DRAGON Breathe Snack vs CIKBUL.

Sebuah dilema antara kewaspadaan dan memuji atas kreatifitas penamaan.

CIMAHI, akwnulis.com. Perkenalan dengan makanan ringan jajanan anak yang sekarang menjadi viral ini belum lama, baru sekitar 1 – 2 bulan lalu. Itupun karena ikut-ikutan anak semata wayang dan temennya yang pengen nyoba jajanan yang bisa bikin kayak naga.

Jadi bisa menyemburkan asap dari mulut dan hidung sepeti seekor naga yang begitu perkasa di dalam film – film yang beredar dengan berbagai versi.

Nama jajanannya adalah dragon breathe atau dragon smoke (asap naga alias nafas naga kali yeee….).. atau ice smoke itupun ternyata di korea sana sudah lebih dulu menyasar kebiasaan jajan anak negeri ini dengan sebutan pong pong korean snack. Soft diplomacy yang perlu diwaspadai selain lagu Kpop, busana hingga berbagai ungkapan bahasa korea yang ternyata sudah menjadi bagian keseharian anak-anak kita.

Nah pas nyobain jajanan ini, memang sensasi bernafas bagai naganya berhasil guys. Dari mulut menyembur asap dan jika lebih seru lagi. Setelah snack atau chiki ini ditelan, mulutnya tutup, maka pas bernafas, keluarlah asap putih dari lobang hidung.

Seruuu….

Tapi ternyata, tak berapa lama tenggorokan terasa perih dan kering serta sedikit batuk. Ah mungkin karena udara dingin di dataran tinggi. Ternyata dari situ batuk – batuk kecil terus hadir hingga malam harinya tenggorokan begitu gatal dan batuk hampir tiada henti.

Gawat nich, kayaknya gegara nelen nitrogen cair yang jadi campuran chiki tadi, supaya bersensasi nafas naga”

Obat batuk pilihan segera dicari, di minum dan sedikit tenggoroka  lega, meskipun batuknya belum ilang. Iseng searching di google tentang jajanan ini, dan terperangah…

Ternyata di Amrik sana sama BPOM Amriknya sudah dilarang lho, penggunaan nitrogen cair di jajanan anak karena dianggap berbahaya (Liputan6.com). Ditambah juga belum lama ini ada anak yang luka bakar di ponorogo terkait erat dengan jajanan ini (detiknews, 220722).

Jadi sarannya, hati-hati dengan jajanan anak. Beri pengertian tentang kemungkinan bahayanya, sehingga tidak menyesal dikemudian hari karena sakit dan membuat tidak nyaman.

Nah, ternyata pas kemarin mendapat tugas ke daerah kabupaten kuningan jawa barat, jenis makanan ini sudah diduplikasi atau replikasi atau diubah versi muatan lokal. Disini terjadi dilema antara memuji karena kreatifitas tapi juga khawatir penyebaran jajanan anak yang menggunakan nitrogen cair ini makin masif beredar.

Nama jajanan dragon breathe versi jawa barat ini yang bikin senyum simpul. Namanya adalah CIKBUL, singkatan dari Chiki Ngebul atau chiki yang berasap. Wah makin banyak saja jajanan anak yang berasal dari kata CI, seperti cireng, cilor, cipluk, cilok dan sebagainya ditambah dengan cikbul ini hehehehehe.

Ya gitu deh, senang dengan kreatifitas penamaan jajanannnya tapi harus waspada bagi orangtua untuk mengingatkan anaknya. Terima kasih, happy weekend. Wassalam (AKW).

NGASUH & KOPI

Libur tiba, kopi tetap ada. sruput & bermain bersama.

CIMAHI, akwnulis.com. Coretan kapur oleh tangan mungilnya menciptakan beraneka rupa dan bentuk yang miliki makna. Sebuah prosesi menyenangkan di kala kesempatan hari libur tiba. Awalnya memang tidak disengaja, tetapi nilai kebersamaanlah yang lebih penting sehingga hadirkan ide segar untuk bermain bersama.

Ayah aku bosen, ngapain ya?” Rengekan anak semata wayang ini mengingatkan bahwa sekarang waktunya untuk bercengkerama dan melepas smartphone serta tablet yang memiliki lem super kuat sehingga selalu senantiasa nempel di tangan nggak kenal waktu, luar biasa kekuatan lem perekat ini.

Kita main diluar
Yeaay lets go

Nah beranjak ke halaman belakang, baru ingat bahwa ada bagian halaman yang beberapa hari lalu diberi acian adukan supaya rata dan tidak becek dikala hujan menggenang. Sedikit sih, tapi lumayan bisa digunakan untuk bermain bersama.

Lalu, tangan dan jari jemari mencari kapur untuk sarana menulisnya. Oh iya ada kapur buat mengusir semut atau kecoa tuh di dapur, bisa dipake sementara sebelum nemu kapur tulis beneraan… tadaaaa.

Maka asyiklah si kecil dengan imajinasinya, menggambar segala macam yang dia bisa dan dia sukai, terutama terkait kucing, saat ini sedang sangat menyukainya.

Nah melengkapi kesenangan masing-masing, tidak lupa segera menggiling biji kopi dan lakukan seduh manual menggunakan filter V60. Dibuat dengan perbandingan berbeda, lebih banyak air panasnya agar hasil seduhannya lite bin ringan saja. Kebetulan lagi pengen yang ringan-ringan saja.

Tampilan kohitala kali ini lebih mirip teh, sedikit coklat dan agak bening. Tapi jangan salah untuk rasanya tetap mewakili kenikmatan kopi si hitam misteri yang kali ini ngabisin stok arabika wine sylvasari gununghalu…. seep gan.

Karena memang di setting lite, maka bodynya medium dan aciditynya ramah di lidah meskipun after taste berry dan tamarinnya tetap hadir meskipun tidak ninggal di ujung lidah.

Srupuut…. hmmmm nikmaat brow.

Ayah jangan ngopi terus, gambar yuk!”

Sebuah perintah sopan hadir untuk ditindaklanjuti segera. Maka simpan gelas kaca dan bejana lalu berganti pegang kapur pengusir tikus untuk menulis dan menggambar sesuatu. Maka tulisan pertama adalah ‘coffee.’ Dilanjutkan dengan sketsa wajah kucing yang ternyata jauh dari mirip… ya sudah biarkan saja apa adanya, minimal sudah ada niat menggambar hehehehe.

Itulah sejumput kebersamaan bersama anak tercinta di kala waktu libur tiba. Sebuah pesan terpatri dalam hati bahwa waktu sang anak tidak lama sebagai anak kecil yang butuh kebersamaan dengan orangtua. Beranjak remaja, maka dunia mereka berbeda. Inilah waktu yang tepat merajut kedekatan dan kebersamaan, terutama anak perempuan dan ayahnya. Hatur nuhun.

Selamat pagi dan selamat berkarya. Wassalam (AKW).

KOPI KANTOR KOPI DINAS

Urusan dinas, rapat offline dan Zoom meeting berjalan, hadirnya kohitala tetap menyertai.

BANDUNG, akwnulis.com. Pekerjaan bejibun dan tugas bertumpuk menjadi tantangan tersendiri minggu-minggu ini. Bagi tugas dan saling mengisi antar divisi menjadi sebuah kolaborasi yang begitu menguras energi. Tetapi itulah dinamika pekerjaan yang harus dihadapi sekaligus disyukuri. Karena diluar sana banyak saudara kita yang bingung mau mengerjakan apa, sementara disini begitu banyak tugas, alhamdulillah, mari berbagi pekerjaan.

Meskipun ada tugas – tugas yang memang tidak bisa diwakilkan, karena memang kita yang musti mewakili pak bos. Itu mah resiko, atur jadwal dan hadiri. Titik.

Nah bagaimana nasibnya ngopi, ditengah kesibukan ini?”

Ya nggak gimana-gimana, ngopi mah harus tetep jalan. Khan tinggal bikin atau dibikinin aja. Yang penting syarat utamanya satu. Metodenya manual brew dan jelas tanpa gula. Selesai.

Oh iya, supaya kualitas kopinya sesuai selera kita. Ya bekel sendiri, baru seduh di dapur kantor dengan peralatan manual brew V60 yang ready setiap waktu. Apalagi Bu Santi, TU kantor juga punya keahlian menyeduh kopi secara manual, cocok dah. Tambah lagi di lantai 2 ada juga sang barista, Ojan namanya. Pasti seneng dia bikinin manual brew setiap diminta, kecuali kalau pas beannya habis heuheuheu… kasiaan deh.

Kopi manual yang pertama, dibuat dengan hati-hato oleh Bu Santi menggunakan filter phisixti (V60) dengan panas 92° celcius dan gramasi 14gram membuat sajian kohitala yang nendang. Karena dimodali  bijinya adalah arabica wine sylvasari gununghalu tea geuning.

Para penikmat kopi terhenyak dengan sentuhan awalnya yang ‘menggigit’ dengan acidity poool… lalu bodynya pun medium high hingga aftertaste tamarind, citrun dan berrynya begitu menyayat hati… eh begitu paten menguasai rongga lidah serta memberi efek ninggal yang lumayan (moo bilang rasanya luar biasa, ntar pada komplen karena cuman cerita dan ngabibita sementara biji kopinya nggak pernah ngirim), harap maklum stok disetting limited supaya bisa memaknai kenikmatan dalam keterbatasan kawan.

Pak Galih, Rivaldi, Ojan dan Bu Santipun ikut menikmati sajian kohitala ini dengan gelas kaca tipis yang rentan pecah jikalau terbentur dengan benda keras, seperti kepercayaan yang terhianati maka hancur berantakan dan sulit dipulihkan. Tapi itulah kenyataan, maka kehati-hatian adalah kunci segalanya. Maksudnya hati-hati nyimpen gelas kacanya guys, bukan nyimpen rahasia.

Jadi sambil diksui… eh diskusi, juga rapat koordinasi via zoom. Bisa sambil ngopay bersama. Atau di kesempatan lain, nyuguhin tamupun bisa sambil ngopay kopi hitam tanpa gula dengan metode V60.

Nah gimana ngopinya kalau pas rapat diluar kantor?”

Ini mah rumusnya ‘mimilikan‘ atau sesuai rejekinya. Jadi kalau pas kebetulan rapatnya diluar kantor, semoga ada sajian kohitala meskipun berbasis mesin kopi.

Kalau yang pengen liat versi videonya, monggo klik aja link youtubenya : KOPI KANTOR | menyeruput kopinya di kantor ya guys.

Ternyata memang milik rejekinya, rapat di Resto Teras Akasya bahas urusan penting, ternyata ada sajian kopi. Cocok pisan gan, pekerjaan kelar dan ngopay pun jalan.

Pertama adalah kopi tubruk dengan biji kopi dari malabar jawa barat, alhamdulillah rasanya cukup lembut karena memang ditubruknya pelan-pelan. Kebayang kalau ditubruknya dengan keras, pasti tikusruk (terjerembab).

Kopi kedua lebih kepada kompromi dari sajian yang ada, karena seduh manual pake filter V60 tidak tersedia, maka berdamai dengan kohitala versi mesin kopi. Hadirlah segelas kecil espresso dan secangkir americano, tanpa gula. Sruput gan.

Itulah cerita kopi sambil berdinas sehari-hari. Jadi ngopi hitam tanpa gula adalah bagian dari keseharian, baik di dalam keseharian ataupun jika kebetulan hunting di luar kota baik itu karena dinas ataupun memang sedang beredar bersama keluarga.

Selamat nyruput si hitam tanpa gula, Happy weekend. Wassalam (AKW).

HEHA Sky view (Dragon Smoke vs Americano)

Nikmati pemandangan dan sruput selalu kopay.

JOGJA, akwnulis.com. Pergerakan raga dan rasa dalam mencicipi kopi beserta kelengkapannya terus tak terbendung. Disaat kohitala perdana di kunjungan ke Jogjakarta kali ini diawali oleh hadirnya KOPI V60 MANGLUNG. Maka petualangan harus berlanjut, sayang atuh udah jauh-jauh bergerak ternyata cuman meeting trus tiduran di kamar saja. Tapi beredarlah sebelum beredar itu dilarang hehehehe.

Maka insting pencarian kopi terus berlanjut, meskipun tentu tetap saja harus menyesuaikan dengan jadwal dan keinginan untuk mengacu kepada tempat wisata yang katanya ‘happening bingit.’ Yaitu HEHA sky view. Awalnya ingin mencoba menjajal HEHA ocean view, namun dengan berbagai pertimbangan dan juga saran masukan dari sopir selaku GPS. Maka dipending karena terlalu jauh dan lama sementara banyak anak-anak yang kecapaian setelah 6 jam perjalanan dengan KA Argowilis dari stasiun Bandung.

Isi perut dan kopi awal sudah aman di Manglung Resto & View. Jadi ke HEHA tinggal menikmati suasana. Dari Manglung resto ke HEHA ternyata cukup 8 menit saja. Nggak percaya?… ya entar coba aja.

Tangga HEHA resto / dokpri.

Ternyata, HEHA memang besar dan megah. Namun seperti pasar kaget karena pengunjung begitu membludak. Untuk pengelola tentu ini yang dicari, tapi bagi kami penikmat suasana, terasa hiruk pikuk ini agak mengurangi kenyamanan.

Masuk ke HEHA sky view membayar Rp 20.000 per orang dan didalamnya bisa berjalan-jalan mencari posisi dan spot menarik sesuai keinginan terutama pemandangan sunset yang katanya begitu spektakuler. Tapi karena terlalu banyak orang, sulit mengabadikannya. Ya sudah apa adanya saja.

Meskipun kemalasan mengabadikan sedikit terobati dikala melihat seorang ibu berbaju kuning rebahan dengan santai, menikmati suasana sekaligus ketiduran. Sebuah ilmu tingkat tinggi dimana bisa menemukan kesunyian ditengah hinggar bingar dan kegaduhan. Eh atau memang udah kelelahan ya?… jadi cape ngantuk nggak nahan, entahlah.

Untuk menjaga mood tetap di level yang baik, maka saatnya hunting kopi guys. Tapi sebelumnya tetep ngikutin keinginan anak untuk mejajak jajanan yang katanya happening di HEHA ini, yaitu Dragon Smoke. Harganya 25rb perporsi.

Kirain apaan, ternyata chiki bentuk kotak yang diberi nitrogen cair. Nah makannya ditusuk pagi tusukan dari bambu, lalu berasap deh dari mulut kita, atau kalau mulutnya ditutup bisa keluar asap dari hidung…. ohhh pantesan namanya naga merokok (dragon smoke) hehehe… ada – ada aja. Pasti ketawa – ketawa pas makannya, apalagi sambil mengepul asapnya.

Tapi hati-hati, kalau tidak terbiasa bikin tenggorokan gatal, kering dan batuk lho. Jadi saran kalau beli satu porsi, makan bareng-bareng aja. Bukan masalah ‘iritisasi‘ tapi khawatir menimbulkan iritasi di rongga mulut.

Pilihan makanan lain masih banyak namun tak berani lagi beli karena bejubel dan banyak orang. Maka mlipirlah menuju restoran sambil berharap bisa mendapatkan view sunset terbaik dan ditemani sajian makanan terbaik.

Ternyata, di restoranpun sudah penuh hehehehe, ada beberapa meja tersisa tetapi bukan di posisi strategis samping kaca. Ya sudah duduklah dan pesan cemilan plus kopinya americano.

Khusus yang males baca tapi pengen liat video youtubenya, ini dia linknya : KOPI DI JOGJA VOL 1.

Rebutan sunset / dokpri

Hehehehe, ternyata lama juga. Akhirnya mendokumentasikan suasana yang ada dan menikmati minuman yang disajikan. Americano ya rasanya begitu, agak sulit bahas body, acidity dan aftetastenya. Yang pasti kepahitannya tetap memberi nuansa berbeda, apalagi jaraknya jauh dari rumah, ya sudah kita nikmati saja.

Eh ternyata anak – anak mulai cranky dan nggak sabar menanti pesanan cemilan, tetapi tak kunjung tiba, mungkin karena banyak sekali pesanan. Maka kami menyerah, akhirnya diputuskan bungkus saja. Masih menunggu beberapa saat waktunya.

Tepat sruputan terakhir secangkir americano, pelayan datang dan mengabarkan pesanan sudah dibungkus dan siap bayar. Yuk ah bayar dulu. Eh sruputtt habiskan dulu americanonya brow.

Americano at HEHA resto sky view / dokpri.

Itulah cerita singkat perjalanan ngopay di kota Jogja edisi 2, edisi satunya khan KOPI MANgLUNg. Akhirnya raga bergerak menuruni dataran tinggi ini, dan menuju tempat hotel yang akan diinapi dengan estimasi perjalanan 46 menit dari sini. Wassalam (AKW).

KOPI CAMARO di MANGLUNG View & Resto.

Kembali bersua dengan kohitala, kali ini di dataran tinggi selatan Jogjakarta.

JOGJA, akwnulis.com. Perjalanan menanjak dan berliuk menuju dataran tinggi di selatan jogja, mirip dengan perjalanan ke lembang mau cari susu murni, ketan bakar ataupun tahu goreng plus kesegaran suasana alami. Tetapi tentu hal penting yang harus dicari adalah secangkir janji yang tertuang dalam cangkir abadi bernama kenikmatan hakiki dari sajian kopi.

Maka dilakukanlah kombinasi pencarian yang keduanya berdasarkan GPS. GPS pertama adalah global position system yang menjadi nyawanya googlemaps, dimana dengan jari jemari eh salah dengan jempol kanan kiri maka begitu mudah menjelajahi dan mencari lokasi yang didambakan… uhuy.

GPS yang kedua, apa itu?”

Wah ada yang penasaran, ini adalah teknologi tertua yang tak lekang oleh jaman dan tak pupus oleh perubahan. Karena modalnya adalah keberanian dan tentu berbicara dengan sopan. Maka GPS ini bisa dipakai.

Tahu khan?”

Pasti pada geleng kepala khan. Padahal jawabannya gampang banget. GPS ini adalah Gunakan Penduduk Sekitar  alias banyak bertanya kepada orang yang domisili di sekitar tempat tersebut. Minimal sopir grab atau sopir mobil sewaan yang mengantar kita ke tempat lokasi.

Dijamin bisa lebih tepat sasaran dan terukur, termasuk bisa juga berdiskusi tentang rencana kunjungan ke objek wisata. Siapa tahu GPS ini bisa memberikan opsi lebih baik, karena tahu dan berpengalaman untuk rekomendasi waktu yang tepat untuk berkunjung ataupun lokasi wisata lainnya yang bisa menjadi alternatif.

Jadi double GPS lebih efektif hehehehehe.

Setelah menanjak begitu rupa, sekitar 52 menit dari Stasiun Tugu, tibalah di lokasi makan siang menjelang sore kali ini, yaitu The Manglung View & Resto.

Ini adalah hasil GPS kedua lho guys, saran yang recomended dari bapak Sutarno, Driver langganan khusus Jogja karena paham dengan kebutuhan kami berbanyakan ini untuk makan dulu dalam suasana yang relatif ‘tenang.’

Karena tujuan awal kami adalah menuju objek wisata HEHA Sky View yang kata guugle lagi happening. Tapi saran pak Sutarno lebih kami dengarkan karena beliau yang sehari-hari lebih tahu keadaan.

Benar saja, dengan mengikuti sarannya, kami bisa menikmati makan siang dengan nyaman. Menu yang enak dan mengenyangkan serta tidak lupa sajian kopi manual dengan menggunakan seduhan V60 dapat dinikmati dengan pasti. Berlatar belakang pemandangan hamparan daerah Patuk bersama taburan sinar mentari yang mendekati ujung hari.

Pesan kopinya manual brew V60 hot ya mas”
“Inggih”

Wah senangnya, keluarga bisa pesan makanan minum sesuia serela… eh sesuai selera, akupun bisa bercengkerama dengan sang kohitala di wilayah jogja. Beannya adalah arabica camaro dari bantul (klo hasil interogasi mas baristanya) dengan notesnya adalah Sweey honey brown sugar karamel.

Ternyata hasil racikannnya agak mendekati, meskipun sweetnya kurang dapet tapi tergantikan dengan suasana sore dan pemandangan yang memanjakan mata dan belum banyak pengunjung. Eh nggak lama juga, setelah 20 menitan kami berada, ternyata mulai ramai juga.

Sruput dulu guys…. nikmaaat. Kopi manual brew V60 yang asli dan berada di Jogja. Jadi inget tahun lalu menikmati sajian V60 ini dimalam hari, hujan turun dengan lokasi tepat di depan tuggi jogja, yaitu di Cafe Kebon ndalem, ini tulisannya KOPI TUGU JOGJA.

Oh ya, tulisan tentang objek wisata HEHAnya menyusul ya, khan belum sampai.

Maka kembali ke paragraf atas, wisata yang terencanapun harus ada improvisasi di lapangan, jangan lupa GPS google dan GPS asli hehehehe. Selamat malam, have a nice weekend. Wilujeng Idul Qurban 1443 Hijriyah. Wassalam (AKW).

***

The Manglung View & Resto.
Jl. Ngoro ngoro ombo No. 16 patuk, Kecamatan Patuk Kab. Gunung Kidul Yogyakarta.

KOPI Modern vs KOPI Jadul

Perbandingan yang menikmatkan.

YOGYAKARTA, akwnulis.com. Sejuknya pagi menambah kenyamanan kali ini. Setelah berjalan santai di taman yang rindang dan menghijau, tiba saatnya sarapan dengan beraneka sajian. Meskipun tetap, kopi menjadi catatan penting. Karena dengan kopi, tema tulisan tetap terjaga sekaligus marwah blog ini sesuai janji dan taglinenya NGOPAY & NGOJAY.

Makanan yang disajian beraneka pilihan, membuat sebuah catatan penting bahwa hotel Royal Ambarrukmo ini sebuah hotel recomended buat liburan keluarga dan atau suatu saat bisa berkesempatan mengajak orangtua.

Terkait tentang sajian kopi, ternyata para penginap begitu dimanjakan. Karena aneka macam kopi berbasis mesin hadir disini, dari mulai versi kohitalanya adalah Espresso dan Americano, ataupun cappucino dan cafelatte. Ditambah juga kopi asli yang diseduh manual tanpa brew, alias ditubruk langsung di gelas dan kocek dengan sendok dengan nama yang tak kalah menariknya yaitu Kopi Lawasan.

Maka dua sajian beda jaman ini melengkapi kopi pagi yang penuh arti. Versi mesin kopi diwakili oleh sajian secangkir americano, jelas tanpa gula. Lalu versi masa lalu, Kopi tubruk Lawasan menjadi wakilnya. Lengkap sudah.

Terkait rasa, jelas sajian americano lebih lembut tanpa ada ampas dibandingkan kopi lawasan. Namun kopi lawasan menang dari sisi rasa kenangan kejayaan kopi di masa silam. Sementara kesamaannya adalah tinggal sruput aja jangan bikin repot sendiri. Jikalau kohitala baik americano dan kopi lawas bisa berbicara, maka kalimat yang hadir adalah : “Biarkan kepahitanku memanisi hidupmu.”

Begitulah cerita kopi pagi di kota gudeg kali ini, tunggu tulisan berikutnya menyusuri ‘hidden gems’ dengan tetap bertema kopi. Sekarang berkeliling dulu untuk menyantap sajian sushi, nasi uduk, jamu, omelet, coklat fountain dan dimsum. Nikmaat, Wassalam (AKW).

Jejak Leluhur 2

Bergerak agak jauh untuk lanjutkan jejak ziarah para leluhur.

SOLO, akwnulis.com. Berbaur dengan banyak orang di kereta KRL Jogja – Solo menjadi pengalaman tersendiri. Dengan harga yang bikin kaget, hanya Rp 8.000,- sangat jauh beda jikalau menggunakan moda transportasi lainnya. Eh bisa murah pake sepeda, tapi nyampenya kapan yaa?…… juga adaptasi teknologinya bagus, semua cashless. Dari mulai masuk peron, duduk di kereta hingga turun di stasiun tujuan.

Pas naik udah penuh, tapi anak kecil, ibu hamil afau orang sakit dan wanita ada hotseat guys dan kalau kayak kita nich, cowok kece dan sehat… caileeee…. maksain duduk di hotseat tersebut karena kursi lain penuh.  Siap-siap didatangi petugas dan disuruh berdiri. Maka semua mata penumpang lain akan ikutan lihat, malunya itu nggak nahan.

Maka mengalahlah, bapakke berdiri, anak istri bisa duduk dengan sedikit nyaman. Trus masker wajib terpasang dan nggak boleh makan minum apalagi merokok, jadi suasana tenang dan bersih tanpa sampah berserakan.

Tiba di Stasion Solo Balapan maka bergegas menuju hotel yang sudah dipesan dengan menggunakan becak bisa kembali bercengkerama dengan deburan… eh salah, semilir angin malam di kota solo.

***

Kehangatan sinar mentari pagi menyambut perjalanan kali ini. Sebuah pergerakan yang sedikit menguras rasa dan emosi karena harus belajar berdamai dengan diri dan memaknai sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri lagi.

Betapa tidak, jika setelah mencoba menghitung tahun. Ternyata sudah 5 tahun, tidak pernah menjejakkan kaki kembali di tanah leluhur sekaligus melakukan ziarah kubur di makam kakek nenek dari garis keturunan ayahanda.

Maka setelah sarapan pagi, berangkat ke daerah Sumber Girimulyo, dimana lokasi makam mbah kakung berada. Alhamdulillah lokasi dapat ditemukan dengan mudah dan GPS hanya sebagai pendukung aja. Jadi ingat dialog sewaktu kecil bercengkerama dengan Almarhum Mbah S. Partoredjo.

“Tumbas seket mbak”
“Koncomu piro?”
“Oalah cucuku lanang”
“Dahar mbah, Dahaaaar!!”

Ah kisah masa kecil yang menyenangkan, meskipun ada juga suasana malas mudik ke solo di kala libur lebaran. Karena disaat salaman harus antri begitu panjang dan sesuai urutan keturunan sambil berucap, “Ngaturaken sembah sujud bla bla bla….”

***

Makam Mbah Kakung terletak di samping komplek perumahan dan dekat dengan rumah om sentot, adik bungsu ayahku. Sehingga tidak sulit menemukan makamnya karena ada guide khusus hehehe… dilanjutkan dengan ziarah kubur ke makam Mbah Putri, Mbah Sayem Binti Kromobini yang berjarak cukup lumayan.

Maka untaian doa kembali hadir, semoga bisa diterima Illahi Robbi dan para leluhur kami ini berbahagia abadi di surga-Mu.

Bismillahirrohmannirrohim, Allohummagfirlahu Warhamhu Waafihi Wa fuanhu Waakrim nujulahu Wawasi’mad kholahu… Alfaatihah”

***

Terasa berat meninggalkan kedua makam yang menjadi asal muasal kehadiranku di dunia fana ini. Jika dari garis ibu adalah keturunan PERANCIS (peranakan ciamis) maka dari gadis ayahanda adalah keturunan OSLO eh solo.

Udah ah, kembali ke dunia nyata. Sesi ziarah kubur berakhir dan kembali merajut hari dengan berbagai aktifitas yang diharapkan bisa menjadi arti bagi mahluk lain dan diri sendiri. Wassalam (AKW).

Mesjid RM Ciamis

Menelusuri jejak leluhur

CIAMIS, akwnulis.com. Perjalanan kali ini memberi arti tersendiri. Bukan tulisan tentang tentang kopi tetapi lebih mendalam melebihi urusan duniawi.

Apa itu?”

Sebuah momentum perjalanan yang mengingatkan akan fananya dunia ini sekaligus dari mana diri ini berasal. Perberhentian saat ini adalah sebuah mesjid kecil yang ciamik dan bersih bernuansa putih dengan nama Raudhatul Mukminin.

Bukan sekedar singgah dan shalat sunat, tetapi jauh lebih mendalam lagi adalah dibalik tembok mesjid sebelah kiri. Berjajar rapi makam – makam para sesepuh keluarga besar Kartadibrata termasuk almarhumah nenek, ibu kandung dari ibuku.

Maka bergegaslah menuruni tangga batu, mengambil posisi terbaik dan berdoa untuk keselamatan di akherat sana semua leluhurku termasuk nenek Sumirah binti Kartadibrata.

Suasana lengang di makam keluarga ini, memberikan pesan tenang dan damai sekaligus kembali mengingatkan bahwa besok lusa giliran kita yang harus kembali ke haribaan Illahi Robbi. Maka persiapan bekal amal dan pahala harus tetap dan terus diupayakan demi keselamatan dan keberkahan abadi di akherat sana.

Oh ya, mesjid putih yang diatas kanan makam adalah mesjid keluarga besar Kartadibrata yang dihadirkan sebagai penanda, tempat shalat sekaligus dapat bermanfaat bagi banyak orang yang beristirahat sjenak, ngaso, atau sekedar menikmati makanan ringan di warung yang hadir sebagai penyemarak juga menjaga agar mesjid tetap bersih.

Bismillahirrohmannirrohim, Allohummagfirlaha Warhamha Waafihi Wa fuanha Waakrim nujulaha Wawasi’mad kholaha”

Itulah sejumput makna yang menemani perjalanan diri ke daerah priangan timur yang melintasi wilayah kabupaten ciamis ini, kabupaten leluhurku dari garis keturunan ibu.

Wassalam, AKW.

HOAX yg NIKMAT

Ternyata Hoax ini mah beda euy.

JAKARTA, akwnulis.com.  Sebuah pertemuan yang mengantarkan raga bergerak ke ibukota. Secarik undangan menjadi dasar bahwa kehadiran adalah sebuah keharusan. Apalagi berkaitan dengan anggaran negara, semua harus hati-hati, teliti dan betul – betul mempelajari regulasi yang sering berubah dan  berganti.

Namun kembali, cerita tentang kerjaan maka tertuang dalam laporan. Kotretan resmi dan sesuai naskah dinas akan hadir sebagai nota dinas. Namun kesempatan hadir di pinggir pantai ibukota negara tepatnya di daerah ancol harus dioptimalkan dengan berbagai aktifitas.

Trus ngapain aja bro?”

Gampang jawabannya, yang pertama disaat sesi istirahat sore menjelang malam segera bergerak dengan skuter (suku muter) atau jalan kaki dan usahakan minimal 6.000 langkah.

Diitung perlangkah gan?”

Ya enggak atuh, khan ada teknologi. Cukup pake gelang smartfit dan ber-skuterlah. Maka hitungan akan berjalan. Lalu supaya skuternya full motivasi, search dulu cafe kopi seputar ancol yang menjadi srandar tujuan. Nyalain googlemap, lets go.

Langkah mantabs bergegas menyusuri pinggir pantai, masih berbaju kemeja dinas ‘smiling west java’ tapi sepatu slip on karena pasca operasi ternyata belum bisa pake sepatu biasa.

Setting tujuan diperkirakan 30 menit saja, biasanya cukup 6.000 langkah. Kalau kurang ya ditambah lagi aja. Gitu aja kok repot.

Nah, perjalanan inilah yang menemukan sebuah nilai penting. Yaitu cerita tentang HOAX. Kita tahu semua bahwa Hoax ini sering menyengsarakan karena berupa berita bohong dan menyesatkan. Bisa membuat kegaduhan di keluarga, kedinasan, masyarakat juga bangsa dan negara.

Tapi Hoax kali ini berbeda, karena ternyata ini adalah HOAX yang nyata kawan. Ceritanya setelah perjalanan dari hotel mercure – putri duyung cottage – bunderan Symponi of the sea – danau ancol hingga Bandar Jakarta – Colombus cafe – Le Bridge – dan ada yang menarik yaitu sebauh Cafe dengan nama HOAX, cuma karena target langkah nelum terpenuhi  lanjutkan skuternya sampai ke Ereveld Ancol (Dutch War Cemetery Ancol)….. tapi pas mau naik jembatan yang membelah pantai, kok serasa nggak enak hati. Apalagi suasana agak temaram dan sepi.

Ya sudah balik kanan dech, lagian sudah 6.321 langkah. Mencari mushola lalu bergerak kembali ke arah tadi berangkat. Cafe HOAXlah yang menjadi tujuan.

Alhamdulillah, tempatnya nyaman dan pilihan menunya variatif, bukan hoax guys. Lalu yang paling penting adalah ada sajian kopi meskipun kopi berbasis mesin. Lumayanlah, cafelatte bisa menemani kesendirian pada malam hari ini.

Jadi sekali lagi, di daerah ancol inilah baru menemukan nama hoax yang bermanfaat. Srupuut gan. Wassalam (AKW).

Kopi Monju

Hayu ah kita Srupi… Sruput hepi.

BANDUNG, akwnulis.com. Jumat pagi adalah saatna menggerakkan kaki sambil menemani otot meregang bersama helaan nafas kesegaran. Tapi ingat, dengan catatan memang tidak ada kegiatan  dinas di pagi hari.

Tentu dilihat dulu penjadwalan kegiatan kali ini. Medio jam 07.30 sampai 09.00 wib relafif aman, nah selanjutnya jadwal padat merayap baik yang hadir online dan offline.. meluncuur.

Kamu mah meluncur aja, emangnya mau ski air atau ski di es ya?”

Aduh bestie ini mah hanya ungkapan, meluncur itu artinya berangkat cuy”

Ya udah capcus”

Langsung pasang posisi start dan aktifitas ber-skuter berlangsung. Kaki kanan lebih dahulu lalu kaki kiri dan mengayunlah bergantian dan bergerak semakin cepat sehingga jika dilihat secara kasat mata, kaki ini seperti berputar. Itulah makanya disebut skuter yang asal katanya sukuter alias suku muter (kaki berputar).

Jangan lupa niatkan olahraga dengan basmalah juga pake jam gelang penghitung langkah supaya ada ukuran dan bukti berskuter pagi ini. Melangkaah.

Menyusuri trotoar sepanjang jalan Riau atau LLRE martadinata, belok kanan ke jalan citarum, lewati sisi timur gedung sate hingga memasuki jalan diponegoro dan menyusuri pinggir gasibu. Akhirnya menyebrangi jalan raya paspati menuju area monumen perjuangan rakyat jawa barat. Lumayan skuter 40 menit dan dapat 3.882 langkah.

Tiba di area monumen perjuangan jawa barat atau MONJU atau MONPERA.. disambut dengan keramah tamahan teman – teman yang bertugas disana. Menemani berkeliling termasuk memberi suguhan segelas kopi panas yang nikmat.

Tring…
Muncul ide.

Segelas kopi yang disajikan langsung diboyong ke pelataran monumen perjuangan. Sambil berkeliling melihat hasil kerja pemeliharaan monumen sekaligus memilih spot poto yang tepat.

Tapi, Sebuah keindahan hadir dengan penelungkupan. Yup nangkuban atau telungkup di lantai hangat pelataran monumen langsung dijalani demi hasilkan angle photo yang tepat. Nangkub gan.

Keceng dan cetrek, cetrek, cetrek.

Motretnya pake hape aja, da ini mah cuman hiburan.  Jadi inget istilah baheula, ‘No Pain No Gain’… pengen gambar yang indah, maka telungkuplah hehehehe.

Selamat menikmati pemandangan dan dijaga oleh secangkir kopi. Wassalam (AKW).