wassalam (AKW).

Mudik Lanjutan…

Berlanjut bergerak menjaga silaturahmi agar terus terajut.

CIMAHI, akwnulis.com. Disaat tuntas shalat Ied di kampung halaman tempat kelahiran, maka waktu terbatas dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk bersua dan bersilaturahmi dengan saudara, kawan dan handai taulan.

“Kok waktunya terbatas?”..

” Karena besok, sang istri harus bertugas sebagaimana tugas profesinya di bidang medis”

“Oohh….. gituu”

Maka sore harinya, kembali bergerak dan duduk dibalik kemudi. Meninggalkan kampung halaman menuju rumah tinggal selama ini.

***

Esok harinya, tugas menjaga anak semata wayang sebagai ‘bapak rumah tangga 1 hari’ mulai berlaku. Karena istri harus berdinas dulu… eh nggak satu hari, setengah hari saja.

Untungnya ada pembantu, sehingga tidak terlalu berat urusan dalam negeri eh… dalam rumah, yang perlu difahami bahwa urusan domestik perlu sekali-kali dirasakan dan dijalani… jaim jaan (jaga imah jaga anak)…..

Lalu….. preparing to go again.

“lha moo kemana lagi?….”

Bersiap meluncur ke Kuningan nanti sore setelah Istri tuntas ber-piket hari ini… cemunggutttt… Eaaa.

***

Pukul 14.00 wib, dengan packing super kilat maka kami bertiga sudah bergerak meninggalkan rumah (lagi) menuju Kuningan…. Kabupaten Kuningan, Jawa Barat (..musti jelas, ntar disangka ke Kuningan Jakarta, beda banget tuch)….

……….

“Kok ceritanya nggak tuntas?”… (selow mas bro, musti jadi pilot dulu nich… ntar udah agak santai… dilanjut nulisnya yaaw).

Selamat Lebaran 1440 H

Secuil kisah di Hari Fitrah, 1 syawal 1440.

Photo : Ceramah Iedul fitri di mesjid AlKahfi 050619 / dokpri.

GUNUNGHALU, akwnulis.com. Usai shalat Idul Fitri berlanjut musafahah (bersalam-salaman), bibir terus tersungging dan harapan bersua serta silaturahmi bersama saudara, handai taulan, kawan, tetangga dan sahabat sepermainan menjadi sebuah semangat yang memberi makna mendalam.

Shalat Sunat (muakad) Iedul fitri di Mesjid Alkahfi menerbangkan kenangan yang jauh di masa silam. 30 tahun lalu, dikala usia belia, mesjid ini adalah tempat bermain, bermain dan bermain sekaligus tempat menuntut ilmu agama, pondasi pemahaman agama yang menyelamatkan diri ini di kala dewasa.

Tempat balapan lari ataupun balapan naik sarung yang ditarik teman lainnya, mengitari mesjid yang licin dengan lantai porselen yang baru adalah agenda menyenangkan di mesjid ini. Meskipun harus berkorban di jewer DKM dan sarung jadi bolong-bolong karena gesekan dengan lantai…. itu menyenangkan… asli.

Photo : Musyafahah starts / privdoc.

Dahulu, di halaman mesjid terdapat penampungan air berbentuk bulat, di gunakan untuk berwudhu sekaligus kolam renang gratis bagi anak-anak bandel yang rutin masuk kolam yang disebut ‘kulah‘ untuk mencari kesegaran atau jika beruntung mendapatkan beberapa ‘kijing’, kerang air tawar yang cukup besar ukurannya sebesar telapak tangan orang dewasa dan bisa dimakan dengan memasaknya terlebih dahulu.

Di kolam ini pula, aku dan beberapa kawan di rendam dini hari di hari idul fitri karena insiden takbiran misterius di tengah malam, yang penasaran monggo di klik cerita lengkapnya di ….. PENTAKBIR MISTERIUS.

Ah…. banyak sekali kenangan masa kecil yang terlintas dikala sang Khatib Ied memberikan ceramah dalam bahasa sunda yang berirama. Mesjid ini yang sekarang begitu megah dan bernama Mesjid Al Kahfi, adalah bagian masa kecilku yang penuh keceriaan, tawa, suka dan duka…. mulai paham huruf hijaiyah, belajar kitab sapinah dan jurumiyah (meskipun akhirnya nggak tuntas karena lebih banyak main di sekitar mesjid)… tapi minimal halaman-halaman awal quran dan kitab kuning menjadi pembeda dalam memahami Nur Illahi, di kemudian hari.

Akhirnya sesi ceramah tuntas dan di momentum selanjutnya, saling bersalam-salaman, menebar senyum serta jabat erat dan rangkulan bahu dikala jumpa kawan sepermainan, sepengajian yang telah berubah menjadi sosok bapak-bapak (diriku juga hehehehe), ….. ah sang waktu ternyata tak pernah mau berhenti. Hanya kenangan yang mengajak berjumpa dengan suasana masa lalu meskipun hanya bermain di tataran imajinasi.

Hari ini, bersujud di rumah-MU ya Allah, di kampung tanah kelahiran, bersama keluarga kecilku termasuk my little princes yang begitu excited disaat berjumpa pertama kali dan menikmati suasana di‘Rumah Api’ (Bantu masak di kampung Eyang)….

Sebuah kisah memasak berselubung asap di dapur tradisional milik eyang kakungnya di rumah masa kecilku.

Allaaahu Akbar…. Allahu Akbar… Allahuakbar…. Laailahailallah huAllahu Akbar, Allaahu Akbar Walillahil hamd.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriyah.

Mohon dimaafkan segala khilaf, baik lahir maupun bathin. Wassalam (AKW).

Rumah Api*)

Cerita mudikku, bantu masak di kampung Eyang.

Photo : Aku lagi mriksa rumah api / dokpri.

GUNUNGHALU, akwnulis.com. Kali ini aku moo cerita ya guys… Cerita mudikku ke rumah eyang di kampung tempat kelahiran ayahku…

Perjalanan hampir 3 jam, tidak terlalu kurasakan karena lebih banyak terbuai dalam pangkuan ibunda dengan dengkur teratur yang berirama.

Tetapi pas terbangun, suasana siang sudah berganti dengan kegelapan, ternyata sudah melewati waktu magrib. Awalnya bingung lho, tapi karena ayah ibu ada bersamaku, ya sudah…. tenang sajaaaa….

Nyampe di rumah Eyang di kampung yang disebut daerah Gununghalu. Disambut pelukan hangat eyang istri dan eyang akung…. Alhamdulillah.

***

Perkenalan sama rumah api itu, pas jam 10 malem. Aku kehilangan ayah, ternyata ayah lagi mindahin lokasi parkir mobil ke tempat yg lebih strategis sesuai saran eyang.

Aku berjalan ke dapur dan ternyata eyang lagi pada masak…. woaaah langsung gabung donk, khan di rumah udah biasa masak segala macem (maksudnya main masak-masakan)…. “Eyang ikutan bantu yaaa”
“Iya cantik, silahkan”…. senangnya.

Lalu Eyang memberi peralatan memasak beneran, ada cocolek, garam, gula dan piring bumbu… lalu diberi meja kursi dan dipersilakan bekerja di rumah api.

Photo : I am Binar, still working at Fire house / privdoc

Iya guys, rumah api beneeraan… ada api yang membara dan membakar kayu, lalu diatasnya ada wajan besar berisi air santai dan potongan daging serta berbagai bumbu yang diurus sama eyang kakung. Eyang putri nyiapin bumbunya lalu membuat tumis sayuran, wortel mentimun… eh acar ya?…. Sambal goreng kentang, bihun, sambal dan goreng kerupuk…. waaah ramaiii….

Di rumah api, selain hangat juga asapnya yang bikin sensasi berbeda, seolah kabut menyelimuti malam dan bau khas asap ternyata bikin suasana mudik makin terasa. Aku mah terus aja bekerja membantu eyang, dan asap yang ada tidak bikin sesak atau perih di mata…. pokoknya jadi aneh tapi menarik… beneraan lho guys.

Ayah juga jadinya ikutan nemenin, ngobrol sama eyang istri dan eyang kakung, ibu juga… jadi di saat mendekati tengah malam, suasana rumah api makin ramai dengan celotehan dan berbagai sajian makanan untuk esok hari, hari lebaran.

Oh iya guys, aku juga kangen nenek, ibunya ibuku yang kali ini jauh, karena mudik ke Kuningan. Ingin menyusul, cuma nggak tahu gimana caranya, cuman bisa berdoa dan berharap semuga ayah ibu masih punya jatah libur dan bisa nyusul ke tempat nenek….. yach sementara rumah api menjadi penghiburku dulu…. Kemoon, masak lagiiii.

***

Catatan Binar, 030619.

***

*)Rumah api : Dapur di kampung, dimana proses memasaknya menggunakan kayu bakar, dalam bahasa sunda disebut ‘hawu’ dan aktifitas menghangatkan badan sambil cingogo/jongkok didepannya disebut ‘siduru’.

Jikan anyar – fbs

Carita fiksi lenyepaneun…

*)fikmin : fiksimini, sebuah genre penulisan fiksi singkat berbahasa sunda.

Fikmin # Jikan Anyar #

Haté guligah nyanghareupan isukan, wegah tapi panasaran.

“Kumaha Mang, geus siap lahir bathin?” Mang Badri nanya.

“Nyaéta mang, lahir mah geus sayagi ngan bathin masih palaur, can panceg”

“Maksadna kumaha?”

Uing ngadeukeutan Mang Badri, tuluy ngaharéwos. Mang Badri seuri tuluy unggut-unggutan.

“Engké dibéré ubarna ku amang” kitu ceunah, bari nepakan tonggong.

***

Alhamdulillah akad nikah tur walimahan lancar teu aya halangan harungan. Aya kétang sautak saetik urusan kurang lalawuh jeung pahili bésék.

Peutingna nu hariwang, sieun teu nyugemakeun. Maklum ari calon jikan parawan tingting belekesentreng, ari Uing mah durian, duda ripuh anjrxxt. “Duh sieun teu mampuh.”

“Hayu atuh Kang…” Soanten halimpu dina puhu ceuli, dilieuk téh jikan tos polos sapuratina.

Bati olohok wé teu ngiceup-ngiceup, ningal pinareup nu matak sieup. Deg!.. bumi alam oyag, geutih dina awak ngadadak lancar ngagolak. Gabrug… les poèk.

Bulan madu di rumah sakit, dibaturan mesin EKG jeung jikan anyar. Duh.

Kopi Setrikaan & Bahagia.

Berbuka puasa, tidak lupa bahagia dan nikmati kopi setrika….

Photo : Kopi double espresso dan setrika jadul / dokpri

CIUMBULEUIT, akwnulis.com. Berbuka adalah saat bahagia, tentu ada syaratnya yaitu melakukan ritual puasa.

“Klo nggak puasa, emang nggak bahagia pas (ikutan) berbuka puasa?’

“Kata aku sih, Enggak… Bahagia itu ada syaratnya bro, nggak percaya?.. silahkan di coba”

Sebuah jawaban yang belum memuaskan, tapi karena belum mengalami langsung suasana berbuka tapi sebenernya udah batal (berbuka puasa sebelum waktunya)… maka pendapatku tetep, ‘Bahagia berbuka itu jikalau berpuasa’.

“Trus khan perempuan ada siklus menstruasi, otomatis dalam satu bulan ramadhan ada hari-hari tidak berpuasa?” pertanyaan dengan rasa penuh perasaan kembali digelar.

“Bener itu mah, tapi untuk pembahasan awal tadi, aku nggak tahu, aku bukan perempuannn….”

Itulah sepenggal dialog yang saling mempertahankan argumen tentang salah satu definisi bahagia, padahal poin yang sangat pentingnya adalah sebuah rasa bahagia, wajib hukumnya untuk disyukuri, bukan dipertentangkan.

Omar Khayyam berkata, “Be happy for this moment. This moment is your life”

Tuhh… bener khaan?..

Jangan ketuker yaa, Omar Khayyam ini adalah sastrawan ternama di Iran sekaligus ilmuwan yang mendalami ilmu matematika dan astropologi yang lahir di Nishapur-Iran 18 mei 1048 dan meninggal pada 4 Desember 1131 H.

Di Indonesia juga ada sastrawan terkenal yaitu Umar Kayam yang lahir di daerah Nganjuk Jawa Timur pada tanggal 30 April 1932 dan meninggal pada tahun 2002, beliau adalah sastrawan, sosiolog dan seorang guru besar Fakultas sastra UGM (Wikipedia).

“Balik lagi ke pokok pembahasan kali ini, jadi berbuka puasa dimana, sama siapa dan apakah bikin bahagia?”

Photo : Japanese salad / dokpri.

Kembali pertanyaan bertubi mendera diri, yang pasti kali ini berbuka spesial sekaligus bisa nikmati kopi setrika.

“Naon deui eta?” Sang kawan penasaran sambil mengamati daftar menu sang telah tersaji.

“Silahkaan….” diriku ngloyor ke meja depan sambi membawa secangkir kecil double espresso karena terlihat ada objek menarik disana.

Objeknya adalah sebuah setrikaan masa lalu yang pake pengunci depan, biasanya sih kunci atasnya berbentuk kepala dan badan ayam jago.

Simpan gelas espresso disampingnya, pilih posisi dan….jepret!… Kopi setrikaan berhasil diabadikan hehehehehe.

Kembali ke meja tempat diskusi bersama dan bersiap sesaat lagi berbuka puasa…..

“Allahi akbar… Allahhhhh hu akbar…

….. dst”

Kumandang Adzan magrib membuncahkan rasa bahagia kami, menahan lapar dahaga sedari pagi, termasuk hindari hoax atau forward beritanya…. sekarang saatnya bahagia dengan berbuka puasa.

Bismillahiroohmanirrohim

Air putih dan 3 butir kurma menjadi pembuka, shalat magrib bergantian adalah aktifitas yang seharusnya. setelah itu, barulah kita menikmati bersama, sajian makan minum paket berbuka puasa.

Photo : gulai kepala kakap / dokpri.

Kopi setrikaan perlahan disruput… nikmaaat, dilanjutkan salad ala chef miss be resto yang begitu beraneka tumpah ruah… yummmy, hingga akhirnya appetizernyapun ternyata…. main coursenya kawan setia, Gulai kepala kakap yang menggiurkan…..yang kebetulan tembolok kawanku-nya terbatas, jadi bantu ngabisin hehehehehe. Selamat berbuka shaum di ‘Injury time’ bulam ramadhan tahun ini, Wassalam (AKW).

RUMAH PUTIH YUDA BAKTI

Rumah keluarga yang elegan dengan nuansa putih penuh ketentraman.

Photo : Rumah Putih tampak depan / dokpri

CIMAHI, akwnulis.com. Rumah satu lantai bernuansa putih yang elegan, dengan luas bangunan 152 meter persegi. Terletak di Komplek Perumahan Aneka Bakti, Leuwigajah Kecamatan Cimahi Selatan.
Akses dari jalan raya Sadarmanah – Cibeber berjarak 150 meter. Kendaraan umum angkutan kota tinggal berhenti di gerbang komplek dan berjalan kaki sedikit.

Parkir kendaraan 1 buah KR4 dan terlindung dengan atap kanopi baru policarbonat.
Kamar tidur 3 buah + 1 kamar pembantu di lt2 dan kamar mandi 2 buah.

Meja makan dengan 3 kursi,
Kasur spring bed ukuran king size,
Lemari baju 1.

Photo : Ruang tengah yang lapang dan dapur / dokpri.

Didepan pintu masuk terdapat Kolam ikan hias dibawah teras depan dan dapat dilihat langsung karena menggunakan kaca tebal.

Air bersih, bagus, bersumber dari air PDAM dan Sumur Bor dan dilengkapi filter penjernih dengan 2 buah torn.
Listrik 1200 watt menggunakan akan token.

Lampu ruang utama dengan downlite + lampu hias.

Photo : Kamar Depan / dokpri.

Jalan depan rumah lebar 5 meter, leluasa jika perewis/berpapasan.
Keamanan 24 jam dengan portal dan satpam.
Mesjid dekat sekitar 200 meter.

***

Alamat : Jl. Yuda Bakti No.3 Rt01 Rw11 Komplek Aneka Bakti Leuwigajah Cimahi Selatan.

Penawaran Terbatas, yang minat monggo kontak :

Call/WA : +6287721300307

Berenang di Hotel Margo

Berbasah ria di The Margo hotel, baru meeting.

photo : Swimming pool Margo Hotel / dokpri.

DEPOK, akwnulis.com. Di kala sang mentari masih malu-malu menampakkan diri, raga ini sudah bergerak sendiri menuruni titian janji, berjingkat perlahan tapi pasti menjauhi peraduan dan akhirnya menuju lantai yang telah ditentukan.

Tepatnya lantai 3 yang menjadi tujuan, keluar dari lift belok kanan langsung disambut oleh si belang putih merah ati yang akan menemani dalam prosesi pengeringan nanti.

Melewati pintu kaca dan berjumpa dengan gemericik air kolam renang yang menenangkan jiwa dan mengajak raga untuk bercengkerama.

‘Jangan lupa buka baju dulu’

Jeburrrr!!!….

Kesegaran menyeruak menyentuh pori yang butuh kesegaran. Adrenalin meningkat seiring lamanya badan menahan nafas, lantai kolam renang yang biru menghasilkan siluet indah hasil kolaborasi cahaya dan gerakan air yang dinamis optimis.

Swimming pool Hotel Margo di jalan Margonda Kota Depok ini memang nyaman, meskipun ukurannya bukan kelas olimpic, tapi lumayan buat hiburan dan bersantai sambil melihat pandangan ke arah jalan raya dan mukanya mall margonda.

Kolam dewasa dengan kedalaman 160 cm dan kolam anak 60 cm, dilengkapi air yang menyemprot dari ujung kanan kiri, memberi kesan meriah dan menyenangkan.

Cuman musti hati-hati berenangnya, jangan sambil mangap, ntar nggak sengaja neguk air kolam dan dilanjutkan neguk lagi…. maka kerugian buat kita, pertama shaumnya batal trus kedua rasanya nggak enak karena sudah diberi kaporit ehh mentah lagi airnya..

Berenang kesana kemari akhirnya berhenti karena memgingat di bulan ramadhan ini musti jaga stamina serta bersiap ikutan meeting pagi ini.

“Lha emang sekarang jam brp?”

“Jam 06.15 mas”

“Busyeet niat banget kamu…”

Hanya senyum dan gejebur yang menjawabnya. Tidak ada niat berlebihan, tapi sedikit menikmati fasilitas di sela kerjaan yang bejibun dan injury time moo libur…. khan hal yang wajar.

Selamat beraktifitas dan bersiap menjalani libur panjang Idul Fitri 1440 H. Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
The Margo Hotel, Jl. Margonda Raya No.358, Kemiri Muka, Kec. Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424.

Ngopay di Orange Steak Culture Cafe.

Ngopaynya geser ke Tasik bray..

Photo : Sajian V60 Arabica Yellow Bourbon / dokpri.

TASIKMALAYA, akwnulis.com. Jikalau biasanya sudah tersemat di alam bawah sadar bahwasanya menikmati bubur Jaenal dan baso Laksana adalah sebuah kewajiban di kala beredar di kota tasikmalaya. Maka sekarang pola pikir alam bawah sadar itu masih sama mulai bergeser dengan hadirnya semangat ngopay yang terus menggelora.

Tapi tetep jikalau kesempatannya ada dan my stomach masih kuat menampung sajian makanan di tembolok kanan kiri depan belakang maka tentu tetap didatangi, dipesan, dimakan dan dinikmati…. abis enakk seeeh.

Jadi, semangkok besar bubur jaenal yang legendaris tetap mendapatkan tempat di perut serta kenangan manis, nggak bakal ditolak klo ada yang ngajak sekaligus nraktir, apalagi di bulan ramadhan, pahala nraktirnya berlipat-lipat, dengan syarat niatnya benar dan tidak pamer yang menjurus ke ujub riya.

“Eh guys, udah tahu khan bubur jaenal?”

Photo : Bubur Zaenal 1 porsi / dokpri.

Yang menggeleng berarti kasian dech lu. Ada makanan enak legendaris yang belum dicoba. Meskipun memang terdapat dua aliran yang bertentangan, itu terjadiklo duduk disini, di daerah sekitar mesjid agung kota tasikmalaya tidak sampai berantem dan bikin kerusuhan karena semangkuk bubur, nama alirannya adalah GAB (grup aduk bubur) dan GNTAB (grup natural tanpa aduk bubur)…… kamu masuk grup mana klo ngebubur mas?

Klo kepo bin penasaran… gugling aja ya guys… keywordnya : bubur jenal kolektoran tasikmalaya.

Udah ah, sekarang moo bahas ngopay dulu bray.

“Ngopay apa dimana say?”

Photo : Suasana Cafe Orange steak culture / dokpri.

Ngopaynya kopi Arabica Yellow Bourbon honey di Cafe OTC (orange steak culture), masih di jalan Ikik Kota tasikmalaya, deketan bangeet sama lokasi bubur janal yang dibahas tadi.

Jadi bisa ngebubur dulu lanjut ngopay atau sebaliknya, ngopay dulu baru pulang…. eh ngebuburnya kaapaan?…..

Nemuin kopi inipun random aja, ada cafe dan ada sajian kopi manual. Masuk dan tanya2 kopi bean yang ready…. banyak sih, tapi yellow bourbon honey yang recomended…

“Pesen kang, pake manual brew V60 yaa”
“Oke kakak”

Suasana kafenya cozy dan menyenangkan dengan menu variatif western, asia dan tentu kopi dengan sajian beraneka rupa dan rasa.

Nikmat buat kongkow atau ber-alone juga mencari inspirasi dan menikmati kesendirian meskipun terkadang menyesakkan… ahhhhh.

Photo : Sebungkus bean Rancabali Natural / dokpri.

Sajian pertama adalah Arabica Yellow Bourbon honey yang diseduh manual dengan fiter v60 pada panas 89° celcius menghasilkan rasa nikmat dan keharuman memikat. Body-nya kategori bold/tebel pahitnya juga tingkat keasaman (acidity) maksimal ditambah yang unik adalah aftertastenya ada selarik rasa kola yang nyereng seperti ada semut kecil yang bergerak di bibir dalam, gagarayaman.

Dilanjutkan sajian kedua adalah versi dinginnya dan tentu menggunakan bean yang berbeda, yaitu Japanese Arabica Rancabali natural. Sang barista, Rizal mainkan bean dan air dengan perbandingan 1 : 18 pada suhun 89°celcius dan pola muter arah kanan serta di gelas server bersiap es batu menerima tetesan ekstraksi biji kopi yang penuh arti.

Photo : Japanese Arabica Rancabali Natural / dokpri.

Setelah tersaji…. srupuuut.

Tidak segalak sajian pertama, body dan aciditynya medium, sedang-sedang saja, tetapi aftertastenya muncul selarik rasa citrun, serta yang pasti menjadi pembeda rasa adalah rasa dinginnya yang menyegarkan…. sueģerr rek.

Oh iya lokasi cafenya di jalan R. Ikik Wiradikarta No.53, Tawangsari, Kec. Tawang, Tasikmalaya, Jawa Barat 46112. Selamat ngopay di Tasik mang, Wassalam (AKW).

Kopi Lintas Batas.

Perjalanan memaknai kopi lintas batas wilayah kota kabupaten…. cemunguut.

Photo : Suasana pagi di Depok City / dokpri.

CIANJUR, akwnulis.com. Setelah pembatasan medsos beberapa hari lalu, maka fasting breaking medsospun disambut dengan sukacita karena om Rudiantara mencabut kembali puasa akses gunakan medsos yang sudah menjadi warna denyutan kehidupan rakyat bangsa indonesia saat ini.

Dahaga bermedsos akhirnya kembali terpenuhi dan jikalau dihitung dengan ukuran kira-kira plus rumus sekenanya, ternyata tingkatan nafsu yang paling sulit dikendalikan di bulan ramadhan penuh berkah ini adalahhhh…… nafsu bermedsos (upss maaf klo salah).

“Ah kamu mah ngawur, nggak ada haditsnya bermedsos membatalkan puasa”

“Yang membatalkan shaum itu makan minum dan bersenggama”

Sudahlah nggak usah diperdebatkan, yang pasti menahan nafsu dan mengendalikannya adalah hal WAJIB di bulan ramadhan ini, sekaligus latihan penting untuk diimplementasikan di 11 bulan selanjutnya.

Alhamdulillah sekarang bisa buka medsos lagi, ngecengin agenda para selebgram sambil tak lupa pasang status kekinian…. tuhhh khaaan… nggak kuat klo nggak ngoprek medsos barang sehari saja… kecuali dipaksa sama pemerintah 🙂 … itupun pada latah pasang VPN gratisan yang tentu miliki banyak resiko…

Pas buka IG, terlihat statusnya Taqi malik, ‘Sahur di Abu dhabi, berbuka puasa di Mesir’….. wuiih shaum lintas negara. Maka tulisan inipun musti ikutan dengan statusnya Taqi ah… supaya kekinian gaul abiiez.

Maka judulnya adalah…. ‘Sahur di Depok dan berbuka shaum di Cianjur’…. nah lintas batas negara kabupaten kota lho… batas Kota Depok, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, hingga akhirnya memasuki wilayah Kabupaten Cianjur…. lebih kereeen… ini melewati 4 wilayaaah. (Maaf yach klo maksa… tapi perjalanan cukup lama lho, bisa nyampe 6 jam-an).

Coba klo bandingin perjalanan dari Abu dhabi ke Mesir, klo pake Etihad airways itu cuma sekitar 4 jam perjalanan (penerbangan) menempuh jarak lurus 2624 km dengan kecepatan 700km/jam…… Sementara dari depok ke cianjur lebih lama dari itu, pake pesawat Toyota rush keluaran lawas…. kecepatan maksimal 90km/jam, sebanding khan?…. Nggak banget. Tapi itulah kondisi sekarang, sering banyak analisis perbandingan yang sebenernya nggak sebanding, tapi sudahlah….

Photo : Senja di Cianjur / dokpri.

Sahur di depok diwakili oleh sajian kopi Arabica gayo di Cafe juliet juga Noe Reborn Cafe Library yang bersua dengan si meong lucu dan seneng banget berpose dengan kopi berlatar belakang buku-buku di perpustakaannya.

Lalu setibanya di Cianjur, setelah membatali diri dengan air mineral maka dilanjutkan menikmati kopi Arabica Tangkuban parahu di AR7_coffeecorner, Alhamdulillah.

Begitulah perjalanan menikmati kopi lintas negara kabupaten kota, dari sahur hingga berbuka puasa. Selamat menikmati hari, jangan lupa ngopi. Wassalam (AKW).