Antar Moda Bdg – Bandara Kertajati.

Uji coba salah satu antar moda, dari Bandung ke Bandara Kertajati pake Toyota Hiace CKU.

Photo : Diskusi sebelum pergi / dokpri.

KERTAJATI, akwnulis.com. Berita tentang rencana pengalihan rute penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara Bandung ke Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka semakin santer tersaji diberbagai media dan dilisankan di beberapa acara seremonial oleh para pejabat, tepatnya hari sabtu tanggal 15 Juni 2019…. woaah menghitung hari atuh.

Boleh baca juga artikel ‘Fasilitas Bandara Kertajati 1.’

Pertanyaan paling gampang, “Untuk para penumpang dari Kota Bandung atau daerah lain pake apa?”

Baca lagi berita juga medsosnya BIJB (Bandara Internasional Jawa Barat), disebutin udah ada beberapa kali rapat pembahasan dengan para operator pengusaha antar moda dan disebutkan sudah siap melayani perjalanan calon penumpang dari berbagai kota untuk mengantar ke bandara kertajati dan juga para penumpang pesawat yang turun di Bandara Kertajati untuk dilanjutkan ke kota tujuan.

Photo : Daftar antar moda / sumber website bijb.

Disebutin diantaranya DAMRI, City Trans Utama, Eca Express, Lintas, dan P trans, di website bijb.co.id juga dicantumkan nomor kontak yang bisa dihubungi…. Pertanyaannya, “Udah siap belum nggak siih antar moda-nya?”….. ” Harus dicoba langsung inih maah”

Ciusss….. cari-cari info, kontak sana sini dan searching info tentang kesiapan antar moda.. kemon guys.

***

Hasilnya … jengjreeeng.
…. sabar yaa.

Jreng….

Pertama rencana pengen naik armada DAMRI dari Pool Kebon Kawung Bandung deket Stasiun Kereta Bandung,…. ternyata sekarang belum ada yang jalan ke Kertajati, tetapi pada saat tanggal 15 Juni 2019, dipastikan DAMRI sudah ready….. gagal nyobain DAMRI, tapi gpp, … nanti aja pada waktunya.

Photo : Shuttle di depan hotel Topas Pasteur / dokpri.

Kedua kontak-kontak dengan berbagai pihak dan tentu dengan BIJB,… akhirnya kami mendapat akses dengan salah satu travel yang siap yaitu CTU.. City Trans Utama… awalnya kirain shuttle eh travel City Trans… ternyata beda lagi… ya udah gpp…. kemooon coba.

Akhirnya sepakat, rabu pagi (12/06) mencoba armada shuttle CTU, dan dipilihin yang VIP… iya vip ya?… Mobil Toyota Hiace 2019 2500cc dengan 7 kursi penumpang yang empuk dan nyaman…. dilengkapi colokan usb di setiap kursi buat ngecas hape dan sebagainya juga tempat dudukan botol minuman. Kaki juga nyaman karena jarak cukup lega…. harga per orang untuk rute Bandung ke Kertajati Bandara dan sebaliknya Rp 105.000,-.. itu harga promo, klo normalnya Rp 120.000,-/per orang.

Photo : Para penumpang di dalam Hiace / pic mr IH.

Oh iya, shuttlenya dari Hotel Topas Pasteur dan rutenya melalui GT Pasteur menyusuri Tol Cipularang lalu masuk Tol Cikampek dan melanjutkan ke Tol Cipali hingga akhirnya keluar di KM158 GT Kertajati. Keluar tol sudah jelas petunjuknya… pertigaan belok kiri dan ikuti petunjuk hingga akhirnya ada pertigaan lagi… belok kiri… udah masuk jalan Akses Bandara Kertajati… Horeee.

Perjalanan dari Bandung tepatnya shuttle Hotel Topas hingga tiba di Terminal keberangkatan Bandara Kertajati adalah kira-kira 180 menit atau 2,5 jam perjalanan….

Kemooon terbang…. eh belum, ini khan uji coba dulu.

Photo : Pose hepi yang mau berangkat ke Kertajati / dokpri.

Untuk penumpang yang perlu travel CTU ini juga travel-travel lainnya, di lantai 1 Bandara Kertajati sudah tersedia 1 counter pembelian tiket yang merupakan gabungan dari berbagai operator antar moda dengan berbagai kota tujuan, seperti Bandung, Cirebon, Bekasi dan Kuningan.

Photo : Counter aneka Shuttle antar moda di lt.1 Bandara Kertajati / dokpri.

Gitu dech pengalaman singkat nyobain salah satu antar moda dari Bandung ke Bandara Kertajati, pake CTU, City Trans Utama… over all, enakeun, empuk dan perjalanan nyaman, juga ada karaokenya, meskipun kemarin didominasi lagu koplo Nella K dan Via V…. jadi hafal lagunya hihihihi.

Photo : Kendaraan Toyota Hiace mendarat di area keberangkaran bandara Kertajati / dokpri.

Makasih Bu An-BIJB atas kemudahannya juga Mas Sudar yang jadi pilot eh sopir Hiace kemarin. Semangaaat…….

Boleh baca juga artikel ‘Fasilitas Bandara Kertajati 2.’

Sekarang moo beredar dulu di Bandara nich, ada 3 lantai yang mau diubek. Wassalam (AKW).

Menikmati pagi

Sarapan pagi menjaga energi diri.

BANDUNG, akwnulis.com. Hari kedua masuk kerja setelah libur lebaran tentu penuh semangat dan harapan. begitupun untuk menjaga mood yang lagi bagus ini, sajian minuman pagi dan berita di koran merupakan kombinasi yang sempurna.

Makanannya apa?”

“Ih kepo kamuh… aku mah lagi bahas minuman”

“Payah deh”

Komentar yang bikin panas kuping dikesampingkan, biarkan dia ngoceh dengan segala ke-tahu-annya. Yang pasti sarapan eh.. minuman pagi ini tidak terganggu, bisa dinikmati sembari meniti pagi ditemani semburat mentari yang sinarnya sudah menelisik ke ruang kerja ini.

Koran PR hari ini menjadi santapan kekinian, informasi menjadi sesuatu yang penting, meskipun cara memilah dan memilih informasi… itu yang sangat penting.

Oh ya, minuman yang tersaji bukan kopi karena ini mah dibujeng-enggalna (harus tersaji cepat), jadi teteh putih…. eh teh putih yang bisa disajikan cepat dan tentu nikmat.

Yang penasaran teh putih… Klik aja ‘Menikmati Teteh Putih’.

Cukup diseduh pake air panas, eh.. tehnya kira-kira 2 jumput… ya sekitar 20 buah pucuk teh.. klo yang moo diitung dulu monggo.. yang jalur kira-kira juga mangga… hidup itu khan pilihan…. tunggu 5 menit dan..
.. nikmatiiii…. tapi perlahan-lahan nyuruputnya.. panas lho.

Praktis khan?… klo ada panggilan ibu bos… tinggal caw… dan nggak ribet musti beresin peralatan.

“Jadi ngopi brenti?”

“Ya enggak atuh…. ini mah hanya variasi saja….. Hidup khan harus berwarna”

Bisa aeee…..

Akhirnya pagi cerah dan teteh putih mengantarkan sang pagi menuju siang tanpa basa-basi. Wassalam (AKW).

Kopi Arus Balik 2019

Meniti derasnya arus balik lebaran, perlu strategi dan berbagai persiapan.

Photo : Ngopay bray….. / dokpri.

KUNINGAN, akwnulis.com. Perjalanan mudik lanjutan yang lebih menantang adalah menghadapi arus balik, maksudnya ikutan arus balik yang diprediksi tepat di hari terakhir libur idul fitri yakni hari minggu tanggal 09 Juni 2019.

“Mudik kemana gitu?”

“Deket aja, ke Kuningan. Cuma pulangnya musti ikutan pusaran eh puncak arus mudik yang bagaikan air bah memenuhi seluruh jalur tol cipali yang menggunakan metode one way… semua sama-sama menuju arah jakarta.”

Mau nggak mau perhitungan harus mateng bingit, mengantisipasi berbagai kemungkinan di perjalanan karena penumpang yang dibawa rentan dengan kondisi kemacetan yakni seorang anak berusia 3,5 tahun ditambah seorang penumpang yang mual-mual duluan sebelum naik kendaraan.

Awalnya ingin kembali pulang lebih awal sehingga ada waktu beristirahat sejenak di rumah, sebelum kembali mengantor dan sibuk sama rutinitas kerjaan. Tetapi orang tua minta pulang hari minggu… ya sudah… nurut aja.

Inilah beberapa strategi dan persiapan yang dilakukan :

1. Secara berkala melihat kondisi jalanan atau rute yang akan dilalui via google map, apakah via tol dan bergabung dengan arus balik dari Jateng menuju jakarta atau via jalur non tol menyusuri wilayah majalengka-sumedang-bandung. Ya.. setiap 3 jam dilihat mulai H-1, sebagai bahan pertimbangan.

2. Sesekali lihat berita Televisi dan medsos… tapi sesekali aja. Soalnya klo liat medsos eh malah liat cuitan twitter, pic IG dan status temen di FB.. keterusan komen status temen.. jadi sesekali aja yaaa.

3. Nyetok makanan ringan dan minuman…. air mineral yang 600ml trus snacknya yang asin dan berasa manis… supaya nggak bosen dan variasi rassshaa di mulut.

Photo : Setermos kopi robusta rum / dokpri.

4. Pastikan kondisi fit karena akan memegang kemudi dalam waktu yang lebih lama dari biasanya. Ya… itu tadi, kondisi rute yang macet atau musti putar-putar cari alternatif jalan… jadinya jangan banyak begadang meskipun saudara lagi pafa ngumpul. Makan minum jangan berlebihan dan perlu mood booster plus disiapkan minuman penahan kantuk. Woalah… apa itu?… monggo cek photo diatas, itu adalah segelas kopi robusta rum dari pak bos Dodi KadisbunJB, diseduh manual sebelum berangkat dengan V60. Air panasnya sebanyak 300ml dan bubuk biji kopinya (kira2) 40-43gr… maklum gak bawa timbangan digital hehehe….. ini yang jagain mata supaya melek dan badan segar selama perjalanan.

Kopi Robusta Rum… Harum melek dan tidak memabukkan..

5. Yang terpenting setelah 4 poin diatas tentu meluangkan waktu shalat sunat 2 rakaat, bisa shalat dhuha di pagi hari atau shalat mutlak… berdoa kepada Allah agar diberikan kelancaran, kesabaran dan kemudahan dalam perjalanan arus balik lebaran tahun ini… Amiiin.

Berangkaaaat…. Cussss.

Alhamdulillah, perjalanan Kuningan – Cimahi selama 7,5jam. Penuh petualangan jalan alternatif hingga lewati pematang sawah karena ternyata google map nggak bisa deteksi jalanan ditutup panggung hajatan…. jadi putar-puter ke kebun dan jalan setapak… yang penting cukup satu mobil… hajaaar.

Ikutan arus balik one way di tol Cipali, tersendat 30 menitan di pintu tol Palimanan…. lalu tersendat lagi beberapa kali di dekat rest area hingga akhirnya menyerah…. dan keluar GT Kalijati karena di layar android terlihat antrean panjang merah menghitam mendekati cikampek….. menyusuri jalan desa lalu jalan raya kalijati hingga akhirnya masuk lagi GT sadang dan Cipularang lancar jaya hingga akhirnya tiba di tujuan dengan bahagia.

Hanya saja efek minum kopi robusta rum hingga hampir 300ml berefek dahsyatt…. badan lelah tapi mata melotot… sampe jam 2 pagi… padahal esok hari wajib masuk kerja dimana yang mangkir akan penuh dengan sanksi ancaman…. woaaah, semangaaaaat. Wassalam (AKW).

Petugas Pembaca UUD1945

Selembar photo sejuta makna, legam bukan berarti kelam, tapi legam yang penuh harapan.

Photo : Sang Pembaca berkulit eksotik / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Ber-lebaran di kampung halaman tempat kelahiran adalah saat yang begitu berkesan. Selain bisa kembali bersua dengan kawan sepermainan juga mengembalikan kenangan masa kecil yang ternyata menjadi pondasi penting dalam menjalani kehidupan.

Jikalau mesjid besar Al-Kahfi mengingatkan kembali betapa ‘aktifnya(maksudnya aktif bermain dan iseng di mesjid dan sekitarnya).. maka sebingkai photo masa lalu, mengingatkan kembali tentang sosok kecil, lugu dan polos dengan kulit sawo matang sematang-matangnya karena senang sekali ‘natural salon tunning ‘ alias maemunah (moé manéh = berjemur langsung dibawah sinar terik mentari) sambil berburu layangan yang putus dan terbang tak tentu arah mengikuti gemulai angin kehidupan, yang juga ber-efek samping keringnya kotoran hidung sehingga disebut juga -moé korong-…. masa kecil anak kampung yang menyenangkan.

Cerita mesjid dan masa kecilku bisa dibaca di tulisan SELAMAT HARI LEBARAN.

***

Selembar photo sejuta kenangan, itu bukan hanya istilah, tapi nyata adanya. Kembali memandang photo ini, teringat terasa waktu itu betapa gagahnya, berbaju putih dan celana (pendek) putih… lho kok pendek?…. ya iya atuh, khan masih anak SD. Anak kecil yang punya mimpi besar.

Menjadi petugas upacara sebagai pembaca UUD 1945 di acara Upacara Bendera HUT RI di tingkat Sekolah… eh lupa lagi… atau tingkat kecamatan ya?… ah sudahlah… yang pasti ada bukti udah pernah jadi petugas pembaca…. bukti otentik berupa photo, titik.

Kembali urusan kulit, terlihat begitu legam membahana… mendekati level gelap kehitaman. Tapi jangan salah, kulit super gelap itu tahan terhadap alergi kulit lho…. trus kukurusukan (masuk ke semak-semak) di kebun atau pinggir hutan, nggak khawatir dengan gigitan nyamuk atau serangga. Mereka enggan mendekati kulit gelap, mungkin darahnya pahit sepet jadi males gigit sang nyamuknya hehehehe.

Trus bagus buat penyamaran, sedikit saja ada tempat gelap maka langsung bisa menyatu dengan keadaan menggunakan teknik kamuflase ala bunglon wkwkwkwkwkwkw…..

***

Tiga puluh tiga tahun berlalu, ternyata hobby membaca melekat dalam jiwa, jikalau dulu memang sebagai pembaca dalam upacara, maka sekarang membaca buku masih menjadi pilihan santai di waktu senggang, meskipun ada buku yang senantiasa sedih jikalau dibaca…. yaitu buku tabungan, hiks hiks hiks.

Satu lagi yang masih melekat dengan aktifitas membaca adalah membaca situasi, baca gejalanya, analisis sederhana dan lakukan tindakan, maka hasilnya akan didapatkan.

“Maksudnya gimana?”

Ahh…. pertanyaan yang agak panjang untuk dijawab. perlu bersua dan dijelaskan secara langsung tentang ‘membaca situasi’ ini, karena ternyata tidak cukup keinginan saja, tetapi harus berlatih dan akhirnya menjadi ‘keterampilan’….

“Oke dech, nanti ke ruangan ah, sambil ngopay, khan udah nggak berpuasa”

“Siyaap mas bro, eh tapi mendingan kontak-kontak dulu, khawatir lagi shaum sunnah syawal (nyawalan)”

“Ah banyak kali kau alasan”

Aku Malas berdebat, karena situasinya tidak memungkinkan. Tapi jikalau waktunya tiba dan bisa berdiskusi, maka ‘membaca situasi’ ini bisa menjadi tema yang (mungkin) menarik. Entahlah.

Kembali photo ini dilihat lebih seksama, terutama latar belakangnya. Barangkali ada wajah kawan-kawan masa kecil yang bisa diingat. Semua mirip, masih lugu, polos dan wajah asli urang lembur (desa) seperti akyuuu….

Semakin diperhatikan wajah-wajahnya, tetap saja belum bisa memastikan wajah-wajah siapa itu, ya sudahlah….

Selamat menikmati mudik dan berjumpa dengan kenangan masa kecil yang tak akan terulang kembali, Wassalam (AKW).

Mudik Lanjutan…

Berlanjut bergerak menjaga silaturahmi agar terus terajut.

CIMAHI, akwnulis.com. Disaat tuntas shalat Ied di kampung halaman tempat kelahiran, maka waktu terbatas dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk bersua dan bersilaturahmi dengan saudara, kawan dan handai taulan.

“Kok waktunya terbatas?”..

” Karena besok, sang istri harus bertugas sebagaimana tugas profesinya di bidang medis”

“Oohh….. gituu”

Maka sore harinya, kembali bergerak dan duduk dibalik kemudi. Meninggalkan kampung halaman menuju rumah tinggal selama ini.

***

Esok harinya, tugas menjaga anak semata wayang sebagai ‘bapak rumah tangga 1 hari’ mulai berlaku. Karena istri harus berdinas dulu… eh nggak satu hari, setengah hari saja.

Untungnya ada pembantu, sehingga tidak terlalu berat urusan dalam negeri eh… dalam rumah, yang perlu difahami bahwa urusan domestik perlu sekali-kali dirasakan dan dijalani… jaim jaan (jaga imah jaga anak)…..

Lalu….. preparing to go again.

“lha moo kemana lagi?….”

Bersiap meluncur ke Kuningan nanti sore setelah Istri tuntas ber-piket hari ini… cemunggutttt… Eaaa.

***

Pukul 14.00 wib, dengan packing super kilat maka kami bertiga sudah bergerak meninggalkan rumah (lagi) menuju Kuningan…. Kabupaten Kuningan, Jawa Barat (..musti jelas, ntar disangka ke Kuningan Jakarta, beda banget tuch)….

……….

“Kok ceritanya nggak tuntas?”… (selow mas bro, musti jadi pilot dulu nich… ntar udah agak santai… dilanjut nulisnya yaaw).

Selamat Lebaran 1440 H

Secuil kisah di Hari Fitrah, 1 syawal 1440.

Photo : Ceramah Iedul fitri di mesjid AlKahfi 050619 / dokpri.

GUNUNGHALU, akwnulis.com. Usai shalat Idul Fitri berlanjut musafahah (bersalam-salaman), bibir terus tersungging dan harapan bersua serta silaturahmi bersama saudara, handai taulan, kawan, tetangga dan sahabat sepermainan menjadi sebuah semangat yang memberi makna mendalam.

Shalat Sunat (muakad) Iedul fitri di Mesjid Alkahfi menerbangkan kenangan yang jauh di masa silam. 30 tahun lalu, dikala usia belia, mesjid ini adalah tempat bermain, bermain dan bermain sekaligus tempat menuntut ilmu agama, pondasi pemahaman agama yang menyelamatkan diri ini di kala dewasa.

Tempat balapan lari ataupun balapan naik sarung yang ditarik teman lainnya, mengitari mesjid yang licin dengan lantai porselen yang baru adalah agenda menyenangkan di mesjid ini. Meskipun harus berkorban di jewer DKM dan sarung jadi bolong-bolong karena gesekan dengan lantai…. itu menyenangkan… asli.

Photo : Musyafahah starts / privdoc.

Dahulu, di halaman mesjid terdapat penampungan air berbentuk bulat, di gunakan untuk berwudhu sekaligus kolam renang gratis bagi anak-anak bandel yang rutin masuk kolam yang disebut ‘kulah‘ untuk mencari kesegaran atau jika beruntung mendapatkan beberapa ‘kijing’, kerang air tawar yang cukup besar ukurannya sebesar telapak tangan orang dewasa dan bisa dimakan dengan memasaknya terlebih dahulu.

Di kolam ini pula, aku dan beberapa kawan di rendam dini hari di hari idul fitri karena insiden takbiran misterius di tengah malam, yang penasaran monggo di klik cerita lengkapnya di ….. PENTAKBIR MISTERIUS.

Ah…. banyak sekali kenangan masa kecil yang terlintas dikala sang Khatib Ied memberikan ceramah dalam bahasa sunda yang berirama. Mesjid ini yang sekarang begitu megah dan bernama Mesjid Al Kahfi, adalah bagian masa kecilku yang penuh keceriaan, tawa, suka dan duka…. mulai paham huruf hijaiyah, belajar kitab sapinah dan jurumiyah (meskipun akhirnya nggak tuntas karena lebih banyak main di sekitar mesjid)… tapi minimal halaman-halaman awal quran dan kitab kuning menjadi pembeda dalam memahami Nur Illahi, di kemudian hari.

Akhirnya sesi ceramah tuntas dan di momentum selanjutnya, saling bersalam-salaman, menebar senyum serta jabat erat dan rangkulan bahu dikala jumpa kawan sepermainan, sepengajian yang telah berubah menjadi sosok bapak-bapak (diriku juga hehehehe), ….. ah sang waktu ternyata tak pernah mau berhenti. Hanya kenangan yang mengajak berjumpa dengan suasana masa lalu meskipun hanya bermain di tataran imajinasi.

Hari ini, bersujud di rumah-MU ya Allah, di kampung tanah kelahiran, bersama keluarga kecilku termasuk my little princes yang begitu excited disaat berjumpa pertama kali dan menikmati suasana di‘Rumah Api’ (Bantu masak di kampung Eyang)….

Sebuah kisah memasak berselubung asap di dapur tradisional milik eyang kakungnya di rumah masa kecilku.

Allaaahu Akbar…. Allahu Akbar… Allahuakbar…. Laailahailallah huAllahu Akbar, Allaahu Akbar Walillahil hamd.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriyah.

Mohon dimaafkan segala khilaf, baik lahir maupun bathin. Wassalam (AKW).

Rumah Api*)

Cerita mudikku, bantu masak di kampung Eyang.

Photo : Aku lagi mriksa rumah api / dokpri.

GUNUNGHALU, akwnulis.com. Kali ini aku moo cerita ya guys… Cerita mudikku ke rumah eyang di kampung tempat kelahiran ayahku…

Perjalanan hampir 3 jam, tidak terlalu kurasakan karena lebih banyak terbuai dalam pangkuan ibunda dengan dengkur teratur yang berirama.

Tetapi pas terbangun, suasana siang sudah berganti dengan kegelapan, ternyata sudah melewati waktu magrib. Awalnya bingung lho, tapi karena ayah ibu ada bersamaku, ya sudah…. tenang sajaaaa….

Nyampe di rumah Eyang di kampung yang disebut daerah Gununghalu. Disambut pelukan hangat eyang istri dan eyang akung…. Alhamdulillah.

***

Perkenalan sama rumah api itu, pas jam 10 malem. Aku kehilangan ayah, ternyata ayah lagi mindahin lokasi parkir mobil ke tempat yg lebih strategis sesuai saran eyang.

Aku berjalan ke dapur dan ternyata eyang lagi pada masak…. woaaah langsung gabung donk, khan di rumah udah biasa masak segala macem (maksudnya main masak-masakan)…. “Eyang ikutan bantu yaaa”
“Iya cantik, silahkan”…. senangnya.

Lalu Eyang memberi peralatan memasak beneran, ada cocolek, garam, gula dan piring bumbu… lalu diberi meja kursi dan dipersilakan bekerja di rumah api.

Photo : I am Binar, still working at Fire house / privdoc

Iya guys, rumah api beneeraan… ada api yang membara dan membakar kayu, lalu diatasnya ada wajan besar berisi air santai dan potongan daging serta berbagai bumbu yang diurus sama eyang kakung. Eyang putri nyiapin bumbunya lalu membuat tumis sayuran, wortel mentimun… eh acar ya?…. Sambal goreng kentang, bihun, sambal dan goreng kerupuk…. waaah ramaiii….

Di rumah api, selain hangat juga asapnya yang bikin sensasi berbeda, seolah kabut menyelimuti malam dan bau khas asap ternyata bikin suasana mudik makin terasa. Aku mah terus aja bekerja membantu eyang, dan asap yang ada tidak bikin sesak atau perih di mata…. pokoknya jadi aneh tapi menarik… beneraan lho guys.

Ayah juga jadinya ikutan nemenin, ngobrol sama eyang istri dan eyang kakung, ibu juga… jadi di saat mendekati tengah malam, suasana rumah api makin ramai dengan celotehan dan berbagai sajian makanan untuk esok hari, hari lebaran.

Oh iya guys, aku juga kangen nenek, ibunya ibuku yang kali ini jauh, karena mudik ke Kuningan. Ingin menyusul, cuma nggak tahu gimana caranya, cuman bisa berdoa dan berharap semuga ayah ibu masih punya jatah libur dan bisa nyusul ke tempat nenek….. yach sementara rumah api menjadi penghiburku dulu…. Kemoon, masak lagiiii.

***

Catatan Binar, 030619.

***

*)Rumah api : Dapur di kampung, dimana proses memasaknya menggunakan kayu bakar, dalam bahasa sunda disebut ‘hawu’ dan aktifitas menghangatkan badan sambil cingogo/jongkok didepannya disebut ‘siduru’.

Jikan anyar – fbs

Carita fiksi lenyepaneun…

*)fikmin : fiksimini, sebuah genre penulisan fiksi singkat berbahasa sunda.

Fikmin # Jikan Anyar #

Haté guligah nyanghareupan isukan, wegah tapi panasaran.

“Kumaha Mang, geus siap lahir bathin?” Mang Badri nanya.

“Nyaéta mang, lahir mah geus sayagi ngan bathin masih palaur, can panceg”

“Maksadna kumaha?”

Uing ngadeukeutan Mang Badri, tuluy ngaharéwos. Mang Badri seuri tuluy unggut-unggutan.

“Engké dibéré ubarna ku amang” kitu ceunah, bari nepakan tonggong.

***

Alhamdulillah akad nikah tur walimahan lancar teu aya halangan harungan. Aya kétang sautak saetik urusan kurang lalawuh jeung pahili bésék.

Peutingna nu hariwang, sieun teu nyugemakeun. Maklum ari calon jikan parawan tingting belekesentreng, ari Uing mah durian, duda ripuh anjrxxt. “Duh sieun teu mampuh.”

“Hayu atuh Kang…” Soanten halimpu dina puhu ceuli, dilieuk téh jikan tos polos sapuratina.

Bati olohok wé teu ngiceup-ngiceup, ningal pinareup nu matak sieup. Deg!.. bumi alam oyag, geutih dina awak ngadadak lancar ngagolak. Gabrug… les poèk.

Bulan madu di rumah sakit, dibaturan mesin EKG jeung jikan anyar. Duh.

Kopi Setrikaan & Bahagia.

Berbuka puasa, tidak lupa bahagia dan nikmati kopi setrika….

Photo : Kopi double espresso dan setrika jadul / dokpri

CIUMBULEUIT, akwnulis.com. Berbuka adalah saat bahagia, tentu ada syaratnya yaitu melakukan ritual puasa.

“Klo nggak puasa, emang nggak bahagia pas (ikutan) berbuka puasa?’

“Kata aku sih, Enggak… Bahagia itu ada syaratnya bro, nggak percaya?.. silahkan di coba”

Sebuah jawaban yang belum memuaskan, tapi karena belum mengalami langsung suasana berbuka tapi sebenernya udah batal (berbuka puasa sebelum waktunya)… maka pendapatku tetep, ‘Bahagia berbuka itu jikalau berpuasa’.

“Trus khan perempuan ada siklus menstruasi, otomatis dalam satu bulan ramadhan ada hari-hari tidak berpuasa?” pertanyaan dengan rasa penuh perasaan kembali digelar.

“Bener itu mah, tapi untuk pembahasan awal tadi, aku nggak tahu, aku bukan perempuannn….”

Itulah sepenggal dialog yang saling mempertahankan argumen tentang salah satu definisi bahagia, padahal poin yang sangat pentingnya adalah sebuah rasa bahagia, wajib hukumnya untuk disyukuri, bukan dipertentangkan.

Omar Khayyam berkata, “Be happy for this moment. This moment is your life”

Tuhh… bener khaan?..

Jangan ketuker yaa, Omar Khayyam ini adalah sastrawan ternama di Iran sekaligus ilmuwan yang mendalami ilmu matematika dan astropologi yang lahir di Nishapur-Iran 18 mei 1048 dan meninggal pada 4 Desember 1131 H.

Di Indonesia juga ada sastrawan terkenal yaitu Umar Kayam yang lahir di daerah Nganjuk Jawa Timur pada tanggal 30 April 1932 dan meninggal pada tahun 2002, beliau adalah sastrawan, sosiolog dan seorang guru besar Fakultas sastra UGM (Wikipedia).

“Balik lagi ke pokok pembahasan kali ini, jadi berbuka puasa dimana, sama siapa dan apakah bikin bahagia?”

Photo : Japanese salad / dokpri.

Kembali pertanyaan bertubi mendera diri, yang pasti kali ini berbuka spesial sekaligus bisa nikmati kopi setrika.

“Naon deui eta?” Sang kawan penasaran sambil mengamati daftar menu sang telah tersaji.

“Silahkaan….” diriku ngloyor ke meja depan sambi membawa secangkir kecil double espresso karena terlihat ada objek menarik disana.

Objeknya adalah sebuah setrikaan masa lalu yang pake pengunci depan, biasanya sih kunci atasnya berbentuk kepala dan badan ayam jago.

Simpan gelas espresso disampingnya, pilih posisi dan….jepret!… Kopi setrikaan berhasil diabadikan hehehehehe.

Kembali ke meja tempat diskusi bersama dan bersiap sesaat lagi berbuka puasa…..

“Allahi akbar… Allahhhhh hu akbar…

….. dst”

Kumandang Adzan magrib membuncahkan rasa bahagia kami, menahan lapar dahaga sedari pagi, termasuk hindari hoax atau forward beritanya…. sekarang saatnya bahagia dengan berbuka puasa.

Bismillahiroohmanirrohim

Air putih dan 3 butir kurma menjadi pembuka, shalat magrib bergantian adalah aktifitas yang seharusnya. setelah itu, barulah kita menikmati bersama, sajian makan minum paket berbuka puasa.

Photo : gulai kepala kakap / dokpri.

Kopi setrikaan perlahan disruput… nikmaaat, dilanjutkan salad ala chef miss be resto yang begitu beraneka tumpah ruah… yummmy, hingga akhirnya appetizernyapun ternyata…. main coursenya kawan setia, Gulai kepala kakap yang menggiurkan…..yang kebetulan tembolok kawanku-nya terbatas, jadi bantu ngabisin hehehehehe. Selamat berbuka shaum di ‘Injury time’ bulam ramadhan tahun ini, Wassalam (AKW).