PROSESI BERBAGI

Sebuah momen yang tak boleh dilewatkan.

Sebuah Prosesi
Untuk Berbagi
Tetap Berseri.

BANDUNG, akwnulis.com. Arachis pintoi menutupi hamparan bumi dengan kombinasi daun menghijau dan bunga kuning menggemaskan. Apalagi dengan bentuk bunga kuning kacang-kacangan begitu menarik perhatian. Tidak hanya sepasang mata tetapi segerombolan lebahlah yang akan benar – benar menikmatinya.

Hanya hitungan detik, maka hadirlah perwakilan lebah yang agresif mendekati, menempel dan menghisap nektar dengan caranya yang ternyata begitu indah untuk diabadikan.

Terlihat goyanganmu sang arachis pintoi berusaha menghindari agresifitas, tetapi apa daya dengan segala keterbatasan akhirnya harus berdamai dengan kenyataan dan mencoba menikmati prosesi alami yang menjadi takdir diri.

Itulah drama kecil kehidupan yang jika dimaknai memberi sebuah nilai tiada hingga. Hadir keindahan dari aneka warna tanaman dan salur salur hitam tubuh lebah, dilengkapi dengan tema kepasrahan dalam mengimbangi agresifitas kehidupan. Dimana pada akhirnya terjadi keberlanjutan kehidupan melalui prosesi penyerbukan. Sebuah skenario Illahi yang harus ditafakuri.

Sang lebah segera pergi setelah puas menyecap sari kehidupan, beranjak ke bunga selanjutnya yang ternyata pasrah meskipun bukan berarti menyerah. Wassalam (AKW).

KOPI TUGU JOGJA

Antara sruput & kenangan.

JOGJA, akwnulis.com. Gemericik air hujan perlahan tapi pasti bertambah lebat, mengiringi malam yang penuh kedamaian. Angin memberikan kesempatan sang butiran hujan menyapa raga karena posisi meja outdoor, tetapi tidak mengapa karena sebuah keyakinan terpatri jikalau hujan terjadi adalah salah satu berkah Illahi Robbi.

Kenapa nggak milih meja di dalam mas?”

Hanya senyuman yang hadir menjawab sementara pikiran tersenyum simpul, “Justru ini meja terbaik yang bisa langsung menghadap tugu jogja dan menyerap asa dalam suasana sekitarnya” meskipun memang butuh pengorbanan, ya itu tadi tersapu dan tersapa tetesan air hujan yang terbang dibawa oleh nakalnya angin malam.

Tapi hujan tak selamanya lebat, ada saatnya berhenti dan hanya berniat menyirami bumi serta memberi ketenangan hati. Apalagi sajian kopi yang sedari tadi pagi sudah ada di pelupuk mata akhirnya bisa nyata, kopi manual brew V60 tanpa gula dan tanpa teman – teman lainnya seperti syrup, ice cream, creamer, bubuk coklat dan susu. Inilah kohitala, kopi hitam tanpa gula yang digiling mendadak dari beannya lalu diseduh secara manual menggunakan corong V60.

Meskipun lupa menanyakan beannya apa, tapi suasananya dapet banget guys.. antara sajian kopi dan lokasi. Sebuah lokasi ikonik di kota jogja, lha selain jalan malioboro maka tugu jogja juga menjadi derajat penentu keberedaran di kota penuh kenangan ini.

Tak terasa hujanpun berhenti dan memberikan pemandangan ciamik yang harus disyukuri serta ditafakuri. Semuanya adalah atas ijin dan kehendak Illahi, bagi mahluk hanyanya berusaha dan berikhitiar serta dokumentasikan dan akhirnya ‘dipamerkan’ di medsos sendiri demi memunguti jempol jempol virtual dan komentar yang hadir di laman dunia maya.

Padahal yang terpenting adalah mensyukurinya dan tak lupa memohon ampun kepada Tuhan atas dosa dan kekhilafan. Tentunya menyeruputnya wajib banget, jangan lupa baca Basmallah (bagi umat muslim).

Sruputt….. Nikmaaat…. segarnya sajian kopi hitam tanpa gula yang diseduh manual memberikan sensasi berbeda yang penuh kedamaian. Dilengkapi dengan pemandangan malam di tempat yang penuh kenangan… sungguh kombinasi yang tak terlupakan.

Selamat bermalam minggu kawan. Jangan lupa ngopi dan mensyukuri hari. Wassalam (AKW).

Kopi Klotok Jogja

Menikmati Kopi Klotok di tempatnya.

SLEMAN, akwnulis.com. Mentari masih bersembunyi dibalik semburat janji, tetapi cahaya terangnya sudah mulai merata di seantero kota yang selalu ngangenin untuk dijambangi.

Maka meskipun lelah masih sedikit tersisa setelah menjalani 6,5 jam duduk di gerbong 11D KA Mutiara Selatan tetapi semangat menikmati kenangan di kota gudeg adalah kewajiban heuheuheu sebelum jam 10 pagi harus bergabung pada sebuah meeting resmi yang tentu penuh seremoni.

Maka bermodalkan cerita testimoni dan ulasan yang bertebaran di laman google dan medsos maka diputuskan untuk sarapan di tempat yang sudah buka tentunya dan berlabel ‘kopi’.

Sungguh bersyukur setelah 2 tahun terdiam dan terkungkung keterbatasan karena PPKM dan berbagai istilah lainnya. Kali ini pecah telor dan bisa piknik lagi luar kota…. eh kerja lagi luar kota.

Setelah survey super singkat dilengkapi dengan perenungan (karena masih ngantuk maksudnya 🙂 )… maka dipilih Warung Kopi klothok yang lokasinya menuju utara kota yogya dan cukup jauh, memakan waktu perjalanan 35 menit.. lumayan juga. Tapi keburu ah, lagian di google disebutkan jam 07.00 wib udah buka kok, trus yang lebih penting adalah memiliki tempat makan dengan alam terbuka. Ini menjadi prasyarat pribadi karena masih khawatir atau waspada dengan kerumunan. Apalagi makan minum, dipastikan semua buka masker… ya khan?

***

Dibenak ini yang terbayang awalnya adalah sajian kopi asli yang bernilai tradisional dengan metode manual brew model kopi tubruk dan menghasilkan rasa yang bisa terbagi dari sisi body, acidity dan after taste.

Semangaat, berangkaaat… Bismillah.

Sambil raga bergerak menuju titik tujuan, iseng lagi buka google, ternyata banyak yang namanya kopi klothok hanya saja yang sudah buka sejak pagi adalah warung kopi klothok yang sedang dituju ini yaitu yang terletak di Jalan Kaliurang KM16 Pakem Binangun – Sleman.

Setelah 37 menit perjalanan, maka tibalah di sebuah tempat yang disebut Warung Kopi Klothok jogja ini… walah sudah penuh parkiran.. berarti banyak yang datang nich.

Cusss… ah.

Oh iya untuk cerita tentang makanannya nanti di tulisan selanjutnya. Sekarang mah urusan kopi dulu… kopi klothok.. eh kopi klotok… kelebihan huruf H… tapi ada juga yang nulis pake h.. ya sudahlah terserah.

Ternyata kawan, setelah interogasi halus dan penuh kelembutan maka didapat sebuah kesimpulan bahwa kopi klotok ini adalah lebih kepada merk bukan sajian kopi manual brew yang terbayang tadi di kepala.

Tapi tidak mengapa karena tergantikan oleh vibes yang mendamaikan suasan hati dan sajian kuliner yang memiliki nilai tersendiri (ntar ulasannya ya).

Kopi klotok ini adalah sebuah sajian kopi biasa yang dimasak dengan air panas dan gula dengan bahan dasar bubuk kopi. Nah pada saat dipanaskan airnya dan mendidik maka terdengar suara klotok klotok yang khas dan itulah yang menjadikan nama kopi klotok.

Bicara rasa tentu adalah kopi gula panas biasa, tidak bisa menilai tentang bodi – acidity – dan after tastenya. Tetapi yang menarik adalah suasana alami dengan meja kursi kayu masa lalu ataupun mau lesehan bertikar di halaman bersama keluarga sambil menikmati pemadangan gunung merapi.

Sebagai teman nyruput kopi maka dipesan juga sepiring goreng pisang dan ketan goreng agar melengkapi sarapan pagi ini.

Sruputtt…. hmmm nikmaat.

Selamat pagi, salam dari Jogja. Wassalam (AKW).

LULUS – fbs

Tulisan singkat fiksi sunda kekinian…

BANDUNG, akwnulis.com. Kali ini kembali menghadirkan tulisan fiksi berbahasa sunda dengan jumlah kata dibawah 150 kata. Klo nggak percaya silahkan saja hitung sendiri. Jikalau lebih, ambil aja kelebihannya hehehehe.

Ide sederhana hadir dari sebuah pengalaman bahwa adaptasi kebiasaan bau eh baru ini memang harus kita hadapi dan jalani.

Termasuk untuk memasuki suatu ruang pertemuan, diperlukan berbagai syarat dan aturan serta pemeriksaan berantai. Tentu itu semua adalah ihtiar memerangi dan meredam penyebaran virus covid19 yang melanda dunia.

Sehingga kita terkadang terlalu fokus dengan syarat masuk dan pemeriksaan tapi lupa lihat tanggalnya kapan. Itulah sekelumit cerita sunda kali ini, silahkan….

***

FIKMIN # LULUS #

Ti mimiti panto gerbang hareup geus karasa pangbagèa meuni loba. Nu geulis imut baru naroskeun aplikasi, jajaka mencrong bisi muka hapèna akon-akon.

Kudu muka kamèra hapè, tuluy moto kotak hideung garis – garis nu disebut barkod. Tah mun lulus, langsung tarang ditodong pèstol bodas keur mastikeun panasna awak urang. Teu hilap nu geulis nyorongkeun hèn-sanitaiser. Asa riweuh tapi nyata.

Asup ka jero, geuning leuwih canggih dipariksana. Rada gancang da ukur mencrong kana kamèra. Tring!, tuluy aya sora, “beungeut gorèng” bari ditambahan dina layar ngajeblag beungeut jeung angka 35,6° celcius.

Mangga Aa, teras kalebet”

Reugreug ayeuna mah tos tiasa lulus tina pamariosan nu lapis lapis, ceunah ieu alpukah pikeun ngalawan si kovid tèa.

Anjog ka acara, naha geuning kosong molongpong.  Lumpat balik deui nepungan neng geulis nu mariksa pamungkas.

Nèng dupi uleman ieu di palih mana?” Bari ngasongkeun seratna.

Leres tempatna di dieu Aa, mung ieu mah enjing kaping 30 Oktober” Curuk bentik nojo kaping.

***

Itulah tulisan singkat sore ini. Selamat Malam, Have a nice weekend. Wassalam (AKW).

#Salamsehat
#Salamtangguh

AURORA & MINTY ZSTY

Bukan cerita ngopay dulu….

Bandung B, akwnulis.com. Terkadang berusaha memposisikan diri sebagai orang lain yang rutin menerima broadcast tentang tulisan – tulisan di blogku http://www.akwnulis.com yang isinya nggak jelas dan nggak penting.

Trus dibombardir dengan tulisan tentang kopi lagi kopi lagi kopi lagi, padahal belum tentu sang penerima broadcast whatsapps tersebut berkenan dengan tulisan tentang kopi. Apalagi kopinya tanpa gula, jelas akan hadir getir dan kepahitan rasa yang mungkin tidak suka.

Jadi sebuah permohonan maaf secara tulus dari lubuk hati yang paling dasar kepada bapak ibu teman teman dan saudaraku se-broadcast WA link blogku, bukan niatan mengganggu dengan kiriman WAnya tetapi sebagai sarana silaturahmi dan sekaligus pengecekan, apakah nomor whatsapp tersebut masih dimiliki dan dikuasai atau sudah berpindah tangan dan malah telah musnah ditelan eh hangus karena nggak pernah di isi pulsanya. Halah kok malah ngurusin pulsa orang, sekali lagi maafkan.

Untuk mengurangi kebosanan tentang tulisan kopi dan kopay, maka kali ini berhenti dulu menulia kopi tapi mencoba menjajal minuman yang nampak indah dan menyegarkan. Mari berkenalan dengan AURORA dan MINTY ZSTY.

AURORA adalah nama sebuah sajian minuman segar yang menampilkan keindahan. Warna ungunya menarik perhatian ditaburi daun ungu yang disebut butterfly pea dilengkapi daun mint dan segelas kecil peresan lime plus triple sec… ini soda ternyata. Semoga nggak kenapa-kenapa nich perut, soalnya udah lama pamit dengan minuman bersoda. Ih tapi lucu… srupuuut ah.

Yang kedua adalah MINTY ZSTY, sajian minuman menyegarkan yang juga warna warni milik pelangi. Tapi lupa nanya bahan -bahannya apa saja. Udah sruput aja, menyegarkan dan manieez…. aduh jadi tabrakan rasa di mulut nich. Antara minuman bergula dan diri yang sudah manies dari sonohnyah…. awww.

Minuman kedua juga ada daun mint alias daun keresmen kata urang saguling mah juga irisan jeruk yang menjanjikan rasa segar asam.

Over all keduanya menyegarkan, dan harganyapun menyegarkan mata serta sedikit mengurangi dahaga. Untuk yang penasaran dimana tempatnya japri aja ya, siapa tahu mau ngajak hehehehe… tinggak sesuaikan jadwalnya.

Selamat menikmati ceritaku yang bukan cerita kopi, sruput segerr. Wassalam (AKW).

Panna cotta.

Lembut tapi sayang..

BANDUNG B, akwnulis.com. Sebuah sajian makanan penutup yang hadir dengan sebuah keindahan. Namanya panna cotta, sebuah pudding asal italia yang bertekstur lembut dan lumer di mulut.

Hanya saja, dengan segala kelembutannya menghadirkan rasa enggan untuk menyantapnya. Sayang sekali jika keindahannya terlukai oleh nafsu ingin menikmati.

Lalu dengan ukuran mungil ini bisa menimbulkan ganggarateun alias nanggung. Kenyang enggak, lapar iya. Harap maklum kana perutnya tipe buldoser, jadi pudding italia ini akan cepat menghilang di mulut yang kelaparan.

Tapi tentu dengan keindahannya bisa menjadi media rayuan maut yang dapat melumerkan hati pasangan karena tekstur, keindahan sekaligus harga hehehehehe…. klo nggak kenyang, tinggal geser ke warung padang sebelah atau bakso pinggir jalan.

Dilema hadir menyapa, tetapi keputusan harus tertata. Malah hanya 2 kali menyendok maka habislah puding lembut putih bersih bertoping strawberry syrup dan ditemani setangkai daun mint. Nyam nyam, yuk ah. Wassalam (AKW)

Love & latte

Sejumput cinta tanpa raga.

BANDUNG, akwnulis.com. Kehadiran diri untuk menikmati secangkir kopi di pagi hari tak tertahan lagi. Maka segera bergegas memandang kanan kiri mencari kedai kopi yang mungkin sudah pantas untuk dijambangi.

Ternyata gayung bersambut dengan beberapa pilihan kedai dan cafe. Asyiik.

Order V60 ya”

Maaf kakak, V60nya belum ready”

Ugh.. sebuah pukulan tanpa raga terasa menyentuh dada. Menyelinap sedikit kecewa.

Ini beannya dan corong V60 ada mas?” Sebuah tanya memberondong sang pelayan yang memandang iba.

Beannya ada, cuma kertas filternya habis kak, maaf ya”

Oalaah ternyata selembar kertas yang menjadi masalahnya. Tetapi kalau dipaksa dengan kertas koran mungkin bisa jadi sajian kohitala, tetapi akan tercampur dengan lunturan berita yang sudah kehilangan makna.

Demi sebuah perjuangan rasa, akhirnya berdamai dengan menu yang ada dan menjatuhkan pilihan pada cafelatte no sugar.

***

Tak lama kemudian, datanglah segelas latte dengan siluet hati di permukaannya. Seolah memberi kejutan bahwa ada ungkapan cinta disana. Padahal memang tarikan yang paling mudah dalam penuangan latte ke gelas adalah menghasilkan siluet gambar heart perlambang cinta.

Jikalau tidak percaya, request aja ke baristanya bahwa pesan latte dengan siluet gambar permukaannya kelenci… eh kelinci (rabbit) maksudnya… dijamin sang barista ampun-ampunan.

Sudahlah nggak usah kecewa dengan ketidakhadiran kohitala V60, mari seruput sajian ini, segelas latte dengan permukaan siluet cinta. Selamat pagiii… Wassalam (AKW).

Kemalasanmu begitu menggemaskan.

Tapi sangat sukaaaa….

CIKUTRA, akwnulis.com. Pagi masih sendu dikala bersua dengan kemalasanmu. Tetapi sentuhan kelembutan akhirnya meluluhkan sebuah niat untuk menjauh, malah kembali dekat dan penasaran dengan segala tindak.

Kerlip mata sayumu menyiratkan kemalasan, tetapi itulah daya tarikmu. Disaat kedua mata tertutup dan dagu menempel beralaskan kedua tangan, terlihat betapa nikmatnya menjalani kehidupan.

Saat sebuah tanya meluncur, “Apa kabar kawan?”

Baik Kaka”

Nikmat sekali dikau merem melek di pagi hari”

Dikau menjawab sambil tersenyum membuas, “Ini hiburan termurah dan termudahku kawan, ngantuk ya tinggal bobo, setujukan?”

Sebuah anggukan dan sedikit senyum kepasrahan harus ditampilkan, demi menjaga mood di pagi sendu ini kawan.

Trus selain bobo, apa lagi hiburan mu?” Rangkaian kata muncul karena penasaran.

Ini hiburan selanjutnya” gitu jawabannya sambil memperlihatkan keller kaca berisi bean arabica gayo fullwash yang tinggal sepertiga.

Buset, ternyata penyuka kopi juga. Cocok dong. Akhirnya sambil merem melek tetap berbincang dan dikenalkan sama Kak Firda, Barista Kopi Kitaku.

Munculllah urusan teknis manual brew, diawali dengan panas air seduhan 92° celcius, 15 gram beannya hingga komposisi dan posisi badan pas nyeduh bean agar berekstraksi sempurna…. Yummy… ternyata menikmati proses juga menyenangkan kawan.

Akhirnya sebuah sajian manual brew V60 hadir memenuhi ruang dahaga pagi ini. Disruput perlahan sambil tetap memantau sesosok mahluk malas yang sangat menggemaskan.

Selamat minum kawan.

Selamat menikmati hiburan paling sederhanamu sekaligus bagaimana menikmati sebuah proses yang berujung kenikmatana juga. Alhamdulillah… srupuut. Wassalam (AKW).

HUTANG – fbs

Tina hutang jadi nyata.

(Sebuah tulisan singkat berbahasa sunda dalam format fiksimini bahasa sunda -fbs- yang menggunakan batasan 150 kata sudah merupakan satu cerita. Ide awal dari cerita bosque bapak DT dan di ramu dengan frame cerita atau sudut pandang berbeda)

# HUTANG #

Nu nagih hutang murudul ti subuh kènèh, nanyakeun kapastian mayar henteuna.  Sirah jangar, jajantung ratug.

Lain teu hayang mayar, tapi da geus teu boga nanaon. Dilenyepan tèh geus aya sataun jadi wiraswasta. Mimitina ngajualan emas, tuluy tanah warisan, panungtung minggu kamari parabot diimah gè di lègo da diudag-udag waè.

Ayeuna peuting katujuh can bisa sarè, mikiran nasib meuni kieu – kieu teuing. Ngajaran ngabaheum ubar sarè, lima siki.

Èta ngimpi leuwih ti misti, nikmat pisan. Loba duit lubak libuk, ngaleuya di tengah imah jeung minuhan pangkèng ku duit saratus rèbuan. Bakal sèsa sanajan dipakè mayar sakabèh hutang.

Pas beunta, rumpu rampa gigireun, duit tèh euweuh. Keuheul nataku, kudu sarè deui.

Kabeneran aya kènèh ubar keur sarè, diinum deui. Teu lila reup. Ngimpi.

Ngimpina tèh keur ngitung duit gepokan, tapi bari mèncrèt jeung busiat. Bulak balik kajamban.
Teu lila beunta, reuwas kacida. Gigireun jeung handapeun baseuh, bau cubluk. Ngimpi jadi nyata. (AKW).

Kopi Jagapati vs Bubur Mang Oyo.

Nikmati kopi sambil sarapan pagi.. Yummy.

BANDUNG, akwnulis.com. Menikmati secangkir kopi bisa hadirkan inspirasi, termasuk membantu hati menjaga mood dalam menjalani hari ke hari. Maka ekplorasi tempat – tempat yang menyajikan kopi adalah sebuah haraoan tersendiri. Apalagi aturan sudah dibolehkan meskipun tetap dengan prokes yang ketat.

Tapi, untuk penyajian kopi dengan manual brew V60 musti dikeceng dulu. Karena mayoritas cafe kopi itu yang laku adalah minuman less coffee full sugar and milk… jadi keceng dulu.

Kedua, dilihat kondisi kerumunan. Jika banyak orang dan tentu mayoritas nggak kenal. Agak parno juga karena aku teh yakin si covid19 masih gentayangan dan sukaaa banget berada di kerumunan… kumaha atuh?

Ya demi keamanan diri, carilah tempat warung atau cafe outdoor yang nggak bejubel orang… malah klo moo sepi banget mah datangnya shubuh.. dijamin kosong tuh tempat.. hanya saja masih di gembok da belum buka hehehehe.

Nah, sekarang pas lewat dari belokan jalan trunojoyo ke kiri… klo nggak salah jalan Sultan Ageng Tirtayasa deh. Judulnya kebetulan tapi sambil dilihat-lihat juga…. adaaa… nama cafenya sih Bubur Mang Oyo tapi ada juga sajian kopi.

Lha nggak puguh ini teh, nyari kopi atau mau sarapan sih?”

Aduh ampyun protes mulu, ikutin aja dulu cerita.. sabaar gitu lho.

Tempatnya enak bisa sambil berjemur di pagi hari dan menikmati sarapan bubur ayam. Tapi khan aku mah cari kopi, maka yang dipesan adalah kopi hitam tanpa gula.

Sambil pesen kopi, iseng nanya sang pelayan, “Kopinya kopi apa kang?”

Kopinya kopi Jagapati Gan”

Weits, eta namanya kereen… jadi penasaran dengan rasanya.

***

Hadirlah sebejana kopi hitam tanpa gula ditemani gelas sloki bening, memberi harapan kedamaian dan tentunya mewujudkan kenikmatan.

Sebelum dinikmati, tentu di dokumentasikan dulu.

Nah dokumentasi pertama di area dalam dengan latar belakang buku-buku perpustakaan, sehingga minum kopi disini bisa nambah wawasan… kalau yang mau baca buku-bukunya. Klo yang cuman bengong doang sih… yaa tetep aja before after nggak nambah pinter.

Dokumentasi kedua di lokasi outdoornya dimana cirinya adalah mejanya dari besi dan bolong-bolong. Jadi bagi yang pobhia sesuatu bolong-bolong atau ruang berongga atau lubang yang dikenal dengan istilah Tryphopobhia, jangan maksain kesinih.

Tapi ketang tergantung, klo suasana asik – asik aja mah, seneng atuh kongkow disini. Oh iya menu utama sarapannya udah pasti bubur ayam Mang Oyo tea.

Jadi dokumentasi photo bubur ayam lengkappun harus hadir agar tidak penasaran, masa nggak ada photo buburnya… monggo dipasang di akhir tulisan ini yaa… cekidot.

Bicara rasa kopi jagapati ini relatif standar dan kohitala manual brew V60nya biasa aja. Sebagai pelengkap setelah selesai makan bubur pas juga hehehe… yang pasti vibesnya oke. Bisa sarapan, bisa kongkow dan sedikit berdamai dengan kenyataan. Selamat weekend kawan, Wassalam. (AKW).