FBS : Fiksimini basa sunda,sebuah genre tulisan berbahasa sunda menceritakan sebuah cerita fiksi dalam tulisan maksimal 150 kata sudah membangun sebuah cerita.
Silahkan…..
# MUSUH GEROT #
Jempling ngalungkawing ngabaturan indung peuting. Haté sumeblak teu puguh cabak, cus cos émutan nu matak héman.
“Kunaon kasép?”
Patarosan nu nyamuni tapi ngabalukarkeun isin ka diri. Margi éta patarosan téh tos terang waleranna, tos apal kedah kumaha ngalaksanakeunnana, malih mah sok dicobi dipilampah, mung tara lana.
“Naha?”
Kitu geuning nyata karasa, nu jadi sabab musabab sanés patarosan salira, tapi musuh gerot nu ngahalangan saban mangsa.
“Tah geuning geus apal, naha teu dilawan lur?”
Carinakdak cisoca diusap ku dampal pangbagéa, sanés teu tiasa, tapi geuning musuh panggerotna aya dina jero dada, ogé ngawasa uteuk disabudereun néocortéx jeung amigdala.
“Cobian deui…”
“Bismillah..”, gerentes niat muntang ka Allah Maha Kawasa, Hapé diilo, lalaunan sababaraha aplikasi favorit dipupus saharita. Hapé ditunda, ngoléséd ka musola, wudu tuluy muka quran nu aya.
“Halah… naha janten balélol kieu?” hurup arabna teu tiasa di aos, ngadon nyarumput dina sisi tutunjuk awi. Cimata bedah ku hanjakal, haté gimir mayunan kanyataan, rumaos tambelar. (AKW).
***
Catatan : Diposting di halaman Grup Facebook FBS, Sabtu 270719 Pukul 01.13 wib.
KUTA, akwnulis.com. Menginjak pasir pantai di sore yang berangin memberikan ketenangan, bukan semilir lho… tapi hembusan kencang yang mungkin bisa menerbangkan harapan.
Memandang ke sekitar, sekian banyak mahluk yang sedang hadir bersama menikmati pemandangan alam dengan persepsi berbeda. Ada yang berbunga bersama pasangannya, ataupun yang sedang bersedih karena sekeping hatinya tertinggal disini.
Beberapa remaja bersendagurau sambil bermain air di tepi pantai, sementara remaja lainnya sibuk mengabadikan momen sunset pake kamera DLSRnya dan Smartphonenya.
Jepret… jepret.. jepret…Sepuasnya sepanjang memori mencukupi.
Jadi ingat masa lalu, dimana aktifitas mengambil gambar photo via kamera itu adalah sesuatu yang cukup butuh pengorbanan, termasuk keterbatasan pengambilan gambar karena harus sesuai dengan roll film yang dibeli. ISOnya musti pas, ada yang 200 atau 400, masangnya juga musti bener, klo nggak… semua gambar photo yang diambil akan hancur atau istilahnya ‘kebakar‘,… atau kadang photonya numpuk dan seolah ada siluet mahluk lain… hiiiy.
Belum lagi, proses cetaknya nggak sembarangan, musti ke Toko cuci cetak photo dan hasilnya ada 2 ada photo gambar dan ada negative photo….. ah.. masa lalu yang sudah terlewati.
Aih kok jadi melamun siih…. padahal khan tujuan kesinih adalah dalam rangka menenangkan pikir memberi rongga leluasa di jiwa di sela tugas yang tak rela jikalau manusia ini bersantai barang sebentar saja.
Kembali berjalan, menjejakkan hati eh…. kaki diantara kelembutan pasir pantai yang terdiam dalam kepasrahan. Sambil menikmati semburat jingga diujung pantai, menghiasi horizon langit bertabur warna.
Meskipun lalu lalang manusia yang cukup banyak tetap bergerak dengan arah masing-masing, dengan pikiran masing masing dan niat yang berbeda satu sama lain.
…….Mungkin kesamaannya adalah bagaimana menikmati suasana, menyerap rasa dan akhirnya sedikit rilex serta sejumput damai menyeruak di pantai Kuta. Wassalam(AKW).
KUTA, akwnulis.com. Bersantai sesaat ditengah tekanan tugas dan target yang harus tuntas segera adalah salah satu obat mujarab yang bisa mengembalikan mood serta semangat untuk terus berkarya, bertugas dan ceria.
Caranya tentu beraneka macam, tapi di kala bertugas di luar kantor maka fasilitas hotel tempat menginap bisa dimanfaatkan untuk lepaskan penat.
Salah satunya adalah disini, di sebuah kolam renang yang memiliki multi fungsi, selain sebagai kolam renang tempat berenang dan bercengkerama dengan kesegaran air, sekaligus bisa sambil kongkow dan makan cemilan dengan posisi sebagian tubuh masih terendam air kolam renang, asyik khan?.
Inilah salah satu tempatnya, Sanken Pool & Sanken Bar. Sebuah kolam renang yang merupakan fasilitas hotel Inna Garuda Kuta di Bali ini memanjakan penginap untuk bersantai sejenak.
Kedalaman kolam dewasa 1,5 meter dan dipinggir sebelah kiri terdapat area untuk berenang anak dengan kedalaman 1,15 meter serta terdapat pagar pembatas dari stainless, sehingga relatif aman bagi anak yang sedang berenang tidak akan loncat ke kolam yang lebih dalam.
Photo : Sunken Bar Inna Garuda Kuta / dokpri.
Jadi beres berenang merapat ke sisi bar, pilih kursi dan segera pesan makanan atau minuman. Sayangnya diriku nggak bisa sempurna menikmatinya, karena pas nge-jebur ke kolam dan berusaha berenang dengan gaya batu andalan.. ternyata rekan sekamar dipinggir kolam memanggil sambil memperlihatkan smartphone yang dititipkan.
Segera menelepon setelah menepi dan, “Hallow..”
“Segera meluncur ke Denpasar, bawa berkas lengkap!!!”
“Siyaaap”
Sunken bar-nya gatot (gagal total), segera beringsut setengah berlari menuju kamar, mandi dan berganti pakaian secepat kilat dan langsung menghambur menuju kendaraan yang akan membawa diri bersama kawan untuk bergabung dalam diskusi pekerjaan di Kota Denpasar.
Photo : Kolam renang anak & dewasa di Ohana Hotel / dokpri.
KUTA, akwnulis.com. Mendarat di Bandara Ngurai Rai, trus meluncur menuju hotel adalah hal yang lumrah, tetapi yang bikin degdegan adalah memilih hotelnya begitu mendadak dan pertimbangan utamanya adalah budget, budget dan budget… baru tentang lokasi dan kenyamanan.
Awalnya memang dikala jari jemari menjelajahi aplikasi perjalanan online untuk menemukan berbagai hotel murah di sekitar Kuta Bali, tetapi tentu tidak hanya murah tetapi juga memiliki standar kenyamanan. Jadi dalam waktu yang terbatas, melototin pilihan photo-photo hotel dengan harga pas di kantong.
“Lha.. nggak dibayarin kantor mas?”
“Sttt…. jangan ribut, ini mah non-Budget”
“Ooh… xixixixi….”
Jadi petualanganpun harus di jalani, meskipun cukup pede karena dilihat dari photo-photo dan cek lokasi via gugelmep memang masih di sekitar area Kuta meskipun bukan di jalan utama…. nah lo.
***
Jam 23.58 wita, kaki menjejak di lantai hotel disambut senyuman satpam dan resepsionis. Alhamdulillah hotelnya lumayan, meskipun jauh dari area pantai (klo jalan kaki) tetapi lebih tenang karena tidak mudah tergoda oleh hiruk pikuk keramaian seperti di sekitar kuta-legian-dan sekitarnya.
Photo : Kamar di lt.3 / dokpri.
Dengan harga 350Ribuan/malam udah dapet kamar hotel yang cukup bersih dan tenang, Bed yang besar juga ada kursi luarnya di mini balkon….. tapi lorong menuju kamarnya agak sempit, jadi mirip masuk ke lorong kamar kost-kosan hehehehe….. atau mungkin lantai ini aja kali….. jadi gampang akses ke kamar.
Over all untuk ruangan dan kelengkapannya cukup baik dengan kamar mandi yang memadai.
Yang menarik adalah terdapat juga kolam renang di lantai dasar, cukup buat bermain-main dengan sang buah hati (klo ikut maksudnya)… yang memang sudah dari sonohnya anak kecil mah seneng main air. Karena sekarang sendirian, ya sudah… tidur aja segera.. eh mandi dulu deh, baru tidurrr…
Nama hotelnya adalah Ohana Hotel Kuta, liat di traveloka lebih megah dari kenyataannnya tapi ya memang iklan harus begitu… ditampilkan semenarik mungkin dengan sudut photo dan pencahayaan yang memberi hasil lebih wah… yaaa mirip kamera jahat yang bikin wajah bercorak menjadi lembut tanpa jejak… kenyataannya juga lumayan, dengan budget terbatas dapat hotel yang bisa memberikan kenyamanan, menghilangkan penat dan mengembalikan kesegaran untuk menyongsong kerjaan yang nggak kelar-kelar.
Masuk kamar, lalu mandi, sholat, nyalain tivi… dan tivi nonton diriku… alias dotonton tivi…. yaaa karena diriku yang langsung terlelap, ternyata jam dinding di kamar sudah menunjukan waktu yang melewati tengah malam.
Photo : Nikmati Kopi Hotel / dokpri.
Esok harinya turun ke lantai 1, Sarapan pagi lumayan variatif, tapi karena hanya buah potong yang boleh dimakan di pagi hari, maka potongan semangka dan melon menemani makan pagi kali ini, sambil memperhatikan anak kecil dan kakaknya yang bersiap bermain air di kolam renang (Kolam renangnya di tengah-tengah dan untuk akses ke ruang makan akan melewati pinggir kanan kiri kolam renang).
Tak lupa secangkir kopi hotel dinikmati sambil mereka-reka rencana dan mempersiapkan diri untuk bertugas hari ini, cemunguuutz…
Jebur….
“Brrrr dingiiiin!” Celoteh sang kakak, diikuti adiknya meloncat ke tengah kolam untuk bercengkerama dengan air kolam renang di pagi ceria. Mereka tertawa dan duniapun penuh dengan canda. Selamat menjalani hari di pulau bali. Wassalam(AKW).
JAKARTA, akwnulis.com. Sensasi mencoba sesuatu yang berbeda itu bisa diartikan mendapatkan pengalaman baru, karena sudut pandang suatu momen tergantung dari mana kita melihatnya. Meskipun mungkin sudah tahu tentang barang itu, tetapi dengan lokasi yang berbeda akan lain juga suasana yang didapatkannya atau sebuah rasa yang dihadirkan.
Itulah yang terjadi sore ini, memasuki basement Plaza Indonesia Jakarta, berkeliling mencari kedai kopi hingga akhirnya menjatuhkan pilihan pada sebuah restoran yang berornamen asia, yaitu restoran Namnam, sebuah restoran vietnam.
Photo : dilihat dari luar / dokpri.
Restoran ini berbasis di Singapura, dan membuka cabang di Jakarta dan Bali…. “Lha kok promosi?…”
“Yo wis, monggo gugling aja yang pengen tahu resto ini”
“Kenapa memilih tempat ini?”
Jawaban yang muncul sederhana, hanya ingin tahu dengan sajian kopi vietnam yang dibuat dengan metode vietnam drip.
“Halah kagak aneh itu mah, udah banyak yang pake”
Nah itulah pokok bahasan ini, merasakan sebuah sajian kopi dengan cara seduh yang sudah lumrah pake vietnam drip tapi tempatnya beda, sebuah tempat yang disetting suasana vietnam banget sehingga mungkin bisa menghasilkan rasa berbeda.
Photo : Kopi & salad / dokpri.
Sajian kopinya bernama CÀ PHê DEN ( Viet black coffee) dengan harga 35 ribu, bentuknya yaa…. sajian kopi dengan vietnam drip.
Rasa yang dihasilkan memiliki kecenderungan body strong atau bold dan tanpa acidity karena memang basisnya adalah kopi robusta. Tetapi tetap gula yang disajikan tidak akan disentuh, karena sudah istiqomah dengan Kotala, kopi tanpa gula.
Dilengkapi oleh sajian salad yang bernama GÓI BUÓI TOM THIT, berisi Pomelo salad, prawn, chicken, assorted crackers alias kurupuk udang…. ternyata miliki rasa nano-nano, rasa manis dari jeruk.bali yang segar bergabung segarnya udang dan sejumput daging ayam ditambah dengan olive oil dan cuka, hasilkan rasa rujak seafood yang agak asing di lidah…. segar meski agak membingungkan..
Tapi tenaaaang kawan…
Photo : Suasana Restoran Namnam / dokpri.
Masalah rasa jangan khawatir, reseptor otak menerima sinyal kesyukuran, menghasilkan warna rasa di dalam kepala dan mengkristal menjadi rasa segar diantara kepahit-asam-manisan yang merata.
Ditopang oleh suasana resto vietnam yang detail lengkap dengan lampion merahnya, maka sruputan kotala yang tersaji berhasil memberikan aneka makna. Menambah rasa syukur terhadap tambahan pengalaman yang begitu berharga. Sruputtt… nikmaat, Wassalam(AKW).
DAGO, akwnulis.com. Menjalani hari dengan sejumput keceriaan berbalut rasa syukur atas nikmat kehidupan menghasilan kedamaian dalam perjalanan dan tidak terengah dalam melangkah.
Begitulah sebuah realita dilakoni dengan sukacita, karena semua rencana hanya reka pikir manusia, padahal sebetulnya sudah ada blueprint-Nya yang tak bisa ditolak kecuali dengan khusuknya doa.
Dua paragraf yang coba ditulis dengan sepenuh hati dan segenap jari… eh dua jempol, khan ngetiknya di layar smartphone. Mengalirkan kata menjadi jahitan kalimat yang mungkin enak dibaca tapi tidak bisa dimakan…. nyam nyam.
Mulai nggak bener nulisnya nich… ayo minum kopi dulu….
Langsung terbangg…… cusssss…
Menuju Jl. Ir. H. Juanda Bandung atau lebih dikenal jalan dago, patokannya setelah Sekolah Darul Hikam trus ada kantor Bappeda Provinsi Jabar… masih naik terus ke atas.. sebelah kiri ada plang Sam’s Strawberry Corner. Masuk aja ke area tersebut, belok kiri, parkirannya lumayan cukup beberapa mobil.
Kopinya dimana?…. iya kalem,…. jadi klo bawa mobil or motor parkir dulu ya, soalnya ribet klo dibawa ke dalam
“Nggak percaya?…… Coba saja”
Masuk ke restorannya, terusin aja ke belakang, karena di area belakang lebih luas dan disanalah sang Koboy Tjipelah meracik kopinya.
***
Photo : Kang Saepul, Barista Kopi Koboy Tjipelah / dokpri.
Kopi yang disajikan oleh Kang Saeful Barista, adalah coffee Bellstone… keren khan?… padahal itu kopi batu lonceng dari pegunungan manglayang. Diracik dengan filter V60 dalam komposisi 1 : 12, temperatur air 92° celcius menghasilkan sajian kopi yang harum dengan acidity dan body medium, after tastenya ada sedikit rasa berry dan selarik rasa asin… “Rada aneh yeuh, jangan-jangan pake garam”….
Setelah dikonfirmasi dengan sang barista, memang katanya agak unik dengan kemunculan rasa asin ini, noted. Overall, rasanya nikmat dan bisa menambah kesegaran fikir dan ketajaman rasa dalam menjalani kenyataan dunia.
Penasaran dengan Tjipelah, itu ejaan lama, dibacanya ‘Cipelah‘… selain googling juga bertanya kembali pada sang barista dan ternyata itu adalah nama daerah penghasil di Bandung selatan tepatnya di daerah Rancabali…. oowh…. jadi penasaran dengan rasa kopi Tjipelahnya. Tapi supaya tidak terjadi tabrakan rasa, sekarang nikmati dulu Coffee bellstone-nya dulu….. srupuuut…. hmmm…. srupuuuut… nikmat…
Oh Iya, makasih Pak Boss DR atas traktirannya.
Tulisan selanjutnya tentang Nikmatnya Kopi Tjipelah, tunggu yach.
Kembali jemari eh kedua ibu jari menari diatas layar smartphone, menuliskan sejumlah kata yang selalu mengandung makna, sambil tak lupa menyukuri semua detik perjalanan hidup ini. Wassalam(AKW).
CIMAHI, akwnulis.com. Selamat jam seginih saudaraku pembaca blog ini, jangan merasa terganggu dengan kiriman link ini. Dijamin Ori tanpa Hoax… heuheuheu, dan sesuai tuntunan agama, maka ‘Iqra‘ atau bacalah…. Klo moo komen… itu lebih bagus, semoga nambah pahala.. Amiin.
Jangan terjebak dengan judul serta gambar dan langsung berpersepsi berbeda, maksud judul disinipun bukan mengkotak-kotakkan kopi menjadi milik ASN/PNS yang berseragam korpri di tanggal 17 setiap bulan ataupun tanggal lain yang menjadi hari besar nasional. Tapi momen kebetulan dikala memasuki sebuah cafe, berniat meng-kopay, ternyata banyak juga para pegawai berseragam korpri yang datang ke kafe ini karena baru saja bubar dari acara yang dihadiri Gubernur Jabar, Kang Emil.
Ceritanya….Gubernur Jabar dalam pengarahannya kepada pada Pejabat Eselon II dan III atau sekarang lebih panjang sebutannya yaitu Pejabat Jabatan Tinggi Pratama dan Pejabat Admintrator di lingkungan Pemprov Jabar menekankan bahwa :
Pertama, Jabatan itu sementara, jadi harus siap berpindah, bermutasi… eh bukan mutan ya.. tapi berpindah ke jabatan lain dengan berbagai instrumen penilaian yang ada… atau malah lepas jabatan karena sesuatu hal.
Kedua, Penilaian bagi ASN (aparatur sipil negara) ditentukan berdasarkan 3K, yaitu Kualifikasi, Kompetensi, dan Kinerja.
Ketiga, ASN yang diharapkan adalah memegang 3 hal penting yaitu Integritas, Melayani dengan hati dan Profesionalisme.
Photo : ASN lagi antri pesen kopi / dokpri.
Penekanan yang lebih penting adalah bagaimana seluruh ASN di Jawa barat bisa mengawal dan mewujudkan janji kampanye Gubernur-Wagub Jabar periode 2018-2023 dalam bentuk kegiatan kongkrit implementatif (…….tentu tetap harus berpegang pada regulasi)…. Jangan sampai.. awalnya desainnya kuda… eh di akhir jadi Kuya (kura-kura).. jauh bangeet khaan?..😜😜😜
Halah eung jadi serius beginih… tapi itulah beberapa penekanan dari pak bos, Kang Emil… yuk ah ngopay dulu .. srupuuuut… sruputtttt.. eh srupuuuttt… puttt.
“Kok tahu siih tentang arahan gubernur, nguping yach?”
Sebuah pertanyaan yang tidak usah dijawab ah, senyumin ajaaa….
Srupuuut…..
Sajian kopi arabica Gununghalu dengan manual brew v60 rasa lengkap after taste berry-nya… nikmat penuh sensasi, body mediumnya membuat familiar di lidah… nikmaat. Perbandingan 1:15 dan panas 90° celcius (kata sang barista), cukup berhasil mengekstraksi bean gununghalu ini sehingga tersaji rasa khas kopi arabica java preanger…. yummy.
Gitu ceritanya kopi korpri hari ini, oh iya lokasi ngopaynya di dekat tempat acara yaitu di Kabuci 372 Coffee, Jl. Kolonel Masturi, Cimahi Utara Kota Cimahi. Wassalam(AKW).
Bersua dengan kopi Lungo di Purwakerto… eh purwakarta Jawa barat.. srupuut.
Photo : Lungo Coffee Cangkir pink & pelayan yang tiba2 lewat / dokpri.
PURWAKARTA, akwnulis.com. Bergerak pergi membawa raga, menyusuri jalinan kisah yang selalu bersekutu dengan waktu yang tak pernah menoleh sedetikpun terhadap apa yang sudah dilalui… dan jangan lupa jikalau waktu, kesempatan dan dompet bisa kompromi, maka mampirlah di kedai kopi atau cafe kopi.
“Trus ngapain?”
“Ya pesen aja kopi dan makanan, trus nikmati”
“Aku mah nggak suka kopi!!!”
Ah aku terdiam sesaat lalu tersenyum dan lebih bersyukur, karena bisa menikmati seduhan kopi tanpa gula adalah salah satu karunia kenikmatan dari Allah Swt, apalagi tidak semua orang bisa menikmatinya.
“Ya sudah jangan dipaksain brow, ini khan cuman saran”
“Okey”
***
Photo : Cafe Kakota Purwakarta / dokpri.
Perjalanan menapaki hari memberi sempat munculkan harap. Seolah menjadi sebuah doa yang bersambut, maka kedai kopi atau cafe kopi bisa ditemukan tanpa perlu bersusah payah bertanya ke sana kemari.
Kebetulan sekarang kedai kopi sudah ramai bertebaran di seantero kota, jadi mudah mencarinya.
Hari inipun dikala beredar di Kota Purwakarta, maka tuntaskan dulu segala asa, selesaikan tugas yang diemban tanpa tersisa, baru sebelum pulang mampirlah di sebuah cafe yang menyajikan menu kotala, kopi tanpa gula.
Photo : Kopi Lungo gelas ke-2 / dokpri.
Memang bukan kopi saring manual brew, tapi tak apa, sambil membuka laptop menyelesaikan laporan tugas hingga tuntas.
Duduk manis di kursi yang nyaman, dilayani neneng cantik ramah, buka menu dan dicari halaman kopi….. eh ada Kopi Lungo…
Jikalau artinya berdasarkan bahasa jawa maka artinya adalah ‘pergi‘ atau bepergian, bertualang.. travelling kali yach?, berarti cocok pisan untuk dinikmati bagi penikmat kopi yang senang pergi-pergi eh bepergian kesanah kemarih… meskipun masih kota-kota lokalan dan regional saja plus sesekali lintas pulau.
Back to Lungo Coffee…. pertanyaan tentang arti lungo tidak dijawab tuntas oleh sang pelayan, bingung juga kali dapet pertanyaan yang aneh. Tapi kelihatan langsung diskusi dengan manajernya dan… terlihat mengernyitkan dahi… 😜😜… ya sudahlah.
Di daftar menu, kopi lungo itu penamaan untuk double espresso + ekstraksi espresso…. ya anggap saja kepahitgetirannya 2,5X espressso…. “Kebayang khan pahit nikmatnya?”
Yang pasti sajiannya memuaskan lidah dari sisi body kopi yang very strong dan tebal, serta jelas ninggal di bawah lidah tetapi less acidity apalagi taste-berry.. itu tidak ada sama sekali… yang pasti ini sajian kopi pahit sepahit-pahitnya…
“Nikmat kah?”…
Tentu tetap nikmat dan penuh berkah, mencerahkan fikir menenangkan otak yang seharian berkutat dengan probabilitas angka dimana menjadi target di akhir desember nanti.
Aww…..
Sruputt…. ngetiiik… tik tuk tik tuk.. mikir… ngetik lagi… srupuut… gitu aja bolak balik sambil sesekali melihat suasana cafe Kakota yang di datangi tamu yang berganti-ganti.
Lanjuut….
Itulah sekelumit kepahitan nikmat alias kenikmatan pahit di salah satu cafe di kota Purwakarta Jawa Barat, dengan harga sajian 18 ribu per cangkir, maka pesan 2xpun masih cukup di dompet plus bisa traktir beberapa kawan, diawali oleh cangkir pink dan kedua bercangkir hitam, isinya tetap… secangkir kopi pahit nan nikmattt. Selamat menjalani hidup, kawan. Wassalam(AKW).
***
Lokasi : Cafe Kakota, Jl. Jenderal Sudirman, Pasar Jumat, Nagri Tengah, Purwakarta, Purwakarta Regency, West Java 41114
CIMAHI, akwnulis.com. Tiba-tiba sebuah photo hadir di layar smartphone, sebuah keindahan yang diwakili pohon bunga kertas ungu diatas pot yang seolah biasa saja.
Tapi tidak, hadirnya sebuah photo ini langsung memicu reaksi berantai dalam otak dan perasaan. Megghadirkan gambaran jelas masa lalu seolah peristiwa itu baru beberapa saat terjadi, padahal setahun sudah momen ini berlalu.
Sebuah kebersamaan yang penuh makna, hubungan persaudaraan dan perkawanan yang terbentuk sempurna, lintas pulau, agama, bahasa dan juga kebiasaan yang berbeda.
“Tahu nggak yang menyatukannya apa?”
……..
Tugas bersama?… iyaa
Presentasi di KSP?.. ya deh Jalan2 ke LN?… Iya
Aerobic?… eum nggak terlalu Ceu Een?…. Iyaaaa itu dia
…….
Ada satu lagi yang mungkin menjadi pelengkap, tapi akhirnya menjadi semakin erat… hingga saat ini…
Persaudaraan kopi… Kotala*)
“Maksudnya?”
Diawali dari tatapan aneh bin cuek karena melihat diriku repot bawa peralatan manual brew demi secangkir kopi yang ternyata rasanya pahit.
Bingung lihat kertas filter dan corong V60 serta cerewet manasin lagi air dispenser demi dapatkan suhu yang sempurna, apalagi lihat berbagai stok kopi yang dibawa dan disimpan di meja terbuka dari mulai arabica puntang, kiwari, gayo hingga merk kopi singa, tak lupa toraja dan robusta garut sukapura.
Photo : Capture channel youtube-ku / dokpri.
Prosesi manual brew V60 tidak hanya di Kiarapayung saja, tapi juga hingga ke kamar hotel di Jakarta, Yogya, Bali dan Singapura… pokoke always ngopay everywhere..
Ini link nya klo moo nonton… Manual brew singapura.… jangan lupa subscribe dan klik tanda alarm ya guys….
Proses berjalan… tak terasa 5 bulan kebersamaan mengkristalkan persabatan menjadi persaudaraan lintas pulau dan menghasilkan barista baru di Bogor, jogja dan purwakarta serta para penikmat Kotala.
Iya setahun lalu, yuk ah… Iuran… eh ngopay. Wassalam(AKW).
JAKARTA, akwnulis.com. Pagi buta mengejar jadwal kereta, dan tiba di Jakarta berjibaku dengan macetnya ibukota,… dengan segala daya upaya hingga akhirnya bisa hadir di tempat meeting meskipun terlambat beberapa menit berharga, tapi apa mau dikata itulah kondisi nyata, yang penting semua berlalu melalui nilai usaha dan pengorbanan bangun dini hari demi sebuah jadwal kereta…. eh macetnya dari gambir ke tempat acara.
Siang menyore diskusi menjadi begitu berisi, confident dan seru mewarnai perdebatan yang akhirnya saling melengkapi… meskipun tentu masih ada aneka gagasan yang belum tereksplorasi.
Lantai 9 gedung BEI menjadi tempat beradu argumentasi, antara kami dan pihak IFC – World bank, tentang sebuah harapan besar yang harus disingkronkan demi wujudkan BUMD juara.
Tahapan dan penentuan tanggal adalah sebuah keniscayaan, karena sebuah cita hanya akan tertahan di batas angan jika tidak di bumikan, maka suatu keharusan di breakdown menjadi kegiatan konkrit, dimana siapa berbuat apa bagaimana…
…..bener khan?
Benerr….
Photo : Belajar terbang di area SCBD / Pic by Hanif.
Tapi tetap, kopi hitam tanpa gula ternyata hadir dalam keseruan ini. Meskipun ini bukan kopi manual brew V60 tetapi dengan peralatan mesin kopi tersajilah espresso americano yang harum dan menenangkan hati. Didukung perhatian tuan rumahlah yang menjadikan kopi ini menjadi semakin penuh makna, apalagi boleh refill…. ahay…. nikmatnyaa.
Srupuuuut… Kopi IFC dinikmati sambil berdiskusi tentang blueprint BUMD Jabar, berbasis prioritas dalam RPJMD 2018-2023 maka mengerucutlah shortlist yang harus segera ditindaklanjuti.
Cemunguut… Cerupuut.. nikmaat.
Selamat menjalani hari yang cerah kawan, Wassalam(AKW).
***
Kantor IFC :
Indonesia Stock Exchange Building Tower 2, 9th Floor, Jalan Jendral Sudirman No.Kav 52-53, RT.5/RW.3, Senayan, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12190