PEMANAS DARURAT

Masa lalu barang ini sangat membantu.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebetulnya pertemuan dengan alat ini tidak disengaja. Disaat menemui seorang kawan lama di tempat kerjanya, melihat para pekerja bangunan yang sedang berkumpul dan terlihat berdiskusi cukup serius. Mungkin tentang komposisi terbaik adukan  ataupun pola pemasangan granit atau keramik lantai. Terlihatlah seutas kabel pendek yang ujung satunya adalah sendok yang dibentuk melengkung dan ujung lainnya adalah colokan ke listrik.

Segera di dekati, diamati dan akhirnya tentu diabadikan agar menjadi gambar photo yang abadi.  “Mengapa barang ini menjadi menarik?”

Jawabannya adalah barang sederhana ini bisa membangkitkan kembali memori masa lalu, sebuah pengalaman suka duka eh suka cita menjalani kehidupan asrama ksatrian yang penuh tantangan.

Apa sih fungsinya alat itu?” Celetuk anak kesayangan yang datang menyusul. Terlihat wajahnya bingung tapi penasaran.
Itu adalah alat penting yang mendukung perjalanan pendidikan berasrama ayahmu!” Jawaban singkat yang makin membingungkan sang anak karena belum terbayang apa fungsinya.

Cara terbaik menginformasikan ke anak tentu dengan memperlihatkan barang yang similar dan tentu diperjualbelikan secara online. Sambil didukung dengan cerita lisan tentang pengalaman ayahnya sewaktu tinggal di ksatrian.

Bagaimana barang ini ternyata memiliki fungsi strategis yakni sebagai pemanas air instan yang sangat mudah pembuatannya juga pengoperasiannya. Hanya bermodal kabel listrik ukuran 30 – 40 sentimeter, colokan listrik dan sendok atau garpu dari logam. Dirangkai di masing- masing ujungnya maka langsung berfungsi. Caranya gampang. Siapkan gelas kaca besar atau mangkuk baik dari logam ataupun keramik, masukan ujung sendok atau garpu ke gelas dan mangkok dan colokan steker ke listrik. Tak berapa lama air akan keluar buih – buih dan akhirnya mendidih. Sudah begiti saja, maka air panas siap digunakan untuk menyeduh kopi, susu dan tentu yang paling favorit adalah mie rebus. 27 tahun yang lalu belum ada seperti pop mie yang siap seduh dengan tempatnya yang ada adalah merk sarimi, indomie dan supermie saja dlaam bentuk bungkus plastik.

Maka dengan hati – hati air panas dituangkan ke bungkus mie yang sudah diremukkan serta bumbu sudah tergabung. Air panas yang sudah masuk lalu ditutup dengan mengikat ujung bungkus mie tersebut dengan karet, tali sepatu atau barang lain yang berfungsi mengikat. Tunggu 5 menitan lalu tuangkan ke piring dan siap dinikmati.

Jangan lupa juga harus waspada karena ada aturan internal tidak boleh makan mie di barak atau asrama. Jadi dari proses menyimpan mienya, proses penyeduhan hingga makannya harus ekstra waspada dan tersembunyi. Biasanya tengah malam di meja belajar sambil menghafal dan baca buku juga menikmati menu makan dini hari he he he.

Ada satu lagi kehati-hatian yang lebih penting dan beresiko adalah kemungkinan kesetrum listrik. Karena colokannya langsung akses ke listrik maka kemungkinan jika masih nyolok ke air jangan sekali – kali dipegang. Karena mungkin bisa terjadi hal yang tidak diinginkan. Jadi kehatia- hatian menjadi sangat prioritas.

Oke itulah cerita singkat kali ini tentang pemanas darurat. Sebagai nostalgia, ato kita coba. Mumpung ada mienya 2 bungkus lagi. Terimakasih, Wassalam (AKW).

HATI2 DG KEINDAHAN

Berhati-hati itu penting.

CIMAHI, akwnulis.com. Keluar rumah pagi ini langsung disergap dengan hawa dingin yang menyelusup dibalik baju dan mencengkeram kulit hingga terasa hadir di tulang. Tapi raga dipaksakan untuk bergerak menuju mesjid di dekat rumah untuk shalat shubuh berjamaah. Bismillah..

Pulang dari mesjid suasana masih sedikit gelap, sehingga pas akan memasuki pagar rumah tidak terlalu ‘aware’ dengan lingkungan sekitar. Tidak ada yang spesial di sekitar lingkungan rumah. Padahal ada sebuah rupa yang hadir tanpa kata tetapi masih terlindung oleh gelapnya cahaya.

Dikala akan berangkat bekerjalah semuanya menjadi terang dan sebuah bentuk keindahan hadir dihadapan mata. Sebuah bunga cantik yang berada di atas selokan depan rumah, seolah tersenyum merekah menyambut pagi yang memang indah. Kombinasi warna hijau putih, garis coklat dan ungu biru yang menentramkan rasa.

Bunga apakah itu?”

Sebuah tanya menyeruak dalam dada, tanpa banyak bertanya keluarkan saja smartphone kesayangan dan lakukan jepretan terbaik agar keindahannya dapat diabadikan dalam bingkai photo digital serta diyakini tersimpan lebih lama lagi.

Neomarica Northiana, sebuah nama yang asing hadir di pagi ini atas bantuan google lens. Sebuah aplikasi google yang bisa mengidentifikasi informasi berasal dari gambar atau photo yang ada. Bunga ini memiliki sebutan lain yaitu Walking Iris atau North’s false flag. Dalam bahasa indonesia disebut juga bunga airis biru putih.

Bunga ini berasal dari brazil dan minim perawatan sehingga sangat mudah untuk ditanam atau berkembang. Hanya saja ‘ceunah’ meskipun terlihat begitu indah tetapi beracun bagi manusia dan hewan peliharaan seperti anjing dan kucing. Jika tertelan maka bisa menyebabkan mual muntah dan diare.


Wuih ternyata satu bunga ini di pagi hari memiliki aneka makna yang penuh dinamika. Pertama tentu dengan rasa syukur untuk selalu memperhatikan hal – hal sederhana ini bisa menemukan keindahan daei sebuah bunga yang merekah diatas selokan depan rumah dengan batang dan akarnya berada di halaman rumah tetangga tetapi menjulur keluar pagar yang ada.

Kedua, harus hati – hati dan waspada dikala bersua dengan sesuatu yang indah. Bunga ini mengajarkan bahwa dibalik keindahan dan keanggunannya tersimpan racun yang bisa membuat manusia dan hewan peliharaan mual muntan dan diare. Jadi dalam kehidupan jangan mudah terlena dengan kecantikan kegantengan ataupun keindahan yang ada. Cukup dilihat dan disyukuri sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna. Titik. Jangan berharap memiliki karena khawatir akan menjadi racun kehidupan dan diare bathin disertai luka tak berdarah.

Maka cukup dengan satu jepretan photo saja, lalu beranjak pergi menuju tempat kerja dengan catatan penting adalah hati – hati jika melihat keindahan. Have a nice day, Wassalam (AKW).

DISEUSEULAN – fbs

Teu pupuguh bendu, janten weh…

FIKMIN # DISEUSEULAN #

BOGOR, akwnulis.id. Sora handaruan tutunjuk bari molotot. Ngaran sato disebutan, aya ajag, mèong congkok, ogè bagong jeung anak londok. Bèntar di langit ngariluan, cai hujan sèah maturan.

Kuring balem, teu dipasihan kesempetan ngawaler.. Sia, manèh, èntè, belegug paburisat deui dina payuneun raray. Kaluar tina baham jalmi nu ngangken tokoh tur ceunah ‘gaduh seueur jasa.’

Punten bapak, teu aya maksad….”
“Geus cicing teu kudu ngajelaskeun, pokokna saya ngarasa teu dihargaan!!!” Anjeunna motong bari morongos.

Kuring ngarènghap bari melongkeun, “Euleuh ku naon si bapak ieu?”

Pas anjeunna ngangkat panangan, katingal bade nyabok.

Brukk!!!

Ujug – ujug ngajengkang kapayuneun, ditubruk bagong ti pengker. Teras ngagoak tarik pisan da panangan katuhu digègèl ajag. Dipengkereun ngagerem mèong congkok, “Aya naon nyalukan kaula lur?”

Hujan ngadadak raat, langit bèngras tapi simpè.
Nu tadina barangasan, ayeuna mah leuleus. Beungeutna sepa awakna ngadègdèg. Bahamna rapet teu tiasa nyarios.

Mèong congkok ngiceupan, ajag sareng bagong tinglalèos. Kuring imut bari ningalikeun sihung. (AKW).

KÈNGING REJEKI – fbs

Kedah ècès ngadu’a tèh.

FIKMIN # KÈNGING REJEKI #

BOJONG HALEUANG, akwnulis.id. Uih hajian ngahaja nepangan salah sawios dunungan di tempat damel. Maksad nu utami tangtos silaturahmi ogè sakantenan ngajengkeun widi badè cuti. Margi asa lenglengan kènèh. Saurna mah jètlèg.

Wilujeng siang bapak, punten ngawagel waktosna”

Sok kalebet, mangga calik heula” soanten agem dunungan nu katingal nuju pakupis sareng berkas dina luhur mèja damelna. Teu lami ngantos, nembè waè tiasa ngobrol ngadugikeun pamaksadan. Mung langkung seueur dunungan nu nyarios pangalaman anjeuna hajian dua puluh lima taun kapengker.

Leres pisan Cèp, bapak kapungkur unggal payuneun Kabah ngadu’a pogot pisan hoyong dipasihan rejeki. Uih hajian dikabul. Alhamdulillah dugi danget ayeuna nyarengan.”

Masyaalloh, mustajab nya bapak”

Nyaèta du’ana harita henteu dibeunjeur bèaskeun, janten wè sanès harta banda nu katampi tèh”

Oh, jantenna kenging rejeki naon?” Kuring panasaran.

Kènging ieu” Dunungan ngawaler bari ningalikeun poto bojona. Dihandap aya namina, Rejeki. Cag. (AKW).

Berjumpa dg KABAH dalam tugas.

Mengantar Jemaah Lansia Umroh wajib.

MASJIDIL HARAM, akwnulis.id. Sore itu getaran hati begitu kencang dikala taksi yang kami bertiga tumpangi bergerak membelah lalulintas di kota Mekah. Getaran semakin menjadi bukan karena banyaknya pemeriksaan dari aparat keamanan di Kota suci ini tetapi sebuah gejolak haru yang tak tertahankan karena akan melihat langsung Kabah, sebuah tujuan utama selama 5 waktu setiap hari menjadi arah shalat fardhu kita. Pemeriksaan di jalanan cukup ketat, lebih dari 5 kali diberhentikan dan ditanyakan terkait tanda pengenal berupa kartu NUSUK. Sebuah identitas resmi yang harus dimiliki para calon jemaah haji.

Bagi kami kloter terakhir penerbangan ibadah haji kali ini penuh tantangan. Karena bis shalawat diberhentikan sementara untuk persiapan kegiatan puncak haji di arafah muzdalifah dan mina padahal kami harus tetap melaksanakan ibadah umrah wajib sebagai syarat awal pelaksanaan haji. Tentu yang kami utamakan adalah koordinasi dengan para ketua KBIH sebagai ketua rombongan dan ketua regu agar jemaah langsung melaksanakan umrah wajib sementara petugas bisa belakangan setelah jemaah mayoritas tuntas berumrah. Maka pilihan naik taksi kami anggap lebih praktis meskipun harganya bisa gila-gilaan. Ya sudah jalani dan hadapi saja.

Taksi berhenti di dalam terowongan dan setelah membayar biaya 50 real bertiga yakni Bapak Ketua Kloter, pembimbing ibadah dan diriku maka kami bertiga menuju eskalator yang ternyata langsung mengarah ke WC 3 dan tentunya langsung berada di gerbang pintu masuk Masjidil Haram, Masyaallah Tabarakallah.

Bertepatan dengan kumandang adzan magrib, maka kami bersegera menyesuaikan dan ikut shalat magrib di pelataran masjidil harom. Setelah itu barulah bisa memasuki area dimana Kabah berada. Setelah mewati gerbang mesjid, lalu lurus dan turun melalui eskalator, disitulah degup jantung begitu kencang karena dihadapan raga yang rapuh dan tiada daya ini terlihat batu hitam hajar aswad, Kabah yang berdiri kokoh menyambut kedatangan berjuta umat muslim dan segala penjuru dunia. Doa melihat Kabah dilafalkan dilanjutkan dengan memulai prosesi tawaf dimana hati ini bergetar dan mengharu biru, “Bismillahi Allahuakbar” dimulailah prosesi mengelilingi Kabah dengan berbagai lantunan doa, shalawat hingga berbagai doa di sampaikan karena inilah tempat terbaik dimana doa akan segera dikabulkan juga beribu pahala akan didapatkan.

Desak – desakan manusia yang mengelilingi Kabah inipun ternyata memberi isyarat penting tentang makna kesabaran dan keikhlasan. Disaat badan ini terdorong keras oleh rombongan manusia yang berusaha memotong jalur demi mencium hajar aswad termasuk melihat seorang ibu yang terjepit dan meringis kesakitan, muncul sebuah tanya, “Apakah karena obsesi mencium hajar aswad dengan segala keutamaannya harus mendzolimi orang lain yang sedang berusaha melaksanakan tawaf?”

Mungkin pendapat masing – masing berbeda, tapi penulis memilih untuk tidak dzalim atau menyakiti orang lain demi mencapai dan mencium hajar aswad. Aktifitas selanjutnya adalah melakukan prosesi Sa’i yaitu berkeliling dari bukit sofa ke bukit marwah selama 7 kali. Sesuai aturan yang sudah dipelajari pada saat manasik haji, maka ucapan doa di kala mulai bergerak, disaat berada dibawah lampu berwarna hijau dimana laki-laki fisunnahkan untuk berlari kecil hingga berdoa di bukit marwah dengan menghadap kembali ke kiblat semakin menebalkan rasa iman kita dan menguatkan tentang bagaimana sejarah panjang tentang perjuangan nabi ibrahim dan siti hajar di masa lalu.

Akhirnya setelah prosesi sa’i berakhir maka tuntas sudah pelaksanaan umroh wajib yang dipungkas dengan pelaksanaan tahalul yakni mengguntinh sedikit rambut dengan mebaca doa, “DOA TAHALUL”. Tidak lupa juga menyempatkan untuk meminum air zam zam yang tersedia berlimpah ruah di berbagai titik masjidil haram. Di lokasi Sa’i air zamzamnya begitu dingin seperti didalam kulkas. Sementara yang diluar terutama di pelataran air zamzamnya tidak terlalu dingin tetapi tentu tetap enak nikmat menyegarkan dan berpahala serta memberi efek penyembuhan.

Setelah tuntas semua, kami bertiga kembali meninggalkan masjidil haram dan kembali berhadapan dengan sopir taksi yang mematok harga tidak manusiawi. Ya sudah dibayar saja patungan bertiga dengan harga 2 kali lipat sewaktu kami berangkat. Yang penting kami segera bisa tiba di hotel dan beristirahat karena esok hari banyak sekali tugas yang harus dilakukan terutama menyangkut nasib beberapa jemaah yang terpisah rombongan juga terpisah dari koper besarnya yang tak kunjung datang. (AKW).

Tiba di MEKAH & Dinamika awal.

Datang & kerja, semangat.

SHISHA MEKAH, akwnulis.id. Sesaat memasuki hotel 704 Wehdah al Khoir langsung dihadapkan dengan informasi yang menyesakkan dada. Salah satu jemaah kloter 28 dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit King Abdul Aziz Arab Saudi dimana sebelumnya diberitakan ada jemaah haji pingsan di sektor 10 tepatnya lobi hotel 1021 lalu ditangani oleh petugas kesehatan arab saudi dan langsung dibawa ke rumah sakit King Abdul Aziz. Memang informasi ini belum A1 tetapi sebagai bagian dari petugas haji maka dipastikan harus ada gerakan khususnya dari ketua kloter dan dokter serta perawat dari tim kesehatan.

Setelah koordinasi intens bu Dokter dan pihak KKHI serta pak ketua kloter dengan pihak sektor disampaikan bahwa penanganannya langsung dibawah kordinasi daker (daerah kerja) mekah. Berita tersebut belum selesai lalu dapat informasi beberapa jemaah belum mendapatkan atau belum masuk ke hotel dan berada di sektor 3. Kami yang masih jetlag dari pesawat harus langsung berkordinasi cepat agar tidak ada jemaah yang telantar sementara operasional bis shalawat sudah dihentikan sementara. Jadi pilihannya naik taksi kembali, untungnya bapak binbad (pembimbing ibadah) bisa sedikitnya berkomunikasi bahasa arab. Jadi bertanya dan menawar ongkos taksi bisa jelas di awal dan mendapat kepastian.

Kami berempat bergerak menuju sektor 3 dan disambut baik oleh bapak Kepala sektor 3 dan setelah dikordinasikan dengan cepat, jemaah sudah dipastikan mendapatkan hotelnya serta bisa beristirahat dengan tenang. Hanya saja tantangan menuju kantor sektor 3 ini tidak main – main. Karena jalan – jalan sudah banyak ditutup maka pilihannya adalah berjalan kaki. Kebayang nggak, siang mentrang di suhu 45° – 48° celcius kami berempat berjalan kaki dengan bermodal google map dan berpakaian kain ihram. Keringat terasa mengucur terutama di paha, gimana gitu rasanya.

Lelah dan pegal terasa tetapi semangat kami harus tetap membara. Ini baru permulaan sebagai tantangan awal dalam penugasan sebagai petugas haji tahun ini. Maka dari kantor sektor 3 kami kembali bergerak ke kantor Dakker di daerah shisha untuk mengecek kartu NUSUk para jemaah dan petugas. Kembali kombinasi jalan kaki, naik taksi dan jalan kaki hingga masuk ke lantai 2 kantor Dakker mekah. Lapor dan diskusi dengan petugas disana, mendapatkan kartu NUSUK petugas dan juga jemaah dengan pengecualian  kartu NUSUK penulis ternyata tidak ada di dakker, katanya di ambil oleh petugas syarikah.

Olala…

Ternyata perjuangan belum tuntas, hati kecil ini berbisik, “Harus ikhlas dan banyak istigfar disini mah, yang penting jemaah dulu baru urusan pribadi.”

Setelah dipastikan urusan jemaah bisa tertangani oleh ketua kloter dan tim, kami kembali ke hotel dan barulah berkoordinasi terkait ID card NUSUK yang ternyata harus janjian dengan pihak syarikah dan bahasa arab menjadi wajib. Hasil koordinasinya kami bisa bersua di lusa karena sore ini kami harus melaksnakan umroh wajib terlebih dahulu.

Alhamdulillah petugas haji kloter yang sudah datang di kloter awal bersedia membantu. Kebetulan memang tim kita di kantor, sehingga janjian ketemu dengan pihak syarikah bisa dilaksanakan. Meskipun tentu harus berjalan kaki kembali menuju hotel 711 dan menunggu hingga 1 jam lebih. Jalani saja, akhirnya bisa berjumpa dan ID card NUSUK bisa didapatkan ditukar dengan pasport sebagai bagian dari proses adminstrasi penyelenggaraan haji tahun ini.

Oh iya, syarikah itu adalah pihak swasta di arab saudi yang bekerjasama dengan kementerian agama republik indonesia tentu dibawah kordinasi pemerintah Arab Saudi. Terdapat 8 pihak syarikah yang ditunjuk dan mengelola pelayanan para jemaah haji tahun ini diantaranya :
1. AL Baits Guest (BTG) 35.977 jemaah
2. Mashariq Rakeen (RKN) 35.090 jemaah
3. Rehlat Wamanapea (RHL) 34.3802 jemaah
4. Mashariq Sana (SNA) 32.570 jemaah
5. Rifadah (RFH) 20.317 jemaah
6. Rawaf Mina (RWF) 17.636 jrmaah
7. MCDC (MCD) 15.645 jemaah
8. Rifad (RFD) 11.283 jemaah
dan penulis berada di syarikah ke-8 yakni RFD.

Satu lagi yang belum selesai yakni koper besar ternyata belum datang di hotel, sama nasibnya dengan pak Gungun petugas haji juga. Kopernya masih berpetualang dari hotel ke hotel di mekah. Maka pertama yang dilakukan adalah berdoa kepada Allah agar koper segera ditemukan dan yang selanjutnya tentu berikhtiar dengan mengecek ke beberapa hotel serta share info via WAgrup petugas. Alhamdulillah akhirnya diremukan di hotel 301 dan diantarkan oleh petugas dari sana ke hotel 704 tempat kami menginap, Alhamdulillah, bisa ganti baju akhirnya. Khususnya baju dalam hehehe.

Demikianlah cerita singkat proses awal kedatangan kami di kota mekah dan bersiap menghadapi pelaksanaan ibadah puncak haji yaitu wukuf di arafah, mabit di muzdalifah dan melempar jumroh di mina. Tapi jangan lupa ada tahapan umroh wajib yang harus dilaksanakan sebelumnya. Semangat, Wassalam (AKW).

CATATAN PETUGAS HAJI DAERAH – Tiba di Mekah.

Alhamdulillah akhirnya tiba di Kota Mekah.

JARWAL MEKAH, akwnulis.id. Suasana mengharu biru dari para jemaah yang sudah melewati pemeriksaan imigrasi lalu bergerak ke tempat persiapan pemberangkatan ke hotel masing – masing di bandara King Abdul Aziz Jeddah. Tempatnya cikup luas dan terdapat akses toilet yang luas baik laki – laki dan perempuan. Maka bergiliranlah ke toilet untuk sekedar buang air kecil atau malah langsung ‘menandai tempat‘ dengan aktifitas buang air besar.

Ada pandangan bahwa manakala di tempat baru bisa langsung BAB alias ee, maka dianggap memiliki tingkat adaptasi tinggi. Katanya. Jadi berbahagialah bagi yang langsung bisa buang air besar di toilet tanpa kesulitan. Eh kok kadi ngobrolin beabe. Udah ah… kembali ke laptop.

Petugas haji dari Kementerian agama dengan cekatan memgatur rombongan dan mengarahkan ke bis yang sudah diatur sedemikian rupa. Maka para jemaah dan petugas haji daerah yang sama menggunakan kain ihram tentu mengikuti semua arahan dan menaiki bis yang sudah ditentukan. Bis bergerak dari bandara di Jeddah menuju mekkah dan beberapa titik terasa melambat tapi karena kondisi phisik cukup lelah jadi avak sayup – sayup hingga kembali terridur. Ternyata beberapa kali tersendat dan atau malah macet terdiam itu adalah proses pemeriksaan super ketat dari aparat keamanan Pemerintahan arab saudi dalam memastikan bahwa di musim haji tahun ini benar – benar tersaring bahwa jemaah haji yang masuk ke kota mekah adalah dengan menggunakan visa haji dan terintegrasi dalam aplikasi yang namanya NUSUK. Hati – hati bukan bahasa indonesia tetapi bahasa arab, *Nusuk* (نسك) dalam bahasa Arab memiliki arti yang terkait dengan ibadah dan ritual keagamaan, khususnya dalam konteks haji dan umrah.

Prosesi perjalanan berjalan lancar hingga memasuki kota mekah. Degup jantung terasa lebih kencang seiring luapan rasa syukur bisa menjejakkan kaki di tanah suci. Sebuah kesempatan hidup luar biasa dengan 2 fungsi yang penuh keberkahan. Sebagai petugas yang melayani jemaah haji sekaligus mengikuti prosesi tahapan berhaji. Alhamdulillahirobbil alamin.

Bis berkeliling mengantarkan jemaah menuju hotel yang sudah diatur sedemikian rupa. Satu persatu jemaah turun dengan berbagai hotel yang berbeda. Termasuk yang mengurusnya dari lokal arab yang disebut syarikah, mengatur dan mengarahkan para jemaah ke hotel – hotel yang tersebar di berbagai sektor di daerah kerja mekah. Setelah tuntas jemaah memasuki hotel masing – masing dilanjutkan dengan pendistribusian koper besar jemaah yang juga memerlukan kesabaran serta ketelitian. Ada beberapa koper yang berjiwa petualang sehingga berkeliling dari hotel ke hotel namun akhirnya bisa bersua kembali dengan pemiliknya.

Tantangan terus hadir, setelah mengawal penempatan jemaah juga mengejar koper besar yang berpetualang tiba saatnya kita memastikan para jemaah melaksanakan umroh wajib di masjidil harom. Disini peran ketua kloter, pembimbing ibadah, petugas pelayanan umum dan tenaga kesehatan serta kolaborasi intens dengan para ketua rombongan dan ketua regu sangat menentukan kelancaran semuanya. Alhamdulillah secara umum pelaksanaan umroh wajib dikordinasikan oleh para ketua rombongan termasuk juga yang jalur haji mandiri melakukan umroh wajibnya secara mandiri. Petugaspun menyesuaikan melaksanakan umroh wajib diawali tawaf lalu pelaksanaan sa’i. Selain itu petugas harus siap dan siaga manakala menghadapi jemaah lansia dan resiko tinggi yang tercecer tidak ikut rombongan melaksanakan umroh wajib. Disinilah peran binbad, petugas dan nakes untuk mengawal pelaksanaan umroh wajib tetsebut.

Kamar hotel yang ditempati penulis berada di sektor 7 tepatnya berkode 704 Hotel Wehdah Alhoir di wilayah Jarwal Kota Mekah yakni lantai 4 kamar 423. Isi kamar berempat dengan keunikan tersendiri yakni bergabung dengan jemaah dan lintas kloter juga lintas embarkasi. Sebuah pengalaman seru yang tidak akan terlupakan. (AKW).

HAJI JAHE & HAJI JAPAR

Heureuy petugas sareng jamaah waktos wukuf di Mina

FIKMIN # HAJI JAHE JEUNG HAJI JAPAR #

Uih ti jamarot ngalaksanakeun jumroh aqobah, asa karaos cangkeul bitis tur cangkèng. Padahak da teu tebih mapah tèh, mung nitih tujuh kilometer saritna. Anjog ka tènda, paheula-heula ngalungsar, geuning sadayana ogè sama, carangkeul.

Sabut ngalempengkeun cangkèng tur sampèan, Mang Gugun ngagorowok, “Saha nu apal sebutan haji nu taun ayeuna?”

Haji wahyu, sawahna payu”
Haji nurdin, nutut ku tugas dines”

Wa Ilham sareng Mang Riza ngawalèr. Mang Gugun nèmpas, “Eta mah sebutan haji jaman baheula, coba kreatip atuh, mikir!!”

Wa Ilham ngagorowok, “Aya nu anyar mang, Haji jahè?”

Naon hartosna?”
Itu tuh Haji Entang jahe, jago hèès”

Haji Entang gumujeng bari teras peureum deui.

Tah Cep Oky mah Haji japar, alias jahat parab, sok nambih tur sagala rupi dituang heu heu heu”

Hiji deui, Haji Kohar, tuh aa Rijaldi, haji ngaroko beres dahar” Mang Gugun imut jamaah lain nyèrèngèh. Cangkeul bitis leungit kasilih ku gogonjakan. (AKW).

KERTAJATI KE JEDDAH 9 JAM

Take off Kertajati dan Landing di King Abdul Aziz, selamat berhaji.

JEDDAH, Akwnulis.id. Adzan shubuh berkumandang membangunkan raga yang tertidur pulas di asrama haji indramayu. Segera bangun dan bergegas untuk memadi dan mempersiapkan segalanya sekaligus cek ricek aneka perlengkapan yang ada.  Serta ada tantangan yang harus siap dihadapi yaitu menggunakan pakain ihram.

Memang sulit pake kaun ihrom? Khan sudah latihan sebelumnya!”

Sebuah tanya akan hadir tentunya, dan jawabannya sebenarnya sederhana. Memakai kain ihrom itu insyaalloh mudah karena sudah diajarin, melatih diri dan menggunakan ikat pinggang untuk menjaga kekencangannya. Tapi disaat membiasakan tidak bercelana dalam, itu tantangannya. Nggak percaya, ya silahkan coba. Apalagi dipastikan bahwa baik jemaah juga petugas harus berkain ihrom mulai siang hari di hari ini hingga besok tiba di mekah. Maka adaptasi yang cepat harus segera dilakukan. Setelah makan pagi hingga jam 11.00 wib masih berpakaian kebanggaan petugas yakni kemeja panjang biru muda. Melakukan pengecekan akhir dengan ketua kloter dan pembimbing ibadah, hingga tibalah adzan dhuhur berkumandang dan itulah saatnya berubah.menggunakan kain ihrom. Jeng jreeng.

Kain ihram sudah digunakan, ikat pinggangpun terpasang. Gelang ditangan, kartu – kartu dikalungkan di leher serta tas pinggang pembagian menempel di pinggang kanan. “Gaskeun barudaaak, Mamang siap bertugas!”

Maka tas gendong hitam sudah siap dipunggung, koper kecil di geser menuju lokasi pemeriksaan akhir yang berada di lantai 2 asrama haji. Pintu X-Ray.menyambut dan pemndaian barang-barang dimulai. Ini yang disebut ‘fast track‘ sebuah pelayanan inovatif hasil kolaborasi kementerian agama republik indonesia dan pihak saudi arabia airlines dalam rangka percepatan pendorongan jemaah untuk segera masuk pesawat. Jadi tidak ada lagi pemeriksaan jemaah di bandara. Kami petugas dan jemaah yang sudah lolos pemeriksaan, diarahkan naik ke bis yang sudah tersedia dan pintu bisnya ditutup oleh petugas serta disegel. Jadi yang mau buang air harus ditahan atau gunakan toilet yang ada di bis.

Perjalanan selama 1,5 jam menggunakan bis terasa menyenangkan. Selain mendengarkan penjelasan dari pihak saudi arabia airlines juga penjelasan umum dari pembimbing ibadah tentang tahapan urusan ibadah yang harus dipersiapkan dan diyakini optimisme perjalanan ibadah haji yang sudah berada di ambang mata. Hingga akhirnya rombongan bis tiba di bandara kertajati dan tidak melalui proses pemeriksaan lagi. Namun langsung diarahkan petugas ke ruang tunggu dan hanya sekitar 25 menit saja beristirahat serta sebagian ke kamar mandi bandara, maka secara per rombongan mulai memasuki pesawat Saudi Airlines yang akan menerbangkan 405 orang penumpang yang terdiri dari jemaah dengan petugas haji.

Tepat pada pukul 17.15 wib pesawat take off dan terbang menggapai batas awan lalu melewatinya sehingga awan putih menjadi hamparan dalam mengawali perjalanan ini. Bismillabirrohmannirrohim. Perjalanan akan ditempuh selama 9 jam kawan, iya 9 jam. Berarti target tiba di Bandara King Abdul Aziz di Jeddah adalah sekitar pukul 01.15 wib atau masih pukul 23.15 was (waktu arab saudi) karena perbedaan waktu antara indonesia dan mekah adalah selisih 4 jam lebih cepat.

Kembali tak lupa.mengucap syukur kepada Illahi karena dapat kembali bertugas dinas melewati batas negara setelah terakhir adalah perjalan dinas ke Melbourne Australia pada akhir tahun 2022 lalu sebagaimana terdokumentasi pada salah satu tulisanku ini yakni COLD BREW at CALIA RESTO. maka perjalanan kali ini jauh lebih ajiiiib, karena menjadi petugas haji daerah. Berangkat dinas selama 40 hari membersamai para jemaah haji sekaligus mendapat kesempatan melaksanakan rukun islam yang kelima. Luar biasa.

Tugas sebagai petugas ternyata unik dan menarik, di dalam kabin pesawatpun harus senantiasa siaga dan siap sedia melaksanakan aneka fungsi untuk membantu calon jemaah haji ataupun pihak lain seperti pihak maskapai saudia airlines. Mulai dari mengatur ulang posisi duduk dari penumpang dimana para penumpang lansia dan beresiko tinggi penyakit ditempatkan di kursi terdepan agar memudahkan pelatanan media oleh tim kesehatan. Tentu dokter dan perawat sigap memberikan pelatanan baik yang resiko tinggi ataypun keluhan kesehatan lainnya dari para penumpang.

Ada juga tugas tambahan baru yang agak menggelitik yakni request dari pihak pramugari untuk memberikan pengumuman kepada seluruh penumpang melalui interkom pesawat dalam bahasa sunda.. ya bahasa sunda. Karena dikhawatirkan banyak yang tidak paham bahasa indonesia terkait pemakaian toilet pesawat yang memang dengan air terbatas dan mengelap setelah kencing atau cebok dengan kertas tisu. Untung saja penulis suka iseng menulis bahasa sunda dalam format fiksimini maka mikropon disambar dan segera menyampaikan pengumuman khusus berbahasa sunda.

Kahatur bapak miwah ibu calon jemaah haji, sing saha waè nu hoyong kahampangan atanapi miceun di jamban kapal udara teu kenging babaseuhan komo deui jijibrugan margi cai nu disagogikeun walurat. Lajeng upami rèngsè ngisang, papang, sareng sajabina ulah hilap cècèwok ogè ombèhna nganggo kertas tisu. Hatur nuhun.”

Para penumpang terlihat mengangguk – angguk mendengarkan pengumuman berbahasa daerah tersebut tapi wajahnya kembali bingung karena membersihkan kotoran dengan tisu adalah hal yang baru. Pasti pikirannya sama, “Takut nggak bersih ah.”

Ya sudah yang penting informasi telah disampaikan. Penulis sendiri mencoba fasilitas toiletnya, ya harus extra adaptasi apalagi terkait pijit tombol flush yang langsung terdengar suara angin berhembus dan kotoran di wc hilang, ajaiiib. Cuci tangan dan cuci muka masih bisa tetapi tentu berhematlah dengan air yang ada di toilet pesawat tersebut.

Tugas selanjutnya adalah melakukan operasi razia celana dalam. Tapi jangan salah sangka, bukan berarti narikin celana dalam eh kolor bapak – bapak, tetapi hanya mengingatkan saja bahwa disaat akan miqot dan tentunya berniat umroh maka menggunakan kain ihram tanpa menggunakan kain yang dijahit seperti kaos dalam dan celana dalam. Cara mengingatkannya tentu melalui teriakan dan menggunakan interkom dalam kabin. Tentu saja petugas sambil berkeliling kabin untuk mengingatkan terus para jemaah pria agar ibadah umrohnya lancar dan tidak kena dam atau denda.

15 menit kemudian, pesawat diyakini sudah melewati yalam lam dan miqot sudah bisa dilaksanakan. Suasana dalam kabin terasa syahdu karena lampu semua dimatikan seiring dengan waktu pendaratan di bandara King Abdil Aziz Jeddah semakin dekat. Niat umroh dipimpin pembimbing ibadah dan diikuti oleh para jemaah. Menandakan dimulainya rangkaian ibadah haji bagi kloter 28 KJT ini yang merupakan kloter pamungkas yang diberangkatkan dari Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati Majalengka.

Tepat pukul 02.15 wib atau pukul 22.15 waktu arab saudi, pesawat mendarat dengan mulus di landasan runway king abdul aziz di Jeddah dan tak berapa lama para penumpang turun secara antre disambut oleh bis yang akan mengantarkan ke area pemeriksaan pasport oleh pihak Imigrasj Pemerintah Arab Saudi. (Bersambung).

Berangkat ke Asrama Haji Indramayu – phd

Catatan awal keberangkatan

INDRAMAYU, akwnulis.id. Perjalanan menuju asrama haji indramayu menjadi awal dari perjalanan panjang menuju tanah suci Mekah AlMukaromah. Ditemani istri dan anak tercinta serta sopir yang setia, ioniq 5 melesat melewati jalan tol Padalarang – Cileunyi dan berlanjut ke Cisumdawu. Hari ini adalah hari sabtu tanggal 30 mei 2025, sebuah tanggal yang bersejarah yang akan memberikan momentum perjalanan luar negeri lintas negara dalam kerangka tugas sekaligus ibadah mulia. Raga ini hadir untuk bertugas menjadi petugas haji daerah, sebuah tugas yang merupakan Amanah dari pemerintah provinsi jawa barat untuk memberikan pelayanan umum kepada para Jemaah provinsi jawa barat dalam rangka penyelenggaraan haji tahun ini, tahun 1446 hijriyah atau tahun 2025 masehi. Kami tidak sendiri tetapi ada 171 orang PHD (Petugas Haji Daerah) yang dibiayai oleh APBD Provinsi Jawa barat melalui mekanisme hibah kepada Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Barat.

Mobil berbelok sesaat ke arah pintu tol Sumedang kota, karena anak kesayangan mulai terasa lapar. Kebetulan tidak jauh dari pintu keluar tersebut terdapat restoran cepat saji McD dan bisa dilakukan pembelian via kendaraan. Jadi kami tidak perlu repot turun dan memesan, cukup bergerak saja kendaraan di jalurnya dan bisa membeli serta membayar dengan nyaman. Sebutannya ‘Drive-Thru’, sebuh layanan yang memungkinkan pelanggan dapat memesan dan membayar lalumengambil makanan dan minuman tanpa harus keluar dari kendaraan. Tentu ini lebih praktis serta efisien, apalagi saat ini ingin segera bergerak kembali mengejar jadwal yang sudah ditentukan di asrama haji indramayu.

Setelah tuntas belanja maka kembali balik arah menuju pintu tol sumedang dan melesat di tol cisumdawu hingga bersambung ke tol cipali dan tak berapa lama kemudian keluar dari pintuj tol Kertajati Majalengka. Perjalanan dilanjutkan dengan jalur jalan provinsi Jatitujuh menuju Indramayu. Kondisi jalan tol yang lebar dan bebas hambatan berganti dengan jalan umum yang banyak obstacle baik kendaraan umum lainnya terutama sepeda motor juga kondisi kontur jalan yang terkadang tidak rata, tidak ada kata lain selain harus hati-hati dan waspada bagi sopir yang mengedalikan kendaraan ini.

Alhamdulillah menjelang magrib tiba di Asrama Haji Indramayu dan ada momen yang mengharu biru. Anak kesayangan yang ikut mengantar ke Asrama ini selama di perjalanan menikmati nonton di tabletmya dan juga ngobrol bersama sambil.menikmati makanan yang dibeli diperjalanan. Tetapi disaat akan pulang meninggalkan ayahnya di asrama haji, terlihat begitu sedih berpisah. Air mata mengalir dan sambil terisak tidak mau lepas dari pelukan. Sebuah perasaan yang halus seorang anak perempuan terhadap ayahnya terasa begitu kuat. Apalagi memang selama ini tidak pernah ditinggal lama, paling hanya 1 minggu saja.

Udah ya sayang, ayah bertugas dulu. Baik – baik ya di rumah, sekolah dan jaga ibu ya”

Bukan jawaban kata-kata yang hadir tetapi pegangan tangan yang semakin kuat, padahal posisi sudah diluar kendaraan dan tangan bertaut di jendela belakang. Terlihat anak cantik kesayangan ini begitu sedih dan tak mau ditinggalkan. Ibunya pun sama sedih tetapi berusaha mengendalikan hati dalam perpisahan ini. Setelah drama jemari tangan nggak mau dilepas, akhirnya perlahan-lahan bisa dirayu untuk jangan bersedih. Anak dan istri tersayang bergerak meninggalkan halaman asrama haji dengan uraian air mata. Berat hati ini, tapi kenyataan tugas yang harua dihadapi.

Setelah itu langsung bergabung dengan para petugas di asrama haji untuk melaporkan kesiapan dan dilakukan pengecekan kesehatan, pembagian gelang, living cost dan juga kelengkapan peralatan kesehatan. Agenda berlanjut dengan rapat koordinasi dengan para ketua rombongan dan ketua regu yang dipimoin oleh bapak Profesor Dadan Rusmana sebagai Ketua Kloter didampingi Pembimbing ibadah, dokter, perawat dan Pelayanan umum.

Dalam pertemuan ini dilakukan pembahasan tentang berbagai informasi terkait penyelenggaran haji tahun ini dan berbagai tantangannya. Terutama kesiapan mental dan phisik  untuk memghadapi puncak ibadah haji yang akan segera dilaksanakan sesaat kloter 28 ini tiba di Mekah.  Bayangkan saja, kita sudah harus berkain ihram disaat berangkat, melaksanakan miqot di pesawat dan turun di Bandara Jeddah langsung bersiap melaksanakan tawaf wajib. Sementara lusanya sudah bersiap pergerakan menuju wukuf di arafah... (Bersambung).