Hobiku Triatlon

Aktifitas masing-masing dan kegemaran itu berbeda-beda. Termasuk kecintaanku pada ‘Triatlon’, kamu gimana?

Akwnulis.com, Cimahi. Terkadang memang demi hobi, manusia bisa lupa dengan pemikiran rasional. Membiarkan terbawa aliran emosi tanpa mempertimbangkan olah fikir dan investasi waktu serta biaya yang dihamburkan.

“Bener nggak?”

Ah nggak perlu dijawab, biarkan menjadi tanya yang menggantung di langit angan. Memberi ruang untuk tersenyum simpul dengan segala pembenaran.

Dari mulai aneka olahraga seperti tenis meja, tenis lapangan, batminton, futsal, sepak bola, voli hingga olahraga ekstrem semisal terjun payung, paragliding, motorcross, diving dan banyaaak lagi. Ada juga yang seneng nyanyi, sehingga kalau ketemu mikropon langsung sambar dan berteriak, padahal harus dilihat dulu suasana sekeliling, jangan-jangan itu mikropon buat mengumandangkan adzan di mesjid… ups.

Ada juga yang senengnya membaca, buanyaak banget yang punya hobi ini. Hanya saja memang membacanya adalah membaca situasi atau membaca tulisan di medsos yang besar kemungkinan adalah hoax.

Membaca situasi butuh intuisi yang tajam, karena tidak bisa semua orang melalukan. Jurusnya bisa menggunakan ‘halimunan’ atau jurus ‘Sembunyi di tempat terang’. Dibutuhkan juga nalar yang kuat karena perlu analisa secara cepat dan multitasking, minimal prosesor i7, RaM 5 Gb ditambah dengan kebutuhan memori tidak terhingga… “Naon sih kok jadi spek komputer?”

***

“Sekarang hobiku apa?” Sebuah pertanyaan retorika dengan menunjuk diri sendiri.

“Aku mah atlet Triatlon!!” Sebuah jawaban tegas yang membuat sang penanya terdiam mematung, mata memandang terbelalak dan melihat sekujur tubuh dari atas ke bawah lalu terdiam tanpa bahana.

Tatapan komprehensif menganalisis bentuk tubuh yang sangat jauh dengan body atlet. Udah mah pendek gembrot lagi ditambah perut yang macung, lengkap sudah.

“Nggak percaya?”

Dia menggelengkan kepalanya, Aku tersenyum. “Nih lihat photo-photonya, ada lomba Teriak, lomba Sholat khusuk dan lomba nangkap balon, disingkat Triatlon”

Sang penanya terdiam dan berusaha senyum simpul ditemani cekikikan halus dari atap ‘kobong‘ (asrama putra) Pondok Pesantren Al fatah. Wassalam (AKW).

Saksi Bisu

Menjalani hari dalam suka dan duka ditemani saksi yang membisu.

Akwnulis.com, Bandung. Malam menjelang disaat hampir semua pegawai pulang. Tetapi segelintir manusia masih berada di gedung megah yang dibangun di tahun 1824 ini.

Memasuki pintu kecil disamping pintu utama langsung disambut dengan tampilan eleganmu. Berdiam anggun dengan balutan warna biru mudamu. Menjadi ciri hadirnya seseorang yang diamanatkan memimpin Jabar untuk 5 tahun ke depan.

Tertarik untuk melihat kawan sepertemananmu yang juga tampil gagah dalam balutan warna coklat stainless membalut sebagian permukaanmu. Memberi kesan garang tapi elegan.

Berjalan mondar mandir sambil mengamati secara seksama, bagian demi bagian yang saling menyatu membuat satu kesatuan yang memiliki kekuatan serta kelenturan.

“Lho kok diem disitu pak, ditunggu diatas” Suara satpam membuyarkan lamunan keakraban yang sedang berkelindan diantara neocortex dan amigdala serta menghentikan dopamin yang hampir saja terbentuk.

“Iya pak, makasih” raga ini bergerak meninggalkan saksi bisu malam ini. Berganti dengan sebuah urusan yang harus dituntaskan segera, Wassalam (AKW).

Kolam Renang Park Regis Arion Kemang

Review iseng Kolam Renang Hotel

Photo : Malam menelang di kolam renang / dokpri

Tadinya udah semangat mau berenang, memanjakan diri bercengkerama dengan segarnya air di kolam renang. Meskipun kejernihannya didukung penuh oleh kaporit tetapi tetap saja memanjakan mata dan menenangkan hati.

Padahal berenangnya pun belum fasih dengan aneka gaya, baru bisa meluncur lalu gerakkan tangan dan kaki hingga tubuh bisa bergerak ke depan secara perlahan tapi pasti.

Jam 21.09 baru bisa masuk kamar di lantai 3, simpan tas dan buka sepatu. Giliran buka tas, ternyata celana renang nggak dibawa, kecewa.

Eh nggak juga, memang nggak niat berenang juga kok. Ini sih klo kebetulan ada kolam, ya nyebur deh. Tapi survey itu penting, minimal jadi referensi jikalau next time nginep lagi di hotel ini.

Nggak pake lama, segera keluar kamar, masuk lift dan menuju lantai 7 dimana kolam renang berada, info dari petugas hotel.

Bener saja, keluar pintu lift di lantai 7 langsung ada petunjuk ke kolam renang, ruang fitnes dan Spa. Tapi sepi nggak ada orang, mungkin petugasnya lagi ke toilet.

Photo : Kolam renang lantai 7 / dokpri

Langsung menuju pintu akses ke kolam renang dan akhirnya bisa menikmati suasana damai sambil terdiam di pinggir kolam. Bentuknya standar persegi dengan kedalaman 1,5 meter. Panjang sekitar 20 meter dan lebar 7 meter (ahay kira-kira, maklum nggak bawa penggaris bro).

Sambil berkeliling di area kolam renang, menikmati sedikit pemandangan Jalan Kemang Raya dari lantai 7. Semilir angin malam menyapa jiwa melewati gazebo kayu di ujung kanan, 1 set meja kursi serta terdapat 4 kursi santai yang bisa digunakan pasca berenang ataupun untuk rilex sesaat sambil menikmati hidangan yang dipesan.

Tapi, niat berenangnya urung terjadi karena malam mulai larut juga kebetulan malem jumat. Jadi segera diputuskan kembali ke kamar di Hotel Park Regis Arion untuk beristirahat menyongsong esok yang penuh harap (AKW).