GARUT, akwnulis.com. Selamat pagi dan salam optimisme. Saatnya kembali menulis meskipun hanya sebatas fiksi. Tapi jangan salah, hadirnyabtulisan fiksi sangat banyak diawali dari inspirasi kisah nyata yang terjadi. Inilah tulisannya :
FIKMIN # DI GEDONG SIGRONG #
Amengan ka bumina kanjeng dalem diajak ku rèrèncangan, meuni atoh pisan. Tiasa nincak gedong sigrong. Ngawitan di payun bumi tos katawis korsi jati kelir bodas. Lebet panto kahiji, kènca katuhu korsi jati deui tapi warna beureum ambucuy. Pikabetaheun. Sumawonna di rohangan lebet.
Kanjeng dalem meuni darèhdèh tur akuan, padahal mung diajak rèrèncangan. Tuang siang sasarengan. Sangu liwet kastrol, daging hayam, hurang ageung, cumi, guramè beuleum, sambel jahè teu hilap kurupuk rangu.
Kanggè panutup tuang disuguhan durèn nu pulen tur seungit dilajengkeun buah cempedak, kopi hideung ditutup ku rujak . Nikmat ngaemamna namung bunghak saatosna.
Cempedak ieu yèh / Dokpri.
Ningal nu èlèkèsèkèng, Kanjeng Dalem surti, “Bilih badè gogolèran atanapi ka jamban, anggo waè kamar nu payun. Kosong da”
“Hatur nuhun pangersa”
Beretek tèh duaan muru jamban. Alhamdulillah simkuring mayunan. Porosot, gèk. ‘Buuuuuuumm‘ sora di jamban handaruan. Rèrèncangan ngajengkang nangkarak bengkang. Gedong sigrong inggeung. Bau hangit durèn, cempedak, kopi sareng rujak bebek kaambeu sakuriling bungking.
***
Terima kasih kepada yang berkenan membacanya, tentunya hanya butuh satu hingga dua menit saja untuk menuntaskan 150 kata. Sebuah literasi sederhana meskipun ternyata jika dibangun dengan konsistensi bisa berdampak nyata. Selamat beraktifitas kawan, Wassalam(AKW).
KUNINGAN, akwnulis.com. Perjalanan mudik tahun ini aman lancar jaya, meskipun ada beberapa titik kemacetan penumpukan kendaraan karena ada beberapa insiden di tol Cipali seperti ada Kijang putih yang mengalami kecelakaan tunggal juga terlihat ada bis yang ‘tertidur‘ diluar median jalan sedang di evakuasi. Tapi secara jumlah jam perjalanan termasuk waktu tempuh normal, sekitar 3 jam 25 menit dari cimahi ke Kuningan.
Berbuka shaum dilaksanakan di rumah kuningan ditemani gerimis hujan yang makin malam semakin membesar. “Wadduh shalat ied besok di jalanan dan halaman masjid bisa terancam nich?” Begitu perbincangan sederhana. Tapi kita optimis hari esok kembali cerah dan shalat ied bisa terlaksana dengan segala rahmat kemudahannya.
Hanya saja setelah adzan magrib berkumandang, tidak terdengar suara takbir dari mesjid jami Nurr Alim samping rumah. Suasana sepi dan berbeda dengan malam takbiran tahun – tahun sebelumnya.
“Apa yang terjadi, apakah sudah berubah kebiasaannya?”
Mesjid sepi menanti Sidang Isbat / Dokpri.
Ternyata semua menunggu sidang isbat yang cukup bikin degdegan. Karena dilaporkan dari beberapa titik pengamatan hilal belum terlihat karena tertutup awan dan kabut.
“Aduh gimana kalau diundur, ini opor dan sambel goreng daging sudah siap untuk menjadi makanan utama khas di haei lebaran esok hari?”
Hehehe, alasannya sederhana. Bukan takut sahur lagi tapi takut opor dan sambel gorengnya tertahan sehari. Udah nggak tahan ingin menyantapnya. Maka sekarang semua degdegan menonton siaran langsung di televisi, prosesi sidang isbat dan nantinya seperti biasa Menteri Agama RI akan mengumumkan hasilnya.
Adzan isya berkumandang dan belum ada kepastian, wajah tegang dan galau tersirat dari kumpukan orang rumah yang langsung hitung-hitungan berbagai kemungkinan jika hari lebaran ditunda lagi satu hari. Begitupun di mesjid sepi tapi orang – orang banyak menunggu kepastian, apakah shalat tarawih lagi atau lanjutkan ke takbiran.
Sambel goreng daging ready / Dokpri.
Jreng jreng… detik dan menit terus berlalu. Ternyata menanti kepastian itu menegangkan. Sementara dari pihak muhamadiyah sudah memastikan akan berlebaran di hari esok di sisi lain laporan ketidakterlihatan hilal masih menjadi laporan. Apalagi pengalaman tahun sebelumnya bahwa terjadi selisih 1 hari pihak muhammadiyah melaksanakan shalat idul fitrinya.
Akhirnya, menteri agama RI yang telah dinantikan sedari tadi muncul di layar televisi. Dengan singkat dan padat menyampaikan bahwa pihak pemerintah selaku Ulul Amri memutuskan bahwa pelaksanaan shalat idul fitri dilaksanakan esok hari.
“Opor selamattt….” ada teriakan lain di ujung sana.
“Hore Hore”
Grup musik malam takbiran / dokpri.
Semua bergembira, mesjid langsung takbir menggema. Rombongan pemusik genjring dan tataneuhan mulai bergerak dan bersuara, hujanpun perlahan reda seolah paham untuk tidak menghalangi kegembiraan malam ini.
“Allloohuakbar Allooohuakbar Laaaa ilaa haillallah huallah hu akbar Allahuakbar Walilaa ilham…..”
Dag dug dug dag dug dug Dag dug dug dag dug dug…
Opor ayam ready / dokpri.
Ada atraksi dari warga lokal yang menjadi suasana malam takbiran itu berbeda. Yakni sekelompok pemuda berkeliling dengan membawa peralatan musik rebana, tambur hingga memanggul bedug dan gamelan dan menyanyikan shalawat dengan iringan alat musik yang menjadi daya tarik.
Hujan gerimis masih sesekali turun, tetapi kelebat kilat dan guntur terasa begitu sering. Ada terselip rasa khawatir tetapi raga dan jiwa ini bercampur aduk antara sedih dan gembira. Semoga tahun depan bisa bersua kembali dengan gema takbir yang senantiasa menggema. Wassalam(AKW).
KUNINGAN. akwnulis.com. Perjalanan mudik alias pulang kampung kali ini adalah siklus 2 tahunan karena secara komitmen tidak tertulis mudik setiap tahun bergantian ke orangtua masing – masing yang memang berbeda tempat. Tidak jauh sih, orangtua di daerah kabupaten bandung barat dan mertua mudiknya ke kuningan. Tahun ini jadwal kuningan.
Berangkat ….
Berbagai persiapan tentu harus diantisipasi baik pendekatan administratif, pendekatan konten, pendekatan keuangan juga pendekatan mental dan phisik.
“Serius menggunakan aneka pendekatan?”
Ih serius bos, mudik lebaran bukan sekedar gerakan phisik saja berganti tempat ke tempat tujuan tetapi banyak hal yang harus dipertimbangkan.
Yang paling utama adalah pastikan bahwa kita sudah memiliki tempat untuk mudik, karena jika tidak tentu akan membingungkan diri sendiri dan orang lain hehehehe.
Mobil dinas terparkir rapi di kantor / dokpri.
Pendekatan administratif tentu berhubungan dengan tugas dan fungsi kedinasan yang harus diantisipasi jangan sampai tidak ada personil yang bertugas disaat libur panjang lebaran tahun ini. Lalu exit permit dari bigboss, apakah boleh melaksanakan shalat idul fitri diluar kota?… karena ada kebiasaan pelaksanaan idul fitri dilakukan terpusat di lapangan Gasibu ataupun Mesjid AlJabar di Gedebage tentu dilengkapi undangan resmi berplat merah.
Alhamdulillahnya adalah pada rapim terakhir, bigboss membuka peluang jika akan shalat ied diluar kota bersama keluarga, kecuali tentu para pejabat dan petugas di ring 1 plus yang merasa ring 1 dan tentu yang tidak mudik kemana-mana karena rumah kedua orangtuanya di kota bandung dan sekitarnya, yeaay.. Alhamdulillah. Berangkattt…
Nah urusan administratif selesai, urusan selanjutnya adalah keuangan. Ini relatif agak tenang karena tidak hanya penulis, istripun berkontribusi besar jadi bersama kita bisa hehehehe.
Di hotel kucing / Dokpri.
Maka hari senin tanggal 8 April menjadi hari penting. Diawali dengan pembantu pulang nyubuh, lalu bersiap mengirimkan kucing kesayangan menginap di hotel Casya House di antapani, ambil kue, belanja bekal, bungkus pakaian, makanan serta perlengkapan selama mudik. Menitipkan rumah ke tetangga yang baik hati hingga isi bensin kendaraan full menjadi persiapan akhir. Eh ada lagi et-oll juga wajib diisi full untuk antisipasi agar diperjalanan tidak repot lagi rebutan isi e-toll.
Tepat pukul 14.00 wib semua persiapan rampung dan dengan iringan doa, kendaraan bergerak meninggalkan kediaman menuju ke kuningan dengan rencana menggunakan jalur tol cisumdawu lalu masuk tol cipali dan keluar pintu tol ciperna untuk bergabung ke jalur utama akses ke kuningan.
Cuss…. berangkat.
Ban peot disedot hidrogennya / dokpri.
Eit ada yang lupa, cek dulu angin ban kendaraan hidrogen di SPBU terdekat. Pokoknya rumusnya tekanan depan 32 dan tepakan belakang 35. Rumusnya agak berbeda karena posisi mobil di belakang monoyod penuh dengan barang bawaan. Maka agar ada kepastian kembali, hidrogen lamanya dibersihkan dulu lalu diisi hidrogen baru keempat ban mobil ini dengan rumus tadi, rumus rekomendasi dari sopir di kantor.
Setelah semua persiapan dirasakan tuntas, saatnya bergerak…
Alhamdulillah di tol cisumdawu tidak terlalu padat, tapi sedikit tersendat di Tol cileunyi pada saat mendekati tol gatenya. Jadi meskipun ke tol cisumdawu ambil arah kanan, tetap saja sedikit tertahan karena banyaknya kendaraan. Memasuki tol Cipali mulai terasa kepadatan sisa sisa puncak arus mudik ke arah jawa. Jalur cipali semuanya contraflow ke arah jawa, kendaraan jalur contraflow melesat kencang sementara jalur biasa cukup padat dan perlu berhati-hati. Apalagi pada saat melewati daerah cirebon palimanan terlihat satu mobil avp nopol jakarta bergerak kencang tapi seperti oleng ke kanan dan oleng ke kiri. Awalnya mau disalip, namun ternyata kecepatannya cukup tinggi dan mengikutinyapun terasa berbahaya. Ya sudah mengalah saja, injak rem perlahan dan biarkan kendaraan tersebut menjauh, semoga tidak ada masalah ke depannya.
Akhirnya di jalan tol tuntas sudah dengan keluarnya kendaraan di pintu tol ciperna lalu memasuki jalur jalan biasa kuningan – cirebon. Disinilah tantangan baru menghadang, kondisi badan sih oke. Tetapi mata begitu lemah ingin tertidur dengan kantuk yang begitu kuat, maklum lagi shaum. Mau tambah kecepatan khawatir malah kendaraan tidak terkendali, ya sementara dikuat-kuatkan saja.
Sampai tujuan mudik / Dokpri.
Tapi di daerah Beber rasa kantuk begitu luar biasa dan memaksa berhenti di tukang penjual minuman dan air kelapa. Selain belanja air kelapa juga air mineral dingin menjadi pembasuh muka… bukan diminum ya.. batal atuh. Alhamdulilah seger kembali dan kendaraan bergerak hingga tiba di tujuan dengan selamat.
Ahiy mudik… Alhamdulillahirobbil alamin.
Itulah cerita perjalanan mudik kali ini, nanti kita lanjutkan ceritanya. Selamat berlebaran di manapun, baik yang mudik ataupun tidak. Sebuah permohonan maaf bagi semua dalam memasuki akhir bulan shaum 1445 hijriah ini. Wassalam(AKW).
BOJONGHALEUANG, akwnulis.com. Dari fase ngabeubeurang (beurang = siang) menuju fase ngabuburit (burit = sore) pada hari libur memang harus pintar memanage waktu, apalagi di bulan ramadhan ini. Bawaanya yang aman adalah tidur seperti lagu,
Kalau pendekatan religi maka bertadarus atau melanjutkan hafalan surat – surat pendek dalam. Alquran. Tapi jikalau memilih jalan tengah, maka menulislah. Ini dia…..
***
FIKMIN # KONGKUR #
Keuheul ningali nu kongkur ampir unggal poè. Nu jadi lantaran mah lain teu panuju ka tukang nguseup tèh. Ari judulna ngabuburit nungguan adzan magrib, ngan nyekel jeujeurna bari udud. Ngelepus bari gogonjakan, padahal kobong tèh gigireun. Aranteng wè diparelongkeun ku santri.
Babaturan tingkuciwes, tapi pas wawartos ka Ama haji tèh mung diwaler, “Cing salabar, keun janten pertangelwaleran aranjeuna ka Gusti Alloh”
Uing ogè keuheul tapi inget papagah Ama Haji, ditahan wè. Dinten ka 16 romadhon mah ngududna ditambih nyandak bekel sangu bungkus, ngadon botram.
Lodong badag congona lempeng ka balong, karbit sakilo jeung minyak tanah tos ngagolak dijerona.
“Punten Ama, Uing teu tumut kedah sabar tèh”
Lodong diseungeut, DHUAAAAAR….. bumi inggeung, nu kongkur becir, aya ogè nu ngajengkang kapiuhan. Joran paburantak. Lauk ngarajleng rareuwaseun. Balong bedah saat saharita.
Alhamdulillah ti harita teu aya deui kongkur jeung botram di bulan ramadhan. Cag.
***
Demikian celoteh singkat suasana ramadhan masa kecilku di kampung halaman. Selamat melanjutkan fase ngabuburit menjadi fase berbuka puasa. Wassalam(AKW).
BANDUNG, akwnulis.com. Suasana rapat di bulan ramadhan terasa begitu menenangkan hingga perlahan tapi pasti kepala tertunduk dan mata tertutup. Maka cara terbaik adalah lawanlah dengan sekuat tenaga dan alihkan dengan aktifitas yang membuat kita terjaga tapi tetap tegak di tempat acara.
Nah dikala waktunya ishoma, shalat menjadi utama selanjutnya masih ada jeda waktu tersisa maka sempatkanlah menulis sesuatu yang singkat tapi bermakna. Karena ini bulan puasa maka tulisan ringan tentang aktifitas di bulan ramadhan menjadi satu pilihan. Tentu tetap setia dengan tulisan genre fiksi berbahasa sunda.
Silahkan…
***
FIKMIN # DITALIAN #
“Allohuakbar Alllloooohuakbar.. Laa ilaa haillallah” Adzan isya karèk lekasan, tapi di luar masjid asa ramè loba jelema. Uing panasaran, ngolèsèd nempo kaluar. Geuning ngagimbung santri kobong jeung pengasuhna.
Geus deukeut kareungeu Ustad saepul ngagorowok, “Ayeuna solat isya jeung tarawèh berjamaah heula, kin kakara urang nguriling neangan Jang Usman” “Mangga Ama” rèang saur manuk.
Uing ngadeukeutan si Jae, “Jang Usman kunaon?”
“Leungit a ti bada asar”
Gebeg tèh, geuning Usman babaturan Uing nu rèk ditèangan. Padahal tadi beurang panggih, ngadongèng rèk nyingsieunan nu balik tarawèh ceunah.
Wanci janari babaturan tèh karèk kapanggih. Di deukeut makam, ngagoler bari awakna dibakutet ku tali rapia jeung tambang, teu bisa ngomong da bahamna pinuh ku lamak.
Buru – buru ditarulungan, sabot awakna diangkat aya lamak bodas murag, kaciri aya tulisan, ‘Salila bulan puasa sètan ditalian, tertanda PERJULECI (Persatuan jurig legok cipo).
***
Disclaimer : Tulisan ini hanya fiksi belaka, bagi yang tidak puas silahkan isi di kolom komentar atau japri, DM dan kirim email kepada penulis. Karena penulis bukan pemuas. Terima kasih, Wassalam(AKW).
Keceriaan bersama emak – emak jago pantun dan jago jualan.
BANJARMASIN, akwnulis.com. Melanjutkan tulisan terdahulu tentang perjalanan dini hari membelah sungai untuk menuju area pasar terapung Lok Baintan yaitu DINI HARI NGOPI & SUNRISE DI SUNGAI BARITO. Maka sekarang jalinan kata yang tertuang adalah cerita kelanjutannya.
Tulisan inipun mengkoreksi terkait penamaan sungainya karena setelah dilakukan studi literasi ternyata nama sungai ini adalah sungai martapura yang merupakan anak sungai barito. Jadi tetep anaknya sungai barito ya, sungai raksasa yang membentang di sepanjang pulau kalimantan. Secara urutan sungai barito ini masuk rangking ketiga terbesar di kalimantan. Rangking keduanya sungai mahakam sepanjang 920 kilometer dan sungai terbesar di kalimantan sekaligus terbesar dan terpanjang di indonesia adalah sungai kapuas dengan panjang sekitar 1.143 kilometer.
“Nggak percaya panjangnya segitu?.. ukur aja sendiri” Singkat cerita setelah perjalanan sekitar 1 jam 30 menit yang mendebarkan dan menjadi pengalaman spesial karena mengusuri sungai dari kota hingga ke desa sungai dan kejutan selanjutnya adalah menikmati hadirnya mentari pagi dari tengah sungai martapura itu amazing banget bro.
Pengalaman berharga ini sudah tertuang pada tulisan terdahulu, inilah lanjutan ceritanya.
Setelah menikmati hadirnya mentari sambil tidak lupa menyeruput kopi panas. Kohitala yang sangat spesial, karena jelas berbeda dari lokasi menyeruputnya. Kalau kopinya sama, kohitala kopi hitam tanpa gula yaitu kopi arabica java preanger.
Perahu bermotor ini terus bergerak sekitar 25 menit lagi dan akhirnya tiba pada titik yang dituju, yaitu pasar terapung Lok Baintan. Dari kejauhan sudah terlihat kumpulan perahu dayung kecil mengelililingi beberapa perahu motor yang sudah datang lebih dulu.
Perlahan tapi pasti, perahu bermotor ini langsung tiba di lokasi dan serbuan perahu kecil dengan mayoritas di nahkodai oleh ibu-ibu begitu sigap mendekat. Langsung menempel ke badan perahu motor dan berteriak dengan mengacungkan dagangannya.
Seru sekali kawan, melihat semangat emak – emak yang ternyata untuk tiba di titik pertemuan ini harus mendayung sampan yang sarat bawaan sekitar 1 jam. Tentu dengan aneka hasil pertanian, buah – buahan, sayuran, olahan pangan hingga bedak dingin berupa sukro – snack bulat berwarna putih plus juga kopi panas serta nasi kuning terbungkus daun. Ada juga buah mangga kasturi dan olahan pangannya adalah kue bingka.
Ada yang menarik disini selain suaranya yang seperti teriak – teriak juga emak – emak jago pantun. Baik pantun dengan bahasa lokal atupun pantun berbahasa indonesia. Sehingga diskusinya cair dan penuh keceriaan.
Seorang emak berteriak, “Disini gunung disana gunung Di tengah tengah mawar melati
Sekarang ini kita bergabung Ada bapak yang baik hati”
Langsung penulis jawab dengan tergagap,
“Anak ayam jatuh ke jurang” “Maaati”
Euh pantun apaan tuh. Pantun nggak nyambung tapi semakin menyemarakkan pagi dengan terbahaknya tawa dan saling membercandai.
Selanjutnya penulis berusaha membuat pantun sekaligus menutup sesi belanja ini karena perbekalan sudah menipis. Inilah pantunnya,
“Pagi – pagi di bawah meja Dibawah meja ada kubis”
Maafkan sudah tidak bisa belanja Karena uangnya habiiis”
Wkwkwkwkwkwkw…..
Ada tawa kemenangan karena sudah jelas emak – emak pedagang tidak akan menawarkan dagangannya lagi. Tapi ternyata…. perkiraan itu salah besar. Ada kejutan yang dihadirkan di tengah sungai martapura ini dikala seorang emak – emak penjual berteriak lantang sambil berpegangan di pinggir perahu,
Kalau bapak duitnya habis Bisa pake qiuriss (QRIS)”
Emak pedagang dg Barcode QRIS / Dokpri.
Sambil emak – emak ini mengeluarkan sesuatu dari gantungan lehernya… ternyata barcode qris salah satu bank. Luar biasa, akses keuangan digital sudah hadir disini, di tengah sungai di kerumunan pasar apung lok baintan.
Kalah sudah penulis sehingga akhirnya mencoba scan barcodenya dan berbagi uang virtual untuk berbagi nasi sekaligus pak bos Ade Hadeansyahpun tak mau kalah, ikut memberikan uang untuk berbagi nasi bagi para pedagang tangguh di pasar apung ini.
Ngopi di sungai martapura / Dokpri.
Tidak lupa secangkir kohitala kopi hitam tanpa gula yang didapat dari emak – emak menjadi momentum penting kembali yakni menikmati dan menyuruput secangkir kopi ditengah sungai yang begitu riuh penuh keakraban.
CIREBON, akwnulis.com. Panas terasa begitu menyengat kulit disaat keluar dari kendaraan dan menuju tempat yang terlihat sepi. Wajar sepi karena ini berada di bulan ramadhan, tentunya umat muslim sedang berpuasa. Agak ragu juga, tapi teriakan tadi ke tukang parkir diberi jawaban pasti, “Rumah makannya buka pak, dari pintu sebelah sana” tangannya menunjuk ke pintu kaca di samping kiri.
Ya sudah maka bergeraklah perlahan dan berfikir mungkin sengaja masuk dari sini agar tidak terlalu twrlihat dari luar. Gagang pintu dipegang dan didorong kedalam.
Kreeek…. bray…
Wajah terbelalak karena ternyata didalam banyak orang. Tentu sambil menikmati sajian makanan nasi jamblang yang khas. Tempatnya memang sejuk karena ada AC di beberapa titik tetapi para penyantap makanan terlihat bercucuran keringat. Kayaknya gara-gara sambal khasnya disini. Tapi tidak bisa protes karena dari paras mukanya dipastikan berwajah oriental dan berhusnudzon bahwa mereka adalah nonis (non islam) yang sedang makan siang. Meskipun air liur tak bisa boong minimal bisa mengendalikan diri dan cukup membungkusnya untuk dimakan nanti sehabis adzan magrib berkumandang.
Sing kuat jang.
Antriannya memang sedikit sehingga leluasa untuk memilih menu favorit. Tapi primadonanya mrmang ini dia si hitam enak yakni ‘balakutak hideung’. Sebuah menu makanan yang khas cirebon dimana balakutak atau sotong dengan dimasak bersama tinta hitamnya menghadirkan aroma khas tiada duanya. Pokoknya dijamin rnak. Maka segera diambil beberapa balakutak hideung ini untuk dibungkus plastik demi keutuhan nusa dan bangsa… eh kenapa jadi kesinih. Maklum lagi shaum ya.
Balakutak lagi / dokpri.
Penasaran dengan sebutan balakutak maka segera jemari menari di layar smartphone dengan kata kunci ‘balakutak‘ dengan harapan ada pembahasan atau tulisan tentang asal usul sebutan ini. Ternyata tidak ada atau belum ada artikel tentang balalutak ini. Apalagi yang membahas secara etimologi dimana bala kutak berasal dari kata bala dan kata kutak… nggak mungkin ya?..
Ya sudah we dibungkus dan dibawa pulang meninggalkan kota cirebon untuk kembali ke kediaman di kawasan bandung coret dengan kecepatan normal melewati tol cipali – cisumdawu – cipularang.
Yang pasti sebuah keyakinan bahwa balakutak itu adalah kuliner khas wilayah cirebon yang memberikan sensasi spesial karena senada eh sewarna dengan kohitala, kopi hitam tanpa gula. Jika kohitala tetap nikmat karena kepahitannya maka balakutak meskipun hitam karena dimasak dengan tintanya tetapi menghasilkan rasa yang khas dan tak cukup satu centong nasi untuk menemaninya.
Tak percaya, maka perlu dicoba. Jika beredar di wilayah cirebon sempatkanlah mampir di nasi jamblang yang tersebar di seantero cirebon. Pilihlah sajian balakutak. Karena sedang berpuasa, bungkus saja dan bawa pulang. Kecuali beredar di cirebonnya sampai magrib maka berbukalah dengan balakutak dan tahu gejrot…. eh jangan ketang, berbuka dengan kurma dan air putih atau potongan buah dulu yach.
Selamat menjalani shaum menapaki hari ke 15 ramadhan. Wassalam(AKW).
Teu karasa bulan puasa geus nincak poè ka tilu belas. Asa cikènèh aduregeng urusan hilal, iraha rèk mimiti puasa. Tatangga sabeulah keukeuh poè senèn, tatangga nu di tonggoh yakin pisan mimiti poè salasa. Duanana mamawa toropong toong nu ceunah canggih jeung marahal.
Uing mah rumasa teu boga kamampuh keur meuli alat noongna, tapi ngilu pusing da ngadèngèkeun èta tatangga parèa-rèa omong. Sabab ceunah ceuk panoongan sèwang-sèwangan teu sarua. Tungtungna diajar rada badeg wè. Geus ah antepkeun, kalieur-lieur. Pan aya pamarèntah nu boga kawasa pikeun mastikeun iraha mimitina.
Pas balik tarawèh, kareungeu nu keur guntreng gigireun masigit.
“Ji, tong bèda waè atuh, geus ayeuna mah urang sarua wè nangtukeun poè lebaran”
“Teu bisa Mang, ieu geus yakin. Toropongna gè pangmahalna, moal aya nu boga deui di kampung ieu”
Mengejar mentari di sungai maetapura sambil tak lupa ngopi kohitala.
Perahu berangkat di sungai martapura / Dokpri.
BANJARMASIN, akwnulis.com. Dini hari raga ini sudah terjaga di kamar hotel. Mata terbuka menatap langit kamar yang seolah tetsenyum dan memberi informasi bahwa petualangan seru akan segera terlaksana yaitu menikmati suasana pasar terapung yang menjadi ikon pariwisata di kalimantan selatan sekaligus geliat ekonomi masyarakat tradisional yang sarat dengan kearifan lokal. Tangan kanan meraih smartphone yang tergeletak di meja kecil sebelah kanan, pukul 03.25 wita, itu yang tertera.
Tanpa banyak berfikir panjang, segera raga terbangun dari peraduan dan menuju kamar mandi untuk sekedar membasuh wajah dan memberi kesegaran. Lalu smartphone di isi daya dulu serta powerbank sebagai batere cadangan juga dicolokan dayanya ke listrik agar tenang dalam mengikuti perjalanan kali ini yang jelas perlu dokumentasi photo video dengan smartphone yang full batere.
Sambil menonton televisi dan berselancar di laptop tak terasa pukul 04.30 wita sudah tiba. Sesuai dengan petunjuk tadi malam bahwa direncanakan shalat shubuh diperjalanan maka peralatan shalat sudah masuk tas ransel, maka segera keluar kamar dan menuju lobi hotel dimana ternyata susah terdapat beberapa orang yang sedang bersiap – siap untuk berangkat.
Melewati bawah jembatan / Dokpri.
Tak dinyata ada perubahan rencana, keberangkatan dilaksanakan setelah shalat shubuh karena tidak dimungkinkan shalat shubuh di perjalanan. Ya sudah segera kembali ke kamar, menanti adzan shubuh menggema dan segera menunaikan shalat. Setelah semua tuntas akhirnya kembali ke lobi hotel dan diatur oleh petugas hotel dan guide lokal bergerak menuju halaman hotel dan ada gerbang khusus dari hotel yang langsung akses ke pinggir sungai. Termasuk perjalanan ke pasar terapung inipun adalah salah satu fasilitas hotel yang menjadi daya tarik utama para penginapnya.
Nama hotelnya adalah Swiss bell Hotel Banjarmasin yang terletak di Jl. Pangeran Antasari No. 86A Kelayan Luar Kecamatan Banjarmasin tengah. Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan.
Ternyata di sungai sudah ramai dengan perahu – perahu bermotor yang akan menjemput para penumpang. “Mana pasar terapungnya?” Sebuah tanya menyeruak di hati karena dalam temaram gelap ini tidak terlibat hilir mudik ibu – ibu di atas sampan dengan aneka dagangannya. Tanpa banyak tanya segera memasuki perahu yang sudah ditentukan dengan kapasitas 20 sampai 25 orang.
Semarak pagi dari tengah sungai / Dokpri.
Pada saat perahu motor bergerak meninggalkan sungai di depan hotel. Barulah ada penjelasan dari guide bapak Subaemi bahwa perjalanan kita dengan memggunakan perahu bermotor ini sekitar 1 jam 45 menit menuju lokasi pasar terapung tersebut.
“Woah lama ternyata” seru seorang peserta. Tapi bapak guide yang baik hati menenangkan dengan memberikan informasi bahwa membelah sungai ini akan disuguhi suasana yang spesial dan luar biasa karena akan melewati berbagai taburan cahaya kota di kanan kiri jalan serta melewati beberapa jembatan dan juga akan menikmati indahnya mentari pagi di perjalanan nanti.
Diri ini tidak banyak bicara tetapi lebih berucap syukur karena kesempatan seperti ini tidak hadir begitu saja. Apalagi diperlukan perjalanan panjang mulai dari naik bus ke bandara soekarnohatta melewati kota jakarta lalu terbang dengan pesawat ke bandara syamsudin noor di banjarbaru. Itu belum selesai, masih dilanjutkan dengan perjalanan mobil sekitar 45 menit menuju tempat hotel menginap. Jadi mari kita nikmati dan syukuri.
Sunrise di sungai martapura / Dokpri.
Benar saja pergerakan perabu motor ini menyuguhkan suasana berbeda. Dimhlai taburan cahaya lampu hingga melewati alun – alun dengan patung bekantan besar yang terang benderang serta berbagai bangunan yang terasa berbeda jika dilihat dari arah sungai. Setelah itu memasuki daerah rumah penduduk, terlihat jelas aktifitas pagi khususnya di beberapa mesjid yang penuh dengan aneka kegiatan. Sehingga waktu 1 jam tidak terlalu terasa, meskipun mulut jangan terlalu sering dibuka, takutnya masuk angin hehehehehe.
Sebagai antisipasi pribadi tentunya yang pertama adalah sebelum keluar kamar sudah memakan roti dulu bekal tadi malam. Lalu menyeduh kopi manual dengan metode drip bag karena jika dengan corong V60 agak ribet. Alhamdulillah dengan tumbler warna putih merchandise dari PT BPR Karya Utama Jabar, kopi hitam tanpa gula sudah aman di tas gendong, siap kapanpun dinikmati.
Kenikmatan selanjutnya adalah perlahan tapi pasti, perahu bergerak membelah air sungai yang memantulkan warna kuning orange serta biru. Wah mentari mulai hadir menyinari bumi. Begitu indah dipandang dan terasa mendamaikan. Sunrise on the river ceunah kata orang jaksel mah.
Ngopi kohitala di atas perahu / Dokpri.
Sungguh menakjubkan pemandangannya kawan, cahaya keemasan hadir di permukaan sumgai begitupun disaat menatap batas horison, sinar yang sebenarnya perlahan tapi pasti menghangatkan dengan penuh keberkahan. Merekah indah dan mendamaikan, sungguh suatu momen langka yang kembali harus ditafakuri dan disyukuri.
Lalu melengkapi kebahagiaan ini adalah dengan hati-hati mengeluarkan perbekalan kohitala hangat yang perlahan tapi pasti disiapkan diatas atap perahu. Tentu selanjutnya dinikmati bersama antara penulis, pelihat dan juga bapak suhaemi sang guide yang selanjutnya lebih akrab disebut bapak sashimi. Ah ada ada aja.
Kopi manual yang dibuat dengan drip bagnya tentu kopi jawa barat. Masih panas pada saat dituangkan di gelas kecil dan sewaktu disruput begitu pas di lidah dan melengkapi kenikmatan pagi ini di atas sungai martapura yang merupakan anak sungai barito kalimantan selatan ini. Selanjutnya perjalanan masih diteruskan sekitar 45 menitan lagi menuju Pasar Terapung Lok Baintan. Wassalam(AKW).
CILEDUG, akwnulis.com. Pagi ini sudah berada di ujung Kabupaten Cirebon. Sambil menunggu mentari hadir menyinari bumi maka sebuah tulisan singkat berbahasa sunda menjadi teman sejati dalam memaknai kehidupan yang penuh suka duka.
Masih setia dengan genre fiksimini berbahasa sunda dengan batasan maksimal 150 kata. Inilah cerita fiksi singkatnya :
Fikmin # VIP dikawal #
Calik dina jok asa lènglang, ningal kaluar meuni bèngras. Di pengker kaca, kènca katuhu sumawonna, meuni raos ningal patalimarga ogè èndahna alam nu kalangkungan ku mobil ieu. Tangtosna syukuran pisan dipasihan rejeki nu teu pameng janten karaos nikmat salami diperjalanan.
Katambih deui, ningal ka payun langkung reugreug. Nu nyupiran dipayun tapis pisan mungkal mengkolkeun setir teu matak janten olab, disapalihna ngarèncangan bodyguard.
Bagja tinekenan, Jikan payuneun teu welèh marahmay bari soca mah ningal kaluar, asa èndah hirup tèh.
“Nuhun Aa tos ngajakan amengan numpak mobil VIP. Caraang ogè dikawal bodyguard” “Sami-sami geulis”
Mobil nyemprung nanjak pungkal pèngkol, mapay jalan ka Situ Cileunca. Kènca katuhu tutuwuhan harèjo, pepedut masih anteng nyarengan, asa jaman bobogohan. Anjog ka sisi situ, mobil nyisi milari parkir, liren. Bodyguard nu duaan rikat ngalungsurkeun cacandakan.
“Hatur nuhun parantos dijajap, engkè siang dijemput deui nya” “Sami-sami” Waler supir angkot sareng baladna.
***
Demikian tulisan singkatku kali ini, selamat berkarya dan selamat beraktifitas, tetap semangat. Wassalam(AKW).