PARASÈA

Geuning kitu.. Èong

LIANG MÈONG, akwnulis.com.Méooooong… ngéooooong, méééééong.. whaaaaong” sora ucing paséa patémbalan, rungseb kana ceuli, ngagéréan teu katahan.  Méré lolongkrang kana jajantung sina ratug, neken angen dongkap amarah. Rék peureum pasosoré balik capé digawé, diganggu ku ucing gétréng nu parebut pamor dina suhunan bari disada teu eureun-eureun.

Mééééooong, grrrrmmm…. méooong” Ucing bikang beuki séah, masang kuda-kuda. Bulu narangtung ceulina rancung, panon melong bangun nu ngitung. Ucing jalu nu bulu hiris mah uang éong bari nyérépét muru ka bikang, ari nu hideung meles mah camperego, panon gular giler.

Amarah geus ngabudah, raga teu tahan, jiwa baruntak. Ucup ngajleng tina dipan, najong panto hareup, langsung luncat kana suhunan. Taki-taki bari nyanggéréng, huntu ranggéténg sihung ngajentul, langsung babaung.

Auuuuuuuuuuu….”

Ucing nu keur paséa jep jempling, papelong-pelong, tuluy narangtung maké dua suku.  Pacantél, tuluy indit lalaunan ninggalkeun uing bari pakaléng-kaléng. Kadéngé samar-samar nu bikang disada, “Hayu urang ngalih amengna akang-akang, di dieu mah paur, aya anjing ageung.” Cag. (AKW).

PANDA LATTE

Menikmati panda diatas kopi…

KBB, akwnulis.com. Menyempatkan diri untuk sekedar mampir dan memilih menu di kedai kopi atau restoran yang ready menu kopi adalah hiburan diri yang hakiki. Apalagi jikalau waktunya tepat, bisa janji ketemuan sama istri tercinta yang sibuk bekerja, itu luar biasa.

Waktu yang terbatas menjadi berkualitas, karena suasana berbeda jikalau dibandingkan bersua di rumah dikala badan dan pikiran sudah terforsir untuk bekerja yang tiada habisnya, maka diskusi pillow talk juga akhirnya ditutup dengan ketiduran salah satunya, eh penulis yang suka ketiduran duluan.

Maka nongki berdua ini menjadi momen berharga, sambil tentunya memilih menu kopi apa yang bisa menemani dan memberikan nilai rasa berbeda.

Tak berapa lama pelayan mendatangi dengan wajah sumringah sambil menyerahkan buku menunya. Dibuka-buka sebentar, ternyata pilihan manual brewnya nggak ada. Maka pilihannya pada kopi mesin, eh maksudnya biji kopi yang diproses dengan mesin kopi. Pilihannya ya espresso, latte, americano, dopio, picollo cappucino deh….

Kang, pesen latte aja tapi yang gambarnya lucu”
Pelayan tersenyum penuh arti dan ngangguk-ngangguk.

Istriku tertawa karena mungkin aneh, pesen kopi bukan karena jenis dan rasa, tapi malah urusan gambar di permukaan kopinya.

Tapi nggak salah khan?, ya suka-suka yang pesen aja” jawabanku yang membuat siang itu menjadi ceria.

Sebenernya sederhana guys, karena makna menikmati sajian kopi itu sangat luas. Umumnya adalah rasa, lalu rasa dan rasa hehehehe… padahal sajian kopi itu seni, tidak hanya rasa, tapi keberanian menampilkannya, kemampuan membuat gambar di foamnya, cara penyeduhannya yang banyak aturan kalau manual brew, keberanian menggabungkan dengan bahan lain tetapi citarasa kopinya tetap terjaga, juga mesin kopinya seperti apa, beannya apa dan dari mana juga di blend atau mandiri…. ah banyak pokoknya faktor penentunya. Termasuk siapa dan bagaimana tampilan, kemampuan dan keramahan baristanya.

Nah kali ini dalam suasana santai tapi waktu yang terbatas, cukup diwakili dengan request bikin latte yang gambarnya lucu, “Simpel khan?”

Tak terasa waktu berjalan begitu singkat, tiba-tiba sang pelayan sudah datang membawa sajian latte pesanan tadi, daan…. tadaaaa…

Yang hadir secangkir latte bergambar panda guys, berarti kita kasih nama ‘Panda latte’. Jadi penasaran, “Kang, kenapa milih gambar lucunya panda?”

Sang pelayan tersenyum, lalu bilang, “Barista yang buatnya kakak, cuman saya bilang tamunya minta latte yang bergambar lucu”… lalu pelayanna nambahin, “Sebelum bikin lukisan latte, sang baristanya liat kakak dulu baru beraksi”

Wkwkwkwwkwkwk” Istriku tertawa renyah dan begitu senangnya sampai pelayan bingung. Diriku tersenyum juga dan tak banyak nanya lagi, langsung sruput panda latte, ternyata enak rasanya, Alhamdulillah.

Itulah cerita tentang kopi eh menikmati kopi kali ini, Wassalam. (AKW).

Di operasi – fbs

Carita pondok minggon ieu…

BANDUNG, akwnulis.com. Teu pira ukur ngajlengan pot kembang leutik, suku kènca geus dua bulan teu walakaya. Pas kajadian mah teu dirasa, kalah ka ngadon indit nedunan tugas ti dunungan, muru kuya di ujung gentèng.

Sampean uing / dokpri.

Balikna suku bareuh nyanyautan, teu loba tatamba tapi dipariksa ku dokter di rumah sakit, di mimitian ku poto rontgen.

Tah ieu gambarna jang, potong tulangna jeung seukeut kaditu kadieu, wayahna kudu gancang dioprasi” Sora dokter handaruan, panon olohok nempokeun gambar, teu lila titingalian karonèng, poèk wèh.

Pas hudang geus ngagolèr dina dipan, di riung ku lobaan. Aya nu nyekel ragaji, ogè palu jeung triplèk, kaciri beungeutna galeumpeur.

Uing rikat luncat, lumpat notog-notogkeun manèh bari gogorowokan, “Naha teu bèbèja rèk ngoprasi tèèèh!!!”

Nu keur ngariung ngembang kadu, salah saurang nyarios, “Kunaon si aa èta, teu pupuguh hudang, lumpat bari gogorowokan, boa boa…”

“Keun wè, ayeuna mah urang nungguan nasib Jang Ibro nu keur dipariksa” Sora mandor bangunan neger-negerkeun manèh, sanggeus tadi aya musibah wangunan runtuh di ruang administrasi nu keur di omèan ku pagawèna.

Uing humarurung di peuntaseun rumah sakit, ngalungsar bari ngararasakeun suku nu beuki nyanyautan. (AKW).

Menikmati (Ka)Mojang di JEMMA CAFE

Ternyata nikmat (ka) mojang coffee teh…

GARUT, akwnulis.com. Sore hari yang sendu menemani kami berkeliling di garut kota. Mulai dari sekitar pendopo hingga lingkar luar ke daerah sukaregang, tetapi belum berjumpa tempat yang cocok untuk ngopi sore yang menggugah selera.

Maka kemudi berputar kembali membawa moncong kendaraan berbalik arah menuju jalan veteran sesuai dengan arahan seorang millenial yang kebetulan ikut dalam rombongan.

Di sekitar jalan veteran ada tempat kongkow aku bersama besty dan bisa nambah kenalan baru” serunya penuh semangat.

Maka kami berempat generasi kolonial menyesuaikan dengan situasi dan tanpa basa basi ikut melihat kanan kiri demi memburu lokasi cafe agar tidak terlewati. Musti muter lagi kalau kelewat, entar malah malas dan ujung-ujungnya nggak jadi.

Atuh sayang udah jauh – jauh dari bandung ternyata hanya meraih pengalaman hampa, tanpa ada kenikmatan sruputan kopi lokal yang punya rasa spesial.

Nah itu cafenya” seru sang millenial. Langsung diikuti gerakan kepala dan mata para kolonial. Iya benerrr, kuy ah…

Tempatnya strategis di dekat Markas Polisi Militer Garut, dan ternyata setelah masuk ke dalam bukan hanya lantai 1, tetapi sampai lantai 3 dan cukup nyaman untuk ngedate… pacalaaan… ahhh jadi inget masa muda. Kopi adalah pelengkap, bukan hal utama kalau datang ke kafe. Tapi sekarang beda, sruput kopi yang utama.

Yuk ah turun lagi lantai satu dan segera pesan.. kopi yang ready untuk manual brew V60 ada 2 pilihan. Satu arabica kamojang dan satu lagi arabica kerinci. Tapi tentu yang harus dinikmati adalah arabica kamojang dulu ya guys.

Sang barista begitu atraktif menyambut kami dan segera menyambut pesanan manual brew dengan bersegera mempersiapkan peralatan perangnya…. lets go seduh seduh.

Tanpa perlu berlama – lama, tersajilah kopi hitam tanpa gula dengan gelas keramik berwarna krem bersalur hijau…. srupuut.

Hmmm nikmaat… aciditynya medium dengan body menengah yang menyegarkan sementara aftertastenya tetap mengusung fruity dan sedikit tamarind, pokoknya menyegarkan deh… jadi pengn nambah dech.

Tidak salah ini pilihan millenial kita, thank Zie. Makasih juga Om Yud dan Mr Baping. Wassalam (AKW).

Aku & Covid19 – Bagian 2.

Ceritaku dan Covid19 – tamat.

Ini lanjutan dari AKU & COVID19 bagian 1.

BANDUNG, akwnulis.com. Di hari kedua isolasi, penciuman dan indera perasa tidak berfungsi. Panik kawan, hati berdebar dan perasaan tidak beraturan, makanan tiada rasa, parfum dan minyak kayu putih lewat di hidung begitu saja, “Ya Allah apa yang terjadi?” Hanya linangan air mata dan ratapan berwujud doa dalam kesendirian ini, betapa rapihnya raga dan jiwa ini.

Cobaan belum berakhir, proses tracing atau pelacakan dimulai dan seluruh keluarga harus swab tes pcr di labkes. Tak terbayang betapa repotnya istriku untuk membawa keluarga besar serumah melakukan tes tersebut. Semakin sedih manakala membayang anak semata wayang berusia 4 tahun harus dicolok hidungnya pas pemeriksaan…. “Ya Allah selamatkan keluarga hamba, semoga hasil tes nya negatif semua”

Alhamdulillah, istriku tegar menghadapi kenyataan ini. Menyetir dan membawa semua keluarga serumah ke labkesda untuk dilakukan pemeriksaan.

5 hari kemudian hasil tes pcrnya keluar, babak baru harus dihadapi. Istriku tersayang dan mamah mertua dinyatakan positif covid19 sementara anak, kakak ipar, saudara dan pembantu hasilnya negatif. Kegalauan memuncak, karena tidak berdaya membantu untuk mengatur semua dengan raga terisolasi disini, di pusat isolasi BPSDM.

Ketegaran istri dan mamah mertua membuat trenyuh hati ini. Mereka berdua yang mengatur model isolasi mandiri di rumah dengan kondisi mereka berdua juga pasien karena gejala semakin terasa. Anak semata wayang yang harus dipisahkan kamar begitu menyiksa perasaan, biasanya kumpul bersama, sekarang terpencar. Ayah di pusat isolasi, ibu di kamar tengah, anak kesayangan di kamar depan bersama kakak ipar dan adiknya papah mertua.

Diri ini semakin terpuruk karena muncul rasa bersalah yang menghunjam ulu hati, menyalahkan diri karena menjadi pembawa virus ini sehingga menulari orang – orang terdekat di rumah. Ditambah kondisi tubuh yang tidak nyaman, hidung mampet, lemas dan yang terasa semakin menyiksa adalah tiada rasa dan tiada bau, tiada harum… hambar dan hampa rasanya.

Apalagi jika ingat sang istri, seorang dokter yang setiap hari harus menggunakan APD lengkap disaat observasi pasien, menahan panas dan gerah serta mandi sebelum pulang ke rumah demi menjaga agar tidak terpapar covid, eh ternyata malah tertular dari suami. Sungguh rasa sesal ini semakin dalam.

Disinilah… sebuah kontemplasi hadir, betapa manusia ini tiada daya dan upaya tanpa kehendak dari  Allah Subhana wataala.

Betapa manusia ini, diri ini belum bisa bersyukur atas nikmat Illahi yang begitu berharga dan luar biasa ini. Allah memberi pelajaran hidup dengan mencabut sementara indera perasa dan indera penciuman melalui virus covid19, terasa begitu menyiksa. Manusia langsung mati gaya, stres dan tak jelas arah kehidupannya. Padahal baru 2 butir nikmat dari-Nya, sementara nikmat bernafas, mengedipkan mata tersenyum dan bejibun kemudahan lainnya bukan semata hadir begitu saja, tetapi itu adalah kehendak sang maha pencipta.

Disinilah kesadaran tergugah, betapa selama ini abai dengan kewajiban beribadah baik ibadah kepada Allah secara langsung ataupun ibadah yang berhubungan dengan manusia (hablum minannas).

Obat – obatan dan vitamin yang diberikan langsung dimakan tanpa banyak tanya. Kepedulian orangtua, teman-teman dan berbagai pihak juga menjadi penguat termasuk berbagai kiriman seperti buah-buahan, argentum water, jamu AVC, madu, minyak kayu putih original, serta air doa, semuanya diminum atas nama ihtiar kesembuhan.

Hari keempat penciuman berangsur hadir kembali, teriak kegirangan dikala bisa mencium kembali segarnya aroma minyak kayu putih yang rutin diminum 1 sendok teh selama didera covid19 ini, Alhamdulillahirobbil alamin… Makasih Ya Allah telah mengembalikan lagi nikmat ini. Begitupun indera pengecap/perasa, perlahan tapi pasti telah kembali.

Rutinitas berjemur di rooptop, mengaji, main gitar, menulis, cuci baju, melamun, tidur, nonton tv, kontak – kontak dengan istri, orang tua dan rekan kerja juga ada beberapa zoom meeting dijalani dengan keikhlasan dan kesabaran hingga akhirnya kami berempat pada hari ke 12 dinyatakan boleh pulang dan kembali diijinkan bersua dengan keluarga.

Tapi, istri menyarankan 3 hari dulu memisahkan diri di tempat berbeda dan hari keempat baru bisa ke rumah. Ya sudah ikuti saja.

Disaat bisa kembali ke rumah, baru bisa memeluk erat anak semata wayang saja, karena istri masih isolasi mandiri di kamar begitupun ibu mertua. Sebuah kerinduan yang akhirnya bisa menjadi nyata, meskipun mungkin belum sempurna.

Betapa covid19 ini bisa memporakporandakan semua, tidak hanya phisik yang tersiksa namun psikis juga kena karena rasa bersalah telah menjadi penyebab tertularnya orang – orang tersayang dan terakhir adalah finansial. Betapa mahalnya dampak dari virus ini karena bukan hanya bicara obat – obatan dan vitamin bagi diri ini juga istri dan mertua saja tetapi tambahan biaya untuk tes PCR yang (waktu itu) masih mahal jika dilakukan mandiri sekitar 1jt – 2 jt per orang tergantung kecepatan  hasilnya juga biaya katering untuk yang di rumah karena ada 2 pasien yang isolasi mandiri juga banyak lagi biaya tidak terduga lainnya.

Akhirnya setelah genap sebulan, penulis dinyatakan sembuh ternyata istri masih perlu recovery hingga 2 minggu ke depan termasuk mamah mertua yang cukup lama, hingga tes pcr ke 5 baru dinyatakan negatif pkus dibayangi gejala long covid19 yang mudah lelah dan mudah pusing tiba-tiba.

Sebuah pengalaman berharga tentang makna kehidupan, hubungan keluarga dan yang paling penting adalah mempererat keyakinan bahwa manusia adalah mahluk yang lemah dan semua bergantung atas kehendak-Nya.

*** TAMAT ***

Akwnulis.com, 150322

Aku & Covid19 – Bagian 1

Ceritaku menjadi LC (lulus covid19) bagian pertama.

BANDUNG, akwnulis.com. Perjalanan tugas satu minggu ini memang begitu padat dan tanpa kompromi. Diawali agenda di kabupaten purwakarta dalam rangka Rapat evaluasi PT Jamkrida dlanjutkan esok harinya selama 2 hari menyusuri jalur pantura diawali dengan evaluasi kinerja wilayah Cirebon raya hingga tuntas di Indramayu sana lalu kembali ke basecamp di Bandung, lalu esok harinya pulang pergi ke garut meskipun tenggorokan mulai gatal dan terbatuk-batuk.

Sementara itu, penyebaran covid19 baru mulai resmi dinyatakan melanda negeri tercinta. Suasana menjadi berbeda, ketakutan kegalauan dan kebingungan melanda semua kalangan, tak terkecuali kami, bagian dari aparatur pemerintahan yang mendapat tugas mengawal, membina dan mengevaluasi kinerja hampir 30 lembaga keuangan yang sebagian sahamnya dimiliki oleh pemerintah provinsi jawa barat.

Maka skenario tatap muka dengan seluruh lembaga ini perlu dilakukan penyesuaian, tentu atas nama menjaga prokes dan keselamatan semuanya.

Tentu di awal sedikit tertatih dan gamang karena perubahan ‘terpaksa’ yang begitu mendadak. Dari tatap muka menjadi tatap layar, dari bercengkrama langsung menjadi berbalas chat di zoom…

Maka pergerakan kamipun dibatasi dengan cara tetap tatap muka yang minim namun dilengkapi zoom meeting untuk memberi peluang semua mitra tetap bisa ikut meeting bersama.

Nah perjalanan terakhir inilah yang kemungkinan membuat kami kelelahan dan akhirnya imun menurun dan tak kuasa melawan terpaan virus covid19 d pertengahan tahun 2020.

***

Kami berempat kompak, satu mobil berkeliling selama satu minggu, tepatnya senin hingga jumat dan di hari sabtunya demam tinggi disertai pusing dan rasa tidak nyaman di tengorokan dengan batuk kering yang mulai menyiksa.

Padahal kami selalu taat protokol kesehatan, double masker termasuk facedhield, semprat semprot handsanitizer juga rajin mencuci tangan dengan sabun. Namun itulah takdir yang harus dihadapi.

Vonis kena covid19 ini diawali dengan pemeriksaan antigen di lankesda jabar, dan setelah berempat dilakukan tes antigen via hidung, kami diharuskan menunggu hasilnya padahal yang lain setelah tes diperailahkan pulang untuk menunggu hasil. Apalagi tiba-tiba tempat duduk bekas kami tes langsung disemprot oleh petugas ber-APD lengkap.

“Wah gawat nih, jangan-jangan kena covid nich” itu yang muncul dibenak kami. Dimana suasana pertengahan tahun 2020, masih pada takut dan seolah covid19 adalah aib. Kami berempat begitu tegang.

“Silahkan pak, kita swab PCR” Suara tegas petugas membuyarkan kebingungan kami, dan segere kembali antri untuk merelakan hidung ini dicolok lagi.

“Bapak-bapak hasil tes antigennya reaktif, lalu sambil menunggu hasil tes PCR dimohon memisahkan diri dari keluarga ya”

Hanya anggukan lemah yang menandai persetujuan dari kami, lalu keluar dari area labkes dengan gontai. Apa mau dikata, inilah kenyataan yang harus dihadapi. Kami berempat berpisah dengan membawa kebimbangan masing-masing. Sementara rasa panas dan kering ditenggorokan semakin menyiksa ditambah pusing dan lemas plus bersin-bersin terus mendera.

Setelah info ini sampai ke istri dan keluarga, sontak menjadi ketegangan kolektif. Apalagi kontak erat dengan orang rumah begitu intens dikala sedang demam beberapa hari yang lalu. Di rumah tidak hanya anak dan istri, namun ada mamah mertua, kakak ipar dan anaknya, adiknya ayah mertua dan pembantu… duh jangan – jangan.

Benar saja perkiraan ini, setelah mengasingkan diri dari keluarga dan tinggal ditempat berbeda  hasil swab PCR kami keluar dan berempat dinyatakan positif covid19 dengan nilai CT dibawah 20, malah penulis sendiri nilai CTnya 15. Sebuah nilai yang waktu itu dianggap ‘berbahaya’ atau beresiko karena semakin rendah nilai CTnya maka semakin besar peluang untuk menyebarkan virus ini kepada orang lain.

Maka koordinasi intens dengan dokter di dinas kesehatan provinsi jabar, akhirnya kami masuk ke tempat isolasi mandiri pemprov jabar yaitu di area BPSDM Prov jabar di daerah Cimahi utara.

Setelah mengikuti berbagai rangkaian tes, kami berempat masuk di pusat isolasi mandiri dan ditempatkan di tower yang berbeda. Terasa terasing dan kesepian serta kondisi tubuh terasa berbeda. Pusing masih mendera dan batuk kering plus lemas serta terkadang seperti demam tapi normal lagi dan nggak berapa lama panas lagi suhu tubuh ini, ditambah lidah kok kebas ya?.. agak hambar pas makan nasi atau kue yang tersaji…….

Bersambung ke AKU & COVID19 Bagian 2.

KOK TONG – Kopi Hitam & Kucing Hitam

Hitam itu ada 2 yaitu kucing dan kopi.

CIMAHI, akwnulis.com. Hari minggu sore kali ini menjadi spesial karena bisa ngariung bersama anak semata wayang juga beberapa ponakan yang bertempat di halaman belakang. Gelak tawa dan kejar-kejaran adalah kenyataan, dilengkapi dengan teriakan khas dari sang nenek yang khawatir salah satu cucunya terpeleset.

Udaaah jangan lari – lari”

Tapi mana ada yang mendengar, semua senang dengan kebersamaan dan aksi kejar – kejaran sambil berteriak riang.

Disinilah peran kopi menjadi penting untuk mengendalikan keributan ini.

Maksudnya gimana?”

Jadi begini caranya, bawa sebungkus besar kopi merk KOK TONG dan perlengkapannya. Kertas filter V60 dan corong pink kesayangan, bejana kaca dan gelas kecil dua model serta tidak lupa air panasnya…. eh belum air panas belakangan, khan ini tangannya cuma 2 atuh.

Nah anak – anak curinghak…. eh apa ya bahasa indonesianya.. kaget dan waspada serta perhatian… walah kok jadi panjang?..

Jadi lari-larinya berhenti dan semua berkumpul mengelilingi peralatan kopi yang sudah ready di meja.

Hayu kita bikin kopiiii” Seru anak kesayangan.

Maka orkestra dadakan segera tercipta, anak kesayangan sibuk meyiapkan corong V60 dan kertas filternya, ponakan yang paling besar menata gelas dan ponakan satu lagi yang dari tadi nggak mau diem begitu serius memegang bungkus kopi merk KOK TONG.

Ayo kita bikin kopiiii……” teriak si kecil sambil memaksa kakaknya menuangkan bubuk kopi ke corong yang sudah dilapisi kertas filter.

Eits jangan dulu, ini kameranya belum siap” teriakan kembali menggema dari ponakan lainnya yang ambil tugas jadi videographer. Sang ponakan tertua jadi aktornya, sok jago minum kopi hitam tanpa gula… ternyata nyicip dikit langsung senyum pengecut eh kecut.

Keseruan semakin lengkap dengan hadirnya bleki si kucing hitam. Ikutan jadi artisnya, karena warna hitamnya matching dengan hitamnya kopi yang tersaji.

Oh ya, kopi merk KOK TONG ini adalah kopi unggulan yang sudah terkenal berasal dari Pematangsiantar – sumatera utara. Rasanya nikmat dengan metode seduh manual V60 tanpa gramasi dan diseduh langsung oleh air panas yang  dituangkan dari gelas ukur supaya praktis.

Rasanya enak dan unik lho, ada sedikit rasa manis yang menyapa ujung pengecap rasa. Hmmm…. pahit yang begitu manis.

Maka permainan kejar-kejaran berubah menjadi tim solid yang bekerjasama membuat konten video dengan tema ‘kopi hitam dan kucing hitam’, tentu untuk finishing diserahkan kembali…. dan anak serta ponakan kembali main kejar-kejaran.

Inilah hasil videonya dan di upload di channel youtube yang berjudul : Kopi Hitam & Kucing Hitam.

Terima kasih sudah membaca cerita anak ponakan dan kopi hitam, juga jangan lupa tonton video youtubenya. Wassalam (AKW).

Menikmati LEMCOFF

Mencoba menikmati segarnya kopi

CIMAHI, akwnulis.com. Udara siang yang panas teralihkan oleh buaian sang angin yang menyusur lembut menerpa badan ringkih ini.

Ih jangan bilang badan ringkih, kamu khan sehat”

Iya bener juga, menggunakan tongkat penyangga bukan berarti ringkih dan lemah, tetapi sebuah proses kesabaran dalam meraih kesembuhan seperti sediakala.

Channel youtube : MENIKMATI LEMCOFF

Kamu teh sakit apa?” Banyak rekan bertanya setelah melihat keadaan ini. Penulis awalnya termangu, kenapa pada nggak tahu ya. Padahal rutin di broadcast berbagai tulisan yang menjelaskan musibah yang terjadi hingga harus diiperasi dalam bentuk cerita dan gambar rontgent yang ada.

Jawabannya seragam dan sederhana, “Oh kirain dongen fiksi rekayasa, hampura nya.. sing enggal damang”

Terima kasih atas doa dan dukungannya, serta terima kasih juga atas persepsinya tentang ‘tukang nulis cerita fiksinya’ … sebuah kehormatan dan… bikin penasaran, “Pada baca tulisanku atau hanya baca captionnya saja?”

Terserah aja ah….

Siang ini selain angin berhembus penuh rasa persahabatan ditambah dengan sajian kopi dingin yang agak berbeda dari biasanya. Ada rasa yang menggelitik untuk mencoba kopi yang dicampur dengan lemon versi barista di Cafe Otutu  sekaligus nemenin sopir yang sedang menunggu mobil dicuci steam oleh para pegawai pencucian.

Keterangan : Cafe otutu itu cafe cozy di wilayah cimahi selatan sekaligus tempat cuci mobil yang buka pagi-pagi, jam 07.00 wib sudah siaga. Meskipun cafenya baru jam 10an bukanya.

Maka pesanlah satu menu kopi yang kayaknya menyegarkan  namanya lemcoff. Kayak nama menu di negara eropa. Supaya nggak penasaran maka dibuntutilah sang pelayan hingga bersua ke meja barista. Lalu minta ijin untuk dokumentasi agar menghilangkan rasa kepo berlebihan ini.

Nah ternyata bukan manual brew tetapi menggunakan mesin pembuat kopi dan diawali dengan prosesi untuk menghasilkan espresso….

sok atuh lanjutkan.

Lalu sang barista balik badan dan menggabungkan dengan bahan lain, alah teu katingali… geser kanan dan geser kiri… ohhh ternyata ditambah lemon dan es batu yang dituangkan dalam gelas perak untuk jugling, lalu dikocok kocokk.. dikocok kocok sambil tangan barista ke atas dan kebawah, mirip joget euy… tarik mang… semongko.

Dituangkanlah di bejana kaca dan terlihat selain sajian kopi ada busa coklat diatasnya, kayaknya seger tuh… dan pasti dingiiin… karena terlihat juga kawanan es batu berbentuk persegi kecil hadir juga di dalam bejana kaca.

Silahkan kakak, ini lemcoffnya”

Makasih, lemcoff itu singkatan ya?”

Iya kakak, itu singkatan dari lemon dan coffee..”

Agak mengernyit dahi ini karena kalau gitu lemonnya harus banyak dan sisanya kopi, ini mah cocoknya cofflem…. eh tapi ya terserah yang kasih nama ketang… yang penting kita coba rasanya.

Tuangkan dulu di gelas, ucap basmallah…. baru srupuuut…

Suegerrrr…… eh tapi kok manis ya?.. kerasa banget ada unsur sirupnya…. langsung manggil sang barista, “Kang ini pake sirup ya?”

Iya kak, kenapa kurang manis?”

Ga papa, tapi sekarang order lagi ya. Tanpa sirup”

Barista mengangguk tapi wajahnya terlihat bingung. Ternyata memang standarnya menggunakan sirup gula.

Tapi perbedaan ini tidak menjadi masalah, bergula atau tidak ternyata bisa menghadirkan sajian lemcoff yang segar menggugah selera. Tinggal pilih saja mau ditambah rasa manis atau tidak.

Penulis memilih tidak, karena memang sudah manis dari sononya hehehehehe.

Selamat weekend kawan, jangan lupa ngopi dan memaknai hari. Wassalam (AKW).

Citra – Medsos – Kopi.

Secuil citra dalam menjaga konsistensi diri, jadinya ngopi.

CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah kekuatan rasa akan hadir dengan kerjasama apik dari aneka kata yang terserak berbeda. Dirajut dengan perlahan dan hadirkan kalimat yang mengikat niat. Meskipun bisa hadir sebuah dampak untuk menggiring sidang pembaca mengkristalkan persepsi tentang keseharian seseorang.  Apalagi dilengkapi dengan sajian video via youtube, reel-instagram dan tiktok, maka kristalisasi aktivitas begitu mengemuka.

Padahal….

Apa yang dilihat di medsos dan atau ditulisan blog tersebut hanya sebagian kecil saja serpihan fragmen kehidupan yang secara sadar ditampilkan demi alasan tertentu. Tentu kalau mayoritas adalah berpegang pada nilai eksistensi dengan indikatornya ramainya jempol serta komentar serta akhirnya viral… dan terkenal.

Tetapi ada juga yang ikut-ikutan karena dianggap tidak gaul jika nggak meramaikan jagad medsos, tapi ternyata setelah dapet respon dari netizen… malah keterusan serta ternyata rasanya menyenangkan.

Meskipun secara pribadi, memang sekarang sudah tidak bisa mengelak dengan perkembangan jaman yang begitu cepat. Termasuk eksistensi di media sosial yang akhirya tetap ikut posting di medsos, tentu dengan filterisasi pribadi yang ketat.

Nah kalau blog pribadi ini, diihtiarkan istiqomah bin konsisten, tulis apapun temanya meskipun tema utamanya adalah Ngopay dan Ngojay serta Mantay alias Seputar Kopi, kolam renang dan mereguk vitamin-Sea di pantai.

Juga sekarang sedang menggiatkan upload di akun youtube dan mencoba mendaki untuk memenuhi target minimal monetisasi, jadi jangan bosan dukung dengan like, share, subscribe dan juga komen yaaa…. akunnya ini ya : @andrie kw.

Termasuk cerita kisah nyata tentang musibah patah kaki dan operasinya, berurutan diposting dan ternyata banyak pembaca yang menilai ini cerita fiksi bin rekaan saja hehehe…. maklum karena seringnya menulis cerita fiksi bin rekaan saja.

Maka bagi para penikmat tulisanku ini, semoga tetap berkenan meluangkan waktu untuk membaca dan menikmati untaian kata yang mungkin miliki makna atau minimal silaturahmi virtual tetap terjaga.

Sebagai penutup, maka kita tampilkan photo sajian kopi arabica halu poek banana yang di seduh dengan bejana dan gelas kaca senada. Urusan rasa dan pengalamannya serta tempatnya nanti ditulisan pada postingan selanjutnya. Selamat malam semua, Wassalam (AKW).

Novel Bedebah

Ternyata memang bedebah..

CIMAHI, akwnulis.com. Suara bertubi dari celotehan mulut mendera rasa yang tak biasa, melengkapi panasnya suhu udara hari ini.  Tetapi itulah indahnya di dunia, selalu ada tantangan dari setiap tahapan kehidupan.

Maka kegiatan menulis di blog ini adalah sebuah obat pengurai tekanan dan memberi sejumput kedamaian dalam keseharian yang terus berjalan.

Selain menulis tentu saja membaca novel adalah sebuah kebahagiaan, jikalau membaca situasi adalah keseharian maka membaca novel perlu waktu dan tempat yang tepat hingga tuntas sampai jilid akhir.

Kali ini mencoba membaca Novel karya Tere Liye yang berjudul ‘Bedebah Di Ujung Tanduk’, sebuah novel seru yang mengenalkan diri terhadap wawasan level dunia dengan istilah ‘Shadow Economy

Maka begitu lembaran novel terbuka, langsung masuk dalam dunia ‘lain’ yang penuh dinamika. Bagaimana sebuah koneksi antar benua serta tata hubungan ekonomi global yang hanya diatur oleh sekelompok orang yang ambisius dan sangat pintar.

Disinilah peran Thomas menjadi pembuka dan mengalirlah cerita penuh kejutan lintas benua plus perkelahian yang lengkap baik tangan kosong baku hantam hingga pertempuran helikopter di udara khatmandu yang di sopirin… eh serasa mobil, maksudnya di piloti oleh seorang ninja wanita berdarah jepang.

Banyak lagi karakter lainnya serta berbagai strategi pertempuran yang ternyata tipis batas antara sportif dengan licik juga idealis ataupun oportunis.

Yang pasti, kepentingan untuk mencengkeram dunia terutama di jalur sutra adalah kekuatan lama yang sudah ratusan tahun berjaya, meskipun akhirnya harus meredup seiring siklus hidup dan akhirnya menjadi bab penutup.

Udah ah gitu aja, yang pasti kembali bisa menikmati sebuah novel adalah rejeki bagi diri ini yang mulai sibuk (lagi) dengan dunia nyata meski kruk penyangga tetap menemani dengan setia. Wassalam (AKW).