Kangen & Arabica Manglayang Karlina

Berkunjung dan bercengkerama bersama orangtua dan Kopi Arabica Manglayang Karlina.

Photo Pemandangan di perjalanan ke rumah ortu / dokpri

Malam belum lama melewati pukul 9, tetapi rasa kantuk begitu kuat menyerang. Tapi jangan mudah menyerah… lawan kantuk itu.

Lawaan!!!!

Mungkin efek perjalanan yang cukup lumayan berkelok dan menanjak ke rumah orang tua tersayang di ujung wilayah Kabupaten Bandung Barat berbatasan dengan Kabupaten Cianjur. Ditambah makan malam yang super kenyang dengan sajian ‘bakakak hayam”*) original racikan ibunda juga udara dingin pegunungan membuat lengkap suasana untuk segera merebahkan raga di peraduan.

Eittts…. jangan menyerah duluuu… ada senjata pamungkas.

Jrengg!!!!

***

Peralatan perang segera di bongkar dari tas ransel kesayangan. Corong V60, kertas filter, termometer, gelas ukur dan jangan lupa…. bubuk kopi hasil ng-grinder tadi pagi… Kopi Arabica Manglayang Karlina dari Kiwari Farmers.

Meskipun timbangan digital mini nggak dibawa, tapi timbangan feeling aja diberlakukan dengan ukuran kira-kira…. urusan air untuk menyeduh… biarkan dulu mendidih di ceret dan diamkan 2-3 menit supaya suhunya bisa turun ke 90an derajat celcius.

Sudah siaaap?

Okee…. Filter V60 dibasahi dan buang airnya. Tuangkan kopi Manglayang Karlina hasil grinderan sekitar 4 sendok makan…. tuangkan air panasnya sedikit agar bubuk kopi membebaskan sisa oksigen yang terjebak disaat penggilingan. Setelah itu prosesi manual brew bergerak serasi memberi ruang kepada sang kopi untuk merubah diri dalam momen ekstraksi.

Hmmm….. harum menyeruak hidung.
Ekstraksi kopi single originnya menghasilkan rasa sepat sedikit manis, keasamanan medium high dan body bold bikin nyisa di lidah lebih lama. Taste yang muncul fruity yang menyegarkan serta sedikit karamel yang muncul di akhir peminuman… apaa sih bahasanya.. akhir seruputan… 🙂

***

Alhamdulillah, senjata pamungkas andalan bisa bekerja pada waktunya. Menstimilasi neocortex dan amigdala agar bisa sejalan dan menghasilkan ide-ide berharga serta rasa takjim penuh makna. Begitupun syaraf-syaraf kembali bergembira menambah stamina bercerita kepada orang tua tentang apa saja. Detik berlalu menit melaju, kami terus berbincang dalam cengkrama diselingi canda yang jarang bisa terlaksana karena alasan kesibukan kerja juga urusan dunia lainnya.

Aku masih segar bugar sementara Ayah yang mulai terlihat mengantuk. Ibunda tetep ceria dan bertahan dengan kecerewetannya… Alhamdulilah, semua sehat dan bahagia di hari tua. (AKW).

***

Tebing Keraton

Menikmati kesendirian di Tebing Keraton.

Photo Sunrise kesiangan dari Tebing Keraton / dokpri

Sebuah harapan jangan hanya menjadi angan, tetapi perlu ikhtiar dan usaha maksimal agar berbuah kebaikan.
Berbuat baik bukan hanya untuk orang lain, berbuat baik untuk diri sendiri juga sangat penting…

Aaah egois kamuuuh!!!

Jangan salah sangka dulu kawan. Egois atau egoisme itu asalnya bahasa yunani yaitu ‘Ego’ artinya ‘gue, aku, ana, aing’ dan ‘isme’ adalah tentang pemahaman dalam konsep filsafat. Jadi segala yang ada itu adalah aing, adalah aku. Akibatnya bersikap mementingkan diri sendiri, merendahkan orang lain, tidak mau mendengar pendapat orang lain dan banyak lagi turunan perilaku yang kurang atau malah tidak baik, dalam bahasa arab disebut ananiah.

“Klo PERSIB nu AING!!!’, itu egoisme bukan?”

Hehehehe, menurut aku sih bukan. Itu mah rasa cinta mendalam bagi klub sepak bola kesayangan atuhh.. “Hidup PERSIB”.

Klo egoisme mah.. slogannya, “Ieu Aing, kumaha Aing…..)”

Ah kok jadi uang aing yach… maafkan daku para pemirsyah. Memang klo udah nulis sesuatu itu bisa belok kemana aja… tapii tetep harus ada koridor pasti yang bernama ‘Tema’.

***

Saat ini sedang terdiam memandang hamparan hijau bentang alam kehidupan di ketinggian Kawasan Hutan Raya Ir. H. Juanda Bandung Jawa Barat.

Sebuah asupan gizi bagi jiwa dan pikiran serta membuat denyut bathin semakin tenang untuk sesaat bersatu dengan alam….. seraya menundukkan jiwa menengadahkan raga penuh rasa syukur atas nikmat Illahi Robb…

Tebing Keraton, itu nama tempatnya. Sebuah wahana alam eksotis yang memberikan kesempatan kepada kita untuk melebarkan mata meluaskan pandangan hati. Memandang indahnya jajaran hutan pinus yang pucuknya bercumbu bersama awan disinari mentari yang tak pernah letih memenuhi janji untuk terus mengitari bumi.

Setelah menyetir sekitar 30 menit dari rumah, melewati jalan Ir. H. Juanda atau Jalan Dago hingga ujungnya diataaas sana…. teruss ikuti arah ke Dago Pakar. Ntar ada petunjuk ke Tahura belok kiri… ikuti aja jalan berkelok hingga melewati gerbang pengunjung Tahura… masih lurus terus. Sekitar 300 meter ada jalan belok kanan… ikutiii….teruss..kira-kira 5 km akhirnya berhenti di parkiran sekitar Warung Bandrek.. (Masih bingung?… kemana arahnya ya, tinggal buka google map… ikutin.. nyampe dech…)

Dari parkiran mobil klo moo keringetan deras mengucur tinggal jalan kaki aja.
“Cuma 3 km dengan jalan menanjak berkelok dan ada yang masih berbatu..”

“Whaaat?…”

“Whaaat…”

“Yang bener aja?”

Kalem mas bro, akses 3 km itu tinggal 500 meteran yang kurang bagus, sisanya udah beton. Buat nyampe ke pintu gerbang Tebing Keraton ada jasa pengantaran ojeg. Tarifnya 30ribu per orang sekali anter, klo moo ditungguin sama mamang ojegnya 50ribu. Itu hasil kesepakatan Masyarakat sekitar dengan Pengelola Tahura.

Klo udah nyampe gerbang, bayar karcis 15ribu dapet secarik tiket dan asuransi plus gelang ijo unyu-unyu bertuliskan ‘Tahura Juanda, We are the forest’.

Tinggal jalan kaki menurun dikit ikutin jalan paving block yang tertata rapih. Plang petunjuk jalannya jelas, klo lurus terus ke arah perkemahan, klo belok kiri dikit.. itu arah ke Tebing Keraton.

Ada juga ke kiri menurun banget.. itu buntu menuju hutan pinus.

***

Photo selfie dan Welfie seolah menjadi keharusan, penunjung berebut untuk mengabadikan diri agar ada bukti pernah hadir disini. Setelah itu dengan sekejap mengabarkan diri kepada dunia bahwa aku sedang disini, dengan berbagai pose serta sentuhan teknologi aplikasi penghalus wajah agar meraup ‘like‘ mengumpulkan jempol serta menanti taburan komentar yang menghiasi medsos masing-masing…. perkembangan jaman tidak bisa dilawan.

***

Alhamdulillah, suara binatang hutan menemani kesendirian ini. Memberikan harmoni musik alami diselingi siulan burung bersahutan. Dedaunan hijau memandang dan memberi kesejukan, membuat jiwa ini tenteram dalam balutan alam… tetapi akhirnya panasnya sinar mentari mengingatkan diri bahwa waktu ‘me time’ sudah berlalu.

Ayo kembali ke dunia nyata yang penuh suka duka. Wassalam (AKW).

Idul Adha & Kopi Arabica BTH

Tuntas berQurban disambut Kopi Arabica Pangalengan Premium BTH (Breaking The Habits).

Prosesi penyembelihan kambing / dokpri.

Tuntas memotong kambing bersama tetangga di belakang rumah, terasa kebersamaan itu begitu indah. Berbagi hewan qurban bersama tetangga belakang rumah. Bersiap menikmati daging domba yang sedang di recah serta nanti di bagi bersama-sama, insyaalloh penuh berkah.

Perayaan Idul Adha melatih diri mengasah iman dan keikhlasan tingkat tinggi yang dicontohkan Nabi Ibrahim A.S. jika di Mekah sana semua wukuf di arafah, disini kita shaum sunnah arafah lalu shalat ied qurban berjamaah lalu berbagi bersama saudara-saudara muslim dan muslimah.

***

Beres menyaksikan penyembelihan segera beranjak dan kembali ke rumah karena sedari pagi belum sarapan. Tetapi setelah tiba di meja makan langsung berganti tujuan. Sebungkus biji kopi Arabica Java Premium Pangalengan sudah menanti untuk dinikmati penuh kemenangan.

Sarapan tahan duluu….. nyeduh kopi segera beraksi.

Jreng

Jreng…..

Dengan panas air yang tepat maka menghasilkan tetesan kopi penuh rasa niiiikmat… biji kopi arabica Pangalengan Jawa Barat yang berlabel ‘Breaking The Habits’nya Kang Agung Fatwa menebar aroma harum membunga disaat baru membuka kemasannya.

Apalagi berpadu dengan gigi-gigi tajam grinder, semakin membuka rasa kopi khas Jawa Baratnya… aroma segar melingkupi seantero ruang pernafasan. Menyebar memenuhi ruang makan hingga menyentuh ujung hidung anggota keluarga yang sedang berkumpul merayakan hari Idul Adha.

Dari anak kicik nan cantik, Binar Wardana hingga para ponakan dan ayah ibunya pada bejibun kumpul bersama di meja makan… bukannya moo nyantap sambel goreng ati tetapi nonton Mang Kopi dadakan yang lagi atraksi manual brew pake V60.

“Tapi bener kok, prosesi seduhan ini perlu tahapan yang ajeg, regulasi jelas serta ketetapan hati plus teliti juga konsentrasi, baru hasilkan rasa abadi tentu dari biji kopi yang memang sudah teruji” Gituu khotbahnya dari Mang Kopi.. hahahahaha.

Semua hadirin terdiam sambil senyum-senyum sendiri, dengerin ceramah kopi yang bikin geli. Tapi yang pasti rasa kopi Arabica Pangalengan ini memang patut diadu… haruuumnya itu.. nggak bakal nyesel dech.

***

Srupuuut……. hmmmm…. yummmy!!!

“Bener bingit, nich kopi ajiiib. Harum, asemmnya seger plus pahitnya menenangkan”, komentar Adik ipar sambil trus nuangin lagi di gelas kaca mini….

Paket lengkap buku dan kopi BTH / dokpri.

Srupuuut, Mang Kopi juga buru-buru minum, takut keabisan… sedih atuh, Aku yang nyeduh cuman kebagian harumnya doang….

Ternyataa…..

Pemirsyaaahh…..

Acidity khas Java Preanger premiumnya dapet… nendang abis, medium high. Berpadu dengan taste fruitty beraneka berry dan selarik jeruk. Body medium cenderung bold, meninggalkan jejak agak lama di bawah lidah, bikin kangen nyeruput gelas selanjutnya.
Aroma jangan ditanya.. harum abiis.. segaar dan bikin terlena.

***

Sebagian perlengkapan prosesi kopi / dokpri.

Akhirnya tandas tanpa menunggu lama. Seduhan kedua dan ketigapun habis dinikmati bersama, sajian kopi Arabica Pangalengan Premium ‘Breaking The Habits’ menemani kebersamaan di hari raya.

Selamat Hari Raya Idul Adha
Berlatih Ikhlas serta berbagi dengan sesama
Jangan lupa Ngopi bersama.

Satu lagi, hatur nuhun kopinya Kang Agung Fatwa. Wassalam (AKW).

Hikmah Kopi 2 – tamat.

Lanjutan dari cerita ‘Hikmah Kopi’, dari tersakiti jadi hepi.

Lanjuran cerita dari Hikmah Kopi.

****

Hasil manual brew Kopi Pangauban / dokpri

“Kenapa harus bete??…. “
Sebuah tanya menggantung di langit-langit harapan. Menelusup ke jaringan syaraf menuju neocortec dan berkumpul di pusat syaraf penantian. Perlahan seiring nafas yang sudah tidak memburu, kesadaran kembali menguasai jiwa memenuhi kekosongan raga.

Perlahan tapi pasti menyusun kembali serpihan kesadaran sambil belajar memahami bahwa takdir adalah sebuah keniscayaan hakiki.

“Sudahlah lupakan kopi yang tadi, redam emosi dan mari jalani hari dengan keceriaan alami!” Begitulah doktrin yang mengembalikan kembali suasana mood hati hari ini.

Yakinilah takdirmu, dan berbahagiah!!!.

Inilah cara Allah SWT menegur diri yang hina ini, seorang hamba yang terlarut dengan pesona kopi luar negeri. Padahal masih suangaaat banyak jenis kopi nusantara yang belum dinikmati tanpa perly banyak keluar materi.

Sombong kamuuuh!!!!

Istigfar lagiii…..

Akhirnya senyum kecut sendiri, dalam hati memohon ampun atas ketidakmampuan mengelola emosi ini. Meskipun bayangan kopi terus membayangi, tetapi emosi sudah bisa didudukan sesuai fungsi.

Selamat tinggal kopi Duarte-Columbia.

***

Setelah ngebut mengendarai mobil untuk kembali ke rumah. Macet di perjalanan sudah pasti, tetapi semua di jalani aja… moo gimana lagi…

Nyampe rumah……

Nggak pake ba bi bu. Parkir mobil, cipika cipiki anak syantiiek sholehah juga ibunya…… sieeeet……

Segera gelar perlengkapan, colokin kabel grinder, pilih bean yang setia menanti…..

Terrrrrr…….

60gr biji kopi arabica Pangauban Garut memberikan efek vibrant, mengikis kedongkolan berganti rasa syukur karena ngopinya segera tergantikan oleh rasa yang lebih mengena setelah kejadian tadi siang….

Alhamdullillahirobbil alamiin….

Manual brew rumahan segera tersajii…. yummmy

Acidity alami versi Java Preanger Coffee menenangkan hati, haseum yang segerrr…… body medium dan aroma fruitty… taste guavanya belum terasa.. mungkin nge-manual brewnya kurang teknik… tapi yang pasti.. menyegarkaaaan…

Itulah sebuah kisah tentang Kopi yang bisa menguji emosi tetapi akhirnya kembali hepiiii…. cukup dengan secangkir.. 2 cangkir… 3 cangkir… eh 4 cangkir kopiiii… Wassalam (AKW).

Hikmah Kopi….

Kopi itu bikin asyik bukan jadi mengusik.

Menit ke 35 rasa penasaran memuncak, segera memanggil untuk ke 3x pelayan yang kebetulan ada di dekatku, “Bang, orderan manual brewku udah siap?” “Saya cek dulu kakak” segera badannya berbalik dan menjauh.

Tak sampai 1 menit, waitres muda itu kembali dengan wajah sedikit tegang, “Mohon maaf Kakak, ternyata orderan Kakak tadi belum masuk lits order. Kalau berkenan menunggu 15 menit lagi”

O.. ooow.. 35 menit terbuang percuma.

“Close aja, orderannya nggak jadi!!!” Agak emosi menguasai nada suara, waitres muda tertunduk. Segera beranjak menuju kasir untuk melakukan transaksi pembayaran ‘Picollo‘ istriku yang sudah tandas sedari tadi trus pamit ke Mushola duluan.

“Pantesan, kok meja depan baru datang, eh nggak berapa lama tersaji manual brewnya lengkap dengan notecardnya serta udah pasti aroma harumnya… Grrrr”

***

Tiba di depan kasir hanya menunjuk meja untuk memastikan minuman yang sudah di order… ternyataa.. print outnya tertera juga 1 orderan manual brew yang tidak pernah tiba… Yaa ampyuuun…. ingin rasanya teriak dan marahi semua.

Mulai dari waitress yang pertama menerima orderan, kasir, barista hingga manajernya… atau kalau perlu di viralkan di media sosial agar kekecewaan ini bisa mendunia…

Grrrrrr……

Photo Bungkus kopi yang nyaris dinikmati / dokpri.

Yang bikin gemes juga karena di otak sudah terkonstruksi sajian apa yang akan dinikmati. Kopi DUARTE Columbia yang memiliki taste spesifik, yaitu lemonade, black tea dan butterscotch…. yang tercantum di bungkusnya.

Tapiii…….. ternyata takdir bicara lain. Harapan ternyata tak sesuai kenyataaan. Disaat pesanan meja depan dan samping kanan berdatangan sajian manual brewnya… “Pasti ada yang tidak beres”

***

Terpaksa meninggalkan area cafe dengan rasa dongkol yang menyesakkan jiwa… Sialaaan!!!

***

Berjalan cepat meninggalkan cafe dengan hati masih terasa panas gara-gara segelas kopi…..

“Eiits… kok jadi bete?.. khan kopi itu bikin hidup lebih cerah… ayoo berfikir positifff!!!”

Suara hati memberi sinyal imani, jangan terjebak dengan suasana hati yang diliputi api amarah karena nggak dapet kopi. Tapi mungkin ada suatu hikmah yang bisa diambil dari semua kejadian ini.

Nggak pake lama, segera bersandar di tembok mall, menghela nafas panjang… biarkan dada yang sesak ini jadi teratur dan tidak lupa ber-Istigfar, “Astagfirullohal adzim”

Bersambung….. *)

Ini lanjutannya Hikmah Kopi 2.

Pejuang Kopi – Parakan Muncang

‘Biarkan kopi mengeluarkan rasanya sendiri’

Sebungkus Pejuang Kopi / dokpri.

Yuk kita unboxing kopi lagi… segera liat di tempat penyimpanan. Well… congratulation.. masih adaaa… bungkus coklat 200 gram.. tadaa..

Nggak pake lama, cari gunting dan di buka… aroma acidity dan fruity menyeruak segar… langsung colokun kabel grinder ke stopkontak. Beannya masuk ke wadah grinder… trek!!.. nyalakan…..
zrrrrrrrrrrr…..zzrrrrrtr..zrrrrr

Grinder bekerja di ukuran 7-8 supaya hasil grindernya jadi bubuk kasar yang cuuucok buat di manual brew pake V60.

***

Jangan bosen baca tahap persiapannya kawan… memang begitulah yang sebaiknya dilakukan untuk dapetin secangkir kopi asli dengan pola seduh manual. Termometer, corong V60, filter, bejana, gelas ukur, timbangan digital, teko gosseeneck, air panas dan jangan lups kopinya hehehe.

“Are you ready?”

Currr!!!!…. penyeduhan dimulai dengan komposisi 1 : 20 ah…. air panas menari sambil mengucur searah jarum jam mengelilingi bubuk kopi yang ikhlas untuk berekstraksi, menghasilkan rasa original yang diproses oleh seorang pemula tapi bergaya barista profesional heu heu heu.

***

Ini hasilnya segelas pejuang kopi / dokpri.

Hasilnya……. wooow… nendang mas brooow!!!! (Sesuai dengan tagline di bungkusnyaaah : ‘Biarkan kopi mengeluarkan rasanya sendiri’)

Aromanya kuat dan fruittynya tajam, body bold bikin sedikit terdiam karena pahitnya terdiam agak lama di ringga mulut plus aciditynya yang tinggi mendekati rasa winey yang setengah mateng berfermentasi serta taste fruitty yang berlimpah ruah, ada selarik rasa anggur juga jeruk trus… muncul asamnya kedongdong dan tomat.. pokoknya over all… sebuah sajian pahit menyegarkan bikin sore ini penuh keceriaan. Wassalam (AKW).

***
Catatan :
Tulisan di blog ini adalah hasil panca indera pribadi yang masih awam dengan kopi tapi belajar menjadi ‘Penikmat’ cairan hitam penuh misteri.

Kopinya :
Pejuang Kopi Warung Bako
Parakan Muncang
Tagline ‘Biarkan kopi mengeluarkan rasanya sendiri’
WA 0817627262 / 082115545437
IG @waroengbakocofee / @
Waroengbakogarut
________________________

TMP Cikutra 2018

Merenungi sebuah intisari dari para pejuang kemerdekaan sejati.

Photo : Dokumen pribadi

Julang tinggi tugu menhir raksasa yang berpasangan menyambut kedatangan kami, pembawa jejak kaki kecil penuh niat plus harap. Sunyi dan temaram terasa menusuk jiwa, padahal bukan sendiri ada disini. Banyak raga bergerak menuju titik kumpul, dikelilingi dan diiringi ribuan jiwa yang berjasa mengantarkan kemerdekaan bagi kami, Indonesia NKRI.

Detak jam kehidupan terus bergerak menuju titik kulminasi 00.00 wib. Sementara berbagai raga dengan balutan seragam aneka rupa mulai membentuk barisan yang tertata. Jas dasi dan peci hitam terlihat berjajar rapih menjadi ciri para Aparatur Sipil Negara, begitupun seragam upacara militer dari anggota TNI dan POLRI, Ormas Kepemudaan serta unsur masyarakat.

Photo : Persiapan Renungan Suci / Dokpri.

Hormat dan Grak menjadi jodoh yang tak terpisahkan, memberi nuansa kepatuhan sekaligus kepasrahan. Sementara dinginnya malam tak berani mendekati raga-raga yang berbaris rapi, hanya bisa mengelilingi tanpa mampu memegang kendali. Begitupun nyamuk malam hanya terdiam di pucuk rerumputan, seakan terlarang untuk menyentuh kulit kehidupan yang begitu tekun serta taat terhadap instruksi teriakan Komandan.

Rangkaian upacara penghormatan bagi arwah para pahlawan berjalan khidmat dalam kegelapan. Lengkingan terompet memecah keheningan, menjadi satu-satunya musik yang membelit rasa mengendalikan pikir. Semua hening sehening heningnya.

Lengkingan terompet terus bergerak menelusuri relung hati, memberi sebuah arti bahwa kehadiran kita semua di tengah malam ini adalah sebuah apresiasi. Janji dan renungan suci, penghormatan kepada para pahlawan sejati yang berjuang meraih dan mempertahankan kemerdekaan negeri.

5.774 orang disemayamkan disini 5.132 orang Angkatan Darat, 19 orang Angkatan Laut, 242 orang Angkatan Udara, 177 orang Polri, 71 0rang sipil dan 193 orang pahlawan tak dikenal.

“Untuk menghormati Arwah Para Pahlawan, Hormaaaat Graakk!!!” Sebuah instruksi membahana, peserta serentak mengangkat tangan, menempelkan tangan kanan di dahi. Hormat sejati.

Meskipun terus terang saja, tak berharap hormat ini dibalas, sungguh… jangan dibalas yaaa… please.

***

Photo : Makam yang rapi / dokpri.

Akhirnya prosesi renungan suci berakhir sesuai janji, semua hadirin bergerak meninggalkan lokasi. Tak ada satupun yang memisahkan diri untuk berdiam diri hingga pagi. Semua pulang menuju mimpi yang dirajut dengan penuh warna warni.

Selamat berpisah kawan, selamat tinggal Taman Makam Pahlawan Cikutra. Wassalam (AKW).

***

Tahun lalu juga Renungan suci lho.. ini nich RENUNGAN SUCI 2017.

—————————–
Catatan :
Ini adalah satu-satunya upacara seremonial yang dipastikan tidak ada peserta yang kabur, menyelinap dan pulang duluan dengan alasan apapun. Apalagi nongkrong merokok sendirian di belakang barisan. Semua tertib datang dan pulang secara bersama-sama lagi.

Kenapa coba?… ayooo tebak.. 🙂

Nyeduh Kopikir Bogor

Nyeduh kopi sambil mikir, kopi apa ini, misterius, tapi ah.. kok dipikir, nikmati aja Kopikir.

Senin pagi setelah tuntas mengaji, segera menggerakkan kaki untuk bersiap apel pagi. Tetapi karena waktu masih banyak maka dilanjutkan dengan diskusi bersama membahas banyak hal bersama para pejabat eselon dua, dari topik sederhana hingga yang agak serius , pembicaraan mengalir terbangun alami.

Tapi akhirnya segera undur diri karena ada tugas mandiri yang harus segera dimulai, apa itu?…. nyeduh kopiiiiii.

“Kenapa jadi penting?”

Pertanyaan yang standar, tapi selalu ada hal yang bisa dijadikan alasan. Pertama karena memang suka banget kopi dan kedua ini kopi gratis tis tis, dikirim via paket dari Bu Dewi yang bekerja di Pemerintah Kota Bogor. Ketiga, ini kopi lokal nusantara. Karena beberapa minggu belakangan hampir semua kopi yang tersaji adalah kopi luar negeri. Padahal kopi Nusantara is the best lho.

Hatur nuhun ya Bu Dewi.

Sudah 2 minggu lebih sang kopi ini dibawa kesana kemari. Tetapi belum ada kesempatan untuk menyeduh sendiri. Maklum lagi sok sibuuk hehehehe. Jadi menikmati kopi tanpa gulanya lebih banyak yang disajikan manual brew oleh orang lain.

Nah pagi ini… saat yang tepat sebelum apel pagi untuk menyeduh si hitam bubuk harum dari bogor ini.

Bungkusnya menarik, alumunium foilnya berlapis warna putih dengan gambar depan yang minimalis bertuliskanKopikir‘... maksutnyaa?… kopi + kir atau ‘kau pikir’ kali yaa?… atau kok pikir pikir?… entah lah, yang pasti dibawahnya ada tulisan kopi bogor.

Nggak pake lama, stalking dulu via gugel dan medsos, Instagramnya lucu… dan disebut berbagai varietas kopi di Nusantara, ada Gayo hingga Toraja juga Balinese and Javanesse… yang ini dari mana ya?… bungkusnya di bolak balik. Ada gambar kijang dan dibawahnya gambar karikatur yang menggambarkan suasana kota Bogor… jadi penasaran. Misterius yeuh.

***

Alat tempur segera disiapkan, kertas filter, V60, termometer, timbangan, gelas ukur dan tentunya air panas sesuai harapan. Nggak lupa basahin dulu kertas filternya dengan kucuran air panas sebelum bubuk kopi diseduh dengan sepenuh hati.

Setelah semua siap, 48 gram bubuk kopi segera disentuh perlahan oleh kucuran mesra 400 ml air panas temperatur 90 derajat celcius…
Hmmm…. aroma harum kopi memenuhi ruang harap, bikin senin pagi semakin semangat setelah tadi pagi jam 03.00 wib sudah mandi karena jadwal shubuh berjamaah sudah menanti.

Tes….

Tes….

Tes…. tetesan cairan hitam kopi berkumpul di bejana kaca transparan.. ah nggak sabar nich untuk segera menikmati.

Tuntas di bejana segera dituangkan pada cangkir kecil kesayangankuu….

Daan…. srupuuut…. kumur dikitttt…. glek….

Dessss…… sebuah rasa menyeruak di pagi ceria. Aroma harum dengan kepahitan merata dan tertahan lama dibawah lidah (body bold… kayaknya blended arabica dan robusta… atau roastingnya maksimal.. dark roast.) Aciditynya rendah, taste yang muncul rasa dark coklat dan selarik rasa kacang tanah… yakin ini bukan javanesse coffee…. apa yaa?

Ah tapi nggak perlu banyak tanya, tapi nikmati aja.

Ntar klo ketemu bu Dewi, baru tanya-tanya lagi. Yang pasti kopikir yang sudah dikirim ini begitu nikmat. Malah 400 ml hasil manual brew hanya bertahan sesaat di bejana karena segera habis di nikmati bersama.

Hatur nuhun bu Dewi, Wassalam (AKW).

Manual Brew di Negeri Singa

Menikmati nge-manual brew di negeri orang…

Waktu menunjukan jam 23.30 WS (waktu singapura) disaat bubaran diskusi kelompok di Lobby Hotel Boss. Phisik yang mulai lelah karena terforsir agenda kegiatan yang padat tetap terhibur dengan celoteh jenaka rekan-rekan disaat diskusi dinamisasi persepsi tentang makna dari konsep kepemimpinan kolaborasi…. halaah serius pisan nyak?.. kalem ini mah tetep blog yang bertema sederhana kok.

Jadi moo bahas apaan?…

Bahas kopi..

#clingak
#clinguk

Amaan….. yuk nulis lagiiie.

***

Sebelum tiba di kamar, nyempetin dulu survey kolam renang fasilitas hotel yang berada di lantai 4…… keluar lift ambil arah kanan dan kiri sama saja bisa aksee ke kolam renang dan ruang terbuka serta area merokok yang bebas… (maklum di singapur khan nggak boleh merokok sembarangan)… air kolam renang membiru mengajak segera bergabung bercengkerama dalam gerahnya malam…

Sungguh menyenangkan andaikan bisa menceburkan diri di malam hari dengan background gedung tinggi terang benderang buricak burinong… nikmat sekali. Tapi harapan harus ditepis karena waktu untuk nyebur sudah habis……yaach… nggak sempet berenanggg….

Setiba di kamar tak lupa membersihkan diri dan shalat magrib-isya jama qashar (manfaatkan kemudahan fasilitas Allah).

Setelah semua tuntas baru nyiapin ritual kopi yang membahagiakan. Sebungkus kopi gayo aceh yang dibawa dari Jatinangor tersenyum ceria setelah seharian berhimpitan dalam koper hitam kesayangan. Corong V60 pinky, kertas filter segera tersaji sementara untuk air panasnya sengaja membeli cadangan air destilasi 1500 ml seharga 2 dolar singapura khawatir yang dua botol kecil fasilitas hotel nggak mencukupi.

Pemanasnya udah ready, fasilitas hotel… nggak pake lama, segera proses pembuatan air panas dimulai. Sambil menunggu mendidih, beresin dulu peralatannya di keramik hitam yang menjadi meja di kamar hotel….

Trekk!!!... suara katup mematikan sambungan listrik di ketel.. berarti udah mendidih nich. Diamkan dulu ahh…. teorinya supaya suhu turun dibawah 100 derajat celcius… karena manual brew itu aku mah yach ikutan di range 85 – 93 derajat celcius… supaya dapet originalitas ektraksi dari kopi yang akan tersaji.

***

Jangan lupa kertas filter di corong V60 di basahi air panas dulu… buang airnya. Lalu tuangkan bubuk kopinya kira-kira 4 sendok makan… siap-siap membebaskan oksigen melalui proses bloomin.. caranya tinggal seduh perlahan air panas di tengah2 bubuk kopi… sedikit saja… dan biarkan berbusa… itu klo berbusa.

Klo udah beres…. proses manual brew dengan kucuran air perlahan berputar dari luar searah jarum jam… biarkan bubuk kopi bersentuhan dengan panasnya air dan berekstraksi sempurna menghasilkan cairan kopi yang penuh citarasa.

Tunggu hingga tetes terakhir yang jatuh dari ujung V60 ke gelas yang ada.. gelas hotel. Soalnya klo bawa labu kaca buat nampungnya berabe.. takut pecah diperjalanan khususnya bagasi di bandara.

selamat menunggu.

***

Hasilnya…. Body medium cenderung bold.. kepahitannya agak getir heuheuheu. Acidity terasa tetapi stabil (medium), aroma biasa… tapi untuk rasa kebathinan begitu menggelora karena di negeri orang masih bisa menikmati kopi asli Indonesia dengan racikan V60 darurat versi peralatan ala kadarnya.

Srupuuut nikmat….. ingat ya untuk menikmati rasa original kopi wajib hindari gula dan pemanis lainnya. Gunakan temperatur yang cocok dan komposisi takaran kira-kira tetapi mendekati yang dikehendaki.

Trus jangan lupa mainkan imajinasi juga senantiasa berfikir yang positif, supaya ada keselarasan rasa dengan kopi yang dibuat dan dinikmati… jangan2 klo pas nyeduhnya sambil mikirin hutang piutang…. hasil kopinya bakalan pahiiiiiit bangeeeeddd…. silahkan cubbbbaa.

Oke itu saja sekelumit cerita tentang aktifitas singkat daaan…… nyeduh kopi di negeri singa, semoga besok lusa bisa hunting kopi di sini dan tentu menikmatinya disela-sela agenda kunjungan yang super duperr paddat merayap.

Balik ke meja dimana proses seduhan berada disini.

Wilujeng ngopi lur. Terima kasih, Wassalam (AKW).

Kopi Joss – Yogyakarta

Beredar ke Kota Kenangan, coba lagi nikmati kopi legendaris.

Poster Kopi Joss - Dokpri.

Menginjakkan kaki di Kota Yogyakarta serasa kembali ke rumah, kota yang penuh keramahan dan setiap hari adalah liburan karena banyak sekali orang-orang yang datang.

Meskipun kehadiran diri berbalut tugas dinas dan mendadak, tetapi tak perlu digerutui, ikuti perintah dan jalani dengan ikhlas, selesai. Tinggal teknis tiket pesawat dan hotel yang musti cepet supaya bisa tiba di Yogyakarta sesuai jadwal. Alhamdulillah dengan aplikasi Traveloka, dua hal tersebut tuntas melalui pertemuan jempol dan permukaan smartphone plus transfer duitnya via internet banking, kemajuan teknologi memudahkan kehidupan kita.

***

Tiba di Bandara Adisucipto disambut senja yang mengharu biru, lalu tancap gas dianter mas Bronto seorang sopir Transportasi Bandara dengan biaya resmi Rp 150.000. Bayar di loket di dalam area keluar penumpang bandara (taksi resmi)… dan kendaraannya Toyota Fortuner, Alhamdulillah.

Klo pake Grab Taksi di aplikasi biayanya Rp 55.000,- tetapi musti jalan kaki agak jauh dari area bandara menuju jalan raya Solo – Yogya. Yaa monggo terserah mana yang mau dipilih, penulis pernah nyoba pake grab termasuk grab-bike… juga nyoba bis trans Yogya… yang belum itu pake kereta dari stasiun Maguwo yang posisinya tepat berdampingan dengan bandara.

…… kembali lagi monggo, itu choice kita moo pake alat transportasi apa.

Hotelnya ntar dibahas ditulisan berbeda yaa… yang pasti nyampe ke hotel segera mandi dan shalat magrib-isya dijama.. tak terasa jam 19.30 tiba tanpa kata-kata.

Order grab lagii…..

Tring.. datang mas yusuf dengan avanza hitamnya. Capcuss..

***

Dalam waktu 10 menit sudah tiba di tempat yang diharap….. tempat nikmatin kopi khas di kota gudeg…… Kopi Joss.

Sebenernya menikmati kopi ini sudah beberapa kali tetapi saat itu hanya ikut-ikutan rombongan dan bukan tujuan utama juga dulu masih pake gula… sekarang beda, kopinya yang menjadi buruan.

Sejarah dan cerita dari kopi joss dipastikan banyak bertebaran di laman dunia maya. Tapi sekarang hadir disini ingin mencurahkan rasa via tulisan sederhana gimana klo menikmati lagi dalam suasana dan tujuan yang berbeda.

Lokasinya di seberang stasiun kereta api tugu Yogyakarta. Dari ujung utara jalan Malioboro tinggal jalan kaki lewatin eh nyebrangin rel. Photo bentar di tulisan STASiUN YOGYa yang eye chacthing trus jalan dikit.. belok kiri.. disitulah berjajar sekitar 16 sd 20an pedagang kopi joss. Klo pake taksi or transportasi onlen ya tinggal bilang aja moo kesitu.

***

Kopi Joss disajikan dengan sederhana dan seperti bikin kopi biasa. Masukin bubuk kopi ke gelas tambah air panas dann…. tanpa gula yaaa…. nggak aneh khan?… yang bikin khas adalah setelah itu dimasukin arang memerah bara.. masukin ke gelas.. Josssss…. suara pertemuan bara arang dengan air membuat suara khas dan menciptakan citarasa berbeda.

Sabar dulu… jangan asal sruput ntar bibir ma lidah melepuh mas bro..

Tunggu… sabar.. nah sambil nunggu kopi dingin, ada pilihan nasi kucing, indomie tante (tanpa telor), aneka sate (kikil, ayam, kerang, baso, hati, usus, telor puyuh dan lainnya) dengan harga 1 tusuknya Rp 3000…

Harga kopinya Rp 6000 saja, penasaran kopi apa yang dipake… ternyata kopi yang dikemas tradisional dengan merk Murni Baru, lengkap dengan nomor PIRTnya.

Ayo kita coba… sruputtt… ahhh segerr.. hati2 bibir berjumpa arang yang menuhin gelasnya hehehe… aromanya lite, bodynya medium strong… maybe proses roastingnya dark roast. Tastenya.. nggak muncul tapi overall kopinya enak… tentunya tanpa gula atau pemanis lainnya.. kecuali klo wajah siih udah maniss dari sonoh nyah….

Sambil ngopi nggak lupa, nyobain 3 tusuk sate, satu tusuk telor puyuh, suwir daging ayam dan usus.. nikmaat.

Nggak pake lama nongkrong di Kopi Joss ini karena sendirian.. eh berdua sama mas yusuf sopir grab… lalu bergegas kembali ke hotel di daerah Wirobrajan, Yogyakarta. Matur suwun, Wassalam (AKW).