BDG, akwnulis.com. Semarak semangat kemerdekaan menggema di seantero nusantara dan inilah momentum kebersamaan untuk bahu membahu di masa prihatin ini.
Salad merdeka / dokpri.
Begitupun perayaan HUT RI ke 76 ini adalah tahun kedua di masa pandemi. Maka acara upacara formal, segala permainan dalam kemeriahan plus kerumunan harus diubah dalam format berbeda.
Yang penting kemeriahan tetap terasa dan rasa patriotisme tetap membara. Betapa kemerdekaan ini diraih dengan segala pengorbanan pejuang bangsa, sudah kewajiban kita untuk mengisi dan menjaga kemerdekaan ini tetap abadi.
Begitupun dengan menu makan siang kali ini, harus senada dengan semangat merah putih. Maka penyesuaian segera dilakukan dan aksesoris pendukung yaitu masker merah putih bertuliskan 76 tahun RI menemani sajian sehat ini.
Nyam.. nyam. MERDEKA. (17/08/21)
Sisa – sisa salad merdeka / dokpri.
Gambar kedua adalah dokumentasi sisa salad yang hampir habis dinikmati. Sebelum tandas, photo dulu. #cekrek. Wassalam (AKW).
Sejak pagi berseragam korpri Kumpul bersama demi sebuah janji Tunaikan tugas untuk menghadiri Upacara peringatan Kemerdekaan RI
Angka 76 menjadi kebanggaan Suatu semangat untuk perubahan Indonesia tangguh adalah harapan Indonesia tumbuh adalah keharusan
Aneka acara formal tetap dengan batasan Karena covid masih mengendap mencari sasaran Konsep hybrid menjadi pilihan Jaga jarak dan prokes ketat adalah pedoman
Upacara online menjadi pilihan Berusaha Khidmat adalah perjuangan Tapi yang utama adalah keyakinan Bahwa Kemerdekaan ini bukan diraih dengan kemudahan
Hormaat Grak di Upacara Penurunan Bendera / dokpri.
Mari mengisi dengan semangat kebersamaan Saling bahu membahu untuk kemajuan Hancurkan ego dan berpegangan tangan Dengan bersama-sama menggalang kekuatan
Upacara penurunan bendera menjadi penutup hari Kembali berkhidmat dalam tahapan proporsi Angkat tangan untuk menghormati Merah putih yang abadi
SELAMAT & DIRGAHAYU INDONESIAKU INDONESIA TANGGUH INDONESIA TUMBUH.
Cisarua, akwnulis.com. Ketika terbuka wujud aslinya maka yang hadir akan berbeda dengan cover mengesankan yang rutin terlihat selama ini. Dikala tertutup oleh lapisan luar maka semua terlihat menawan, enak dipandang dan memiliki fungsi yang menenangkan sekaligus menghangatkan.
Namun seiring waktu berlalu, maka perubahan ke arah pelemahan itu berlangsung alami. Sehingga perlahan tapi pasti, akan hadir keluhan, ketidaknyamanan dan akhirnya kerusakan yang mengganggu suasana comfort zone selama ini.
“Apakah itu mengganggu?”
Jawabannya tidak kawan, justru ini menjadi momentum kita untuk bertafakur dan bersyukur bahwa keluhan, pelemahan ataupun kerusakan itu sangat kecil dan sedikit dibanding fungsinya yang berjalan baik-baik saja selama ini.
Yuk kita balik sudut pandangnya, jangan melulu melihatnya ngadat atau tak berfungsi dengan baik tetapi mari kita hitung, berapa lama dia baik-baik saja… gampang khan?…
“Ah nggak mudeng”….
Adduh kok nggak ngerti sih… garuk garuk kepala tak gatal alias gagaro teu ateul.
Tapi sudahlah, biarkan dulu ketidakmengertian itu berpendar, mungkin ada makna dari semuanya.
Meskipun rasa gemas menyembul di hati, tapi diredam dan dikendalikan saja dengan senyuman terbaik ini. Toh alat yang rusak ternyata masih bisa berfungsi dengan minimalis.
Menu maksi menyegarkan dan (belum) mengenyangkan..
Salad & Citra / Dokpri.
RIAU209, akwnulis.com. Siang yang panas terasa berubah menjadi teduh dikala sajian makan siang sehat terhidang didepan wajah. Salad roll dan butiran buah anggur yang berbaris rapih membentuk formasi siaga. Bersiap untuk dimakan tanpa banyak tanya.
Ucapan Basmallah menjadi pembuka dilanjutkan dengan suapan pertama, terasa potongan sayuran bercengkerama dengan gigi geraham yang senang karena ada kerjaan mengunyahnya untuk hadirkan kelembutan.
Kriuk kriuk… potongan sayuran segar memberi sensasi segar dan tentu hadirkan alasan tentang semangat kesehatan. Dilanjutkan dengan butiran buah anggur segar yang melengkapi menu sayur buah siang ini..
Tapi….. perut masih kukuruyuk… nggak kenyanggg hehehehehe…
Jadi kesegaran belum sebanding dengan kebutuhan, apalagi aktifitas padat dari mulai apel pagi hingga siang ini. Perlu protein sebagai pengawal kekuatan diri.
Salad buah dan arah / Dokpri.
Akhirnya dilanjutkanlah dengan mekdi (mekel di imah) berupa misting kecil berisi nasi, potongan sosis dan telor dadar… nyam nyam.
Biarlah gambar sayur buah hadir sebagai citra, menemani makanan karbo dan protein yang tak sempat di dokumentasikan karena tergesa.
CIKONDANG, akwnulis.com. Semilir angin pagi menemani hadirnya sentuhan hangat mentari yang selalu hadir menepati janji. Menebar janji kehangatan kepada seluruh alam, meskipun terkadang ditutup awan keresahan.
Begitupun raga ini, sesaat tengadah menikmati kesegaran pagi. Hangat mentari menyapa muka dan sebagian badan yang berbalut dosa. Betapa tak sebanding antara rahmat Sang Pencipta Alam dengan perilaku hamba ini dalam menjalani hari-hari.
Astagfirullohal adzim.
Perlahan kepala menunduk dan tertumbuk pada sebuah keindahan. Keindahan yang hadir dari kelopak bunga kamboja kuning yang terserak dan tergeletak tanpa daya.
Ada yang terdiam bersama kawan di antara rerumputan, ataupun menyendiri terdiam di tengah-tengah dedaunan.
Bunga kamboja kuning ini masih terlihat segar dan indah, meskipun jika diperhatikan lebih detail maka sudah mulai hadir bercak-bercak coklat pertanda prosesi alami sedang terjadi, menandakan semuanya di dunia fana ini tidak hakiki.
Bunga Kamboja di rerumputan / dokpri.
Begitupun warna kuning segarnya sudah memudar, kembali memutih dan akhirnya menyerah menjadi kecoklatan untuk luruh dan bersatu kembali dengan tanah setelah tuntas melaksanakan tugas sebagai penghias kesegaran serta pengantar keharuman khas bunga kamboja.
Sebuah kesadaran menggema, bahwa siklus kehidupan adalah keniscayaan. Kenyataan yang harus di syukuri dan ditafakuri. Serta satu hal penting lagi adalah semua berproses sesuai tugas fungsi masing – masing hingga akhirnya harus bersiap dan ikhlas bahwa masa keindahan sudah tuntas dan akhirnya kembali kepada asal yang hakiki. Wassalam (AKW).
CIMOHAY, akwnulis.com. Senja menghilang digantikan dengan gelap yang beranjak menjangkau malam. Sementara suasana di kantor masih ramai dengan sorak dan senda gurau, saling menertawai dalam rangka menjaga dan meningkatkan imunitas diri masing-masing.
Suasana yang relax dan menenangkan, sehingga tak terasa pergerakan waktu yang terus berjalan maju dan meninggalkan kenangan di setiap detik yang berhamburan.
Tetapi ada hal lain yang harus juga dilaksanakan dan itu berarti mengajukan ijin lisan kepada pimpinan untuk segera meninggalkan markas besar demi sebuah komitmen kehidupan yang sedang dibangun dengan landasan kepercayaan dan kasih sayang.
Sang rembulan yang telah hadir di angkasa fana, tersenyum menghiasi keindahan malam
“Ijin ya bos, mendahului keluar kantor, jemput istri”
Bos tersenyum dan meng-iya-kan, lega rasanya. Teman-teman lain yang sedang berkumpul, memperhatikan raga ini, sambil masih tertawa kecil mengingat joke – joke yang hadirkan malam ini.
Begitupun dengan tugas dan pekerjaan yang hadir dari pagi hingga petang, sudah dituntaskan sebelum mengajukan ijin pulang duluan.
Tiba-tiba bos berkata, “Istri kerja tinggal dikasih mobil dan sopirnya, nggak usah dijemput”
“Suasana kebatinan bos” jawaban spontan yang hadir tanpa berfikir.
Bos tersenyum dan raga ini pamit meninggalkan keriuhan kantor menuju sebuah janji yang berlandaskan komitmen diri
Nah suasana kebatinan… dua kata yang menjadi jawaban tadi jika dibedah akan menghadirkan beraneka perspektif, dan sebuah tanya ini bisa terjawab melalui dialog dengan jiwa dan rasa yang masih dalam satu raga.
Pertama, suasana kebatinan ini adalah hadirnya rasa tenang dan nyaman karena ingin memberikan sebuah makna perhatian kepada pasangan hidup, bahwa bisa dijemput di saat pulang kerja itu adalah sebuah kasih sayang. Meskipun tidak bisa setiap hari, minimal 1 atau 2 hari dalam satu minggu.
Kedua, suasana kebatinan yang hadir adalah model dukungan kepada pasangan hidup yang sudah cukup lama bertugas di salah satu rumah sakit pemerintah serta hampir 2 tahun ini rentan terpapar virus covid-19 karena statusnya sebagai nakes (tenaga kesehatan). Maka sewajarnya diungkapkan dukungan dengan cara kehadiran dikala pulang kerja.
Ketiga, suasana kebatinan yang hadir adalah sebuah kenyamanan disaat pulang bersama dan diperjalanan bisa ngobrol dan diskusi apa saja berdua. Nah ternyata ini juga momentum berharga, karena jika sudah sampai di rumah, anak cantik kesayangan yang akan menguasai ayahnya. Harus main dan berbagai aktifitas lain versi anak-anak hingga larut malam.
Keempat, suasana kebatinan ini adalah memberikan rasa aman dikala pasangan tercinta mendapatkan tugas shift sore dan malam. Otomatis pulang kantornyapun setelah menggelap, dengan posisi rumah sakit yang berada di kaki gunung Burangrang, sudah selayaknya memberikan dukungan rasa aman dengan kehadiran, itu memiliki makna besar nilai kehidupan (menurutku).
Jadi itulah suasana kehadiran yang dirasa. Meskipun ada juga pendapat lain yang melabeli suasana kebatinan ini karena takut sama istri hehehehe….. bebas klo pendapat mah, termasuk berbedapun itu biasa, karena memang masing-masing beda pendapatan hehehehe.
Ya udah ah, cuss…. jemput istri dulu.
Malam temaram semakin gelap, menemani raga ini menembus perjalanan. Ditemani sang rembulan yang setia berbagi tempat bersama mentari untuk menjaga keindahan dan keselamatan malam yang indah ini. Wassalam (AKW).
BOJONGHALEUANG, akwnulis.com. Setelah satu bulan lebih berusaha menghindari kontak dan kerumunan dalam kerangka PPKM darurat termasuk para tukang cukur langganan, maka hari ini akhirnya menguatkan hati dan melengkapi prokes (protokol kesehatan) untuk bertemu demi tujuan tertentu.
“Kenapa ke tukang cukur takut?” Sebuah tanya melengkapi kerinduan ini, rindu rambut kelimis dan terasa dingin di kala angin sepoi-sepoi melewati perlahan… ya pasti perlahan atuh, khan namanya juga angin sepoi-sepoi, klo kenceng mah namanya angin ribut hehehehe.
Dalam pembatasan PPKM darurat serta berbagai kemungkinan penularan si virus covid-19 delta maka interaksi intim dengan tukang cukur terpaksa ditunda-tunda. Karena pertemuan yang terjadi lebih dari 15 menit serta begitu dekat dan seringnya nggak sopan lho. Kepala orang dipegang-pegang, nggak pake minta maaf, seenaknya.
Trus mesin gunting cukur elektriknya apakah steril atau tidak, ruangan cukurnya di disinfektan atau tidak, trus yang datang ke tempat cukur itu apakah mungkin yang sedang membawa virus tapi tidak dirasa dan juga dikaitkan dengan peraturan esensial non esensial dan kritikal…. keputusan akhirnya ya ditunda dulu meskipun rambut keriting ini semakin mendekati model bulu domba yang meringkel jikalau mulai panjang, apalah daya.
Tapi itu cerita hanya bertahan 1,5 bulan saja, karena ternyata bercukur itu adalah kebutuhan. Maka hari inilah saatnya mencoba berikhtiar dan bersiap dengan segala protokol kesehatan.
Jam operasional / dokpri.
Bawa handsanitizer 2 buah, ada yang gel dan cairan, siapa tahu di jalan berubah pikiran mau pake yang mana. Lalu masker bawa cadangan, agar setelah cukuran langsung ganti dengan yang baru. Oh ya maskernya double pakenya, satu masker medis dan satu lagi masker modis… jadi gaya dapet, terlindungi jugaa..
Bismillah…. datanglah ke tempat cukur langganan tepat waktu, supaya bisa yang pertama dilayani… tapii.. ternyata jam bukanya berubah, lebih telat 1 jam karena ikutan aturan… ya sudah tunggu aja, kadung sudah di sini. 1 jam cukup buat merenung dan atau buat tulisan tentang situasi ini.
Maka bergulirlah jari diatas keyboard smartphone ditemani diskusi kecil didalam kepala tentang segala macam yang berseliweran tak berbatas kata. Tapi yang pasti semakin kesini suasana kehidupan semakin berbeda, istilah adaptasi atau mati ternyata itulah kenyataan yang ada. Makna duniawi tanpa daya jikalau Sang Maha Kuasa berkehendak terasa begitu dekat dan tak ada pilihan lain selain pasrah dan ihtiar.
“Om, silahkan. Di sebelah ujung”
Suara petugas pengatur lalulintas cukur mencukur memanggil dan tibalah dalam prosesi pemotongan rambut ini….
“Potongan gimana om?”
“Model yang awet dan rapih aja”
“Oke bos”
Langsung alat cukur beraksi mengitari kepala dan membabat rambut yang tidak beraturan lagi ini.
Nah dikala rambut berjatuhan dan diambil dengan tangan, ternyata warnanya abu-abu, bukan putih atau hitam tetapi diantara keduanya… sesaat tertegun.
“Kok beda?”
Pas wajah diangkat dan bertatapan dengan cermin, ternyata kerutan juga sudah hadir di wajah ini. Disini sebuah kesadaran hadir, bahwa perjalanan umur adalah kenyataan. Salah satunya dengan warna abu rambut yang hadir secara alami bukan di semprot atau diwarnai, tapi asli alami.
Alhamdulillahirobbil alamin, tanpa perlu mengecat dan reques macem-macem di salon, warna rambut abu ini menjadi unik dan menjadi penanda syukur bahwa masih diberi berkah rambut yang melengkapi kefanaan ini.
Hasil cukur awet / dokpri.
“Om, cukup segini?” Sang pencukur membuyarkan lamunan. Sontak melihat kaca dan mata agak terbelalak karena kepala ini plontos abis dengan sisa minimalis.
“Wadduh diabisin?”
“Kata om tadi supaya awet” jawaban sang pencukur enteng.
Iya juga sih, lagian mau komplen juga nggak bakalin ngembaliin rambut abu yang sudah berserakan di lantai. Akhirnya senyumin aja dan terima keplontosan ini.
Akhirnya drama pencukuran berakhir dengan keramas air dingin dan diberi serum penyubur rambut agar cepat tumbuh.
“Lha atuh cepet tumbuh, jadi nggak awet dong?”
Sang pencukur tertawa, “Gepepe atuh om, khan rejeki kami itu mah”
Ya sudah, sampai jumpa bulan depan. Lalu bayar di kasir dan berjalan tegap meninggalkan tempat cukur langganan dengan kepala plontos serasa vin diesel mini versi buncit hehehehe. Wassalam (AKW).
Giliran arabica wine Gununghalu yang di seduh… ajiib.
Proses menetesisasi / dokpri.
BANDUNG, akwnulis.com. Setelah 2 hari yang lalu menikmati arabica wine Abah Papandayan, maka kali ini mencoba biji kopi yang diproses wine juga. Yaitu kopi arabica Gununghalu. Sebenernya sebulan yang lalu sudah pernah diseduh tetapi nggak sempet bikin review ala-ala. Buat nuntasin itu, ya musti bikin lagi donk, supaya feelnya dapet dan menuliskan apa adanya, apa yang dirasa dan apa yang diamatinya.
Inilah ceritanya….
Oh ya jangan bosen ya brow, jikalau cerita proses seduh kopinya gitu – gitu aja. Memang begitu protapnya buat nyeduh manual pake versi corong keclak (corong yang nantinya menetes) baik corong V60 ataupun flat bottom dengan 3 bolongan.
Maka standarnya sama 2 x 13gr biji kopinya di grinder dengan ukuran 3 dan 4. Tak lupa air panas dijerang… eh air dari galon dijerang agar mendidih sebagai standar kepanasan sang air penyeduh ini.
Setelah biji berubah wujud menjadi serpihan, maka rasa sedih terasa menyesakkan hati… lhaa kok kesinih sih… gara-gara kata serpihan ya?Padahal serpihan ini mah nikmat, segar dan harum.
Berhubung kertas filter V60nya habis sementara yang ready adalah kertas filter flat bottom, maka proses manual brewnya berbeda dari biasanya. Kesamaannya adalah prosesi corongisasi ini yang diyakunkan bahwa menghasilkan cairan kopi yang bersih bebas ampas serta jelas tanpa manisnya gula.
Biji kopi kali ini adalah biji kopi arabica Gununghalu yang di proses secara wine. Sebuah pilihan processsing coffee yang (hanya) bisa dinikmati seseorang yang sudah masuk (maniak) kopi. Karena profile rasanya mayoritas body bold dan acidity super strong trus memberi sengatan rasa yang bikin kaget…. seperti sensasi pas nyruput wine, katanya mirip. Plus ada rasa ninggal yang bisa bertahan beberapa saat di pangkal lidah, tentu dengan rasanya yang khas.
Siap dinikmati / dokpri.
Buat yang belum pernah dan mau mencoba, tentu tidak mengapa. Tapi hati-hati dengan sengatan kombinasi keasaman dan kepahitan maksimalnya…
Yuk ah… seduh dulu… airnya udah mendidih brow.
200 ml air 90° derajat celcius berpadu dengan 26 gram serpihan biji kopi menghadirkan rasa yang penuh sensasi. Tak lupa sebelum di sruput wajib bin kudu untuk di dokumentasikan dulu… Cetrek.
Nah baru dituangkan di gelas, dan srupuuttt…
hmmm.. enak euy.
Versi lidahku mah after tastenya ada tamarind dan dark chocolate serta selarik fruity. Bodynya bold tapi sedikit tipis, nah aciditynya ajib…. strong sadis bikin terhenyak dengan nyerengnya….. grrrrr…
…. dan diakhiri sebuah rasa ninggal di pangkal lidah sebelum hilang kembali digerus kenangan.
Maafkan jika cerita sruput kohitala ini bikin baper dan terkesan ngabibita dan PHP.. bikin pengen aja tapi biji kopinya nggak dikirim. Maafkan semuanya, stoknya sedikit dan itupun pemberian hehehehehe…. tetapi dengan sebuah cerita, maka rasa yang ada akan selalu terjaga.. uhuy.
Akhirnya bisa menikmati kembali prosesi dan sruputisasi…
Persiapan Penyeduhan / dokpri.
CILEUNYI, akwnulis.com. Tak sabar sebuncah rasa untuk kembali mereview ala – ala sebuah keajaiban rasa yang dihadirkan oleh si biji hitam misterius yang penuh sensasi. Kali ini hadir atas kebaikan seorang kawan, kopi arabica Abah Papandayan.
Tanpa banyak cingcong dan diskusi mendalam dengan diri sendiri, meskipun phisik masih agak lelah, semoga menyeduh kopi secara manual ini bisa menjadi mood booster untuk kembali menjadi perkasa menapaki hari-hari yang harus dimaknai dengan rasa syukur yang penuh berkah meskipun situasi pandemi masih penuh ketidakpastian.
Maka segeralah peralatan perang eh…. peralatan seduh manual dipersiapkan… jeng jrengg.
Jreng….
Peralatan sederhana tapi penuh makna, kertas filter flat bottom, corong flat bottom, air panas pake merk amidis dan dijerang agar menggolak… eh mendidik. Tak lupa 2x takaran bean sekitar 28 gram di grinder dengan ukuran 3-4 agar menghasilkan serpihan kasar yang menuh keharuman.
Segar dan harum menyeruak memenuhi ruang hati, melengkapi proses penggilingan ini… hmmmm.
Setelah air mendidih, diamkan sejenak agar mendekat suhu 90° celcius. Lalu diguyurkan perlahan denganteko kaca gooseneck ke kertas filter sebelum dilakuka prosesi manual brew ini. Lalu serpihan kasar biji kopi memenuhi kertas filter di corong flat bottom dann…….. currr kembali teko kaca gooseneck beraksi menyalurkan air panas berpadu serasi dengan serpihan biji kopi untuk bersama-sama lakukan proses ekstraksi… diputerr cuur… puternya searah jarum jam ya… tadaaa… tetes demi tetes cairan hitam harum berkumpul di dasar bejana kaca… asyiik.
Lebih siap lagi untuk diseduh / dokpri.
Tak lupa gelas kaca kecilku, selalu setia sebagai sarana penyeruputan kopi yang elegan dan penuh kenangan.
Setelah tuntas bermanual brew, saatnya cairan hitam dipindah ke gelas kaca.
Srupuuut…..
Woow….
Rasa winenya menyerang syaraf – syaraf mulut dengan dahsyatnya setelah sekian lama jarang bersua dengan sensasi rasa. Betapa nikmatnya, acidity strong menguasai semua perasa didukung body bold maksimal yang melingkupi segala suasana.
After taste yang dihadirkan begitu ‘ninggal‘ di pangkal lidah beberapa menit berselang serta ada rasa ‘nyereng’ atau menyengat yang merupakan kekhasan biji kopi wine yang penuh kesempurnaan. Hadir rasa lime yang asam kecut plus tamarind serta ada rasa anggur hijau yang kesat segar (semoga lidahnya bener inih…) dan aroma fruity lain yang agak sulit didefinisikan oleh keterbatasan lidahku inih.
Sungguh menyenangkan bisa nyeduh biji kopi abah papandayan ini yang diproduksi oleh Kareumbi Farmer ini. PiRT No. 2093272010054-19 ini hadir atas kebaikan seorang kawan yang sengaja datang ke kantor bersama Bos petani kopi sekaligus roasternya, hatur nuhun Kang Rino & Kang Bayu.
Kopi Arabica Abah Papandayan ditanam di Kaki Gunung Papandayan pada ketinggian 1400 mdpl terdiri dari varietas unggulan diantaranya Yellow Borbon, AS-1 dan Preanger Buhun dengan naungan pohon jeruk dan pohon kayu hutan hujan tropis (ini tertulis di bungkusnya kawan…)
Siap dinikmati / dokpri.
Itulah mood boster kali ini, badan segar hati nyaman begitupun lidah terus mengecap rasa nikmat yang tertinggal. Happy weekend kawan, dont forget to sruput your coffee…. kopi hitam asli tanpa gula. Wassalam (AKW).